Tahun Gerejawi: Bulan Budaya
Judul: Remaja Kristus, Remaja Berbudaya
Tema: Pengajaran dan Pelayanan Yesus Sebagai Hal yang Utama
Bacaan Alkitab: Matius 13: 44-46
Ayat Hafalan: Matius 13: 44 – “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu”
Lagu: KJ. 446 “Setialah”
Tujuan:
- Remaja dapat menjelaskan bahwa mendapatkan Kerajaan Sorga membutuhkan perjuangan.
- Remaja dapat menjelaskan hambatan dalam memperjuangkan Kerajaan Sorga dalam hidup sehari-hari.
- Remaja dapat melatih diri untuk setia dalam imannya.
Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Perumpamaan tentang Kerajaan Sorga harus dilihat berbeda dengan perumpamaan lainnya. Jika dalam perikop sebelumnya ada juga perumpamaan yang bisa dilihat sebagai analogi/ilustrasi bagi orang-orang. Namun, perumpamaan Kerajaan Sorga harus dilihat dalam konteks yang berbeda. Konteks tersebut terkait dengan penyampaian Yesus yang pada waktu itu untuk para murid, sehingga perumpamaan ini ingin menggambar maksud dari Injil itu sendiri. Bahwa Kerajaan Sorga melebihi segala sesuatu yang ada di dunia ini, namun kesukacitaan/kegembiraan tidak untuk disombongkan melainkan digunakan untuk menggambarkan betapa berharganya kerajaan sorga itu. Kerajaan Sorga dalam maksud Injil harus dilihat sebagai hal yang berharga. Begitu juga dengan maksud dan tujuan dari pengajaran dan pelayanan Yesus harus dilihat sebagai hal yang utama dalam kehidupan orang beriman.
Pendahuluan
- Ajak remaja mencari artikel tentang desa terbersih di dunia!
Desa Penglipuran disebut desa terbersih di dunia. Tidak ada sampah yang berserakan, udara sangat segar, tidak ada mobil macet, banyak tanaman hijau yang terlihat. Desa ini terdapat di Bangli, Bali Timur. Selain bersih, desa ini sangat menjaga keindahan dan kerukunan warganya. Desa ini menjadi lokasi kunjungan wisata, dikenal oleh dunia dan mendapat penghargaan kalpataru bukan dalam waktu sekejab. Tetapi perjuangan warga desa ini untuk mempertahankan warisan leluhur, selama ratusan tahun. Nilai-nilai penghargaan terhadap lingkungan dan alam diturunkan dari para leluhur kepada generasi muda. Berapa lama? Ratusan tahun. - Remaja membaca Matius 13: 44-46!
Cerita
Menjadi seseorang yang berbudaya, tidak terjadi secara otomatis. Seseorang yang berbudaya adalah seseorang yang memiliki kebiasaan atau tradisi yang telah dilakukan secara berulang-ulang dan waktu cukup lama. Ketika hal itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan mendorong kita untuk melakukannya tanpa usaha atau pemikiran. Seperti halnya mematikan lampu setelah keluar kamar, membuang sampah pada tempatnya, mematikan kran yang mengalir sia-sia, dll. Banyak penelitian mengatakan bahwa seseorang memerlukan 21 hari untuk benar-benar beradaptasi dengan sebuah kebiasaan, walaupun ada yang mengatakan 66 hari. Memang, ini bergantung pada pribadi masing-masing. Tetapi mulailah dengan kebiasaan kecil, lalu fokuskan diri untuk konsisten menetapkan langkah-langkah yang dapat kita ambil untuk sebuah tujuan.
Kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus itu, selanjutnya akan menjadi karakter. Karakter yang melekat ini menjadi budaya. Budaya yang menyatu bersama nilai – nilai yang diyakini dan dipercaya selanjutnya tampak dalam hidup sehari-hari. Menjadi remaja berbudaya adalah menjadi remaja yang berkarakter, dimana karakter akan ditampakkan dalam hidup sehari-hari. Untuk mewujudkannya, tidak dapat dibentuk dalam 2 /3 hari atau secara otomatis, tetapi harus dilakukan dalam hidup sehari-hari.
Salah satu karakter yang dikehendaki Kristus adalah setia. Maka berbicara kesetiaan, sebenarnya bukan hanya ketika kita siap membela seseorang bahkan dengan mengorbankan diri sekalipun, tetapi apakah kita juga setia dalam hidup sehari-hari? Contohnya: berbicara setia kepada orangtua, apakah kita juga setia ketika dimintai tolong untuk membelikan sayuran di pasar, mendampingi saudara kecil ketika orangtua sedang sibuk menyelesaikan tugas, memijat kaki ibu yang lelah bekerja? Setia tidak hanya berbicara tentang perkara besar, tetapi juga perkara kecil. Setia kepada Tuhan tidak perlu melalui pekerjaan-pekerjaan berat dan besar, setia kepada Tuhan diwujudkan dan diperjuangkan melalui pekerjaan kecil, rutin yang kita lakukan dengan sunguh-sungguh dan tekun.
Tuhan memberikan gambaran, upaya memperjuangkannya adalah seperti halnya ketika kita mencari harta yang terpendam di sebuah ladang. Bahkan karena sukacita yang besar, ia menjual semua harta miliknya dan membeli tanah ladang atau pedagang yang mencari mutiara yang indah, bahkan untuk mendapatkannya, ia menjual seluruh miliknya.
Menjadi seorang yang berkarakter setia, nyatanya tidak mudah. Kesetian harus terus diuji melewati tantangan. Menjual harta untuk dapat membeli tanah ladang, menjual harta untuk mendapatkan mutiara. Kesemuannya dilakukan dengan pengorbanan dan kesungguhan. Berhadapan dengan tantangan, kesungguhan memampukan kita dapat melewatinya. Untuk menjadi setia, kita diperhadapkan banyak godaan. Hanya seberapa besar ketekunan dan kesungguhan kita mempertanggungjawabkan.
Tipe kepribadian manusia melalui Adversity Quotion (AQ) terdiri dari tiga: quitters, campers dan climbers. Tiga tipe ini digambarkan sebagai daya juang ketika mendaki gunung. Tipe quitters adalah mereka yang terpaku pada tingginya gunung dan bukan pada keindahan pemandangan perjalanan menuju puncak. Mudah putus asa dan menyerah. Campers adalah pribadi yang merasa cukup dengan apa yang telah dicapai. Walau sebenarnya sadari jika masih bisa mendaki lebih tinggi. Cepat puas dan tidak lagi mengembangkan hidup. Climbers adalah tipe pejuang sejati. Tidak peduli sebesar apapun kesulitan yang dihadapi. Ia tidak dikendalikan lingkungannya, tapi selalu memikirkan ragam alternatif permasalahn dan menganggap kesulitan dan rintangan sebagai peluang untuk maju.
Menurut kalian, diantara ketiganya yang manakah kita?
Kalau mau berkarakter setia, mari wujudkan dengan sungguh-sungguh. Seperti kesetian seorang pedagang atau petani yang mengupayakan yang terbaik. Sehingga hal itu menjadi kesaksian yang harum bagi kemulian Tuhan.
Aktifitas
Remaja diminta untuk berdiri berjajar berhadapan membawa kertas atau buku. Selanjutnya ditunjuk teman yang berjalan di tengah membawa lilin. Teman ini akan berjalan sambil mengupayakan dan melndungi lilin tetap menyala. Sedangkan teman yang lain berusaha mematikan lilin yang dibawa sambil mengibaskan buku. Tentunya sulit ya mempertahankan lilin tetap menyala. Sama untuk berkarakter setia, ternyata kita membutuhkan perjuangan keras. Ayo tetap semangat !