Aku Tempat Persemaian Firman Tuntunan Ibadah Remaja 25 November 2018

Bacaan Alkitab: Markus 4 : 1-20
Tahun Gerejawi : Kristus Raja
Tema : Perumpamaan
Tujuan :

  1. Anak dapat menyebutkan unsur-unsur benda yang dipakai Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang penabur.
  2. Anak dapat menyimpulkan bahwa orang yang mampu mendengarkan dan menyambut Firman Tuhan adalah sikap yang paling tepat dalam menerima Firman Tuhan
  3. Anak dapat membiasakan dan untuk mendengarkan pesan firman Tuhan dan melakukannya.

Ayat Hafalan : “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Matius 7 : 24)
Lagu Tema :

  1. Kidung Ria no. 18  “Kuterbuka”
  2. Kidung Anak-Anak 108: “Hai dengarlah !”
  3. Special Song  2  no. 160: “Pyur ! Pyur ! Benih ditabur”

Penjelasan Teks

Ketika Tuhan Yesus mengajar di tepi danau, datanglah banyak orang ingin mendengar pengajaranNya. Maka berceritalah Tuhan Yesus melalui perumpamaan  tentang seorang penabur kepada mereka. Suatu waktu, ia menabur sebagian benih yang jatuh dipinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah berbatu, yang tidak banyak tanahnya. Karena tanahnya tipis, benih itu tumbuh tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian jatuh di tengah semak, lalu ketika makin besar semak itu dan menghimpitnya sampai mati, ia tidak berbuah. Dan sebagian yang jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan subur  dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat dan ada yang seratus kali lipat. Dan Tuhan Yesus menjelaskan demikianlah diumpamakan tempat/tanah dimana benih tersebar itu.Orang yang dipinggir jalan adalah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan.Di tanah berbatu adalah orang yang mendengar firman, menerimanya tetapi tidak berakar dan tahan sebentar saja.Apabila datang penindasan, mereka segera murtad.Dan yang ditaburkan di tengah semak duri adalah mereka yang mendengar firman tetapi kekuatiran dunia menghimpit firman, sehingga firman menjadi tidak berubah.Dan yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh, enam puluh dan seratus kali lipat.

Langkah-Langkah Penyampaian

  1. Ajak remaja membaca teks Alkitab dan menyebutkan  benda-benda apa yang digunakan Tuhan Yesus untuk menyampaikan pengajaran dalam perumpamaan. Jikalau Tuhan memakai perumpamaan tentang sebuah tanaman, apa yang bisa membuat sebuah tanaman dapat tumbuh dengan baik? Berikan kesimpulan bahwa tanaman bisa tumbuh dengan baik, jika benih  dan tanah tanaman itu baik, mendapatkan air dan  sinar matahari cukup.
  2. Sampaikan penjelasan teks. Berikan penjelasan tentang benih yang jatuh di tempat-tempat yang berbeda dan membuahkan dampak dan hasil yang berbeda.
  3. Sampaikan aplikasi dan ilustrasi. Tegaskan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus kita harus menyiapkan diri mendengar dan melakukan Firman Tuhan.
  4. Minta remaja membuat resolusi tentang sikap mendengar dan melakukan Firman Tuhan.

Aplikasi

Penggembalaan Tuhan  Yesus kepada umat diwujudkan di setiap waktu. Tuhan Yesus mengajar dan mendampingi umat dengan berbagai metode. Salah satu metode pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid-muridNya adalah melalui perumpamaan. Metode ini menjadi sarana efektif Tuhan Yesus menyampaikan banyak pesan tentang bagaimana menjadi pengikut yang seharusnya. Dalam waktu yang sama juga  membangun  relasi  dekat antara Tuhan Yesus dan para murid. Sebab metode ini  tidak menghakimi dan pendengar diajak untuk belajar meneliti dirinya sendiri. Pendengar biasanya akan berdialog dengan dirinya sendiri sambil mendengar perumpamaan yang disampaikan.

Simbol yang  digunakan dalam perumpamaan biasanya adalah segala sesuatu yang berada di sekeliling Tuhan Yesus. Semakin para murid mengenal simbol-simbolnya, maka  semakin dapat dipahami dengan mudah. Seperti yang disampaikan Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini, ia menggunakan  benih, tanah dan penabur sebagai sarana memahami ketaatan sebagai pengikut Tuhan.

Salah satu pesan penting yang disampaikan Tuhan Yesus adalah tentang bagaimana mendengar dan melakukan Firman Tuhan. Benih digambarkan sebagai firman Tuhan, tanah menjadi lambang orang yang mendengar firman dan penabur adalah penyampai Firman. Benih yang  tersebar di tanah yang baik adalah murid yang mendengar dengan baik, menghayatinya dan berjuang untuk melakukannya.

Apakah tanah kita sudah subur bagi persemaian benih  ? Apakah hati kita sudah siap untuk menerima Firman Tuhan ? Nah, bagaimana supaya kita dapat menjadi tanah yang baik ? Yang pertama, kita harus belajar untuk mendengarkan dengan baik. Mendengarkan  dengan baik dalam ibadah,  tentu saja ada beberapa halangan.  Bisa muncul dari diri kita sendiri (motivasi,  keseriusan) atau dari lingkungan tempat kita melakukan ibadah. Maka kita harus belajar mengatasi kesulitan dari diri sendiri terlebih dahulu, contoh  :  gadget/smartphone yang dibawa ke ibadah, terlebih ketika kita tidak membawa buku Alkitab. Maka, ketika membaca Alkitab,  harus membaca dari smartphone dan terkadang melaluinya kita  tergoda untuk membuka aplikasi   yang lain. Ketika membuka aplikasi   yang satu, biasanya tergoda untuk melihat yang lain. Dan hal ini menyebabkan hilangnya konsetrasi kita untuk mendengar Firman Tuhan.Oleh karena itu, menyiapkan diri mengikuti ibadah menjadi hal yang penting. Ketenangan, kesiapan hati menghadap Tuhan dalam ibadah akan membantu kita mendengarkan Firman Tuhan dengan baik.Tinggalkan smartphone di rumah atau senyapkan dan berusahalah untuk fokus serta mencatat Firman Tuhan sebagai  komitmen baru dalam hidup sehari-hari dan begitu seterusnya.

Yang kedua, ingatlah apa yang Tuhan sabdakan hari itu dan lakukan sambil terus mengevaluasi diri. Supaya dengan mendengar dan melakukan firman Tuhan, kehidupan kita terus membuahkan kebaikan.

Ilustrasi

Seorang anak laki-laki meminta ayahnya memecahkan sebuah teka-teki. Ia bercerita ada tiga ekor katak sedang duduk si sebuah batang kayu. Seekor katak memutuskan untuk melompat turun. Berapa katak yang masih tinggal. Ayahnya menjawab, “tentu saja dua”. “Ayah salah!” Seru anak itu dengan gembira. “Ada tiga ekor katak yang tinggal. Sebab katak yang satu baru memutuskan untuk melompat tapi ia belum melompat.”

Perhatikanlah cara kita mendengar, sebab hal itu menentukan pemahaman kita. Setelah itu lakukanlah dengan sungguh-sungguh.

Aktivitas: Mengisi pertanyaan dibawah ini

Dalam ibadah  dan hidup sehari-hari, saya berjanji akan bersikap mendengar dan melakukan Firman Tuhan dengan cara : …..


BASA JAWA

Gusti Yesus  memulang para murid saben wektu. Gusti ngirid umat karo mawarni-warni cara. Salah sawijining cara memulang karo dongeng.  Cara iki disenengi para murid karena para murid diwulang manut dhawuhe Gusti. Cara iki ndadeke sesrawungan sing rumaket antawis Gusti lan para murid. Cara iki ora nyenengke karana ora nyeneni nging sing ngrungokake diajak naliti diri. Mapanake awake dhewe karo caritane Gusti.

Lambang sing dienggo carita, biasane barang /kewan ning sakiwa tengene Gusti.  Sangsaya cedhak ing sadina-dina, sangsaya dingerteni.  Kayadene sing dingendikake Gusti ing dongeng iki. Gusti ngagem winih, siti, tani dadi sarana ngerteni urip sing dikarsakne Gusti.

Salah siji dhawuh penting sing Gusti dhawuhke yaiku bab mireng lan nglakoni dhawuhe Gusti.  Winih digambarna kaya sabda, siti dadi pralambang wong sing ngrungokake sabda lan tani dadi sing ngwartaake dhawuh. Para murid sing iso mireng, nglakoni dhawuh kagambarna para winih sing sumebar neng siti sing apik.

Apa kita wis dadi lemah sing apik nggo tetukulan tuwuh ? Apa ati kita siap nampa dhawuhe Gusti ? Apa sing iso dilakoni supaya kita duwe lemah   sing apik ?  Sepisan, kita kudhu cumawis sowan dhateng Gusti. Duweni  ati sing lerem, sowan Gusti kanthi ati sing mantep.  Madhep biyantu kita iso mireng lan ngestokno dhawuh. Supaya kita bisa ngrungokake dhawuh Gusti kanthi temen ning pangabekti, pancen ora gampang, ana wae alangane. Iso tekan awake dhewe (pepinginan), iso tekan lingkungan (rame, berisik). Contohe, ra nggawa Alkitab  ngging gawa gadget/smartphone wayah ngabekti.  Wayahe maca Alkitab, mbukak smartphone. Eh, ana pesen mlebu. Timbang maca Alkitabe, mending maca pesen trus bales-balesan. Malah ra ngrungokake dhawuhe Gusti.   Kahanan kaya mangkene dadi contho alangan mireng dhawuhe Gusti ra gampang. Yen ngana, nyawisna diri nderek ngabekti dadi sarana sing penting.  Payo mbudidaya, konsen lan nyatet dhawuhe Gusti dadi komitmen anyar ning urip sadina-dina. Malah apik yen hp ditinggal supaya fokus karo ngabekti. Ngrungokake supaya iso ditulis neng ati.

Sing kaping loro, payo dilakoni karo naliti diri. Supaya kanthi ngrungokake lan nglakoni dhawuh Gusti, kita sangsaya ngasilaken woh-woh kabecikan.


Gambar: Sweetpublishing.com

 

Bagikan Entri Ini: