Hidup Sebagai Orang-orang yang Telah Ditemukan Kembali oleh Tuhan Khotbah Minggu 15 September 2019

Minggu Biasa XIII
Stola Hijau

 

Bacaan 1 : Kejadian 32 : 7 – 14
Bacaan 2
: I Timotius 1 : 12 – 17
Bacaan 3
: Lukas 15 : 1 – 10
Mazmur  
: Mazmur 51 : 1 – 10

Tema Liturgis : Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat Kepada Kebenaran
Tema Khotbah
: Hidup sebagai Orang-orang yang Telah Ditemukan Kembali oleh Tuhan.

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Kejadian 32 : 7 – 14

Walaupun 20 tahun telah berlalu sejak Yakub meninggalkan keluarganya dan mengabdi kepada Laban pamannya, namun ketika ia kembali ke Tanah leluhurnya hatinya begitu resah. Bahkan makin mendekati Tanah Israel, hatinya makin sesak, berdebar-debar penuh ketakutan karena dosa masa lalunya.  20 tahun yang lalu ia telah menipu Ishak ayahnya demi merebut hak kesulungan dari tangan Esau kakaknya. Di Mahanaim, seperti sebelumnya dengan mengandalkan akalnya ia menyusun 2 strategi. Pertama, membagi pasukannya menjadi dua, dan ia berjalan dibelakangnya. Sehingga ketika satu pasukan diserang Esau, pasukan yang satu dan dia dapat melarikan diri.  Kedua ia mengambil ratusan domba, puluhan lembu, unta dan kuldinya untuk dipersembahkan kepada Esau, untuk meredam amarah Esau. Namun semua itu tidak dapat menenangkan hatinya. Ia tetap resah, gelisah dan ketakutan. 

I Timotius 1 : 12 – 17

Paulus merasa dirinya sebagai domba yang hilang dan tersesat itu. Malahan lebih parah dari semua itu. Karena dahulu dia penghujad sadis, penganiaya keji para pengikut Kristus, tetapi karena kasihNya, ia telah ditemukan oleh Sang Gembala Agung itu. Dia merasa dikasihiNya, malahan dikuatkan dan dipercayakan pelayanan kepadanya. Karena itu Paulus sungguh-sungguh bersyukur dan syukurnya itu telah memberikan kekuatan yang dahsyat kepadanya. Benar, bahwa Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa dan yang paling berat dosanya adalah dia sendiri. Dari kedalaman syukurnya itu ia melakukan pelayanannya dengan sungguh, tulus, ikhlas dan penuh sukacita.

Lukas 15 : 1 – 10

Konteks bacaan kita ini adalah orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang tidak rela, bahkan merendahkan Tuhan Yesus yang dipandang sebagai Rabi atau Guru itu bergaul dan makan bersama para pemungut cukai. Dalam pandangan mereka orang-orang pemungut cukai adalah orang-orang berdosa dan pengkhianat bangsa.  Mereka mengabdi kepada penjajah Romawi melalui memeras rakyat dengan memungut pajak dengan sistem mereka menambahi mencari keuntungan bagi diri sendiri. Dalam konteks itulah Tuhan Yesus mengajarkan perumpamaan domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang (tidak dibahas disini). Perumpamaan domba yang hilang berangkat dari titik pandang manusia (yang hilang), sedangkan dirham yang hilang dari titik pandang Allah (yang kehilangan). Yang pertama pusatnya adalah domba itu, betapa mengerikannya hidup dalam kesesatan.  Sedangkan yang kedua pusatnya adalah perempuan itu, betapa berdukanya Tuhan atas kehilangan umatNya, walaupun itu hanya satu domba atau satu dirham.  Maka ketika yang hilang ditemukan sukacita itu bukan hanya dialami oleh manusia yang hilang itu saja, melainkan juga Tuhan Sang Pemilik, bahkan seluruh isi surga.

Mazmur  51 : 1 – 10

Mazmur 51 ini merupakan doa pengakuan dosa Daud setelah ia diperingatkan oleh Nabi Natan karena dosanya menghampiri Betsyeba beserta membunuh suaminya, Uria dengan mengirimkannya ke medan laga yang paling depan.  Betapa kekuasaan telah membutakan mata rohani Daud.  Menyadari dosanya, maka ia mohon dibersihkan dari dosanya yang telah dibawanya sejak lahir itu.  Dalam pengakuannya, berapa kali sebenarnya Tuhan telah membisikkan peringatanNya, tetapi dia tidak mendengarkannya (ay 7-8).  Malahan dosa itu coba ditutupi dengan dosa lain yang lebih parah.  Akibatnya ia tidak dapat menikmati kebahagiaan dan kegirangan karunia Tuhan.  Dosa adalah penyakit yang menjadikan hidupnya menderita dan najis.  Karena itu ia mohon supaya Tuhan berkenan mentahirkan, artinya menyembuhkan dan mengkuduskannya.

Benang Merah Tiga Bacaan

Ada banyak jalan yang membawa manusia tersesat, tetapi Tuhan adalah Tuhan yang mencari dan peduli.  Betapa bahagianya mereka yang ditemukan kembali.  Bukan hanya mereka saja, melainkan Tuhan dan seluruh isi surga bersukacita.

 

RANCANGAN KOTBAH :  Bahasa Indonesia

 Pendahuluan

Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan, hilangnya seorang anak bukan hanya mengakibatkan kesusahan dan penderitaan si anak itu saja, melainkan juga orang tua yang kehilangan anak tersebut.  Oleh karena itu ketika anak tersebut berhasil ditemukan kembali, sukacitanya bukan hanya dialami oleh anak itu saja, melainkan juga orang tua yang menemukannya kembali.

Hal itulah yang ingin diungkapkan dalam perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang dalam bacaan kita saat ini.  Dalam domba yang hilang yang menjadi titik tolak dan pusat perhatian adalah si domba itu, sedangkan dalam dirham yang hilang, perempuan yang kehilangan dirhamnya itu.

Konteks Perumpamaan

Konteks dari bacaan kita ini adalah orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang tidak rela, bahkan merendahkan Tuhan Yesus yang dipandang sebagai Rabi atau Guru, tetapi bergaul dan makan bersama para pemungut cukai yang dipandang sebagai para pendosa dan pengkhianat bangsa.  Karena mereka mengabdi kepada Penjajah Romawi melalui memunguti pajak kepada rakyat jajahan. Parahnya, sistem pemungutan pajaknya adalah dengan Pemerintah menentukan jumlah pajak dari wilayah tertentu dan para pemungut pajak tersebut bebas menambah jumlah tertentu untuk keuntungannya sendiri.  Hal ini suatu pemerasan.  Menurut penilaian orang-orang Farisi dan para ahli Taurat seorang Rabi yang mengajarkan kebenaran, keadilan dan kesucian seharusnya jauh dari kehidupan yang berlumuran dosa itu.  Sebab ketika yang suci bersentuhan dengan yang dosa, yang suci itu akan menjadi dosa dan najis.

Dalam konteks pandangan dan sikap tersebutlah Tuhan Yesus mengajarkan domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang yang tidak dibahas di sini.  Betapa susah, takut dan menderitanya domba yang hilang itu. Dia tidak sadar bahwa jalannya makin jauh dan makin terperangkap dalam jalan-jalan yang menuju kehancuran.  Karena itu yang dibutuhkan bukan penolakan, pengucilan, pendiskreditan (pemojokan), melainkan pencarian, kepedulian, penyadaran dan penuntunan, sehingga mereka dapat kembali kepada jalan yang benar

Keadaan Pemungut Cukai, Yakub dan Daud

Kondisi dan situasi seperti itulah yang dialami oleh Yakub yang lebih dari 20 tahun terlempar dalam pengembaraan ke Tanah Haran, wilayah Mesopotamia di rumah pamannya Laban dengan terus menerus didera ketakutan, ketidakdamaian dan penderitaan. Hatinya selalu rindu untuk pulang, tetapi jiwanya selalu takut bagaimana nanti ketemu Esau yang pernah diperdayanya. Ketika makin dekat dengan Tanah yang dirindukan siang dan malam, hatinyapun makin berdebar-debar dan gelisah. Segala daya upaya dengan akal budi dan strategi dilakukan. Pertama, ia membagi pasukannya menjadi dua dengan dia berjalan dibelakang, supaya ketika pasukan yang satu diserang Esau, ia dengan pasukan yang lainnya dapat menyelamatkan diri.  Kedua ia mengambil ratusan domba, puluhan lembu, unta dan kuldi untuk dipersembahkan kepada Esau demi meredam amarahnya. Namun segala upaya tersebut tetap tidak dapat menenangkan hatinya.

Situasi dan kondisi seperti itu pula yang dialami oleh Daud ketika ia sadar dari dosa perzinahannya dengan Betsyeba.  Kekuasannya yang demikian besar telah membutakan mata rohaninya. Dengan strateginya ia ingin mengubur dosanya, tetapi dengan melakukan dosa yang lebih parah lagi, yaitu dengan mengirimkan Uria, suami Betsyeba ke medan laga yang paling depan supaya terbunuh di sana.  Dosa beranak pinak dosa, hingga ia didatangi dan diperingatkan Nabi Natan akan dosanya tersebut. Dia sadar dan menangis siang malam memohon pengampunan Tuhan.

Betapa berdukanya dan prihatinnya Tuhan menyaksikan dombanya yang berjalan menjauh dan terperosok ke dalam jurang yang dalam dan gelap.  Namun Tuhan adalah Tuhan yang mencari, peduli dan merangkul.  Satu orang yang hilang dan dalam bahaya lebih mendesak (urgen) untuk ditolong daripada 99 yang sudah berada di tempat aman. Satu orang berdosa yang membutuhkan pertolongan lebih penting daripada banyak orang yang merasa diri suci, benar dan tidak membutuhkan pertolongan. Ia mencari sejak manusia pertama: “Adam, dimanakah engkau? Makin lama makin banyak manusia berjatuhan dan makin terperangkap ke dalam jalan kebinasaan, hingga Ia turun sendiri mengorbankan nyawaNya di dalam Yesus Kristus untuk mengambil kembali manusia itu. Maka ketika yang hilang ditemukan, yang sesat dikembalikan, betapa berkenannya Bapa dan sukacitanya surga.

Saudaraku kekasih, dimanakah kita berada? Di tempat orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, di tempat para pemungut Cukai, ataukah di tempat Yakub dan Daud? Jalan penuh bahaya bagi orang beriman adalah ketika mereka dihinggapi kesombongan rohani. Ketika mereka memandang bahwa kesalehannya, kesuciannya, kehormatannya adalah hasil jerih payahnya sendiri, sehingga lalu melihat yang lain yang tidak seperti mereka adalah pendosa, najis dan rendah. Di lain pihak, betapa banyaknya jalan yang nampak indah, mempesona, ternyata menuju padang kemungkaran dan kesesatan.  Betapa mudahnya gila harta, kekuasaan, seksualitas yang tidak terkendali dan kelekatan terhadap dunia membawa manusia terperosok ke dalam jurang kehancuran.  Oleh karena itu yang berbahagia adalah mereka yang tersesat, namun segera sadar ketika diperingatkan. Mereka yang menemui jalan buntu, namun segera mampu mawas diri dan menyerahkan diri secara penuh kepada Tuhan. Tetapi berapa orangkah yang mau menerima peringatan, kritik dan mampu mawas diri?

Dahsyatnya Hidup Syukur karena telah Diketemukan Tuhan

Paulus adalah salah seorang yang mengalami kebahagiaan itu.  Betapa tidak? Ia mengakui bahwa sebelumnya ia adalah orang yang lebih parah dosanya daripada para pemungut cukai itu.  Sebelumnya ia adalah penghujad sadis, penganiaya keji murid-murid Yesus.  Tetapi ia telah ditemukan kembali oleh Tuhan Yesus di jalan menuju Damaskus itu.  Ia direngkuh dalam kasihNya dan diarahkan ke dalam jalan keselamatan.  Malahan ia merasa dianggap setia oleh Tuhan, sehingga dipercayakan tugas pelayanan yang tidak ringan kepadaNya.

Rasa syukur tersebut sungguh menjadi kekuatan yang dahsyat dalam hidup Paulus. Syukurnya itu telah menggerakkan dia melangkah ribuan kilometer dan berlayar ribuan mil untuk membagi sukacita dan damai sejahteranya. Rasa syukurnya itu telah mengokohkan dia tetap tabah menghadapi semua tantangan dan masalah.  Syukur itu pula yang mendorong dia menerjunkan diri dalam pelayanan yang dengan tantangan yang tidak ringan: seperti dicurigai, dicemooh, bahkan ditolak oleh orang-orang yang dilayani itu sendiri.  Dia tetap tenang, sabar dan tidak kehabisan kasih.

Setelah Tuhan menemukan kita, Dia selalu juga mempercayakan tugas kepada kita, supaya damai sejahteraNya terus kita nikmati dan kita bagi-bagi orang lain, sehingga kehidupan ini makin berarti dan menjadi berkat.  Makin dalam dosa yang kita sadari telah diampuni oleh Tuhan, makin dalam pula rasa syukur kita dan bakti kita kepadaNya.

Penutup

Sejauh manakah rasa syukur kita telah mendorong kita menapaki perjalanan jauh, berliku dan terjal dalam membagi damai sejahteraNya?  Sejauh manakah rasa syukur kita telah mengokohkan kita dalam menghadapi tantangan dan masalah dalam menbangun keluarga, mendidik dan menghantarkan anak-anak?  Sejauh manakah rasa syukur kita telah mendorong kita meneruskan keprihatinan Tuhan dan terlibat dalam pelayanan kepadaNya dalam GerejaNya dan ditengah lingkungan hidup kita?  Hanya ia yang menyadari kedalaman dosanya, ketidak berdayaannya dan merasakan kekuatan aliran kasih Tuhan yang dapat hidup dengan syukur, bahkan membaginya secara berlimpah ruah.   Amin. (BRU)

 

Pujian : KJ. 426 : 1, 3  Kita Harus Membawa Berita


RANCANGAN KHOTBAH :  Basa Jawi

Pambuka

Sadherek kinasih ndalem asmanipun Gusti Yesus Kristus, icalipun satunggaling anak mboten namung ndadosaken kasisahan lan kasangsaranipun anak punika kemawon, ananging ugi tiyang sepuhipun.  Mila nalika anak punika kapanggihaken, kabingahanipun mboten namung dipun alami dening anak punika kemawon, ananging ugi tiyang sepuh ingkang manggihaken miwah brayat ageng sadaya. Mekaten saestunipun ingkang kacariyosaken ing pasemon menda ingkang ical lan dirham ingkang ical ing waosan kita punika. Ing pasemon menda ingkang ical kanyatan katingali saking mripating manungsa, dene ing pasemon dirham ingkang ical katingali saking paningalanipun tiyang estri ingkang kecalan punika.

Konteks Pasemonipun Gusti punika

Konteks pasemonipun Gusti ing waosan kita punika muncul nalika tiyang-tiyang Farisi miwah para ahli Toret mboten lila, malahan ngesoraken Gusti Yesus karana kaanggep minangka Rabi utawi Guru, ananging kok srawung saha kembul dahar kaliyan para Juru Mupu Beya ingkang kaanggep tiyang-tiyang dosa miwah pengkhianat bangsa. Amargi tiyang-tiyang punika sami ngabdi dhumateng Penjajah Romawi kanthi nariki pajek dhumateng rakyat jajahan.  Pajek punika langkung awrat, karana sistem penarikan pajek kala semanten kanthi Penjajah namtokaken kathahing pajek ing saktunggiling wilayah lan para juru mupu beya punika nindakaken penarikan pajek kanthi nambahi jumlahing pajek ingkang kedah kabayar demi kangge kauntunganing piyambak. Bab punika saestu satunggaling pemerasan! Miturut pamanggihipun tiyang- tiyang Farisi miwah para ahli Toret punika mesthinipun Rabi utawi Guru punika memucal kaleresan, kaadilan, kasucen ingkang tebih saking pagesangan ingkang jibrat ing dosa. Sebab menawi ingkang suci sesenggolan kaliyan ingkang dosa, ingkang suci tamtu dados dosa lan najis.

Inggih ing kawontenan ingkang kados mekaten punika Gusti Yesus mucali pasemon menda ingkang ical, dirham ingkang ical miwah anak ingkang ical ingkang mboten kagegilut ing kotbah punika. Iba sedih, ajrih saha sangsara kawontenaning menda ingkang ical punika.  Menda punika mboten rumaos menawi lampahipun sampun keplantrang tebih tumuju ing margining karisakan. Mila ingkang dipun betahaken sanes penolakan, pengucilan lan pemojokan, ananging pangrengkuh, uluran asta, pepemut miwah panuntun, matemah tiyang-tiyang punika saged wangsul dhumateng margi ingkang leres.

Kawontenanipun para Juru Mupu Beya, Rama Yakub miwah Sang Prabu Dawud

Kawontenan ingkang kados ing nginggil punika saestunipun ingkang dipun alami dening Rama Yakub ingkang keplantrang ngumbara dumugi Haran, Tanah Mesopotamia ing dalemipun Laban sadherekipun Ribkah ibunipun Yakub.  Manahipun kangen sanget wangsul dhateng Tanah Kanaan papanipun kulawangsanipun, ananging sanajan sampun langkung saking 20 tahun piyambakipun taksih ajrih, manahipun mboten jenjem, kadospundi menawi mangke kepanggih Esaf kangmasipun ing nate dipun apusi.  Sangsaya celak lampahipun kaliyan griya ingkang katuju, manahipun sangsaya dheg-dhegan lan goreh.  Strategi lan siasat dipun atur. Sepisan, Yakub mbagi rombonganipun dados kalih pantha lan piyambakipun lumampah ing wingkingipun.  Saengga menawi pantha ingkang kapisan kaserang dening Esaf kangmasipun, pantha ingkang kaping kalih lan piyambakipun saged mlajar milujengaken dhiri.  Kaping kalih, atusan menda, puluhan lembu, unta miwah kuldi kapendhet kacawisaken minangka pisungsungaken dhumateng Esaf kangge ngleremaken manahipun. Ananging sadaya punika tetep mboten saged ngleremaken manahipun.

Kawontenan ingkang mekaten punika ugi dipun alami dening Sang Prabu Dawud sasampunipun panjenenganipun nyadhari dosa zinahipun kaliyan Betsyeba. Panguwaosipun ingkang ageng sampun ndadosaken mripating karohanenipun wuta. Kanthi strateginipun penjenenganipun kepengin ngubur dosanipun, ananging malah sangsaya ambeta dosa ingkang sangsaya lebet. Awit katindakaken kanthi ngutus Uria semahipun Betsyeba supados kapapanaken ing barisan ingkang paling ngajeng ing palagan, saengga enggal kamangsa ing pedhang. Dosa satunggal tangkar-tumangkar dhumateng dosa-dosa sanesipun, ngantos penjenganipun karawuhan lan kaengetaken dening Nabi Natan.  Syukur, Sang Prabu Dawud enget saha keduwung sanget, rinten dalu nyuwun pangapuntening Gusti.

Gusti Allah saestu sekel ing penggalih miwah prihatos sanget meningi mendanipun ingkang keplantrang tebih lan keblowok ing luwenging cintaka punika. Awit Yehuwah Allah punika inggih Gusti Allah ingkang perduli, ngupadosi saha angrengkuh.  Satunggal tiyang ingkang ical lan ing saklebeting bebaya, saestu langkung ndhesek (urgen) enggal katulungi katimbang 99 ingkang sampun wonten ing papan ingkang aman. Satunggal tiyang dosa ingkang mbetahaken pitulungan saestu langkung penting katimbang tiyang kathah ingkang rumaos leres, suci lan mboten mbetahaken pitulungan.  Gusti Allah ngupadosi manungsa wiwit manungsa kawitan, Adam: “Sira ana ing ngendi? (Purwaning Dumadi 3:9).  Sangsaya dangu sangsaya kathah manungsa ingkang keplantrang lan dhumawah ing dosa tumuju margining karisakan, ngantos Panjenenganipun rawuh piyambak wonten ing Gusti Yesus Kristus masrahaken nyawanipun kangge manggihaken manungsa malih.  Mila rikala ingkang ical kapanggihaken, ingkang mblasar kawangsulaken, iba karenanipun Allah Sang Rama saha bingahipun saisining Swarga.

Para sadherek kinasih, ing pasemon punika kita wonten ing pundi? Ing antawisipun para tiyang Farisi lan ahli Toret, ing papanipun para Juru Mupu Beya, utawi ing papanipun Rama Yakub lan Sang Prabu Dawud?  Pinten kathahipun tiyang pitados ingkang dhawah karana rumaos paling suci, saleh lan leres, malahan nganggep bilih sadaya kasucen, kasalehan lan kaleresanipun punika asil pakaryanipun piyambak.  Saengga lajeng nganggep tiyang sanes ingkang mboten kados dene dhirinipun punika tiyang dosa, najis lan asor.  Suwalikipun pinten kathahipun tiyang ingkang keplantrang mblasar lampahipun karana kedanan ing bandha, panguwaos, nafsu seks. Mila ingkang saestu rahayu inggih tiyang ingkang dhawah ing dosa, ananging lajeng sadar rikala kaengetaken, tiyang ingkang mblasar keplantrang anjog ing margi buntu, ananging lajeng saged mawas dhiri, emut miwah pasrah sawetah wonten ngarsanipun Allah.  Ananging pinten katahipun tiyang ingkang legawa nampi pepenget, kritik saha saged mawas dhiri? 

Kiyating Gesang Syukur karana sampun Kapanggihaken dening Gusti

Rasul Paulus inggih salah satunggaling tiyang ingkang ngalami karahayon punika. Piyambakipun ngakeni bilih sakderengipun pitados estunipun minangka tiyang ingkang langkung ageng dosanipun.  Piyambakipun dados tiyang ingkang ngala-ala, nganiaya miwah ngrodaparipeksa murid-muridipun Gusti Yesus.  Ananging piyambakipun kapanggihaken dening Gusti ing margi tumuju dhateng Damaskus. Piyambakipun karengkuh ing sihipun, katuntun ing margining kawilujengan. Malahan Paulus ngraosaken kaanggep minangka murid ingkang tumemen, ingkang lajeng pinitados kaparingan bebahan leladi ingkang saestu mboten entheng. Paulus saestu ngaturaken panuwun ingkang tanpa upami ngalami sadaya pangrengkuhipun Gusti punika.

Raos syukur punika ngebaki manahipun lan dados kekiyatan ingkang ngedab-edabi ing gesangipun Paulus. Raos syukuripun punika sampun mbereg Paulus lumampah ewonan kilometer lan lelayaran ewonan mil kangge mbagi kabingahan saha tentrem rahayunipun Gusti.  Raos syukuripun punika sampun ngukuhaken Paulus, satemah tetep tabah ngadhepi sadaya tantangan miwah masalah.  Raos syukur punika ugi ingkang sampun mbereg Paulus nindakaken peladosan ingkang saestu mboten entheng: rikala kaolok-olok, karagokaken motivasipun, malahan katolak dening tiyang-tiyang ingkang dipun ladosi.  Paulus nindakaken sadaya peladosanipun kanthi sabar, tawakal lan mboten nate kasatan ing sih katresnan.

Sasampunipun Gusti Yesus manggihaken kita, Panjenenganipun ugi tansah mitadosaken tugas lan bebahan kangge kita.  Mboten namung supados tentrem rahayunipun kita nikmati kemawon, ananging ugi saged kaalami dening tiyang sanes, matemah gesang kita sangsaya nggadhahi makna lan dados berkah.  Sangsaya lebet dosa ingkang kita raosaken  ingkang sampun kaapunten dening Gusti ndadosaken sangsaya lebet ugi raos syukur miwah bekti kita dhumateng Gusti.

Panutup

Sampun dumugi pundi lebeting raos syukur kita mbereg jangkah kita nglajengaken kaprihatosaning Gusti mbagi tentrem rahayunipun?  Sampun dumugi pundi lebeting raos syukur kita ngukuhaken gesang kita, ngadepitantangan miwah masalah sacara pribadi tuwin ing tengahing brayat?  Sampun dumugi pundi lebeting raos syukur kita mbereg kita ndherek lelados ing saktengahing pasamuan tuwin bebrayan?  Namung tiyang ingkang ngraosaken lebeting dosanipun, kasekenganipun miwah kekiyataning sih katresananipun Gusti ingkang saged ngalami raos syukur tuwin mbagi gesangipun kanthi luber.  Amin.  (BRU).

Pamuji  : KPJ. 109 : 1, 2  Gusti Pangayoman Kang Setya

 

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •