Kebijaksanaan Hidup Khotbah Minggu 1 September 2019

 

Minggu Biasa XI  / Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

 

Bacaan 1 : Amsal 25 : 1 – 28
Bacaan 2 : Ibrani 13 : 1 – 17
Bacaan 3 : Lukas 14 : 1, 7 – 14

Tema Liturgis  : Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat kepada Kebenaran
Tema Khotbah : Kebijaksanaan Hidup

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amsal 25 : 1 – 28

Judul dari bagian ini menjelaskan bahwa pegawai Raja Hizkia menyunting dan mengumpulkan amasal-amsal yang berasal dari zaman Salomo. Ada dua segi yang dapat diperhatikan sejak permulaan. Pertama, banyak amsal mengulangi  apa yang terdapat dalam kumpulan terdahulu, bab 10-22. Kedua, hubungan dengan Yahweh sangat jarang. Bab 25 menyebut Allah hanya sekali saja, bab 28 hanya dua kali, dan bab 29 hanya tiga kali. Tiga bab pertama merupakan contoh bagus dari hikmat sekuler kuno, sedangkan dua bab terakhir lebih merupakan refleksi atas kesalehan Israel.

Telah ditunjukkan bahwa bab ini berdasar pada model pengajaran bagi raja dan bawahannya. Ini merupakan campuran dari nasehat dan petuah praktis mengenai kehidupan. Tetapi susunannya jelas, ada penghantar dalam ay. 2-4 yang mengemukakan peranan raja (2-3), dan orang fasik yang mengancam raja (4-5); diikuti bagian panjang mengenai raja (6-15), lalu  orang fasik (16-26). Masing-masing memiliki enam satuan. Pernyataan umum menutup bagian ini (27-28). Bab ini diperkirakan produk dari sekolah kerajaan karena besarnya rasa hormat dan ketaatannya kepada raja. Hanya sedikit mengulangi kata-kata penting dalam bab 10-22 yang merupakan tanda bahwa bab ini disunting lebih dahulu.

Pengajaran kerajaan ini dibuka dengan ayat 2-3, dengan pujian untuk anugerah khusus yang ditunjukkan terhadap  Raja dianugerahi hikmat lebih besar daripada orang kebanyakan, dan hanya tunduk kepada hikmat yang lebih besar dari para dewa. Raja-raja di zaman kuno menganggap diri diutus oleh dewa untuk memerintah kerajaan ilahi di dunia. Seperti dijelaskan dalam ay 4-5, kejahatan yang diizinkan untuk mendapat kekuasaan akan mengalahkan berkat dari dewa.

Ibrani 13 : 1 – 17

Bermacam-macam Pengajaran

Khotbah kepada orang Ibrani rupanya berakhir pada akhir bab 12. Jika demikian halnya, bab 13 adalah semacam tambahan yang menyajikan bermacam-macam pengajaran praktis dan nasehat-nasehat dan sejumlah unsur yang biasa pada akhir surat. Ada alasan untuk untuk berpendapat  bahwa bab ini ditulis oleh pengarang dari seluruh naskah; gaya tulisan sama dan penggunaan Perjanjian Lama juga sama. Tambahan pula tidak ada bukti bahwa bab 13 ini ditambahkan pada waktu kemudian.  Kita melihat misalnya dalam bab 10 dan di tempat lain, betapa dekatnya pengkhotbah-pengarang menghubungkan hal-hal praktis dalam kehidupan Kristen pada penjelasan teologisnya dan akhirnya ia meneruskan proses itu dalam bab 13. Pokoknya penting seperti dalam Surat-surat Paulus dan Surat-surat Perjanjian Baru yang lain, kelakuan pratis orang Kristen bukanlah hal yang dapat dilewatkan begitu saja. Hal ini mengalir dari pemahaman seseorang tentang pribadi dan karya keselamatan Kristus.

Enam ayat pertama membentuk sebuah daftar pengajaran yang terpisah tentang kasih peraudaraan, keramah-tamahan, perhatian terhadap para tawanan dan penderitaan, kesetiaan dalam perkawinan dan menghindari cinta uang. Daftar ini mungkin cukup umum, tetapi dimaksudkan sungguh-sungguh. Kelakuan Kristen tidak selalu berbeda, tetapi selalu diberi motivasi yang jelas. Untuk mendorong lebih bergantung pada Allah daripada uang, ayt 5-6 mengutip Ulangan 31: 6 dan Maz 118:6.

Kedua ay. 7 dan 17 menunjuk pada “para pemimpin”, menggunakan ungkapan yang sangat umum dan biasa dalam Perjanjian Baru. Orang tidak dapat menarik kesimpulan dari ini arti kepemimpinan resmi, berkaitan dengan kepemimpinan jemaat. Tetapi kedua ayat tersebut menunjuk  kepada para pemimpin yang berbeda. Yang pertama adalah pemimpin zaman dulu yang memberitakan firman Allah kepada jemaat di masa lalu. Orang ingat akan jemaat dalam 2: 3. Mereka yang telah meninggal, tetapi hidup mereka sebagai contoh iman, atas pandangan tentang hadirat Allah yang tidak kelihatan. Dalam kontek ini, ayat 8 barangkali merupakan kalimat yang layak diingat dalam Ibrani yang mempunyai penerapan khusus. Pernyataan bahwa “Kristus Yesus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” mungin mempunyai asal-usul yang independen sebagai rumusan yang biasa digunakan dalam ibadat. Di sini hal itu mengisyaratkan bahwa generasi para pemimpin jemaat bisa datang dan pergi, tetapi isi pemberitaan mereka sama. Yesus Kristus, tetap untuk selama-lamanya. Para pemimpin dari ay 17 adalah orang-orang sezaman, yang fungsinya terutama untuk melindungi jemaat dari kejahatan. Mungkin ayat 7 dan 17, membuka dan menutup peringatan terhadap “ajaran asing” (9-16), dengan implikasi bahwa mengikuti para pemimpin adalah berbahaya.  Tetapi bagian ini memang tidak jelas benar.

Lukas 14 : 1, 7 – 14

Kehormatan dan pujian duniawi

Yesus mengarahkan perumpamaan kepada para tamu dan memberi nasehat kepada tuan rumah. Dalam kedua pembicaraan, Ia mengcu kepada motif dasar.  Para tamu diminta supaya jangan mencari tempat terhormat dalam perjamuan, bukan karena ia menyombongkan diri semacam itu salah, melainkan supaya kelak mereka dihormati. Tamu-tamu terhormat terkenal suka datang terlambat untuk mencari perhatian ketika mereka menuju tempat duduknya. Pokok masalahnya dapat ditafsirkan sebagai suatu saran untuk tidak mencari kehormatan duniawi secara terus terang. Yesus mempergunakan gambaran biasa supaya dapat cepat dipahami.  Intinya tercantum dalam pernyataan : barang siapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.  Peninggian diri hendaknya jangan dicari, baik secara terus terang maupun secara sembunyi-sembunyi.  Sebelumnya Yesus pernah memarahi para murid karena mencari tempat terhormat.

Motif serupa yang  tidak layak tampak sekilas dalam kata-kata Yesus kepada tuan rumah. Kesannya ialah bahwa undangan makan bersama diberikan supaya mendapat balasan, ganti diundang. Dalam kasus orang miskin, siapa melayani orang yang mendapat hadiah kebangkitan bersama orang saleh. Hal yang dimaksud  ialah dalam melakukan pekerjaan baik, kita hendaknya bebas, tanpa memperdulikan keuntungan, membiarkan pembalasan pada Allah. Inilah jalan yang ditempuh Yesus dalam berbuat baik, mengosongkan diri bagi orang lain tanpa memperhitungkan kerugiaan. Tampak kesan berlebihan orang Semit dalam pernyataan, hendaknya orang jangan mengundang sahabat, sanak saudara dan para tetangga. Kerajaan Allah adalah bagi semua orang dan keramahan kita hendaknya merangkul semua orang, khususnya mereka yang tidak diperhatikan oleh orang-orang yang mempunyai motif untuk mementingkan diri sendiri.

BENANG MERAH TIGA BACAAN :

Kebijaksanaan Hidup

Kebijaksanaan merupakan kekayaan hidup beriman. Maka juga harus mendapat tempat dalam perkembangan pribadi.
Kebijaksanaan sejati menjadikan orang rendah hati

  • Terhadap Allah: mengakui-Nya sebagai Pencipta
  • Terhadap sesama: kerena sama hak dan kewajiban dalam percaturan hidup menghadap Pencipta.

Kebijaksanaan: kekaguman terhadap misteri hidup yang agung dan menakutkan, tetapi sekaligus juga merupakan sikap terjang yang sesuai dengan tuntutan misteri itu.

 

RANCANGAN KHOTBAH : BAHASA INDONESIA
(Di bawah ini sekedar rancangan, jadi perlu dikembangkan lagi agar sesuai dengan pergumulan jemaat)

 

KEBIJAKSANAAN HIDUP

Semakin tinggi kedudukan sesorang, semakin tinggi pula tuntutan hidupnya.  Seorang pujangga bangsa bangsa Yahudi yang bernama Sirakh menulis demikian: ”Makin besar engkau, makin patut kau rendahkan dirinya, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan”. Ini sebuah ajakan agar orang menjadi semakin rendah hati. Injil hari ini memberi nasehat agar orang  melakukan segala perbuatan baik tanpa pamrih duniawi. Orang  yang melakukan perbuatan baik tanpa pamrih adalah orang yang tulus hati.

Menjadi pribadi yang rendah hati dan tulus hati tidaklah mudah untuk diwujudkan di zaman kita sekarang ini. Mengapa? Karena cenderung ingin tampil disanjung sangatlah besar. Karena itulah banyak orang yang berebut jabatan dan kedudukan. Demi ambisi macam ini bahkan orang tega memakai cara-cara yang tidak jujur dan tidak adil. Jika demikian, dimanakah kerendahan hati dan ketulusan? Sebuah tantangan yang patut diperhitungkan oleh umat Tuhan.

Siapa yang tidak mau dihormati? Kita sering kali kecewa bila ada orang lain tidak menghormati atau menghargai diri kita. Entah dalam pergaulan, kelompok atau komunitas sekolah maupun ditempat kerja. Dan hal itu sering kali menimbulkan konflik, entah sakit hati dan marah karena harga diri yang terinjak.

Dalam Injil hari ini Yesus membantu kita untuk menghindari pengalaman tidak menyenangkan tersebut. Kuncinya ialah: “di mana kita menempatkan diri kita ketika berhadapan dengan orang lain”. Penyebab dari segala persoalan yang timbul adalah ketika kita menempatkan diri lebih penting atau lebih terhormat dari orang lain. Padahal ada pepatah, di atas langit masih ada langit.

Sikap rendah hati, menghargai setiap orang bahkan menganggap orang lain lebih penting dari diri kita sendiri menjadi sebuah jalan kebijaksanaan. Karena dengan demikian, kita tidak akan mudah kecewa atau sakit hati. Ketika kita menghormati orang lain, maka orang lainpun mudah-mudahan akan bersikap yang sama dengan kita. Mulailah  menghargai orang lain tanpa memandang status atau kedudukan ataupun derajat. Setiap manusia patut dihargai karena mereka adalah sama-sama ciptaan Allah.

Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 14: 11), demikian sabda Yesus. Pesan sabda ini kiranya bukan berarti secara lugas dihayati dengan seperti tersebut di atas, duduk di deretan paling belakang, melainkan suatu ajakan untuk senantiasa bersikap rendah hati. Rendah  hati antara lain siap sedia untuk diatur, diperintah, ditugaskan dan tentu saja tidak bersikap pasif dalam melaksanakan tugas atau perintah, melainkan kreatif dan proaktif dengan memberdayakan seluruh kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki. Selain kreatif dan proaktif  juga dengan penuh gairah dan sukacita, tidak mengeluh atau tidak menggerutu dalam melaksanakan tugas atau perintah ketika mengalami sesuatu yang kurang enak atau perlakuan sesama yang menyakitkan, melainkan menerima dengan penuh syukur. (DP)

Pujian :  KJ. 38 : 1, 2  Tlah Kutemukan Dasar Kuat


 

RANCANGAN KHOTBAH  : Basa Jawi

 

KAWICAKSANANING GESANG

Sangsaya nginggil kalenggahanipun, sangsaya inggil ugi tuntutaning gesangipun. Salah setunggaling pujangga bangsa Yahudi, ingkang asmanipun Sirakh sampun paring pitutur kangge kita makaten: “Saya dhuwur lungguhmu, kowe saya wajib andhap asor, supaya nampa sih ing ngarsa Allah”. Makaten ingkang dados pepengetipun. Dene pitutur kala wau minangka pangajak dhateng sintena kemawon supados ing salebeting gesang punika sintena kewawon puruna andhap asor. Dene ing kitab Injil ing dinten punika ugi sampun paring pitedhah kangge sintena kemawon, supados salebeting gesang punika puruna nglampahi kasaenan dan andhap asor. Dene saben tiyang ingkang purun nglampahi kasaenan punika tiyang ingkang burus.

Dados pribadi ingkang andhap asor lan burus punika boten gampil anggenipun badhe mujudaken ing jaman samangke. Kenging punapa? Awit kita condhong kepingin dipun alembana. Pramila ing gesang punika kathah tiyang ingkang rebutan kelenggahan lan pangkat. Murih ambisi ingkang kados makaten kala wau tiyang tega ngginakaken cara-cara ingkang boten jujur lan boten adil. Yen kados makaten, pundhi malih ingkang dipun wastani andhap asor lan manah ingkang burus kala wau? Satunggaling tantangan ingkang kedhah kita galih malih salebeting gesang punika.

Ing kitab Lukas kala wau, Yesus kersa mbiyantu kita kangge nyingkiri pengalaman ingkang boten sae kala wau. Dene kuncinipun inggih punika, wonten ing pundi anggen kita mapanaken dhiri kita piyambak ing sangajengipun tiyang sanes? Awit ingkang dados jalaran inggih punika kita asring mapanaken dhiri kita piyambak dados tiyang ingkang penting lan kinurmatan. Enget ta, wonten paribasan ing basa Indonesia: “Di atas langit masih ada langit”.

Sikap andhap asor, lan ngajeni sesami punika satunggaling kawicaksanan. Awit sarana makaten kita boten gampil kuciwa utawi sakit manah yen kita kedhah ngurmati tiyang sanes. Pramila sumangga kita miwiti ngajeni tiyang sanes, lan mugi-mugi tiyang sanes kala wau ugi saged lan purun ngajeni dhateng dhiri kita.

Gusti Yesus sampun ngandika: “Sabab sing sapa ngluhurake awake dhewe, bakal kaasorake, lan sing sapa ngasorke awake dhewe bakal kaluhurna”. Makaten dhawuhipun Gusti Yesus kala wau. Dhawuh kala wau boten ateges kedhah kita hayati kanthi lugas, utawi kanthi lugu, nanging satunggaling pangajak supados kita tansah asikap andhap asor ing salebeting gesang punika. Sikap andhap asor punika  antaranipun, purun dipun tata, purun dipun perintah, purun dipun tugasaken. Sadaya kala wau dipun lampahi boten kanthi pasif nanging kreatif lan proaktif. Kejawi saking punika ugi kakanthenan sikap penuh gairah. (DP)

Pamuji : KPJ. 436 : 1,3

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •