Minggu Paskah 6 – Masa Raya Undhuh-undhuh
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 10 : 44 – 48
Bacaan 2: 1 Yohanes 5 : 1 – 6
Bacaan 3: Yohanes 15 : 9 – 17
Tema Liturgis: Mewartakan Kasih dan Karya Allah sebagai Ungkapan Syukur
Tema Khotbah: Cintaku Bukti Syukurku
Penjelasan Teks Khotbah
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 10 : 44 – 48
Kisah Para Rasul 10:44-48 merupakan bagian dari perjumpaan Petrus dan Kornelius. Perlu diketahui bahwa Petrus merupakan rasul yang setia, namun di sisi lain dalam perjalanan hidupnya masih dipenuhi dengan segala peraturan-peraturan Yahudi – mulai dari hal makanan yang najis sampai orang-orang Non-Yahudi yang dianggap belum tahir. Petrus sendiri belum pernah makan makanan yang dianggap najis dan masuk ke rumah orang non-Yahudi (bdk. Kis.10:14) sampai pada akhirnya Tuhan mengajarkan suatu pengalaman iman kepada Petrus (bdk. Kis. 10:1-48). Sedangkan Kornelius adalah seorang perwira Italia yang percaya pada Tuhan, dia adalah orang yang saleh. Dia adalah orang yang dermawan pada orang Yahudi, namun dia bukan orang Yahudi yang pada akhirnya dianggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah.
Dua orang dari dua latar belakang berbeda ini mengalami perjumpaan atas prakarsa Tuhan untuk sebuah rencana yang begitu indah. Secara sederhana Firman Allah dalam Kristus Yesus yang merupakan berita keselamatan telah sampai pada segala bangsa – sangat jelas di ayat 44 bahwa Roh Kudus tercurah bagi orang yang mendengar pemberitaan itu (tanpa melihat siapa dan dari mana mereka).
Peristiwa ini mengandung beberapa makna indah : (1) Kornelius bersyukur dan Petrus belajar! Kornelius yang adalah cerminan orang non-Yahudi yang bersyukur karena telah merasakan kelegaan atas penerimaan Roh Kudus, sedangkan Petrus yang adalah cerminan orang Yahudi belajar akan sebuah keterbukaan pikiran untuk tidak lagi membangun “pengkotakan masalah etnis/suku”. (2) Peristiwa Kaisarea merupakan sebuah catatan detail Lukas yang merupakan dasar permberlakuan Kerajaan Allah bagi setiap manusia – bahwa orang ‘kafir’ tidak lagi dianggap sebagai orang asing, namun sebagai keluarga serumah dengan hanya ‘mendengarkan’ (mendengarkan berbeda dengan mendengar) pemberitaan Injil Tuhan.
1 Yohanes 5 : 1 – 6
Secara sederhana Surat Yohanes yang pertama ini memiliki maksud dan tujuan untuk mendampingi pengikut Kristus dari pengaruh ajaran sesat khususnya Doketisme1. Kondisi yang memprihatikan inilah yang menjadikan penulis bergerak untuk memberikan surat penguatan dan penghiburan agar mereka (umat) tidak meninggalkan keyakinannya bersama dengan Yesus Kristus.
Penulis terus menegaskan agar umat terus merawat kepercayaan mereka kepada Yesus yang adalah Kristus yang lahir dari Allah. Dan tanda orang yang mau merawat kepercayaan mereka bersama Kristus adalah mereka yang tahan uji untuk terus melakukan kehendak perintah Allah yang jika dialami secara serius dan sadar, hal itu bukanlah hal yang berat (ay.3)
Penulis menghayati dan membagikan penghayatan itu kepada umat, bahwa keseriusan untuk terus menjaga keintiman bersama Yesus apapun tantangan dan masalahnya, itulah yang disebut iman. Jika seseorang telah merasakan iman itu maka tidak satu godaan apapun yang bisa mengalihkan keintiman relasinya bersama Yesus.
Yohanes 15 : 9 – 17
(Mari benar-benar fokus untuk membaca teks ini dikarenakan banyak kata ganti orang yang digunakan!) Teks ini mengajak pembaca untuk melihat salah satu dasar hidup pengikut Kristus adalah memahami benar makna tentang kasih! Ay. 9-10 melukiskan bahwa kasih yang diberlakukan oleh manusia sebenarnya bukan karena inisiatif manusia secara pribadi, namun karena pantulan kasih yang telah terlebih dulu dilakukan Allah melalui Yesus kepada manusia. Hal itulah yang tidak henti-hentinya dipersiapkan Yesus kepada para murid sebagai salah satu dasar hidup sebelum Yesus menjalani penderitaan salib.
Penghayatan untuk menyatakan ekspresi teladan kasih Allah tentunya juga memberikan dampak dalam kehidupan pelaku teladan kasih tersebut. (1) Ay. 11-12 menegaskan bahwa ketika pantulan kasih Allah yang diekspresikan dalam kehidupan itu menjadikan ada suasana sukacita2! Pemberlakuan teladan kasih Allah akan menjadi sebuah kesukacitaan istimewa meski kadang dipandang sebagian orang sebagai suatu yang berat dan melelahkan. (2) Ay. 13-15 menjelaskan bahwa pemberlakuan teladan kasih menjadikan posisi kita ada dalam makna sahabat, bukan seorang hamba! Tradisi Yahudi sangat mudah membedakan posisi sahabat dengan hamba. Hamba adalah orang yang bisa diperlakukan sesuka hati oleh tuannya dan segala tindakan apapun yang dilakukan oleh seorang hamba bukan atas dasar landasan kesadaran namun lebih kepada tuntutan dan perintah. Sedangkan sahabat adalah sosok yang benar-benar secara sadar dan tulus melakukan sesuatu karena sebuah keintiman sebuah relasi. Yesus memberikan bukti nyata perlakuan seorang sahabat kepada sahabatnya – kadang ada sebuah pengorbanan yang harus diberikan dan dijalani oleh seorang sahabat untuk terus menjaga kelekatan relasi itu. (3) Ay. 16 Pantulan kasih Allah yang dirasakan menjadikan manusia menyadari bahwa ia dipilih, bukan memilih dan pilihan itu menjadikannya menyadari bahwa hidupnya harus menjadi sarana berkat. Kata sarana berkat ini menjadi penting agar manusia tetap menyadari bahwa setiap pemberlakuan hal baik itu bukan berasal dari dirinya secara pribadi, melainkan karena pantulan kebaikan Allah yang ia terima.
Dan kesemuanya itu bukan sebatas konsep, wacana, dan teori melainkan sebuah perjalanan hidup yang harus dijalani secara serius. Perikop ini ditutup dengan kata yang sangat sederhana, namun syarat makna (ay.17) bahwa pemberlakuan pantulan kasih Allah itu haruslah dinyatakan bagi semua – bukan orang-orang tertentu yang telah dikotak-kotak, namun nyatakan secara universal.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Cinta yang sungguh adalah cinta yang tidak mengenal sekat-sekat perbedaan yang dilandasi keegoisan diri. Cinta yang sungguh adalah cinta yang mau memberi diri tanpa mengharap balasan apapun. Cinta yang sungguh adalah cinta yang terkadang diiringi dengan pengorbanan demi menjaga keintiman relasi. Cinta yang sungguh adalah perwujudan rasa syukur di hadapan Allah Sang Sumber Cinta yang sesungguhnya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
- Apakah cinta itu? Lihatlah bunga mawar! Mungkinkah bunga mawar itu akan mengatakan, “Saya akan memberikan keharumanku hanya kepada orang baik dan tidak kepada orang jahat”? Tulis Anthony de Mello SJ dalam bukunya “Dipanggil untuk Mencinta”. Inilah sifat pertama cinta, ia tidak membedakan! Renungkanlah ketulusan bunga mawar yang menebar keharumannya, karena di situ akan diperoleh gambaran cinta.
- Anthony de Mello melanjutkan tulisannya bahwa sifat kedua cinta, ia cuma-cuma! Cinta itu memberi dan tidak meminta balas jasa. Cinta itu tidak rumit yang harus mengeluarkan ilmu transaksional, menimbang untung-rugi, yang mengarah pada keegoisan dan keserakahan. De Mello mengajak ‘cukup lihat diri saja’ apakah memang kehidupan cinta kita memang sesederhana memberi atau masih ada bumbu keegoisan diri dalam pamrih?
- Sifat ketiga cinta, ketidaksadaran diri. Cinta itu begitu bahagia dengan mencintai, sehingga tidak sadar akan keberadaan diri. Seperti Mawar yang menebarkan keharumannya begitu saja tanpa peduli ada atau tidaknya orang yang mencium keharumannya – mawar tidak akan mempedulikan itu, karena fokusnya hanyalah memberikan keharuman sekitar.
- Sifat terakhir cinta menurut de Mello adalah, bebas! Saat paksaan dan kekangan sudah mulai ada maka disitulah cinta mengalami kematian. Cinta itu mengalir begitu saja jika sampai ada paksaan di dalamnya, maka ketulusan cinta sebenarnya sudah tidak ada!
- Empat hal yang disuguhkan Anthony de Mello ini benar-benar menjadi pengantar dalam mengecap bacaan pada saat ini: (1) kisah perjumpaan Petrus dan Kornelius, merupakan perjumpaan cinta yang istimewa – di mana semula masih ada sekat perbedaan Yahudi-nonYahudi, masih ada keegoisan untuk hanya berpikir tentang diri, masih ada kekangan yang membuat cinta tidak mengalir indah – tetapi semua telah sirna ketika Petrus mau membuka matanya untuk melihat Kornelius sebagai manusia seperti dirinya! (2) Surat penggembalaan Yohanes ketika melihat umat milik Kristus mengalami himpitan, kekangan akan pengajaran sesat – di sana penulis hadir dengan cintanya untuk memberikan penguatan tanpa ia pedulikan resiko apa yang akan ia terima dan dialami (3) Dialog antara Yesus bersama para murid yang menekankan tentang sukacita dari mencinta – Yesus menegaskan untuk mencinta tanpa perbedaan, mencinta dalam ketulusan seperti pantulan cinta Allah, mencinta tanpa memikirkan diri seperti seorang sahabat yang rela kehilangan nyawa demi orang yang dicintai, dan mencinta secara mengalir tanpa kamuflase kepalsuan – di situlah buah-buah kehidupan cinta yang tulus akan semakin nampak.
- Perwujudnyataan sifat cinta yang serius dalam kehidupan, dapat dimaknai sebagai bagian upaya bersyukur dihadapan Allah sebagai sang pemberi cinta – telebih dalam minggu ini ada sebuah penghayatan hari raya undhuh-undhuh sebagai wadah ungkapan syukur. Tidak jarang wadah bersyukur undhuh-undhuh bukan menjadi sarana bersyukur dengan cinta, namun yang ada malah menjadi wadah untuk tampil dalam kepongahan yang merendahkan satu dengan yang lain! Renungan saat ini secara sederhana ingin mengajak secara perlahan, “lihat dan amati dirimu, sudahkah rasa bersyukurmu itu mengalami perjumpaan dengan sukacita dan cinta?” Jika belum, tidak perlu terlalu merasa berdosa dan rendah-diri, mari secara perlahan menggunakan kesempatan cinta pemberian Tuhan untuk semakin berbenah! Selamat Bersyukur dalam kemesraan dan ketulusan Cinta! (ABK)
Nyanyian : KJ. 450 Hidup Kita yang Benar
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
- Punapa ta tresna punika? Mangga sami mirsani sekar mawar! Punapa sekar Mawar badhe paring atur, “Aruming gandaku iki mung kanggo wong becik lan ora kanggo wong ala”? Punika seratan Anthony de Mello SJ ing salah satunggal buku kanthi jejer “Dipanggil untuk Mencinta”. Punika sifating tresna kang wiwitan miturut Anthony de Mello nggih punika ora mbedakne! Mangga sami dipun raosaken tulusing sekar mawar ingkang medhar aruming ganda ingkang nengsemaken, awit wonten bab punika saged dipun tampeni gegambaraning tresna.
- Anthony de Mello nglajengake punapa kang dados seratanipun, bilih sifating tresna kang kaping pindho, nggih punika mung wae/cuma-cuma! Tresna punika namung ateges peparing lan mboten nyuwun piwales/ pamrih. Tresna punika mboten ruwet ingkang kedah ngginakaken bab dol-tinuku (transaksioal), nimbang-nimbang bab untung lan rugi, ugi kang ngarah ing bab kang ngrembuk butuhe dhewe lan bab dremba. De Mello ngatag “mung pirsanana awakira dhewe” punapa pigesangan bab katresnan kita pancen sampun prasaja kanthi pamrih utawi taksih wonten bab ngrembuk butuhe dhewe lan pamrih?
- Sifating tresna kang kaping tiga, “ketidaksadaran diri”. Tresna saestu ngraosaken bingah nalika nresnani, satemah mboten sadar kaliyan kahanan dhiri. Kados dene sekar mawar ingkang mbabar aruming ganda, mboten preduli wonten tiyang ingkang ngraosaken punapa mboten – mawar mboten preduli bab punika, awit ingkang dados ugeran namung mbabar aruming ganda ing sakiwa-tengene.
- Sifating tresna kang pungkasan miturut de Mello, nggih punika bebas! Nalika sampun wonten tembung meksa lan jejiret, banjur ing ngriku tresna badhe ngalami mati. Tresna punika sejatosipun mili kemawon, menawi sampun wonten tembung meksa, tulusing tresna sejatosipun sampun mboten wonten.
- Sekawan bab ingkang dipun adharaken dening Anthony de Mello saestu dados dhasar saperlu ngraosaken waosan punika: (1) Cariyos Petrus lan Konelius, mujudaken karyaning tresna ingkang endah – ing pundi ing wiwitan taksih wonten sekat kang mbentenaken tiyang Yahudi kaliyan non-Yahudi, taksih wonten bab kang ngugemi butuhe awake dhewe, taksih wonten bab kapeksan kang ndadosaken tresna mboten saged mili kanthi sae – nanging sedaya sirna nalika Petrus kersa mbikak mripatipun saperlu mirsani Kornelius minangka manungsa kadosdene dhirinipun pribadi. (2) Serat Yohanes kang sepisan nalika mirsani kahanan pandhereke Gusti kang nandhang perkawis awit piwucal kang mblasarake – serat punika mbabar kanthi tresna maringi kakiyatan lan mboten nggalih bab resiko ingkang badhe dipun alami nalika medhar serat punika. (3) Nalika Gusti Yesus dhawuh marang para sakabat, Gusti kanthi saestu ngatag bab bungahing manah nalika nresnani – Gusti Yesus ngatag supados saged mujudaken tresna kanthi mboten mbeda-mbedakaken, Nresnani kadosdene tresnanipun Gusti Allah marang manungsa, nresnani kanthi mboten nggalih bab dhiri pribadi kadosdene mitra kang kersa kelangan nyawanipun kagem tiyang ingkang dipuntresnani, lan nresnani kang mili tanpa mbujuk – bab punika ingkang saged kawastanan woh-wohing pigesangan katresnan kang tulus saged kapirsanan.
- Mujudaken sifating tresna kanthi temen ing lampahing gesang saged ugi dipunwastani salah satunggaling wujud saos syukur ing ngarsaning Gusti Allah kang dados sumbering tresna – linuwih ing minggu punika wonten babagan ingkang kedah dipunraosaken nggih punika mahargya riyadin Undhuh-undhuh minangka sarana mujudaken raos syukur. Asring sarana mujudaken saos syukur undhuh-undhuh mboten dados piranti saos sokur kanthi tresna, ananging asring dados wadah ingkang dados piranti mujudaken kakiyatan ingkang ngasoraken sanesipun! Reraosan punika kanthi prasaja ngatag supados saged “mirsani diri kanthi temen, punapa saestu bilih raos sokur kita punika sampun kadhasaran kanthi raos bungah lan tresna?” Menawi dereng, mboten sisah rumaos nyunggi momotan dosa ingkang ageng lan rumaos asor. Mangga kanthi nyata ngginakaken wekdal kang kebag katresnan peparinge Gusti supados gesang tan saya sae! Sugeng mujudaken raos sokur ing salebeting katresnan kang tulus! (ABK).
Pamuji : KPJ. 182 Puji Sokur Lan Panggunggung
1 Sebuah istilah yang menyatakan bahwa Yesus tidak sungguh manusia, melainkan hanya tampak sebagai manusia. Dengan kata lain Yesus hanya memiliki tubuh sorgawi dan hanya berpura-pura menderita dan mati.
2 Sukacita itu berbeda dengan bahagia! Bahagia (happines) memiliki kata dasar yang sama dengan happening (kejadian), yang secara sederhana kebahagiaan terjadi bergantung pada sesuatu atau kejadian. (Misal: bahagia karena menerima ucapan ulang tahun, karena hari libur dsb.) Sedangkan sukacita (joy) tidak bergantung pada sesuatu atau kejadian namun lebih kepada respon hati! (Misal: Sukacita meskipun hari ini ada masalah, kekurangan, sedang sakit dsb.)