Malam Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 9 : 1 – 6
Bacaan 2: Titus 2 : 11 – 14
Bacaan 3: Lukas 2 : 1 – 14
Tema Liturgis: Bersukacita karena Karya Allah di Tengah Suramnya Kehidupan
Tema Khotbah: Yesus Datang Memulihkan Manusia
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 9 : 1 – 6
Secara sosial-politis, Israel Utara berbatasan dengan Fenisia dan Aram, kemudian Yehuda yang terhubung dengan lautan Arabia merupakan daerah strategis untuk usaha komersil. Situasi semacam ini memunculkan kelompok pedagang kaya dan berpengaruh. Golongan “bos”, “kapitalis” ini mempengaruhi para pemimpin dan pejabat, sehingga menimbulkan gejolak sosial, kemerosotan moral, dan kesenjangan antara si kaya dan si miskin, pelecehan keadilan dan kebenaran dalam pelayanan publik.
Dalam situasi sosial yang seperti ini, pesan nabi Yesaya kepada raja-raja dan pemimpin Yehuda agar dengan penuh keberanian dan ketegasan tetap bersikap waspada. Yesaya menasihatkan supaya Yehuda tetap bersandar kepada Tuhan, jangan mengandalkan manusia dan kekuatannya seperti Asyur dan Mesir. Pada satu pihak Asyur dilihat sebagai alat di tangan Tuhan yang menghukum kejahatan dan kemurtadan Yehuda (10:5-dst), tetapi pada pihak lain karena kesombongannya Asyur tidak akan luput dari hukuman (10:7-19, 25-27; 14:24-27; 30:30-33; dst). Mesir pun demikian, negara yang rapuh dan karenanya ia lemah dan hina (30:7; 31:3) (Widyapranawa (2006), p. 1-3).
Perikop ini merupakan bagian penting dalam pengharapan mesianis bangsa Israel dan dipandang sebagai kelanjutan dari berita sukacita kelahiran “Imanuel” (7:14). Ayat 1-2 yang mengisahkan “terang yang besar” yang menimbulkan sukacita dan kedamaian bagi manusia. Bangsa Yehuda dan Israel Utara telah hidup dalam kekelaman digambarkan mereka hidup dalam ketakhayulan, kemiskinan, kelaparan, dan kecemasan akan masa depan (8:19-22) tanpa ada tanda-tanda hadirnya perubahan dan pengharapan.
“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar” (Ay. 1) menunjukkan adanya harapan, memunculkan motivasi untuk terus bergerak keluar dari ketidak-berdayaan moral. Bangkit dari ketidak-mampuan menghadirkan keadilan tumbuh dalam kepercayaan dan keyakinan bahwa usaha sekecil apapun akan menghadirkan kekuatan, pertumbuhan, dan harapan. Harapan bahwa ada campur tangan Tuhan inilah yang menghadirkan sukacita besar.
Pertanyaannya, apa yang menyebabkan bangsa pilihan Tuhan merasakan sorak-sorai dan sukacita?
- Tidak selamanya akan ada kesuraman. Yesaya menggunakan istilah “kuk”, “gandar” dan “tongkat” untuk menggambarkan betapa beratnya beban kehidupan umat Allah pada masa pelayanan nabi Yesaya. Mereka hidup dalam tekanan “kenajisan” (6:5), bangsa yang tidak mau belajar, bangsa yang mengeraskan hati, dan tidak berkenan menerima nasihat (6:10). Mereka terpuruk tanpa harapan dan tiada penolong baginya. Digambarkan umat Allah hidup di tengah negeri yang sunyi dan sepi (6:11-12), tanpa harapan dan berada dalam keputus-asaan.
Namun, sangatlah ajaib! Di tengah situasi yang kelam dan gelap itu, Allah berkenan menunjukkan anugerah-Nya. Kerajaan Yehuda menerima nubuat dari Allah yang memberi pengharapan yang baru. Pertolongan Tuhan datang dengan ajaib seperti “kekuatan kecil” Gideon (Hak. 6:9) yang mampu mengalahkan bala tentara Midian. Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan hidup, kesedihan, kekhawatiran dan segala kesulitan tidak akan selamanya menerpa kehidupan manusia. Tuhan dengan kuasa ajaib-Nya pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Tidak selamanya akan turun hujan, percayalah hujan itu pasti reda. - Terang itu telah bersinar. Bangsa ini “telah melihat terang yang besar” yang menembus kegelapan dan menerangi seluruh lingkungan dan pribadi perseorangan baik secara lahir maupun batin, sehingga menimbulkan semangat baru dan kehidupan baru. Terang besar itu pastilah bukan terang biasa, melainkan terang ilahi yang mengenyahkan segala kegelapan dan kecemasan maut. Orang yang menerima terang ini akan bersukacita besar dan ada sorak-sorai yang mengusir kesunyian mereka. Terang Tuhan ini telah membuka mata hati manusia untuk membedakan yang baik dan tidak baik; membantu manusia dapat melihat kebenaran Tuhan; membuat manusia menyadari kesia-siaan sikap berdosa yang dikuasai oleh kegelapan. Oleh terang Tuhan ini, setiap umat dapat melihat tangan Tuhan menolong mereka dari kebinasaan.
- Hidup baru. Klimaks dari pertolongan Tuhan adalah adanya kehidupan baru yang dimanifestasikan dalam peristiwa kelahiran Sang Mesias. Kehidupan baru (baca: kelahiran Mesias) ini menjadi pelepas dan yang akan mengerjakan keselamatan bagi manusia. Hidup baru karena telah terbebas dari kekelaman dan telah menerima terang yang besar ditandai dengan cara hidup yang dipenuhi oleh penyertaan Roh Tuhan atau Roh Hikmat (band. 11:2); dalam semangat keperkasaannya menghadapi dan mengalahkan musuh; setiap tindakannya berdasarkan kasih Bapa kepada anak-anak-Nya (band. 22:21) dan dengan demikian damai sejahtera selalu melingkupi kehidupannya.
Titus 2 : 11 – 14
Surat Titus berisi petunjuk-petunjuk bagaimana menata kehidupan bergereja dan menanggulangi ajaran-ajaran sesat yang ada di tengah pelayanan jemaat. Ajaran sesat yang ada di Kreta mempunyai banyak persamaan dengan yang ada di Efesus. (Budiman, 2008, p. 125).
Inti dari pengajaran Paulus kepada Titus dalam perikop ini (2:11-15) terletak pada tiga tugas yang harus diemban oleh Titus dan selanjutnya setiap pengikut Kristus. Apa saja yang menjadi tugas tersebut? Ayat 15 dengan jelas menunjukan kepada pembaca:
- Memberitakan. Titus dinasihati supaya dapat memberitakan “apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (2:1): bahwa “kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (2:11) dalam kehadiran Tuhan yang berinkarnasi dalam diri Yesus. Kedatangan Yesus “sudah nyata”, tidak hanya membawa pengampunan dosa, melainkan untuk mengerjakan pembaharuan hidup.
- Menasihati. Paulus memberikan nasihat kepada Titus akan tingkah-laku manusia dalam kehidupan sehari-hari: lelaki harus hidup terhormat dan bijaksana dalam iman (2:2), seorang perempuan harus menunjukkan baktinya dan dapat mendidik perempuan lain yang lebih muda (2:3-5), orang-orang muda harus dapat menguasai diri dan menjadi teladan paling tidak bagi dirinya sendiri (2:6-8), demikian juga bagi hamba haruslah hidup jujur supaya menjadikan kemuliaan nama Tuhan (2:9-10). Paulus menasihati Titus supaya ia mengingatkan umat gembalaannya “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan hidup bijaksana, adil, dan beribadah.” (2:12). Umat harus tetap berada dalam pengharapan penuh akan kemuliaan Tuhan dan Juruselamat dalam Kristus Yesus.
- Meyakinkan. Meyakinkan bahwa Allah yang telah berinkarnasi dalam Yesus adalah sumber keselamatan. Ia telah nyata hadir (2:11) dan memberikan kehidupan baru bagi manusia dengan jalan mengorbankan diri bagi kebebasan manusia dari kejahatan. Ia-lah yang menguduskan seluruh umat kepunyaan-Nya.
Lukas 2 : 1 – 14
Lukas 2:1-14 merupakan bagian dari pendahuluan Injil yang terdapat pada pasal 1:1-4:13. Lukas mengawali Injilnya dengan sebuah kisah masa kanak-kanak yang panjang (1:5-2:52). Ia menyejajarkan cerita kelahiran Yohanes dan Yesus, dengan demikian menunjukkan besarnya perhatian Lukas terhadap Yohanes Pembaptis. Matius juga mengawali Injilnya dengan sebuah kisah masa anak-anak, tetapi hanya terbatas pada kisah Yesus. Apa yang disampaikan oleh Matius dan Lukas dalam mengawali Injilnya memberikan kejelasan bahwa mereka mengutamakan pemberitaan tentang jati diri Yesus di atas pemberian informasi tentang fakta-fakta masa muda.
Menurut Martin Harun dalam “Lukas Injil Kaum Marginal” menyatakan bahwa teks kisah kelahiran Yesus dirumuskan dan disusun secara pararel dengan kisah kelahiran Yohanes Pembaptis. Seperti kabar kelahiran Yohanes kepada Zakharia dan berita kelahiran Yesus kepada Maria; kelahiran Yohanes dan kunjungan tetangga dengan kelahiran Yesus dan kunjungan gembala dan; nyanyian Zakharia sejajar dengan nyanyian Simeon (2019, p. 68-72).
Beberapa poin yang perlu dicatat dalam membaca perikop Lukas 2:1-14 adalah pertama, kegiatan sensus penduduk atau cacah jiwa merupakan fakta historis yang dilakukan di Mesir dan Syria, dan Yudea adalah bagian dari propinsi Syria. Dalam kehidupan bangsa Romawi cacah jiwa semacam ini dilakukan dengan dua tujuan, yaitu untuk memungut pajak dan memperoleh calon-calon wajib militer. Orang Yahudi dikecualikan dari wajib militer, dan karena itu sensus penduduk di Palestina bertujuan untuk mendapatkan pajak (Barclay, 2008, p. 29-30). Dengan kata lain, sensus dilakukan demi kepentingan politik kekuasan, sosial, dan ekonomi. Didata untuk kepentingan politik, ekonomi, dan sosial mengartikan bahwa keberadaan orang yang namanya dicatat, menunjukan dia ada, diakui keberadaannya, dibutuhkan pihak pendata, dan bahkan dinantikan peran sertanya. Pendataan sangat besar maknanya, orang tersebut menjadi modal sosial dalam sebuah pembangunan masyarakat.
Pemungutan pajak demi jalannya roda pemerintahan Romawi benar-benar menjadi alasan dilakukan sensus peduduk. Untuk memaksimalkan keakuratan penduduk di seluruh wilayah kekaisaran jajahan Romawi mewajibkan seluruh penduduk harus kembali dan mencatatkan diri, termasuk di dalamnya Yusuf dan Maria. Mereka harus kembali ke kampung halaman di Yudea, kota kecil yang bernama Betlehem.
Kedua, gembala dalam pemahaman kaum ortodoksi Yahudi adalah kelompok yang tidak dihormati. Mengapa? Karena kaum gembala dianggap tidak sanggup menjalankan hukum-hukum ibadah secara detil. Mereka tidak terbiasa memelihara hukum-hukum, misalnya mencuci tangan sebelum makan dan masih banyak peraturan yang lain. Ternaknya menuntut perhatian dari mereka dan karena asumsi inilah para gembala diremehkan. Tetapi teks Alkitab mencatat bahwa merekalah yang mendapatkan kehormatan menerima dan mendengar kabar pertama kali lahirnya Sang Juruselamat (Barclay, 2008, p. 33).
Daftar Pustaka
- Barclay, William (2008). Pemahaman Alkitab Setiap Hari. Jakarta: BPK-GM
- Budiman., R. (2008). Surat-Surat Pastoral I dan II Timotius dan Titus. Jakarta: BPK-GM
- Harun, Martin (2018). Lukas Injil Kaum Marjinal. Jogjakarta: Kanisius
- Widyapranawa (2013). Tafsiran Alkitab Yesaya Pasal 1-39. Jakarta: BPK-GM
Benang Merah Tiga Bacaan:
Dewasa ini banyak orang mengalami kesuraman, cap atau stigma negatif yang membebani kehidupannya sehingga membuat seolah mereka berada dalam tekanan, penindasan, dan rendah diri di hadapan masyarakat. Yesaya (9:1-6) memberikan nubuatan bahwa kesuraman tersebut akan sirna, karena “terang besar” telah tiba dalam keberadaan Yesus (Tit. 2:11-14) seperti yang dikabarkan oleh malaikat kepada para penggembala. Kedatangan malaikat menyampaikan bahwa yang mendapat stigma negatif sekarang dipercaya untuk menerima dan mewartakan berita sukacita, bahwa Yesus datang mendamaikan mereka dengan yang lain.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Stigma negatif terhadap orang miskin sebagai yang malas, beban bagi si kaya atau membebani pelayanan masyarakat, gereja sulit untuk dihapus dari pikiran seseorang. Demikian juga stigma terhadap orang disabilitas, mereka sering disebut cacat, tergantung pada orang lain, tidak berguna, dan yang parah dicap sebagai kena kutukan, entah karena orang tua ataupun dirinya sendiri. Ini hal yang menyakitkan. Tidak jarang pula orang Kristen menyebut mereka sebagai kelompok orang berdosa. Jadi miskin ataupun disabilitas adalah buah dari dosa. Menyedihkan….
Stigma ataupun cap negatif semacam ini biasanya juga dikenakan kepada warga jemaat yang mengalami kegagalan ekonomi, kegagalan berkarier ataupun berumah tangga. Tidak jarang ada suara di jemaat, misalnya si A gagal mendaftar tentara gegara, karena dia melakukan kesalahan di masa SMA nya atau dikarenakan orang tuanya yang jarang ke gereja. Dengan kata lain, masyarakat seringkali menimpakan “kesalahan” sebagai sebuah dosa. Bayangkan, betapa menderitanya mereka, yang miskin, disabilitas atau yang (pernah) gagal yang terus-menerus menerima cap seperti ini.
Di sisi lain, masyarakat juga sering menghakimi mereka yang sukses, baik secara ekonomi, sosial maupun politik sebagai orang yang curang dan tidak jujur dalam meraih tujuan. Pedagang sukses sering dicap curang, tidak jujur, mengandalkan dukun meskipun ibadahnya rajin. Mereka yang sukses di bidang lain pun distigma sebagai yang menghalakan segala cara, berkat nepotisme, korupsi atau bahkan menjual harga diri. Hal-hal yang semacam ini yang seringkali terjadi di masyarakat dan jemaat. Karena cap-cap atau stigma yang demikian tidak jarang mereka berada dalam tekanan masyarakat. Parahnya, sampai menimbulkan gap dan kelompok. Maka jangan heran kalau di jemaat ada kelompok orang kaya, kelompok orang miskin ataupun kelompok-kelompok yang lain. Mereka saling mencari pembenaran masing-masing dan merendahkan diri satu terhadap yang lain. Dampaknya, persekutuan yang dibangun adalah persekutuan “seolah-olah” guyub, tetapi sebenarnya saling mencurigai dan lain sebagainya. Semoga tidak dengan GKJW kita.
Isi
Di malam natal ini mari kita merenungkan bagaimana kehadiran Kristus, Sang bayi Agung menjadi terang dan membubarkan skat yang menekan kebersamaan sebagai jemaat dan masyarakat selama ini. Paling tidak ada tiga hal yang dapat kita renungkan:
- Harapan Bagi yang Lemah
“Para gembala” adalah figuratif dan sekaligus simbolik bagi masyarakat yang lemah. Mereka mendapatkan stigma yang tidak dapat menjalani perintah agama dengan baik, hanya lantaran (diasumsikan) disibukkan dengan berbagai tugas dan tanggungjawab yang menyita pikiran, perasaan, dan tenaganya, yaitu menjaga kawanan ternak. Karenanya disebut tidak layak mendapatkan peran dan tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan bahkan kehidupan agama. Kelompok inilah yang disebut Yesaya sebagai “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan” (9:1): kehidupannya suram karena terhimpit oleh kekuatan politik penguasa yang membuatnya tidak mendapatkan akses politik, akses ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sumber daya (8:23).Saya menduga “para gembala”, “figuratif” dan orang-orang yang mendapatkan “stigma lemah” ada juga dalam komunitas gereja. Bisa saja mereka adalah warga miskin, kaum disabilitas, orang-orang yang memiliki keterbatasan pendidikan, orang yang tidak mendapatkan akses kepada pengambil keputusan, mereka yang takut menyampaikan pendapat, orang yang dicap profokator dan masih banyak lagi. Menurut Yesaya, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, pelecehan hak asasi yang haknya dirampas, mereka yang hidup dalam tekanan penindas, mereka yang tidak dapat menikmati hasil panen karena tekanan kaum tengkulak dan pengijon dan mereka yang menderita aniaya fisik, pikiran dan batin dari kaum penguasa (Yesaya 9:2-3). Terhadap mereka yang mengalami tekanan fisik, pikiran, dan batin inilah Lukas menyampaikan pesan, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar.” (Lukas 2:10). “Kesukaan besar” nya dimana? “Kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia sudah nyata.” (Titus 2:11). Tuhan hadir bukan untuk segelintir orang, tidak hanya untuk komunitas tertentu secara eksklusif, tetapi Ia juga menetapkan orang-orang “yang lemah” untuk menjadi saksi dan hamba-Nya. Buktinya malaikat Tuhan menampakan dirinya kepada para gembala dan tidak kepada yang lain. Yakinlah yang lemah, miskin, disabilitas juga dipilih Tuhan. Artinya Yesus membawa pengharapan baru, menghadirkan “terang besar” (Yesaya 9:1) dan masa depan bagi kita.
- Semua Warga Jemaat Potensial
Tidak ada orang yang paling istimewa di hadapan Tuhan Yesus, “Adakah kita memiliki kelebihan daripada orang lain?” (Roma 3:9). Di Kitab yang sama, Paulus memberikan jawaban, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” (Roma 10:12). Ini menunjukkan bahwa semua orang memiliki hak istimewa yang sama di hadapan Allah. Semua orang selaku warga jemaat dan warga negara mempunyai hak yang sama untuk didata, untuk mendapatkan hak sensus yang sama, seperti halnya Yusuf dan Maria.Seperti pendataan yang dilakukan oleh bangsa Romawi yang memiliki tujuan politik, sosial, dan ekonomi menunjukkan bahwa siapapun yang namanya didata secara tersirat merupakan bentuk lain dari potensi yang dimiliki. Misal: di data dijumpai 100 lelaki, menunjukan secara politk, paling tidak ada 100 orang yang siap diwajib militerkan, 100 orang tenaga kerja potensial dan artinya dapat mendatangkan potensi ekonomi yang luar biasa, 100 ide pikiran dan gagasan yang sangat beragam dan kreatif dan 100 potensi lainnya. Dalam perspektif ini, Lukas mau mengatakan semua orang yang termasuk dalam wilayah kekaisaran Romawi, dimana pun mereka, di kampung ataupun di kota, di rantau ataupun tidak memiliki potensi sosial politik dan ekonomi, sama dan karenanya semuanya perlu di data.
Narasi Lukas yang menggambarkan potensi para gembala dengan mengatakan, “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15) menunjukkan bahwa pilihan Tuhan tidak salah. Gembala figuratif yang semula dianggap lemah oleh kaum ortodoksi Yahudi ternyata memiliki kecekatan dan potensi menjalankan perintah Tuhan dengan baik. Mereka segera menjawab keraguan masyarakat dan sekaligus mementahkan asumsi yang berkembang selama ini. Mereka punya potensi, aku bisa… bahkan disampaikan “semua orang heran akan apa yang dilakukan para gembala” (Luk. 2:17-18). Apa yang dikerjakan mereka melampaui ekspektasi banyak orang.
Saya rasa di sini pesan penting Injil Lukas, semua warga gereja tidak ada yang memiliki kemampuan lebih dari yang lain, tetapi setiap orang memiliki kemampuan yang beragam dan karenanya semua mempunyai potensi untuk bersama memajukan nilai-nilai Injil Kristus Yesus. Jangan khawatir dan jangan sedih, anda semua berharga di mata Tuhan.
- Yesus Datang Memabawa Damai bagi Semua Orang
Perjumpaan “para gembala” dengan “malaikat” dan selanjutnya dengan “Raja” Yesus yang dilahirkan di Betlehem adalah simbol bahwa Yesus datang merontokan skat dan jarak yang membentang. Kehadiran Allah yang suci, yang transenden dalam diri manusia Yesus menjadi Allah yang imanen menunjukkan bahwa skat suci dan tidak suci, baik atau buruk, disabilitas ataupun non-disabilitas bukanlah hal yang penting untuk dipersoalkan. Yesus telah nyata untuk membebaskan kita dari pikiran jahat meremehkan yang lain dan menganggap diri lebih baik. Ia hadir di dunia supaya manusia juga mengalami kekudusan yang dari-Nya (Tit. 2:14), supaya setiap orang merasakan sukacita. Yang utama adalah bagaimana kabar “terang besar” itu kemudian dapat diberitakan (Tit. 2:15) kepada segenap bangsa bahwa sukacita itu untuk semua orang dan bangsa.
Penutup
Yesus datang membawa pembaruan hidup: Ia membebaskan manusia dari setiap tekanan kejahatan. Ia hadir untuk membawa damai dan merobohkan skat pemisah di antara manusia. Mari bergandengan tangan dalam hati dan perasaan sebagai patunggilan kang nyawiji dengan saling memotivasi dan menguatkan satu terhadap yang lain dengan mengucapkan, “Tuhan Yesus memulihkan Anda, Anda hebat.” Selamat Natal dan Tuhan Yesus memberkati. Amin. [ITH].
Pujian: KJ. 110 : 1, 2 Di Betlehem T’lah Lahir Seorang Putera
—
Rancangan Khotah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Tiyang mlarat biasanipun dipun cap minangka tiyang ingkang males, kesed, dados beban kangge tiyang sanes, utawi dados beban tumraping peladosaning pasamuwan. Biasanipun cap kados mekaten sampun mancep ing penggalihing masyarakat, mekaten ugi cap tumraping tiyang ingkang nyanggi disabilitas. Disabilitas asring sinebut tiyang cacat, tiyang ingkang gesangipun gumantung tiyang sanes, tiyang ingkang mboten migunani, malah ugi kaanggep tiyang ingkang kenging laknatnipun Gusti. Emanipun, warga gereja ugi nggadahi pamanggih bilih tiyang mlarat utawi tiyang disabilitas, punika tiyang ingkang kenging bebendunipun Gusti Allah awit saking dosa-dosanipun. Saged awit saking dosanipun tiyang sepuh utawi dosanipun piyambak. Pamanggih punika mrihatosaken sanget.
Ing pasamuwan stigma utawi cap negatif punika biasanipun ugi katujuaken dhumateng warganing pasamuwan ingkang ngalami gagal sacara ekonomi, karier utawi pandamelan, kalebet ugi gagal anggenipun mangun gesang bebrayan. Menawi kita nate mireng pangucapipun warganing pasamuwan, kados ingkang mekaten, “Si A gagal anggenipun daftar tentara awit piyambakipun nate damel tumindak lepat nalika wekdal taksih SMA rumiyin utawi piyambakipun gagal dados tentara awit saking dosanipun tiyang sepuhipun, tiyang sepuhipun mboten nate tindak gereja.” Punika satunggaling conto, bilih masyarakat, kalebet pasamuwan asring sanget ndakwa warganing pasamuwan ingkang gagal punika awit saking dosa. Kita saged mbayangaken, kados pundi awratipun sesanggi ingkang katanggel dening tiyang mlarat, tiyang disabilitas, lan tiyang ingkang gagal punika.
Ing sisi sanesipun, masyarakat ugi asring maringi cap negatif, stigma lan ndakwa warga masyarakat ingkang sukses sacara ekonomi, politik, lan karier. Tiyang sugih kadakwa curang usahanipun, mboten jujur anggene sadean, ngandelaken dukun lan penglaris senadyan gesang pangabektinipun sregep. Menawi wonten tiyang ingkang sukses politik lan jabatanipun, ugi dipun cap tiyang punika nghalalaken sedaya cara, laku nepotisme, awit saking kanca lan kolega, sanak lan kadang; asring ugi kadakwa korupsi lsp. Tumindak ingkang mekaten asring sanget kalampahan ing satengahing pasamuwan. Ingkang sugih, pinter, lan mapan ndakwa warga ingkang mlarat, disabilitas, lan gagal minangka tiyang kesed. Kosokwangsulipun tiyang mlarat maringi cap tiyang sugih punika sombong lsp. Sikap punika lajeng nuwuhaken grup utawi kelompok-kelompok ing pasamuwan: kelompok sugih – kelompok mlarat; kelompok pinter – kelompok bodho. Para tiyang punika sami pados beneripun piyambak-piyambak ugi sami ngasoraken tiyang sanesipun. Dampakipun patunggilanipun pasamuwan ingkang ketingal guyub lan rukun, sejatosipun tuwuh raos curiga lan memengsahan. Mugi-mugi boten kedadosan kanggene GKJW kita.
Isi
Ing dinten Natal dalu punika, mangga sami kita raos-raosaken kados pundi rawuhipun Gusti Yesus Kristus ingkang dados pepadhang ingkang nuwuhaken katentreman ing pasamuwan lan masyarakat. Sejatosipun wonten tiga prekawis ingkang saged kita gilut-gilut:
- Pengajeng-ajeng kangge ingkang lemah
Para pangon punika dados simbol utawi gambaran masyarakat ingkang lemah. Para pangon punika dipun cap negatif karana boten saged nindakaken printah agami kanthi sae, amargi nindakaken kathah ayahan lan tanggel jawab ingkang nguras pikiran, perasaan, lan tenaga kangge jagi ternak-ternakipun. Para pangon punika dipun sebat kaliyan Yesaya minangka, “bangsa ingkang mlampah ing pepetheng” (9:1). Pigesanganipun surem karana katindes kaliyan kakiyatan politik para panguwaos, ingkang dadosaken piyambakipun boten kagungan akses politik, ekonomi, kasehatan, pendidikan lan sumber daya (8:23).Kula saged nduga “para pangon”, “figuratif”, lan tiyang-tiyang ingkang dipun cap lemah punika ugi wonten ing satengah-tengahing pasamuwan Kristen/ greja. Tiyang-tiyang punika kados dene warga ingkang mlarat, warga ingkang disabilitas (cacat), tiyang ingkang kawates pendidikanipun, tiyang ingkang boten kagungan akses kangge mutusaken, tiyang ingkang ajrih ngedalaken pangraosipun, tiyang ingkang dicap provokator, lsp. Miturut Yesaya, tiyang-tiyang punika asring nampi tumindak ingkang boten nyenengaken, hakipun dipun rampas, nampi tekanan, boten saged ngraosaken kasil panenipun piyambak, lan piyambakipun kaaniaya fisik, pikiran lan batosipun saking para panguwaos (Yes. 9:2-3). Kanggene tiyang ingkang kados mekaten punika, juru serat Injil Lukas nyebataken, “Aja padha wedi, lan kowe padha dakwartani kabungahan gedhe, kang bakal tumrah marang sabangsa kabeh.” (Luk. 2:10). “Kabingahan agengipun” ing pundi? “Awitdene sih-rahmate Gusti Allah kang nylametake manungsa kabeh iku wus kababar.” (Titus 2:11). Gusti Allah rawuh boten namung kangge saperangan tiyang kemawon, boten namung kangge komunitas tertamtu kemawon, nanging Panjenenganipun rawuh ugi kangge para tiyang ingkang ringkih ingkang dados saksi lan abdinipun. Buktinipun, Malaikatipun Gusti ngatingalaken dhirinipun dhateng para pangon boten dhateng tiyang sanesipun. Karana punika kita kedah yakin bilih Gusti Yesus kersa miji tiyang ingkang ringkih, mlarat, cacat. Tegesipun Gusti Yesus rawuh ngasta pangajeng-ajeng enggal ingkang pundi rawuhipun dados ‘Pepadhang Ageng” (Yes. 9:1) lan mangsa ngajeng kangge kita.
- Sedaya Warga Pasamuwan punika Kagungan Potensi
Boten wonten tiyang ingkang paling istimewa ing ngasanipun Gusti Yesus. “Apa kita luwih onjo katimbang karo wong liya? (Rom. 3:9). Ing kitab ingkang sami, Paulus atur wangsulan, “Sabab wong Yahudi lan wong Yunani iku ora ana bedane. Ujer Gusti Allah mung siji, kang dadi Gustine wong kabeh, sarta luber kadarmane marang sadhengah wong kang padha nyebut marang Panjenengane.” (Rom. 10:12). Punika nedhahaken bilih sedaya tiyang punika kagungan hak istimewa ingkang sami wonten ngarsanipun Gusti Allah. Sedaya tiyang minangka warga pasamuwan lan warga negara kagungan hak ingkang sami kangge dipun data, nampi hak sensus ingkang sami kados Yusuf lan Maria.Kados sensus ingkang dipun tindakaken bangsa Romawi kanthi tujuan politik, sosial, ekonomi, nedahaken sinten kemawon ingkang naminipun dipun serat sacara tersirat gambaraken potensi ingkang dipun gadahi piyambakipun. Contonipun: dipun data wonten 100 tiyang jaler, sacara politik nedahaken wonten 100 tiyang jaler ingkang siap wajib militer. Wonten 100 tenaga kerja tegesipun wonten 100 potensi ekonomi ingkang siap makarya. Wonten 100 ide pamikiran lan gagasan ingkang maneka werni lan kreatif lan wonten 100 potensi sanesipun. Ing pandangan ingkang mekaten punika, Lukas nyebataken sedaya tiyang ingkang kalebet ing kekaisaran Romawi, ing pundi kemawon, sae ing kampung utawi kutha, ing rantau utawi ingkang kagungan potensi sosial politik, ekonomi sedaya sami, karana sedayanipun kedah dipun data.
Narasi Lukas ingkang gambaraken potensi para pangon srana ngandika, “Ayo padha menyang ing Betlehem, ndeleng apa sing wis kalakon ing kana, kaya sing wis dipangandikakake dening Pangeran marang kita.” (Luk. 2:15). Ayat punika nedahaken bilih pilihanipun Gusti Allah boten lepat. Para pangon ingkang wiwitan kaanggep ringkih kaliyan tiyang Yahudi, nyatanipun kagungan potensi kangge nindakaken printahipun Gusti Allah kanthi sae. Para pangon punika saged mangsuli raos mangu-manguning masyarakat. Para pangon punika kagungan potensi, malah kaserat “kabeh wong kang padha krungu, padha gumun marang critane pangon-pangin mau.” (Luk. 2:18). Punapa ingkang dipun tindakaken dening para pangon punika nglangkungi pemanggihipun tiyang kathah punika.
Pesen Injil Lukas punika penting, sedaya warga pasamuwan punika boten wonten ingkang kagungan kasagedan linuwih tinimbang sanesipun, awit sedaya tiyang punika kagungan kasagedan ingkang maneka werni. Karana punika sedaya potensinipun para warga punika kedah kadamel majengaken nilai-nilai Injil Kristus Yesus. Sampun ngantos kita kuwatos, sedih, kita sedaya punika aji ing ngarsanipun Gusti Allah.
- Gusti Yesus Rawuh Ngasta Katentreman kangge Sedaya Tiyang
Pepanggihanipun para pangon kaliyan malaikat lan kaliyan Gusti Yesus ingkang miyos ing Betlehem punika minangka simbol bilih rawuhipun Gusti Yesus punika kangge ngrubuhaken skat lan jarak ingkang mbentang punika. Rawuhipun Gusti Allah ingkang transenden ing Gusti Yesus, dados Gusti Allah ingkang imanen nedahaken bilih skat suci lan boten suci, sae utawi awon, cacat utawi mboten sanes prekawis ingkang kedah dipun masalahaken. Nyatanipun Gusti Yesus sampun mbebasaken kita saking pamikiran ingkang awon, pamikiran ingkang remehaken tiyang sanes, pamikiran ingkang mandheng dhiri langkung sae tinimbang tiyang sanes. Gusti Yesus rawuh ing donya supados manungsa ugi ngalami kasucenipun (Tit. 2:14), supados saben tiyang ngraosaken kabingahan. Lan ingkang utami inggih punika kados pundi “Pepadhang Ageng” punika saged kawartosaken (Tit. 2:15) dhumateng sedaya bangsa bilih kabingahan punika kangge sedaya tiyang lan bangsa.
Panutup
Gusti Yesus rawuh ngasta kaenggalan gesang. Panjenenganipun mbebasaken manungsa saking tekanan tumindak jahat. Panjenenganipun rawuh ngasta katentreman lan ngrubuhaken skat pemisah ing antawisipun manungsa. Pramila mangga sami gandengan tangan salebeting manah lan pangraos kita minangka patunggilan kang nyawiji sarana atur motivasi lan ngiyataken setunggal tumrap sanesipun, kanthi pangucap, “Gusti Yesus mulihaken panjenengan, panjenengan hebat.” Sugeng Natal. Gusti Yesus tansah mberkahi kita. Amin. [Terj. AR]
Pamuji: KPJ. 217 : 1, 2 Dalu Santi