Minggu Biasa – Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1 : Yosua 24 : 1 – 3a, 14 – 25
Bacaan 2 : 1 Tesalonika 4 : 13 – 18
Bacaan 3 : Matius 25 : 1 – 13
Tema Liturgis : Among Rasa, Tepa Slira
Tema Khotbah: Hidup Setia di Tengah Keberagaman
Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yosua 24 : 1 – 3a, 14 – 25
Bacaan kita, Yosua 24 merupakan pesan terakhir Yosua (Yos. 23:1). Sebagai pemimpin spiritual dan militer, Yosua memanggil seluruh umat Israel, para tua-tua, para kepala, para hakim, para pengatur pasukan (Yos. 24:1) untuk melaksanakan upacara pembaruan perjanjian di Sikhem. Isi pembaruan janji itu adalah ikrar setia bangsa Israel untuk hanya menyembah dan mengabdi kepada Allah saja.
Ikrar itu didasarkan pada kasih dan pemeliharaan Allah kepada bangsa Israel sejak zaman Bapa Leluhur (Terah, Abraham, Iskak, Yakub) hingga saat memasuki tanah perjanjian Kanaan. Disinilah Yosua menyadari kasih dan penyertaan Allah di dalam hidupnya. Pun demikian Yosua memberikan pilihan kepada bangsa Israel dengan mengatakan: “Pilihkah pada hari ini kepada siapa kamu beribadah, … tetapi aku dan seisi rumahku, kami beribadah kepada TUHAN.” (Yos. 24:15b). Kemudian bangsa Israel merespon pernyataan Yosua itu, mereka memperbaharui janji mereka untuk hanya beribadah dan menyembah kepada TUHAN. “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” (Yos. 24:21).
1 Tesalonika 4 : 13 – 18
Bacaan kedua kita, membahas tentang kasih Tuhan yang tidak terbatas waktu, dunia akhirat (keadaan orang-orang mati dalam Kristus/ Parousia). Bukan berarti menghadapi orang yang meninggal, seseorang tidak boleh menangis, bersedih seperti orang lain (mereka yang berada diluar Kristus (Efesus 2:3), melainkan tidak berlarut dalam kedukaan. Tetap memiliki Pengharapan (Efesus 2:12), sebab berduka yang berkepanjangan sama artinya meragukan kasih dan kebaikan Allah. (Roma 8:18).
Pengharapan dalam kematian merupakan ide revolusioner dalam konteks zamannya. Karena pada umumnya orang-orang Yunani tidak percaya ada kehidupan kekal setelah kematian.
Matius 25 : 1 – 13
Perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh hanya dicatat dalam Injil Matius. Perumpamaan yang oleh Tuhan Yesus disampaikan bukan menjelaskan setengah pengikut-Nya akan masuk kerajaan sorga dan yang lain tidak melainkan dalam rangka merespon pertanyaan para rasul tentang tanda-tanda kehadiran Anak Manusia pada akhir zaman supaya orang percaya memiliki sikap.
Sikap yang dimaksud bukan orang percaya tidak mau berbagi, egois melainkan masing-masing bertanggungjawab atas yang diimaninya (Roma 14:12). Karena itu selama ada kesempatan jangan menunda dan jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk terus berjaga.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Betapa besar kasih Tuhan dalam hidup manusia, namun orang percaya berada ditengah keberagaman budaya, agama, adat,dll yang bisa mempengaruhi hidup dan pertumbuhan iman. Hidup adalah pilihan: dengan tetap menghargai sesama tentukan pilihan, lakukan dengan setia sampai pada akhirnya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Jemaat yang terkasih,
Ada banyak cara untuk seseorang menyampaikan, menjelaskan sesuatu supaya pesan dapat diterima dengan baik, demikian juga dengan Tuhan Yesus. Untuk menjelaskan hal Kerajaan Sorga Tuhan Yesus menjelaskan-Nya melalui pengajaran, khotbah, mujizat, perumpamaan dst. Harapannya: seseorang dapat “menentukan pilihan” secara tepat, memperjuangkan pilihan dengan setia karena bisa terjadi seseorang pada akhirnya kehilangan sesuatu yang berharga seperti yang disaksikan dalam perumpamaan bacaan kita.
Isi
Jemaat yang terkasih,
Untuk menjelaskan hal Kerajaan Sorga melalui perumpamaan 10 gadis yang menyambut mempelai laki-laki (5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh) hanya disaksikan Injil Matius. Ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan :
- 10 gadis mengenal mempelai (memiliki “hubungan” dengan mempelai)
- 10 gadis memiliki tujuan yang sama yaitu menyambut mempelai laki-laki yang tak kunjung tiba.
- 10 gadis memiliki sikap berbeda, 5 gadis membawa lampu dan minyak dalam buli-buli dan 5 gadis yang lain hanya membawa lampu.
Perumpamaan ini bukan untuk menjelaskan bahwa sebagian dari orang percaya masuk Kerajaan Sorga dan yang sebagian tidak. Bukan pula mengajarkan bahwa pengikut Tuhan tidak boleh berbagi atau egois melainkan hendak mengajarkan agar orang percaya seperti 5 gadis bijaksana. Artinya dalam hidup terus berjuang dengan setia melakukan yang diimani, tentu bukan hal mudah. Seperti yang disaksikan dalam kitab Yosua 24, Yosua mengajak umat Tuhan untuk mensyukuri kasih Tuhan yang senantiasa memelihara (bukan hanya yang dialami pada zamannya melainkan kasih yang dialami nenek moyangnya juga). Sebagai wujud menghargai sesama, Yosua memberikan kebebasan kepada umat Israel untuk menentukan pilihan. “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu beribadah, tetapi aku dan seisi rumahku, kami hanya beribadah kepada Tuhan.”
Jemaat yang terkasih. Bagaimana dengan hidup kita sebagai orang percaya, apakah senantiasa bertekun dengan yang kita imani? (percaya adalah berkah: bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu). Kita diajak untuk menjadi orang percaya yang setia dengan tetap menghargai sesama. Bukan hal yang mudah, namun percayalah apa yang kita tabur pada saatnya kita akan menuai asal tidak menjadi lemah. Teruslah setia, berjaga, berpengharapan hingga kehadiran mempelai, lampu kita tidak pernah padam.
Penutup
Mari setia dengan pilihan kita, tetap teguh walau menghadapi tantangan. Teruslah berjaga, bawalah lampu dengan minyaknya dan berjuanglah supaya tidak kehilangan sesuatu yang berharga. Hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun dalam Tuhan ada harapan. Amin. (EP).
Nyanyian : KJ. 446 Setialah
—
Rancangan Khotbah : Basa Jawi
Pambuka
Pasamuwan ingkang dipun tresnani Gusti,
Kathah cara ingkang saged kita damel jelasaken prekawis-prekawis gesang, mekaten ugi ingkang katindakaken dening Gusti Yesus. Kangge jelasaken bab Kraton Swarga, Gusti Yesus paring piwucal, nindakaken mujizat, paring piwucal ing pasemon-pasemon, lsp. Klayan pengajeng-ajeng manungsa mangertos ingkang dipun kersakaken dening Allah, boten nyesel kados 5 gadis bodho ing pasemon punika.
Isi
Para sadherek pasamuwan, kacariosaken ing Mateus 25:1-13, kangge jelasaken bab Kraton Swarga lantaran pasemon prawan sepuluh, wonten prekawis penting ingkang dipun tengenaken Mateus, ingkang perlu kita gatosaken:
- Prawan sepuluh punika tepang kaliyan pangantyan
Kados pradatan/tradisi Yahudi, pangantyan putri kairing prawan-prawan methuk pangantyan jaler lumebet ing pahargyan. - Prawan sepuluh punika gadhahi tujuan ingkang sami inggih punika methuk panganten jaler, ingkang boten dugi-dugi.
- Prawan sepuluh punika gadhahi sikap ingkang benten.
Kajelasaken prawan gangsal bodho, awit namung mbetha diyan, lan prawan gangsal pinter, kejawi mbetha diyan ugi wadah isi lenga kangge serepan.
Pasemon punika mboten ateges badhe jelasaken tiyang pitados ingkang mlebet kratoning Swarga namung sepalih, mboten ugi pandherekipun Gusti supados egois, mboten tulung-tinulung, nanging badhe jelasaken tiyang pitados ditansah waspada, wicaksana kados prawan gangsal ingkang pinter punika. Gesang punika pilihan, ing tengahing pigesangan tiyang pitados tansaha tekun nglampahi punapa ingkang dipun imani. Nindakaken pilihan kanthi tekun punika boten gampil.
Gegayudan gesang wicaksana lan setya , kita saged sinau saking senapati Yusak kados ingkang kaseksekaken ing kitab Yusak 24. Ing Sikhem Senapati Yusak ngajak bangsa Israel tansah saos sukur dhateng Gusti Allah awit saking katresnanipun ingkang ageng (katresnan ingkang ugi karaosaken dening leluhur bangsa Israel: Abraham, Iskak, Yakub, Musa lan Harun, ingkang ngirid bangsa Israel medal saking tanah pangawulan). Senopati Yusak ngersaaken supados bangsa Israel gesang wedi asih dhateng Pangeran Yehuwah klayan eklas lan setya . Senapati Yusak tetep maringi kebebasan dhumateng bangsa Israel supados nemtokaken pilihanipun. “Ing dina iki kowe padha miliha, sapa kang arep kok bekteni. Nanging mungguh ing aku lan sakulawarga, aku bakal ngabekti marang Pangeran Yehuwah.” (Yusak 24: 15b).
Pasamuwan ingkang kinasih. Kados pundi tumrap gesang kita tiyang pitados. Punapa kita sampun tumemen ing kapitadosan kita lan “pilihan” kita? (Pitados berkah saking Allah: dudu kowe kang milih Aku, nanging Aku kang milih kowe). Kita minangka tiyang pitados kedah terus ngupaya gesang ingkang setia dhateng Gusti Allah sarta purun ngajeni dhateng sesami. Kita sadar pancen mboten gampil kangge nindakaken punika, nanging bilih kita sabar tamtu kita bakal ngundhuh woh ingkang sae. Pramila kita ditansah setya, jumaga, pitados, ngantos rawuhing Gusti Yesus.
Panutup
Pasamuwan ingkang kinasih sumangga kita ngupaya kasetyan dhateng pilihan kita nderek Gusti Yesus ingkang kita imani dados Juru Wilujenging gesang kita. Sumangga kita tetep mantep ing kapitadosan kita, tansah jumaga, mbeta diyan lan lenga serepan, supados kita boten binerkahan saged lumebet ing Kratoning Sorga. Gesang mboten gampil, ananging wonten ing Gusti Yesus tansah wonten pengajeng-ajeng. Amin. (EP).
Pamuji : KPJ. 118 Kasetyaning Allah Datan Gingsir