Bacaan 1 : 1 Raja-raja 3 : 5 – 14
Bacaan 2 : Yohanes 8 : 12 – 19
Tema Liturgis : Kehadiran Yesus Kristus Membawa Damai bagi Dunia
Tema Khotbah : Introspeksi dan Pertobatan Kelakuan Buruk Masa Lalu
Keterangan Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
I Raja-raja 3 : 5 – 14
- Salomo menjadi raja Israel sesuai dengan janji Daud kepada Betsyeba yang didukung oleh kesaksian nabi Natan (1 Raj 1:13-14). Namun demikian Salomo perlu legitimasi/pengakuan bahwa ia menjadi raja Israel bukan atas kehendaknya sendiri tetapi oleh kehendak Tuhan dan untuk melaksanakan kehendak Tuhan atas umatNya Israel. Pada situasi yang demikian, TUHAN menampakkan diri kepada Salomo melalui mimpi di Gibeon.
- Dengan rendah hati Raja Salomo mengakui di hadapan Tuhan bahwa kedudukannya sebagai raja, -meskipun menurutnya sangat muda dan belum berpengalaman, adalah karena pemberian Tuhan mengingat kasih setia-Nya kepada Daud-ayahnya, (ayat 7). Dengan mempertimbangkan keberadaan umat Isreal yang besar maka ia meminta kepada Tuhan “hati yang faham” atau “hati yang mendengarkan” dalam memutuskan perkara hukum dengan seadil-adilnya. Inilah kualitas seorang raja yang sesungguhnya bertindak adil, pun terhadap mereka yang miskin dan tertindas (Maz 72:2, 12-13)
- Dalam perikop selanjutnya, ayat 16-28 menunjuk pembuktian bahwa kebijaksanaan itu telah diberikan Allah dan menjadi dasar raja Salomo memutuskan perkara keadilan bahkan bagi orang yang tidak diperhitungkan masyarakat (tidak bernama dan berprofesi pelacur).
- Hikmat Allah menjadi pegangan Raja di dalam menghakimi seluruh rakyat. Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya. (Amsal 12 : 14)
- Imbalan atas permintaaan yang baik dan selaras dengan kehendak Tuhan adalah dikabulkan, bahkan ditambahkan kepadanya kekayaan, kemuliaan dan jika ia mau hidup seperti ayahnya-Daud, setia, benar dan jujur akan ditambahkan kepadanya umur panjang. (bdk. Mat 6:33)
Yohanes 8 : 12 – 19
- Yesus mengidentifikasikan dirinya sebagai terang dunia yang memberikan “cahaya kehidupan/bimbingan” kepada siapa mengikutinya. (ayat 12).
- Yesus berkata, “Akulah Terang dunia.” Ini adalah salah satu dari tujuh kata “Akulah” dalam Injil Yohanes. Karena pernyataan “Akulah” identik dengan nama Allah yang ada dalam Keluaran 3:14, “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”, perkataan ini menegaskan bahwa Yesus adalah Firman Allah yang hidup (bdk. Maz 119:105).
- Injil Yohanes, menyatakan bahwa Yesus adalah Terang yang datang ke dalam dunia yang gelap (1:5; 3:19-21; 9:5; 12:35-36). Terang memiliki beberapa dimensi. Pertama, terang/pelita digunakan menunjuk kepada guru, yang memberi pengajaran/pencerahan kepada murid-muridnya. Dan Yesus adalah guru yang memberi pengajaran dan menyatakan kebenaran tentang Allah dan manusia. Kedua, terang digunakan untuk sebutan hamba Allah atau Mesias. Sebagai Terang dunia, Yesus adalah Mesias yang memenuhi janji-janji Allah (lihat Yesaya 9:1-6; 42:6). Ketiga, Terang menunjuk kepada Tuhan sendiri, dan Yesus adalah kemuliaan Allah (lihat Yesaya 60: 1-2). Ketiga hal tersebut menegaskan identitas Yesus.
- Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah (1 Kor. 1:24), Dia datang bukan untuk menghakimi dunia, tetapi bilamana Dia menghakimi maka penghakimanNya benar (ayat 16).
- Dalam perikop sesudahnya (Yoh. 9:1-41), Yesus menunjukkan apa artinya menjadi terang dengan menyembuhkan seorang buta sejak lahir. Orang itu datang untuk melihat terang secara jasmani. Dan melalui penyembuhan jasmani, ia secara bertahap datang untuk melihat cahaya kebenaran (Terang) sesungguhnya yaitu Yesus, Mesias, Anak Allah yang hidup.
Benang Merah Dua Bacaan:
Allah adalah Raja, Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran (Maz 8:8). Dan penghakiman itu tidak dilaksanakan sekilas pandang saja tetapi benar-benar adil dan jujur (Yes. 11:3-4). Dan akan ada waktunya setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya (Rom 2:6-8). Oleh karena itu baiklah mereka yang melakukan kejahatan segera menyesali perbuatannya dan bertobat dari dosa-dosanya serta memohon pengampunan kepada Tuhan, sebab Allah adil dalam putusanNya dan bersih dalam penghukumanNya (Maz. 51:1-4). Itulah sumber pengharapan bagi orang percaya untuk tidak tenggelam dalam kegagalan dan kelemahannya, tetapi kembali bangkit dari kehidupan dosanya dan kembali ikut serta dalam rencana karya Tuhan Allah menyelamatkan dunia.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
Pendahuluan
Mengakhiri perjumpaan kita di penghujung tahun ini, kita melaksanakan ibadah tutup tahun dengan penuh ucapan syukur. Bahwa kekuatan dan penyertaan Tuhanlah yang memampukan kita dapat menjalani hari demi hari yang penuh tantangan dan cobaan. Dan berkat-berkatNya senantiasa memuaskan dan menggembirakan tubuh dan jiwa kita mengimbangi hari-hari kesedihan dan penderitaan yang kita alami.
Namun demikian tentunya kita juga menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani tidak pernah luput dari berbuat salah dan menyakiti bukan hanya orang-orang yang kita cintai yang ditempatkan Tuhan membersamai kita bahkan hati Tuhan kita dukakan dengan terus menerus mengeraskan hati kita untuk tidak segera bertobat dan memperbaiki setiap kesalahan dan perbuatan buruk yang kita lakukan. Kita masih terlalu angkuh untuk mengakui kekurangan dan kesalahan dengan tulus hati serta meminta maaf dan ampunan atas semuanya itu. Malam ini kita berintropeksi dan mengevaluasi diri untuk dapat memperbaiki sikap dan perilaku kita yang dapat menghalangi/menunda rencana karya Tuhan menjadikan kita sebagai anak-anakNya yang seturut gambar dan citraNya di dalam Kristus Yesus.
Isi
- Suatu malam, saya mengunjungi salah seorang anggota majelis jemaat yang menurut rekan majelis jemaat kini tidak lagi mau duduk di kursi kemajelisan pada saat ibadah Minggu di gereja. Bahkan untuk beberapa tugas pelayanan sebagai anggota komisi tidak lagi ia lakukan. Menurut cerita salah seorang warga ada persoalan pelik di rumah tangganya yang membuat dia merasa tidak layak untuk tetap menjadi seorang anggota majelis jemaat dan duduk di kursi Diaken pada pelayanan ibadah Minggu.
