Pegangan Sejati di Tengah Perjalanan yang Tak Pasti Khotbah Minggu 1 Maret 2026

16 February 2026

Minggu Pra Paskah 2
Stola ungu

Bacaan 1: Kejadian 12 : 1 – 4
Mazmur: Mazmur 121
Bacaaan 2: Roma 4 : 1 – 5, 13 – 17
Bacaan 3: Yohanes 3 : 1 – 17

Tema Liturgis: Bertobat, Memulihkan Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Pegangan Sejati di Tengah Perjalanan yang Tak Pasti

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 12 : 1 – 4
Kejadian 12 mengisahkan panggilan TUHAN kepada Abram dan Sarah, yang mengajak keduanya untuk melampaui zona nyaman dengan undangan yang lugas: “Pergilah dari negerimu, dari sanak keluargamu, dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” (12:1). Kisah panggilan TUHAN kepada Abram ini menandai inisiatif Ilahi, sebab pemilihan TUHAN terhadap keluarga Abram tidak semata-mata didasarkan pada prestasi atau kebaikan dan kekuatan mereka, melainkan berakar pada tujuan dan kasih karunia-Nya yang penuh misteri. Kendati Abram dan Sarah menghadapi kenyataan pahit sebagai pasangan mandul yang tak memiliki anak, tetapi janji dan kuasa Tuhan untuk menjadikan Abram sebagai bapa semua bangsa tetap kokoh. Hal ini menunjukkan bahwa rencana-Nya tidak pernah terhalang oleh keterbatasan manusia.

Perjalanan Abram dan Sarah yang digerakkan oleh iman dan didasari oleh pengharapan untuk menjadi berkat bagi seluruh keluarga di bumi, memperlihatkan bahwa rencana Tuhan selalu melampaui kepentingan pribadi manusia. Melalui kisah panggilan TUHAN kepada Abram dan Sarah, TUHAN meneguhkan bahwa kendati manusia kerap memberontak, tidak taat, dan berlaku jahat, tetapi kesetiaan, cinta kasih, dan penyertaan TUHAN kepada manusia dan seluruh ciptaan-Nya tetap abadi serta tak berubah. Kisah Abram dan Sarah yang dengan taat, rela, dan sukacita meninggalkan kehidupan lama demi menempuh perjalanan yang tak mereka ketahui ini merefleksikan ajakan untuk meninggalkan pola hidup lama demi merengkuh janji, harapan, dan kehidupan baru.

Melalui kisah panggilan Abram, kita diteguhkan bahwa janji, kesetiaan, dan komitmen cinta kasih Tuhan kepada kita merupakan sumber kekuatan untuk menapaki ketidakpastian perjalanan hidup. Sebagaimana Abram dan Sarah yang melangkah dalam iman, umat diundang untuk menapaki perjalanan hidup yang tak pasti, dengan sepenuhnya menggantungkan diri pada iman dan janji Tuhan yang menjadi sumber tuntunan utama.

Roma 4 : 1 – 5, 13 – 17
Surat Paulus kepada jemaat di Roma diperuntukkan bagi umat yang memiliki keragaman latar belakang, mulai dari umat yang bertumbuh dalam tradisi Romawi, hingga orang Kristen Yahudi yang akrab dengan kisah dan hukum Taurat. Melalui suratnya, Paulus menegaskan bahwa tradisi masa lalu, aturan, hukum, ataupun perbuatan baik tidak dapat membenarkan seseorang di hadapan Tuhan. Seseorang hanya dibenarkan di hadapan Tuhan oleh karena anugerah semata (bdk. Rom. 3:24, Ef. 2:8).

Di dalam suratnya, Paulus mengajak untuk merefleksikan figur Abram. Jika menurut tradisi Yahudi Abram dihormati karena perbuatannya (4:2), secara menarik Paulus justru menambahkan perspektif berbeda, yakni dengan menyoroti Abram sebagai teladan iman. Sebab, Abram hidup di masa sebelum hukum Musa/hukum Taurat, sehingga pembenaran yang ia terima bukanlah hasil kepatuhannya kepada aturan dan hukum, melainkan sepenuhnya merupakan buah dari iman dan kepercayaannya kepada janji Tuhan (4:13). Dengan demikian Paulus menegaskan bahwa seseorang dibenarkan oleh Tuhan sepenuhnya karena anugerah yang ia terima melalui iman.

Di sisi lain, jika mencermati perjalanan hidup Paulus, kita dapat melihat perubahan perspektif dan pola hidup yang mendasar dan radikal. Semula Saulus merasa bahwa ia merupakan sosok yang saleh dan dibenarkan oleh Tuhan melalui kesetiaannya dalam menaati aturan, hukum Taurat sebagai bagian dari kewajiban agama. Namun perjumpaannya dengan Kristus mengubah segalanya. Lantas, Saulus berubah menjadi Paulus. Transformasi hidup Paulus menegaskan bahwa keselamatan merupakan anugerah, dan bukan sekadar ganjaran atas perbuatan baik atau ketaatan kepada aturan/ hukum. “Apa yang dulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap kerugian karena Kristus,” demikian ungkap Paulus dalam Filipi 3:7. Demikianlah, melalui surat Paulus, mari belajar menolak pola hidup lama yang menghambat kita dalam menerima pembaruan anugerah di dalam iman kepada Tuhan.

Yohanes 3 : 1 – 17
Teks yang sangat terkenal ini menawarkan beberapa kemungkinan gagasan. Setidaknya terdapat tiga gagasan utama yang dapat dielaborasi lebih lanjut. Pertama terkait “tanda.” Di dalam Injil Yohanes, aksi dan tindakan yang dilakukan Yesus Kristus sejatinya bukan berhenti sebagai sekadar mukjizat belaka, melainkan lebih dari itu; merupakan tanda yang merujuk pada karya penyelamatan Tuhan. Di dalam ayat kedua, Nikodemus memuji tanda-tanda yang diperlihatkan oleh Yesus Kristus. Namun ia gagal memahami makna terdalamnya. Sebab Yesus Kristus bukan hanya sekadar rabi atau guru baik yang diutus Allah, melainkan lebih dari itu, Yesus Kristus merupakan manifestasi langsung dari cinta kasih Tuhan kepada dunia (3:16). Injil Yohanes juga mengajak kita mengingat tentang tanda nabi Musa, khususnya ketika Musa mengangkat tiang dan patung ular tembaga di padang gurun sebagai “tanda” pengharapan dan keselamatan yang menyelamatkan umat dari kematian (Bil. 21). Penulis Injil Yohanes menggunakan tanda Musa sebagai penegasan bahwa Yesus Kristus pun diangkat, ditinggikan, dan dimuliakan melalui peristiwa salib.

Jika tanda salib terkadang dipahami sebagai penanda kekalahan, maka melalui peristiwa penyaliban Yesus Kristus, hadir pemaknaan baru. Sebab salib Yesus Kristus justru menandai misi penebusan Tuhan Allah yang bersifat ultimate. Hanya mereka yang mampu melampaui penanda material dan menyelam ke dalam keluasan makna penebusan Kristuslah yang dapat terhisap, berpartisipasi, dan mengalami karya penyelamatan Tuhan Allah. Demikianlah, Injil Yohanes mengajak kita untuk menyambut, memandang, dan menghayati salib secara mendalam sebagai penanda kelimpahruahan cinta kasih Allah bagi dunia yang paling nyata.

Kedua, terkait Nikodemus. Ia datang di malam hari, mungkin karena takut pada lingkungan sekitarnya. Jika kita memperhatikan bacaan, tampak bahwa Nikodemis sering salah memahami perkataan Yesus dan kerap kali tampak ragu. Tetapi, meskipun demikian, Nikodemus perlahan-lahan menunjukkan keberanian dan kesediaannya untuk masuk, terlibat, dan mengimani Yesus Kristus. Penulis Injil Yohanes tampak membandingkan respons Nikodemus dengan misalnya perempuan Samaria (Yoh. 4) yang lebih cepat dalam merespons, percaya, dan mengimani Yesus Kristus. Di atas semua itu, iman dalam Injil Yohanes 3 merupakan sebuah proses yang tumbuh secara perlahan seiring waktu dan pengalaman.

Ketiga, tentang lahir “dari atas” atau “lahir kembali.” Bagian ini mengajak kita untuk mengarahkan perhatian pada karya Roh yang berlangsung secara terus menerus, dan bukan sekadar fokus pada momen pertobatan yang bersifat sekali jadi. Jika iman merupakan sebuah kata kerja yang menandai proses spiritual yang terus berlangsung, “seperti angin yang bertiup ke mana ia mau” (3:8), maka setiap orang dapat mengalami perjumpaan dengan Roh secara unik dan tak terduga, melalui cara yang sepenuhnya ditentukan oleh kedaulatan Roh Kudus sendiri, bukan melalui ketentuan kita.

Pada akhirnya, ayat 16 menjadi puncak refleksi: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…dst.” Menariknya, dalam konteks Yohanes, kosmos (dunia) sering kali dimaknai sebagai entitas yang melawan kehendak Tuhan. Namun kasih Tuhan justru ditujukan kepada dunia yang membenci-Nya. Tuhan mengasihi tanpa syarat, tanpa meminta persetujuan dunia. Kasih Tuhan secara menyeluruh menembus batas-batas kebencian manusia, bahkan sampai pengorbanan Anak-Nya di salib. Maka, pada akhirnya, kita diajak untuk menghayati agar melalui karunia Roh Kudus yang bebas kita beroleh anugerah yang memampukan kita untuk melihat tindakan penebusan Tuhan di kayu salib sembari terlibat dan berpartisipasi aktif di dalam persekutuan katresnan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan mengajak kita meninggalkan pola hidup lama dan membuka diri pada kasih serta anugerah Tuhan melalui kesungguhan iman. Kisah panggilan TUHAN kepada Abram untuk menapaki perjalanan, surat Paulus tentang pembenaran dan keselamatan oleh anugerah dan iman, hingga ajakan Yesus kepada Nikodemus untuk lahir kembali, semuanya menegaskan pentingnya upaya kita untuk merespons inisiatif tuntunan Ilahi di dalam iman yang dapat menavigasi perjalanan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Global Positioning System atau GPS adalah temuan modern yang membuat kita dapat memperoleh kepastian tentang jalan mana yang harus kita tempuh, ketika kita menghadapi ketidakpastian. Di masa sebelum GPS ditemukan, para pelaut mengandalkan rasi bintang dan arah mata angin sebagai petunjuk yang memandu pelayaran. Di tepi pantai berbatu, mercusuar berdiri sebagai penanda yang menavigasi kapal agar tidak karam menghantam karang.

Agaknya, sebagai manusia kita selalu merindukan kepastian dan keselamatan. Sayangnya, realitas hidup mengajarkan kita bahwa ketidakpastian adalah bagian tak terhindarkan dari perjalanan. Di tengah situasi yang demikian, kita membutuhkan pegangan dan tuntunan yang dapat menavigasi perjalanan.

Sering kali, secara lumrah, manusia memilih menggenggam semat, drajat, pangkat (kemuliaan, jabatan, pangkat) dan kecukupan material sebagai pegangan hidup. Memang, hal-hal tersebut penting, tetapi bukanlah yang utama, sebab semuanya fana dan sementara. Mari kita mengingat bahwa bahwa TUHAN adalah pegangan sejati kita dalam melangkah.

Isi
Ketika TUHAN memanggil Abram untuk menempuh perjalanan yang penuh ketidakpastian dan yang tak ia ketahui sebelumnya, Abram memilih taat. Ia dan keluarganya meninggalkan pola hidup lama dan menempuh ketidakpastian perjalanan dengan menggenggam janji Tuhan sepenuh hati. Karena itulah, Tuhan membenarkan Abram dan dalam bacaan kedua, Paulus menyebutnya sebagai teladan iman (Roma 4:13).

Melalui kisah Abram, kita bisa melihat bahwa janji, kesetiaan, dan cinta kasih Tuhan menjadi sumber kekuatan untuk menapaki ketidakpastian hidup. Maka, sama seperti Abram dan Sarah yang melangkah dalam iman, Tuhan pun juga mengundang kita untuk berjalan dengan iman dan bergantung penuh pada janji-Nya sebagai sumber tuntunan utama. Lantas bagaimana cara kita untuk sepenuhnya bergantung dan beriman kepada Tuhan?

Di dalam Injil Yohanes kita dapat menimba inspirasi dan jawaban dari pertanyaan tersebut. Injil Yohanes menguraikan bahwa iman merupakan proses yang tumbuh seiring waktu dan pengalaman, secara perlahan. Nikodemus yang bertemu Yesus Kristus di malam hari, menampakkan proses bertumbuhnya iman secara bertahap. Ia mengimani Yesus Kristus secara perlahan, berbeda dengan Perempuan Samaria yang segera percaya (Yoh. 4). Yesus Kristus menegaskan bahwa tanpa “lahir kembali” di dalam Roh-Nya, maka seseorang tak bisa mengalami iman sejati.

Maka, kata kuncinya terdapat pada respons kita untuk sepenuhnya membuka hati dan memberikan keleluasaan ruang bagi kedaulatan Roh Kudus untuk sepenuhnya bekerja mengubah hati kita. Dengan demikian kita dapat menyambut anugerah penebusan Allah Bapa di dalam Yesus Kristus di kayu salib; yang menganugerahkan hidup kekal kepada dunia dan seluruh ciptaan (Yoh. 3:16).

Masa Pra-Paskah merupakan kesempatan bagi kita untuk mencermati diri dan melakukan introspeksi. Apakah sebagai umat percaya kita telah sepenuhnya menanggalkan pola hidup lama, dan secara total mengimani tuntunan Yesus Kristus? Apakah sebagai pengikut Kristus kita telah sepenuhnya mengikuti kehendak Tuhan dan mendengarkan secara mendalam tuntunan Sang Roh Kudus? Atau apakah sebagai keluarga dan persekutuan kita sibuk berjalan sekehendak hati kita sendiri, seturut kemauan dan keinginan kita, tanpa melibatkan tuntunan Allah Bapa?

Penutup
Akhirnya mari merenungkan di hati kita masing-masing. Pertama, adakah ketidakpastian yang tengah anda hadapi dalam hidup? Serahkanlah segalanya kepada Tuhan dan berimanlah bahwa Tuhan siap menuntun setiap langkah kita. Kedua, bukalah hati untuk Roh Kudus. Mintalah agar Roh Kudus mengubah dan memimpin hidup anda, sehingga iman anda bertumbuh dan dapat menjadi pegangan yang kokoh. Ketiga, mari kita meneguhkan komitmen bersama sebagai umat percaya yang saling menguatkan dalam iman, saling mendoakan, dan berjalan bersama dalam kepastian janji Tuhan, kendati perjalanan hidup kita dipenuhi dengan ketidakpastian.

Dengan mengimani dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, kita akan beroleh kejelasan dan menemukan arah hidup yang pada saat yang sama juga menjadi berkat bagi sesama dan dunia di sekitar kita. Mari kita menguatkan komitmen untuk melangkah dalam pola hidup baru dengan sepenuhnya memberikan keleluasaan ruang bagi Roh Kudus untuk menavigasi ketidakpastian hidup. Dengan demikian, kita akan beroleh daya untuk menempuh perjalanan hidup di dalam iman sebagai rekan kerja-Nya yang merahmati dunia. Amin. [HT].

 

Pujian: KJ. 413  Tuhan, Pimpin Anak-Mu

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Global Positioning System utawi GPS punika sawijining panemuan modhern ingkang ndadosaken kita saged angsal kepastian margi pundi ingkang kedah kita lampahi ing satengahing kahanan ingkang mboten pasti. Sakderengipun wonten GPS, para pelaut/nelayan ngandelaken lintang-lintang saha arah angin kagem panduan kangge berlayar. Wonten ing pinggir pantai, mercusuar dipun bangun minangka pratanda supados kapal mboten karam amargi nabrak watu karang.

Kadosipun, manungsa pancen tansah kangen pikantuk kepastian lan kawilujengan. Ananging, kasunyatan gesang paring piwulang bilih ketidakpastian inggih punika prekawis nyata ingkang mboten saged dipun indari. Wonten ing satengahing kahanan ingkang kados punika, kita sami pengin gadhahi pitedah saha tuntunan ingkang saged nuntun lampahing pigesangan kita.

Pramila, asring manungsa milih ngempalaken drajat, pangkat, saha kabetahan material saperlu dados gondhelan pigesangan. Estunipun punika penting ananging tamtu mboten dados prekawis utami lan pokok, amargi sadaya punika mboten langgeng lan sementara kemawon. Mugia kita eling bilih namung Gusti ingkang dados pitedah lan tuntunan sejati kita wonten ing lampahing pigesangan.

Isi
Nalika Yahweh ngutus Abram kangge mlampah ing satengahing kahanan ingkang mboten pasti saha ngambah margi ingkang mboten dipun mangertosi sakderengipun, Abram milih taat. Bangun miturut ing karsanipun Gusti. Abram lan kulawarganipun lajeng nilar pola gesang lami lan pitados kaliyan janjinipun Gusti kanthi estu. Awit punika, Gusti lajeng maringi “pembenaran” dhumateng Abram, lan Paulus nyebat Abram minangka Bapa tiyang pitados lan tuladha iman (Rom. 4:13).

Mawi carita Abram, kita saged mangertos bilih janji, kasaenan, lan katresnan saking Gusti punika dados kakiyatan kangge ngadepi gesang ingkang mboten pasti. Pramila, kados ta Abram lan Sarah ingkang mlampah kanthi iman, Gusti ugi ngundhang kita sadaya supados tatag nglampahi gesang kanthi iman ingkang kandel lan gumantung wontening kekiyatan ingkang sumberipun saking janjinipun Gusti kemawon. Samangke pitakenanipun, kadospundi cara kita pitados lan gumantung kaliyan Gusti kanthi estu lan paripurna?

Saking Injil Yokanan kita saged mendhet inspirasi bab sesambetan punika. Injil Yokanan paring pitedah bilih iman punika proses ingkang tuwuh alon-alon lumantar pengalaman. Nikodemus ingkang sowan Gusti Yesus ing wanci wengi nggambaraken proses iman ingkang tuwuh sekedhik-sekedhik. Iman pracaya Nikodemus tumrap Gusti Yesus tuwuh alon-alon, benten kaliyan tiyang estri Samaria ingkang langsung pitados (Yok. 4). Gusti Yesus ngandika menawi tanpa ‘lair enggal’ wonten ing Roh Suci, umat estunipun mboten saged ngraosaken iman sejati (Yok. 3).

Kanthi mekaten, punika satunggaling kunci ingkang mligi supados kita mbikak manah kita kanthi tinarbuka sarta maringi panggenan kagem Sang Roh Suci kangge ngawontenaken owah-owahaning manah kita. Kanthi mekaten, kita saged nampi sih-rahmat saking Gusti Allah Sang Rama lumantar Gusti Yesus Kristus ingkang seda sinalib saperlu maringi gesang langgeng dhumateng donya lan sadaya titah (Yok. 3:16).

Mangsa Pra-Paskah punika wekdal ingkang trep lan cocok kangge kita sadaya niti priksa batin lan nglampahi introspeksi. Punapa kita sampun ngrucat pola kamanungsa lami, pola gesang lami, lan kanthi estu mlebet wontening pola gesang enggal kanthi pitados dhumateng pitedah lan tuntunan Gusti Yesus Kristus? Punapa kita minangka para pandherekipun Sang Kristus sampun mirengaken kanthi tumemen dhawuhipun Gusti lan nyawisaken manah kagem tuntunan Sang Roh Suci? Punapa kita minangka kulawarga lan pasamuan taksih asring mlampah manut pikajeng kita piyambak utawi sampun saestu lan tumemen anggenipun mirengaken dhawuhipun Gusti?

Penutup
Ing wusana, sumangga kita sami ngraos-raosaken ing manah. Kaping pisan, punapa wonten prekawis ingkang mboten pasti ingkang saweg panjenengan alami? Sumangga kita masrahaken sadayanipun dhumateng Gusti lan pitados bilih Gusti badhe nuntun lampah pigesangan kita. Kaping kalih, swawi kita mbikak manah kita kagem Sang Roh Suci. Sumangga kita nyuwun pangestu lan maringi keleluasaan kagem Sang Roh Suci kangge ngowahi lan ngarahaken gesang kita, supados kita sangsaya bakoh anggenipun ndadosaken iman minangka tuntunan sejati. Kaping tiga, sumangga kita sami ngiyataken komitmen iman kita sesarengan minangka umat pitados, kita sami nyengkuyung sesarengan wontening pandonga, lan mlampah sesarengan wontening kepastian janjinipun Gusti, sanadyan ta gesang kita kebak kaliyan prekawis ingkang mboten pasti.

Kanthi pitados lan gumantung dhumateng Gusti, kita tamtunipun badhe manggih kapitadosan ingkang saged nuntun arah pigesangan kita, lan ngiyataken kita minangka saluran sih-rahmatipun Gusti kangge sesami. Swawi kita ngiyataken komitmen sesarengan kangge nglampahi pola gesang enggal kanthi maringi papan kagem Sang Roh Suci nuntun pigesangan kita ing satengahing prekawis ingkang mboten pasti. Kanthi punika, kita nggadhah daya kakiyatan kangge nglampahi pigesangan srana iman, minangka rencang damelipun Gusti Allah ingkang ngrahmati donya. Amin. [HT].

 

Pamuji: KPJ. 436 Gusti Nuntun Lampah Kula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak