Menjadi Murid Yesus adalah Sebuah Keputusan Bukan Kebetulan Khotbah Minggu 8 September 2019

Minggu Biasa XII
Stola  Hijau

 

Bacaan 1         :  Ulangan 30 : 15 – 20
Bacaan 2
         :  Filemon 1 : 1 – 21
Bacaan 3 
        :  Lukas 14 : 25 – 33

Tema Liturgis  :  Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat kepada Kebenaran
Tema Khotbah
:  Menjadi Murid Yesus adalah Sebuah Keputusan Bukan Kebetulan

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 30 : 15 – 20

Bagian bacaan kita ini adalah puncak dari Kitab Ulangan yang menggambarkan masa transisi kepemimpinan dari Musa kepada Yosua. Dalam bagian ini, Musa memperingatkan Bangsa Israel bahwa kini masa depan mereka di tanah perjanjian yang disediakan TUHAN itu tergantung dari pilihan yang mereka buat. Musa mengingatkan Israel bagaimana dalam kepemimpinannya, mereka telah menghadapi kemungkinan antara kehidupan atau kematian dan keberuntungan atau kecelakaan (ay.15). Jelang memasuki tanah yang telah dijanjikan itu umat Israel harus benar-benar memastikan dirinya untuk hidup sesuai dengan jalan TUHAN dan berpegang pada ketetapanNya saja, jika demikian mereka akan berlimpah berkat (ay.16). Sebaliknya, jika hati mereka berpaling  dan memutuskan untuk beribadah pada allah lain mereka akan segera binasa dan tidak akan mampu menyeberangi Sungai Yordan untuk menduduki tanah itu (ay. 17-18). Dua pilihan kembali ditegaskan dalam ayat 19: kehidupan dan berkat di sisi yang satu, atau kematian dan kutuk di sisi yang lain. Saran yang diberikan Musa bagi umat TUHAN pun jelas, “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup.”

Dikotomi pilihan hidup-mati dan berkat-kutuk ini menunjukkan struktur teologi khas deuteronomis. Musa mengulangi kembali hukum dan undang-undang TUHAN kepada Israel yang adalah angkatan baru itu, Ia ingin memastikan bahwa mereka tidak melupakan hukum Tuhan dan terus menaatinya. Karena itu, kitab ini disebut Deuteronomium (ulangan undang-undang). Kitab Ulangan menggambarkan bahwa tanah perjanjian itu adalah sebuah peluang dan kesempatan bagi umat untuk hidup dengan lebih baik. Namun pemberian TUHAN itu tidak berlaku secara otomatis, kehidupan yang baik bagi Israel tergantung dari cara hidup yang mereka pilih : taat pada aturan TUHAN berarti berkat dan jika sebaliknya akan berbuah laknat. Jadi, tradisi deuteronomis menekankan bahwa pilihan dan tindakan manusia sangat penting untuk membentuk kehidupan mereka sendiri. Pemilihan yang dilakukan pun harus jelas dan tegas, hidup atau mati; berkat atau kutuk; hitam atau putih, tidak boleh setengah-setengah, tidak bisa abu-bau.

Filemon 1 : 1 – 21

Surat ini ditujukan Paulus kepada Filemon, yang disebutnya sebagai “teman sekerja yang terkasih” (ay.1). Filemon menjadi Kristen berkat pekerjaan Paulus di Efesus, jadi Paulus dan Filemon telah saling mengenal sebelumnya (ay.19). Nampaknya Filemon adalah pemuka dalam sebuah jemaat, karena ia menyediakan rumahnya bagi para jemaat Tuhan (ay.2) dan menunjukkan kasihnya kepada orang-orang kudus (ay.5). Menariknya, saat menuliskan identitas sebagai penulis, Paulus tidak mencantumkan keterangan otoritas seperti “rasul Kristus Yesus” atau semacamnya. Di ay. 1, Paulus hanya menyebut dirinya sebagai “seorang hukuman karena Kristus”. Hal ini menunjukkan bagaimana Paulus menempatkan dirinya meneladani Kristus yang menderita, sekaligus solider dengan Onesimus -si budak itu- yang juga sedang ada dalam derita. Identitas pengirim yang dicantumkan Paulus mengindikasikan bahwa meski surat ini nampaknya ditujukan pada Filemon secara pribadi, namun sesungguhnya surat ini berlaku pada komunitas lebih luas yang menerima kewibawaan Paulus sebagai rasul Kristus.

Surat ini pertama-tama ditulis karena perjumpaan Paulus dengan Onesimus di penjara. Onesimus adalah budak pelarian yang tertangkap dan akhirnya dihukum penjara sebelum dikembalikan pada tuannya. Sang tuan sebenarnya berhak untuk memberikan hukuman dalam berbagai bentuk seperti: mencambuk, memotong telinga, memberikan cap di dahi dengan besi panas dan bahkan membunuh budaknya, karena budak yang melarikan diri adalah kejahatan serius di muka hukum saat itu.Tempat pertemuan Paulus dan Onesimus adalah penjara (kemungkinan di Kota Roma), tempat yang penuh dengan penderitaan dan ketakutan. Namun dalam penderitaan dan ketakutan itu, Paulus menyuarakan inti berita Injil Kristus yaitu kasih. Sebagai rasul yang mengenalkan Filemon pada Kristus, sebenarnya Paulus bisa saja memerintahkan Filemon untuk membebaskan Onesimus. Namun, Paulus tidak menggunakan otoritas rasulinya untuk berbuat demikian, ia paham bahwa Onesimus ada dalam kuasa Filemon sebagai tuannya. Dalam surat ini sebenarnya Paulus sedang menekankan agar Filemon mendasarkan segala tindakan dan keputusannya pada Onesimus yang memang bersalah, hanya berdasarkan kasih.

Lukas 14 : 25 – 33

Jika membaca Injil Lukas secara naratif, kita akan segera bisa merasakan bahwa perikop ini mengubah setting dan jalan cerita secara tiba-tiba. Jika di ay. 1-24 setting tempatnya adalah di sebuah rumah yang memberikan kesan domestik dan privat, di ay.25 tiba-tiba setting tempat berpindah pada sebuah perjalanan yang memberikan kesan publik dan sangat terbuka. Dalam perjalanan itu Tuhan Yesus diikuti oleh banyak sekali orang yang berbondong-bondong mengikuti Dia. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Yesus berpaling dan memberikan perintah yang mengejutkan: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (ay. 26). Perintah dengan frase yang hampir sama ini diulang kembali di ay. 26, 27 dan 33. Teks ini terkesan sangat janggal jika dibandingkan dengan ajaran kasih khas Yesus. Bagaimana mungkin seseorang harus membenci keluarga terdekatnya baru kemudian boleh menjadi murid Yesus?

Pernyataan Yesus ini harus dipahami berdasarkan konteks yang disajikan Lukas secara lengkap. Di ay. 25, orang banyak yang disebut itu bukanlah orang yang dipanggil secara khusus, namun mereka memilih untuk datang pada Yesus. Masalahnya, mereka yang mengikuti Yesus dengan sangat antusias itu tidak mengerti siapa yang diikutinya dan apa yang harus mereka hadapi jika mengikuti-Nya. Berdasarkan pengharapan mesianik yang mereka imani, mereka percaya bahwa Yesuslah yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi dan membawa kondisi utopis dimana Israel kembali menjadi kerajaan yang merdeka dan berdaulat bak di jaman keemasan Daud dan Salomo. Jadi orang banyak itu digerakkan oleh harapan yang keliru, mengira sedang berjalan bersama calon pemenang atas Roma namun sebenarnya sedang mengikut Juruselamat dunia. Orang banyak itu tak tahu kemana perjalanan Yesus tertuju. Perjalanan ini adalah perjalanan Yesus menuju derita, bukan perjalanan menuju tahta. Karena alasan inilah, Tuhan Yesus berusaha menjelaskan makna karya penyelamatan-Nya yang mesti melalui jalan derita dan sengsara, sangat berbeda dengan harapan utopis mereka tentang kemenangan politis gilang gemilang. Dia menunjukkan penderitaan yang harus pula ditanggung oleh para pengikut-Nya. Kata “membenci” (yun: miseoo) sebenarnya adalah ekspresi khas semitik yang berarti “berpaling dari” dan “melepaskan diri dari”. Jadi sebenarnya secara tekstual, kata “membenci” dalam ay. 26 tidak ada kaitannya dengan perasaan benci, namun lebih merujuk pada keterpisahan diri dari keluarga akibat mengikut Kristus. “Memikul salib dan mengikut Aku” (ay.27) adalah syarat lanjutan yang diberikan-Nya bagi orang yang mau menjadi murid. Salib melambangkan penderitaan karena Kristus, namun perlu diingat bahwa tidak semua derita adalah salib. Jadi, melalui perintah ini kita bisa menyimpulkan bahwa jalan penderitaan harus secara konsisten dilalui oleh tiap orang yang ingin menjadi murid Kristus. Dari sini kita bisa melihat teologi Lukas yang ingin menunjukkan bahwa jalan Kristus adalah jalan sengsara, bukan jalan foya-foya apalagi menuju tahta.

Dua perumpamaan yang menyusul di ay.28-32 mengajak orang banyak itu berhitung dan menimbang-nimbang kembali keputusan mereka. Perumpamaan pertama berlatarbelakang agraris, yang menggambarkan perencanaan pembangunan sebuah menara di kebun anggur. Bagi para petani anggur, menara di tengah kebun sangat penting untuk menjaga kebun mereka dari hama dan juga pencuri. Sedang perumpamaan kedua menggambarkan pertimbangan strategis seorang raja yang akan segera menghadapi perang. Kedua perumpamaan ini menunjukkan, bahwa baik di kota maupun di desa, baik raja maupun rakyat jelata, semua orang pada dasarnya akan berpikir transaksional. Pasti ada hitungan untung atau rugi. Demikianlah Yesus berusaha membuat orang banyak itu mempertimbangkan kembali keputusan mereka menjadi murid-Nya.

Perikop ini lalu ditutup dengan analogi garam yang kehilangan asinnya. Tentu analogi ini berdasarkan garam yang ada di Palestina di sekitar paruh abad pertama, yang masih tercampur dengan bahan mineral lainnya sehingga bisa kehilangan rasa asinnya. Garam memang baik, karena ia adalah salah satu komoditi utama saat itu. Garam tidak hanya berharga karena mampu memberikan rasa pada makanan, namun garam juga dapat berfungsi sebagai pengawet dan bahkan juga digunakan sebagai antiseptik. Namun, seberapapun baik dan berharganya garam, ia tak berarti apa-apa jika kehilangan asinnya. Demikian juga orang banyak itu, yang nampaknya sangat antusias dan semangat menjadi murid dan pengikut Kristus namun jika mereka memahami jalan apa yang harus ditempuh -Nya, bukan tidak mungkin semangat dan antusiasme itu menguap. Hangat-hangat tai ayam, garam yang kehilangan asinnya.

Benang Merah Tiga Bacaan

Menjadi murid Kristus bukanlah sebuah kebetulan, namun sebuah keputusan atas dua pilihan. Pilihannya sejelas pilihan yang diberikan Musa pada Israel: taat pada jalan TUHAN berarti hidup penuh berkat, namun jika memilih khianat, kematian dan kutuk akan menjadi ganjaran. Menjadi murid Kristus juga berimplikasi pada gaya hidup yang harus didasarkan pada perintah Kristus, yaitu: kasih.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang berusia 108 tahun? Mungkin yang kita bayangkan adalah seorang tua renta yang hanya bisa terbaring di ranjang, menunggu bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Namun bayangan macam ini segera pupus jika kita melihat apa yang dilakukan oleh Fauja Singh, lelaki India kelahiran 1911 yang kini tinggal di Inggris ini masih aktif mengikuti berbagai kejuaraan maraton. Ia mampu menyelesaikan maraton dengan jarak 42km dalam waktu hampir 7 jam. Ia telah banyak berkiprah di even olah raga internasional, dari tampil menjadi model pakaian olah raga merk Adidas bersama David Beckham sampai pada menjadi orang pertama yang memecahkan 8 rekor waktu berbasis usia dalam Ontario Masters Association di Ontario, Kanada. Dalam wawancara, Fauja menyatakan bahwa kebugarannya berasal dari gaya hidupnya yang tak pernah berubah sejak muda. Ia memilih menjadi seorang vegetarian dan tak banyak mengkonsumsi beragam makanan, sehari-hari ia hanya memakan chappati (roti gandum bundar yang dibakar), kacang-kacangan, sayur hijau, susu dan yogurt. Ia tak pernah makan nasi putih dan segala makanan yang digoreng. Selain makanan, Fauja juga mengasup air putih dan teh jahe secukupnya. Ia juga mengatakan tak pernah tidur terlalu larut malam dan bangun sebelum matahari terbit. Bagi Fauja, lari adalah caranya untuk dekat dengan Rabb-nya dan berada jauh dari pikiran-pikiran negatif.

Demikianlah pilihan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten ternyata bisa membuat seorang Fauja masih sangat sehat dan bugar di usianya yang ke-108.  Apa yang ia miliki sekarang, jelas merupakan hasil investasi gaya hidup yang telah ditanamnya sejak masih muda. Fauja telah memilih dan memutuskan untuk menjalani pilihan hidupnya dengan konsisten.

Isi

Saudara jemaat yang terkasih, bukankah kita pun memiliki peluang untuk terus hidup sehat dan bugar sama seperti Fauja tadi? Tapi kenapa baru umur segini saja, keluhan kita sudah banyak? Ya kolesterol-lah, asam urat-lah, tekanan darah tinggi-lah. Boro-boro ikut marathon, jalan kaki atau naik tangga saja sudah ngos-ngosan. Jelas ini karena pilihan gaya hidup kita tak sama dengan apa yang dipilih Fauja, keputusan kita tak sama dengan apa yang diputuskan Fauja.  Pilihan yang kita ambil selalu ada dampaknya. Saat kita memutuskan untuk mematikan alarm di pagi hari karena ingin tidur 10 menit lebih lama, dampaknya ya telat! Kalau kita memilih untuk memakai baju yang tidak terlalu nyaman untuk bekerja, dampaknya ya tak nyaman sepanjang hari. Kalau kita memilih untuk menikah dengan suami yang tidurnya ngorok, dampaknya ya sepanjang hidup kita akan tidur dengan suara dengkuran di sebelah kita. Ya…pilihan dan keputusan yang kita buat, tak peduli kecil atau besar, dalam hal remeh atau genting, pilihan dan keputusan harus selalu dibuat dan darinya akan selalu ada dampak yang kita rasakan cepat atau lambat.

Pilihan inilah yang diberikan Musa kepada Israel, jelang memasuki tanah perjanjian yang disediakan oleh TUHAN. Bagian bacaan pertama kita menggambarkan masa peralihan kepemimpinan Musa pada Yosua. Musa sadar betul bahwa sama seperti orang Israel angkatan lama, ia tak akan ikut masuk ke tanah itu karena dosanya. Karena itu, ia mengingatkan angkatan muda yang lahir di padang gurun itu tentang perjalanan panjang mereka sebagai umat TUHAN. Dimana selama 40 tahun, mereka menghadapi kemungkinan antara kehidupan atau kematian dan keberuntungan atau kecelakaan (ay.15). Umat Israel harus benar-benar memastikan dirinya untuk hidup sesuai dengan jalan TUHAN dan berpegang pada ketetapanNya saja, jika demikian mereka akan berlimpah berkat (ay.16). Sebaliknya, jika hati mereka berpaling dan memutuskan untuk beribadah pada allah lain mereka akan segera binasa dan tidak akan mampu menyeberangi Sungai Yordan untuk menduduki tanah itu (ay.17-18). Dua pilihan kembali ditegaskan dalam ayat 19: kehidupan dan berkat di sisi yang satu, atau kematian dan kutuk di sisi yang lain. Saran yang diberikan Musa bagi umat TUHAN pun jelas, “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup.”

Dikotomi pilihan ini menunjukkan struktur teologi khas deuteronomis yang menggambarkan bahwa tanah perjanjian itu adalah sebuah peluang dan kesempatan bagi umat untuk hidup dengan lebih baik. Namun pemberian TUHAN itu tidak berlaku secara otomatis, kehidupan yang baik bagi Israel tergantung dari cara hidup yang mereka pilih: taat pada aturan TUHAN berarti berkat dan jika sebaliknya akan berbuah laknat. Jadi, tradisi deuteronomis menekankan bahwa pilihan dan tindakan manusia sangat penting untuk membentuk kehidupan mereka sendiri. Pemilihan yang diputuskan pun harus jelas dan tegas: pilih antara hidup atau mati; berkat atau kutuk; hitam atau putih, tidak boleh setengah-setengah, tidak bisa abu-abu.

Saudara jemaat yang terkasih, pilihan juga harus kita  putuskan saat menjadi murid Kristus. Sebagai murid Kristus, Filemon sebagai tuan dari seorang budak yang melarikan diri –Onesimus- dihimbau oleh Paulus untuk senantiasa mengambil keputusan berdasarkan kasih.  Filemon memang berhak menghukum atau bahkan membunuh budaknya, Onesimus karena melarikan diri. Namun bagi Paulus, Filemon harus mengambil keputusan berdasarkan kasih dalam Kristus dan bukan berdasar emosi atau egonya.

Emosi dan eufora ini jugalah yang mendorong orang banyak dalam bacaan Injil kita hari ini untuk mengikuti Yesus, yang sebenarnya sedang ada dalam perjalanan menuju Yerusalem. Sebuah perjalanan menuju derita. Namun karena pengharapan mesianis yang mereka pegang, orang banyak itu mengira sedang turut Yesus dalam perjalanan menuju tahta. Karena itu dalam bacaan kita hari ini, Tuhan Yesus sebenarnya sedang ingin meluruskan pemahaman orang banyak yang keliru duga itu. Dia menggunakan kata “membenci” (yun: miseoo), sebenarnya ini adalah ekspresi khas semitik yang berarti “berpaling dari” dan “melepaskan diri dari”. Jadi sebenarnya secara tekstual, kata “membenci” dalam ay. 26 tidak ada kaitannya dengan perasaan benci, namun lebih merujuk pada keterpisahan diri dari keluarga akibat mengikut Kristus. “Memikul salib dan mengikut Aku” (ay.27) adalah syarat lanjutan yang diberikan-Nya bagi orang yang mau menjadi murid. Salib melambangkan penderitaan karena Kristus, namun perlu diingat bahwa tidak semua derita adalah salib. Jadi, melalui perintah ini kita bisa menyimpulkan bahwa jalan penderitaan harus secara konsisten dilalui oleh tiap orang yang ingin menjadi murid Kristus. Dari sini kita bisa melihat teologi Lukas yang ingin menunjukkan bahwa jalan Kristus adalah jalan sengsara, bukan jalan foya-foya apalagi menuju tahta. Bagi tiap orang yang ingin menjadi murid, hendaklah ia membuat keputusan dan konsisten dengan keputusan yang diambilnya itu. Karena menjadi murid bukanlah sebuah kebetulan, namun keputusan yang harus dijalani secara konsisten. Tak bisa setengah-setengah, tak bisa suam-suam kuku.

Penutup

Mungkin sekarang kita bisa menyatakan bahwa kita ini orang Kristen. Masalahnya kebanyakan di antara kita menjadi Kristen karena kebetulan. Kebetulan kita lahir di keluarga Kristen, kebetulan kita dibesarkan dalam tradisi kristen, dan kebetulan-kebetulan yang lainnya. Menjadi Kristen, mungkin bisa karena kebetulan. Tapi tidak demikian untuk menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus harus melalui sebuah keputusan, keputusan untuk siap memikul derita dan keputusan untuk siap selalu setia. Jelas, keputusan itu tak mudah. Hidup sebagai murid Kristus memang tak akan jadi selalu baik, selalu mulus dan selalu lancar. Hidup sebagai murid Kristus mungkin juga akan menghadapi tantangan, kekecewaan atau kesakitan. Namun, jika kita memilih hidup sebagai murid Kristus, kita tak akan pernah sendirian.

Saudara terkasih, mari memilih, mari memutuskan. Karena sama seperti Fauja Singh yang merasakan dampak keputusannya, kita pun akan menuai dampak dari tiap keputusan kita. Hai murid Kristus, selamat memutuskan! (Rhe)

 

Pujian :  KJ. 434 : 1, 2


RANCANGAN KHOTBAH :  Basa Jawi

Pambuka

Punapa ingkang saged dipun tindakaken kanggene tiyang ingkang sampun yuswo 108 taun? Mbok bilih ingkang kita bayangaken punika tiyang ingkang sampun sepuh sanget, ingkang namung tilem wonten kasuripun, ngrantos bantuan tiyang sanes kangge nindakaken kegiatanipun sadinten-dinten. Ananging angen-angen ingkang mekaten kalawau sirna bilih kita ningali punapa ingkang dipun tindakaken kaliyan Fauja Singh, tiyang jaler saking India ingkang lair taun 1911, ingkang samangke manggen ing Inggris. Piyambakipun taksih aktif nderek maneka warni lomba lari marathon. Piyambakipun saged mungkasi lomba marathon ingkang nempuh jarak 42 km ing salebeting 7 jam. Piyambakipun sampun kathah makarya ing lomba olah raga internasional, wiwit tampil dados model kaos olah raga merk Adidas kaliyan David Beckham ngantos dados tiyang ingkang kaping pisan mecahaken 8 rekor ing  Ontario Masters Association ing Ontario, Kanada.

Nalika dipun wawancara, Fauja ngendikan bilih piyambakipun saged seger bugar kawitan saking gaya gesangipun ingkang boten nate gantos wiwit enemipun. Piyambakipun milih dados vegetarian lan boten kathah nedha maneka werni tetedhan. Sadinten-dintenipun, piyambakipun namung nedha chappati (roti gandum bunder ingkang dipun bakar), kacang-kacangan, sayur ijo, susu lan yogurt. Piyambakipun boten nate nedha sekul lan tetedhan ingkang dipun goreng. Sanesipun tetedhan, Fauja ugi ngunjuk toya pethak lan teh sacekapipun. Piyambakipun ugi ngendikan boten nate tilem ngantos tengah wengi lan tangi saderengipun surya sumunar. Kangge Fauja, olah raga mlajeng punika caranipun piyambak kangge raket kaliyan Rabbipun lan nebihi pamikiran-pamikiran ingkang negatif.

Kanthi pilihan gaya hidup ingkang dipun tindakaken sacara konsisten punika saged dadosaken Fauja taksih sehat sanget lan seger ing yuswanipun ingkang kaping 108 taun. Punapa ingkang dipun gadhahi samangke, jelas minangka hasil investasi gaya gesang ingkang sampun dipun wiwiti nalika taksih enen. Fauja sampun milih lan mutusaken kangge nglampahi pilihan gesangipun kanthi konsisten.

Isi

Pasamuan ingkang dipun tresnani Gusti,

Sejatosipun kita nggadahi peluang supados saged sehat lan seger kados Fauja tadi. Nanging nembe yuswo samanten, pasambatipun sampun kathah. Nggih kolesterol, asam urat, tekanan darah tinggi. Boro-boro saged tumut marathon, kangge mlampah lan ninggah tangga kemawon sampun ngos-ngosan. Jelas punika karana pilihan gaya gesang kita boten sami kaliyan punapa ingkang dipun pilih Fauja, keputusan kita boten sami kaliyan punapa ingkang dipun putusaken Fauja. Pilihan kita temtu wonten dampakipun. Nalika kita mutusaken kangge mejahi alarm ing wekdal enjing karana taksih pengin tilem 10 menit malih, hasilipun inggih telat! Bilih kita milih ngagem rasukan ingkang boten nyaman kangge makarya, hasilipun kita rumaos boten nyaman sedinten punika. Bilih kita milih kaliyan semah kaliyan tiyang jaler ingkang ngorok, hasilipun selamining gesang kita nalika tilem badhe mirengaken suanten semah kita ngorok. Inggih… pilihan lan keputusan kita, boten perduli alit utawi ageng, ing bab ingkang remeh utawi genting pilihan lan keputusan kedah kita pilih lan putusaken, saking pilihan dan putusan kita punika temtu wonten kasil ingkang kita raosaken cepet utawi lambat.

Pilihan punika diparingaken Musa dateng Israel saderengipun sami lumebet ing tanah prajanjian ingkang sampun dipuncawisaken Gusti Allah. Waosan kita kaping pisan gambaraken wekdal peralihan kapemimpinaning Musa dateng Yosua. Musa sadar sanget bilih sami kados tiyang Israel angkatan ingkang lami, piyambakipun boten saged mlebet ing tanah prajanjian punika karana dosanipun. Karana punika, piyambakipun ngengetaken angkatan enem ingkang lair ing padang gurun bab lampahing bangsa Israel minangka umatipun Gusti Allah. Ing pundi selami 40 taun, bangsa Israel ngadepi pilihan antawis gesang utawi pejah, kabegjan utawi kacilakan (ay. 15). Bangsa Israel kedah gesang ing margining Gusti Allah lan netepi sedaya karsanIpun. Bilih sedaya punika katindakaken bangsa Israel badhe tinampi berkah (ay. 16). Kosokwangsulipun, bilih manahipun bangsa Israel nilar Gusti dan milih ngabekti dateng allah sanesipun, bangsa Israel badhe pejah lan boten saged nyebrangi lepen Yordan lumebet ing tanah prajanjian (ay. 17-18). Ayat 19 nyebataken : gesang lan berkah ing setunggal sisi, pati lan kutuk ing sisi sanesipun. Saran ingkang dipun aturaken Musa, ”Kang iku kowe miliha urip, supaya lestaria uripmu”.

Dikotomi pilihan punika nedahaken struktur teologi deuteronomis ingkang paring gambaran bilih tanah prajanjian punika dados peluang lan kesempatan kangge umat supados gesang langkung sae. Ananging Sih Rahmating Gusti Allah punika boten dipun paringaken sacara otomatis, kawontenaning bangsa Israel ingkang sae gumantung kaliyan cara gesang ingkang dipun pilih. Taat dateng pranataning Gusti Allah tegesipun nampi berkah lan kosokwangsulipun badhe tinemu pati bilih boten setya. Tradisi deuteronomis punika negesaken bilih pilihan lan tumindaking manungsa punika penting sanget kangge gesangipun manungsa piyambak. Pilihan ingkang dipun putusaken kedah jelas lan teges : pilih antawis gesang punapa pati, berkah punapa laknat, ireng punapa puteh, boten saged setengah-setengah, boten saged abu-abu.

Pasamuan ingkang dipun tresnani Gusti,

Kita ugi kedah mutusaken nalika dados sakabating Gusti Yesus. Minangka sakabating Gusti Yesus, Filemon minangka tuan saking Onesimus budakipun ingkang mlajeng dipun pangandikani Paulus supados mendhet keputusan adedasar katresnan. Filemon panci nggadah hak kangge ngukum lan mejahi budakipun Onesimus karana mlajeng saking piyambakipun. Nanging kangge Paulus, Filemeon kedah mutusaken adedasar katresnan sanes emosi utawi egonipun piyambak.

Emosi lan eufora punika ingkang dadosaken tiyang kathah ing waosan Injil punika sami nderek Gusti Yesus, ingkang tumuju dateng Yerusalem. Ingkang kawastanan lumampah tumuju kasangsaran. Ananging karana pangajeng-ajeng mesianis, tiyang kathah punika sami nginten sami nderek Gusti Yesus tumuju tahta. Karana punika ing waosan dinten niki, Gusti Yesus paring piwucal bab pemanggih tiyang kathah ingkang keliru punika. Gusti Yesus  migunaaken tembung “sengit” (yun: miseoo), ingkang saleresipun inggih punika ekspresi khas semitik ingkang ateges “berpaling dari” lan “melepaskan diri dari”. Dados sacara tektual, tembung “sengit” ing ay. 26 boten wonten kaitanipun kaliyan perasaan benci, nanging langkung nedhahaken keterpisahan diri saking brayat akibat nderek Gusti Yesus Kristus. “Mikul Salib lan melua Aku” (ay. 27) inggih punika syarat selajengipun ingkang dipun aturaken Gusti kangge tiyang ingkang purun dados sakabatipun. Salib pralambang kasangsaran karana Kristus, nanging perlu dipun enget bilih boten sedaya kasangsaran punika salib. Dados lumantar perintah punika kita saged nyimpulaken bilih margi kasangsaran kedah sacara konsisten dipun lampahi dening saben tiyang ingkang dados sakabating Kristus. Saking ngriki kita saged ningali teologi Lukas ingkang nedhahaken bilih margi Kristus punika margi kasangsaran, sanes margi foya-foya punapa malih margi tumuju tahta. Kangge saben tiyang ingkang dados sakabat, kedahipun damel keputusan lan konsisten kaliyan keputusan ingkang sampun dipun pendet punika. Karana dados sakabat punika sanes kebetulan, nanging keputusan ingkang kedah dipun tindakaken sacara konsisten. Boten saged setengah-setengah, boten saged suam-suam kuku.

Panutup

Menawi sapunika kita saged ngakeni bilih kita punika tiyang Kristen. Masalahipun kathah saking kita dados Kristen karana keleresan. Kaleresan kita lair saking brayat Kristen, kaleresan kita dipun gulawentah ing tradisi Kristen, lan kalereresan-kaleresan sanesipun. Dados Kristen, menawi saged karana kaleresan, nanging boten mekaten dados sakabating Gusti Yesus. Dados sakabating Gusti Yesus kedah damel keputusan, keputusan kangge siap mikul kasangsaran lan keputusan tansah setya tuhu dateng Gusti Yesus. Jelas keputusan punika boten gampil. Gesang minangka sakabating Gusti Yesus pancinipun boten tansah lumampah sae, mulus lan lancar. Gesang minangka sakabating Gusti Yesus ugi ngadepi tantangan, raos kuciwa lan sesakit, nanging bilih kita milih gesang minangka sakabating Gusti Yesus, kita boten nate rumaos piyambakan.

Para sederek ingkang kinasih,

Mangga kita sami milih, sami mutusaken karana sami kados Fauja Singh ingkang ngraosaken dampak keputusanipun, kita ugi badhe nampi dampak saking keputusan kita. Hai sakabating Gusti Yesus, Sugeng mutusaken! (AR).

 

Pamuji  :  KPJ. 114 : 1, 2

 

Bagikan Entri Ini:

  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •