Yesus Pokok dan Kitalah RantingNya Khotbah Minggu 2 Mei 2021

19 April 2021

Minggu Paskah 5 – Masa Raya Undhuh-Undhuh – Hari Syukur YBPK
Stola Putih

Bacaan 1:  Kisah Para Rasul 8 : 26 – 40
Bacaan 2:
 1 Yohanes 4 : 7 – 21
Bacaan 3:
 Yohanes 15 : 1 – 8

Tema Liturgis :  Mewartakan Kasih dan Karya Allah sebagai Ungkapan Syukur
Tema Khotbah:
 Yesus Pokok dan Kitalah Ranting-Nya

 

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 8 : 26 – 40
Bagian ini mengisahkan pertobatan yang begitu indah. Pertobatan dari seseorang yang di dalam keadaan hina dan tertolak, namun tetap berusaha mencari Tuhan. Haus untuk mendengar Firman, haus untuk mengenal Tuhan, dan haus untuk beribadah dan menyembah Tuhan. Betapa jauhnya kita yang seringkali mengabaikan semua ini. Filipus adalah salah seorang Rasul yang sangat responsive terhadap Amanat Agung Tuhan Yesus untuk pergi mengabarkan Injil. Bukti dari keseriusan Filipus dalam menanggapi Amanat Agung itu ialah kerinduannya untuk bisa menjangkau tidak hanya bangsa Yahudi melainkan orang-orang yang dianggap kafir (Samaria, dll). Dan rupanya pelayanannya di kalangan orang-orang Samaria mendapat sambutan yang antusias hingga membawa “sejumlah besar” orang Samaria itu untuk percaya dan menerima Kristus sebagai Juruselamat. Namun, meski Filipus tengah berada dalam kesuksesan dalam pelayanannya, dia tetap memilih taat ketika Tuhan mengutusnya pergi hanya kepada satu orang saja, yakni sida-sida dari Etiopia.

1 Yohanes 4 : 7 – 21
Walaupun kasih merupakan suatu aspek dari buah Roh dan bukti kelahiran baru, kasih juga adalah sesuatu yang harus dikembangkan. Oleh karena itu, Yohanes menasihati kita untuk saling mengasihi, memperhatikan sesama kita dan berusaha memajukan kesejahteraan mereka. Yohanes tidak berbicara mengenai itikad baik, tetapi mengenai keputusan dan sikap untuk menolong orang lain. Yohanes mendorong kita untuk memperlihatkan kasih karena tiga alasan:

  1. Kasih adalah sifat Allah sendiri (Ay. 7-9) yang dinyatakan dengan mengaruniakan anak-Nya kepada kita (ay. 9-10). Kita memiliki sifat seperti-Nya karena kita lahir dari Dia (Ay. 7).
  2. Karena Allah mengasihi kita, maka kita yang telah merasakan kasih, pengampunan dan pertolongan-Nya wajib menolong orang lain, meski harus berkoban (Ay. 12).
  3. Jikalau kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita dan kasih-Nya semakin sempurna di dalam hidup kita (Ay. 12).

Yohanes 15 : 1 – 8
Dalam perumpamaan atau kiasan ini Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “pokok anggur yang benar” dan murid-murid-Nya sebagai “ranting”. Dengan tetap terpaut pada-Nya sebagai Sumber Kehidupan, mereka dapat menghasilkan buah. Allah dilukiskan sebagai tukang kebun yang memelihara ranting-ranting itu supaya tetap berbuah (Ay. 2, 8). Allah mengharapkan agar kita semua berbuah. Yesus berbicara tentang dua macam ranting: yang berbuah dan yang tidak berbuah.

  1. Ranting yang tidak berbuah adalah orang-orang yang tidak lagi memiliki hidup yang datang dari iman dan kasih kepada Kristus. “Ranting-ranting” ini dipotong oleh Bapa, yaitu dipisahkan dari hubungan yang vital dengan Kristus (bd. Mat 3:10). Bila mereka tidak lagi tinggal dalam Kristus, Allah menghakimi dan menolak mereka (ayat Yoh 15:6).
  2. Ranting-ranting yang berbuah adalah orang-orang yang memiliki hidup di dalamnya karena iman dan kasih kepada Kristus. Setelah seseorang percaya kepada Kristus dan menerima pengampunan dosa, dia menerima hidup kekal dan kuasa untuk tetap tinggal di dalam Kristus. Setelah kuasa itu diberikan, orang percaya harus menerima tanggung jawab supaya tetap selamat dan tinggal di dalam Kristus. Kata Yunani meno berarti tetap tinggal. Sebagaimana ranting hanya dapat hidup selama hidup dari pokok anggur yang mengalir ke dalamnya. Demikian pula orang percaya hanya mempunyai hidup Kristus, selama hidup Kristus mengalir ke dalamnya dengan tetap tinggal di dalam Dia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Sebagai manusia yang hidup lekat pada Tuhan Sang Pokok Anggur hendaknya kehidupan kita dapat membuahkan keteladanan yang Ia ajarkan, yakni Kasih. Kasih adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Demi mendapatkan kasih, orang rela melakukan apapun. Untuk mengungkapkan kasih, orang rela membayar harga setinggi apapun. Allah memberikan kapasitas  kepada semua orang  untuk menghargai, mengharapkan, dan mempraktekkan kasih. Kesadaran sebagai sesama manusia seringkali sudah cukup sebagai alasan untuk saling mengasihi. Relasi yang unik antara dua orang, entah hubungan darah atau pertalian kasih, menjadi landasan yang kuat untuk saling mencintai dan mengasihi. Bukti dari pernyataan kasih dalam kehidupan kita adalah kasih kepada Tuhan dan juga sesama.  Bagian tersulit adalah kasih kepada Tuhan. Kalau kita berkata bisa mengasihi Tuhan, tapi bukti mengasihi saudara atau sesama tidak ada berarti kasih itu palsu karena hanya di mulut saja.

 

Rancangan Khotbah :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Pelayan bisa mengajak warga jemaat untuk menyanyi:

Yesus pokok
Dan kitalah carang-Nya
Tinggalah di dalamNya (3X)
Pastilah kau akan berbuah
Yesus cintaku, ku cinta Kau
Kau cinta Dia (2X)
Yesus pokok
Dan kitalah carangNya
Tinggallah di dalamNya

Tentunya kita tidak asing dengan lagu ini? Ya, ini adalah salah satu lagu anak-anak yang sangat populer sejak kita masih mengikuti ibadah anak hingga kita dewasa. Seperti saat ini lagu ini masih sangat sering kita dengar dan kita nyanyikan. Melalui lagu sederhana ini kita bersama disapa untuk kembali mengingat dan merefleksikan diri lebih dalam lagi siapa diri kita ini? Disebut sebagai ranting-Nya/carang-Nya yang tinggal didalam-Nya.

Isi
Apa yang menarik tentang ranting atau carang? Banyak sekali. Ranting memiliki kemiripan yang sempurna dengan pokok; sifat alamiahnya persis sama seperti pokok. Bedanya cuma pokok itu besar, kuat dan sumber kekuatan, sedangkan ranting itu kecil, lemah dan selalu butuh kekuatan dari pokok. Ranting itu ada untuk satu alasan saja, yaitu untuk menghasilkan (lebih tepatnya untuk tempat bergantung) buah. Keberhasilan sebuah ranting dilihat dari apakah ada buah atau tidak di ranting itu. Ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri. Ranting bergantung sepenuhnya kepada pokok; ia harus menyatu dengan pokok agar bertahan hidup dan menghasilkan buah.

Apa maknanya ini bagi kehidupan murid-murid, bagi orang percaya dan bagi kita? Artinya adalah kita memiliki kemiripan dengan Yesus yaitu ketika Ia meyelamatkan kita dan memberikan kepada kita Roh-Nya yang kudus. Maksudnya adalah kita harus menyadari bahwa kita adalah bagian dari sifat ilahi dan dipanggil untuk hidup seperti Kristus. Kita ada dan diselamatkan hanya untuk satu alasan, yaitu untuk menghasilkan buah; tidak ada alasan lain. Jika kita tidak menghasilkan buah, kita tidak berguna. Maknanya adalah Yesus itu kuat dan sumber kekuatan, sementara kita lemah dan selalu butuh kekuatan dari Dia. Kita tidak dapat berbuah dari diri kita sendiri; kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa tinggal di dalam Dia. Kita harus menyatu dengan Yesus agar buah dapat dihasilkan. Tujuan hidup yang dirancang Tuhan untuk kita adalah menjadi ranting yang menghasilkan buah, tidak lebih dan tidak kurang. Peran yang diminta dari kita hanyalah tetap tinggal di dalam Kristus.

Yesus juga mengatakan beberapa hal tentang ranting: ada ranting yang tidak berbuah, ada ranting yang berbuah (sedikit), dan ada ranting yang berbuah banyak. Perlakuan yang disiapkan oleh Bapa untuk ketiga jenis ranting itu berbeda-beda. Ranting yang tidak berbuah dipotong (dibuang) karena tidak ada gunanya. Ranting yang berbuah sedikit dibersihkan agar ia berbuah lebih banyak. Kepada ranting yang telah berbuah banyak dijanjikan bahwa apa saja yang dikehendakinya akan diterimanya.

Yesus mengijinkan kita untuk tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. “….Tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu….”. Bila kita tinggal dalam Yesus, maka kita akan menghasilkan buah yang melimpah. Luar biasa ajakan Yesus ini. Ia menggambarkan diri-Nya sebagai pokok anggur dan kita ini ranting-ranting-Nya. Ranting memang tidak bisa berbuah jika terlepas dari pokoknya, namun pokok anggur hanya akan menghasilkan buah melalui ranting-rantingnya, dan bukan pada pokoknya sendiri. Inilah yang luar biasa. Yesus membiarkan kita mengalami buah yang berlimpah melalui diri kita yang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa ini.

Yesus juga menegaskan bahwa bila kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita, apapun yang kita minta kepada Bapa, akan diberikan dan perlahan diwujudkan kepada kita. Kunci utamanya adalah iman dan harapan. Dengan iman dan harapan yang kita bangun dalam diri Tuhan Yesus sendiri maka Allah akan menghasilkan buah berlimpah melalui diri dan hidup kita.

Sebagai orang percaya, Kristuslah pokok anggur dan kitalah ranting-rantingNya yang diharapkan mampu berbuah manis dan melimpah. Namun buah akan dihasilkan hanya apabila kita bersatu dengan batang anggur yaitu Yesus sendiri. Ketika ranting itu dipotong dan tidak menyatu lagi dengan pokoknya, maka pelan-pelan ranting itu akan mati.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk berbuah. Buah akan dihasilkan kalau kita dengan cara tertentu bersatu dengan Yesus sendiri. Tanpa persatuan dengan Kristus, tanpa kedekatan dalam relasi pribadi, kita akan menjadi kering dan mati. Tuhan Yesus adalah kekuatan yang memungkinkan kita berani dan kuat di tengah kelemahan. Yesus yang sama yang menghidupkan saat kita mati.

Sebagai bagian dari Greja Kristen Jawi Wetan, kita diajak untuk mencintai, mengasihi dan merawat ranting-ranting milik GKJW salah satunya adalah Yayasan Badan Pendidikan Kristen. Sebagai sebuah Yayasan Pendidikan Kristen, tidak dapat berbuah jikalau tidak disirami dan dipupuk oleh cinta dan kasih dari setiap orang yang menjadi bagian dari GKJW, yakni kita semua. Mari bersama kita menyadari bahwa YBPK adalah milik kita. Marilah kasih dari Allah yang kita rasakan hendaknya juga kita berikan kepada YBPK dengan lebih lagi. Karena kita dan YBPK adalah wujud ranting dan buah dari Greja Kristen Jawi Wetan.

Penutup
Saudara-saudara terkasih. Buah dari kehidupan yang sejati hanya diperoleh kalau dua hal itu dijalani secara konsisten yaitu Yesus tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Yesus. Kalau hanya Yesus yang tinggal di dalam kita, sedangkan kita tidak mau tinggal di dalam Yesus, maka buah yang kita hasilkan pasti sepat, semu, hanya kelihatannya saja berbuah. Begitu juga sebaliknya, kalau kita di dalam Yesus tetapi tidak memberi ruang dan waktu bagi Yesus untuk tinggal di dalam kita maka hidup kita pasti berbuah tetapi buah itu tidak bertahan lama. Selamat meneruskan dan membagikan buah-buah yang manis di setiap perjalanan kehidupan kita. Kiranya kasih dari Sang Pokok Anggur semakin kita rasakan dan dirasakan oleh semua orang. Amin. (FGR)

 

Nyanyian:

  • KJ. 356   Tinggallah dalam Yesus
  • KJ. 309   Biar Ku Tumbuh di BatangMu

 

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Pasamuwan saged kaajak memuji lagu punika:

Yesus pokok
Dan kitalah carang-Nya
Tinggalah di dalamNya (3X)
Pastilah kau akan berbuah
Yesus cintaku, ku cinta Kau
Kau cinta Dia (2X)
Yesus pokok
Dan kitalah carangNya
Tinggallah di dalamNya

Tamtunipun kita asring mirengaken lagu punika nalika kita taksih nderek pangabekti anak utawi sekolah minggu. Lumantar pepujian punika kita kaajak mirsani diri ugi manah kita piyambak-piyambak. Kados pundi ta gesang dados pang-pangipun Gusti lan tetep dumunung wonten ing Gusti?

Isi
Punapa ingkang sae saking pang? Kathah sanget. Pang punika kagungan kamiripan kaliyan wit anggur. Sipatipun sami, ingkang mbentenaken namung wit punika ageng, kiyat ugi dados sumbering kekiyatan kangge sedaya anggotaning wit. Ananging pang punika alit, ringkih tamtunipun mbetahaken kakiyatan saking wit utawi pokokipun. Pang punika papan kangge uwoh saged gumantung. Pang punika kedah nyatunggil kaliyan wit supados saged gesang lan ngasilaken woh.

Punapa tegesipun bab punika kangge pigesangan minangka para murid, tiyang pitados lan kangge kita sedaya? Tegesipun kita kagungan sipat ingkang sami kaliyan Gusti Yesus mliginipun kagungan watak ugi pakulinan gesang kados Gusti Yesus. Kita nampi kawilujengan kanthi satunggal alasan nggih punika dados uwoh. Menawi kita mboten saged ngasilaken uwoh, kita mboten saged migunani. Tegesipun Yesus punika sumbering kekiyatan lan kita punika ringkih ugi mbetahaken kakiyatan saking Gusti. Kita kedah nyatunggil kaliyan Gusti supados kita saged ngasilaken woh awit kita karancang dados pang ingkang ngasilaken woh lan gesang ing Gusti Yesus Kristus.

Gusti Yesus ugi ngendikan bab pang : wonten pang ingkang mboten ngasilaken woh, wonten pang ingkang ngasilaken woh namung sekedik ugi wonten ingkang ngasilaken woh ingkang gembel. Gusti kagungan kawicaksanan kangge ngrimati pang-pangipun, pang ingkang mboten medalaken woh dipun tebas amargi mboten migunani. Pang ingkang medalaken woh sekedik dipun resiki supados saged kathah wohipun, ugi pang ingkang medalaken woh gembel dipun paring hadiah nggih punika punapa kemawon ingkang dados pengajeng-ajengipun saged katurutan.

Gusti Yesus ngersaaken kita kedah dumunung ing Panjenenganipun lan Panjenenganipun dumunung ing gesang kita. Menawi kita dumunung ing Gusti tamtunipun kita saged ngedalaken woh ingkang gembel lan manis. Gusti Yesus ugi paring dhawuh bilih sinten kemawon ingkang kersa wanuh dumunung ing Panjenengane bakal katurutan punapa kemawon ingkang dipun kersaaken. Ingkang dados kunci utami inggih punika iman kapitadosan lan pengajeng-ajeng ingkang ageng. Lumantar iman kapitadosan lan pengajeng-ajeng ingkang kita wangun ing dalemipun Gusti badhe ngasilaken woh lumantar pigesangan kita.

Minangka tiyang pitados, Gusti Kristus punika wit anggur ingkang sejati lan kita pang-pangipun ingkang dipun kersaaken ngedalaken uwoh ingkang manis lan gembel. Ananging uwoh namung saged nyatunggil kaliyan wit anggur, nggih punika Gusti Yesus Kristus. Nalika pang punika dipun pagas lan mboten nyatunggil malih, mila pang punika bakal mati.

Minangka abdinipun Gusti, kita kautus ngedalaken uwoh. Uwoh punika badhe kasil menawi kita kanthi cara ingkang sae nyatunggil kaliyan Gusti Yesus. Tanpa nyatunggil kaliyan Gusti, tanpa raket kaliyan Gusti, kita bakal garing lan wusananipun mati tanpa gina. Gusti Yesus punika sumbering kekiyatan ingkang maringi kita kekendelan ugi kekiyatan ing satengahing karingkihan.

Minangka warganing pasamuwan Greja Kristen Jawi Wetan, kita kaajak nresnani ugi ngrimati pang-pang kagunganipun GKJW salah satunggiling nggih punika Yayasan Badan Pendidikan Kristen. Minangka Yayasan Pendidikan Kristen tamtunipun mboten saged ngedalaken uwoh tanpa dukungan lan katresnan saking sedaya warganing pasamuwan GKJW. Sumangga kita sesarengan ngrumaosi bilih YBPK punika kagungan kita. Sumangga katresnanipun Gusti saged kita edum-edumaken tumrap kemajenganipun YBPK. Amargi kita lan YBPK punika wujudipun pang lan uwohipun Greja Kristen Jawi Wetan.

Panutup
Pasamuwan ingkang kinasih. Uwoh saking pigesangan ingkang sajati namung saged kagayuh menawi kalih bab kalawau saged kita lampahi kanthi tumemen. Menawi namung Gusti ingkang dumunung ana ing kita lajeng kita mboten kersa dumunung wonten ing Gusti Yesus, mila uwoh ingkang kita aturaken tamtu raosipun sepet, kecut utawi pait. Mekaten ugi, menawi kita dumunung wonten ing Gusti ananging mboten wonten papan ugi wekdal kagem Gusti wusananipun uwoh ingkang kita kasilaken punika mboten saged awet. Sugeng ngedum-edum uwoh ingkang manis ing sedaya lampah gesang kita. Mugi Sih Rahmatipun Gusti saged kita raosaken ugi saged dipun raosaken tiyang kathah. Amin. (FGR)

Pamuji:  KPJ. 198  Lampahing Gesang Puniki.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak