Menjadi Satu Tuntunan Ibadah Remaja 17 Mei 2026

Tahun Liturgi: Bulan Kespel
Tema: Satu di Dalam Tuhan
Judul: Menjadi Satu

Bacaan: Yohanes 17:1-11
Ayat Hafalan: “Dan kalau dalam satu keluarga tidak ada persatuan dan anggota-anggotanya saling bermusuhan, keluarga itu akan hancur..” (Markus 3: 25)

Lagu: Dalam Yesus Kita Bersaudara.

Tujuan:

  1. Remaja dapat mengevaluasi contoh-contoh perpecahan yang terjadi di lingkungan mereka (contoh lingkungan teman dan keluarga) dan mengidentifikasi bagaimana hal tersebut bertentangan dengan doa Yesus.
  2. Remaja dapat merancang kegiatan atau inisiatif yang bertujuan untuk memperkuat persekutuan.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Semua peristiwa dalam hidup Tuhan Yesus telah ditentukan waktunya. Menjelang kematian-Nya tiba, Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa seperti dalam bacaan Alkitab di atas. Pada ayat 1-5, Tuhan Yesus berdoa berkaitan dengan diri-Nya sendiri. Tuhan Yesus telah mengerjakan misi penyelamatan manusia yang merupakan tujuan kedatangan-Nya ke dunia atas kuasa dari Bapa. Tuhan Yesus meminta kemuliaan Bapa nyata melalui pekerjaan-pekerjaan yang telah dilakukan-Nya itu.

Pada bagian selanjutnya, yang merupakan bagian terbanyak, Tuhan Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya. Pada ayat 6 ditulis, “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia”. ‘Semua orang’ dan ‘yang Engkau berikan kepada-Ku’ menunjuk pada orang-orang pilihan. Tuhan Yesus telah melakukan pekerjaan-Nya pada orang-orang pilihan Bapa. Mereka pada akhirnya mengenal bahwa Anak dan Bapa adalah satu. Segala yang menjadi firman Allah telah diberikan dan diterima oleh mereka. Tuhan Yesus mendoakan mereka secara khusus. Secara tidak langsung, doa ini menjadi berkat bagi dunia, karena orang-orang pilihan (termasuk para murid) tersebut akan membawa Injil keselamatan ke seluruh dunia.

Pada ayat 11, Tuhan Yesus mendoakan para murid agar senantiasa ada dalam naungan Bapa dan supaya mereka menjadi satu, sama seperti Bapa dan Anak adalah satu. Kesatuan ini berarti adalah kesatuan hati dan pikiran, yaitu untuk memuliakan nama Bapa. Tuhan Yesus mengharapkan setiap murid mengingat Bapa sebagai satu-satunya yang dimuliakan supaya persekutuan itu tetap utuh. Karena awal dari adanya perpecahan adalah jika setiap orang meletakkan ego masing-masing di atas segala-galanya.

Refleksi Untuk Pamong
Sebagai pelayan, pernahkan kita menyediakan waktu khusus untuk mendoakan orang-orang yang kita layani? Misalnya, Majelis Jemaat mendoakan warga jemaatnya, guru sekolah Minggu mendoakan murid-muridnya, dan sebagainya. Pelayanan yang sejati didorong oleh kerinduan berbagi kasih Kristus, salah satunya dengan mendoakan. Melalui doa-doanya, pelayan akan selalu terhubung dengan Sang Pengutus sekaligus memberi kekuatan pada kehidupan persekutuan.

Sebagaimana Tuhan Yesus mendoakan para murid agar menjadi satu, demikian juga kita seharusnya mendoakan kehidupan persekutuan agar tetap satu di dalam DIA. Meskipun berbeda latar belakang, karakter atau kebiasaan, tetapi semua punya tujuan yang sama seperti Tuhan Yesus dalam melakukan pekerjaan-Nya di dunia, yaitu memuliakan nama Bapa. Setiap orang meletakkan hasrat pribadinya di bawah kepentingan bersama demi tercapainya misi pelayanan. Hal ini tidak hanya berlaku di dalam persekutuan gereja secara internal, tapi juga di persekutuan antar gereja yang berbeda denominasi.

Persekutuan adalah tempat berkumpul beberapa orang dengan segala keterbatasan dan ketidaksempurnaannya, sehingga rawan terjadi konflik atau gesekan. Untuk mencegah terjadinya perpecahan, maka yang mutlak ada dalam sebuah persekutuan adalah kerendahan hati. Kerendahan hati dapat membuahkan banyak hal baik seperti, kesediaan mengalah, tidak sombong, berani mengaku salah, meminta maaf, dan juga mengampuni. Ajaran-ajaran kasih ini penting untuk ditanamkan sejak dini pada anak-anak.

Pendahuluan

  1. Pamong terlebih dulu mengunduh film Bridge di sini.
  2. Pamong mengajak remaja untuk Nobar atau Nonton Bareng film Bridge.
  3. Setelah itu, Pamong mengajak remaja untuk mengulas film tersebut. Bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai pemantik:
    1. Film Bridge bercerita tentang apa?
    2. Moose (rusa besar), beruang, kelinci, rakun punya tujuan atau misi yang sama, yaitu?
    3. Apa yang menghalangi moose dan beruang mencapai tujuannya?
    4. Apa saja yang dilakukan kelinci dan rakun saat moose dan beruang bersitegang?
    5. Apakah misi moose dan beruang berhasil? Kenapa?
    6. Apa yang membuat kelinci dan rakun berhasil mencapai tujuan atau misinya?
    7. Dan lainnya.

Catatan: Pamong menekankan garis besar isi film, bahwa konflik atau perselisihan bisa terjadi di mana saja. Bisa di dalam keluarga, di sekolah, di gereja, di desa, dll. Konflik dalam sebuah komunitas adalah hal yang lumrah. Hal ini terjadi karena manusia memiliki latar belakang, karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kunci supaya konflik tidak berkepanjangan, bahkan sampai menimbulkan perpecahan, adalah adanya kerendahan hati yang didasari kasih. Dengan kerendahan hati, si rakun mengalah, tidak menuruti ego atau gengsinya, sehingga tidak terjadi perpecahan dan misi bersama bisa tercapai.

Inti Penyampaian
Remaja yang dikasihi Tuhan,
Menurut teman-teman, apakah tujuan Allah menciptakan manusia berbeda-beda? Apakah supaya manusia bertengkar? Saling menyakiti? Atau supaya saling melengkapi dan bekerja sama menciptakan kedamaian? Tentunya, yang menjadi kehendak Allah adalah manusia bisa hidup rukun.

Menjelang waktu penangkapannya tiba, Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa. Di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus memohon kepada Bapa agar murid-murid yang akan ditinggalkan bisa hidup menjadi satu, seperti Anak dan Bapa adalah satu. Untuk lebih jelasnya, yuk kita baca Yohanes 17:1-11.

Di ayat 11 dituliskan, bahwa kesatuan para murid merupakan harapan dan doa Tuhan Yesus. Kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan hati dan pikiran, yaitu untuk memuliakan nama Bapa di surga. Tuhan Yesus tidak menghendaki perpecahan. Bukan hanya di dalam persekutuan gereja, tapi juga di semua tempat.

Penerapan
Perpecahan dapat dicegah jika masing-masing pihak memiliki sikap rendah hati. Seperti yang dilakukan tokoh rakun dalam film Bridge tadi. Sebagai anak-anak Tuhan, yuk kita selalu berusaha menjaga keutuhan hubungan di gereja, keluarga, sekolah, masyarakat, dan di semua tempat. Itulah yang menjadi doa dan kehendak Tuhan bagi manusia.

Aktivitas
Pamong membagi remaja menjadi 4 (empat) kelompok.

  1. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk membuat fragmen singkat tentang konflik dan alternatif cara mengatasinya supaya tidak terjadi perpecahan.
  2. Masing-masing kelompok berdiskusi dan berbagi tugas untuk menentukan tema, alur cerita, pemain, dll.
  3. Pilihan tema antara lain:
    1. Kakak dan adik berebut kamar mandi di pagi hari.
    2. Beberapa siswa di sekolah ingin memakai bola basket di waktu yang sama.
    3. Perselisihan dalam pembagian tugas piket kelas, tidak ada anggota yang mau menyapu.
    4. Remaja gereja berselisih pendapat dalam menentukan tempat retret.
    5. Atau lainnya.
  4. Setelah remaja mementaskan naskahnya, pamong memberikan evaluasi atau review pada penampilan masing-masing kelompok.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak