Merespons Kiamat dengan Iman dan Tanggung Jawab Khotbah Minggu 16 November 2025

3 November 2025

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Budaya
Stola Hijau

Bacaan 1: Maleakhi 4 : 1 – 2a
Mazmur: Mazmur 98
Bacaan 2: 2 Tesalonika 3 : 6 – 13
Bacaan 3: Lukas 21 : 5 – 19

Tema Liturgis: Memperjuangkan Budaya Pro – Kehidupan
Tema Khotbah: Merespons Kiamat dengan Iman dan Tanggung Jawab

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Maleakhi 4 : 1 – 2a
Kata Maleakhi dalam bahasa Ibrani secara harafiah berarti “utusan-Ku.” Nabi Maleakhi berkarya di tengah konteks post-exile atau di tengah umat di Yerusalem yang telah kembali dari masa pembuangan Babel (587-539 BCE/Sebelum Era Bersama).

Sebelumnya, Hagai dan Zakharia berhasil membangun kembali bait suci pada tahun 515 BCE/Sebelum Era Bersama. Nehemia, yang diangkat menjadi gubernur, juga berhasil membangun tembok demi menjamin keamanan bagi umat di Yerusalem. Ezra menghidupkan kembali ibadah di bait suci dan mengembalikan peran penting agama ke dalam keseharian hidup umat. Nabi Maleakhi hidup dalam semangat yang sama. Ia mendedikasikakan hidupnya untuk membangkitkan kembali komunitas kecil umat percaya dengan cara menyampaikan pesan dan kehendak Tuhan kepada umat.

Kitab Maleakhi terdiri dari serangkaian enam khotbah singkat yang melaluinya kita dapat mengetahui gambaran tentang situasi dalam komunitas umat percaya saat itu, yang diuraikan sebagai berikut:

  • Pasal 1:1-5. Kehancuran Edom dipahami sebagai sebuah konsekuensi hukuman atas serangan yang dilakukan oleh bangsa Edom terhadap Israel. Bagian ini mengingatkan kita bahwa kuasa TUHAN melampaui batas-batas Israel.
  • Pasal 1:6-2:9. Imam sebagai pemimpin agama mendapat kritik secara tajam. Imam dianggap gagal dalam memenuhi panggilan mereka. Sebagai imam, mereka bertanggung jawab atas ibadah, khususnya dalam menghadirkan karya pelayanan yang terbaik dengan cara memimpin dan melaksanakan ritual pengorbanan dan persembahan. Namun, mereka justru melakukan hal yang buruk, sebab ketimbang mempersembahkan hewan yang terbaik, mereka malah membawa hewan korban yang buta dan sakit (lihat aturan korban dalam Imamat 22:17-30). Para imam juga telah menyebabkan banyak orang tersandung oleh karena ajaran mereka yang menyesatkan (Maleakhi 2:7-9).
  • Pasal 2:10-16. Perkawinan campuran menyebabkan masalah di rumah tangga (2:10). Umat menjadi tidak lagi setia kepada TUHAN, dan terpengaruh dengan kepercayaan pasangannya.
  • Pasal 2:17-3:18. Umat menuding TUHAN sebagai sosok yang tidak adil (2:17), sebab bagi mereka, orang yang jahat dan fasik makmur dan luput dari kemalangan, sementara umat-Nya yang beribadah kepada-Nya malah menderita (3:13-15). Umat pun tidak lagi menyembah dan mengormati TUHAN dengan benar. Selain itu, umat terlibat dalam praktik sihir, melakukan perzinahan, bersumpah dusta, dan menindas buruh upahan (3:5)

Di tengah situasi yang semacam itulah Maleakhi mewartakan pengharapan akan datangnya hari penghakiman, yang akan membuat orang sombong, orang fasik, dan para pelaku kejahatan mendapatkan hukuman (4:1). Sementara, bagi umat yang tetap setia dan takut akan nama TUHAN akan memperoleh berkat, sebab “Surya kebenaran akan terbit dengan pemulihan pada sayapnya.” (Mal. 4:2, lihat juga Maz. 84:11).

2 Tesalonika 3 : 6 – 13
Dalam bagian akhir suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus mengungkapkan kepada umat pentingnya bekerja keras dan melakukan perbuatan baik (Ay. 13). Namun, kita harus berhati-hati memahami ayat 10, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Sebab jika perintah singkat di ayat 10 diletakkan di luar konteks keseluruhan surat, maka ayat ini justru seolah membenarkan ketidakpedulian terhadap orang-orang miskin dan mereka yang mengalami kelaparan. Sekali lagi kita harus menempatkan bagian ini dalam alur keseluruhan surat tersebut.

Konteksnya demikian. Semula di dalam pasal 2, Paulus memperingatkan tentang “manusia durhaka” yang dapat menyesatkan umat percaya. Paulus mendorong umat untuk tidak mudah memercayai mereka yang mengatakan bahwa hari Tuhan sudah tiba (2:1-3). Bagi Paulus, hari Tuhan tidak diketahui kedatangannya, dan umat percaya di Tesalonika perlu untuk tetap berdiri teguh dalam iman mereka. Kemudian, di pasal 3:1-2, Paulus memohon agar umat mendoakan proses pewartaan Injil yang ia lakukan, yang dilanjutkan dengan doa Paulus supaya umat percaya beroleh ketabahan Kristus dan kekuatan hati untuk terus melakukan ajaran yang telah diajarkan oleh Paulus (3:3-5).

Setelah itu, Paulus beralih memperingatkan umat untuk menjauhi mereka yang tidak setia melakukan pekerjaan atau hidup bermalas-malasan. Dalam bahasa Yunani kata ini disebut sebagai ataktōs (Ay. 6) yang secara harafiah berarti tidak bertanggung jawab. Kata ataktōs digunakan dalam konteks pertempuran, untuk menggambarkan orang-orang yang memilih menghindar dari pos penjagaan dan lari dari tanggung jawab untuk bertempur. Dalam ayat 11 mereka bukan hanya hidup bermalas-malasan, hidup tidak tertib, dan tidak bertanggung jawab saja, tetapi juga menyibukkan diri dengan hal tidak berguna, yaitu mencampuri urusan orang lain (Bahasa Yunani: periergazomai berarti mencampuri atau mengganggu.) Kata periergazomai hanya muncul di ayat 11 dan tidak terdapat di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Paulus menggunakan kata ini untuk menciptakan permainan kata dengan ergazomai yang berarti bekerja.

Agaknya, umat yang malas bekerja dan sibuk melakukan hal-hal yang tidak berguna ini disesatkan oleh ajaran yang menyatakan bahwa kedatangan Kristus untuk kali kedua akan segera terjadi. Kepercayaan eskatologis yang salah ini menyebabkan mereka hidup tanpa keteraturan. Jika Kristus akan segera datang, dan akhir zaman akan segera tiba, maka apa perlunya menghidupi ajaran untuk giat bekerja dan melakukan perbuatan baik? Demikian agaknya argumentasi mereka. Itulah mengapa di bagian awal di pasal 2, Paulus menegaskan pentingnya untuk tidak mudah disesatkan oleh ajaran tentang akhir zaman.

Paulus kemudian menasihatkan umat agar tidak jemu atau lelah melakukan perbuatan baik (Ay. 13). Demikianlah, Paulus menghubungkan pasal 2 dan 3 dengan mengingatkan umat untuk setia berjalan pada jalur ajaran yang benar dan menetapkan hati dalam kasih Allah. Akhir zaman memang belum tiba, tetapi sudah dekat. Di atas semua itu, cinta kasih Tuhan Allah setia, karya keselamatan-Nya nyata, dan Tuhan akan segera memerintah. Maka, jangan berhenti untuk tetap mengerjakan perbuatan baik dan tetap hidup dengan bertanggung jawab.

Lukas 21 : 5 – 19
Injil Lukas ditulis sekitar tahun 85 CE (Era Bersama), yakni sekitar 15 tahun setelah peristiwa penghancuran Bait Suci oleh pemerintah Romawi pada tahun 70 CE. Dengan demikian, Lukas 21:5-6 lebih merupakan sebuah refleksi ketimbang ramalan tentang kehancuran Bait Suci. Penulis Injil Lukas menggunakan kisah kehancuran Bait Suci untuk menandaskan bahwa tiada satu pun kemegahan dan kedahsyatan di dunia ini yang bersifat kekal dan abadi. Semua pencapaian manusia selalu bersifat temporer atau sementara.

Tepat setelah beberapa orang mengagumi kemegahan dan keindahan Bait Suci, Yesus Kristus mengemukakan bahwa, “Akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan tergeletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Ay. 6).

Ketika para murid bertanya kepada-Nya kapankah hal itu akan terjadi, dan apakah tandanya? Yesus lantas mengajak para murid untuk waspada supaya tidak terperdaya oleh nabi-nabi palsu, tidak menjadi takut ketika terjadi peperangan, pemberontakan, dan tidak terkejut dengan beragam malapetaka mengerikan lainnya (Ay. 7-11). Dalam bagian ini kita bisa melihat bahwa Injil Lukas menggunakan rujukan bahasa dan gambaran yang terdapat dalam literatur apokaliptik yang dikenal luas pada saat itu (lih. Dan. 11:20, 25, 44: 4, Ezra 13:31; Why. 6:12; 8:5; 11:13, 19; 16:18). Literatur apokaliptik menggunakan bahasa dan gambaran peristiwa yang meresahkan serta mengerikan sebagai sarana untuk meyakinkan umat beriman supaya mereka tetap percaya kepada Tuhan di tengah situasi yang paling menantang sekalipun.

Kemudian, Yesus mengajak pengikut-Nya untuk tidak begitu saja mengikuti siapa pun yang menyatakan bahwa peristiwa buruk merupakan tanda-tanda penghakiman Allah dan datangnya akhir zaman (21:8). Sebaliknya, Yesus mengajak pengikut-Nya untuk setia beriman, meyakini pemeliharaan Tuhan Allah, dan menaruh pengharapan terhadap kehadiran-Nya di dalam hidup. Keyakinan iman inilah yang akan memampukan pengikut-Nya untuk tidak takut dan terkejut (Luk. 21:9) serta dapat bertahan hingga akhir (Ay. 19).

Di ayat 12-19, Yesus merinci kisah penganiayaan yang harus dihadapi oleh para pengikut-Nya, yakni ditangkap, dianiaya, diadili di hadapan otoritas pemerintah, dikhianati oleh keluarga dan teman, dibenci karena nama Yesus dan mengalami eksekusi. Namun, apakah Yesus menyarankan bahwa mereka harus menyalahkan, atau melarikan diri supaya tidak mengalami perlakuan buruk semacam itu? Tidak. Sebaliknya, Yesus mengungkapkan bahwa penganiayaan adalah kesempatan untuk bersaksi (Ay. 13). Sebagaimana Tuhan Allah  memberikan Musa dan nabi-nabi lainnya kemampuan untuk berbicara tatkala menghadapi orang-orang yang menentang mereka (Kel. 6:28-7:13; Yer. 1:6-10), Yesus sendiri akan memberikan keberanian dan hikmat kepada murid-murid-Nya untuk bersaksi (Ay. 15). Dengan menggunakan metafora yang menandai perlindungan ilahi, Yesus memberikan kepastian bahwa tidak sehelai pun rambut di kepala mereka yang akan hilang (Ay. 18; lih. 1 Sam. 14:45; 2 Sam. 14:11; 1 Raj. 1:52). Pada akhirnya barangsiapa bertahan ia akan memperoleh hidup (Ay. 19).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan saling melengkapi dalam menekankan ketahanan iman atau kesetiaan iman kepada Tuhan, tanggung jawab moral untuk mengupayakan kebaikan, dan pengharapan yang teguh di tengah tantangan. Melalui ketiga bacaan, umat diajak untuk hidup dengan integritas dan keberanian, meskipun harus menghadapi beragam tantangan, hambatan, ancaman, dan kesulitan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Hal apa yang muncul di benak Anda ketika saya mengungkapkan kata “kiamat”? Apakah Anda memahami kiamat sebagai sebuah kondisi mengerikan yang akan terjadi nanti, di akhir zaman, yang saat ini masih belum terjadi?

Sayangnya terkadang umat beriman tergoda untuk mereka-reka rancangan dan menghitung datangnya hari Tuhan atau meramalkan kedatangan kiamat, sebagaimana misalnya sekte yang digagas oleh William Miller pada awal abad ke-19 yang meramalkan bahwa Kristus akan datang kembali pada tahun 1844. Ketika ramalan tidak mewujud, banyak pengikutnya yang mengalami krisis iman.

Di jemaat Tesalonika, terdapat umat yang malah memilih hidup secara apatis, bermalas-malasan, enggan bekerja, hidup secara asal-asalan dan tak bertanggung jawab. Mengapa demikian? Sebab mereka beranggapan bahwa jika Kristus akan segera datang dan akhir zaman akan segera tiba maka, “Ngopo aku kudu susah-susah nglakoni ajaran untuk giat bekerja dan melakukan perbuatan baik?”

Bagaimanapun juga, sesungguhnya tiada yang tahu secara pasti kapan datangnya kiamat/kedatangan hari Tuhan (2 Tes. 2:1-3). Kiamat kerap kali digambarkan melalui hadirnya kehancuran, peperangan, pemberontakan, penyesatan, rupa-rupa musibah, malapetaka atau bencana alam seperti gempa bumi, pandemi, wabah penyakit, dan hadirnya persekusi atau penganiayaan dan diskriminasi terhadap pengikut Kristus. (Luk. 21:7-19).

Isi
Realitas Kehidupan
Akan tetapi, bukankah gambaran peristiwa mengerikan semacam gempa, tsunami, banjir bandang, peperangan sebagaimana terjadi di Israel-Palestina, Rusia-Ukraina, perang saudara di Congo dan negara lain, juga kisah pelarangan kebaktian dan penolakan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat terhadap pembangunan rumah ibadat adalah peristiwa lumrah yang telah kita alami, sedang kita alami, dan (bisa jadi) akan kita alami? Demikian pula dengan kematian. Kematian selalu mengintai keberadaan kita. Ia hadir seperti pencuri; tak seorang pun tahu kapan ia datang dan merenggut kehidupan kita. Artinya, semua gambaran kesusahan dan penderitaan yang mengerikan sebagaimana diuraikan dalam Injil Lukas sebenarnya telah terjadi dan tengah kita alami. Jika mencermati konteks penulisan Injil Lukas, sebenarnya Injil Lukas ditulis sekitar 15 tahun setelah peristiwa penghancuran Bait Suci oleh serbuan penjajah Romawi pada tahun 70. Jadi, ketika Injil Lukas menggambarkan peristiwa kehancuran Bait Suci, sebenarnya secara faktual proses tersebut sudah terjadi.

Lantas mengapa Tuhan Allah membiarkan semua kehancuran terjadi di dunia ini? Tuhan sebenarnya tidak menghendaki kehancuran dunia. Kemurahan Tuhan selalu melampaui kemarahan dan murka-Nya. Bahkan Tuhan Allah memilih hadir di dalam Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan dunia. Sejak dulu, kini, hingga nanti, Tuhan selalu konsisten mencintai kita dan menghendaki agar umat kepunyaan-Nya dapat mengalami surya kebenaran, keselamatan, dan sukacita pemulihan (Mal. 4:2). Kehancuran dunia merupakan konsekuensi dari pilihan umat manusia yang kerap bersekutu dengan dosa dan lebih mementingkan diri sendiri. Dalam kitab Wahyu, kiamat sebenarnya bukanlah penghancuran dunia, melainkan sebaliknya, wujud dari penyingkapan cinta kasih Allah (revelation means reveals) yang hadir melalui kesediaan-Nya untuk datang, berdiam, dan berkemah (tinggal) di dunia, di tengah kita (Why. 21:3). Dengan demikian, kiamat sejatinya adalah berita sukacita yang menandai kehadiran Tuhan secara total dan paripurna.

Respons Kita terhadap Tantangan Hidup
Jika demikian halnya, lalu bagaimana kita harus merespons semua keprihatinan hidup? Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak takut dan terkejut saat menghadapi beragam keprihatinan hidup (Luk. 21:9). Tuhan juga menasihatkan kita untuk bertahan hingga akhir (Ay. 19). Sementara Maleakhi 4:2 mengajak kita untuk takut akan nama TUHAN. Yang dimaksud takut akan nama TUHAN adalah takzim atau pakering (bahasa Jawa) yang berarti hormat secara mendalam. Takut jenis ini yang berbeda dengan rasa takut ketika misalnya Anda melihat hantu. Maka, ketika Anda hendak ngapusi, tatkala Anda berhasrat melakukan manipulasi anggaran atau berniat melakukan korupsi di lingkungan pekerjaan/pelayanan, berlaku zina, atau hendak melakukan dosa, ingatlah untuk takut akan Tuhan!

Tapi nek aku gak melu edan, ora bakal keduman. Nek kabeh ngapusi, jika semua melakukan manipulasi sementara aku gak melu ngapusi, aku bakal dimusuhi wong sak kantor! Nah, jikalau demikian, siapa yang kita takuti? Wedi sopo? Wedi Gusti apa manungsa? Kita sebenarnya takut akan Tuhan atau manusia?

Kata kunci berikutnya adalah bertahan hingga akhir. Bertahan berarti sabar menanggung segala perkara. Bertahan berarti memilih untuk terus bekerja secara bertanggung jawab. Bertahan berarti setia melakukan perbuatan baik, tanpa jemu, kendati kita harus berhadapan dengan beragam tantangan, ancaman, hambatan, dan kesulitan. Ini adalah panggilan untuk hidup dengan integritas meskipun dalam keadaan sulit.

Penutup
Maka, akhirnya takutlah akan Tuhan, bertanggung jawablah secara moral, tanpa jemu terus melakukan perbuatan baik, dan sabarlah menanggung derita sebagai wujud ketahanan iman atau kesetiaan menapaki jalan Tuhan. Ingatlah mereka yang takut akan Tuhan akan mengalami terbitnya surya kebenaran yang membebaskan dan merasakan hangatnya sinar pemulihan yang menentramkan kehidupan kita di dunia.

Marilah kita ingat bahwa dalam setiap tantangan hidup dan melalui beragam “kiamat kecil” yang harus kita hadapi, Tuhan selalu hadir bersama kita. Tuhan memberikan kekuatan kepada kita untuk bertahan dan menganugerahkan hikmat kepada kita untuk bersaksi di tengah kesulitan. Setialah beriman dan menghidupi tanggung jawab sebagai umat kepunyaan-Nya. Amin. [HT].

 

Pujian: KJ. 278  Bila Sangkakala Menggegap

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa ingkang wonten ing pikiran panjenengan nalika kula ngucap tembung “kiamat”? Kadangkala, kiamat punika dipun mangertosi minangka kahanan ingkang nggegirisi sanget, ingkang badhe kalampahan ing pungkasan zaman, ingkang sapunika taksih dereng kalampahan.

Ananging saestu, kathah umat pitados ingkang kepincut damel petungan dinten lan ngramalaken dinten rawuhipun kiamat. Kados dene, ingkang dipun lampahi dening William Miller wontening wiwitan abad 19 ingkang paring ramalan bilih Gusti Yesus Kristus badhe rawuh wontening taun 1844. Nalika ramalan punika mboten mawujud, kathah pandherekipun ingkang kuciwa lajeng ngalami krisis iman.

Ing pasamuwan Tesalonika, ugi wonten umat ingkang milih gesang apatis, kesed, mboten purun nyambut damel, lan milih nglampahi gesang sak pikajengipun piyambak. Kenging punapa? Amargi para umat nggadahi pemanggih: menawi Kristus badhe enggal rawuh lan pungkasaning zaman badhe dumugi, lha ngapa kula kedah susah-susah nglampahi piwulang supados sregep nyambut damel lan nindakaken tumindak ingkang sae? Mekaten alesanipun.

Nanging, saestunipun mboten wonten satunggal tiyang ingkang saged mangertos kanthi cetha lan pasti kapan kiamat utawi dinten punapa rawuhipun Gusti (2 Tes. 2:1-3).

Kiamat asring dipun gambaraken lumantar karisakan ing satengahing pigesangan, peperangan, pambrontakan, pasesatan, sarta maneka warni musibah kados ta lindhu, pageblug, lan panganiaya dhumateng para pandherekipun Sang Kristus (Luk. 21:7-19). Nanging, menawi kita raosaken kanthi lebet, gambaran maneka warni ingkang nggegirisi kados ta lindhu, tsunami, banjir bandhang, lan peperangan, kados ingkang dumados ing Israel-Palestina lan Rusia-Ukraina, punika kadadosan limrah ingkang sampun kita alami ta? Inggih punapa mboten? Ingkang naminipun pati utawi maut punika pancen tansah ngincer pigesangan kita. Pati punika rawuhipun mboten kanyana, kados maling! Mboten wonten satunggal tiyang ingkang saged mangertos nalika piyambakipun rawuh lan dumadakan ngrebut pigesangan kita.

Tegesipun, sedaya gambaran kasangsaran ingkang dipun andharaken wontening Injil Lukas saestunipun sampun dumados lan saweg kita alami. Injil Lukas punika dipun serat kirang langkung 15 taun sasampunipun prastawa risakipun Padaleman Suci dening penjajah Romawi ing taun 70. Dados, nalika Injil Lukas nggambaraken karusakan Padaleman Suci, proses punika sampun kalampahan.

Nanging, kenging punapa Gusti Allah ngeparengaken sedaya karisakan punika dumados? Mboten. Gusti mboten ngeparengaken! Gusti Allah ing salebeting Gusti Yesus Kristus malah rawuh ing satengahing pigesangan saperlu nylametaken donya. Wiwit rumiyin dumugi samangke, Gusti tansah tresna dhateng kita lan ngersakaken supados kita umat-ipun ngalami surya kayekten kaslametan (Mal. 4:2).

Karisakan donya punika akibat saking pilihan umat manungsa ingkang asring mbangun turut lan sesambetan kaliyan dosa, mekaten ugi langkung mentingaken dhirinipun piyambak. Ing kitab Wahyu, kiamat punika sanes karisakan nanging pambabar katresnanipun Gusti Allah ingkang rawuh lan karsa dedalem lan dumunung wonten ing satengahing kita. Kanthi makaten, kiamat saestunipun pawartos kabingahan rahayu ingkang paring tandha rawuhipun Gusti kanthi paripurna.

Isi
Tantanganing Pigesangan
Lajeng, kadospundi kita kedah nanggepi sedaya kaprihatosan ing satengahing pigesangan? Gusti Yesus mucal kita supados mboten ajrih nalika ngadhepi maneka warni tantangan (Luk. 21:9) lan supados kita tetep teguh ngantos dumugi pungkasan (Ay. 19). Maleakhi 4:2 ugi ngandharaken nasihat ingkang ngundang kita kangge “ajrih asma-Ku.” Ajrih tumrap asmanipun Gusti punika ngemu suraos kersa ngajeni Gusti kanthi saestu.

Pramila, nalika panjenengan gadhah gegayuhan kangge nindakaken dosa, kados ta ngapusi, korupsi, laku jina, sumangga eling Gusti supados kita saged ajrih-asih dhumateng Gusti. Tapi nek aku gak melu edan, ora bakal keduman. Nek kabeh ngapusi, banjur aku gak melu ngapusi, aku rak yo bakal dimusuhi wong sak kantor! Nah, menawi mekaten, lajeng estunipun sinten ingkang kedah kita ajrihi? Punapa Gusti? Punapa manungsa?

Tembung wigati salajengipun inggih punika tetep teguh ngantos dumugi pungkasan. Tetep teguh tegesipun sabar nanggung sedaya prekawis lan terus setya nyambut damel kanthi tanggel jawab. Tetep teguh tegesipun setya nindakaken kasaenan, sanadyan ngadhepi kedah tantangan maneka warni. Tetep teguh tegesipun kita sedaya karsa nglampahi timbalan kanthi serius, lan nglampahi gesang kanthi jujur, sanadyan ngadepi kahanan ingkang awrat.

Panutup
Pungkasanipun, ajriha marang Gusti, sumangga kita gesang kanthi tanggel jawab moral ingkang tamtunipun badhe maringi daya kangge kita supados nindakaken tumindak ingkang sae tanpa bosen. Mekaten ugi kita kedah sabar nanggel kasangsaran minangka wujud kakiyatan iman. Awit tiyang ingkang ajrih dhumateng Gusti badhe pikantuk pangajeng-ajeng saking medalipun surya kayekten ingkang maringi kamardikaan sejati lan pikantuk sumunaring surya utawi karya pemulihan Gusti ingkang nentremaken donya.

Sumangga kita enggal eling, bilih ing saben tantangan gesang ingkang kita adhepi, Gusti tansah rawuh sesarengan kaliyan kita. Panjenenganipun maringi kita kakiyatan supados kita tansah teguh, lan ugi maringi kita hikmat supados kita wantun dados saksi Kristus ing satengahing kasangsaran gesang. Mugi-mugi kita tetep setya ing salebeting iman lan tanggel jawab kita minangka umatipun Gusti. Amin. [HT].

 

Pamuji: KPJ. 416  Saprakara Kang Pantes

Renungan Harian

Renungan Harian Anak