Budaya adalah untuk Menghayati Kasih dan Kehendak Tuhan Khotbah Minggu 6 November 2022

24 October 2022

Minggu Biasa | Pembukaan Bulan Budaya
Stola Hijau

Bacaan 1: Ayub 19 : 23 – 27a
Bacaan 2:
2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17
Bacaan 3:
Lukas 20 : 27 – 40

Tema Liturgis: Budayakan Hidup Benar dan Baik di Tengah Kejahatan!
Tema Khotbah: Budaya adalah untuk menghayati kasih dan kehendak Tuhan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkankhotbah)

Ayub 19 : 23 – 27a
Disini digambarkan bahwa Ayub akan merasa senang seandainya perkataan-perkataannya ditulis dan dicatat menjadi sebuah kitab. Hal itu akan membahagiakan, apalagi jika perkataan-perkataannya itu terpahat dan diukir pada sebuah batu. Itu akan menjadi sebuah bukti karya yang penting, sebuah budaya yang terukir. Namun, dia merasa yang lebih penting daripada itu adalah Penebusnya hidup. Yang lebih penting dia bisa melihat Allah Pembelanya, sekalipun tubuhnya penuh dengan luka dan derita. Budaya penting, namun yang lebih penting adalah berjumpa dengan Allah yang menginspirasi terciptanya budaya itu.

2 Tesalonika 2 : 1 – 5, 13 – 17
Penulis surat 2 Tesalonika ini meminta kepada warga Jemaat Tesalonika tidak mudah bingung dan gelisah tentang berita kedatangan Kristus yang kedua kali. Ada berita yang disebarkan oleh para penyesat bahwa hari kedatangan Kristus itu sedang tiba. Mereka diminta untuk tidak membiarkan diri disesatkan dari kebenaran yang mereka pegang dan imani. Karena, mereka telah mengalami pengudusan oleh Roh Kudus dalam iman kepada Kristus. Mereka telah dipilih oleh Allah untuk diselamatkan dengan pengudusan Roh melalui iman mereka. Karena itu, mereka dinasihati supaya berdiri tegak dan berpegang teguh pada ajaran-ajaran Injil yang telah mereka terima, hidup dalam kebenaran.

Lukas 20 : 27 – 40
Orang Saduki adalah kelompok orang yang tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati dan dunia yang akan datang. Mereka datang bertanya kepada Yesus dengan tujuan untuk mencari dan menegaskan kebenaran mereka sendiri, bukan karena tidak tahu. Mereka mengajukan pertanyaan mengenai seorang perempuan yang mempunyai tujuh suami secara bergantian. Jika semua orang dibangkitkan di dunia yang akan datang, lantas siapa yang menjadi suami perempuan itu di antara tujuh orang laki-laki itu? Bahkan pertanyaan mereka itu hendak menyesatkan orang yang mengimani adanya kebangkitan orang mati.

Yesus menjawab pertanyaan itu dengan menunjukkan perbedaan kehidupan di dunia ini dengan kehidupan di dunia yang akan datang. Keduanya sangat berbeda. Di dunia ini anak-anak Allah kawin dan dikawinkan, sedangkan di dunia yang akan datang, anak-anak Allah tidak demikian. Perkawinan di dunia ini adalah untuk memberikan keturunan supaya memenuhi bumi sebagaimana yang diperintahkan-Nya di awal penciptaan manusia. Sedangkan di dunia yang akan datang tidak dibutuhkan lagi keturunan untuk memenuhi sorga. Karena itu, ketika kematian terjadi maka hubungan perkawinan tidak berlanjut di dunia yang akan datang. Sedangkan di dunia yang akan datang itu, anak-anak Allah tidak akan mengalami kematian, semua akan hidup kekal selamanya.

Hubungan perkawinan diatur untuk dijalani di dunia ini menjadi budaya dan tradisi di dunia ini, sehingga ada keteraturan dan ketertiban. Hukum dan tradisi yang berlaku di dunia ini -termasuk perkawinan- berbeda-beda antara bangsa yang satu dengan yang lain, antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa yang lain. Dalam kehidupan di sorga yang akan datang tidak dibutuhkan dan tidak ada lagi tradisi yang berbeda-beda itu. Di dunia yang akan datang semua anak-anak Allah hidup di dalam satu pemerintahan langsung dari Allah. Mereka hidup sama seperti para malaikat yang hanya bersukacita memenuhi pemerintahan dan pengutusan Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Bacaan 1 dan bacaan 3 sama-sama menyinggung tentang budaya, namun yang lebih penting adalah hidup bersama dengan Allah dalam kebenaran seperti yang disebut dalam bacaan 2.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada beraneka ragam budaya atau tradisi yang luar biasa banyaknya di dunia ini. Misalnya betapa beragamnya budaya seni. Ada seni musik, seni pahat, seni drama, dsb. Ada macam-macam budaya yang berkaitan dengan kelahiran, budaya yang berkaitan dengan perkawinan, budaya yang berkaitan dengan kematian, budaya di bidang pertanian, kelautan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Satu jenis seni musik saja memiliki ragam yang luar biasa banyaknya di dunia ini, belum lagi seni yang lain dan budaya yang lain. Mungkinkah beranekaragamnya budaya dunia itu berlaku juga di dunia keabadian sorga? Mungkinkah di sorga ada gamelan? Apakah di sorga kira-kira ada sepasaran bayi? Ada upacara siraman atau budaya yang lain lagi? Sangat sulit dibayangkan keberadaannya.

Isi
Orang Saduki menanyakan tentang relasi perkawinan di dunia dengan perkawinan di dunia yang akan datang, dunia keabadian sorga. Orang Saduki adalah kelompok orang yang tidak percaya adanya kebangkitan orang mati untuk kehidupan yang abadi. Pertanyaan mereka: jika ada seorang perempuan dikawini tujuh orang laki-laki karena semuanya meninggal secara bergantian, siapa yang akan menjadi suaminya di kehidupan abadi yang akan datang? Atau juga bisa terjadi sebaliknya: jika seorang pria kawin dengan beberapa orang wanita secara bergantian karena meninggal, lalu siapa yang jadi isterinya di keabadian ketika mereka dibangkitkan dari kematian? Pertanyaan ini pasti sangat membingungkan jika kita tidak mendapat penjelasan yang jitu dari Tuhan Yesus.

Sebenarnya pertanyaan orang Saduki itu bukan disebabkan oleh ketidakmengertian mereka tentang kelanjutan relasi perkawinan duniawi di kehidupan yang abadi itu. Mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus tidak akan bisa menjawab pertanyaan mereka. Mereka berpikir bahwa keyakinan mereka tentang tidak adanya kebangkitan untuk hidup yang abadi itu mutlak benar. Mereka berpikir bahwa keyakinan adanya kebangkitan itu salah, itu sesat. Jadi, tujuan pertanyaan mereka adalah untuk menyesatkan orang yang mempercayai adanya kebangkitan orang mati. Tuhan Yesus pun hendak disesatkan oleh pemikiran mereka, dijebak dengan pertanyaan mereka.

Tuhan Yesus memberikan jawaban dengan penjelasan yang sangat terang dan tak terbantahkan. Perkawinan itu hanya terjadi di dunia ini untuk menjadi jalan pemenuhan perintah Allah kepada manusia, untuk beranak cucu memenuhi bumi ini. Segala aturan atau hukum, keterikatan hubungan dan budaya yang berkaitan dengan perkawinan di dunia ini ditetapkan supaya ada keteraturan dan ketertiban serta kebenaran menurut kehendak Tuhan bagi semua umat manusia di dunia ini. Di dunia yang akan datang tidak ada lagi perkawinan, tidak diperlukan lagi keturunan untuk memenuhi sorga. Di keabadian sorga, semua orang adalah persekutuan anak-anak dengan Allah sebagai Bapa satu-satunya. Semuanya sama seperti para malaikat, hidup dengan penuh sukacita di dalam ketaatan dan kebenaran yang mutlak kepada seluruh kehendak Allah Bapa.

Allah menghendaki manusia di dunia ini dapat menghayati kasih dan kebenaran kehendak-Nya, yang kemudian menjadi sempurna dalam keabadian sorga. Untuk itu, Allah mengaruniakan kepada manusia akal budi dan hikmat untuk menciptakan beranekaragam budaya yang baik. Jadi seluruh budaya -yang lahir dari akal budi dan hikmat manusia- di dunia ini adalah karunia Allah agar manusia dapat berjumpa dengan Allah, agar manusia dapat menghayati kasih-Nya, agar manusia hidup dalam kebenaran kehendak-Nya. Karena di dunia ini, Allah itu invisible (tidak kasat mata), maka manusia membutuhkan sarana, yakni budaya, untuk menghayati kehadiran Allah, untuk merasakan kasih-Nya, untuk hidup dalam kebenaran dan ketaatan kepada kehendak-Nya.

Jadi, kita bukan diciptakan dan hidup untuk budaya, tetapi budaya diciptakan untuk hidup kita. Bukan kasih dan kehendak Tuhan untuk budaya, tetapi budaya dihidupi untuk kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada Tuhan. Karena itu, Ayub merasa lebih penting dapat melihat Allah Penebusnya dari pada menciptakan budaya dengan tertulis dan terpahatnya perkataan-perkataannya. Dia memang merasa bahagia seandainya perkataannya ditulis dan terpahat di gunung batu menjadi sebuah budaya, namun yang utama dan lebih membahagiakannya adalah dia berjumpa dengan Pembelanya yang hidup, sekalipun dia hidup dalam penderitaan luka-luka tubuhnya.

Penutup
Budaya adalah penting untuk kita. Dengan budaya kita dapat menghayati dan semakin bisa menghayati kasih, karya, kuasa, kebenaran dan kehendak Tuhan. Dengan budaya kita bisa merasakan kehadiran Tuhan, bahkan bisa berjumpa dengan Tuhan. Dengan budaya manusia dimungkinkan untuk hidup dalam keteraturan dan ketertiban, dalam ketaatan kepada kebenaran kehendak Tuhan.

Kita perlu sadar bahwa kita juga bisa tersesat dan kehilangan keselamatan dari Tuhan jika kita hidup semata-mata untuk budaya, jika kita terikat pada budaya dan bukan terikat pada Tuhan. Jangan sampai kita diatur oleh budaya, namun kita yang harus mangatur budaya. Tuhan memanggil kita untuk memperoleh keselamatan dari pada-Nya. Tuhan tidak menghendaki kita kehilangan keselamatan karunia-Nya itu. Jangan biarkan diri kita kehilangan keselamatan sorgawi karena mengikuti budaya.

Karena itu, kita perlu kritis terhadap budaya. Sebab, ada budaya yang aslinya atau semula benar dan sangat baik untuk membangun iman dan kehidupan, namun kemudian melenceng dari tatanan moral kehendak Allah. Kita perlu mengembangkan segala budaya untuk kehidupan iman, spiritualitas dan pelayanan gereja kita. Budaya dikaruniakan oleh Tuhan untuk akhirnya manusia layak dibawa masuk ke dalam dunia keabadian sorga, bukan budaya yang dibawa ke sorga. Amin. [st]

 

Pujian: KJ. 50a Sabda-Mu Abadi


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten maneka warni kabudayan utawi padatan ingkang tamtu kathah sanget cacahipun ing donya punika. Upaminipun saiba kathahipun kabudayan ing babagan kesenian. Wonten seni musik, seni pahat, seni drama, geguritan, lsp. Wonten warni-warni kabudayan gegayutan kaliyan kelairaning manusa, kabudayan gegayutan kaliyan neningkahan, kabudayan gegayutan kaliyan pepejah, kabudayan ing babagan tetanen, kaliyan seganten, lan taksih kathah malih sanesipun. Satunggal jinis seni musik kemawon kathah sanget modhelipun ing donya punika, dereng malih kesenian sanesipun lan kabudayan sanesipun. Punapa kinten-kinten maneka warnining kabudayan donya punika ugi kelampahan ing jagad langgeng ing swarga? Kinten-kinten ing swarga punika punapa wonten gamelan? Punapa wonten sepasaran bayen? Punapa wonten siram manten utawi kabudayan sanesipun? Saestu ewed dipun angen-angen kawontenanipun.

Isi
Tiyang Saduki apitaken bab sesambetaning bebrayatan ing jagad ingkang badhe kelampahan, ing kalanggengan. Tiyang Saduki punika golonganing tiyang ingkang boten pitados wontening tanginipun tiyang pejah kangge gesang ing kalanggengan. Pitakenanipun: menawi wonten satunggaling tiyang estri dipun rabi dening tiyang jaler pitu karena tilar donya gegantosan, sinten ingkang badhe dados semahipun ing jagad langgeng ingkang badhe kelampahan? Utawi kosokwangsulipun: menawi wonten tiyang jaler ingkang rabi kaliyan sawatawis tiyang estri gegantosan karana tilar donya, lajeng sinten ingkang dados semahipun ing kalanggengan? Pitakenan punika saestu damel bingung lan ewed dipun wangsuli menawi kita boten pikantuk katrangan ingkang gumathok peparingipun Gusti Yesus.

Saking kapitadosanipun, kita saged mangertosi bilih pitakenanipun tiyang Saduki punika sejatosipun sanes karana boten mangertos bab kelajenganing sesambetan bebrayatan ing donya punika wonten ing kalanggengan. Tiyang-tiyang Saduki punika sami nginten bilih Gusti Yesus boten badhe saged mangsuli pitakenanipun. Tiyang Saduki sami menggalih bilih kapitadosanipun bab boten wontening patangen dhateng gesang langgeng punika saestu yektos leres. Sami menggalih bilih kapitadosan dhateng wontenipun patangen punika lepat, kesasar. Dados, tujuaning pitakenanipun tiyang Saduki punika kangge nyasaraken tiyang ingkang sami pitados dhateng wontening tanginipun tiyang pejah. Gusti Yesus ugi nedya dipun sasaraken dening pamanggihipun, dipun cegat kalayan pitakenanipun punika kalawau.

Gusti Yesus paring wangsulan kanthi katrangan ingkang cetha sanget lan boten saged dipun bantah babar pisan. Neningkahan lan bebrayatan punika namung dipun lampahi ing donya punika kangge dados lantaran netepi prentahipun Allah supados manungsa bebranahan ngebaki bumi punika. Sedaya pranatan, tetangsulan-ing sesambetan lan kabudayan ingkang magepokan kaliyan neningkahan utawi bebrayatan ing donya punika dipun tetepaken supados gesanging manungsa sami tumata lan manut dhumateng karsanipun Gusti kangge sedaya umat manungsa ing donya punika. Ing kalanggengan boten wonten malih neningkahan, boten dipun betahaken malih tedhak turuning manungsa kangge ngebaki swarga. Ing kalanggengan swarga sedaya tiyang punika dados patunggilan anak-anak lan Gusti Allah minangka Ramanipun. Sedayanipun gesang kados dene para malaekat, ingkang kebak kabingahan gesang ing pambangun turut lan kayekten ingkang sampurna dhumateng sedaya karsanipun Allah Rama.

Gusti Allah ngersakaken manusia ing donya punika saged ngresepi sih katresnan lan kayekten karsanipun Gusti Allah, ingkang ing tembe badhe dados sampurna ing kalanggengan. Ingkang punika, Gusti Allah maringi manungsa akal budi, nalar, lan kawicaksanan kangge ngawontenaken maneka warni kabudayan ingkang sae. Dados, sedaya kabudayan -ingkang mijil saking akal budi lan kawicaksananing manungsa- ing donya punika boten sanes inggih kanugrahanipun Gusti Allah supados manungsa saged manggihaken Allah, supados manungsa saged ngresepi sih katresnanipun lan supados manungsa gesang ing kayekten karsanipun Allah. Karana Gusti Allah ing donya punika boten kasat mripat, pramila manungsa mbetahaken sarana, inggih punika kabudayan, kangge ngraosaken jejering Gusti Allah, kangge ngresepi sih katresnanipun, lan kangge nuntun manungsa gesang ing kayekten lan pambangun turut dhumateng karsanipun Allah.

Dados, kita boten katitahaken lan gesang kangge kabudayan, nanging kabudayan kawontenaken kangge gesang kita. Sanes sih katresnan lan karsanipun Gusti ingkang kagem kabudayan, nanging kabudayan dipun gegesang, dipun uri-uri kangge sih katresnan, kayekten lan pambangun turut dhumateng Gusti Allah. Pramila saking punika, Ayub rumaos langkung wigatos saged ningali Gusti Allah Panebusipun, tinimbang ngripta kabudayan kanthi sinerat lan tumatahing seratan pitembunganipun ing gunung sela. Piyambakipun pancen rumaos bingah saupami pitembunganipun sinerat lan tumatah ing gunung sela dados kabudayan, nanging ingkang langkung wigatos lan mbingahaken inggih punika saged pepanggihan kaliyan Gusti Allah ingkang gesang, sanadyan piyambakipun gesang ing panandhang tatuning raganipun.

Panutup
Kabudayan punika wigatos tumraping gesang kita. Kalayan kabudayan kita saged ngresepi lan saya saged ngresepi sih katresnan, pakaryan, pangwaos, kayekten lan karsanipun Gusti. Klayan kabudayan kita saged ngraosaken jejeripun Gusti ing gesang kita, malah kita saged ngraosaken pepanggihan kaliyan Gusti Allah. Klayan kabudayan manungsa kasagedaken gesang tumata ing salebeting pambangun turut dhumateng kayekten karsanipun Gusti.

Ewasamanten, kita prelu sadhar bilih kita ugi saged kesasar lan kecalan karahayon saking Gusti menawi kita gesang namung kagem kabudayan, menawi kita rumaketipun dhateng kabudayan lan boten rumaket dhumateng Gusti Sang tuking gesang lan karahayon. Sampun ngantos dipun ereh dening kabudayan, nanging kita ingkang kedah mranata kabudayan. Gusti nimbali kita kinen nampeni karahayon saking Panjenenganipun. Gusti boten ngersakaken kita kecalan karahayon peparingipun punika. Sampun ngantos kita kasasaraken dening kabudayan lan kecalan karahayon kaswargan.

Pramila saking punika, kita prelu setiti dhateng kabudayan. Awit, wonten kabudayan ingkang wiwitanipun punika leres lan sae sanget kangge mbangun kapitayan lan pigesangan, nanging lajeng minger saking tataning kasusilan karsanipun Allah. Kita prelu nindakaken tindhaking kabudayan kangge pigesanganing kapitadosan, karohanen lan paladosan greja lan kekristenan kita. Kabudayan kanugrahanipun Gusti Allah kakersakaken wusananipun mbekta manungsa pantes mlebet dhateng kalanggengan swarga, sanes kabudayan ingkang kabekta dhateng swarga. Amin. [st]

 

Pamuji: KPJ. 362 Ing Satengah Bebrayan Agung

Renungan Harian

Renungan Harian Anak