Khotbah Minggu 9 Oktober 2016

MINGGU, 09 OKTOBER 2016
MINGGU BIASA 28
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : II Raja-Raja 5:1-3, 7-15c
Bacaan 2         : II Timotius  2 :8-15
Bacaan 3         : Lukas 17 : 11 – 19

Tema liturgis   : Iman Kepada Kristus Yang Mempersekutukan Kita
Tema minggu  : Iman yang menyelamatkan.

 

Keterangan bacaan.

II Raja-Raja 5:1-3, 7-15c
Keinginan Naaman untuk sembuh mendorong dia untuk melakukan apa saja yang dikatakan orang, termasuk yang dikatakan oleh pelayan isterinya. Keinginannya untuk sembuh juga mendorong dia melakukan apa saja walaupun menurut perhitungan akalnya tidak mungkin/tidak masuk akal. Keinginannya untuk sembuh menyebabkan dia bersedia mengorbankan gengsinya, harga dirinya, melakukan apa yang dikatakan Nabi Elisa walaupun dengan panas hati. Ketaatannya kepada apa yang dikatakan Nabi Elisa membawa kesembuhan dari penyakit kustanya dan memampukan dia untuk bersaksi dan mengimani : Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.

II Timotius 2 :8-15
Rasul Paulus rela menderita demi Injil, dan sabar menanggung semuanya(artinya sabar menyerah pada setiap bentuk pengalaman iman, biarpun yang paling buruk) bagi keselamatan semua orang dalam Kristus Yesus dengan kemuliaannya yang kekal. Ia memang terbelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu, firman Allah tetap diberitakan. Paulus mengingatkan Timotius kiranya dia menjadi layak di hadapan Allah, menjadi pekerja yang tidak malu/dipermalukan yang berterus terang  memberitakan perkataaan kebenaran firman Allah. Paulus juga mengajak Timotius untuk mempercayai : jika kita mati dengan Dia(kejadian yang telah lalu yang menentukan), kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun(sebuah aktivitas yang terus menerus), kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tetap setia Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya. Dengan tujuan ada dan timbulnya kesetiaan sampai mati dan pengharapan memperoleh bagian dalam kemuliaan Kristus yang kekal. Keikutsertaan kita dalam kemuliaanNya setimpal dengan pengambilan bagian kita dalam kesengsaraanNya.

Lukas 17 : 11 – 19
Ketika beberapa orang kusta ingin mendapat kesembuhan dari Yesus, ia hanya memerintahkan supaya mereka pergi dan memperlihatkan dirinya kepada imam. Mereka mentaati apa yang difirmankan oleh Yesus dan mereka menjadi tahir. Tetapi hanya seorang yang kembali berterimakasih, mengucap syukur dan memuji Allah. Kisah ini ingin memberikan gambaran tantang iman yang mengerjakan mujizat dan juga tentang perlunya berteimakasih yang merupakan salahsatu segi dari iman.

Benang Merah Tiga Bacaan
Iman yang menyelamatkan adalah iman kepada Tuhan, disertai tindakan nyata berwujud ketaatan, kepatuhan, kesetiaan kepada Tuhan dan firmanNya, disertai penyangkalan diri, serta sikap hidup bersyukur.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan
Ada sementara orang yang mengatakan: “enak jadi orang Kristen; percaya saja selamat”. Memang demikian halnya. Tetapi kita harus ingat tidak asal percaya/ beriman. Iman yang menyelamatkan adalah iman yang disertai perbuatan (Yakobus 2:17,26), sebagai bentuk ucapan syukur kita kepada Tuhan. Sebab iman yang tidak diserti perbuatan adalah iman yang mati, dan iman yang mati tidak menyelamatkan.

 

Isi
Kita sering mendengar ucapan: “sehat itu mahal”. Sehingga semua orang, pasti termasuk kita, berupaya untuk menjadi sehat dengan jalan apapun. Manakala kita jatuh sakit, kita juga berupaya untuk sembuh dan sehat kembali dengan cara apapun.

Bacaan kita kali ini ingin menekankan kembali apa yang telah kita imani bersama, bahwa di atas semua cara dan upaya yang kita lakukan untuk sembuh dan sehat kembali ada Allah yang menjadi sumber kesembuhan dan kesehatan kita. Maka kepadaNya kita harus beriman, iman yang hidup.

Secara sengaja Lukas menyebut Samaria dan Galilea untuk menunjukkan bahwa di antara kesepuluh orang yang sakit kusta itu terdapat orang Yahudi dan orang Samaria (atau setidak-tidaknya satu orang Samaria). Nampaknya mereka hidup bersama-sama sebagai golongan kecil yang terbuang dari masyarakat. Biasanya orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai “orang najis”. Tetapi penyakit kusta itu telah membuat mereka semuanya “najis”, sehingga hilanglah perbedaan antara orang Yahudi dan Samaria  dalam golongan itu. Dari jauh (Im.13:45-46) mereka memanggil Yesus, sambil percaya bahwa “Rabi” atau “Guru” itu mempunyai kekuatan ajaib untuk mereka.

Sesuai dengan peraturan agama (Im.13 dan 14), Yesus menyuruh mereka pergi kepada imam mereka masing-masing di bait sucinya masing-masing, untuk memperlihatkan bahwa mereka sudah sehat kembali. Pada saat itu mereka belum sembuh, tetapi mereka percaya kepada perkataan Yesus, jadi mereka pergi. Dan belum lama berselang saat mereka masih bersama-sama dalam perjalanan mereka menjadi sembuh atau tahir.

Sakit penyakit ternyata tidak membedakan suku, agama, golongan, strata sosial, strata ekonomi, siapapun dapat sakit dan siapapun membutuhkan sembuh, dalam kontek ini mereka menjadi senasib. Kesembuhan dari sakit penyakit hak semua orang dan milik semua orang. Yesus tidak membeda-bedakan orang, siapapun mereka dan apapun serta bagaimanapun mereka, asal mereka percaya dan melakukan apa yang difirmankanNya, mereka pasti sembuh, walaupun mungkin itu tidak masuk akal, iman memang sesuatu yang tidak masuk akal (Naaman disuruh Nabi Elisa mandi di Sungai Yordan – bacaan 1). Iman menuntut kesediaan diri untuk mengosongkan dan menyangkal diri, menanggalkan harga diri atau gengsinya serta ke-aku-annya, berserah secara total kepada Tuhan. Kesembuhan yang diperoleh kesepuluh orang kusta ini kesembuhan yang total, jasmani, rohani, psikis (tekanan batin/perasaan) dan sosial (keterasingan lahir batin), tidak lagi dianggap” najis” dan tidak lagi “diasingkan” dari masyarakat. Di dalam Yesus ada kesembuhan secara total. Apakah kita memiliki iman seperti kesepuluh orang kusta ini?

Mungkin pertama-tama kita ragu-ragu, sangsi, bimbang, ogah-ogahan untuk beriman dan melakukan apa yang difirmankan Tuhan, itu sah-sah saja dan bolah-boleh saja (sebagaimana Naaman). Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk percaya. Tetapi berbahagialah kita yang percaya dan melakukan, sebab kepada kita akan terjadi keajaiban-keajaiban, mujizat-mujizat yang luar biasa.

Rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius untuk senantiasa ingat kepada Yesus Kristus, sebagai Tuhan yang hidup. Iman yang menyelamatkan adalah iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan yang hidup yang disertai kesediaan untuk menderita bagi Kristus dan kesetiaan kepadaNya sampai mati; kesediaan menanggung semuanya, artinya menyerah pada setiap bentuk pengalaman iman termasuk yang paling buruk (bdk bacaan 2).

Dari antara ke sepuluh orang yang disembuhkan oleh Yesus –seorang Samaria dengan segera berbalik dan kembali kepada Yesus (bdk Naaman – bacaan 1 juga “seorang asing”). Ia menunjukkan rasa sukacitanya dan rasa syukurnya dengan memuji-muji Allah dan mengucapkan terimakasih kepada Yesus. Melihat kenyataan ini, Yesus mengeluh dan menunjukkan keluhan yang sama seperti keluhan tentang Yerusalem dalam 13-14. Dalam ayat 7-10 telah kita baca dan pahami, bahwa kita manusia tidak boleh menuntut upah atau terimakasih, sebagaimana Yesus sendiri juga tidak meminta disyukuri (18), sebaliknya bahwa kita memang harus menunjukkan terimakasih (menjadi orang yang tahu berterimakasih).

Kepada orang Samaria itu Yesus berkata (19): “imanmu telah menyelamatkan engkau”. Rumusan ini bisa berarti bahwa orang Samaria ini sudah sembuh (8:48,18:42), bisa berhubungan dengan pengampunan dosa, artinya dosanya sudah diampuni (7:50). Kita juga boleh mengartikan rumusan ini dalam arti yang lebih dalam, bahwa orang Samaria ini telah mengalami sesuatu dari keselamatan atau syalom (2:14) yang menandakan adanya Kerajaan Allah dan yang menunjuk kepada waktu terwujudnya Kerajaan itu dalam kemuliaan yang penuh (bdk 4:40-41).

Tenyata ada saja orang yang tidak tahu berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan (termasuk orang yang sudah percaya kepada Tuhan, mungkin juga termasuk saya dan panjengan semua). Tahunya hanya menuntut terimaksih dari orang lain. Tahukah kita bahwa ini sikap hidup yang menyedihkan hati Tuhan? Ada baiknya dan memang sudah seharusnya kita selalu belajar berterimakasih dan bersyukur, seperti Firman: “mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (I Tes 5:18).

Iman yang menyelamatkan dalam kontek bacaan kita kali ini juga berarti iman yang disertai dengan rasa sukacita, rasa syukur dengan memuji-muji Allah dan tahu berterimakasih. Iman yang demikian ini yang menganugerahkan kepada kita kesembuhan secara total, syalom dalam hidup dan kehidupan kita. Sehingga hidup kita menjadi tanda-tanda kehadiran dan adanya kerajaan Allah, bagi sesama di mana kita berada.

 

Penutup
Karena kasihNya, Allah di dalam Yesus Kristus berkenan datang ke dunia ini, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal, beroleh keselamatan secara total. Begitu besar kasih Allah kepada kita semua/ manusia. Maka sudah selayaknya kita menanggapi kasih Allah itu dengan mengasihiNya secara total, dalam bentuk iman kita kepadaNya, yang kita sertai tindakan nyata; sebab iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati, dan iman yang demikian itu tidak menyelamatkan. Amin (SS)

 

Nyanyian: Kidung Jemaat 417:2,7

RANCANGAN KHOTAB: Basa Jawi

Bebuka
Woten sawetawis sedherek ingkang dhawuh: “penak dadi wong Kristen; percaya ae mesthi slamet.” Pancen kasinggihan mekaten. Ananging kita kedah enget boten waton pitados. Kapitadosan ingkang milujengaken inggih menika kapitadosan ingkang gesang, kapitadosan kinanthenan pandamel (Yak 2:17,26), minangka wujuding saos sokur kita dhumateng Gusti. Karana kapitadosan ingkang boten kinanthenan pandamel menika kapitadosan ingkang pejah, lan kapitadosan ingkang pejah boten saged milujengaken.

 

Isi
Kita asring wicantenan ing antawis kita: “sehat itu mahal”. Matemah sedaya tiyang, mesthi kalebet kula lan panjenengan tansah mmbudidaya amrih saged tetep saras. Menawi sakit, kita ugi mbudidaya kanthi cara menapa kemawon amrih saged pulih saras lan kiyat malih.

Waosan kita dinten menika kepengin nengenaken malih menapa ingkang sampun sami kita pitadosi sesarengan, bilih kula lan panjenengan pancen kedah mbudidaya, ananging ingkang nglangkungi sedaya menika wonten Gusti Allah ingkang dados sumber sawarnining kasarasan, pramila namung dhateng Panjenenganipun kita kedah pitados, kanthi kapitadosan ingkang gesang.

Kanthi sengaja Lukas nyebataken Samaria lan Galilea, kangge nedahaken bilih ing antawisipun tiyang sedasa ingkang nandhang sakit kusta menika wonten tiyang Yahudi lan tiyang Samaria (utawi paling boten ing antawisipun wonten setunggal tiyang Samaria). Rupinipun tiyang-tiyang menika gesang sesarengan dados kelompok ingkang alit ingkang kabucal saking masyarakat. Biasanipun tiyang Yahudi nganggep tiyang Samaria menika tiyang najis. Ananging sakit kusta sampun ndadosaken tiyang sedasa menika najis, matemah sampun boten wonten malih bedanipun tiyang Yahudi lan tiyang Samaria ing kelompok alit menika.

Saking katebihan (Im 13:45-46), tiyang-tiyang menika nguwuh-uwuh dhateng Gusti Yesus, kanthi pitados bilih Gusti Yesus sang “Rabi” utawi “Guru”kagungan panguwaos nyarasaken piyambakipun. Cundhuk kaliyan wewaleripun agami (Im 13 lan 14), Gusti Yesus ngersakaken supados tiyang-tiyang menika sowan dhateng imamipun piyambak-piyambak, kanthi gegayuhan supados tetiyang menika nedahaken bilih sampun saras. Ing wekdal menika sejatosipun tiyang menika dereng saras, ananging tiyang menika sami pitados dhateng Gusti Yesus, pramila sami nuhoni dhawuhipun lan nindakaken menapa ingkang kadhawuhaken. Lan boten sawetawis dangu nalika tiyang-tiyang menika saweg lumampah, ing tengahing margi tiyang-tiyang menika saras.

Sakit penyakit pranyata boten mbedak-bedakaken suku, agami, golongan, drajat pangkat, sugih mlarat, sedaya saged kemawon sakit lan boten wonten ingkang saged kalis sakit sesakit, sedaya mbetahaken kesarasan, sedaya dados “senasib”. Kesarasan mujudaken hak sedaya tiyang lan gadhahanipun sedaya tiyang. Gusti Yesus, Gusti kita, boten mbedak-mbedakaken tiyang, sinten kemawon tiyang menika, kadospundi kemawon tiyang menika, waton tiyang menika pitados lan nindakaken dhawuhipun,  mesthi saras; senadyan kadhang-kadand boten tinemu ing nalar, kapitadosan pancen prekawis ingkang boten masuk akal/boten tinemu ing nalar (Naaman kadhawuhan siram ing lepen Yordan-waosan 1).

Pitados utawi kapitadosan pancen mbetahaken cumadhanging manah ingkang nglenggana purun nyingkur badanipun piyambak, ngrucat “harga diri” utawi “gengsinipun” sarta ke-aku-annipun, sumarah pasrah sawetah dhateng Gusti.

Kasarasan ingkang dipun tampi dening sedasa tiyang ingkang sakit kusta menika kesarasan ing paripurna, tata lair, batin/rohani, psikis (tekanan batin/perasaan) lan sosial (raos kepencil lair lan batin), boten  dipun anggep najis malih lan boten kasebrataken malih dening masyarakat. Ing dalem Sang Kristus wonten kesarasan paripurna. Menapa kita nggadhahi kapitadosan kadosdene tiyang sedasa ingkang nandhang sakit kusta menika?

Mbokmenawi kita wiwitan mangu-mangu, ngremehaken, boten pitados, aras-arasen pitados lan nindakaken menapa ingkang kadhawuhaken dening Gusti, lan menika sah-sah kemawon lan saged saged kemawon (kadosnene Naaman). Gusti boten nate meksa kita supados pitados dhateng Panjenenganipun. Ananging saestu anama rahayu tiyang ingkang purun pitados lan nglampahi, karana tumraping tiyang menika badhe kelampahan lan kedadosan prekawis-prekawis ingkang elok, mukjijat-mukjijat ingkang ngedab-edabi.

Rasul Paulus ngengetaken dhateng Timotius (waosan2), supados tansah enget dhateng Gusti Yesus Kristus, ingkang jumeneng dados Gusti ingkang gesang. Kapitadosan ingkang milujengaken kapitadosan dhateng Gusti Yesus Kristus ingkang gesang menika, ingkang kinanthenan cumadhanging gesang/manah nandhang sangsara kagem Gusti Yesus lan setya tuhu ngantos dumugi pejah, sumadya nanggel sedyanipun, artosipun pasrah dhateng sedaya wujuding pangalaman iman kalebet ingkang paling awon(bdk waosan 2).

Saking antawisipun tiyang sedasa ingkang kasarasaken dening Gusti Yesus, namung setunggal tiyang (tiyang Samaria), ingkang nunten wangsul dhateng Gusti Yesus (bdk- waosan 1 Naaman ugi tiyang asing). Piyambakipun nedahaken bingahing manahipun lan saos sokuripun kanthi ngluhuraken asmanipun Allah lan matur nuwun dhateng Gusti Yesus. Mirsani kasunyatan menika Gusti Yesus ngrudatin lan nedahaken kaprihatosanipun ingkang sami tumraping Yerusalem ing ayat 13-14. Ing ayat 7-10 sampun kita waos lan kita mangertosi, bilih kita manungsa boten nggadhahi wewenang nyuwun pituwas lan pamatur nuwun, kadosdene Gusti Yesus piyambak ugi boten nyuwun dipun saosi raos sokur (18). Kosokwangsulipun kita pancen kedah nedahaken raos pamatur nuwun kita (dados tiyang ingkang “tahu berterimakasih”).

Dhateng tiyang Samaria menika Gusti Yesus dhawuh: “pangandelmu kang wus mitulungi kowe”. Dhawuh menika saged nggadhahi teges bilih tiyang Samaria menika sampun saras (8:48,18:42), saged ugi sesambetan kaliyan pangapuntening dosa, artosipun dosanipun tiyang Samaria menika sampun dipun apunten (7:50). Kita ugi saged mangertosi dhawuh menika langkung lebet malih, bilih tiyang Samaria menika sampun ngalami syalom (2:14), ingkang paring pratandha wonten lan kebabaring Kratonipun Allah (bdk 4:40-41).

Pranyata wonten kemawon tiyang ingkang boten mangertos/boten sumerep maturnuwun lan saos sokur dhateng Gusti (kalebet tiyang ingkang sampun pitados dhateng Gusti, mbokmenawi kalebet kula lan panjenengan sami). Ingkang dipun sumurupi namung “menuntut” maturnuwun saking tiyang sanes. Menapa kita sami pirsa bilih menika sikaping gesang ingkang ndadosaken Gusti Yesus prihatos?

Sampun samesthinipun menawi kita tansah sinau dados tiyang ingkang ngertos maturnuwun lan saos sokur dhateng Gauti, kados dhawuh: “Padha ngunjukna panuwun ing sabarang kang tinemu, awit iku kang dikarsakake dening Gusti Allah ana ing Sang Kristus Yesus tumrap kowe” (I Tes 5:18).

Pitados utawi kapitadosan ing waosan kita dinten menika ugi ateges pitados utawi kapitadosan ingkang kinanthenan raos sukabingah, saos sokur kanthi tansah ngluhuraken Asmanipun Gusti lan ngertos maturnuwun/”tahu berterimakasih”. Kapitadosan ingkang mekaten menika ingkang paring kanugrahan kesarasan total (paripurna) dhateng kita, syalom ing salebeting gesang lan pigesangan kita. Satemah gesang kita kepareng dados pratandha rawuhing Kratonipun Allah tumrap sesami ing pundi kemawon dunung kita.

 

Panutup
Karana katresnanipun, Gusti Allah ing sarira Gusti Yesus karsa rawuh ing donya menika, supados sok sintena ingkang pitados dhateng Panjenenganipun boten nemahi karisakan, ananging nampi kasarasan sacara paripurna. Semanten agenging katresnanipun Allah dhateng kita sami. Pramila saking menika kita katimbalan atur wangsulan dhateng katresnanipun Allah menika srana nresnani Gusti Allah kanthi paripurna, wujud iman kapitadosan kita dhateng Panjenenganipun, ingkang kinanthenan tumindak nyata, gesang kebak panuwun lan saos sokur; karana kapitadosan tanpa pandamel kapitadosan ingkang mati, lan kapitadosan ingkang mekaten menika boten milujengaken. Amin (SS)

 

Pamuji: KPK 168: 1-3

 

Bagikan Entri Ini: