Tuhan Tidak Meninggalkan Umat-Nya di Tengah Krisis Khotbah Minggu 9 Agustus 2026

27 July 2026

Minggu Biasa | Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1: 1 Raja – raja 19 : 9 – 18
Mazmur: Mazmur 85 : 8 – 13
Bacaan 2: Roma  10 : 5 – 15
Bacaan 3: Matius 14 : 22 – 33

Tema Liturgis: Membangun Iman dan Pengharapan di Tengah Krisis
Tema Khotbah: Tuhan Tidak Meninggalkan Umat-Nya di Tengah Krisis

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

1 Raja-raja 19 : 9 – 18
Kitab 1 Raja-raja merupakan bagian dari sejarah Deuteronomistis yang disusun sekitar abad ke-6 SM, pada masa pembuangan Babel. Tujuannya bukan sekadar mencatat sejarah politik Israel, tetapi menafsirkan sejarah itu secara teologis: mengapa Israel jatuh dan bagaimana kesetiaan Allah tetap bekerja di tengah ketidaksetiaan umat-Nya. Perikop ini muncul setelah kemenangan spektakuler Elia atas nabi-nabi Baal di Gunung Karmel. Ironisnya, justru setelah kemenangan iman yang besar itu, Elia mengalami kejatuhan batin yang dalam. Ancaman Izebel membuatnya melarikan diri, putus asa, dan merasa hidupnya sia-sia. Ia berjalan jauh sampai ke Gunung Horeb—gunung perjanjian, tempat Musa dahulu berjumpa dengan Allah.

Di sana Allah bertanya kepadanya, “Apakah kerjamu di sini, Elia?” Pertanyaan ini bukan karena Allah tidak tahu, melainkan untuk menyingkapkan isi hati Elia. Elia meluapkan keluhannya: ia merasa sendirian, dikhianati umatnya, dan gagal total dalam pelayanannya. Lalu terjadilah rangkaian peristiwa alam: angin besar, gempa bumi, dan api. Namun teks menegaskan bahwa Tuhan tidak hadir di dalam semuanya itu. Baru setelah itu terdengarlah apa yang dalam bahasa Ibrani disebut qôl demāmâ daqqâ— “suara keheningan yang halus.” Justru di dalam keheningan itulah Allah menyatakan diri-Nya. Namun menariknya, setelah pengalaman rohani itu, Elia masih mengulangi keluhan yang sama. Ini menunjukkan betapa dalamnya kelelahan jiwanya. Allah tidak memarahinya. Sebaliknya, Allah memberinya tugas baru: mengurapi raja-raja dan memanggil Elisa sebagai penerusnya. Panggilan itu diakhiri dengan penyingkapan besar: masih ada tujuh ribu orang di Israel yang setia. Elia tidak pernah sendirian.

Makna perikop ini terletak pada cara Allah hadir. Ia bukan hanya Allah dalam mukjizat besar, tetapi Allah yang berbicara dalam keheningan, yang memahami kelelahan batin hamba-Nya, dan yang tetap setia melanjutkan rencana-Nya meskipun pelayan-Nya rapuh. Pesan teologisnya jelas: perasaan gagal dan sepi tidak membatalkan panggilan Allah, dan keheningan pun bisa menjadi ruang perjumpaan ilahi.

Roma  10 : 5 – 15
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57 M dari Korintus. Surat ini bukan sekadar surat pastoral, melainkan risalah teologis paling sistematis dalam Perjanjian Baru. Salah satu persoalan besarnya adalah bagaimana Israel dan bangsa-bangsa lain diselamatkan? Apakah melalui hukum Taurat atau melalui iman kepada Kristus?

Dalam Roma 10:5–15, Paulus menjelaskan bahwa kebenaran berdasarkan Taurat menuntut ketaatan sempurna: “Orang yang melakukannya akan hidup karenanya.” Namun kebenaran berdasarkan iman berbeda sama sekali. Paulus mengutip Ulangan 30 dan menegaskan bahwa firman itu “dekat”—dekat di mulut dan di hati. Keselamatan bukan sesuatu yang harus “didaki” ke surga atau “digali” dari jurang maut. Ia sudah dihadirkan Allah dalam pribadi Yesus Kristus.

Inti Injil dirumuskan dengan sangat sederhana namun radikal: “Jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati, engkau akan diselamatkan.” Iman bukan hanya urusan batiniah, tetapi juga pengakuan publik bahwa Yesus adalah Kyrios—Tuhan, satu gelar yang dalam dunia Romawi hanya layak bagi Kaisar.

Paulus kemudian menegaskan sifat universal keselamatan, “Setiap orang yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” Tidak ada lagi tembok etnis, moral, atau religius. Namun anugerah ini menuntut sebuah rantai tanggung jawab: Bagaimana orang dapat percaya jika mereka tidak mendengar? Bagaimana mereka mendengar jika tidak ada yang memberitakan? Bagaimana orang memberitakan jika mereka tidak diutus? Di sini Paulus mengutip Yesaya 52:7, “Betapa indahnya kaki mereka yang memberitakan kabar baik.”

Makna perikop ini terletak pada dua hal: keselamatan adalah anugerah yang dekat dan tersedia, dan Injil tidak boleh berhenti pada pengalaman pribadi. Pesannya jelas: iman lahir dari pemberitaan dan gereja hidup untuk mewartakan Kristus.

Matius 14 : 22 – 33
Injil Matius ditulis sekitar tahun 70–85 M, ditujukan kepada jemaat yang bergumul mempertahankan iman mereka di tengah tekanan. Perikop ini terjadi segera setelah Yesus memberi makan lima ribu orang. Dalam euforia mukjizat itu, Yesus justru menyuruh murid-murid pergi lebih dulu dan Ia sendiri naik ke gunung untuk berdoa.

Di tengah malam, perahu murid-murid dihantam angin sakal dan gelombang besar. Di saat paling gelap itulah Yesus datang berjalan di atas air. Mereka ketakutan, menyangka melihat hantu. Namun Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” Dalam bahasa Yunani, Yesus berkata egō eimi—“Aku adalah”—ungkapan yang menggemakan nama ilahi dalam Keluaran 3:14.

Petrus lalu meminta tanda, jika itu benar Yesus, ia ingin berjalan di atas air juga. Selama matanya tertuju pada Yesus, ia benar-benar berjalan di atas air. Namun saat ia mulai memperhatikan angin, ia tenggelam. Yesus segera mengulurkan tangan dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Ketika mereka naik ke perahu, angin pun reda. Murid-murid tersungkur dan mengakui: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Makna perikop ini adalah iman bertahan bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena tangan Kristus yang menopang. Pesannya: Yesus tidak selalu mencegah badai, tetapi Ia selalu hadir di dalamnya. Iman boleh goyah, tetapi anugerah-Nya selalu lebih cepat menggapai kita daripada tenggelam kita.

Benang Merah Tiga Bacaan
Allah tidak pernah jauh dari umat-Nya. Ia hadir dalam keheningan, berbicara melalui firman, dan mengulurkan tangan di tengah badai. Ia memanggil manusia untuk percaya, mengaku, melangkah, dan bersaksi—bukan dengan iman yang sempurna, tetapi dengan iman yang ditopang oleh anugerah-Nya sendiri.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Suatu hari, seorang anak kecil ikut ayahnya menyeberangi sungai dengan perahu kayu kecil. Tiba-tiba angin kencang datang, air bergelombang, dan perahu itu mulai oleng. Anak itu ketakutan. Ia memeluk ayahnya sambil berkata dengan suara gemetar, “Pak, kita tenggelam ya? Kita mati ya, Pak?” Ayahnya tersenyum, memegang erat tangan anak itu, lalu berkata, “Tenang, Nak. Selama Bapak ada di sini dan memegang kemudi, kita tidak akan tenggelam.” Angin tidak langsung berhenti. Gelombang tidak langsung tenang. Tetapi hati si anak menjadi tenang. Bukan karena badai sudah berlalu, melainkan karena ia tahu ayahnya ada bersamanya di dalam perahu itu.

Sering kali hidup kita seperti perahu kecil itu. Kita sedang mengayuh pelan-pelan menjalani hidup: mencari nafkah, membesarkan anak, melayani di gereja, menjaga iman. Lalu tiba-tiba datang badai: penyakit, masalah ekonomi, konflik keluarga, kekecewaan dalam pelayanan, atau krisis iman. Kita pun bertanya dalam hati, “Tuhan, Engkau di mana? Masihkah Engkau memegang kemudi hidupku? Masihkah ada harapan?” Hari ini Firman Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Melalui kisah Elia yang putus asa, melalui pengajaran Paulus tentang iman, dan melalui murid-murid Yesus yang hampir tenggelam di danau, Tuhan berkata kepada kita semua, “Aku ada di sini. Aku tidak meninggalkanmu. Aku sedang membangun iman dan pengharapanmu di tengah krisis.”

Hidup kita tidak pernah benar-benar lepas dari krisis. Ada krisis ekonomi yang membuat keluarga-keluarga cemas. Ada krisis kesehatan yang melemahkan tubuh dan iman. Ada krisis relasi yang memecah persatuan. Dan ada krisis rohani ketika kita lelah berdoa, bosan beribadah, dan mulai bertanya: “Masihkah Tuhan peduli?” Bahkan gereja pun tidak kebal terhadap krisis.
Jumlah jemaat bisa menurun. Pelayan bisa letih. Persekutuan bisa menjadi dingin. Harapan bisa memudar. Di tengah situasi seperti itu, Firman Tuhan hari ini datang dengan pesan yang kuat: Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya di tengah krisis. Justru di sanalah Ia membangun iman dan pengharapan kita.

Isi

  1. Elia: Allah Hadir di Tengah Keputusasaan (1 Raja-raja 19:9–18)
    Elia bukan nabi sembarangan. Ia pernah mengalahkan ratusan nabi Baal di Gunung Karmel. Ia menyaksikan kuasa Allah yang dahsyat. Tetapi setelah kemenangan besar itu, Elia justru jatuh dalam krisis iman. Ia ketakutan dengan ancaman Izebel. Ia melarikan diri ke padang gurun. Ia merasa sendirian dan gagal. Ia bersembunyi di sebuah gua di Gunung Horeb. Dan Tuhan bertanya, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Lalu terjadilah angin besar, gempa bumi, datanglah api. Tetapi Tuhan tidak hadir di sana. Tuhan hadir dalam suara angin sepoi-sepoi basa. Di sanalah Elia belajar bahwa Allah tidak selalu hadir dalam hal-hal spektakuler. Allah sering hadir dalam keheningan, qôl demāmâ daqqâ—suara keheningan yang halus. Justru di dalam keheningan itulah Allah menyatakan diri-Nya, dalam air mata, dalam doa yang sunyi. Artinya di tengah krisis dan keputusasaan, Allah tetap bekerja dan memelihara umat-Nya.
  2. Paulus: Iman Lahir dari Firman yang Diberitakan (Roma 10:5–15)
    Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus berbicara tentang dasar iman Kristen. Keselamatan bukan hasil usaha manusia. Keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Paulus berkata, “Jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Lalu Paulus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah, “Bagaimana orang dapat percaya jika tidak mendengar? Bagaimana mereka mendengar jika tidak ada yang memberitakan? Bagaimana orang dapat memberitakan jika tidak diutus?” Di sini Paulus menegaskan: iman lahir dari pendengaran akan Firman Tuhan. Artinya di tengah krisis, iman tidak bertumbuh dari gosip, berita buruk, atau ketakutan. Iman bertumbuh dari Firman yang didengar, direnungkan, dan dihidupi. Gereja dibangun bukan oleh program semata, tetapi oleh Firman yang hidup.
  3. Murid-murid: Kristus Hadir di Tengah Badai (Matius 14:22–33)
    Bacaan Injil membawa kita ke sebuah perahu di tengah danau. Murid-murid Yesus sedang menghadapi badai. Angin sakal. Ombak besar. Malam gelap. Yesus tidak ada di perahu itu. Tiba-tiba mereka melihat Yesus berjalan di atas air. Mereka ketakutan dan menyangka itu hantu. Tetapi Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Petrus mencoba melangkah. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia berjalan. Tetapi ketika ia melihat angin dan ombak, ia mulai tenggelam. Yesus segera mengulurkan tangan dan menolongnya. Pesannya sangat jelas: Kristus tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya. Ia hadir justru di tengah badai.

Ketiga bacaan ini diikat oleh satu pesan besar: Allah hadir, berbicara, dan menopang umat-Nya di tengah krisis.

  • Elia dikuatkan oleh kehadiran Allah dalam keheningan.
  • Jemaat dikuatkan oleh Firman yang diberitakan.
  • Murid-murid dikuatkan oleh kehadiran Kristus di tengah badai.

Pesannya: iman dan pengharapan tidak dibangun saat hidup mudah, tetapi justru di tengah krisis.

Aplikasi bagi Kehidupan Jemaat
Firman ini berbicara langsung kepada kita hari ini. Mungkin ada di antara kita yang seperti Elia: lelah, kecewa, dan merasa sendirian. Mungkin ada yang seperti Petrus: berani melangkah, tetapi mulai tenggelam karena takut. Mungkin ada yang imannya mulai melemah karena jarang mendengar Firman Tuhan. Firman hari ini berkata, “Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia hadir. Ia berbicara. Ia menopang.”

Penutup

  1. Relevansi Pesan Firman
    Firman Tuhan hari ini sangat relevan bagi kehidupan kita:

      • di tengah krisis ekonomi
      • di tengah krisis keluarga
      • di tengah krisis gereja
      • di tengah krisis krisis iman
    • Tuhan berkata, “Ini Aku. Jangan takut!”
  2. Nilai dan Makna Pesan Firman
    Firman ini mengajarkan kita:

      • Allah tidak meninggalkan umat-Nya.
      • Iman dibangun oleh Firman.
      • Kristus menopang orang yang hampir tenggelam.
    • Maknanya: kita boleh rapuh, tetapi kita tidak sendirian.
  3. Komitmen Umat
    Marilah kita memperbarui komitmen kita:

      • untuk setia mendengar dan membaca Firman Tuhan,
      • untuk tetap berdoa di tengah keheningan,
      • untuk saling menopang dalam persekutuan,
      • untuk tetap melangkah bersama Kristus.

Peneguhan Akhir
Hari ini Tuhan berkata kepada kita, “Aku hadir di tengah krisis hidupmu. Aku berbicara kepadamu. Aku menopang langkahmu.” Kiranya kita pulang dengan iman yang diteguhkan dan pengharapan yang diperbarui. Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia sedang membangun iman dan pengharapan kita di tengah krisis. Amin. [SWT].

 

Pujian: KJ. 440  Di Badai Topan Dunia

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing sawijining dinten, wonten lare alit ingkang ndherek bapakipun nyabrang lepen kaliyan baita alit. Dumadakan wonten angin ageng ingkang nempuh, satemah dados ombak lan prahuipun lajeng oleng. Lare alit punika ajrih, ngrangkul bapakipun lan matur kanthi suwanten ingkang geter, “Pak, kita badhe kerem nggih? Kita badhe pejah nggih?” Bapakipun mesem, nyepeng astanipun lare punika kanthi kiyat, lajeng ngendika, “Sabar, Ngger. Sasuwene Bapak isih ana ing kene lan nyekel kendhaline baita, kita ora bakal karem.”  Angin ageng mboten langsung mandeg, ombak ageng mboten langsung mendha. Nanging manahipun lare alit punika saged tentrem, mboten awit prahara ical, nanging mangertos, bapak sesarengan kaliyan piyambakipun ing prahu punika.

Asring gesang kita punika kados dene baita alit. Kita nembe ndhayung alon-alon nglampahi gesang: pados nafkah, nggulawentah putra, ngladosi wonten ing pasamuan (gereja), sarta njagi iman. Nanging dumadakan wonten prahara dugi: sesakit, masalah ekonomi, dredah ing kulawarga, kuciwa ing peladosan, utawi krisis iman. Kita lajeng nyuwun pirsa wonten ing salebeting batos, “Gusti, Paduka wonten ing pundi? Punapa Paduka taksih nyepeng kendhalining gesang kula? Punapa taksih wonten pangajeng-ajeng?” Dinten punika, Sabdanipun Gusti paring wangsulan dhateng pitakenan-pitakenan kalawau. Lumantar cariyosipun Nabi Elia ingkang saweg semplah, piwulangipun Rasul Paulus babagan iman, sarta para sakabat ingkang meh karem wonten ing telaga, Gusti ngandika dhateng kita sadaya, “Aku ana ing kene. Aku ora nilarake kowe. Aku lagi mbangun iman lan pangarep-arepmu ing satengahing krisis.”

Gesang kita mboten nate uwal saking krisis. Wonten krisis ekonomi ingkang njalari kulawarga-kulawarga rumaos sumelang. Wonten krisis kasehatan ingkang ngeringaken badan sarta iman. Wonten krisis sesambungan (relasi) ingkang saged ngrisak manunggalipun pasedherekan. Lan wonten krisis rohani nalika kita rumaos sayah anggenipun ndedonga, bosen anggenipun ngabekti, sarta wiwit nyuwun pirsa, “Punapa Gusti taksih nggatosaken?” Pasamuwuan (gereja) ugi mboten saged uwal saking krisis. Cacahipun pasamuwan saged mandhap. Para pelados saged rumaos sayah. Pasedherekan saged dados asrep. Pangajeng-ajeng saged luntur. Wonten ing satengahing kahanan kados mekaten, Sabdanipun Gusti dinten punika kita tampi kanthi pawarta: Gusti mboten nilaraken umat-Ipun wonten ing satengah-tengahing krisis. Malah wonten ing ngriku Gusti mbangun iman sarta pangajeng-ajeng kita sadaya.

 Isi

  1. Elia: Gusti Allah Rawuh ing Tengahing Kawontenan Ingkang Semplah (1 Para Raja 19:9–18)
    Nabi Elia punika sanes nabi ingkang sembarangan. Piyambakipun nate ngasoraken atusan nabi Baal wonten ing redi (gunung) Karmel. Piyambakipun nyekseni piyambak panguwasanipun Gusti Allah ingkang ngeram-eramaken. Nanging sasampunipun kamenangan ageng punika, nabi Elia malah dhawah wonten ing krisis iman. Piyambakipun rumaos ajrih amargi dipun ancem Izebel. Piyambakipun mlajeng dhateng ara-ara samun, rumaos piyambakan, sarta rumaos gagal. Piyambakipun ndhelik wonten ing satunggaling guwa ing redi Horeb. Lajeng Gusti nyuwun pirsa, “Apa gaweyanmu ing kene, he Elia?” Salajengipun wonten angin ageng, lindhu, sarta latu (api). Nanging Gusti mboten rawuh ing ngriku. Gusti Allah rawuh wonten ing swantenipun angin sumilir. Wonten ing ngriku nabi Elia sinau bilih: Gusti Allah mboten tansah rawuh wonten ing prekawis-prekawis ingkang ngeram-eramaken (spektakuler). Gusti asring rawuh wonten ing kahanan ingkang ening (hening), qôl demāmâ daqqâ—“swanten sepen ingkang alus. Malah wonten ing swasana sepen punika Gusti Allah mratelakaken dhiri-Ipun: wonten ing mripat ingkang ngetokaken luh, sarta wonten ing pandonga ingkang sepi. Tegesipun: wonten ing satengahing krisis sarta kawontenan ingkang semplah, Gusti Allah tetep makarya lan ngrimati umat-Ipun.
  2. Paulus: Iman Lair saking Sabda ingkang Dipunwartosaken (Rum 10:5–15)
    Wonten ing waosan kaping kalih, Rasul Paulus ngendika babagan dhasaripun iman Kristen. Kawilujengan punika sanes asil saking usahanipun manungsa. Kawilujengan punika sih rahmatipun Gusti Allah lumantar iman dhumateng Gusti Yesus Kristus. Rasul Paulus ngendika, “Sabab, manawa sarana tutukmu kowe ngakoni yen Gusti Yesus iku Gusti, lan atimu pracaya yen Gusti Allah wus mungokake Panjenengane saka ing antarane wong mati, kowe bakal kapitulungan rahayu.” Lajeng Rasul Paulus mratelakaken pitakenan-pitakenan ingkang nggugah manah:

      • Kados pundi tiyang saged pitados menawi mboten mirengaken?
      • Kados pundi piyambakipun saged mirengaken menawi mboten wonten ingkang martosaken?
      • Kados pundi tiyang saged martosaken menawi mboten dipun-utus?
    • Wonten ing ngriki Rasul Paulus nandesaken: iman punika lair saking mirengaken Sabdanipun Gusti. Tegesipun: wonten ing satengahing krisis, iman mboten saged tuwuh saking kabar ingkang kabur (gosip), pawarta ingkang awon, utawi raos ajrih. Iman tuwuh saking Sabda ingkang dipun mirengaken, dipun raos-raosaken, sarta dipun lampahi ing gesang padintenan. Pasamuan (gereja) dipun bangun sanes namung saking program kemawon, nanging lumantar Sabdanipun Gusti ingkang gesang.
  3. Para Sakabat: Sang Kristus Rawuh ing Tengahing Prahara (Matius 14:22–33)
    Waosan Injil mbeta kita dhumateng satunggaling baita ing tengahing seganten. Para sakabatipun Gusti Yesus saweg ngadhepi prahara. Wonten angin ageng sarta ombak ingkang nggegirisi. Kawontenanipun peteng dhedhet. Gusti Yesus mboten wonten ing baita punika. Dumadakan para sakabat sumerep Gusti Yesus tindak ing inggiling toya. Para sakabat sami ajrih lan nggadhahi panyangka bilih punika memedi. Nanging Gusti Yesus ngandika, “Padha dienak atimu! Iki Aku, aja wedi!” Petrus nyobi mlampah. Sadangunipun mripatipun tumuju dhumateng Gusti Yesus, piyambakipun saged mlampah. Nanging nalika piyambakipun ningali angin lan ombak, piyambakipun kerem. Gusti Yesus nuli mulungaken astan-Ipun lan nulungi piyambakipun. Piwulangipun cetha sanget: Sang Kristus mboten nate nilaraken para sakabat-Ipun. Panjenenganipun rawuh wonten ing satengahing prahara.

Ringkesan Pawarta
Tigang waosan punika dipun iket dening satunggal pawarta ageng: Gusti Allah rawuh, ngandika, sarta nyengkuyung umat-Ipun wonten ing satengahing krisis.

  • Nabi Elia dipun kiyataken dening rawuhipun Gusti wonten ing suwanten sepen.
  • Pasamuwan dipun kiyataken dening Sabda ingkang dipun wartosaken.
  • Para Sakabat dipun kiyataken dening rawuhipun Sang Kristus ing tengahing prahara.

Pawartanipun: iman sarta pangajeng-ajeng mboten dipun wangun nalika gesang punika gampil, nanging malah wonten ing satengahing krisis.

Panggulawenthah kagem Gesangipun Pasamuwan|
Sabda punika ngandika langsung dhateng kita dinten punika. Mbok bilih wonten ing antawis kita ingkang kados dene Nabi Elia: sayah, kuciwa, sarta rumaos piyambakan. Mbok bilih wonten ingkang kados dene Petrus: kendel mlampah, nanging wiwit karem amargi raos ajrih. Mbok bilih wonten ingkang imanipun wiwit luntur amargi supe mirengaken Sabdanipun Gusti. Sabda dinten punika ngengetaken kita: Gusti mboten nilaraken kita. Panjenenganipun rawuh. Panjenenganipun ngandika. Panjenenganipun nyengkuyung kita sadaya.

Panutup

  1. Treping Pawarta Sabda
    Sabdanipun Gusti dinten punika trep (relevan) kangge gesang kita sadaya:

      • Ing tengahing krisis ekonomi.
      • Ing tengahing krisis kulawarga.
      • Ing tengahing krisis pasamuan (gereja).
      • Ing tengahing krisis iman.
    • Gusti ngendika, “Iki Aku. Aja wedi.”
  2. Aji Sarta Maknaning Pawarta Sabda
    Sabda punika paring piwucal dhateng kita:

      • Gusti Allah mboten nilaraken kita umat-Ipun.
      • Iman punika dipun bangun dening Sabda.
      • Sang Kristus nyengkuyung tiyang ingkang badhe karem.
    • Maknanipun: Kita kenging rumaos ringkih, nanging kita mboten piyambakan.
  3. Janji Umat
    Sumangga kita ngenggalaken janji kita sadaya:

    • Setya mirengaken sarta maos Sabdanipun Gusti.
    • Tetep ndedonga wonten ing satengahing swasana sepen.
    • Sesarengan nyengkuyung wonten ing pasedherekan
    • Tetep mlampah sesarengan kaliyan Sang Kristus.

Peneguhan Pungkasan
Dinten punika Gusti ngendika dhumateng kita, “Aku rawuh ing satengahing krisis uripmu. Aku ngandika marang kowe. Aku nyengkuyung ing lakumu.” Mugi-mugi kita sadaya wangsul kanthi iman ingkang dipun kiyataken sarta pangajeng-ajeng ingkang dipun enggalaken. Gusti Yesus mboten nilaraken kita. Panjenenganipun nembe mbangun iman sarta pangajeng-ajeng kita wonten ing satengahing krisis. Amin. [SWT].

 

Pamuji: KPJ. 178A  Pasrah Sumarah Mring Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak