Yesus Menjadi Berkat Tuntunan Ibadah Remaja 28 November 2021

15 November 2021

Tahun Gerejawi: Bulan Budaya – Advent 1
Judul:
Yesus menjadi Berkat 
Tema: Pengajaran dan Pelayanan Yesus sebagai hal yang utama

Bacaan Alkitab: Matius 12: 9-15
Ayat Hafalan:
Matius 12: 8 – “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”

Lagu: KJ. 38  “Tlah kutemukan dasar kuat”

Tujuan:   

  1. Remaja dapat menjelaskan alasan Yesus menyembuhkan orang pada Hari Sabat. 
  2. Remaja dapat menjelaskan reaksi orang-orang Farisi melihat perbuatan Yesus.
  3. Remaja dapat menjelaskan bahwa membantu seseorang adalah salah satu tugas kita untuk bisa menjadi berkat.

Penjelasan Teks (Hanya untuk Pamong)
Perikop di pasal 12 harus dibaca secara menyeluruh khususnya mengenai Hari Sabat baik ayat 1-8 dan 9-15. Tema Sabat menjadi perhatian di aras nasional umat Israel. Regulasi Sabat ditetapkan dan menjadi acuan semua orang-orang Israel. Namun banyak orang termasuk para murid yang tidak mengetahui bahwa Tuhan Yesus memiliki kekuasaan yang melebihi kekuatan hukum. Yesus mengkritik adanya Taurat yang justru memberatkan/membelenggu manusia untuk menyembah Allah. Seharusnya Taurat ada bertujuan menjadi berkat bukan menjadi pembelenggu. Kritik inilah yang menjadi latar belakang Yesus untuk memetik gandum dan menyembuhkan orang pada hari Sabat. Kehadiran Yesus adalah untuk menjadi berkat. Hal ini menyebabkan orang Farisi dan Saduki sangat membenci kehadiran Yesus.  Karena bagi orang Farisi dan Saduki yang paling utama adalah menjalankan hukum, namun kehadiran Yesus justru menjadi berkat. Karena bagi Yesus, hari Sabat adalah hari yang penuh berkat, dan sudah seharusnya kita juga menjadi berkat. Yesus mengajak kita untuk melihat hal yang paling dasar dari hari Sabat, yakni hari berkat, seperti Yesus yang menjadi berkat.

Pendahuluan 

  1. Ajak remaja menggumuli persoalan berikut:
    Suatu hari, ketika kamu hendak pergi ke gereja, di jalan kamu melihat seseorang tergeletak karena baru saja mengalami kecelakan lalu lintas. Tidak ada orang yang datang menolong. Maka, apa yang akan kamu lakukan? Terus melanjutkan perjalanan ke gereja karena ini adalah kewajiban untuk beribadah. Teringat perintah Tuhan, ingat dan kuduskanlah hari sabat, disisi lain, panggilan untuk menolong orang yang mengalami musibah juga kuat. Apa yang akan kita pilih? Menolong orang itu dan tidak pergi ke gereja, berarti tidak setia sama Tuhan. Pergi ke gereja dan mengabaikan orang tersebut, berarti tidak berpihak pada kemanusiaan. Sejak kecil  kita juga sudah diajari bahwa orang lain adalah saudara.  Keduanya adalah hal baik yang harus dilakukan dalam waktu yang sama. Jadi harus bagaimana? Yang mana dipilih?
  2. Remaja membaca Matius 12: 9-15! 

Cerita
Setiap dari kita memiliki akar budaya dan tradisi yang berbeda. Masing-masing dianggap paling benar dan paling baik. Lantas, bagaimana jika kebudayaan dipertemukan dengan iman? Setidaknya ada tiga sikap yang dimiliki saat menghadapi budaya dan iman. Yang pertama, iman dan budaya bisa berjalan bersamaan. Kedua, menolak dengan beranggapan bahwa budaya adalah hasil buatan manusia yang penuh dosa. Itu sebabnya budaya dianggap jahat. Yang ketiga, nilai budaya dianggap sama dengan nilai agama. Maka harus dipertahankan. Mana yang sebaiknya kita pilih? Kita akan belajar bagaimana Tuhan Yesus merespon tradisi di sekitar kehidupannya  yang diperhadapkan dengan kebutuhan kemanusiaan. 

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita mengenal budaya yang mewujud dalam tradisi, adat, kebiasaan warisan dari para nenek moyang kita. Kesemuannya dipelihara, dibagikan dan dibuat dalam peraturan yang mengikat. Sebagai bagian komunitas, kita yang tidak dapat melakukannya, akan mendapat sanksi moral. Sebab setiap orang harus mematuhinya. 

Nah, bagaimana dengan aturan yang bertentangan dengan kebiasaan baru yang memiliki nilai lain yang sedang diperjuangkan? Misalnya, dalam kehidupan kita, anak yang sopan adalah anak yang mencium tangan orang tua yang dijumpai. Itu dulu sebelum pandemi kita alami. Kini, hal itu  tidak lagi disarankan. Mengingat saat ini kita diharapkan tidak melakukan jabat tangan untuk menjaga kesehatan dan keamanan orang lain dan diri kita sendiri. Maka berjabat tangan dan mencium tangan yang dahulunya sopan menjadi suatu tindakan yang dianggap tidak lagi baik. Dulu anak perempuan tidak perlu sekolah ke jenjang lebih tinggi, karena pada umumnya setiap perempuan akan menjadi pekerja domestik. Bahkan masyarakat memiliki standar tentang  perempuan yang bijaksana yang digambarkan sebagai seseorang yang terampil dalam urusan rumah tangga. Sedang saat ini, dimasa kesadaran kesetaraan  menjadi pemahaman bersama, dibutuhkan  keberanian untuk merubah tradisi yang ada dan mengubahnya demi keterlibatan dan kemerdekaan  semua orang. Ternyata budaya bisa berubah, sesuai kebutuhan jaman. Tetapi, lantas apa yang bisa menjadi tolak ukur? Sebab ketika berubah dengan cepat, bukankah hal itu menyebabkan tidak mengakarnya kebudayaan? Belajar dari apa yang dilakukan Tuhan Yesus, kita akan memahami bagaimana Tuhan Yesus menghadapi tradisi ketika berhadapan dengan kebutuhan manusia di sekitarnya.

Perikop di pasal 12 harus dibaca secara menyeluruh khususnya mengenai Hari Sabat baik ayat 1-8 dan 9-15. Tema Sabat menjadi perhatian di aras nasional umat Israel. Peraturan Sabat ditetapkan dan menjadi acuan semua orang Israel. Namun banyak orang termasuk para murid yang tidak mengetahui bahwa Tuhan Yesus memiliki kekuasaan yang melebihi kekuatan hukum. Tuhan Yesus mengkritik Taurat yang justru memberatkan/membelenggu manusia untuk menyembah Allah. Seharusnya Taurat ada bertujuan menjadi berkat bukan menjadi pembelenggu. Kritik inilah yang menjadi latar belakang Tuhan Yesus untuk memetik gandum dan menyembuhkan orang pada hari sabat. Kehadiran Tuhan Yesus adalah untuk menjadi berkat. Sikap Tuhan Yesus berbeda dengan  pemahaman orang Farisi dan Saduki.  Karena bagi orang Farisi dan Saduki yang paling utama adalah menjalankan hukum, namun kehadiran Tuhan Yesus justru menjadi berkat. Karena bagi Tuhan Yesus, hari Sabat adalah hari yang penuh berkat, dan sudah seharusnya kita juga menjadi berkat. Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat hal yang paling dasar dari hari Sabat, yakni hari berkat, seperti Yesus yang menjadi berkat. 

Maka, mewujudkan remaja yang berkarakter di era ini, bukanlah remaja yang hanya mengenal tarian, bahasa dan lagu daerah, tetapi yang bisa menciptakan budaya baru pro kehidupan dan memperjuangkan kebaikan bagi alam dan sesama. Semua aturan harus mengedepankan kebaikan dan jikalau kita masih menjumpai aturan-aturan yang tidak berpihak pada kebaikan manusia, kita sebagai remaja harus bersedia untuk mengkritisinya.  

Marthin  Luther muda gelisah, ketika ia yang tinggal di biara, melihat para klerus (pemimpin biara) hidup seenaknya. Nilai-nilai kekristenan sangat merosot. Gereja mulai menetapkan peraturan-peraturan yang hanya menguntungkan kelompok agamawan tertentu dan merugikan warga jemaat, salah satunya adalah penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa) untuk pembangunan gedung Gereja Rasul Petrus di Roma.  Dalam pergumulan batinnya, ia memutuskan tidak tinggal diam. Ia merumuskan 95 dalil yang ditempelnya di pintu gerbang gereja istana Wittenberg, 31 Oktober 1517, sebagai kritikan terhadap aturan pada waktu itu. Tanggal itulah yang diperingati menjadi hari Reformasi. Dan gerakan kelompok inilah yang melahirkan aliran Protestan. 

Jadi, ketika di jalan kita menjumpai orang yang membutuhkan pertolongan, ketika kita harus pergi ke gereja. Apa yang akan kita lakukan? Semoga menolong orang tersebut untuk mendapatkan pertolongan pertama dan selanjutnya pergilah ke gereja. Kalau terlambat, bisa datang di jam berikutnya.

Aktifitas
Analisa  Studi Kasus:

Suatu hari ada seorang remaja yang mencari dana untuk kegiatan Paskah di gereja. Ada salah satu perusahaan yang siap mendanai kegiatan tersebut. Hanya sayangnya, perusahan tersebut adalah perusahan rokok, yang meminta ketika perusahaan mendanai, maka poster promosi harus dipasang dimana-mana. Untuk mengambil keputusan di tengah situasi ini tidak mudah. Di sisi lain, ada kebutuhan pendanaan, di sisi lain kampanye untuk tidak  merokok di kalangan remaja sedang gencar-gencarnya. Menurut teman-teman, apa yang harus dilakukan dan diputuskan? Beri kesempatan teman teman untuk berpendapat.  


Basa Jawa 

Pambuka

  1. Remaja kaajak nyinaoni masalah ing ngisor:
    Ing sawijining dina, nalika sampeyan arep budhal nang greja, ing dalan sampeyan ndheleng ana wong sing lagi tiba ing kana amarga nembe ngalami kacilakaan lalu lintas. Ora ana sing teka nulungi. Apa sing bakal sampeyan lakoni? Terus ndang neruske laku budhal menyang greja amarga dadi kewajiban, ngelingi dhawuhe Gusti Allah, eling lan jaga dina Sabat dadi suci, apa ngrewangi wong sing ngalami musibah? Endi sing bakal dipilih? Nulungi wong kuwi lan ora budhal menyang  greja tegese ora setya marang Gusti Allah. Mangkat menyang greja lan ora nggatekake wong kuwi, kasebut ora nresnani  manungsa. Kamangka, wiwit cilik, kita uga wis diwulangi manawa wong liya kuwi sadulur. Kabeh iku prakara sing apik sing kudu ditindakake bebarengan. Dadi apa sing kudu dipilih lan dilakoni?
  2. Remaja maca Matius 12: 9-15!

Carita
Saben kita duwe macem-macem akar budaya lan tradhisi. Saben wong nganggep tradhisi kuwi paling bener lan paling apik. Kita ngakoni budaya sing diwujudake ing tradhisi, adat istiadat lan pakulinan iku diwarisake saka para leluhur. Kabeh  dijaga, diteruske lan digawe peraturan sing naleni anggotane. Minangka dadi anggotane komunitas, kita sing ora bisa nindakake bakal kena sanksi moral. Amarga kabeh wong kudu manut. 

Dadi, kepiye yen tradhisi kuwi ketemu karo iman? Paling ora, ana telung sikap ngadhepi budaya lan iman. Kaping pisan, iman lan budaya bisa mlaku bareng. Kapindho, panemu sing nganggep yen budaya kuwi asil saka gaweyane manungsa dosa. Mula budaya dianggep ala. Katelu, nilai budaya dianggep padha karo nilai agama. Banjur kudu dijaga. Sing endi sing kudu dipilih? 

Saiki, kepriye menawa aturan  ora cocok  karo kebiasaan anyar sing duwe nilai liya ? Contone, ing urip kita, bocah sing sopan yaiku bocah sing ngambung tangane wong tuwa sing dipethuki. Kuwi, sadurunge pandemi. Saiki, wis ora disaranake maneh. Amarga saiki kita ora pareng salaman kanggo njaga kesehatan lan keamanan wong liya lan awake dhewe. Dadi, salaman lan ngambung tangan sing biyen kuwi sopan lan wajib, saiki dadi tumindak sing wis ora dianggep apik maneh. Biyen, bocah-bocah wadon ora prelu sekolah sing dhuwur, amarga umume mung bakal ana ing omah wae. Masyarakat duwe standar babagan wong wadon wicaksana, sing digambarake minangka wong sing trampil ing bab ngurusi rumah tangga. Nanging, ing jaman kesadaran kesetaraan ukuran wong wadon wicaksana dudu kuwi.  Sing sinebut wong wadon wicaksana yaiku sing mandiri lan dadi berkah kanggo liyan. Pranyata budaya bisa owah, miturut kabutuhane jaman lan butuh tatag kanggo ngganti tradhisi sing ana supaya bisa dadi berkah kabeh wong.  Nanging, apa sing bisa digunakake dadi ukuran? Amarga yen owah kanthi cepet, apa ora nyebabake budaya malah ora ngoyot? Sinau saka apa sing ditindakake dening Gusti Yesus,  kita bakal ngerti kepriye Gusti Yesus nanggapi tradhisi nalika ngadepi kabutuhane manungsa sakiwa tengene. 

Wacan bab  12 kudu diwaca luwih jangkep utamane bab dina Sabat ing ayat 1-8 lan 9-15. Tema Sabat kuwi  tema penting kanggo bangsa Israel. Aturan dina Sabat wis ditemtokake lan dadi referensi kanggo kabeh wong Israel. Nanging, akeh wong, kalebu para sakabat, sing ora ngerti manawa Gusti Yesus duwe kekuwatan sing ngluwihi kekuwatan hukum. Gusti Yesus ngritik angger-angger Toret, sing luwih asring menehi kamomotan  adhedhasar  wong  supaya nyembah marang Gusti Allah.  Kritik kuwi ndasari carita bab Gusti Yesus  sing methik gandum lan ngobati wong ing dina Sabat, kangge Gusti Yesus, urip kudhu dadi berkah. Sikape Gusti Yesus beda karo para Farisi lan Saduki, amarga tumrap wong Farisi lan Saduki, sing paling penting yaiku netepi angger-anggering Toret, nanging ing ngarsane Gusti Yesus kudu dadi berkah. Amarga kanggo Gusti Yesus, dina Sabat minangka dina sing kebak berkah, lan kita uga kudu dadi berkah. Gusti Yesus ngajak kita ndeleng prakara sing paling penting ing dina Sabat, yaiku dina berkah, kayadene Yesus minangka berkah.

Mbentuk remaja sing nduweni karakter ing jaman iki, dudu remaja sing mung ngerti tari, basa lan lagu-lagu daerah, nanging bisa nggawe budaya pro-urip anyar lan ngupayakake kabecikan kanggo alam lan liya-liyane. Kabeh aturan kudu prioritas kabecikan lan yen isih nemoni aturan sing ora milih kabecikan manungsa, kita minangka remaja kudu gelem menehi kritik.

Kita bisa nyinau saka Marthin Luther enom sing ora tenang, nalika dheweke, sing urip ing biara, ndeleng para pandhita (pimpinan biara) urip miturut kekarepane dewe. Nilai-nilai Kekristenan sansaya mungslep. Greja nggawe peraturan mung nguntungake kelompok agamawan, salah sijine yaiku adol Surat Indulgensia (penghapusan siksaan) kanggo pambangunan Greja Rasul Petrus ing Roma lan anggota jemaah sing kurang mampu sansaya abot uripe.  Ing perjuangan batin, dheweke mutusake ora meneng. Dheweke nyusun 95 tesis sing dipasang ing gerbang gereja istana Wittenberg, 31 Oktober 1517, minangka kritik nalika semana. Tanggal iku ditemtokake minangka dina Reformasi. Lan gerakan kelompok iki sing nglairake aliran Protestan.

Dadi, nalika ing dalan kita nemoni wong sing butuh pitulungan nalika kita budhal gereja, apa sing bakal kita lakoni? Muga-muga nulungi wong iku supaya oleh pitulungan dhisik banjur budhal greja. Yen telat, sampeyan bisa teka ing jam liyane.

Aktifitas
Analisis Studi Kasus:

Ing sawijining dina ana bocah enom golek dana kanggo kegiyatan Paskah ing greja. Ana salah sawijining perusahaan sing siyap mbiayai kegiatan iku. Sayange, perusahaan iku perusahaan rokok, sing njaluk manawa perusahaan menehi dana, poster promosi kudu dipasang ning endi-endi. Ora gampang njupuk keputusan ing tengah kahanan iku. Butuh dana kanggo Paskah, tapi greja uga wis nganakake kampanye anti rokok ning kalangan remaja kanthi intensif. Miturut kanca-kanca, apa sing kudu ditindakake lan diputusake? Remaja kaajak menehi pendapat.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak