Tetap Teguh Berpengharapan di Tengah Krisis karena Tuhan Penjamin Hidup Kita Khotbah Minggu 2 Agustus 2026

20 July 2026

Minggu Biasa | PK. Pembangunan GKJW
Stola Putih

Bacaan 1: Yesaya 55 : 1 – 5
Mazmur: Mazmur 145 : 8 – 9, 14 – 21
Bacaan 2: Roma 9 : 1 – 5
Bacaan 3: Matius 14 : 13 – 21

Tema Liturgis: Membangun Iman dan Pengharapan di tengah Krisis
Tema Khotbah: Tetap Teguh Berpengharapan di Tengah Krisis karena Tuhan Penjamin Hidup Kita

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 55 : 1 – 5
Bacaan ini berakar pada masa akhir pembuangan Babel (sekitar pertengahan abad ke-6 SM), dimana bangsa Yehuda hidup dalam pengasingan selama 70 tahun. Nubuat ini merupakan bagian dari Deutero-Yesaya (Yesaya pasal 40-55) yang bertujuan memberikan penghiburan, harapan, dan panggilan untuk kembali kepada TUHAN bagi umat yang putus asa. Bangsa Yehuda berada jauh dari tanah air mereka, Bait Allah hancur, dan kehidupan spiritual mereka goyah. Mereka merasa ditinggalkan oleh Allah dan putus asa. Pembuangan dianggap sebagai akhir dari perlindungan Allah karena dosa dan ketidaksetiaan mereka.

Perikop ini muncul ketika kekaisaran Babel mulai melemah dan Persia di bawah Koresy Agung mulai bangkit, memberikan secercah harapan bahwa pembuangan akan berakhir dan mereka diizinkan kembali ke Yerusalem. Yesaya menyerukan agar mereka yang “haus dan tidak punya uang” datang. Ini merujuk pada kondisi fisik dan spiritual bangsa buangan yang miskin dan lapar, diundang untuk menikmati berkat Allah (air, susu, anggur) secara cuma-cuma, tanpa perlu membayar. Tuhan menjanjikan “perjanjian abadi” berdasarkan kasih setia kepada Daud. Hal ini bertujuan mengingatkan bangsa yang terbuang bahwa Allah tidak melupakan janji-Nya, meskipun mereka telah gagal. Umat yang dulu terpuruk dipanggil kembali untuk menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa lain. TUHAN akan mengagungkan umat-Nya, sehingga bangsa-bangsa asing akan datang kepada mereka, mengenali Tuhan Allah Israel.

Secara ringkas, Yesaya 55:1-5 adalah seruan untuk bertobat dan percaya pada pemulihan Allah, mengalihkan fokus dari penderitaan di Babel menuju harapan akan kepulangan ke Yerusalem dan berkat yang melimpah, yang didasarkan pada kasih setia Allah yang teguh.

Roma 9 : 1 – 5
Perikop ini sangat jelas menggambarkan kesedihan mendalam Rasul Paulus atas penolakan bangsanya, bangsa Yahudi, terhadap Mesias (Yesus), sementara ia menegaskan status istimewa dan berkat yang Allah berikan kepada mereka, seperti janji-janji ilahi, keistimewaan keturunan Abraham, Musa, dan para nabi, serta anugerah Kristus yang adalah Allah, yang menegaskan bahwa tujuan Allah akan tetap digenapi meski banyak orang Yahudi saat itu tidak percaya. Paulus menyatakan kesedihannya yang besar dan kesakitannya yang tak kunjung padam di dalam hatinya karena banyak orang Yahudi, bangsanya sendiri, yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias, padahal mereka telah menerima banyak karunia ilahi. Ia mengingatkan tentang keistimewaan Israel yang luar biasa: mereka adalah umat pilihan, pewaris janji-janji Allah, dan di antara mereka lahirlah Kristus sebagai manusia (secara daging). Ia menyebutkan bahwa Israel memiliki hak untuk menjadi anak-anak Allah, pewaris perwalian, penyembahan, janji-janji, hukum Taurat, ibadah, dan janji-janji (Ay. 4-5). Ayat 5 menutup dengan penegasan yang kuat bahwa Kristus, dari segi manusiawi-Nya, berasal dari Israel, tetapi Ia adalah Allah yang di atas segalanya dan patut dipuji selamanya, menunjukkan kemuliaan Allah yang sejati dalam diri Mesias. Ayat-ayat ini adalah pendahuluan untuk tiga pasal berikutnya (Roma 9-11) di mana Paulus membahas isu rumit tentang mengapa banyak orang Yahudi menolak Injil sementara orang non-Yahudi banyak yang menerima, dan bagaimana rencana Allah bagi Israel akan tetap digenapi.

Secara historis, perikop ini menjawab pertanyaan tentang hubungan Israel dengan rencana keselamatan Allah setelah penolakan mereka terhadap Kristus, menekankan bahwa meskipun ada penolakan, Allah tetap setia pada janji-Nya dan kedaulatan-Nya tidak terbatas.

Matius 14 : 13 – 21
Latar belakang perikop ini adalah kisah mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang di tempat sunyi dekat Betsaida setelah mendengar kematian Yohanes Pembaptis. Yesus menunjukkan belas kasihan-Nya kepada orang banyak yang lapar, menantang para murid untuk ikut serta dalam tanggung jawab, dan menegaskan bahwa dengan iman, hal kecil (lima roti dan dua ikan) dapat menjadi berkat besar melalui kuasa ilahi-Nya. Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Allah dan kepemimpinan yang berbelas kasih. Yesus mendengar kabar kematian Yohanes Pembaptis, yang menggerakkan-Nya untuk menyendiri ke tempat sunyi (Ay. 13). Meskipun Yesus ingin menyendiri, orang banyak tetap mengikuti-Nya karena melihat mukjizat penyembuhan yang dilakukan-Nya (Ay. 14). Ia melihat orang banyak itu seperti domba yang tidak bergembala dan merasa iba (Ay. 14, Mrk. 6:34). Menjelang sore, para murid menyarankan agar orang banyak itu diusir untuk membeli makanan, tetapi Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberi mereka makan, “Kamu harus memberi mereka makan” (Ay. 15-16). Murid-murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan (Ay. 17). Yesus mengambil makanan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-murid untuk dibagikan. Semua orang makan sampai kenyang, dan sisa makanan terkumpul 12 bakul (Ay. 19-20). Mukjizat ini menegaskan Yesus sebagai Mesias yang menyediakan kebutuhan fisik dan spiritual, seperti Musa memberi makan Israel di padang gurun (konteks Perjanjian Lama). Kisah ini adalah model kepemimpinan Yesus yang mengedepankan belas kasihan dan solidaritas, bukan mengabaikan penderitaan orang lain.

Perikop ini juga mengajarkan bahwa pengikut Kristus harus terlibat dalam pelayanan, memulai dengan apa yang mereka miliki, dan menyerahkannya kepada Yesus untuk dimultiplikasi. Bacaan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dicirikan oleh kelimpahan dan perhatian terhadap kebutuhan dasar manusia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga teks ini bersama-sama menekankan bahwa undangan kasih karunia dan pemenuhan janji Tuhan melalui Kristus, yang melibatkan penyediaan hidup kekal (Yesaya), keutamaan anugerah (Roma), dan tanda nyata Kerajaan Allah dalam memberi makan dan menyembuhkan (Matius), menunjukkan Yesus sebagai Sumber Berkat yang memenuhi dahaga spiritual dan fisik, serta menggenapi perjanjian Daud bagi semua bangsa, bukan hanya Israel. Inilah modal utama pengikut Kristus zaman sekarang dalam membangun iman dan pengharapan di tengah krisis.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Di tengah masa krisis, di mana harga-harga naik dan pekerjaan sulit, ada seorang bapak bernama Pak Gupuh. Pak Gupuh ini imannya sedang goyah, persis seperti murid-murid Yesus yang panik saat melihat 5.000 orang lapar di Matius 14.

Suatu hari, di sebuah persekutuan, Pak Gupuh mengeluh, “Aduh, susah benar hidup sekarang. Rencana Tuhan itu membingungkan. Kalau Yesaya bilang ‘datanglah, beli susu tanpa uang’, kenapa di dompet saya uangnya pas-pasan? Harapan itu rasanya setipis tisu dibagi dua!” Mendengar keluhan itu, seorang ibu tua, Ibu Wasis, tersenyum dan bercerita, “Pak Gupuh, ingat tidak cerita Yesus memberi makan 5.000 orang?” “Ya ingat, Bu. Tapikan itu dulu, ribuan tahun lalu,” jawab Pak Gupuh. Ibu Wasis lanjut bercerita, “Bayangkan murid-murid waktu itu. Saat Yesus bilang, ‘Kamu harus memberi mereka makan’, rasanya seperti disuruh bayar utang negara pakai uang receh di dompet. Panik! Tapi, ada seorang bocah kecil yang membawa 5 roti dan 2 ikan. Bayangkan, 5 roti dan 2 ikan buat 5.000 orang! Kalau pakai logika, itu namanya krisis total. Tapi tahu apa yang lucu? Bocah itu tidak panik. Dia cuma mikir, ‘Yang penting saya bawa bekal, Yesus yang urus sisanya.’ Dia menyerahkan apa yang dia punya, bukan apa yang dia tidak punya. Bocah itu mengajarkan kita, di tengah krisis, jangan fokus pada ‘kekurangan’ (Roma 9:2-3 – kesedihan Paulus), tapi fokus pada ‘Siapa yang berjanji’ (Yesaya 55:3 – kasih setia Tuhan). Pak Gupuh tertunduk. Ibu Wasis menyimpulkan, “Sering kali, kita mau beriman, tapi mau yang instan. Ibarat mau makan, tapi malas masak, mau kenyang tapi gak mau makan. Padahal Tuhan bilang, ‘Dengarkanlah Aku… dan jiwamu akan hidup’. Sering kali yang krisis bukan dompet kita Pak, tapi ‘pendengaran’ kita pada janji Tuhan.” Pak Gupuh tertawa kecil. “Benar juga, Bu. Saya terlalu sibuk menghitung roti, sampai lupa kalau yang pegang roti itu Yesus.”

Isi
Saat ini, kita hidup di tengah berbagai krisis: krisis ekonomi, ketidakpastian masa depan, kesehatan, hingga krisis moral. Situasi ini sering kali membuat kita lelah, takut, dan putus asa. Seolah-olah sumber daya kita tidak cukup untuk bertahan. Firman Tuhan hari ini hadir untuk meneguhkan iman kita dan memberikan pengharapan baru bahwa di dalam krisis sekalipun, Allah hadir sebagai sumber pemeliharaan yang tidak terbatas.

  1. Undangan untuk Datang dan Menerima (Yesaya 55:1-5)
    Yesaya 55 dimulai dengan undangan universal: “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Belilah gandum dan makanlah” (Yesaya 55:1). Di tengah krisis ekonomi atau “kekeringan” hidup, Tuhan tidak menuntut bayaran atau kehebatan kita. Tuhan mengundang kita untuk datang apa adanya—bahkan jika kita merasa miskin secara rohani maupun material. Jangan habiskan tenaga mencari kepuasan pada hal-hal yang tidak mengenyangkan (uang, kuasa, kepintaran manusia). Bangun iman dengan mendengarkan firman-Nya, karena di dalam Dialah ada “perjanjian abadi” yang teguh. Krisis adalah waktu terbaik untuk bersandar penuh pada kasih setia Tuhan, bukan pada kekuatan diri kita sendiri
  2. Belas Kasihan di Tengah Keterbatasan (Matius 14:13-21)
    Kisah Yesus memberi makan 5.000 orang adalah cerminan situasi krisis. Tempat sunyi, hari sudah malam, dan makanan tidak ada (Matius 14:15). Murid-murid fokus pada keterbatasan (“hanya lima roti dan dua ikan”), tetapi Yesus fokus pada belas kasihan dan kuasa Allah. Yesus mengambil apa yang sedikit itu, mengucap berkat, dan terjadilah mukjizat. Saat krisis melanda, jangan fokus pada kekurangan. Bawa keterbatasan kita—waktu, dana, kemampuan yang terbatas—kepada Yesus. Pengharapan kita bukan pada jumlah yang kita miliki, melainkan pada tangan Yesus yang memecah-mecahkan roti dan memberkati. Tuhan sanggup mencukupkan yang kurang, bahkan memberikan sisa berkat (12 bakul penuh).
  3. Pengharapan yang Teguh Berlandaskan Kasih (Roma 9:1-5)
    Rasul Paulus menunjukkan hati yang sedih atas kondisi saudara-saudara sebangsanya (Yahudi) yang menolak Kristus, namun ia tetap memiliki pengharapan dalam anugerah Allah. Iman sejati tidak membuat kita egois. Di tengah krisis, kita dipanggil untuk memiliki bela rasa/ kompasio (συμπάθεια: sympatheia) seperti Paulus dan Yesus, peduli pada keselamatan dan pergumulan orang lain.
    Membangun iman berarti kita mempercayakan rencana bangsa, gereja dan hidup kita ke dalam kedaulatan Allah, sambil tetap aktif berdoa dan berbuat baik. Krisis tidak mengubah kasih setia Allah pada kita umat-Nya.

Penutup
Krisis saat ini mungkin nyata, tetapi Allah kita jauh lebih nyata. Marilah beriman kepada TUHAN (Yesaya 55), berhentilah mencari ketenangan semu. Bawa “roti dan ikan” kita (Matius 14), berikan keterbatasan kita ke dalam tangan Yesus. Hiduplah dalam belas kasih (Roma 9), jadilah pembawa harapan bagi sesama. Iman dan pengharapan kita dibangun bukan karena situasi menjadi mudah, tetapi karena kita tahu siapa yang memegang kendali atas hidup kita.

Dalam Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW saat ini, kita diajak kembali merenungkan bagaimana tangan Tuhan yang perkasa tetap menolong, melindungi, dan menyelamatkan GKJW dalam berbagai krisis yang dihadapi sejak berdirinya sampai saat ini. Oleh karena itu, jika saat ini iman kita goyah ketika melihat, merasakan, dan mengikuti bagaimana krisis dan perjalanan GKJW mulai dari jemaat kita, Majelis Daerah, Majelis Agung, seakan-akan timbul pertanyaan di hati kita, “Apakah GKJW ini masih ada sampai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua?” Maka percayalah bahwa GKJW ini bukan hanya milik kita, lebih dari itu kita tahu siapa yang memegang kendali GKJW, yakni Tuhan Yesus Sang Imanuel. Amin. [tes].

 

PujianNKB.  116   Siapa Yang Berpegang

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing satengahing mangsa pakewed, ing pundi-pundi regi barang sami mindhak lan pados padamelan ewed, wonten priyantun kaparingan asma Pak Gupuh. Pak Gupuh punika nembe goyah kapitadosanipun, sami kaliyan para sakabatipun Gusti Yesus ingkang gupuh rikala ningali 5.000 tiyang sami dereng nedha kados ing Mateus 14 wau.

Ing sawijining dinten, wonten ing kempalan tiyang pitados, Pak Gupuh ngudha rasa, “Aduh, angel temen urip ing jaman saiki, rancangane Gusti mumetake sirahku, ning Kitab Yesaya ngendika, “mrenea, tukua susu ora usah nganggo duwit”, nanging kenapa ning dompetku duwite ya pas-pasan? Pangarepan iku prasasat tipis kaya tisu dipara loro!” Mireng pasambat mekaten, priyantun putri ingkang sampun sepuh, Ibu Wasis mesem lan paring pitutur, “Pak Gupuh, enget mboten Gusti Yesus nate maringi tetedhan tiyang 5000?” “Inggih enget, Bu. Nanging punika kala rumiyin, ewon taun kepengker to Bu” wangsulanipun pak Gupuh. Ibu Wasis nglajengaken ngandika, “Cobi panjenengan galih, para sakabat wekdal semanten. Rikala Gusti Yesus paring dawuh, “Kowe kudu manehi tedhan marang wong kuwi kabeh”, punika raosipun kados dipun utus bayar utang negara ngangge arta receh ing dompet. GUPUH! Inggih mboten? “Inggih, kula Gupuh Bu..” selanipun Pak Gupuh. “Ngapunten pak, sanes panjenengan ingkang kula maksud” unjukipun Ibu Wasis. “Nanging wonten salah satungalipun lare alit mbeta 5 roti lan 2 ulam. Panjenengan pirsa, 5 roti lan 2 ulam kangge 5000 tiyang! Menawi ngagem pamikir, punika kasebat krisis total lho pak, nanging wonten ingkang lucu, pirsa mboten? Lare punika mboten gupuh babar pisan.” Piyambakipun namung mikir, “Sing penting aku ngaturake bontotanku, sisane Gusti Yesus sing ngurusi.” Piyambakanipun ngaturaken punapa ingkang dipun gadahi sanes saking punapa ingkang mboten dipun gadahi. Lare wau memucal kita sami, bilih ing satengahipun krisis, mboten pareng namung paring kawigatosan tumrap ‘kekirangan’ (Rum. 9:2-3), nanging mangga atur kawigatosan ing bab ‘Sinten ingkang paring prajanji’ (Yes. 55:3). Pak Gupuh kraos lungkrah manahipun. Ibu Wasis ngandika, “Asring kita gadahi iman ingkang sarwa ringkes, cekak aos. Ibarat purun nedha, nanging wegah masak, pingin tuwuk nanging wegah nedha. Padahal Gusti dawuh, “Rungokna Aku… lan jiwamu bakal urip”. Asring ingkang krisis sejatosipun sanes dompet kita Pak Gupuh, nanging pangrungon kita ing prajanjinipun Gusti. Pak Gupuh mesem kecut, “Inggih leres Bu, kula asring mempeng ngetang roti, ngantos kesupen ingkang nyepeng roti punika Gusti Yesus.”

Isi
Samangke kita gesang ing satengahing krisis punapa kemawon, antawispun: krisis ekonomi, mangsa pangajeng ingkang mboten sarwa pinasthi, krisis kwarasan, ngantos krisis moral. Kawontenan ingkang mekaten ndadosaken kita lungkrah, ajrih, lan kendhat pangajeng, kados-kadosa punapa ingkang kita gadahi mboten nyekapi sadaya kabetahan kita. Sabda pangandikanipun Gusti dinten punika rawuh kangge ngantebaken kapitadosan kita saha maringi pangajeng-ajeng enggal bilih ing salebeting krisis punapa kemawon, Gusti Allah rawuh minangka tuking pitulungan kita ingkang mboten winates.

  1. Pangulem kangge Dugi lan Nampi (Yesaya 55:1-5)
    Kitab Yesaya 55 kawiwitan pangulem kangge sadaya tiyang ing donya: “He sakehe wong kang ngelak, padha mrenea lan ngombea banyu, apadene sira kang ora duwe dhuwit, mrenea! Nampanana gandum tanpa bayar lan mangana, uga anggur lan susu tanpa bayar!” Ing satengahing krisis ekonomi utawi “kesadan” gesang, Gusti mboten nuntut bayaran utawi kaluwihan kita. Gusti paring pangulem kita sami dugi kanthi andhap asor lan tulus – langkung malih menawi kita ngraosaken miskin karohanen utawi bandha brana. Sampun ngantos nelasaken tenaga madosi bab tuwuking kadonyan (bandha, panguwaos, landeping pikir manungsa). Mangga sami mbangun kapitadosan kanthi mirengaken Sabda Pangandikanipun Gusti, amargi ing salebeting Gusti mawon, wonten “prajanji abadi” ingkang bakuh. Krisis punika wekdal ingkang sae kangge kita masrahaken sawetahipun dhiri kita ing Sih susetyanipun Gusti, sanes srana kakiyatan dhiri kita piyambak.
  2. Welas Asihipun Gusti ing Satengahing Kawontenan kang Sarwa Winates (Mateus 14:13-21)
    Wonten ing waosan kaping tiga, Gusti Yesus maringi tetedhan kangge tiyang cacahipun 5.000, punika nedahaken kawontenan krisis. Papan panggenan kang sepi, sampun dalu, lan mboten wonten tetedhan. Para sakabat sami paring kawigatosan ing bab kang sarwa winates (namung wonten 5 roti lan 2 ulam), nanging Gusti Yesus paring kawigatosan ing bab welas asih saha panguwaosipun Gusti Allah. Gusti Yesus mendhet punapa ingkang sekedhik punika, lajeng mangucap berkah, lan dadosa mukjijat. Ing salebeting krisis, mangga kita sami mbeta kakirangan kita: wekdal, bandha, kesagahan kang winates, dhumateng Gusti Yesus. Pangajeng-ajeng kita sanes wonten ing cacahipun ingkang kita gadahi, nanging wonten ing astanipun Gusti Yesus ingkang nyuwil-nyuwil roti lan mberkahi. Gusti saged nyekapaken punapa ingkang kirang, langkung malih ngantos wonten sisa berkat (12 wakul kebag).
  3. Pangajeng-ajeng kang Bakuh Kalandesan Katresnan (Roma 9:1-5)
    Rasul Paulus nedahaken manah kang sedih awit kawontenan sedherek-sedherek nunggil bangsa (Yahudi) ingkang mbucal Kristus, nanging piyambakipun tetep kagungan pangajeng-ajeng ing sajroning Sih Rahmatipun Gusti Allah. Kapitadosan ingkang satuhu mboten badhe ndadosaken kita mikir dhiri kita piyambak. Ing salebeting krisis, kita tinimbalan nggadhahi welas asih utawi tepa slira/kompasio (συμπάθεια: sympatheia) kados dene rasul Paulus saha Gusti Yesus, kagungan tepa slira tumrap kawilujengan lan prekawis liyan.
    Mbangun kapitadosan tegesipun kita mitadosaken rancangan bangsa, greja, lan gesang kita ing sajroning Panguwaosipun Gusti Allah, sesarengan tetep sregep ndedonga lan nindakaken pandamelan becik. Krisis mboten badhe ngewah-ewahi sih susetyanipun Gusti Allah tumrap umat kagungan-Ipun.

Panutup
Krisis samangke mbok menawi pancen nyata, ananging Gusti Allah langkung malih nyata sanyatanipun. Sumangga kita tansah pitados ing Gusti, sami mandeg madosi nikmating donya ingkang semu. Mangga sami ngasta ‘roti lan ulam’ kita, sami ngaturaken karingkihan kita ing astanipun Gusti Yesus. Sami gesang ing sajroning welas asih utawi tepa slira, dadosa priyantun ingkang paring pangajeng-ajeng ing Gusti tumrap sepadha. Iman kapitadosan lan pangajeng-ajeng kita madeg sanes saking bab ingkang gampil, nanging kita sami nyumurupi sinten ingkang nyepeng kemudi gesang kita.

Ing sajroning Pambujanan Suci Dinten Pambangunan GKJW punika, tamtu kita dipun engetaken malih kadospundi astanipun Gusti ingkang digdaya tansah paring pitulungan, pangreksa, lan kawilujengan dhateng GKJW ing mawarni-warni krisis saidenging wekdal, wiwit madeg ngantos samangke. Pramila menawi iman kapitadosan kita owah rikala mirsani, ngraosaken, lan ndherekaken kados pundi krisis lan lumampahing GKJW wiwit pasamuwan kita, Majelis Daerah, ngantos Majelis Agung, kados-kadosa tuwuh pitakenan ing manah kita, “Apa GKJW iki isih ana tekan Gusti Yesus rawuh kaping pindho?”. Mangga kita sami pitados bilih GKJW punika mboten namung kita ingkang nggadahi, langkung malih saking punika, kita pirsa sinten ingkang nyepeng kemudi GKJW, inggih punika Gusti Yesus Mustakaning Pasamuwan. Amin. [tes].

 

Pamuji: KPJ. 338  Greja Prasasat Baita

Renungan Harian

Renungan Harian Anak