Memilih Setia Mendengar Suara Tuhan Khotbah Minggu 18 Desember 2022

5 December 2022

Minggu Adven IV
Stola Ungu

Bacaan 1: Yesaya 7 : 10 – 17
Bacaan 2: Roma 1 : 1 – 17
Bacaan 3: Matius 1 : 18 – 25

Tema Liturgis: Kewaspadaan di Tengah Pergumulan Membuahkan Kebaikan
Tema Khotbah: Memilih Setia Mendengar Suara Tuhan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 7 : 10 – 17
Yesaya hidup pada jaman Raja Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia memerintah di Yehuda. Kerajaan Yehuda pada jaman nabi Yesaya mengalami sejumlah krisis diantaranya penyerbuan militer dari Asyur, perang Syro-Efraim (735-733 SM). Yesaya 7:10-17 berada dalam konteks perang Syro-Efraim pada jaman Raja Ahas memerintah di Yehuda. Pada awalnya Kerajaan Israel Utara (Efraim) bersekutu dengan Kerajaan Siria serta hendak mengajak serta Kerajaan Yehuda untuk melawan Kerajaan Asyur. Perlawanan itu dikarenakan Israel Utara dan Siria telah membayar pajak kepada Asyur sejak tahun 738 SM akan tetapi mereka hendak memberontak dengan menahan pembayaran pajak. Yehuda menolak tawaran untuk bersekutu melawan Asyur sehingga marahlah Israel Utara dan Siria serta hendak menyerang Ahas (Raja Yehuda) dan menggantikannya dengan raja yang lebih bisa diajak bekerjasama. Menghadapi situasi yang seperti itu Ahas merasa takut, dia mempersiapkan pasukannya jika sewaktu-waktu terjadi serangan dari Israel Utara dan Siria.

Dalam situasi seperti itu, Tuhan menyuruh Yesaya bersama dengan Syear Yasyub (anak Yesaya) untuk menemui Ahas dan menyampaikan nubuat-Nya agar Ahas tetap tenang dan tidak takut. Bahkan Yesaya memberikan tanda kepada Ahas yang terkenal dengan nubuat Imanuel dari nabi Yesaya. Bahwa akan ada seorang almah (bisa diterjemahkan sebagai wanita muda usia subur, gadis, perawan) akan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamakan Imanuel (Allah menyertai). Anak ini akan memakan dadih dan madu sampai tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik (Ay. 14-15). Sebelum anak itu dapat memilih (umur untuk dapat menentukan baik dan buruk sekitar 20 tahun) maka kedua negeri yang ditakuti Ahas (Siria dan Israel Utara) akan ditinggalkan kosong karena kekalahan keduanya. Ahas tampaknya lebih memilih untuk bersekutu dengan Asyur dibandingkan dengan menuruti nubuat Yesaya untuk tetap tenang dan tidak takut. Ahas mengirimkan emas dan perak sebagai upeti agar Asyur melindunginya dari serangan Israel Utara dan Siria. Pada akhirnya Asyur dapat mengalahkan Israel Utara dan Siria, akan tetapi sebagai konsekuensinya, Yehuda menjadi jajahan Asyur.

Roma 1 : 1 – 17
Seperti halnya surat-surat Paulus lainnya, Roma 1:1-17 dimulai dengan perkenalan dari Paulus, salam, doa syukur dan gagasan pokok dari penulisan surat oleh Paulus. Jemaat di Roma bukanlah jemaat yang didirikan oleh Paulus. Bahkan Paulus sendiri belum pernah ke Roma dan bertemu dengan jemaat Roma. Ayat 8-15 menuliskan harapan Paulus untuk dapat mengunjungi jemaat Roma tetapi belum terlaksana sampai dengan surat tersebut ditulis (surat kepada jemaat Roma ditulis ± tahun 56 M di Korintus). Paulus baru datang ke Roma saat menjadi tawanan kekaisaran Romawi, bukan sebagai rasul untuk jemaat Roma. Tampaknya jemaat Roma dibangun oleh anggota jemaat Kristen Yahudi di Yerusalem yang mengadakan perjalanan ke Roma. Akan tetapi pada tahun 49 M, Kaisar Klaudius memerintahkan untuk mengusir orang-orang Yahudi dari Roma. Setelah Klaudius meninggal sekitar tahun 54 M, orang Kristen Yahudi yang kembali ke Roma terkejut menemukan sejumlah besar orang Kristen bukan Yahudi disana yang tetap setia dalam imannya. Bisa jadi hal inilah yang mendasari ucapan syukur Paulus dalam ay.8 “… sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia”. Di tengah penganiayaan yang harus dialami oleh orang Yahudi dan para pengikut Yesus pada jaman Kaisar Klaudius, jemaat Roma tetap setia mempertahankan iman mereka kepada Yesus, Sang Anak Allah yang berkuasa (Ay. 4). Kesetiaan iman jemaat Roma di tengah penganiayaan inilah yang membuat Paulus rindu datang ke Roma bertemu dengan mereka untuk dapat melayani dan semakin menguatkan iman mereka (Ay. 11-12). Sebelum bisa datang ke Roma, Paulus menuliskan suratnya untuk memberikan nasihat dan kekuatan bagi jemaat Roma, salah satunya adalah bahwa kesetiaan iman mereka kepada Injil Kristus tidaklah sia-sia karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Ay. 16) serta orang benar akan hidup oleh iman (Ay. 17).

Matius 1 : 18 – 25
Yusuf dan Maria telah bertunangan, pertunangan dalam tradisi masyarakat Yahudi merupakan suatu relasi yang kuat serta sebagai tanda pengudusan keduanya. Pada tahap ini mereka telah mengucapkan janji perkawinan serta disebut suami istri tetapi tidak hidup bersama, wanita yang telah bertunangan dinyatakan terlarang bagi semua pria lain, tahapan ini hanya bisa berakhir dengan perceraian. Tahap pertunangan sampai dengan perkawinan biasanya membutuhkan waktu satu tahun lamanya. Yusuf tentunya terkejut mengetahui kenyataan bahwa Maria tunangannya mengandung sehingga disebutkan bahwa dia bermaksud untuk menceraikan dengan diam-diam karena tidak ingin mencemarkan nama istrinya di muka umum (Ay. 19). Seorang gadis perawan yang sudah bertunangan lalu mengandung karena diperkosa oleh laki-laki lain maka keduanya harus dibawa keluar pintu gerbang kota dan dilempari dengan batu sampai mati (Ul. 22:23-24). Jika seorang pria menuduh istrinya berbuat zinah maka perempuan itu harus dibawa kepada imam dan menerima pengadilan dengan meminum air pahit yang mendatangkan kutuk (Bil. 5:11-31). Tampaknya Yusuf tidak ingin semua hal itu terjadi kepada Maria, dituliskan bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya dimuka umum (Ay. 19). Saat berada dalam situasi yang tidak baik bagi dirinya, situasi yang mengejutkannya, Yusuf memilih untuk mengampuni daripada membawa Maria ke pengadilan dan mendapat hukuman mati dengan dilempari batu. Yusuf berencana menceraikannya dengan diam-diam, menulis surat cerai di hadapan 2 orang saksi dan memberikannya kepada Maria.

Rencana Yusuf disela oleh kedatangan malaikat Tuhan dalam mimpinya (kedatangan malaikat Tuhan melalui mimpi adalah cara yang cukup dikenal dalam Perjanjian Lama). Sapaan “Yusuf, anak Daud” adalah sapaan kehormatan bahwa dalam kesederhanaannya, dia adalah keturunan Daud yang berhak mewarisi takhta Daud. Pesan Malaikat itu berisi tentang pemberitahuan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus bukan karena kesalahannya sebagai manusia yang diperkosa laki-laki lain. Yusuf diarahkan untuk meneruskan rencana pernikahannya dengan Maria, jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu (Ay. 20). Penegasan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus sehingga tidak akan membawa cela baik bagi Yusuf maupun bagi Maria. Anak yang dikandung Maria nantinya haruslah dinamai Yesus (Ibrani = Yehoshua = Allah menyelamatkan). Nama ini erat kaitannya dengan karya Yesus untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Ay. 21). Selain nama Yesus, tampaknya Matius juga tertarik dengan kata Imanuel (Tuhan beserta kita) – nama yang telah muncul dalam nubuatan Yesaya tentang almah yang akan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Imanuel. Matius tampaknya ingin menuliskan secara implisit tentang penyertaan Tuhan kepada gereja perdana.

Pesan malaikat yang diterima Yusuf dalam mimpi menentramkan kekhawatirannya dan akhirnya memantapkan diri untuk mempertimbangkan ulang niatnya sehingga akhirnya Yusuf tetap mengambil Maria sebagai istrinya, akan tetapi tidak bersetubuh dengannya (untuk menegaskan kekudusan Yesus sebagai karya Roh Kudus). Keputusan Yusuf ini sesungguhnya membawa peran penting dalam silsilah kemesiasan Yesus. Yusuf yang adalah keturunan Daud, bersedia menjadi “ayah” bagi Yesus, sehingga menjadi penguat “Yesus Anak Daud”.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan menggarisbawahi tentang hikmat manusia dalam menentukan pilihan. Dalam kehidupannya sehari-hari manusia selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Untuk setiap pilihan yang diambil memiliki konsekuensi yang harus ditanggung dan dijalani, manusia harus siap untuk menerimanya. Disinilah diperlukan hikmat dari manusia untuk dapat memilih dengan bijaksana, mendengarkan suara Tuhan ataukah menuruti kehendaknya sebagai manusia.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Setiap hari mulai dari bangun tidur sampai hendak tidur lagi kita selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Pada saat alarm berbunyi di pagi hari, kita bisa memilih langsung bangun memulai aktifitas atau mematikan alarm lalu melanjutkan tidur kembali. Minggu pagi dan cuaca sedang hujan, kita bisa memilih untuk segera mandi dan berangkat ke gereja atau di rumah saja sambil menikmati segelas susu hangat. Memilih makanan untuk kenyang atau untuk sehat. Memilih sekolah, memilih pekerjaan, memilih jodoh, memilih merayakan Natal dengan mewah atau dengan sederhana, memilih berbagi dengan sesama atau menggenggam dengan erat apa yang kita miliki. Kehidupan manusia selalu dipenuhi oleh pilihan-pilihan yang harus diambil. Setiap pilihan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Saat kita telah memilih maka kita harus siap dengan konsekuensi yang harus kita hadapi baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, saat harus menentukan pilihan, kita harus memilih dengan hikmat, mempertimbangkan banyak hal dan resiko seminim mungkin baik untuk diri sendiri, untuk orang lain, untuk lingkungan, dll. Saat keliru mengambil keputusan, menyesal kemudian sudah tiada artinya.

Isi
Di tengah ketakutan dan kekhawatiran akan serangan dari Israel Utara (Efraim) dan Siria, Raja Ahas harus memilih untuk menuruti nubuat Tuhan yang disampaikan oleh Yesaya ataukah menuruti keinginan hatinya sendiri. Yesaya 7:10-17 berada dalam konteks perang Syro-Efraim pada jaman Raja Ahas memerintah di Yehuda. Pada awalnya Kerajaan Israel Utara (Efraim) bersekutu dengan Kerajaan Siria serta hendak mengajak serta Kerajaan Yehuda untuk melawan Kerajaan Asyur. Perlawanan itu dikarenakan Israel Utara dan Siria telah membayar pajak kepada Asyur sejak tahun 738 SM akan tetapi mereka hendak memberontak dengan menahan pembayaran pajak. Yehuda menolak tawaran untuk bersekutu melawan Asyur, sehingga marahlah Israel Utara dan Siria serta hendak menyerang Ahas (Raja Yehuda) dan menggantikannya dengan raja yang lebih bisa diajak bekerjasama. Menghadapi situasi yang seperti itu Ahas merasa takut, dia mempersiapkan pasukannya jika sewaktu-waktu terjadi serangan dari Israel Utara dan Siria.

Dalam situasi seperti itu, Tuhan menyuruh Yesaya bersama dengan Syear Yasyub (anak Yesaya) untuk menemui Ahas dan menyampaikan nubuat-Nya agar Ahas tetap tenang dan tidak takut. Bahkan Yesaya memberikan tanda kepada Ahas yang terkenal dengan nubuat Imanuel dari nabi Yesaya. Bahwa akan ada seorang almah (bisa diterjemahkan sebagai wanita muda usia subur, gadis, perawan) akan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamakan Imanuel (Allah menyertai). Anak ini akan memakan dadih dan madu sampai tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik (Ay. 14-15). Sebelum anak itu dapat memilih (umur untuk dapat menentukan baik dan buruk sekitar 20 tahun) maka kedua negeri yang ditakuti Ahas (Siria dan Israel Utara) akan ditinggalkan kosong karena kekalahan keduanya. Ahas tampaknya lebih memilih menuruti keinginan hatinya sendiri yaitu bersekutu dengan Asyur dibandingkan dengan menuruti nubuat Yesaya untuk tetap tenang dan tidak takut. Ahas mengirimkan emas dan perak sebagai upeti agar Asyur melindunginya dari serangan Israel Utara dan Siria. Memang pada akhirnya Asyur dapat mengalahkan Israel Utara dan Siria, akan tetapi sebagai konsekuensinya, Yehuda menjadi jajahan Asyur.

Berbeda dengan Raja Ahas, orang-orang Kristen di Roma harus menghadapi penganiayaan dari Kaisar Klaudius. Akan tetapi orang-orang Kristen di Roma tetap setia di dalam imannya kepada Yesus. Walaupun mereka harus menghadapi penganiayaan yang tidak mudah dan nyawa mereka sebagai taruhan, iman mereka tidak tergoyahkan sama sekali. Jemaat Roma tetap setia mempertahankan iman mereka kepada Yesus, Sang Anak Allah yang berkuasa (Ay. 4). Bisa jadi hal inilah yang mendasari ucapan syukur Paulus dalam ayat 8 “… sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.” Kesetiaan iman jemaat Roma di tengah penganiayaan inilah yang membuat Paulus rindu datang ke Roma bertemu dengan mereka untuk dapat melayani dan semakin menguatkan iman mereka (Ay. 11-12). Sebelum bisa datang ke Roma, Paulus menuliskan suratnya untuk memberikan nasihat dan kekuatan bagi jemaat Roma, salah satunya adalah bahwa pilihan mereka untuk menjaga kesetiaan iman mereka kepada Injil Kristus tidaklah sia-sia karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Ay. 16) serta orang benar akan hidup oleh iman (Ay. 17).

Yusuf tentunya terkejut mengetahui kenyataan bahwa Maria tunangannya mengandung sehingga disebutkan bahwa dia bermaksud untuk menceraikan dengan diam-diam karena tidak ingin mencemarkan nama istrinya di muka umum (Ay. 19). Seorang gadis perawan yang sudah bertunangan lalu mengandung karena diperkosa oleh laki-laki lain maka keduanya harus dibawa keluar pintu gerbang kota dan dilempari dengan batu sampai mati (Ul. 22:23-24). Jika seorang pria menuduh istrinya berbuat zinah maka perempuan itu harus dibawa kepada imam dan menerima pengadilan dengan meminum air pahit yang mendatangkan kutuk (Bil. 5:11-31). Tampaknya Yusuf tidak ingin semua hal itu terjadi kepada Maria, dituliskan bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya dimuka umum (Ay. 19). Saat berada dalam situasi yang tidak baik bagi dirinya, situasi yang mengejutkannya, Yusuf memilih untuk mengampuni daripada membawa Maria ke pengadilan dan mendapat hukuman mati dengan dilempari batu. Yusuf berencana menceraikannya dengan diam-diam, menulis surat cerai di hadapan 2 orang saksi dan memberikannya kepada Maria.

Rencana Yusuf disela oleh kedatangan malaikat Tuhan dalam mimpinya (kedatangan malaikat Tuhan melalui mimpi adalah cara yang cukup dikenal dalam Perjanjian Lama). Sapaan “Yusuf, anak Daud” adalah sapaan kehormatan bahwa dalam kesederhanaannya, dia adalah keturunan Daud yang berhak mewarisi takhta Daud. Pesan Malaikat itu berisi tentang pemberitahuan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus bukan karena kesalahannya sebagai manusia yang diperkosa laki-laki lain. Yusuf diarahkan untuk meneruskan rencana pernikahannya dengan Maria, jangan takut mengambil Maria sebagai istrimu (Ay. 20) menjadi penegasan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus sehingga tidak akan membawa cela baik bagi Yusuf maupun bagi Maria. Anak yang dikandung Maria nantinya haruslah dinamai Yesus (Ibrani = Yehoshua = Allah menyelamatkan), nama ini erat kaitannya dengan karya Yesus untuk menyelamatkan manusia dari dosa (Ay. 21). Selain nama Yesus, tampaknya Matius juga tertarik dengan kata Imanuel (Tuhan beserta kita) – nama yang telah muncul dalam nubuatan Yesaya tentang almah yang akan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Imanuel- Matius tampaknya ingin menuliskan secara implisit tentang penyertaan Tuhan kepada gereja perdana.

Pesan malaikat yang diterima Yusuf dalam mimpi menentramkan kekhawatirannya dan akhirnya memantapkan diri untuk mempertimbangkan ulang niatnya. Sehingga akhirnya Yusuf tetap mengambil Maria sebagai istrinya, akan tetapi tidak bersetubuh dengannya (untuk menegaskan kekudusan Yesus sebagai karya Roh Kudus). Keputusan Yusuf ini sesungguhnya membawa peran penting dalam silsilah kemesiasan Yesus. Yusuf yang adalah keturunan Daud, bersedia menjadi “ayah” bagi Yesus, sehingga menjadi penguat “Yesus Anak Daud”. Saat Yusuf memilih untuk mendengarkan suara Tuhan melalui malaikat-Nya maka Yusuf menjadi salah satu jalan kelahiran Yesus Sang Juruselamat, Yusuf menjadi salah satu jalan datangnya keselamatan bagi manusia.

Penutup
Dari ketiga bacaan kita jelas sekali bahwa semua pilihan yang diambil mengandung konsekuensi yang harus dihadapi. Ahas tidak mau mendengar suara Tuhan tetapi malah mengikuti keinginannya sendiri sehingga akhirnya Yehuda dijajah oleh Asyur, sekali salah memilih maka rusaklah semuanya. Jemaat Roma memilih mendengar suara Tuhan untuk tetap setia di dalam imannya walaupun di tengah penderitaan sehingga mereka tetap lestari, mereka menjadi teladan iman bagi banyak orang di tempat lain dan yang utama Tuhan beserta dengan mereka. Yusuf memilih mendengar suara Tuhan untuk tetap melanjutkan hubungannya dengan Maria sehingga akhirnya Yusuf menjadi jalan kedatangan Juruselamat ke dunia, bukan celaan yang diterima Yusuf akan tetapi kasih karunia Tuhan.

Dalam kehidupan, kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan yang harus kita ambil. Tuhanpun telah memperlengkapi kita dengan hikmat serta akal budi. Oleh karena itu, saat kita harus menentukan pilihan apapun dalam kehidupan, kita diajak untuk menggunakan hikmat dan akal budi untuk dapat peka mendengar suara Tuhan. Tidak hanya sekedar mengikuti suara hati (keinginan) manusia yang bisa jadi membuat kita menyesal, tidak bisa memperbaiki keadaan serta tidak merasakan damai sejahtera. Di Minggu Adven ke-4 kita diingatkan untuk semakin setia dengan terus menerus merendahkan diri di hadapan Tuhan agar semakin peka mendengar suara Tuhan dalam setiap laku kehidupan kita. Memilih yang baik dan benar untuk kehidupan kita. Sekali salah memilih, hancurlah semuanya dan hidup kita akan jauh dari rasa damai. Suara Tuhan menjadikan kita berani melangkah tanpa rasa takut. Memilih mendengar suara Tuhan akan mendatangkan damai, sukacita, serta keselamatan dalam kehidupan kita. Amin. [cha].

 

Pujian: KJ. 375 Saya Mau Ikut Yesus

 

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Saben dinten wiwit tangi ngantos badhe tilem malih, kita kedah ngadepi mawerni-werni pilihan. Nalika wonten swanten alarm, kita milih enggal tangi lan makarya utawi wangsul tilem malih. Nalika dinten minggu saweg jawah, kita saged milih enggal siram lajeng tindak dhateng greja utawi wonten griya kemawon kaliyan ngunjuk susu anget. Milih dhaharan ingkang ndadosaken sehat utawi pokok kebak. Milih sekolah, milih pendamelan, milih jodoh, milih panghargyan Natal ingkang mewah utawi ingkang sederhana, milih dados berkat kangge sesami utawi kagunganipun digenggem piyambak. Wonten ing gesangipun manungsa kedah saged milih ingkang sae karana sedaya pilihan punika nggadahi konsekuensi piyambak-piyambak. Nalika kita sampun milih, kita kedah siap ngadepi konsekuensinipun ingkang ngremenaken utawi mboten ngremenaken. Matemah nalika nemtokaken pilihan, kita kedah milih kanthi wicaksa, paring panimbang lan menggalih resiko ingkang minimal kangge kita, kangge tiyang sanes, kangge lingkungan, lsp. Nalika kliru namtokaken pilihan, nggetuni sampun mboten wonten artosipun.

Isi
Nalika ngraosaken ajrih lan kuatos karana Israel Utara (Efraim) lan Siria badhe nyerang Yehuda, Prabu Ahas kedah nemtokaken pilihan mirengaken dhawuhipun Gusti ingkang dipun aturaken nabi Yesaya utawi mirengaken batinipun piyambak. Yesaya 7:10-17 punika konteksipun wonten ing jaman perang Syro-Efraim. Israel (Efraim) gegandengan kaliyan Siria badhenipun ngajak Yehuda nglawan Asyur. Punika karana Israel lan Siria sampun ngaturi pajek dhateng Asyur wiwit nalika 738 SM, ananging samangke badhe berontak mboten purun ngaturi pajak malih. Yehuda mboten purun dipun ajak, lajeng Israel lan Siria nesu dhateng Yehuda sarta kepingin nyerang Prabu Ahas sarta gantos kaliyan Prabu ingkang saged dipun ajak kekancan. Mireng kahanan ingkang mekaten tamtunipun Prabu Ahas ngraosaken ajrih sarta kuwatos.

Nalika Prabu Ahas ngraosaken kuatos, Gusti Allah ngutus Yesaya kaliyan Syear Yasyub (putranipun Yesaya) manggihi Ahas sarta ngaturaken dhawuhipun Gusti supados Ahas tetep ayem lan mboten ajrih. Yesaya paring pratanda tumraping Ahas ingkang kondang kaliyan nubuat Imanuel saking Yesaya. Bilih badhe wonten almah (saged diterjemahaken pawestri nem, prawan) ingkang badhe mbabar putra kakung paring asma Imanuel (Gusti ingkang nganthi). Putra punika badhe dhahar kaniling susu tuwin maben ngantos saged nampik ingkang awon saha milih ingkang sae (Ay. 14-15). Saderengipun putra wau saged nampik ingkang awon tuwin milih ingkang sae, negri kekalih ingkang dipun ajrihi Ahas badhe katilar suwung. Ahas langkung milih pikajengipun piyambak nggih punika kekancan kaliyan Asyur tinimbang mirengaken dhawuhipun Gusti Allah lumantar Yesaya supados tetep ayem lan mboten ajrih. Ahas paring emas lan perak supados Asyur purun nglindhungi saking seranganipun Israel lan Siria. Pungkasanipun Asyur menang saged ngawonaken Israel lan Siria ananging konsekuensinipun, Yehuda dados jajahanipun Asyur.

Mboten kados Prabu Ahas, tiyang-tiyang Kristen wonten ing kitha Rum kedah ngadepi aniaya saking Kaisar Klaudius. Ananging tiyang-tiyang Kristen ing Roma tetep setya wonten ing imanipun dhateng Gusti Yesus. Sanadjan tiyang-tiyang punika kedah ngadepi aniaya ingkang tamtunipun mboten gampil karana toh nyawa, ananging kapitadosanipun mboten goyah. Pasamuwan Rum tetep setya wonten ing imanipun dhateng Gusti Yesus, putranipun Allah ingkang kuwaos (Ay. 4). Punika ingkang njalari pangucap sokuripun Paulus wonten ing ayat 8 “… awit kabar bab pracayamu wus sumebar ing sajagad”. Kasetyanipun pasamuwan Rum satengahipun aniaya punika ingkang ndadosaken Paulus gadhahi pepinginan rawuh dhateng kitha Rum, pepanggihan, leladi sarta ngiyataken imanipun pasamuwan Rum (Ay. 11-12). Saderengipun saged rawuh, Paulus nyerat paring nasehat lan kakiyatan tumraping pasamuwan Rum, nggih punika bilih pilihanipun pasamuwan Rum ingkang tetep setya ing iman kapitadosanipun bab Injilipun Kristus mboten badhe muspra karana Injil punika kakiyatanipun Gusti Allah ingkang ndadosaken rahayu kagem sok sintena tiyang ingkang pracaya (Ay. 16) sarta tiyang-tiyang punika dados tiyang ingkang bener ing kapracayan (Ay. 17).

Yusuf tamtunipun kaget pirsa bilih Maria pacanganipun ngandhut matemah diserat bilih piyambakipun badhe medhot pepacanganipun kanthi sideman supados Maria mboten lingsem ing ngajengipun tiyang kathah (Ay. 19). Prawan ingkang sampun kagungan pacangan lajeng ngandhut karana dirudapeksa dening tiyang kakung sanesipun, kekalihipun kedah dibetha medal saking gerbang kitha lajeng dibenturi sela ngantos pejah (PT. 22:23-24). Nalika tiyang kakung mboten pitados dhateng garwanipun karana zinah, tiyang estri punika kedah dibetha dhateng imam lan pangadilan sarta ngunjuk toya pait ingkang mbetha kutuk (Wil. 5:11-31). Yusuf mboten kepingin sedaya punika dipun alami dening Maria, diserat bilih Yusuf punika tiyang ingkang mursid lan mboten purun ndadosaken Maria lingsem (Ay. 19). Nalika wonten ing kahanan ingkang mboten sae, kahanan ingkang ngagetaken, Yusuf milih paring pangapura tinimbang mbetha Maria dhateng pangadilan lan nampi paukuman pejah karana dibenturi sela.

Pepinginanipun Yusuf punika dipun selani dening malaikat ingkang rawuh wonten ing mimpinipun (malaikat rawuh wonten ing mimpi punika limrah wonten ing Prajanjian Lami). Nalika dipun sapa “Yusuf, putranipun Daud” punika nedahaken pangurmatan bilih wonten ing gesangipun, Yusuf punika tedhak turunipun Daud ingkang saged dados pewaris kratonipun Daud. Malaekat punika paring pitedah bilih Maria ngandhut karana Roh Suci sanes karana kalepatanipun manungsa karana dirudapeksa tiyang kakung sanesipun. Yusuf dipun paringi pitedah purun nglajengaken pacanganipun kaliyan Maria, mboten ajrih ndadosaken Maria garwanipun (Ay. 20) negesaken bilih Maria ngandhut karana Roh Suci matemah mboten ndadosaken cilaka tumraping Yusuf lan Maria. Putra punika kedah dipun paringi asma Yesus (Ibrani = Yehoshua = Gusti ingkang nylametaken), asma punika wonten gandenganipun kaliyan pakaryanipun Gusti Yesus ingkang paring kaslametan tumraping manungsa (Ay. 21). Saklintunipun asma Yesus, Matius ugi nyerat asma Imanuel (Gusti nganthi manungsa) – asma ingkang wonten ing nubuatipun nabi Yesaya bab almah ingkang mbabaraken putra paring asma Imanuel – sacara implisit Matius nyerat bab panganthinipun Gusti tumrap greja perdana.

Pitedahipun malaikat dipun tampi dening Yusuf kanthi sukarena. Mimpi punika ndadosaken Yusuf ayem, mboten kuatos sarta mantep anggenipun mendet Maria dados semahipun ananging mboten nglakeni Maria (punika negesaken bilih Gusti Yesus kababar karana Roh Suci). Pilihanipun Yusuf punika dados kawigatosan mliginipun bab silsilah mesiasipun Gusti Yesus. Yusuf punika tedhak turunipun Daud, purun dados “bapakipun” Gusti Yesus matemah ngiyataken “Yesus Putranipun Daud”. Nalika Yusuf purun mirengaken dhawuhipun Gusti lumantar malaekat, Yusuf dados margining wiyosipun Juruslamet, Yusuf dados salah satunggaling margi rawuhipun kaslametan kangge manungsa.

Panutup
Saking tigang waosan punika cetha bilih sedaya pilihan punika nggadahi konsekuensi ingkang kedah diadepi. Ahas mboten mirengaken dhawuhipun Gusti ananging mburu pepinginanipun piyambak, matemah Yehuda dados jajahanipun Asyur. Sepindah mawon salah milih saged ngrisak sedayanipun. Pasamuwan Rum milih mirengaken dhawuhipun Gusti, tetep setya wonten ing iman kapitadosanipun sanajan nampeni aniaya matemah gesangipun lestari, dados tuladha iman kangge tiyang sanes wonten pundi-pundi panggenan lan ingkang utami Gusti tansah nganthi. Yusuf milih mirengaken dhawuhipun Gusti tetep mendhet Maria dados semahipun matemah Yusuf dados margining rawuhipun Sang Mesias, sanes cilaka ingkang dipun tampi ananging katentreman lan katresnanipun Gusti.

Wonten ing gesang padintenan, kita ngadepi pilihan-pilihan ingkang kedah kita pilih. Gusti sampun paring kawicaksanan sarta akal budi. Matemah kita saged milih ingkang sae kangge gesang kita, kita dipun ajak ngginakaken kawicaksanan sarta akal budi supados saged mirengaken dhawuhipun Gusti kanthi jelas. Mboten namung mburu pepinginanipun piyambak ingkang saged ndadosaken kita kuciwa, kahanan mboten saged dados sae sarta mboten ngraosaken katentreman. Wonten ing Minggu Adven kaping 4 punika kita dipun emutaken supados tansah setya sarta tansah andhap asor ing ngarsanipun Gusti supados saged mirengaken dhawuhipun Gusti wonten ing gesang kita padintenan. Milih ingkang sae lan pener kagem gesang kita. Salah milih saged ndadosaken sedayanipun risak lan kecalan katentreman. Ananging milih miringaken dhawuhipun Gusti mbabaraken katentreman, kabingahan sarta kaslametan ing satengahing gesang kita. Amin. [cha].

 

Pamuji: KPJ. 452 : 1, 4 Tekading Manah Kawula

 

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak