Derita Salib Tuntunan Ibadah Jumat Agung 7 April 2023 untuk Remaja

27 March 2023

Tahun Gerejawi: Jumat Agung
Tema: Jumat Agung
Judul: “Derita Salib”

Bacaan: Yohanes 19: 16b-37
Ayat Hafalan: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 Yohanes 3: 16)

Lagu Tema: Kidung Jemaat 169: 1, 5 “Memandang Salib Rajaku”

Tujuan:

  1. Remaja dapat menyebutkan tindakan para prajurit pada peristiwa penyaliban dan kematian Tuhan Yesus.
  2. Remaja dapat menyadari penderitaan Tuhan Yesus untuk menebus dosa manusia.
  3. Remaja dapat melatih diri untuk menjaga dirinya hidup benar di hadapan Allah sebagai ucapan syukur atas pengorbanan Yesus di kayu salib.

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Tidak seperti Injil-injil Sinoptik, Yohanes mewartakan kisah penyaliban dan kematian Yesus dengan lebih ringkas. Yohanes menjelaskan pada kita dengan singkat, bagaimana Yesus mengontrol kehidupan dan kematian-Nya sendiri, Ia menerima kematian-Nya sendiri. Meskipun demikian tulisan Yohanes ini tetap memiliki makna yang cukup dalam, sebagaimana kekhasannya yang menitik-fokuskan pemberitaan Injil pada kedalaman nilai sastra. Karena itu, Yohanes mengungkapkan jalinan peristiwa Penyaliban dan Kematian Yesus dengan penggenapan atas nubuatan-nubuatan tentang Mesias, Sang Juruselamat.

Buktinya adalah banyaknya kutipan nubuatan-nubuatan tentang tanda-tanda Juruselamat, dalam Perjanjian Lama (PL) yang sampaikan seiring peristiwa penyaliban dan kematian Yesus dituturkan. Di sepanjang bacaan kita, ada tiga bukti penggepanan nubuatan. Pertama, tentang pakaian yang dibagi dan jubah yang diundi (ayat 24) yang merujuk pada Mazmur 22:19. Kedua, ketika Yesus yang telah siap menerima kematian-Nya dan berkata “Aku haus” (ayat 28) hal ini menggenapi Mazmur 22:16 atau Mazmur 69:22. Terakhir, tentang tidak adanya tulang yang dipatahkan dari tubuh Yesus (ayat 32-37) dikaitkan dengan Keluaran 12:46 dan Mazmur 34:21. Yohanes ingin mengungkapkan klaim kemesiasan Yesus sudah cukup bukti, sehingga tak ada yang perlu diragukan lagi.

Penderitaan Yesus dalam pengkisahan Yohanes memang tidak sedramatis sebagaimana dikisahkan Injil-Injil Sinoptik. Meskipun demikian tak mengurangi makna dari perjuangan dan pengorbanan Yesus menghadapi penderitaan penyaliban dan kematian-Nya. Yesus tetap harus menderita, mati menjadi korban di atas kayu salib sebagaimana dinubuatkan dalam kitab-kitab di Perjanjian Lama (PL), demi keselamatan orang berdosa. Yesus menderita untuk menebus manusia dari dosa sebagaimana Ia sendiri menjadikan diri sebagai seorang sahabat yang sangat mengasihi sahabat-sahabat-Nya(Yohanes 15:13). Dengan penderitaan dan pengorbanan-Nya, Yesus ingin menunjukkan betapa besar kasih-Nya pada manusia.

Pendahuluan

  1. Ajak remaja berdoa dan membaca Yohanes 19: 16b-37!
  2. Ajak remaja untuk menunjukkan ayat-ayat yang menuliskan tindakan para prajurit pada peristiwa penyaliban dan kematian Tuhan Yesus di pasal 19. Seperti berikut:
    • Memakaikan jubah ungu pada Yesus – ayat 2
    • Menaruh mahkota duri pada Yesus  – ayat 2
    • Menyalibkan Yesus – ayat 18
    • Mengambil pakaian-Nya dan membagi empat – ayat 23
    • Membuang undi untuk jubahNya – ayat 24
    • Mencucukkan anggur masam pada Mulut Yesus – ayat 29
    • Menikam lambung Yesus dengan tombak – ayat 34
    • Mematahkan kaki Yesus – pernyataan jebakan
    • Menuliskan kata ‘INRI’ pada Salib Yesus – pernyataan jebakan
    • Menjaga Kubur Yesus –  pernyataan jebakan(dapat dikembangkan sehingga mengarah pada tujuan pertama)

Cerita
Pernahkah teman-teman remaja menerima perlakuan seperti perlakuan para prajurit pada Tuhan Yesus?

(Beri kesempatan singkat untuk merespon tiap pertanyaan).

Jika kita mengalaminya, apa yang akan kita lakukan?
Apa yang ada dalam pikiran kita?
Bagaimana perasaan kita?
Apakah kita akan marah?
Apakah kita akan memberontak?
Apakah kita akan melawan?

Ternyata Tuhan Yesus tidak melawan para prajurit itu, karena memang harus demikianlah perjalanan tugasnya sebagai Juruselamat di dunia, sebagaimana nubuatan yang ditulis oleh para Utusan Tuhan Allah sebelumnya.

Perjanjian Lama (PL) telah banyak menubuatkan penderitaan sang Juruselamat yang tergenapi dalam peristiwa penyaliban dan kematian Tuhan Yesus. Di sepanjang bacaan kita, ada tiga bukti penggenapan nubuatan-nubuatan yang dimaksudkan. Pertama, tentang pakaian yang dibagi dan jubah yang diundi (ayat 24) yang menggenapi Mazmur 22:19. Kedua, ketika Tuhan Yesus yang telah siap menerima kematian-Nya dan berkata “Aku haus” (ayat 28) hal ini menggenapi Mazmur 22:16 atau Mazmur 69:22. Terakhir, tentang tidak adanya tulang yang dipatahkan dari tubuh Tuhan Yesus (ayat 32-37) dikaitkan dengan Keluaran 12:46 dan Mazmur 34:21. Yohanes ingin mengungkapkan klaim kemesiasan Tuhan Yesus sudah cukup bukti, sehingga tak ada yang perlu diragukan lagi.

Penderitaan Tuhan Yesus dalam pengkisahan Yohanes memang tidak sedramatis sebagaimana dikisahkan Injil-Injil Sinoptik. Meskipun demikian tak mengurangi makna dari perjuangan dan pengorbanan Yesus menghadapi penderitaan penyaliban dan kematian-Nya. Tuhan Yesus tetap harus menderita, mati menjadi korban di atas kayu salib sebagaimana dinubuatkan dalam kitab-kitab di Perjanjian Lama, demi keselamatan orang berdosa. Tuhan Yesus menderita untuk menebus manusia dari dosa sebagaimana Ia sendiri menjadikan diri sebagai seorang sahabat yang sangat mengasihi sahabat-sahabat-Nya(Yohanes 15:13). Dengan penderitaan dan pengorbanan-Nya, Tuhan Yesus ingin menunjukkan betapa besar kasih-Nya pada manusia.

Karena itu kita juga harus bisa bersyukur oleh karena pengorbanan Tuhan Yesus yang telah menderita dan mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib. Kita sebagai pengikutnya juga harus meneladani perjuangan Tuhan Yesus. Ketika kita mengalami penderitaan dalam meraih sesuatu kita harus mengingat perjuangan Yesus, dan berkata “perjuanganku belum seberapa dibanding Tuhan Yesus yang telah menebus dosa manusia”. Sekaligus, kita harus berupaya dengan sungguh dalam setiap perjuangan kita meraih prestasi dengan baik dan jujur, misalnya belajar dengan sungguh untuk meraih nilai terbaik dalam ulangan, atau berlatih dengan baik supaya menjadi juara dalam suatu perlombaan.

Akhirnya, mari kita berbuat baik dan benar di hadapan Tuhan. Menjadi baik dan benar di dunia memang tidak mudah, tetapi anggaplah itu sebuah upaya kita meneladani perjuangan dan penderitaan Tuhan Yesus. Mari berbuat baik dan benar sebagai bentuk rasa syukur atas berkat keselamatan pemberian Tuhan bagi kita.

Aktivitas

  1. Ajak remaja untuk berbagi pengalaman mereka tentang upaya melatih diri. Dapat menggunakan pengalaman mereka mengikuti aksi puasa Paskah atau proses latihan-latihan lain yang pernah meraka lakukan, misal: latihan baris-berbaris, latihan untuk lomba suatu olahraga.
  2. Ajak remaja untuk bisa mengungkapkan betapa susah dan beratnya proses latihan mereka. Tetapi semua kesusahan dan proses berat yang dialami, akan menjadi hasil yang baik untuk dicapai.
  3. Ajak remaja berjanji akan melakukan latihan-latihan mereka dengan baik dan benar dan memohon kekuatan Tuhan dalam doa.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak