Bersaksi atas Pemulihan Nyata Tuntunan Ibadah Remaja 15 Maret 2026

2 March 2026

Tahun Liturgi: Pra Paskah 4
Tema: Pemulihan Tuhan nyata bila kita iman dan diimbangi tindakan nyata
Judul: Bersaksi atas Pemulihan Nyata

Bacaan: Yohanes 9:1-17
Ayat Hafalan: “Orang yang disebut Yesus itu membuat lumpur, mengoleskannya pada mataku, dan berkata kepadaku: Pergilah ke siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah membasuh diriku, aku dapat melihat.” (Yohanes 9:11)

Lagu Tema:

  1. Kidung Siwi 73 “Aku Kuat dan Berani”
  2. NKB 104 “Apinya Berkobar dalam Hatiku”

Tujuan:

  1. Remaja dapat membuat runtutan cerita bagaimana orang buta menerima mukjizat dari Tuhan Yesus;
  2. Remaja dapat menganalisa pentingnya sikap berani orang buta yang telah disembuhkan dalam menghadapi orang Farisi;
  3. Remaja dapat menuliskan atau bercerita atau mengilustrasikan dalam gambar tentang pengalaman pribadi bagaimana mereka dipulihkan/mendapatkan mukjizat dari Tuhan

Penjelasan Teks  (Hanya Untuk Pamong)
Bagi orang Yahudi, sakit dan penderitaan merupakan bagian dari hukuman atas dosa. Setiap orang yang mengalami penderitaan dan penyakit akan lebih sering dikaitkan dengan kesalahan masa lalu yang sedang menuntut pertanggung jawaban. Kemudian dicari-carilah kesalahan apa yang telah dia lakukan, sehingga penyebab derita dan sakit dapat diketahui dan dapat upaya perbaikan. Tidak hanya pada dirirnya sendiri, kesalahan orang-orang di sekitarnya, seperti orang tua juga perlu dirunut demi kejelasan penyebab derita dan sakit. Itulah pemahaman di balik pertanyaan para murid pada Yesus ketika melihat seseorang yang buta sejak lahir (ayat 2)

Namun Yesus tidak ingin terjebak untuk mencari penyebab kebutaan orang itu, maka kata-Nya, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, ’ (ayat 3). Daripada fokus pada kesalahan dan dosa yang menyebabkan derita dan sakit orang buta itu, Yesus memilih untuk memandang situasi itu dengan lebih positif. Penderitaan orang buta itu ada untuk menghadirkan pekerjaan-pekerjaan Allah dalam hidupnya. Sehingga melalui karya kasih Allah itu, orang buta itu akan melihat terang, yaitu Terang Dunia yang juga disediakan untuk semua orang yang percaya.

Tetangga-tetangga orang yang tadinya buta itu, yang menyaksikan kesembuhaannya seakan tidak percaya pada kejadiaan ajaib ini, mulai mempertanyakan kebenarananya, sehingga ia membenarkan berita itu (ayat 8-9). Kini ia tak lagi buta, melainkan telah diselikkan. Setelah mengalami mujizat dan mengalami kesembuhan, ia memiliki keyakinan baru dan dimampukan untuk memberikan kesaksian (ayat 11), bahkan mengatakan bahwa Yesus adalah nabi (ayat 17). Tidak hanya jadi buah bibir para tetangga, kabar mujizat kesembuhannya, juga didengar oleh orang Farisi. Namun di antara orang farisi terjadi pertentangan, antara yang kagum karena kuasa Allah dinyatakan dan sebagian lagi menyangsikan karena peristiwa itu terjadi dilakukan pada hari Sabat, sehingga penyembuhan itu adalah pelanggaran akan hari Sabat (ayat 14, 16).

Apapun pertentangan yang terjadi, orang-orang Farisi tidak bisa menolak bahwa orang itu telah bisa melihat. Orang yang tadinya buta merasakan bahwa kesembuhannya adalah mujizat dari Tuhan dan akhirnya memberikan kesaksian. Ia tak perlu lagi mengemis karena kebutaanya, tetapi memiliki harapan hidup dalam peertolongan Tuhan.

Pendahuluan
Ajak anak-anak menonton potongan video Orang Buta disembuhkan (putar hingga menit 4:21 sehingga sesuai dengan bacaan.)
Bila tidak memungkinkan untuk memutar video, ajak Remaja memerankan kembali kisah tersebut dalam bentuk drama singkat.

Ajukan pertanyaan berikut untuk berdiskusi:

  1. Bagaimana kira-kira kehidupan seseorang yang buta?
  2. Mengapa para murid bertanya “Siapakah yang berbuat dosa, dia sendiri atau orangtuanya, sehingga dia dilahirkan buta.” (ayat 2)?
  3. Bagaimana jawaban Yesus atas pertanyaan tersebut?
  4. Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta itu?
  5. Bagaimana cara orang buta yang disembuhkan menanggapi/merespon kesembuhannya?

Cerita
Menjadi buta memang tidak menyenangkan. Tidak ada orang normal yang kemudian bercita-cita menjadi orang buta. Bahkan ketika seseorang mengalami gangguan penglihatan, seperti rabun dan katarak, segala upaya dilakukan untuk memperoleh kembali penglihatan yang sesempurna mungkin.

Nah… Hari ini kita akan belajar melihat dari seorang yang buta sejak lahir. Apa yang bisa kita pelajari dari sosok yang malah tidak pernah menikmati penglihatan sejak lahir ini? Meskipun dalam keterbatasan, orang buta itu akan mengajarkan pada kita tentang arti melihat dan merespon atau menanggapi anugerah Tuhan dengan baik.

Memiliki keterbatasan dalam melihat tidak membuat orang buta itu menyerah atas hidupnya, melainkan tetap berupaya untuk hidup dengan mengemis seperti yang biasa dia lakukan seperti yang disaksikan oleh para tetangga (ayat 8). Namun hidupnya berubah seteleh ia berjumpa dengan Yesus yang telah membuatnya bisa melihat. Ada rasa syukur yang dinampakkan oleh orang yang baru saja bisa melihat, yakni yang ditunjukkan dengan bersaksi dengan dengan jujur siapa yang sudah menyembuhkannya, yakni Yesus yang adalah seorang Nabi (ayat 11, 17). Ia bersaksi atas mujizat kesembuhannya di depan orang-orang Farisi yang mencurigai sosok penyembuh orang buta itu.

Penderitaan Orang Buta sebelum menerima mujizat dari Yesus telah berakhir. Mujizat itu mengakhiri penderitaan orang buta dan akhirnya mendapatkan kelegaan, bahkan ia dimampukan unutk memberikan kesaksian di depan orang banyak. Demikian pula kita sebagai anak-anak Tuhan telah menerima anugerah keselamatan dan bahkan juga menrima mujzat dari Tuhan, perlu untuk juga menyampaikan kesaksian dengan nyata. Oleh karena itu, teman-teman remaja perlu merespon anugerah dan mujizat Tuhan dengan berbagi kisah dengan jujur seperti orang buta yang bisa melihat tadi. Amin

Aktivitas
“Menuliskan Mukjizat Tuhan”

  1. Bagikan kertas tulis kosong pada remaja
  2. Ajak para remaja menuliskan satu peristiwa yang menurut mereka adalah sebuah mujizat dari Tuhan untuk mereka.

Apresiasi kisah mereka berhasil menuliskan dan berbagi kisah di depan teman-teman remaja lainnya.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak