Minggu Biasa | Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1: Ayub 19 : 23 – 27A
Mazmur: Mazmur 17 : 1 – 9
Bacaan 2: 2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17
Bacaan 3: Lukas 20 : 27 – 40
Tema Liturgis: Memperjuangkan Budaya Pro Kehidupan
Tema Khotbah: Proses Merasakan dan Merayakan Perasaan Orang Lain
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Ayub 19 : 23 – 27A Penyebab Sikap Ayub
Dilandasi ayat 20 tentang gambaran Ayub yang sedang sekarat, dikisahkan Ayub sedang meminta belas kasihan kepada siapapun yang mau memberinya pertolongan meski tidak diminta terlebih dahulu. Teriakan Ayub bisa sangat terasa. Kegelisahan situasi dirinya tidak berbanding lurus dengan respons baik dari para sahabatnya yang ternyata tidak membantunya. Sehingga Ayub kemudian menyatakan agar relasi dengan Penebus sajalah yang perlu dicatat, diingat dan bisa ditiru oleh para pembaca kisah hidupnya. Dan melalui pertolongan dari Penebus, Ayub memiliki harapan kembali. Sebagai catatan, Penebus (Ibrani, Goel) dapat diartikan sebagai pembela. Melalui sosok ini, Ayub memiliki keyakinan adanya perwujudan pembebasan sebagai sesuatu yang didambakannya (Ay. 26). Hanya Penebuslah yang bisa mewujudkan, bukan para sahabat Ayub. Adapun sosok Penebus ini adalah Tuhan Allah.
Selain kisah Ayub pada dirinya sendiri, kita akhirnya tahu bahwa segala sikap dan tindakannya ini tidak bisa lepas dari pemicunya. Yang dimaksud adalah para sahabat yang seakan tidak memahami apa yang sedang mereka lakukan kepada Ayub. Ayub ingin bersuara melalui pahatan batu bahwa dirinya tidak bersalah dan menyatakan dirinya fokus kepada Penebus. Yang sekaligus menjadi penanda peringatan bagi siapapun yang terus menganggap dirinya bersalah, maka akan ada pengadilannya sendiri dan berhadapan dengan pembela Ayub. Dari sini, kita tahu bahwa seseorang yang berbuat tidak menentramkan sesamanya akan menuai akibatnya sendiri.
2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17 Tidak Terlena
Secara pokok, bacaan menceritakan hal mendengar banyak informasi bisa membangun namun tetap perlu selektif dan memiliki pedoman tentang apa yang hendak diikuti. Hal yang dimaksud adalah tentang berita kedatangan Tuhan. Di masa itu, ada banyak pernyataan dan ajaran yang beredar yang dianggap sebagai perkataan Tuhan, atau perkataan Paulus ataupun yang diandaikan dari Paulus. Karena itu, umat percaya perlu cermat dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran di sekellingnya. Para pembaca diharapkan untuk bijak tentang apa yang didengarkan dan diinformasikan kepada mereka. Sekaligus menyadarkan agar siapapun yang menyampaikan ajaran yang tidak menentramkan umat akan mendapatkan kehancuran. Pada pokok ini, keberadaan pendurhaka menjadi penting diperhatikan. Memang ada keadaan buruk di sekitar peristiwa kedatangan Tuhan melalui hal yang dilakukan oleh pendurhaka. Adapun pendurhaka perlu dicegah hingga waktunya tepat.
Hari Tuhan tidak untuk membuat takut, asal tetap percaya kepada kendali Allah dan percaya kepada kebenaran. Pengendali keberadaan pendurhaka adalah Allah yang berdampak pada waktu kedatangan Yang Kedua. Karena pemegang kendali adalah Allah, maka umat harus menjadi tenang dan tidak takut. Secara positif, harapan untuk menyatu dengan Allah dalam peristiwa kebangkitan adalah sebuah hal istimewa dan menyemangati. Hal ini merujuk kepada kata berhimpun, yang menjadi gambaran tentang orang yang telah meninggal dan yang masih hidup akan diambil dari dunia ini untuk berkumpul bersama Yesus.
Di sisi lain, juga tetap ada faktor penentu pada diri sendiri dengan cara memegang teguh tradisi pengajaran sehingga bisa selektif dalam mendapatkan informasi yang benar dari beragam ajaran dan tulisan yang ada di kalangan jemaat. Secara nyata ketaatan akan membuahkan kebaikan, sebaliknya yang mudah goyah ataupun yang berkehendak menyampaikan informasi tidak benar akan mendapatkan kebinasaan.
Lukas 20 : 27 – 40 Menggiring Opini
Kita langsung disuguhkan sesuatu yang bertolak belakang. Orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati justru bertanya tentang kehidupan setelah kematian. Mereka tidak memercayai tentang sesuatu hal namun mempertanyakannya. Kemungkinannya, bahwa jawaban Yesus akan menimbulkan pemahaman serta perspektif yang baru. Mereka rindu untuk percaya kepada Yesus dan berharap mendapatkan jawaban dari keraguan tentang hidup setelah mati. Namun kenyataannya, pertanyaan yang disampaikan kepada Yesus hanya bertujuan untuk mencobai Yesus. Terlebih hal ini bisa dipahami sebagai upaya untuk mempermalukan, atau untuk membungkam posisi Yesus agar tidak semakin terkenal dan diikuti banyak orang. Perlu dipahami, bagi orang Saduki keyakinan kebangkitan adalah di luar akal. Walaupun telah menggunakan angka tujuh tentang jumlah suami, namun tidak menghilangkan nuansa niat tersembunyi kepada Yesus. Sebagaimana diketahui, dengan mengacu kepada ajaran Musa, angka 7 adalah angka sempurna dalam kehidupan orang Yahudi. Pada akhirnya diketahui Yesus menjawab dengan memberikan perbedaan antara kehidupan di dunia dengan kehidupan di sorga. Dalam kehidupan setelah kebangkitan, keberadaan perkawinan dipahami dalam sudut pandang yang berbeda. Di sorga, hubungan perkawinan akan ditinggikan oleh suatu macam hubungan yang baru, yang tidak mencakup prokreasi (tentang memiliki keturunan).
Secara umum, kisah orang Saduki ini memberikan gambaran tentang keberadaan orang yang berada di sekeliling Yesus yang beragam maksud dan tujuan. Termasuk juga para pengikut Yesus yang berada di sekeliling Yesus pada saat pertanyaan orang Saduki itu disampaikan, yang dirasakan bisa menghilangkan keyakinan tentang masa depan di sorga yang lebih baik, khususnya para pendengar yang merasakan kehilangan harapan saat hidup di dunia. Memanglah dengan pengetahuan serta pemahaman yang mendalam tentang maksud pertanyaan serta jawaban yang tepat, upaya untuk menjatuhkan Yesus pun tidak terlaksana. Para pengikut Yesus hendaknya jangan ikut terpengaruh dengan opini dari orang Saduki itu.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Hidup manusia selalu berada dalam relasi yang bermacam-macam dengan masing-masing pemikirannya. Ada yang memberikan dukungan tetapi ada juga yang sebaliknya, bahkan ada yang memberikan pengaruh dan ingin mengubah kepercayaan seseorang dengan memberikan alam pikiran yang negatif. Untuk menghadapinya, janganlah kita hidup berputar dengan opini atau alam pikiran kita sendiri tanpa Allah. Karena itu, kita tetap perlu meniru Yesus yang memiliki pedoman dalam hidup sehingga hidup kita tetap selamat.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Apakah keinginan saudara berkaitan dengan kehidupan orang yang ada di sekeliling saudara? Apakah keinginan orang lain yang ada di sekeliling saudara berkaitan dengan kehidupan saudara? (agar semua bahagia, damai, kecukupan, tentram, dll). Dalam hidup bersama yang saling berdampingan, selain kita hidup mendampingi orang lain, kita juga hidup didampingi orang lain, sehingga bentuk relasi kita dengan sesama dan diri sendiri perlu diciptakan dengan baik. Yang pasti yang dicari adalah ketentraman dan rasa damai.
Isi
Masing-masing tokoh dalam ketiga bacaan berkaitan dengan hubungan dalam hidup berdampingan dan didampingi oleh orang lain. Pada kisah Ayub, dia didampingi oleh para sahabatnya namun relasi antar mereka tidak terlaksana dengan baik. Sahabat yang seharusnya menyemangati Ayub justru tidak menciptakan ketentraman. Begitu juga keberadan umat percaya di Tesalonika yang dikelilingi oleh para pengajar yang menyampaikan hal kedatangan Tuhan dan kebangkitan yang berasa simpang siur. Sementara itu, dalam kisah Yesus dengan orang Saduki juga terjadi hal yang demikian. Melalui pertanyaan tentang kebangkitan yang sebenarnya bukan keyakinan orang Saduki, kita tahu Yesus dikelilingi orang-orang yang tidak menghendaki kebaikan untuk-Nya.
Dari ketiga bacaan ini, kita dapat menemukan bahwa selama ada di dunia, dimungkinkan kita hidup dikelilingi orang-orang yang tidak menentramkan hati. Kondisi ini tentu memengaruhi cara berpikir, bersikap kita dalam memutuskan sesuatu. Kita bisa berpikir dengan wawasan luas dan bijak namun juga bisa menjadi sosok yang tidak bijak. Selain itu, hidup kita juga dipengaruhi oleh keberadaan di luar diri kita. Bisa saja, keberadaan diri kita dianggap oleh yang lain sebagai pihak yang tidak menentramkan hidup mereka. Intinya, saat kita berada dalam lingkungan bersama dengan pihak lain, kita harus bijak memilih pendapat yang baik sekaligus tepat menunjukkan sikap yang baik kepada pihak lain.
Sekarang, dalam hal menentramkan dan tidak menentramkan, mari kita cermati darimana semua berasal? Mengacu kepada tiga bacaan, paling tidak bersumber dari perkataan, pengajaran, dan paham yang dimiliki serta niatan untuk mengganggu pihak lain. Karena itu, kesepahaman kepada diri dan orang lain adalah syarat penting menyikapi situasi ini.
Pada buku Prasangka dan Konflik, Komunukasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur, tulisan Alo Liliweri (LKIS, 2005, hal. 404) disampaikan mengenai proses hidup bersama orang lain sebagai berikut:
”Bahwa proses dan praktik komunikasi antar budaya yang efektif sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan seseorang tentang jenis, derajat, fungsi bahkan makna perbedaan antar budaya. Artinya, ada hubungan antara tingkat pengetahuan komunikasi lintas budaya. Makin tinggi tingkat pengetahuan kita tentang perbedaan varian pola-pola budaya, makin besar peluang kita untuk berkomunikasi antar budaya. Sebaliknya, makin rendah tingkat pengetahuan kita tentang perbedaan varian pola-pola budaya, makin kecil peluang kita untuk berkomunikasi antar budaya.
Melalui kutipan ini, kita bisa melihat adanya kesenjangan rasa dan masalah komunikasi serta kemauan mengetahui situasi orang lain. Dari sikap para sahabat Ayub, para pengajar di Tesalonika serta pandangan dari orang Saduki, tampak ketidakmengertian mereka terhadap situasi yang sedang dialami oleh Ayub, umat di Tesalonika, dan Yesus. Ketidakmampuan mereka menunjukkan rasa hormat menimbulkan rasa tidak nyaman kepada yang lain sehingga perlu disikapi dengan jelas. Secara tepat, Ayub memilih untuk fokus kepada Penebusnya, Umat di Tesalonika lebih mendengarkan yang diajarkan oleh Paulus, sedangkan tokoh Yesus memberi penjelasan yang terang benderang kepada orang Saduki. Dengan keberadaan-Nya yang utuh, ditemukan cara memahami segala yang disampaikan oleh Orang Saduki, menjawabnya dan kemudian menjadikan jawaban Yesus sebagai titik awal ketidakmampuan mereka mengenal tentang siapakah Yesus itu.
Sekarang sebagai pembaca Alkitab di masa kini, kita mesti berlaku bagaimana jika hidup berdampingan dengan orang lain? Pada rangkaian Bulan Budaya tahun ini, ada cuplikan kisah tokoh dalam narasi lokal di lingkup Jawa Timur pada sosok Panji yang sekiranya bisa menjadi standar dalam sikap dan tabiat hidup kita bersama orang lain. Mengutip rangkuman oleh R.M Yunani yang bersumber dari sastra, babad dan data arkeologis terdapat beberapa karakter Panji yang menarik sebagai tolak ukur dalam sikap mendampingi orang lain. Antara lain :
- Bersikap pendiam dan anggun.
- Berjiwa lemah lembut dan manjing ajur ajer
- Gemar menuntut ilmu dan gemar membaca.
- Bertabiat jujur dan lurus hati.
- Taat kepada orang tua terutama ibu.
- Menyayangi binatang terutama hewan piaraan.
- Ramah dan sopan terhadap sesamanya.
- Pandai menulis di kertas lontar.
(Buku Memahami Budaya Panji, Henri Nurcahyo, Brang Wetan, 2021 Halaman 173)
Pertanyaannya, apakah nilai lokal tersebut di atas mau digunakan sebagai salah satu parameter dalam menciptakan hubungan antar manusia yang menentramkan ataukah tidak?
Penutup
Tradisi sebagai budaya tidak berada di ruang kosong. Terdapat ragam tradisi dan budaya, khususnya di Jawa Timur. Hal ini membuat kita perlu belajar terbuka dengan penyesuaian-penyesuaian kepada orang lain, termasuk dengan menggunakan serta menghidupi nilai-nilai lokal khususnya untuk saat ini adalah nilai budaya Jawa yang mengelilingi kehidupan GKJW. Sehingga yang diperlukan adalah sikap toleran. Sebab tidak bisa kemudian kita saling menyalahkan dan merasa benar sendiri. Kesemuanya memang tidak bisa seragam dan tidak ada bentuk yang paling asli. Melalui Bulan Budaya, gereja diajak untuk menggumuli kembali warisan budaya seraya membangun budaya yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kiranya dengan tema budaya pro kehidupan. Kita bisa mewujudkan nilai-nilai kehidupan seperti kasih, damai, peduli, apresiatif, dan toleransi, dalam lingkup hidup kita sehari-hari. Secara khusus, beberapa waktu lagi kita akan memasuki masa Adven. Kiranya budaya yang telah kita miliki dapat menjadi bagian dalam pertumbuhan iman kita. Jika kita hendak menuju arah bertumbuh, tentunya proses mengubah diri akan kita lakukan dengan setia. Semoga orang-orang yang menjalani hidup dan berinteraksi dengan kita merasakan tradisi diri kita yang menyemangati. Amin. [WdK].
Pujian: KJ. 467 Tuhanku, Bila Hati Kawanku
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Punapa ingkang panjenengan kersakaken supados lumampah kangge sesami? Punapa ingkang dipun kersakaken tiyang sanes dhateng gesang panjenengan? (tamtunipun babagan gesang ingkang sae, ayem, tentrem, kacekapan lsp). Pancen, gesang kita ing alam donya punika, kita sami gesang sesarengan kaliyan tiyang sanes. Nyarengi ugi dipun sarengi dening sesami manungsa. Lan kedahipun kita sami ngupadi kangge rahayuning sedaya.
Isi
Para paraga wonten ing waosan kita ngrembag babagan gesangipun ingkang sesambetan kaliyan tiyang sanes. Sesarengan lan dipun sarengi. Ayub dipun sarengi kaliyan para rencangipun sanadyan mboten lumampah kanthi sekeca. Para rencang ingkang kedahipun nyarengi kanthi leres malah nuwuhaken manahipun Ayub mboten tentrem. Mekaten ugi para umat ing Tesalonika ingkang dipun sarengi dening para juru pamulang lan nampi piwucal babagan rawuhipun Gusti, malah nuwuhaken pamanggih ingkang worsuh lan ndadosaken raos mboten tentrem. Dene wonten ing cariyos Gusti Yesus kaliyan tiyang Saduki ugi kados makaten. Lumantar pitakenan bab gesang saksampunipun seda, ingkang sejatosipun sanes kapitadosanipun tiyang Saduki, kita mangertosi bilih Gusti Yesus dipun sarengi tiyang-tiyang ingkang tumindak mboten leres dhumateng Panjenenganipun. Saking waosan-waosan punika, kita panggihaken bilih saklaminipun kita taksih gesang ing alam donya saged ugi kita dipun sarengi dening para tiyang ingkang nuwuhaken raos mboten tentrem lan saged ngreridhu gesang kita. Kahanan punika saged nuwuhaken ewah-ewahan ing bab pamanggih lan lampah gesang kita. Saged dados paraga ingkang wicaksana nanging ugi saged dados kosok wangsulipun.
Kedah dipun raosaken, kajawi kita saged dipun ewahi saking pamanggih lan kahanan saking sakjawinipun gesang kita, kita ugi kedah ngrumaosi bilih mbok manawi makaten ugi ingkang dipun raosaken tiyang sanes menggah wekdal sesambetan lan sesarengan kaliyan kita. Kita dipun raosaken mboten nuwuhaken raos tentrem kangge sesami. Wosipun, wekdal gesang sesarengan kaliyan tiyang sanes, saged ta kita nuwuhaken prekawis sae. Sakpunika, kangge panjangka nuwuhaken raos tentrem, mangga kita naliti saking pundi kemawon prekawis punika kedah dipun lampahi. Saking waosan dinten punika, wonten sawetawis prakara, inggih punika, saking ukara, piwucal, pamanggih, lan ugi saking niatan manah wekdal gesang sesarengan. Sak sagedipun kita kedah sami ngrumaosi patrap pundi ingkang sae lan ingkang mboten sae.
Wonten ing buku Prasangka Dan Konflik, Komunukasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur, tulisan Alo Liliweri (LKIS, 2005, hal. 404) dipun aturaken prekawis gesang sesarengan tiyang sanes:
”Bahwa proses dan praktik komunikasi antar budaya yang efektif sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan seseorang tentang jenis, derajat, fungsi bahkan makna perbedaan antar budaya. Artinya, ada hubungan antara tingkat pengetahuan komunikasi lintas budaya. Makin tinggi tingkat pengetahuan kita tentang perbedaan varian pola-pola budaya makin besar peluang kita untuk berkomunikasi antar budaya. Sebaliknya, makin rendah tingkat pengetahuan kita tentang perbedaan varian pola-pola budaya, makin kecil peluang kita untuk berkomunikasi antar budaya.”
Ing seratan punika, kahanan mboten tentrem saged kawiwitan amargi wonten pamanggih ingkang benten lan mboten wonten pepenginan kangge purun mangertosi kahananipun tiyang sanes. Para rencangipun Ayub, juru pamulang ing Tesalonika lan tiyang Saduki katingal mboten mangertosi punapa ingkang saweg dipun alami dening Ayub, para umat ing Tesalonika lan ingkang dipun kersakaken dening Gusti Yesus. Kanthi mboten gadhah raos urmat dhateng tiyang ing sak kiwa tengan, punika dados margi nuwuhaken raos mboten tentrem kangge sesami. Kahanan punika kedah dipun adhepi kanthi patrap ingkang leres. Kados Ayub ingkang langkung nengenaken manah lan batosipun dhateng Juru Panebus. Dene para umat ing Tesalonika mligi mirengaken piwucal saking Paulus. Lan Gusti Yesus, minangka paraga ingkang sampurna, saged nuwuhaken ewah-ewahan raos manah ingkang dipun gadhahi dening tiyang Saduki. Gusti Yesus kanthi trawaca paring wangsulan lan piwucal ingkang nedahaken bilih tiyang Saduki punika mboten sumerep sinten sejatosipun Gusti Yesus punika.
Sapunika, minangka para pandherekipun Gusti Yesus ing jaman samangke, lajeng punapa ingkang kedah kita lampahi kangge gesang sesarengan kaliyan sasami? Wonten ing lampahipun Bulan Budaya 2025, kita saged sinau watak gesang lumantar cariyos-cariyos ing tlatah Jawa Timur minangka papan gesangipun GKJW. Salah satunggalipun saking paraga Panji ingkang saged dados paugeran lampah ingkang trep ing gesang. Miturut R.M Yunani, kanthi dhasar saking seratan sastra, babad, dan kawruh arkeologi, wonten sawetawis prekawis ingkang saged dipun upadi kangge gesang nentremaken. Inggih punika :
- Njagi pamicara
- Watak ingkang lembah manah
- Tansah ngupadi ilmu kanthi maos maneka warni kawruh
- Jujur
- Bekti dhateng tiyang sepuh
- Nresnani titah sato kewan
- Raos urmat dhateng sesami
- Nyerat kanthi leres
(Buku Memahami Budaya Panji, Henri Nurcahyo, Brang Wetan, 2021 Halaman 173)
Nanging, sanadyanta sampun kathah pangertosan lan piwucal ingkang kita tampi, punapa kita purun migunakaken prekawis punika ing gesang?
Panutup
Tradisi minangka budaya mboten manggen ing papan ingkang kosong. Wonten maneka warni tradisi lan budaya mliginipun ing Jawi Wetan. Tradisi lan budaya punika ndadosaken kita kedah sinau tinarbuka tumrap ewah-ewahan dhateng tiyang sanes kalebet migunaaken nilai-nilai lokal mliginipun nilai budaya Jawi ingkang ngupengi gesangipun GKJW. GKJW minangka greja ingkang gesang ing tlatah Jawi Wetan saged sinau saking kawontenan kabudayan ing Jawi Wetan. Kanthi tinarbuka nampi kawicaksanaan Jawi kangge ngupadi gesang sae ing gesang kaliyan sesami. Watak ingkang purun nampi kawontenan lan pamanggih ingkang benten kanthi sami urmat kinurmatan. Ing Bulan Budaya punika kita saged ngupadi kasampurnan lumantar kabudayan Jawi ingkang cundhuk kaliyan karsanipun Gusti. Mugi kita saged nuwuhaken raos tresna, tentrem, lan sami raos urmat ing gesang padintenan. Dene manawi sakedhap malih kita lumebet ing mangsa Adven, mangga kita miwiti kanthi manah ingkang leres. Mugi kita dados paraga ingkang gesang kaliyan sesami, ingkang sami nuwuhaken kabingahan. [WdK]
Pamuji: KPJ. 61 Sak Estu Keduwung