Tahun Gerejawi: Bulan Ekumene
Judul: Berteman Tanpa Perbedaan
Tema: Yesus Jalan Menuju Roh dan Kebenaran
Bacaan Alkitab: Yohanes 4: 16-26
Ayat Hafalan: Yohanes 15: 17 – “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”
Lagu Tema: Kidung Ria 25 “Yesus Cinta S’gala Bangsa”
Tujuan:
- Remaja dapat menyimpulkan makna perjumpaan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria.
- Remaja dapat menjelaskan hambatan membangun hubungan dengan agama lain.
- Remaja dapat membangun relasi dengan agama lain asalkan tetap berada di dalam jalan kebenaran dan roh (Yesus).
- Remaja dapat merancang kegiatan untuk mengunjungi salah satu rumah ibadah agama lain.
Penjelasan teks (Hanya Untuk Pamong):
Dahulu Samaria adalah satu bagian dengan Israel. Ketika Asiria merebut Samaria, ibukota Israel utara (722-721 SM), Asiria mengeluarkan orang Yahudi terkemuka dari Samaria, dan memasukkan budaya Asiria di kota Samaria. Inilah yang menjadi persoalan bahwa ibadah orang-orang Samaria berbeda dengan orang Israel.
Secara garis besar perikop ini menceritakan tentang perjumpaan dan percakapan perempuan Samaria dengan Yesus. Perikop sebelumnya juga menceritakan percakapan Yesus dengan Nikodemus. Namun yang menjadi perbedaan, di dalam percakapan dengan perempuan Samaria berakhir pada pemahaman dan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias.
Secara keseluruhan perikop ini dapat dialurkan demikian: a. setting tempat (ayat 1-6), b. Tentang diskusi (7-42). Khusus mengenai ayat 16-26 yang menjadi inti dari pemahaman dan pengakuan tentang jati diri Yesus. Perempuan Samaria pertama-tama mengenal Yesus sebagai orang yang kehausan, mencari air di sumur Yakub. Setelah itu perempuan Samaria ini mengenal Yesus sebagai seorang Israel (panggillah suamimu). Mendengarkan kalimat-kalimat Yesus, perempuan Samaria sadar bahwa Yesus tidaklah sekedar orang Israel, melainkan rabi. Oleh karena itu perempuan Samaria berdialog tentang ibadah yang benar, apakah Gunung Gerizim (pusat ibadah Samaria) ataukah Yerusalem. Yesus menjawab bahwa persoalan ibadah bukan lagi persoalan tempat, melainkan roh dan kebenaran. Inilah yang menjadi poin penting, bahwa hanya Mesiaslah yang dapat membawa ke dalam roh dan kebenaran. Perempuan Samaria juga sadar akan peran penting Mesisas, dan di saat inilah Yesus mengakui di depan perempuan Samaria bahwa dirinya adalah Mesias. Hanya Mesias yang bisa membawa ke dalam Roh dan Kebenaran. Wajah persekutuan boleh saja berubah-ubah sesuai dengan kondisi, tetapi jalan Roh dan Kebenaran tidak bisa berubah, yakni Yesus Sang Mesias. Begitu juga kita bisa berteman dengan siapa saja asalkan tetap ada di dalam jalan Roh dan Kebenaran.
Pendahuluan
1. Ajaklah remaja untuk membaca berita berikut dari tautan ini.
JAKARTA, KOMPAS.com – Matahari terus merangkak naik pada Kamis (15/7/2017). Amanda Najla Khrisnandya (17) dan Kevin Bagas (17) berkumpul di halaman Gereja Immanuel Jakarta bersama puluhan siswa-siswi lainnya. Mereka datang dari sekolah-sekolah yang beragam seperti Kanisius, Al Izhar, Tarakanita, dan sekolah-sekolah lain. Sekitar pukul 08.30 WIB, mereka masuk ke dalam Gereja Immanuel dan duduk di bangku-bangku gereja. Kemudian, Ketua Majelis Jemaat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB), Pendeta Chiko Saren menjelaskan sekilas tentang sejarah berdirinya Gereja Immanuel, cara beribadah umat Kristen Protestan, dan pesan-pesan persatuan. Siswa-siswa diberikan kesempatan untuk naik ke lantai dua melalui tangga. Mereka lalu keluar dari gereja dan selanjutnya masuk ke dalam bus.
Mereka kemudian pergi ke Gereja Katedral yang letaknya tak jauh dari Gereja Immanuel. Destinasi kedua adalah tempat ibadah umat Katolik. Para siswa yang kala itu berpakaian putih masuk dan duduk di bangku yang terletak di bagian depan dekat altar. Mereka disambut oleh perwakilan Gereja Katedral. Staf Media Relations dan Humas Gereja Katedral, Susyana Suwadie menjelaskan pula tentang sejarah Gereja Katedral. Ia pun mengajak anak-anak berkeliling bagian gereja dan menjelaskan setiap sudut gereja. Sebelumnya, juga ada tanya jawab antara siswa dan perwakilan Gereja Katedral.
Lewat pukul 11.00 WIB, rombongan pergi ke seberang Gereja Katedral. Mereka masuk dan menuju selasar masjid di lantai dua. Mereka duduk dan mendengarkan penjelasan tentang sejarah Masjid Istiqlal. Seorang perwakilan dari Masjid Istiqlal memandu siswa-siswi dan turut memberikan semangat ke-Indonesia-an. Sontak, siswa-siswi bersemangat. Pada akhir acara, Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar sempat menyapa dan memberikan sambutan kepada para siswa. “Keberagaman dan keragaman itu adalah sunatullah. Adanya agama yang beda itu seperti lukisan. Kalau ada berbeda-beda itu terimalah sebagai lukisan. Ada agama Islam, Kristen dan lain-lain apa pun, itu sebagai warga negara Indonesia (anggaplah) sebagai warna,” kata Nasaruddin.
Dari Masjid Istiqlal, siswa-siswi masih melanjutkan perjalanan ke Kuil Hoseji di dekat Manggarai. Mereka berkesempatan melihat umat Buddha beribadah yang langsung dipimpin oleh dua biksu dari Jepang. Persinggahan terakhir adalah Pura Aditya Jaya di Rawamangun. Para siswa terlihat masih bersemangat untuk mengenal tempat-tempat ibadah agama-agama yang ada di Indonesia. Perjalanan wisata rumah ibadah di Jakarta ini berakhir sekitar pukul 19.00 WIB dan ditutup dengan nyanyian lagu Tanah Air.
Mengenal keberagaman Perjalanan ke tempat-tempat ibadah tersebut adalah acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Bhinneka dengan bekerja sama lintas komunitas dan pemerintah. Format acara adalah mengenalkan keberagaman melalui wisata rumah ibadah di Jakarta dengan slogan “Bersatu Dalam Keberagaman”. Ketua Panitia Wisata Rumah Ibadah, Arie Hastuari mengatakan tujuan acara ini untuk menyebarkan semangat perdamaian dan toleransi di Indonesia melalui anak-anak. Setiap tempat ibadah para siswa akan mendapatkan penjelasan dari pemuka agama dan berkeliling tempat ibadah. “Sebenarnya kami ingin anak-anak mengenal rumah ibadah. Isinya seperti apa, simbol agama seperti apa, esensinya bagaimana,” kata Arie kepada KompasTravel di Gereja Immanuel, Jakarta. Amanda saat berbincang dengan KompasTravel di Masjid Istiqlal mengatakan ikut program wisata atas rekomendasi orang tua. Ia tak menyangka bahwa ia bisa mengetahui berbagai macam agama melalui perjalanan wisata rumah ibadah. “Harapannya bisa tahu lebih banyak agama-agama. Kan di Indonesia banyak agama. Saya sudah kenalan dari sini. Belajar toleransi itu pertanda baik buat masa depan,” ujar Amanda yang sekolah di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 Ngawi, Jawa Timur itu. Sementara, Bagas saat berbincang dengan KompasTravel di Pura Aditya Jaya mengatakan mengenal keberagaman melalui kegiatan wisata adalah hal mengasyikan. Ia membandingkan dengan pembelajaran di dalam kelas. “Menurut saya lebih asyik daripada belajar di kelas lihat presentasi langsung. Kita lihat langsung dan dengar langsung dari pemuka agama. Menurut saya, hal-hal seperti ini melihat langsung itu asyik,” ucapnya. Baik Amanda maupun Bagas berharap perbedaan yang ada di Indonesia bisa diterima dengan baik. Pembelajaran keberagaman lewat kegiatan wisata adalah suatu cara yang bisa dilakukan oleh anak-anak muda.
Penulis : Wahyu Adityo Prodjo
2. Ajaklah remaja untuk berdiskusi dan memberi tanggapan terhadap berita tersebut.
3. Ajaklah remaja membaca Yohanes 4: 16-26!
Cerita
Remaja yang dikasihi Tuhan,
Negara kita Indonesia mengakui 6 agama. Setiap agama memiliki pemahaman teologis, tempat ibadah, tata cara beribadah, dan tradisi-tradisi yang berbeda-beda. Di sisi lain ada banyak juga agama-agama suku yang dianut oleh masyarakat Indonesia, dan tentu setiap agama suku pun memiliki tradisi keagamaannya sendiri-sendiri. Meskipun ada banyak perbedaan tetapi semua tetap satu sebagai warga negara Indonesia.
Pemikiran dan sikap yang terbuka untuk berdialog dan melakukan kegiatan antar agama harus dikenalkan dan dilatihkan sejak dini, agar tidak memiliki pandangan yang eksklusif hanya pada agamanya sendiri. Tuhan Yesus dalam perjumpaanNya dengan perempuan Samaria di sumur Yakub juga menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak memiliki pemikiran dan sikap yang eksklusif. Meskipun pada saat itu orang-orang Yahudi tidak bergaul dengan orang-orang Samaria, namun Tuhan Yesus tidak demikian. Perempuan Samaria pertama-tama mengenal Tuhan Yesus sebagai orang yang kehausan, mencari air di sumur Yakub. Setelah itu perempuan Samaria ini mengenal Tuhan Yesus sebagai seorang Israel (panggillah suamimu). Mendengarkan kalimat-kalimat Yesus, perempuan Samaria sadar bahwa Tuhan Yesus tidaklah sekedar orang Israel, melainkan rabi.
Ketika mengetahui bahwa Tuhan Yesus adalah rabi, maka perempuan Samaria berdialog tentang ibadah yang benar, apakah di Gunung Gerizim (pusat ibadah Samaria) ataukah Yerusalem (pusat ibadah Yahudi). Untuk menjawab hal ini Tuhan Yesus menjelaskan bahwa persoalan ibadah bukan lagi persoalan tempat, melainkan roh dan kebenaran. Ibadah yang benar adalah di dalam roh dan kebenaran. Inilah yang menjadi poin penting, bahwa hanya Mesiaslah yang dapat membawa kedalam roh dan kebenaran. Perempuan Samaria juga sadar akan peran penting Mesias, dan di saat inilah Tuhan Yesus mengakui di depan perempuan Samaria bahwa dirinya adalah Mesias. Hanya Mesias yang bisa membawa kedalam Roh dan Kebenaran.
Wajah persekutuan boleh saja berubah-ubah sesuai dengan kondisi, tetapi jalan Roh dan Kebenaran tidak bisa berubah, yakni Yesus Sang Mesias. Begitu juga kita bisa berteman dengan siapa saja asalkan tetap ada di dalam jalan Roh dan Kebenaran yaitu di dalam Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Aktivitas
Membuat tulisan pendek berisi pengalaman pribadi tentang melakukan kegiatan lintas agama, dan membagikan pengalaman tersebut.