- Ia menyambut saya dengan sukacita dan mempersilahkan saya masuk serta meminta isterinya membuatkan saya secangkir kopi dan membawakan pisang goreng. Rupanya ia juga menyadari bahwa perkunjungan saya tentunya juga ada kaitan dengan persoalan yang terjadi beberapa waktu ini. Ia kemudian memanggil isterinya untuk menemani dan mulai menceritakan persoalan berat yang tengah mereka hadapi sebagai orang tua. Dengan sedih dia mengatakan bahwa anaknya perempuan yang kuliah telah jatuh dalam pergaulan bebas dan oleh karena hamil ia akhirnya menikah dengan laki-laki yang tidak seiman serta keluar dari kekristenan. Ia merasa malu sebagai seorang anggota majelis yang seharusnya dapat memberi keteladanan dalam mendidik anaknya berperilaku baik dan merasa gagal karena ternyata anaknya juga meninggalkan iman kristennya. Ia merasa sangat bersalah dan merasa dipermalukan oleh tindakan anaknya. Namun ia takut mundur sebagai diaken jemaat karena mundur dari pelayanan berarti menolak/nglirwake panggilan Tuhan yang menurut pranata GKJW akan digembalakan khusus/diperdi. Dari pengalaman dua anggota majelis yang ia tahu meninggalkan pelayanan dengan sengaja berakibat buruk bagi kehidupan keluarga selanjutnya. Tetapi ia juga merasa tidak layak bila tetap duduk di kursi pelayan pada saat ibadah minggu. Jadinya bingung.
- Setiap orang/keluarga berusaha untuk dapat membangun kehidupannya dengan baik. Mengupayakan diri dan berkorban sedemikian rupa agar perjalanan hidupnya berjalan baik, rapi, tidak cacat dan sempurna. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keterbatasan sebagai manusia seringkali diperhadapkan dengan kejatuhan, kegagalan, putus asa, kepahitan. Dan sering terjadi satu kegagalan menjadi satu-satunya fokus dan perhatian sehingga sesuatu yang baik, aspek kehidupan yang lain seakan akan tidak lagi bermakna jelas atau terlupakan.
- Hikmat dan kebijaksanaan diperlukan seorang raja/pemimpin untuk dapat membedakan baik dan jahat dalam memutuskan perkara seseorang secara adil dan benar. Hikmat dan kebijaksanaan pemberian dari Allah untuk orang percaya dapat menyelesaikan tugas dan tanggung jawab pelayanan yang diembannya dengan baik dan benar. Hikmat dan kebijaksanaan menolong kita memaknai peristiwa kehidupan yang telah dijalani agar tidak hanya terfokus kepada menghakimi kekurangan dan kelemahan diri, mempersalahkan diri dan juga orang lain yang akibatnya dapat menutup kemungkinan atau mengabaikan anugerah Allah yang sedang tumbuh dalam kehidupan dirinya.
- Orang percaya dapat tetap berdiri dan melayani sampai dengan saat ini, tentunya karena pertumbuhan dengan segala dinamika yang diperkenankan Tuhan, meskipun kemudian didapati dirinya tidaklah tanpa cacat dan cela. Ketika pandangan kehidupan orang percaya tidak hanya berfokus pada kekurangan diri, cacat dan cela di masa lalu maka kini yang terlihat adalah potensi aspek kehidupan lain yang masih dapat dibangun dengan lebih baik. Kedua hal tersebut dapat dilihat bersama sebagai sebuah dinamika.
- Pengalaman iman Rasul-rasul, pelayan-pelayan Tuhan yang setia telah membuktikan penyertaan dan karya Tuhan dalam pelayanan hidupnya. Anugerah diberikan dan akan sungguh dirasakan bagi umatNya yang mau bertumbuh untuk melepaskan segala kesalahan diri maupun orang lain, berusaha untuk semakin baik menata hidupnya dan membuka diri bagi karya Allah yang nyata yang tersedia bagi umat-Nya. Mengampuni, menerima diri dan terus berbenah adalah gerbang pembuka untuk menjadi warga GKJW yang semakin baik, mandiri dan menjadi berkat.
- Semoga dengan kesadaran dan kebijaksanaan dari Tuhan, kesalahan masa lalu tidak menjadi perangkap dalam perjalanan kehidupan kita melayani Tuhan dan gerejaNya. “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”(ayat 12)
Penutup
Mengakhir renungan ini marilah kita belajar juga dari kehidupan rasul Paulus dalam melihat kembali perjalanan kehidupannya dengan kesadaran dan kebijaksanaan (Roma 8 : 31-34).
Tuhan ajarilah aku untuk tidak tenggelam dalam kepahitan masa lalu (ku) , namun ajarilah aku untuk menghadapi masa lalu dengan kesadaran dan kebijaksanaan, lebih lagi ajarilah aku untuk selalu melihat dan merasakan karunia pemeliharaanMu. Amin. (PAY)
Pujian : KJ No. 410 Tenanglah kini hatiku
—
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi
Pambuka
Dalu punika kita dumugi ing pungkasan warsi, lan kanthi kebaking saos syukur kita nindakaken pangibadah tutup tahun. Panuntun lan pengreksanipun Allah pribadi ingkang paring kasagedan dhateng kita nglampahi gesang padintenan kanthi tetep setya tuhu senadyan kathah pepalang lan godha rencana. Berkahipun Gusti Allah ingkang luber lan lumintu nggesangaken badan lan nyawa kita timbang kaliyan dinten-dinten awrat lan kasedihan ingkang sampun kita langkungi.
Ewasemanten kita ugi ngakeni bilih lampahing gesang kita mboten uwal saking tumindhak cidra lan nerak dhateng angger-anggripun Gusti. Kita nate nindakaken kalepatan ingkang murugaken sapepadha ingkang nresnani kita muwun, inggih ugi ndamel sekel penggalihipun Gusti karana wangkoting manah mboten purun ngakeni lan nelangsani dosa-dosa kita. Jumawa lan pengkuh atine sarta awrat ngesorken srira nyuwun apura tumrap kalepatan ingkang sampun katindakaken. Dalu punika kita sami niti priksa kawontenan pigesangan kita ing ngarsanipun Allah, supados sampun ngantos karana pemanggih lan pola pratingkah kita piyambak ngrendheti Sang pepadhang nyunari kapetengan kita. Awit ingkang dados kersanipun Allah, kita saged dados putra-putra pepadhang ingkang mbangun turut nuladha citranipun ing Sang Kristus Yesus.
Isi
- Kacarita wekdal surup, kula nuweni griyanipun Pak Bondan, satunggaling pradhataning pasamuwan. Miturut katrangan sawetawis rencang peladosan, piyambakipun mboten purun malih lenggah ing kursi majelising pasamuwan nalika ibadah Minggu. Sawetawis ayahan paladosan komisi ugi mboten ditindakaken. Wonten warganing pasamuwan ingkang ngaturi pirsa bilih sakmenika brayatipun pak Bondan ngadhepi perkawis awrat gandheng kawontenan putrinipun ingkang dhawah. Karana punika piyambakipun rumaos mboten panthes lenggah ing kursi ngajeng paladosan ibadah Minggu sesarengan pradhataning pasamuwan sanesipun
- Nalika dumugi ngajeng griyanipun, kula dipun aturi mlebet lan ndangu semahipun supados enggal ndamelaken kopi lan mbetahaken gedhang goreng ingkang nembe mateng. Piyambakipun sampun kraos perkawis menapa dene kula murugi dhateng panggenanipun. Sawuse ngaturke wedang semahipun ugi disuwun ndherek nenggani ing perembakan menika. Kanthi blaka piyambakipun lajeng cariyos bilih putrinipun ingkang mbajeng dhawah ing dosa karana ngandhut sakderengipun karesmekaken sesamahan. Ingkang mrihatosaken piyambakipun ugi miruda saking iman Kristen lantaran calon semahipun mboten purun ndherek Kristen. Karana mboten purun dipun tata sae dening tiyang sepuh, putrinipun lajeng kesah (minggat) saking griya ngantos samangke. Minangka tiyang sepuh piyambakipun rumaos kabedhal (gagal) nggulawenthan anak. Piyambakipun ugi rumaos lingsem awit pigesangan brayatipun mboten saged dados tuladha iman sae tumrap warganing pasamuwan sanesipun. Ewasemanten menawi mundhur saking jabatan khusus pasamuwan, piyambakipun ajrih karena pemanggihipun miturut pranata GKJW perkawis menika kalebet tumindhak nglirwakaken timbalan lan saged kenging perdhi/siasat gereja. Sebab sanesipun karana ningali pengalaman rencang paladosan ingkang nate mundhur saking kalenggahan menika lajeng gesangipun malah sangsayo nelangsa lan mrihatosaken. Piyambakipun bingung punapa ingkang kedhah dipunlampahi ?
- Saben tiyang/brayat pitados nggadhah pepinginan saged mranata gesangipun kanthi sae. Mbudidaya supados lampahipun gesang saged mulus, sae tanpa cacat. Ananging kahanan manungsa punika sarwa winates lan karingkihan kadagingan murugaken tiyang/brayat pitados saged dhawah ing dosa lan cidra. Ingkang mrihatosaken inggih menika menawi tiyang pitados namung menggalih kekirangan gesang lan cacatipun kemawon. Uripe dirasa pait lan kerem ing raos kedosan tanpa wates. Perangan/babagan gesangipun sanesipun ingkang taksih sae mboten dipun gatosaken babar pindah lan dipun raos mboten wonten maknanipun. Liyane klendran amarga getuni sing wis kelakon.
- Pangreten lan kawicaksanan menika perangan wigati kagem para pemimpin nindaken paprentahan kanthi adil lan bener. Pangreten lan kawicaksanan menika nenuntun abdinipun Gusti kuwagang anggenipun nindakaken ayahan timbalan laras kaliyan kersanipun Allah. Pangreten lan kawicaksanan mitulungi tiyang pitados supados sadar dhiri, nangekaken manah ingkang nglokro lan pepesing manah sesampunipun tinempuh ing prahara gesang. Tiyang pitados ingkang sampun nampi pepadang sejati mboten ngukumi dhiri, mekaten ugi dhateng sapepadhanipun awit menika saged dados sandhungan/pepalang mirsani, ngalami sih rahmatipun Allah ingkang thukul ngrembaka wonten gesangipun.
- Tiyang pitados saged mituhu, jejeg lan leladi ngantos sepriki menika karana imanipun tuwuh sajroning pergumulan ingkang dipun karenan dening Gusti dipun alami. Sinaosna tiyang pitados menika lajeng pinanggih cidra utawi cacat. Ewasemanten karana padhanging iman tiyang menika mboten lajeng semplah lan paningalipun mboten namung tumuju ing karingkihanipun. Awit gesang lan sih nugrahaning Allah dhateng tiyang pitados ing Sang Kristus Yesus dados sumbering daya kekiyatan lan pangajeng-ajengipun
- Pengalaman iman para rasul, para pelados Injil dados bukti bilih Gusti Allah makarya lan dados sendhenan sejati. Sih rahmatipun rumentah lan dipun raosaken dening umatipun mbereg dhateng gesang enggal ingkang nguculi momotan gesang lami (dosa). Tiyang pitados tinarbuka marang pakaryanipun Allah, saged nampi wontenipun kekirangan ing gesangipun, intropeksi, gumregah mranata gesangipun malih supados saged dados warganipun pasamuwan ingkang sae , mandiri lan dados berkah .
- Pangreten lan kawicaksanan saking Gusti, ngluwari kita saking jireting pamisasenipun dosa lan cumadhang leladi kagem Gusti lan pasamuwanipun. “Aku iki pepadhanging jagad; sing sapa ngetut-buri Aku, ora bakal lumaku ana ing pepeteng, nanging bakal nduweni padhanging urip.” (ayat 12)
Panutup
Ing wekasan mangga kita nyinau lan nuladhani gesangipun Rasul Paulus anggenipun nitpriksa lampahing gesang ingkang sampun kalampahan kanthi sadar dhiri lan kawicaksanan. (Roma 8 : 31-34).
Dhuh Allah, Paduka paring pepadhang dhateng kawula supados petenging manah karana pait lan getir kasisahan saged sirna ginantos kabungahan mapag pakaryan lan sih rahmating Allah ingkang kebak karahayon Amin. (PAY)
Pamuji : KPJ. 436 Gusti Nuntun Lampah Kula