Mengolah Emosi, Memulihkan Relasi Khotbah Minggu 8 Maret 2026

23 February 2026

Minggu Pra Paskah 3
Stola Ungu

Bacaan 1: Keluaran 17 : 1 – 7
Mazmur: Mazmur 95
Bacaan 2: Roma 5 : 1 – 11
Bacaan 3: Yohanes 4 : 5 – 42

Tema Liturgis: Bertobat, Memulihkan Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Mengolah Emosi, Memulihkan Relasi

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 17 : 1 – 7
Tidak adanya air di tempat persinggahan telah membuat kehidupan bangsa Israel terguncang dan menimbulkan gejolak amarah dalam diri mereka. Amarah tersebut dilontarkan kepada Musa hingga membuat mereka bertengkar. Sikap emosional tersebut telah membuat bangsa Israel ragu akan penyertaan Tuhan dan kepemimpinan Musa. Mereka lupa akan penyertaan Tuhan yang senantiasa mencukupi kebutuhan, menjaga, dan menolong mereka sepanjang perjalanan keluar dari Mesir sampai pada persinggahan di Rafidim. Bangsa Israel menyalahkan dan meluapkan kekecewaan mereka kepada Musa. Mereka tidak hanya melontarkan kata yang mendesak Musa untuk melakukan sesuatu, tetapi oleh karena kemarahannya mereka juga hampir melempari Musa dengan batu. Wajarlah seketika itu Musa berseru kepada Tuhan agar pertengkaran di antara mereka berhenti. Dengan berseru kepada Tuhan, Musa berusaha menjernihkan suasana dan mengantar umat kepada keyakinan mereka kembali bahwa Tuhan adalah Allah yang beserta dan memelihara kehidupan umat-Nya sejak mereka berada di Mesir hingga pembebasan menuju tanah perjanjian. Di tengah kondisi inilah kuasa dan penyertaan Allah kembali dinyatakan. Tuhan menyuruh Musa dan beberapa tua-tua Israel menuju Gunung Horeb. Di atas gunung itulah, Musa diminta memukulkan tongkat yang dulu pernah digunakan untuk memukul sungai Nil pada sebuah batu dan dari balik batu itu keluar air untuk diminum. Dari kisah ini, kita diingatkan bahwa sering kali seseorang terjebak dalam kemarahan yang tak terkendali, sehingga menimbulkan konflik, pertengkaran, bahkan kekerasan yang dapat merusak relasi dengan sesama.

Roma 5 : 1 – 11
Kehidupan umat Tuhan di Roma pada waktu itu tidak lepas dari pergumulan yang menguncang kehidupan mereka. Jemaat Roma pada saat itu sedang mendapat banyak tekanan, baik dari orang Yahudi maupun orang Roma sendiri, selain itu di dalam tubuh Jemaat Roma sendiri sedang terjadi konflik. Sebagai pribadi yang telah mengalami kasih Allah, Paulus memberikan nasihat bahwa percaya kepada Kristus bukan berarti bebas dari kesengsaraan yang dapat mengguncang kehidupan. Tuhan mengizinkan masalah hadir dalam kehidupan bukan untuk menghancurkan hidup orang percaya, tetapi sebagai ujian yang membentuk orang percaya menjadi semakin tangguh, kuat, beriman, dan berharap kepada Tuhan. Untuk itulah, Paulus berharap agar orang percaya melihat penderitaan sebagai kesempatan bagi mereka untuk terus bertumbuh dan berkembang di dalam Tuhan, bukan menjadi sesuatu yang menimbulkan amarah. Di tengah penderitaan yang dialami, mereka perlu mengedepankan sikap rendah hati dan terus mengupayakan hidup damai, agar terjalin relasi yang baik dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain.

Yohanes 4 : 5 – 42
Penulis Injil Yohanes memahami ketegangan-ketegangan yang telah ada antara orang Yahudi dan orang Samaria. Orang Yahudi yang tinggal di Yudea pada saat itu tidak menyukai orang Samaria karena mereka anggap tidak setia terhadap Allah Israel. Orang Yahudi yang sangat ketat menjalankan hukum-hukum kekudusan tidak mau bergaul dengan orang Samaria. Mereka tentu saja tidak akan minum dari cawan atau timba seorang Samaria.

Dalam bacaan ini justru Yesus malakukan hal yang sebaliknya. Ia meminta air kepada perempuan Samaria. Apa yang dilakukan Yesus sebagai orang Yahudi merupakan tindakan yang tidak biasa pada waktu itu. Apalagi keberadaan perempuan tersebut secara moral tidak baik, sebab di bagian selanjutnya dikatakan bahwa perempuan tersebut memiliki banyak suami dan yang saat itu tinggal bersamanya ternyata bukan suaminya. Tentu apa yang dilakukan Yesus membuat perempuan itu terkejut karena ia tahu bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Namun, apa yang dilakukan Yesus tersebut justru menumbuhkan dialog yang baik dan penuh makna. Dari dialog tersebut tumbuhlah pemahaman baru tentang arti kehadiran Mesias yang datang untuk memulihkan dan mau bersahabat dengan manusia. Hingga pada akhirnya membuat perempuan Samaria tersebut menjadi percaya dan melaluinya banyak orang-orang Samaria yang lain pun percaya kepada Yesus Kristus, Sang Mesias, Juru Selamat dunia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Marah adalah emosi yang dirasakan ketika sesuatu terjadi tidak seperti apa yang diharapkan. Sering kali seseorang terjebak dalam kemarahan yang tak terkendali, sehingga menimbulkan konflik, pertengkaran bahkan kekerasan yang merusak relasi dengan sesama. Sebagai pribadi yang telah mengalami kasih Allah, Paulus memberikan nasihat agar orang percaya menjernikan hati dan pikiran dengan mengarahkan hati kepada Tuhan. Setiap kita perlu melihat bahwa berbagai peristiwa dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi semakin tangguh, kuat, beriman, dan berharap kepada Tuhan. Hal inilah yang diteladankan Tuhan Yesus, Ia dengan rendah hati membangun relasi yang baik dengan perempuan Samaria yang sering dipandang sebelah mata. Apa yang dilakukan Tuhan Yesus telah menumbuhkan dialog yang baik dan penuh makna, hingga membuat banyak orang menjadi percaya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
“Jangan jadi seperti sebotol soda, namun jadilah seperti sebotol air.” Ungkapan ini merupakan nasihat tentang pentingnya mengelola emosi. Botol itu diibaratkan sebagai diri kita. Soda dan air melambangkan emosi dan reaksi yang ada di dalam diri kita. Keadaan yang tidak sesuai harapan, sering kali menjadikan kehidupan kita terguncang. Jika emosi kita seperti soda, ketika tutup botol dibuka, maka kita akan menyemburkan amarah kita ke segala arah. Tetapi jika emosi kita seperti air, ketika tutup dibuka, air itu tetap sama tenangnya seperti sebelum diguncang. Perasaan marah adalah hal yang wajar dialami oleh setiap orang. Tuhan tidak melarang kita untuk marah, namun Ia ingin kita mampu mengendalikan amarah kita dengan baik. Seperti air dalam botol, ketika diguncang, air akan ikut terguncang, namun ketika guncangan berakhir, air akan kembali tenang dan tetap tenang saat tutup dibuka. Berbeda dengan sebotol soda, yang menyimpan gejolak di dalam dirinya dan siap menyembur ke segala arah.

Isi
Tidak adanya air di tempat persinggahan telah membuat kehidupan Bangsa Israel terguncang dan menimbulkan gejolak amarah dalam diri mereka. Amarah tersebut dilontarkan kepada Musa hingga membuat mereka bertengkar. Sikap emosional tersebut membuat bangsa Israel ragu akan penyertaan Tuhan dan kepemimpinan Musa. Mereka lupa akan penyertaan Tuhan yang senantiasa mencukupi kebutuhan, menjaga, dan menolong mereka sepanjang perjalanan keluar dari Mesir sampai pada persinggahan di Rafidim. Bangsa Israel menyalahkan dan meluapkan kekecewaannya kepada Musa. Mereka tidak hanya melontarkan kata-kata yang mendesak Musa untuk melakukan sesuatu, akan tetapi oleh karena kemarahannya mereka juga hampir melempari Musa dengan batu. Wajarlah seketika itu Musa berseru kepada Tuhan agar pertengkaran di antara mereka berhenti. Dengan berseru kepada Tuhan, Musa berusaha menjernihkan suasana dan mengantar umat kepada keyakinan mereka kembali bahwa Tuhan adalah Allah yang beserta dan memelihara kehidupan umat-Nya sejak mereka berada di Mesir hingga pembebasan menuju tanah perjanjian. Di tengah kondisi inilah kuasa dan penyertaan Allah kembali dinyatakan. Tuhan menyuruh Musa dan beberapa tua-tua Israel menuju Gunung Horeb. Di atas gunung itulah, Musa diminta memukulkan tongkat yang dulu pernah digunakan untuk memukul sungai Nil pada sebuah batu dan dari balik batu itu keluar air untuk diminum. Dari kisah ini kita bersama diingatkan bahwa sering kali seseorang terjebak dalam kemarahan yang tak terkendali, sehingga menimbulkan konflik, pertengkaran bahkan kekerasan yang dapat merusak relasi dengan sesama.

Kehidupan umat Tuhan di Roma pada waktu itu juga tidak lepas dari pergumulan yang dapat menguncang kehidupan mereka. Jemaat Roma pada saat itu sedang mendapat banyak tekanan baik dari orang Yahudi maupun orang Roma sendiri dan selain itu di dalam tubuh Jemaat Roma sendiri sedang terjadi konflik. Sebagai pribadi yang telah mengalami kasih Allah, Paulus memberikan nasihat bahwa percaya kepada Kristus bukan berarti bebas dari kesengsaraan yang dapat mengguncang kehidupan. Tuhan mengizinkan masalah hadir dalam kehidupan bukan untuk menghancurkan hidup orang percaya, tetapi sebagai ujian yang membentuk mereka menjadi semakin tangguh, kuat, beriman, dan berharap kepada Tuhan. Untuk itulah, Paulus berharap agar orang percaya melihat penderitaan sebagai kesempatan bagi mereka untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam Tuhan, bukan menjadi sesuatu yang menimbulkan amarah. Di tengah penderitaan yang dialami, mereka perlu mengedepankan sikap rendah hati dan terus mengupayakan hidup damai, agar terjalin relasi yang baik dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain.

Hal inilah yang dilakukan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Kisah percakapan Yesus dengan perempuan Samaria menjadi babak baru bagaimana Tuhan hadir dalam kerendahatian berusaha untuk memulihkan relasi antara orang Yahudi dan orang Samaria yang selama ini rusak. Tidak bisa dipungkiri bahwa orang Yahudi yang tinggal di Yudea pada saat itu tidak menyukai orang Samaria, karena dianggap tidak setia terhadap Allah Israel. Oleh sebab itu, orang Yahudi yang sangat ketat menjalankan hukum-hukum kekudusan tidak mau bergaul dengan orang Samaria. Mereka tentu saja tidak akan minum dari cawan atau timba seorang Samaria. Kesediaan Yesus mampir, bercakap, dan meminta air yang ditimba oleh perempuan Samaria merupakan tindakan yang tidak biasa pada waktu itu. Apalagi keberadaan perempuan tersebut secara moral tidak baik, sebab di bagian selanjutnya dikatakan bahwa perempuan tersebut memiliki banyak suami dan yang saat itu tinggal bersamanya ternyata bukan suaminya. Tentu apa yang dilakukan Yesus membuat perempuan itu terkejut karena ia tahu bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Namun, apa yang dilakukan Yesus tersebut justru menumbuhkan dialog yang baik dan penuh makna. Dari dialog tersebut tumbuhlah pemahaman baru tentang arti kehadiran Mesias yang datang untuk memulihkan dan mau bersahabat dengan manusia. Sehingga pada akhirnya membuat perempuan Samaria itu menjadi percaya dan melaluinya banyak orang-orang Samaria yang lain pun percaya kepada Yesus Kristus, Sang Mesias, Juru Selamat dunia.

Penutup
Tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam hidup ini ada berbagai peristiwa yang terjadi tidak seperti apa yang kita harapkan. Sering kali hal tersebut menimbulkan amarah yang tak terkendali hingga menimbulkan konflik, pertengkaran bahkan kekerasan yang merusak relasi kita dengan sesama. Untuk itulah, setiap kita perlu menjernihkah hati dan pikiran kita dengan mengarahkan hati kepada Tuhan. Setiap kita perlu melihat bahwa berbagai peristiwa dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi semakin tangguh, kuat, beriman, dan berharap kepada Tuhan. Dengan demikian keberadaan kita akan seperti air di dalam botol, sekalipun terguncang air itu  tetap menjadi tenang sekalipun botol tersebut dibuka tutupnya. Di saat kita tenang, setiap kita pasti akan dengan mudah memperbaiki dan membangun relasi yang baik dengan siapapun. Marilah di Minggu Pra Paskah ke-3 ini, setiap kita belajar untuk mengelola amarah dan membangun relasi yang baik dengan siapapun. Sebagaimana peristiwa Paskah, mengingatkan kita bagaimana Allah berusaha membangun kembali relasi kita dengan-Nya yang telah rusak agar menjadi lebih baik. Amin. [YHS].

 

Pujian: KJ. 400  Ku Daki Jalan Mulia

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
“Aja dadi kaya sakbotol soda, nanging dadia kaya sakbotol banyu.” Unen-unen punika minangka pitutur babagan pentingipun ngatur emosi. Botol punika nggambaraken dhiri kita. Soda lan toya punika nggambaraken emosi lan reaksi dhiri kita. Kawontenan ingkang mboten cocog kaliyan punapa ingkang kita angen-angen, asring ndadosaken gesang kita kagoncang. Nalika emosi kita kados dene soda, nalika tutup botol punika dipun bikak, bakal nyemburaken raos nesu kita. Nanging nalika emosi kita kados dene toya, nalika tutup botol dipun bikak, toya punika bakal tetep anteng kados saderengipun kagocang. Raos nesu punika bab ingkang limrah dipun alami dening saben tiyang. Nanging Gusti Allah ngersakaken supados kita saged ngendaleni raos nesu kita kanthi sae, supados kita saged kados dene sajrone toya ing botol. Sinaosa kagoncang, kawontenanipun toya ugi badhe gonjang-ganjing, nanging nalika gancanganipun rampung, toya punika bakal anteng malih sinaosa tutup botolipun kabikak. Benten kaliyan botol soda, ingkang taksih nyimpen gejolak ing sajroning manah ingkang siap nyembur ing sadaya arah.

Isi
Mboten wontenipun toya ing papan palerenan ndadosaken gesangipun Bangsa Israel kagoncang lan nuwuhaken raos nesu wonten ing manahipun. Raos nesu punika kauntabaken dhateng Musa ngantos ndadosaken piyambakipun padu. Patrap emosional punika ndadosaken bangsa Israel mangu-mangu dhumateng pangreksanipun Gusti lan kepemimpinanipun Musa. bangsa Israel mboten enget malih dhumateng pangreksanipun Gusti ingkang tansah nyekapi sadaya kabetahan, njagi lan mitulungi ing sauruting lampah nalika medal saking Mesir, ngantos ing papan palerenan ing Rafidim. Bangsa Israel nguntabaken raos kuciwanipun dhateng Musa, mboten namung mawi tetembungan ingkang ndhesek Musa supados nglampahi saprekawis, ananging awit raos nesunipun Musa badhe dipun benturi sela. Pramila saking punika Musa sesambat dhumateng Gusti, ngupadi supados nentremaken swasana lan nedahaken supados bangsa Israel pitados malih dhumateng Gusti bilih Gusti tansah ngreksa lan ngrimati bangsa Israel wiwit nalika taksih ing Mesir ngantos tumuju ing tanah prajanjian. Ing sadengah kahanan punika panguwaos lan pangreksanipun Gusti kapratelakaken. Gusti ngutus Musa lan para pinisepuh tindhak tumuju redi Horeb. Ing ngriku Musa kasuwun nyabetaken teken ingkang rumiyin nate dipun damel nyabet bengawan Teberau dhumateng salah satunggaling parang lan saking waliking parang punika tuwuh toya ingkang saged dipun unjuk. Saking cariyos punika kita sami dipun engetaken bilih kita asring kajebak raos nesu ingkang mboten saged dipun kendaleni, mila asring nuwuhaken cecongkrahan ingkang saged ngrisak sesambetan kita klayan sesami.

Kawontenan umating Gusti ing Roma, wekdal punika ugi mboten uwal saking kawontenan ingkang awrat. Pasamuwan Roma ngalami tekanan saking tiyang-tiyang Yahudi lan Romawi, kejawi punika wonten cecongkrahan ing salebeting gesang pasamuwan. Minangka pribadi ingkang sampun ngraosaken katresnanipun Gusti, Paulus paring pitutur bilih minangka tiyang pitados dhumateng Sang Kristus punika mboten lajeng uwal saking rekaosing gesang. Gusti ngeparengaken sadengah prekawis kelampahan wonten ing pigesangan, sanes kangge nyirnakaken gesang, nanging sadaya sageda dados ujian ingkang ndadosaken tiyang pitados tatag, tanggon, setya, lan nggadahi pangajeng-ajeng dhumateng Gusti. Pramila saking punika Paulus ngersakaken supados tiyang pitados ningali kasangsaran minangka kasempatan kangge ngupadi saged terus tuwuh lan ngrembaka wonten ing Gusti, sanes dados prekawis ingkang ndadosakken raos nesu. Ing sadengan kasangsaran ingkang dipun alami, tiyang pitados kedah andhap asor lan ngupadi kawontenan gesang ingkang ayem tentrem, satemah saged nuwuhaken sesambetan ingkang sae lan ngiyataken antawis setunggal lan sanesipun.

Prekawis punika ingkang katindakaken dening Gusti Yesus ing waosan Injil dinten punika. Cariyos bab rerembakanipun Gusti Yesus kaliyan tiyang estri Samaria minangka bab enggal, kados pundi anggenipun Gusti rawuh kanthi andhap asoring manah ngupadi sesambetanipun tiyang Yahudi lan Samaria ingkang rusak sageda kawangun sae. Mboten saged dipun selaki menawi tiyang-tiyang Yahudi ingkang manggen ing Yudea wekdal punika mboten remen kaliyan tiyang Samaria, awit tiyang Samaria dipun wastani mboten setya dhumateng Gusti Allahing Israel. Pramila tiyang Yahudi ingkang ngugemi pranatan mboten purun srawung kaliyan tiyang Samaria. Piyambakipun tamtu mboten purun ngunjuk toya saking tuwung utawi emberipun tiyang Samaria. Nalika Gusti Yesus karsa lereh sawetawis miwiti pirembagan lan nyuwun toya ingkang kapendet dening tiyang estri Samaria, punika tumindak ingkang mboten limrah. Punapa malih kawontenanipun tiyang estri punika moralipun mboten sae, awit perangan salajengipun mratelakaken bilih piyambakipun nggadhah kathah garwa lan ingkang sakmangke kaliyan piyambakipun sanes garwanipun. Mila punapa ingkang katindhakaken dening Gusti Yesus punika dados gumuning tiyang estri Samaria punika, awit piyambakipun mangertos bilih Gusti Yesus punika tiyang Yahudi. Nanging sadaya punika saestu nuwuhaken pirembagan ingkang sae lan migunani. Saking pirembagan punika nuwuhaken pangertosan enggal bilih kawontenanipun Sang Masih punika kagem mulihaken sesambetan ingkang risak. Lan ing pungkasanipun tiyang estri punika pitados dhumateng Gusti, lumantar piyambakipun katah tiyang Samaria ingkang pitados bilih Gusti Yesus punika Sang Masih, Juru Wilujenging donya.

Panutup
Mboten saged kita selaki bilih wonten ing gesang punika katah prastawa ingkang mboten cocok kaliyan pangajeng-ajeng kita. Asring sadaya punika ndadosaken raos gela lan kuciwa ingkang mboten saged dipun kendaleni satemah ndadosaken cecongkrahan ingkang ngrisak sesambetan kita kaliyan sesami. Pramila saking punika kita kedah menepaken manah lan pikiran kita kanthi madepaken manah lan pikiran kita dhumateng Gusti. Kita kedah ningali bilih sadaya prastawa ingkang kelampahan, sadaya punika saged dipun agem dening Gusti ndadosaken kita tansaya tatag, tanggon, setya, lan nggadah pangajeng-ajeng dhumateng Gusti. Kanthi mekaten, kawontenan kita saged kados toya ing salebeting botol, sinaosa kagoncang, ing titi wancinipun saged anteng malih sinaosa tutup botolipun kabikak. Nalika kawontenan kita anteng, kita tamtu langkung gampil anggenipun ndandosi lan mbangun sesambetan kaliyan sintena kemawon. Mila sumangga ing Minggu Pra Paskah kaping-3 punika, kita sami sinau mranata manah lan pikiran kita saha mbangun sesambetan ingkang sae kaliyan sintena kemawon. Awit prastawa Paskah, ngengetaken kita kados pundi Gusti Allah ngupadi sesambetan kita kaliyan Panjenenganipun ingkang sampun risak supados dados langkung sae. Amin. [YHS].

 

Pamuji: KPJ. 368   Rukun Agawe Santosa

Renungan Harian

Renungan Harian Anak