Minggu Tritunggal Kudus
Stola Putih
Bacaan 1 : Kejadian 1 : 1 – 2 : 4a
Bacaan 2 : 2 Korintus 13 : 11 – 13
Bacaan 3 : Matius 28 : 16 – 20
Tema Liturgis : Roh Kudus Menjadikan Kita Saksi dan Pelayan Kristus
Tema Khotbah: Kuasa Bukan untuk Menguasai
Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kejadian 1 : 1 – 2 : 4a
Terdapat banyak kisah penciptaan dalam Alkitab, tetapi yang dalam bentuk narasi hanya dua kisah, yaitu Kejadian 1:1-2:4a dan Kejadian 2:4b-25. Kita, pembaca hari ini, seringkali tidak dapat membedakan kedua kisah tersebut, menganggapnya hanya satu kisah, padahal berbeda sama sekali. Teks Kejadian 1:1-2:4a diduga berasal dari sumber para imam (disebut sumber P – Priester dalam Bahasa Jerman berarti imam) yang kira-kira ditulis menjelang kepulangan dari pembuangan di Babel. Penulis kisah ini menekankan pada keteraturan dalam penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan. Tentu kisah ini tidak bisa begitu saja disama-samakan dengan peristiwa lahirnya semesta dalam Fisika, karena kisah ini lebih merupakan bahasa iman daripada topik ilmiah (walaupun gereja-gereja selama berabad-abad pernah menganggap kisah penciptaan ini ilmiah dan dari sana menjadi anti pada temuan ilmu pengetahuan).
Kisah ini menekankan pada keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta, dunia tidak ada begitu saja sebagai sebuah kecelakaan semesta atau peristiwa yang terjadi begitu saja tiba-tiba. Namun, ada Yang Maha Kuasa yang menciptakan, menata, merapikan dunia secara teratur dalam enam hari dan beristirahat serta memberkatinya pada hari ketujuh. Sebuah gambaran simbolis dari tradisi Yahudi kuno (yang kita adaptasi hari ini) enam hari bekerja dan hari ketujuh sebagai hari istirahat dan beribadah. Di sana juga dikisahkan tentang Allah yang mempercayakan dunia kepada manusia. Bagian ini kerap dianggap sebagai manusia berhak menguasai ciptaan yang lain, mengeksploitasi alam untuk kepentingan manusia. Agaknya tidak demikian, karena Allah yang maha kuasa tidak menggunakan kekuasaannya untuk menguasai yang lain, Dia justru mempercayakannya kepada ciptaan-Nya. Artinya bahwa kuasa bukan pertama-tama digunakan untuk menguasai yang lain demi kepentingan pribadi, tetapi kuasa adalah untuk menata supaya ‘semua (Ibrani : kol – 1:31) yang diciptakannya tampak sungguh baik’ bukan hanya penguasa (manusia) yang baik adanya.
2 Korintus 13 : 11 – 13
Perikop ini dimulai dengan kata ‘akhirnya’, berarti membaca perikop ini tidak bisa dilepaskan dari pembacaan bagian-bagian sebelumnya dari surat 2 Korintus ini (surat yang sangat panjang). Dalam surat ini, Paulus memberikan penggembalaan yang sangat keras kepada Jemaat di Korintus karena menurut Paulus jemaat ini tidak berjalan sesuai perintah Injil. Mereka terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok berdasarkan selera teologi mereka, berdasarkan ekonomi, gaya hidup dan berdasarkan kelas-kelas sosial lain.
Sepanjang suratnya, Paulus memberikan nasihat-nasihat terkait kehidupan iman di jemaat tersebut dan dalam penutup surat ini, Paulus agaknya ingin merangkum nasihat-nasihatnya dalam istilah katartizesthe, yang diterjemahkan oleh LAI menjadi sempurna. Kata ini sebaiknya diterjemahkan utuh atau lengkap, karena sempurna tentu terlalu berlebihan, tidak mungkin orang bisa menjadi sempurna. Harapan Paulus adalah orang-orang Kristen di Korintus menjadi utuh secara Kristen, perpecahan yang terjadi di antara mereka menandakan bahwa mereka tidak utuh. Karena itu setelah nasihat untuk menjadi utuh ada nasihat untuk sehati sepikir dan hidup bersama dalam damai sejahtera. Nasihat itu bahkan ditutup dengan gambaran para orang kudus yang saling memberikan cium kudus, tanda persekutuan dan persahabatan yang erat. Lebih jauh, juga dikaitkan dalam gambaran Allah yang utuh menurut pemahaman Paulus: Tuhan Yesus Kristus yang memberikan kasih karunia/anugerah (kharis), Allah Bapa yang memberikan kasih (agape), dan Roh Kudus yang mempersekutukan (koinonia). Masing-masing memiliki peran yang berbeda-beda tetapi hadir bersama dalam proses kehidupan.
Matius 28 : 16 – 20
Bacaan ini kerap dibaca sebagai perintah untuk menjadi eksklusif. Karena perintah untuk menjadikan semua bangsa ‘murid-Ku’ dan membaptiskan mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus sama halnya dengan perintah untuk mengkristenkan orang lain. Ada perintah lain sebenarnya yaitu mengajar melakukan (didaskontes … terein – Yunani: mengajar supaya bisa menjaga/ teach to keep), tapi agaknya perintah ini kalah tenar daripada kedua perintah sebelumnya. Penafsiran semacam ini khas penafsiran abad-abad pertengahan awal hingga masa kolonial, ketika semua bangsa dan agama lain dipandang sebagai lebih rendah dari Kristen, mereka dianggap tidak beradab, mereka dianggap warga Pribumi kafir yang perlu ditobatkan. Semua salah dan hanya Kristen saja yang benar. Apalagi ketika perintah tersebut lantas disebut sebagai ‘amanat agung’ maka seolah-olah mengkristenkan orang-orang kafir di luar sana adalah yang paling agung. Amanat-amanat lain seolah-olah tidak agung, bahkan kadang hukum kasih (perintah untuk mengasihi) pun harus takluk di bawah amanat agung ini. Dampaknya adalah orang Kristen melihat orang lain sebagai ‘musuh’ yang harus ditaklukkan dan kalau sudah Kristen maka selesai pertarungan. Dalam banyak kelompok, nuansa seperti ini tanpa disadari tetap kuat. Beberapa gereja masih mempertahankan tafsir demikian. Namun, apakah dalam konteks hari ini, khususnya dalam konteks Indonesia yang semakin sadar bahwa agama lain tidak lebih rendah dari Kristen, multikultural, keberagaman sebagai kekayaan tafsir demikian tetap perlu dipertahankan? Tapi di sisi lain apakah konteks hari ini lalu harus membuat pesan Injil harus lebih lunak? Bukankah kenyataannya perintah dalam penutup Injil Matius ini sangat keras?
Konteks Injil Matius adalah bahwa Injil ini ditujukan untuk orang-orang Kristen yang berasal dari agama Yahudi, karena itu rujukan tentang Daud, Taurat, dan tradisi-tradisi Yahudi sangat kuat mewarnai Injil ini. Agaknya ada dua tujuan, yang pertama adalah untuk menguatkan supaya orang-orang Yahudi yang mulai memeluk Kekristenan (percaya kepada Yesus sebagai Mesias) tetap setia dengan imannya. Dan tujuan kedua adalah karena kondisi orang-orang Yahudi-Kristen tersebut dalam tekanan pemerintah Romawi dan orang-orang Yahudi lain, maka penulis Matius ingin melawan tekanan itu, bukan dengan peperangan, tetapi secara kultural, budaya. Bayang-bayang tekanan dari pihak penguasa yang kejam membayang-bayangi penulisan Injil ini.
Di beberapa tempat, masih ada orang-orang Kristen yang mengalami tekanan serupa itu. Tapi apakah pertanyaannya adalah kita harus melawan dengan sama kerasnya? Yang keras dilawan dengan yang keras? Yang dampaknya bisa jadi perkelahian. Atau kita cukup diam saja? Maka dari Injil Matius ini kita mendapatkan pemahaman baru bahwa ketidakadilan tidak bisa didiamkan, tetap harus dilawan. Perlawanan yang dilakukan, pertama kali, bukanlah perlawanan pedang melawan pedang, tetapi dengan cara kultural. Jika dulu perlawanan dilakukan dengan ‘amanat agung’ ini, hari ini perlawanan kepada kelompok-kelompok yang mengusung ketidakadilan bahkan dengan mengatasnamakan agama (hingga radikalisme) bukanlah dengan cara perang, tetapi justru bahu-membahu membangun relasi persahabatan yang sejati, termasuk dengan saudara-saudara lintas iman yang memiliki keprihatinan serupa. Artinya teks ini sedang mengantarkan kita untuk tidak diam, kita dipanggil seperti para murid untuk melawan ketidakadilan, caranya bukan dengan cara pada umumnya (perkelahian, perang), tetapi dengan menyebarkan nilai Kristen ke seluruh dunia. Nilai Kristen dalam Tata Pranata GKJW dipahami dalam empat poin: Kasih, Kebenaran, Keadilan, dan Damai Sejahtera. Hal tersebutlah yang kita bagikan, dengan itu kita ‘membaptiskan’ orang, memperkenalkan orang dan menjadikan orang satu persekutuan dengan Kristus.
Benang Merah Tiga Bacaan :
- Seluruh dunia adalah milik Allah, Sang Pencipta, maka panggilan seluruh makhluk ciptaan adalah menjadikan dunia ini ‘baik adanya’ dan ‘sempurna/ utuh’ sebagaimana karya penciptaan Allah atas dunia.
- Tidak jarang panggilan demikian dimaknai dengan berbagai tafsir, salah satu yang seringkali menonjol bernuansa ‘politik identitas’, menjadikan dunia baik menurut identitas saya (agama saya, kelompok saya, manusia atas alam dll). Tanpa sadar memandang yang lain lebih rendah daripada identitas yang saya pegang. Identitas saya harus menguasai yang lain.
- Identitas dibutuhkan, tetapi panggilan menjaga karya Allah, bukan sekadar identitas, tetapi menjadikan semuanya baik dan utuh, yang di GKJW dihidupi dengan mewujudkan: Kasih, Kebenaran, Keadilan, dan Damai Sejahtera. Mewujudkan keempat hal tersebut berarti bukan menguasai, tetapi mewujudkan relasi yang saling menghidupkan.
RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Saat itu tahun 323 SM. Pada Bulan Juni seperti hari ini, sekitar 2300 tahun yang lalu, Alexander Agung berpesta minum bersama pasukannya. Pemimpin Makedonia (atau biasa dikenal dengan Yunani) itu berhasil menguasai wilayah dari pantai Laut Adriatik sampai ke pegunungan Afghanistan. Usianya masih sangat belia, 32 tahun. Dia berencana untuk meluaskan wilayahnya sampai ke India dan Arab. Malam Bulan Juni itu hangat, dia sedang berada di Babel. Kondisi kesehatannya sudah mulai memburuk sebelumnya, tapi dia ingin menyemangati pasukannya, dia terus minum bersama mereka. Namun, nasib baik tak berpihak, dia diserang demam hebat hingga tak mampu lagi berbicara, tak berapa lama dia meninggal. Dia pernah berkata, “Aku meramalkan kontes besar di pertandingan pemakamanku!” Dan benar. Sesudah dia meninggal, orang-orang berkuasa di sekitarnya berebut menjadi yang paling adi daya. Makedonia terpecah-pecah, lalu hancur.
Cerita yang sama terjadi di banyak tempat. Uni Soviet, kekuasaannya setara Amerika dan sekutunya. Kedua negara saling berebut hebat-hebatan, tapi Soviet sekarang tinggal nama, negara itu sudah terpecah-pecah. Demikian juga Majapahit. Dulu keraton itu digdaya, sekarang tinggal puing-puing saja di Mojokerto. Kuasa yang dikejar-kejar dan dibangga-banggakan mengatasi segalanya itu nyatanya ketika habis, ya habis saja. Banyak yang menduga hal serupa akan terjadi pada Amerika, Tiongkok, dan negara-negara besar lain. Bahkan termasuk pada Kekristenan.
Isi
Semangat yang didengungkan oleh Matius 28, bagian pungkasan dari Injil ini, selama berabad-abad dimaknai sebagai semangat untuk menjadikan dunia semuanya Kristen. Semangat itu menggema seperti lagu Kidung Jemaat 120, “Hai siarkan di gunung, di bukit, dan di mana jua.” Dampak dari semangat ini termasuk kita ini. Kita yang di Jawa Timur, termasuk yang di pinggiran Banyuwangi atau di pesisir Pujiharjo, ikut menjadi Kristen karena semangat besar dari Matius 28 tersebut. Padahal berapa jarak Pujiharjo dengan Yerusalem.
Namun, ada hal-hal lain yang agaknya juga membayang-bayangi Matius 28 tersebut. Diam-diam semangat untuk menjadikan semua menjadi murid Yesus dengan cara membaptiskan dan mengajar mereka berbuat seperti yang Kristus ajarkan itu berubah menjadi keinginan untuk berkuasa. Kita ingin Kristen menguasai dunia. Kita akan senang sekali ketika ada artis di tv yang mengatakan “Terima kasih, Tuhan Yesus!” kita merasa, “Tuh orang Kristen!” Kita begitu bersemangat ketika ada orang Kristen menjabat, ketika ada partai yang beraroma Kristen. Kita dukung mati-matian. Alasannya sederhana, kalau orang Kristen yang memimpin, maka ‘sembarang kalire kepenak.’ Buat gereja mudah, Natalan mudah, mengurus surat-surat mudah. Memang semangat menjadikan dunia murid Kristus bisa meleset ke situ dan sangat mungkin.
Hal keinginan untuk berkuasa memang bisa digerakkan oleh agama. Agama menjadi identitas politik. Orang ingin agamanya yang berkuasa. Dan agaknya bukan hanya orang Kristen yang ingin begini, yang lain-lain pun juga sama. Akhirnya terjadi pertarungan untuk memenangkan kuasa. Setiap hari isinya kompetisi berebut kuasa. Agama menjadi alat pemecah belah karena keinginan berkuasa. Padahal di awal kita diingatkan, bahwa kuasa apa pun ketika habis, ya habis saja. Tidak ada yang salah dengan kuasa, tapi kalau kuasa menyebabkan perpecahan, menyebabkan permusuhan, maka walaupun (orang atau agama) Kristen berjaya, tapi hilang nilai Kekristenannya. Wong Kristen ilang Kristene. Ini yang dikritik oleh Paulus dalam tulisannya kepada jemaat di Korintus, semua berebut berkuasa, sampai akhirnya terpecah-pecah.
Maka disinilah agaknya kita perlu bergeser, bukan melulu pada ‘agama’ Kristennya, tetapi utamanya pada nilai Kristennya. Ketika kita membaca kisah Penciptaan. Tuhan menciptakan dunia yang serba baik untuk semua ciptaan. Ketika hari ini kebaikan itu terkikis oleh krisis ekologi – hutan habis, udara semakin panas, polusi dan sampah di mana-mana, musim hujan semakin tidak bisa diandalkan, air saja harus beli – yang mengalami bukan hanya orang Kristen tetapi semua orang. Ketika ada masalah korupsi dan ketidakadilan, itu pun terjadi pada semua orang. Maka memaknai Kejadian sebagai penciptaan membutuhkan kita berpegangan tangan dengan yang lain supaya ciptaan Tuhan terus baik adanya. Ketika ada yang tidak baik, kita memperbaiki bersama-sama.
Mengupayakan relasi dengan yang lain demi terwujudnya kebaikan Kerajaan Allah. Bukankah itu pusat dari Kekristenan? Mungkin suatu saat kita dipercaya untuk berkuasa, menjadi pemimpin. Entah di pemerintahan, entah di gereja, entah di keluarga. Kekuasaan kita bukan untuk menguasai yang lain, menjadikan yang lain tunduk pada kita dan kita bebas melakukan segala-galanya. Kekuasaan adalah kesempatan untuk mewujudkan nilai-nilai Kasih, Kebenaran, Keadilan, dan Damai Sejahtera dalam hidup kita sehari-hari. Dengan itulah kita menjadikan dunia ini kerajaan Allah yang nyata. Rumah menjadi tempat bertumbuhnya nilai-nilai Kekristenan, di gereja kita membuat program-program yang mewujudkan panggilan Kekristenan, di masyarakat kita hidup bersama dan menyuarakan Kasih, Kebenaran, Keadilan, dan Damai Sejahtera.
Penutup
Baptis tidak selalu perlu dimaknai secara harafiah sebagai sakramen baptis, tetapi kita juga bisa membaptiskan dunia dengan terus menceritakan Kristus kepada dunia sehingga mereka mengenal jalan Yesus. Dengan setia pada jalan Kasih, Kebenaran, Keadilan dan Damai Sejahtera, serta mengajarkan kepada dunia dengan keteladanan hidup. Kalau sekadar ingin berkuasa saja apa artinya? Kalau sekadar ingin dipanggil boss, silakan parkir motor atau mobil Anda, tukang parkir biasanya akan bilang, “Dimepetin, Boss!” kalau dikasih 2000 rupiah, mereka akan menjawab, “Makasih, Boss!” Jadi boss itu gampang. Panggilan kita menjadikan cerita Kristus itu terus bergema. Sampai ketika kita dipanggil pulang, kita bisa berkata seperti Paulus, “Akhirnya … aku utuh sempurna!” Amin. (gide).
Pujian : PKJ. 183 “Mari Sebarkan Injil”
—
RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi
Pambuka
Sasi Juni 2300 kepengker, taun 323 SM, Alexander Agung, kaisar Makedonia (Yunani), ngawontenaken pesta nginum sesarengan para prajuritipun. Kaisar ingkang taksih yuswa 32 taun punika, sampun nguwaosi wilayah pesisir Adriatik ngantos Afghanistan. Piyambakipun kepingin ngiyaraken wilayah nagrinipun ngantos daerah India lan Arab. Nanging dalu punika, sak rampungipun pesta, badanipun benter sanget, ngantos ewet anggenipun wicantenan. Boten dangu, seda. Alexander Agung nate ngendikan, “Aku ngramalke bakal ana tandhing gedhe nalika penguburanku!” Lan leres. Sak rampungipun dipun kubur, para pemimpin Makedonia lajeng rebutan kuwaos. Setunggal memengsahan kaliyan ingkang sanes. Nagri ingkang adidaya punika lajeng ajur, boten wonten sisanipun.
Prekawis kados punika ugi kedadosan wonten ing nagri adidaya sanes. Uni Soviet rumiyin nagri ingkang ageng sanget, saged dipun bandingangaken kaliyan Amerika. Nanging samangke sampun pecah dados Rusia lan nagri-nagri alit ing kiwa tengenipun. Boten namung ingkang wonten ing luar negeri. Rumiyin Majapait ugi keraton ingkang ageng sanget. Nanging samangke kantun puing-puing kemawon. Ironis, kuwaos ingkang dipun upadi dening tiyang gesang ngantos jor-joran, dipun bangga-banggaaken, saged lepus, telas, ical babar blas. Mboten wonten sisanipun. Kathah ingkang ngramalaken, nagari-nagari adi daya kados Amerika lan Tiongkok samangke ugi bakal ngalami prekawis ingkang sami kados mekaten.
Isi
Semangat ingkang dipun gaungaken dening Mateus 28 pungkasan ingkang dados waosan kita kala wau ndadosaken pekabaran Injil tuwuh lan ngrembaka ing sapenjuru bumi. Saking Yerusalem tiba ngantos Eropa, lan saking Eropa nular dhumateng kita ing tlatah Jawi Wetan punika. Coba panjenengan bayangaken, pinten tebihipun Yerusalem kaliyan Banyuwangi utawi Pujiharjo. Mlebet Lenggoksono punika butuh daya upaya, awit rumiyin marginipun alas peteng gung liwang-liwung. Nanging nggih Injil punika saged kemawon nyaput dhaerah-dhaerah punika.
Nanging wonten prekawis sanes ingkang nggegirisi sejatosipun menawi maos Mateus 28 kala wau. Injil kasebar ing sapenjuru jagad, nanging kadhang tiyang Kristen boten mirsani Injil ingkang ateges kabar kabingahan, kabar katresnan dhumateng sedaya tiyang, nanging ingkang langkung dipun gati boten sanes identitas utawi label agaminipun. Kita bingah sanget menawi wonten artis ing tivi ngendikan, “Terima kasih Tuhan Yesus!” Kita lajeng mencolot saking kursi, “Lah kuwi delengen! Wong Kristen kuwi.” Kita semangat sanget nalika wonteng tiyang Kristen dados petinggi, utawi menawi wonten partai-partai Kristen. Kita dukung, kita belani toh nyawa. Alasanipun bilih tiyang Kristen mimpin, sembarang kalir mesthi kepenak. Nggawe greja gampang, Natalan gampang, ngurus surat-surat gampang.
Estu, semangat ndadosaken jagad punika pendherek lan sakabatipun Sang Yesus Kristus saged meleset dados kepinginan sembarang kalir sing mambet-mambet Kristen kedah berkuasa, nguwaosi ingkang lintunipun. Agami lajeng dados identitas politik. Boten namung ingkang Kristen kemawon, ingkang sanes ugi sami mawon sejatosipun. Pungkasapun dados tarung supados menang kuwaos. Saben dinten ing televisi kita ningali tiyang ingkang ndadosaken agami alat rebutan kuwaos. Agami dados pemecah belah. Persis kawontenang ing Kitha Korinta, sedaya kepingin dados tiyang kuwaos, tukaran setunggal kaliyan sanesipun. Ingkang dados tukaran: agami. Boten wonten ingkang lepat kaliyan kuwaos, wong Gusti mawon maha kuwaos. Nanging menawi kuwaos ndadosaken tiyang crah lan bubrah, boten malih kekancan malah memengsahan, tiyang Kristen salah dibelani mawon soaleh Kristen, punika lah malih dados ‘Tiyang Kristen nanging ilang Kristene’.
Saking ngriku, ketingalipun kita prelu nggeser pamanggih kita bab timbalan Mateus 28 kala wau. Timbalan ndadosaken sedaya tiyang muridipun Gusti Yesus, mbaptisaken, lan mucal punapa ingkang dipun karsaaken dening Gusti boten masalah ndadosaken Kristen maha kuwaos lan nguwaosi ingkang sanes. Nanging mujudaken nilai-nilai Kristen. Menawi kita maos cariyos bab penciptaan wonteng Purwaning Dumadi kala wau kita dipun tedahi bilih jagad ingkang sae punika jagad kangge sedaya ingkang tumitah. Boten namung kangge tiyang Kristen kemawon. Nalika samangke kita nemahi jagad ingkang ical kasaenanipun awit krisis ekologi – alas sedaya dibabat, jagad tan saya panas, polusi lan sampah ing pundi-pundi, mangsa tan saya ewet dipun etang, toya kemawon kedah tumbas – ingkang ngalami boten namung tiyang Kristen. Nalika wonten kawontenan kados mekaten kita katimbalan sami guyub rukun mujudaken kasaenan, supados ingkang dipun titahaken punika wangsul malih dados sae. Timbalan punika boten saged dipun tindakaaken piyambak, kita mbetahaken ingkang sanes ugi.
Ngupadi kasaenan kangge sedaya tumitah punika ateges kita terbuka mangun relasi kaliyan ingkang sanes. Punika inti saking Kekristenan, sedaya saged rerangkulan mujudaken kasaenanipun Gusti. Menawi kita dipun pitadosi mengku kuwaos, dados pemimpin, mangga kuwaos punika dipun ginaaken kangge kasaenanipun Gusti punika. Mangga mawi kuwaos ingkang kita gadhahi kita mujudaken Katersnan, Kaleresan, Kaadilan, lan Tentrem Rahayu ing gesang padintenan. Menawi kita pemimpin rumah tangga, mangga ndadosaken griya lan brayat kita dados papan tumukulipun nilai-nilai Kristen. Menawi kita pemimpin wonten ing greja kita mujudaken gesang pasamuwan dados gesang ingkang ngrangkul sedaya tiyang, program-program dipun damel supados sedaya saged ngumaosi ayem lan tentrem. Menawi kita pemimpin ing masyarakat kita gesang lan nuladhanaken Katersnan, Kaleresan, Kaadilan, lan Tentrem Rahayu.
Panutup
Baptis boten namung nindaaken sakramen baptis, nanging ugi nepangaken jagad kaliyan Gusti Yesus Kristus. Kita nepangaken mawi mujudaken kasetyan ing margi Katersnan, Kaleresan, Kaadilan, lan Tentrem Rahayu. Kita mucal jagad mawi tuladha kita. Punika dados Kristen sejatos. Menawi namung kepingin nguwaosi sanesipun, punapa ta tegesipun. Menawi ngersaaken dados Boss, caranipun guampang. Panjenengan parkir mawon sepedha montor utawi mobil panjenengan. Tukang parkiripun mesthi bakal ngendikan, “Mepet, Boss! Kiri Boss! Kanan Boss!” Menawi panjenengan bayar parkiran 2000 rupiah, tiyangipun lajeng mangsuli “Suwun, Boss!” Gampil kok menawi kepingin dados Boss kemawon. Nanging timbalan kita kan nyariosaken Gusti Yesus saben wekdal, supaya jagad punika tepang kaliyan Gusti lan nindaaken kados ingkang dipun karsaaken dening Gusti. Mugi kita saged mujudaken punika, matemah menawi kita katimbalan wangsul dening Gusti, kita saged ngendikan kados Rasul Paulus, “Ing pungkasane … aku wutuh sampurna!” Amin. (gide).
Pamuji : KPJ. 358 “Gusti Badhé Kula Puji”