Firman Allah Menuntun Manusia kepada Kebenaran Khotbah Minggu 6 September 2020

23 August 2020

Minggu Biasa – Pembukaan Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1         :  Keluaran 12 : 1 – 15
Bacaan 2         : 
Roma 13 : 8 – 14
Bacaan 3         : 
Matius 18 : 15 – 20

Tema Liturgis :  Firman Khalik Semesta
Tema Khotbah: 
Firman Allah Menuntun Manusia kepada Kebenaran

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Keluaran 12 : 1 – 15
Pada bagian ini menjelaskan tentang makna Paskah yang pertama kali dirayakan oleh orang Israel. Kata Paskah memiliki akar kata ‘psh’ dari rumpun bahasa Semit yang berarti “berjalan melewati”.

Melalui ritual Paskah ini, umat Israel mengenang kejadian penting dalam sejarah mereka ketika Tuhan menyelamatkan (“berjalan melewati”) mereka dari perbudakan di Tanah Mesir. Peristiwa Paskah ini dimaksudkan untuk merayakan puncak pembebasan umat Israel, yaitu ketika TUHAN memberikan tulah kesepuluh berupa kematian anak sulung kepada semua keluarga Mesir dan menyelamatkan keluarga-keluarga umat Israel. Perayaan ini berupa pengorbanan domba yang darahnya dibubuhkan pada pintu rumah orang Israel, supaya mereka terhindar dari kematian anak sulung (ayat 7,12,13). Domba tersebut dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan suyur-sayuran pahit. Mereka harus memakannya dengan berpakaian lengkap untuk bepergian. Hal ini menunjukkan ketergesaan dan kesiapan mereka untuk meninggalkan Mesir.

Nanti pada saat perayaan Paskah diulang, perayaan ini harus dilanjutkan dengan perayaan roti tidak beragi selama seminggu penuh (ayat 18-20). Umat Israel diperintahkan untuk melakukan kembali, untuk mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada waktu mereka masih tinggal di Mesir. Dengan mengenang peristiwa ini berarti mereka akan selalu mengingat kasih Allah kepada mereka di dalam sejarah keselamatan umat Israel. Peristiwa Paskah ini merupakan suatu cara untuk mengingatkan umat Israel di Mesir dan keturunan mereka bahwa Allah benar-benar hadir, menghukum orang-orang Mesir, membebaskan dan menyelamatkan umat Israel.

Roma 13 : 8 – 14
Hukum Taurat diberikan bukan untuk membatasi kebebasan manusia. Hakikat hukum Taurat adalah kasih. Iman Kristen tidak memisahkan antara kasih dan kekudusan. Kasih sangat penting sehingga orang Kristen selalu berhutang untuk menunjukkan kasih kepada saudara-saudaranya (ayat 8). Demikian juga dengan kekudusan. Hal ini begitu penting sehingga Paulus menasihatkannya kapada jemaat Roma dengan nada yang mendesak (ayat 11-12a).

Pertama, kita mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (ayat 9). Seberapa jauh seseorang dapat mengasihi dirinya, sejauh itulah kemampuannya mengasihi orang lain. Kasih tidak mementingkang diri sendiri, tetapi mempedulikan orang lain. Jika kita mengharapkan hal baik terjadi atas hidup kita, demikianlah seharusnya kita bersikap terhadap sesama kita.

Kedua, menunjukkan kasih adalah menggenapi seluruh perintah Hukum Taurat (ayat 10). Hukum Taurat menentang segala kejahatan yang menciderai hubungan manusia dengan TUHAN dan hubungan manusia dengan sesamanya. Mengasihi orang lain berarti tidak mencelakai sesama. Demikian halnya menyatakan kekudusan berarti melawan segala perbuatan jahat.

Paulus menegaskan bahwa hanya ada dua kemungkinan hidup : malam dan siang (kegelapan dan terang). Oleh sebab itu Paulus menasihati agar jemaat Roma menanggalkan perilaku hidup “malam” : kemabukan, pesta pora, dosa seksual, perselisihan, iri hati, dan kedagingan yang lainnya. Sebaliknya Paulus menasihati agar jemaat Roma mengenakan Yesus (hidup dalam terang), yaitu hidup sopan dan kudus. Kata “menanggalkan” dan “mengenakan” menunjukkan bahwa orang Kristen tidak dapat hidup di dalam daerah yang abu-abu. Orang Kristen harus menanggalkan kegelapan dan hidup dalam terang. Kasih dalam iman Kristen tidak membawa manusia untuk berkompromi dengan dosa. Kasih yang sejati berjalan bersama kekudusan.

Matius 18 : 15 – 20
Gereja tidak terdiri dari orang-orang yang sudah sempurna, melainkan orang-orang yang dibenarkan dan sedang terus menerus dikuduskan oleh Tuhan Yesus. Karena itu, kesalahan dan kejatuhan dalam dosa bisa terjadi pada orang Kristen. Apabila hal itu terjadi, maka tugas sesama orang Kristen untuk menasihati dan membimbingnya untuk bertobat. Bagaimana menegur, menasihati dan membimbing itu harus kita lakukan? Tuhan Yesus memberikan petunjuk sebagaimana pada bacaan kita (Mat. 18:15-20).

Yesus memberikan petunjuk bahwa teguran dan nasihat itu harus dilakukan secara bertahap. Pertama, hendaklah dilakukan dalam pembicaraan pribadi antar pribadi dengan seseorang yang berbuat salah (ayat 15). Jika tahap teguran dan nasihat ini tidak ditanggapi, perlu menghadirkan saksi. Tujuannya bukan untuk menghakimi tetapi sebagai upaya untuk menyadarkan orang yang berbuat salah tersebut (ayat 16). Jika teguran dengan saksi itu pun tetap tidak ditanggapi, barulah orang yang berbuat salah itu ditegur dalam pertemuan jemaat Tuhan (ayat 17a). Jika sampai menerima teguran yang demikian ia tetap tidak merespon dan mengakui kesalahannya, maka jemaat harus memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Tuhan (ayat 17).

Benang Merah Tiga Bacaan
Tuhan Allah adalah Allah yang senantiasa mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya. Sekalipun umat-Nya jatuh dalam dosa, Tuhan menghendaki agar umat-Nya bertobat, menyesali dosa kesalahannya dan kembali kepada-Nya. Demikian pula Tuhan menghendaki agar umat-Nya hidup dalam kasih dan kekudusan. Dengan hidup dalam kasih dan kekudusan, maka umat Tuhan akan mampu hidup didalam ketetapan Firman dan Kehendak Allah. Sehingga dia akan dimampukan untuk menegur, mengingatkan saudaranya manakala ada saudaranya yang berbuat jahat. Dia akan memiliki keberanian untuk menasihati saudaranya itu agar saudaranya itu menyadari akan kesalahannya, menyesali perbuatan jahatnya dan mau bertobat memperbaharui hidupnya, kembali kepada Tuhan.

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan tentunya kita pernah melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Misalnya seorang anak yang sedang belajar menulis, tentu huruf yang dia tulis tidak selalu sama dengan huruf yang dicontohkan oleh orang tua atau guru yang mengajarkannya. Seorang ibu yang sedang memasak, lupa untuk menambahkan garam pada masakannya. Seorang anggota Majelis Jemaat yang memimpin ibadah Minggu yang lupa mengajak jemaat untuk mengungkapkan Pengakuan Iman Rasuli dalam ibadah. (Bisa diberikan contoh kesalahan yang lain).

Kesalahan adalah sebuah pengalaman sekaligus pelajaran yang berharga jika seseorang yang bersalah tadi menyadari kesalahannya, mau instropeksi diri dan memperbaiki kesalahannya itu. Sebaliknya kesalahan akan menjadi batu sandungan bagi diri sendiri apabila dia tidak mau berubah dan menyadari kesalahan pada dirinya. Dalam hal ini tentulah cara pandang, cara berpikir kita dalam menyikapi sebuah kesalahan diri menjadi cerminan diri pribadi kita.

Disamping kesalahan yang dilakukan secara pribadi, ada kesalahan yang berakibat melukai/menyakiti hati orang lain. Bisa itu lewat perkataan  yang menyinggung perasaan orang lain, sikap yang merendahkan orang lain dan tindakan yang menyakiti hati orang lain. Jika kita menyadari akan perkataan, sikap, dan tindakan kita telah menyakiti orang lain maka sedianya kita meminta maaf dan segera berdamai dengan orang tersebut. Namun pada kenyataannya hal itu tidak mudah dilakukan. Tidak mudah seseorang mau mengakui kesalahannya terlebih meminta maaf kepada orang lain.

Isi
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Bacaan Firman Tuhan pada saat ini (Keluaran 12:1-15) mengisahkan tentang karya dan kasih Allah kepada bangsa Israel melalui peristiwa Paskah. Allah mendengar keluh kesah dan melihat penderitaan bangsa Israel sebagai budak di Mesir. Kemudian Allah memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan. Diceritakan pada bacaan kita cara Allah membebaskan umat-Nya dari tangan Firaun yaitu melalui tulah kepada bangsa Mesir. Bukan hanya sekali dua kali, Allah memberikan tulah kepada Mesir, tetapi karena sikap keras kepala Firaun, Firaun tetap tidak mengijinkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Hingga puncaknya Allah memberikan tulah yang kesepuluh yaitu kematian anak sulung pada keluarga orang Mesir, yang pada akhirnya Firaun mengijinkan bangsa Israel keluar dari Mesir.

Peristiwa keluarnya bangsa Israel ini ditandai dengan peristiwa Paskah yang dirayakan oleh masing-masing keluarga Israel. Mereka melakukan ritual Paskah ini untuk mengenang kejadian penting dalam sejarah mereka ketika Tuhan menyelamatkan (“berjalan melewati”) mereka dari perbudakan di Tanah Mesir. Peristiwa Paskah ini dimaksudkan untuk merayakan puncak pembebasan umat Israel, yaitu ketika TUHAN memberikan tulah kesepuluh berupa kematian anak sulung kepada semua keluarga Mesir dan menyelamatkan keluarga-keluarga umat Israel. Perayaan ini berupa pengorbanan domba yang darahnya dibubuhkan pada pintu rumah orang Israel, supaya mereka terhindar dari kematian anak sulung (ayat 7,12,13). Domba tersebut dipanggang dan dimakan dengan roti tidak beragi dan suyur-sayuran pahit. Mereka harus memakannya dengan berpakaian lengkap untuk bepergian. Hal ini menunjukkan ketergesaan dan kesiapan mereka untuk meninggalkan Mesir.

Kisah selanjutnya dalam perjalanan bangsa Israel sangat diwarnai dengan dinamika iman yang berulang. Bangsa Israel percaya kepada Allah Israel yang membebaskan – Bangsa Israel mengalami masalah dan berbuat dosa karena tidak setia dan mendegarkan Firman Allah – Bangsa Israel mendapatkan hukuman dari Allah hingga kematian – Bangsa Israel mengakui dosa dan kesalahannya kepada Allah dan berjanji setia kembali – Allah memulihkan keadaan Israel dan mengasihi Israel – Bangsa Israel percaya dan kembali setia menyembah Tuhan.

Pada bacaan 2 (Roma 13:8-14), Rasul Paulus menasihatkan tentang pentingnya hidup dalam kasih dan kekudusan kepada Jemaat Roma.  Dalam memberlakukan kasih, hendaknya setiap orang mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri (ayat 9). Bagi Paulus, menunjukkan kasih adalah menggenapi seluruh perintah Hukum Taurat (ayat 10). Hukum Taurat menentang segala kejahatan yang menciderai hubungan manusia dengan TUHAN dan hubungan manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu mengasihi orang lain berarti tidak mencelakai sesama.

Dalam hal kekudusan, Rasul Paulus menyatakan bahwa hidup di dalam kekudusan berarti melawan segala perbuatan jahat. Paulus menasihati agar jemaat Roma menanggalkan perilaku hidup “malam” : kemabukan, pesta pora, dosa seksual, perselisihan, iri hati, dan kedagingan yang lainnya. Sebaliknya Paulus menasihati agar jemaat Roma mengenakan Yesus (hidup dalam terang), yaitu hidup sopan dan kudus. Kata “menanggalkan” dan “mengenakan” menunjukkan bahwa orang Kristen tidak dapat hidup di dalam daerah yang abu-abu. Orang Kristen harus menanggalkan kegelapan dan hidup dalam terang. Kasih dalam iman Kristen tidak membawa manusia untuk berkompromi dengan dosa. Kasih yang sejati berjalan bersama kekudusan.

Bacaan yang ketiga (Matius 18 : 15 – 20) memberikan gambaran tentang Gereja sebagai persekutuan tubuh Kristus. Gereja tidak terdiri dari orang-orang yang sudah sempurna, melainkan orang-orang yang dibenarkan dan sedang terus menerus dikuduskan oleh Tuhan Yesus. Karena itu, kesalahan dan kejatuhan dalam dosa bisa terjadi pada orang Kristen. Apabila hal itu terjadi, maka tugas sesama orang Kristen untuk menasihati dan membimbingnya untuk bertobat.

Bagaimana menegur, menasihati dan membimbing itu harus kita lakukan? Tuhan Yesus memberikan petunjuk sebagaimana pada bacaan kita (Mat. 18:15-20). Tuhan Yesus memberikan petunjuk bahwa teguran dan nasihat itu harus dilakukan secara bertahap. Pertama, hendaklah dilakukan dalam pembicaraan pribadi antar pribadi dengan seseorang yang berbuat salah (ayat 15). Jika tahap teguran dan nasihat ini tidak ditanggapi, perlu menghadirkan saksi. Tujuannya bukan untuk menghakimi tetapi sebagai upaya untuk menyadarkan orang yang berbuat salah tersebut (ayat 16). Jika teguran dengan saksi itu pun tetap tidak ditanggapi, barulah orang yang berbuat salah itu ditegur dalam pertemuan jemaat Tuhan (ayat 17a). Jika sampai menerima teguran yang demikian ia tetap tidak merespon dan mengakui kesalahannya, maka jemaat harus memandang dia sebagai seorang yang tidak mengenal Tuhan (ayat 17).

Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus,

Saat ini kita memasuki bulan Kitab Suci, dimana kita diajak untuk memahami dan menghayati bahwa Firman Tuhan Allah adalah Firman yang hidup. Artinya melalui Firman Allah inilah ada tuntunan, petunjuk, perintah dan larangan bagi kehidupan kita. Firman-Nya menuntun kita pada kebenaran, mengarahkan langkah hidup kita untuk berjalan di jalan Tuhan. Firman-Nya memberikan petunjuk bagi kita untuk berlaku bijaksana, jujur dan setia pada kehendak-Nya. Firman Allah yang menjadi petunjuk hidup inilah yang menjadi pegangan dalam hidup kita agar kita selamat dalam menjalani hidup. Firman Tuhan yang adalah perintah-perintah Tuhan haruslah kita taati dan kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pun demikian dalam Firman Allah juga ada larangan yang bertujuan mengingatkan kita agar berhati-hati dalam berbuat sesuatu, jangan sampai kita melanggar apa yang menjadi larangan Allah tersebut.

Pada pembukaan bulan Kitab Suci saat ini, marilah kita renungkan Firman Tuhan ini dengan sungguh-sungguh. Ada ajakan atau sikap yang relevan dengan kehidupan iman dan jemaat untuk kita lakukan :

  1. Allah Bapa adalah Allah Pengasih dan Pengampun. Jika Allah mau mengampuni dan menyelamatkan bangsa Israel, maka Allah juga mau mengampuni dan menyelamatkan kita. Konsekuensinya kita juga harus mau mengakui kesalahan kita, jujur menyadari kelemahan dan keterbatasan diri kita, seraya kita memohon pengampunan dosa kepada Tuhan Allah atas segala dosa ucapan, pikiran, perbuatan kita yang jahat dihadapan Tuhan dan terhadap sesama kita.
  2. Tuhan yang berkenan mengampuni dan menyelamatkan kita, menghendaki agar kita hidup dalam kasih dan kekudusan. Teruslah berdoa dan berusaha untuk hidup dalam kasih dan kekudusan. Roh Kudus akan selalu menyertai dan memampukan kita mengasihi Tuhan Allah dan sesama kita dengan tulus dan sungguh-sungguh. Dan Roh Kudus akan menolong kita untuk terus hidup kudus, hidup dalam terang Allah dan hidup benar seturut dengan Firman-Nya.
  3. Kita yang telah diampuni, diselamatkan, marilah kita nyatakan kasih kita dengan menasehati dan mengingatkan saudara kita yang berbuat salah. Agar melalui nasihat dan teguran kita yang didasari kasih dapat merubah dan menyelamatkan saudara kita yang tersesat, menuntunnya untuk bertobat, mengakui dosa kesalahannya dan kembali kepada Tuhan dan kebenaran Firman-Nya. Tuhan memberkati dan memampukan kita semua. Amin. (AR).

 Nyanyian : KJ. 389  Besarlah Kasih Bapaku

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka
Para sederek ingkang dipun tresnani Gusti Yesus,

Ing salebeting gesangipun manungsa ingkang kawates lan ringkih tamtunipun kita nate tumindak lepat. Kalepatan punika saged kelampahan kapan kemawon, ing pundi kemawon, lan dhateng sinten kemawon. Contonipun lare alit ingkang nembe sinau nulis, huruf ingkang dipun serat saged benten/salah, boten sami kaliyan ingkang dipun contoaken tiyang sepuh utawi guru ingkang mucal. Salah setunggaling ibu ingkang remenanipun masak saged ugi kesupen maringi sarem/uyah ing masakanipun. Salah setunggaling anggota Majelis Pasamuan ingkang mimpin pangabekti Minggu saged kesupen ngajak pasamuan dungkapaken Sahadat Kalih Welas, Lsp. (Pelados saged pados conto sanesipun bab kalepatan).

Kalepatan punika minangka pengalaman lan pelajaran ingkang wigatos bilih tiyang ingkang lepat punika sadar bilih piyambakipun lepat sarta purun instropeksi dhiri lan purun ndandosi kalepatanipun punika. Kosokwangsulipun kalepatan punika badhe dados sandungan kangge kita piyambak bilih kita boten purun ngrubah lan sadar bilih kita sampun lepat. Ing bab punika cara pandheng, cara pikir kita kangge nyikapi kalepatan kita saged dados cerminan dhiri kita piyambak.

Sanesipun kalepatan ingkang dipun tindakaken sacara pribadi, wonten kalepatan ingkang saged nglarani/nyakiti manah tiyang sanes. Punika saged karana pangucap ingkang nyinggung perasaanipun liyan, sikap ingkang ngasoraken liyan lan tumindak ingkang nyengiti liyan. Bilih kita sadar tumrap pangucap, sikap lan tumindak kita ingkang sampun nglarani manah tiyang sanes pramila kedahipun kita nyuwun pangapura lan ugi enggal mbangun karukunan kaliyan tiyang punika. Ananging ing kasunyatanipun nindakaken bab punika boten gampang. Boten gampang anggenipun tiyang punika enggal ngakeni kalepatanipun langkung-langkung nyuwun pangapura dhateng tiyang sanes.

Isi
Para sederek ingkang kinasih ing Gusti Yesus,

Waosan ingkang sepisan (Pangentasan 12:1-15) nyariosaken bab pakaryan lan katresnanipun Gusti Allah dhumateng bangsa Israel lumantar Paskah. Gusti Allah mireng pasambat lan mirsani kasangsaranipun bangsa Israel minangka budak ing Mesir. Selajengipun Gusti Allah nimbali Musa kangge mimpin bangsa Israel medhal saking Mesir tumuju Kanaan. Kacariyosaken ing waosan kita, kados pundi anggenipun Gusti Allah ngentasaken umat-Ipun saking astanipun Firaun inggih punika lumantar wewelak dhateng bangsa Mesir. Boten namung cekap pisan pindho anggenipun Gusti Allah paring wewelak dhateng bangsa Mesir, ananging karana wangkoting manah Firaun, bangsa Israel boten saged medhal saking Mesir. Ngantos ing puncakipun, Gusti Allah maringi wewelak ingkang kaping sedasa arupi pejahipun para lare mbarep ing brayatipun bangsa Mesir. Srana wewelak punika Firaun ngijinaken bangsa Israel medhal saking Mesir.

Kedadosan medhalipun bangsa Israel punika dipun tandhani kaliyan Paskah ingkang dipun riyadinaken kaliyan brayat-brayat Israel. Brayat-brayat Israel punika nindakaken ritual Paskah punika kangge mengeti kedadosan penting ing sejarahipun bangsa Israel nalika Gusti Allah nylametaken (“lumampah ngangkungi”) bangsa Israel saking perbudakan ing Mesir. Paskah punika dipun tujuaken kangge mengeti anggenipun Gusti Allah ngentasaken bangsa Israel inggih punika nalika Gusti Allah maringi wewelak dhateng bangsa Mesir lumantar pejahipun para lare mbajeng bangsa Mesir lan nylametaken bangsa Israel.Ing ritual Paskah punika, bangsa Israel ngorbanaken mendha ingkang rahipun dipun bubuhaken ing korining griya tiyang Israel, supados katebihaken saking wewelak pejahipun lare mbajeng (ayat 7,12,13). Mendha punika kedah dipun panggang lan dipun dhahar kaliyan roti tanpa ragi lan sayur-sayur ingkang pahit. Tiyang Israel kedah dhahar kanthi ngagem rasukan ingkang dipun damel tindakan. Prekawis punika nedahaken ketergesaan lan kasiapan bangsa Israel nilaraken Mesir.

Cariyos selajengipun nyariosaken lampahipun bangsa Israel ingkang kebak kaliyan dinamika imam ingkang kaulang-ulang. Kawiwitan bangsa Israel pitados dhumateng Gusti Allah ingkang sampun ngentasaken bangsa Israel saking Mesir – Bangsa Israel ngadepi masalah lan tumindak dosa karana sampun boten setya tuhu lan mirengaken Sabdanipun Gusti Allah malih – Bangsa Israel nampi paukuman ngantos pati saking Gusti Allah karana dosa-dosanipun – Bangsa Israel ngakeni dosa lan kalepatanipun dhateng Gusti Allah sarta prajanji setya tuhu malih dhateng Gusti Allah – Gusti Allah kersa mulihaken kahananipun bangsa Israel lan nresnani Israel malih – Bangsa Israel pitados lan setya nyembah bekti dhateng Gusti Allah malih.

Ing waosan 2 (Roma 13:8-14), rasul Paulus maringi seserepan bab pentingipun gesang ingkang kebak katresnan lan gesang ing kasucen dhateng pasamuan Rom. Nalika nindakaken katresnan, saben tiyang nresnani sesaminipun kados nresnani dhateng dhirinipun piyambak (ay. 9). Kanggenipun Paulus, nindakaken katresnan punika sami kaliyan nindakaken perintahipun Gusti Allah ingkang wonten Torah (ay.10). Ing Torah punika nentang tumraping sedaya tumindak jahat ingkang ngrisak hubungan antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah lan hubungan manungsa kaliyan sesaminipun. Pramila saking punika nresnani sesami punika tegesipun boten nyilakani sesami.

Ing bab kasucen, Rasul Paulus nedahaken bilih gesang ing kasucen tegesipun kita nglawan sedaya tumindak jahat. Paulus paring pepenget supados pasamuwan Roma sami nilaraken tumindak gesang ingkang “peteng”: mabuk, pesta pora, dosa seksual, pasulayan, iren, lan tumindak kadagingan sanesipun. Rasul Paulus ugi ngengetaken supados pasamuwan Roma gesang ing Sang Kristus (gesang ing padhang) inggih punika gesang ingkang sopan lan suci. Tembung “nilaraken” lan “gesang ing” nedahaken bilih tiyang Kristen boten saged gesang ing daerah ingkang abu-abu. Tiyang Kristen kedah nanggelaken pepeteng lan kedah gesang ing pepadhang. Katresnan sacara iman Kristen boten badhe mbetha manungsa tumindak dosa, ananging katresnan ingkang sejati punika sinarengan kaliyan kasucen.

 Waosan ingkang kaping tiga (Mateus 18:15-20) maringi gambaran Greja minangka wujuding patunggilaning para pitados (badanipun Gusti). Peranganing greja punika boten tiyang-tiyang ingkang sampun sampurna, ananging tiyang-tiyang ingkang dipun beneraken lan terus dipun suciaken dening Gusti Yesus. Karana punika, kalepatan lan dumawah ing dosa saged dipun alami kaliyan tiyang Kristen ugi. Bilih prekawis punika kedadosan, tugas kita sedaya minangka sesami tiyang Kristen kangge nuturi lan mbimbing sederek ingkang lepat lan dawah ing dosa punika ngantos piyambakipun mratobat.

Kados pundi anggenipun kita nuturi, ngengetaken lan mbimbing sederek ingkang lepat, kedah kita tindakaken? Gusti Yesus maringi petunjuk kados ing waosan kita (Mateus 18:15-20). Gusti Yesus maringi petunjuk bilih nuturi lan ngengetaken punika dipun tindakaken sacara bertahap. Sepisan, kita ngengetaken bab lepating sesami kita sacara pribadi bilih piyambakipun sampun tumindak lepat (ayat 15). Bilih kita sampun nuturi lan ngengetaken lajeng boten dipun tanggapi, perlu wonten saksi. Tujuannipun sanes kangge ngakimi sederek kita punika ananging minangka upaya kangge nyadaraken saderek kita ingkang tumindak lepat punika (ayat 16). Bilih pitutur sinarengan kaliyan saksi punika boten dipun tanggapi, saderek ingkang lepat punika kita tuturi lan engetaken ing satengah-tengahing pertemuan ing pasamuan (ayat 17a). Bilih ngantos nampi pitutur  ingkang mekaten kalawau boten dipun tanggapi lan sederek punika boten purun ngakeni kalepatanipun, wusananipun pasamuan saged mandheng piyambakipun minangka tiyang ingkang boten wanuh kaliyan Gusti Allah (ayat 17).

Panutup
Sederek-sederek ingkang dipun tresnani dening Gusti,

Sapunika kita lumebet ing wulan Kitab Suci, ing pundi kita dipun ajak kangge mangertosi lan ngraos-raosaken bilih Sabdanipun Gusti Allah punika Sabda ingkang gesang. Tegesipun lumantar Sabdanipun Gusti Allah punika wonten tuntunan, pitedah, printah lan larangan kanggening gesang kita. SabdaNipun nuntun kita ing kayekten, ngarahaken lampahing gesang kita lumampah ing margining Gusti. SabdaNipun maringi pitedah kangge kita supados saged tumindak wicaksana, jujur lan setya dhateng karsaNipun. Sabdaning Gusti Allah ingkang dados pitedah punika dados lanjaran kangge gesang kita supados sami wilujeng salebeting gesang. Sabdanipun Gusti Allah punika wujud printah-printahipun Gusti Allah ingkang kedah kita taati lan kita tindakaken ing gesang kita sadinten-dinten. Mekaten ugi Sabdaning Gusti Allah ingkang arupi larangan nggadahi tujuan ngengetaken kita supados ati-ati anggenipun tumindak, sampun ngantos kita nglanggar punapa ingkang dados laranganipun Gusti Allah punika.

Ing pangabekti pambuka wulan Kitab Suci punika, sumangga kita raos-raoskaken Sabda Pangandikanipun Gusti Allah punika kanthi temen-temen. Ing ngriki wonten timbalan kangge kita lan pasamuan ingkang mekaten:

  1. Gusti Allah punika Gusti ingkang Maha Tresna lan kebak Sih Pangapunten. Bilih Gusti Allah sampun ngapunten lan nylametaken bangsa Israel, Gusti Allah ugi kersa ngapunten lan nylametaken kita. Awit saking punika, kita ugi kedah purun ngakeni kalepatan kita, kanthi jujur nyadari ing bab kalemahan lan kawatesan dhiri kita, selajengipun kita nyuwun pangapuntening dosa dhumateng Gusti Allah tumrap sedaya dosa pangucap, pamikir lan tumindak kita ingkang jahat dhateng Gusti Allah saha sesami kita.
  2. Gusti Allah ingkang ngapunten lan nylametaken kita, ngersaaken supados kita gesang ing katresnan lan kasucen. Mangga kita lajengaken pandonga lan ngupaya kangge gesang ing katresnan lan kasucen. Roh Suci Rohipun Gusti Allah tansah nganthi lan maringi kasagedan dhateng kita saged nresnani Gusti Allah lan sesami kita kanthi tulus lan temen-temen. Mekaten ugi Sang Roh Suci badhe nulungi kita kangge nglajengaken gesang suci, gesang ing pepadhanging Gusti Allah lan gesang ingkang leres miturut Sabdanipun.
  3. Kita ingkang sampun kaapunten, kaslametaken, mangga kita wujudaken katresnan kita dhateng sesami sarana atur nasehat lan tansah ngengetaken dhateng para sederek kita ingkang tumindakipun lepat, supados lantaran nasehat lan pitutur kita ingkang adedasar katresnan punika saged ngrubah lan nylametaken saderek kita ingkang dawah/sesat punika, nuntun dhateng piyambakipun supados mratobat, purun ngakeni dosa lan kalepatanipun saha wangsul malih dhateng Gusti dan Sabdanipun. Gusti Allah tansah mberkahi lan paring kasagedan dhateng kita sedaya. Amin. (AR).

Pamuji : KPJ. 370 : 1, 2   Tresna mring Sesami

Renungan Harian

Renungan Harian Anak