Aku Cinta Budaya Lokal Tuntunan Ibadah Anak Remaja 11 November 2018

Bacaan Alkitab: 2 Tawarikh  7 : 6 -10
Tahun Gerejawi : Bulan Budaya
Tema : Menghargai budaya lokal
Tujuan :

  1. Anak dapat menjelaskan kembali kisah tentang orang Lewi yang memuliakan Tuhan melalui alat-alat musik.
  2. Anak dapat menyadari pentingnya melestarikan budaya lokal sebagai identitas diri memuliakan Tuhan.
  3. Anak dapat menyebutkan cara melestarikan budaya lokal.

Ayat Hafalan : Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi” (I Kor 9 : 20)

Lagu Tema :

  1. Lah aku bocah rahayu (Kidung Ria no.117)
  2. Aku anak GKJW (Kidung Ria no. 1)

Penjelasan Teks

Kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan ketikaSalomo mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Dalam ibadah itu bukan hanya  persembahan korban bakaran yang mereka bawa, tetapi imam bersama orang Lewi telah siap memimpin puji-pujian bagi Allah. Suku/orang Lewi adalah salah satu dari kedua belas suku Israel keturunan Lewi, putra Yakub. Suku ini menempati posisi khusus dalam agama Israel kuno, yakni sebagai keluarga imam, termasuk imam besar dan penjaga serta pemelihara Bait suci di Yerusalem. Sambil menyatakan kasih setia Allah untuk selama-lamanya melalui pujian, mereka juga memainkan musik yang dibuat oleh Raja Daud. Mereka bernubuat dengan diiringi, kecapi, gambus dan ceracap untuk bekerja dalam ibadah  dan segenap orang berdiri.

Bangsa Israel sebagai sebuah masyarakat yang berbudaya, memanfaatkan kemampuan mereka dalam ritual peribadahan. Wujud taat dan setia kepada Tuhan diwujudkan dengan membawa korban bakaran dan diterima  Tuhan   melalui tanda  api yang datang dari langit dan membakarnya. Ketika itu terjadi  maka sebagai wujud syukurnya umat menyatakan pujian bagi Allah.  Mereka melagukan kasih setia Allah sambil memainkan alat musik yang dibuat raja Daud.  Alat musik  buatan Daud yang dibuat dengan hati yang penuh kasih  bagi Allah digunakan untuk mengiringi bahkan menjadi alat  pujian dan tarian kepada Allah. Mereka menggunakannya bukan untuk kebutuhan mereka sendiri, tetapi dimanfaatkan, dilestarikan demi pekerjaan Allah.  Hasil budaya  yang berasal dari kreatifitas manusia pemberian Allah, dipersembahkan kembali sebagai puji-pujian bagi Allah.  Ketika hasil budaya dipersembahkan untuk kebaikan sejatinya membuat manusia  semakin mengenal dirinya sendiri.

Aplikasi

Adakah  diantara kalian yang mengetahui dan dapat menyanyikan satu lagu daerah dimana kalian tinggal atau berasal? Atau mungkin yang mengetahui dan dapat  memainkan  alat musik tradisional atau menarikan satu tarian daerah? Atau adakah yang mengetahui dan dapat menceritakan  cerita rakyat  dari daerah kalian?  Atau siapa yang dapat  menceritakan  apapun tentang daerah kalian masing-masing? Bagi kita yang kurang/tidak  lagi mengenal, apa yang menjadi alasan kita? Apakah dikarenakan anggapan kolot, kuno dan gak gaul? Sedang  yang modern dan kekinian lebih keren?   Atau karena kita mengalami kesulitan untuk mempelajarinya? Pertanyaan-pertanyaan diatas setidaknya dapat menguji pengetahuan diri kita tentang budaya lokal dimana kita bertumbuh.

Kebudayaan   berarti hasil cipta,  rasa, karsa manusia  dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Bisa berupa kepercayaan/keyakinan (mis: agama), pengetahuan (mis: handphone), kesenian (mis: tarian, alat musik), hukum norma (mis: kesopanan, gotong royong)  serta rutinitas/kebiasaan sehari-hari.  Hasil/produk budaya ini lahir biasanya melalui proses panjang.  Awalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup,  kemudian diselaraskan  secara terus menerus demi kepentingan bersama. Ia bukan hanya sekedar muncul tanpa sengaja, tetapi disertai latar belakang dan pengajaran  tentang nilai hidup bersama  (solidaritas, kekeluargaan, persaudaraan, cinta tanah air, toleransi, dll).  Dan selanjutnya, lahirlah produk budaya lokal (yang dimiliki dan diakui oleh masyarakat suku bangsa tertentu) dalam rangka membangun relasi harmonis dengan sesama dan yang maha kuasa.

Maka bisa jadi,  maraknya kekerasan/kenakalan  remaja akhir-akhir ini,  terkait dengan kehidupan manusia yang semakin tercabut dari akar budaya dan kehilangan identitas diri.  Sebab, semakin kita tidak mengenal budaya termasuk  nilai luhur darimana kita berasal maka hilanglah nilai bersama yang sejak nenek moyang dihidupi bersama. Misalnya, tarian gandrung Banyuwangi  yang menyebutkan gandrung sebagai  panggilan dewi Sri (dewi Padi)  sang pemberi kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Maka ketika kita menarikan ini, maka sejatinya membantu kita mengingat dan bersyukur kepada Tuhan sang pemelihara hidup kita.

Bagaimana caranya generasi muda  dapat merayakan  dan menjaga budaya lokal? Tentu saja, yang pertama kita harus  mulai mengenal dan mempelajarinya. Yang kedua, ikut berpartisipasi, mempraktekkan  apabila ada kegiatan kebudayaan. Yang ketiga, tetap bangga dan percaya diri tanpa harus merendahkan yang lain. Sebab keragaman diciptakan Tuhan.

Mari kita bersama mencintai budaya lokal  sebagai sarana kita meneguhkan jati diri. Sebab dengan menghayatinya, maka kita belajar tentang  pesan-pesan moral yang mengajak kita semakin mencintai sesama, menghormati orangtua dan memuliakan Allah.  Ayo belajar mengenal, mencintai budaya lokal sebagai sarana memuliakan Allah dan mencintai sesama.

Langkah-Langkah Penyampaian

  1. Mintalah remaja untuk menceritakan pengetahuan mereka tentang lagu, tarian, cerita daerah yang mereka kenal. Ajak mereka untuk berdiskusi mengapa mereka mengenal atau mengapa mereka tidak mengenal budaya lokal?
  2. Pamong mengajak membaca bacaan Alkitab dan sampaikan penjelasan teks dan aplikasi.
  3. Mintalah remaja untuk menyampaikan apa yang harus dilakukan sebagai wujud partisipasi mereka untuk menjaga budaya lokal.
  4. Berikan ilustrasi tentang permainan klotekan lesung dalam ibadah hari raya persembahan di Mojowarno.
  5. Akhiri dengan kegiatan

Ilustrasi

“Klotekan lesung” adalah kesenian tradisional yang sudah jarang dimainkan. Permainan ini dilakukan oleh beberapa orang yang saling bergantian menumbuk lesung (alat penumbuk padi). Dahulu kala, alat musik ini adalah sarana hiburan di kala petani usai melakukan pekerjaannya menumbuk padi. Dengan ketukan alu (penumbuk) mereka menyanyi sambil bercanda. Cerita rakyat mencatat bagaimana alu dan lesung menyelamatkan Roro Jonggrang dari hasrat Bandung Bondowoso untuk meminangnya. Hal ini terjadi ketika Roro Jonggrang memberi syarat yang berat dengan  meminta Bandung Bondowoso menciptakan 1000 candi dalam semalam supaya Bandung Bondowoso gagal meminangnya. Ketika Bandung Bondowoso hampir menyelesaikannya, Roro segera membangunkan para perempuan untuk memainkan lesung, sehingga meski waktu masih malam  seakan-akan telah menjelang pagi. Dan dengan demikian, maka gagallah usaha Bandung memenuhi permintaan  dan meminang Roro.

Musik ini dimainkan oleh masyarakat petani yang mata pencahariannya adalah petani. Masyakarat yang dekat dengan semangat saling tolong menolong dan bergotongroyong. Ketika perubahan terjadi dengan sangat cepat dimana mesin penggiling mulai dikenal dan dipergunakan, maka klotekan lesung secara otomatis tenggelam dengan perubahan jaman.

Tetapi, di hari perayaan persembahan Undhuh-Undhuh Mojowarno, lesung dan alu dimainkan dalam  klotekan. Diiringi secara kolaboratif dengan gending dan tembang lagu jawa, para ibu-ibu menyanyi dan memuliakan Tuhan. Tuhan yang telah melimpahi mereka dengan kecukupan dan berkat. Permainan musik  ini mengingatkan kita bahwa beryukur kepada Tuhan tidak harus dalam situasi tertentu. Tetapi dalam berbagai situasi, puji dan sembah kepada Tuhan harus terus  dinyatakan. Alat musik sederhana dapat menjadi sarana kemuliaan dan keagungan nama Tuhan.

Kegiatan

Coba cari kisah, tarian, lagu, alat musik yang berasal dari daerahmu dan ceritakan nilai-nilai positif / kearifan lokal di dalamnya


Gambar Sampul: Wikipedia

 

Bagikan Entri Ini: