Membudayakan Hidup Setia dan Taat dalam Dunia Penuh Kerusuhan Khotbah Minggu 13 November 2022

31 October 2022

Minggu Biasa | Bulan Budaya
Stola Hijau

Bacaan 1: Maleakhi 4 : 1 – 2a
Bacaan 2: 2 Tesalonika 3 : 6 – 13
Bacaan 3: Lukas 21 : 5 – 19

Tema Liturgis: Budayakan Hidup Benar dan Baik di Tengah Kejahatan!
Tema Khotbah: Membudayakan Hidup Setia dan Taat dalam Dunia Penuh Kerusuhan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Maleakhi 4 : 1 – 2a
Nama Maleakhi artinya utusanku. Kitab Maleakhi ditulis sekitar tahun 430 – 420 SM. Ketika kitab ini ditulis, orang Yahudi pasca pembuangan di Palestina kembali mengalami kesusahan dan kemunduran iman. Orang-orang telah menjadi sinis, meragukan kasih dan janji-janji Allah, menyangsikan keadilan-Nya dan tidak percaya lagi bahwa kesetiaan dan ketaatan kepada perintah-Nya itu berguna.

Melalui Kitab Nabi Maleakhi ini, umat diingatkan bahwa karena kasih-Nya, Allah telah memilih umat Israel menjadi anak-anak-Nya yang berharga. Karena kasih-Nya juga Allah berjanji memberkati umat-Nya jika mereka mau setia dan taat serta mematuhi perintah-perintah-Nya. Allah menghendaki umat memberi tanggapan terhadap kasih-Nya itu dengan hidup dalam kesetiaan dan ketaatan, namun yang terjadi sebaliknya. Kitab Maleakhi ditulis untuk mengingatkan umat akan kasih Allah dan mendorong mereka supaya dengan sukacita hidup setia, taat dan mematuhi Allah.

“Hari itu datang” mengacu pada kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua kali. Sang Nabi sering berbicara seolah-olah kedatangan itu terjadi bersamaan, perpaduan ini sering nampak dalam nubuat PL (Zak. 9:9-10). “Hari itu” hari penghakiman Tuhan yang akan datang. Hari tersebut sering digambarkan sebagai saat Tuhan menghukum orang dengan api (Yl. 2:1-3, Mat. 13:36-42). Orang yang mengabdi kepada keangkuhan dan berbuat jahat dilarang masuk Kerajaan Allah (Yl. 2:2-3, Yes. 66:15, 1 Kor. 6:9-11)

“Kamu yang takut akan nama-Ku” Hari itu/ Hari Tuhan juga berarti keselamatan dan pembebasan untuk semua yang mengasihi dan hidup bagi Dia, bagi semua yang setia dan taat kepada-Nya. Di dalam kerajaan-Nya kemuliaan dan kebenaran Allah akan bersinar bagaikan matahari, serta membawa kepada umat-Nya yang setia dan taat, kebaikan, berkat, keselamatan, dan kesembuhan yang tertinggi.

2 Tesalonika 3 : 6 – 13
Kitab ini ditulis sekitar tahun 51 atau 52 M. Dibagi menjadi 3 bagian besar :

Salam Kristen (pasal 1:1-2)

  • Pasal 1:3-12 Paulus menghibur Jemaat Tesalonika yang dianiaya.
  • Pasal 2:1-17 Paulus memperbaiki pengakuan kepercayaan Jemaat Tesalonika.
  • Pasal 3: 1-15 Paulus menasehati Jemaat Tesalonika tentang hal-hal praktis.
    1. Mendoakan dirinya (pasal 3:1-2)
    2. Tetap setia dan bertahan di dalam Tuhan (pasal 3:3-5)
    3. Menjauhi orang yang tidak mau patuh dan tidak hidup berdisiplin (pasal 3:6-15)
    4. Salam penutup dan berkat (pasal 3:16-18)

Sejumlah anggota Jemaat Tesalonika kecewa, karena ada yang mengatakan bahwa Kristus telah datang kembali dan mereka kehilangan kesempatan untuk menikmati peristiwa itu. Namun Paulus mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi ketika Kristus sungguh datang kembali:

  • Orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan akan dihukum (pasal 2:12).
  • Mereka yang setia kepada Kristus akan diselamatkan (pasal 2:13).
  • Jemaat Tesalonika diminta untuk berdoa bagi pekabaran Injil (pasal 3:1-5)
  • Mereka diperingatkan untuk mengikuti ajaran-ajaran Paulus, hidup berdisiplin, tidak bermalas-malasan tetapi tetap bekerja dengan rajin untuk mencari nafkah, jangan mempergunakan penantian akan kedatangan Kristus ini sebagai alasan untuk tidak bekerja dan tidak berdisiplin (pasal 3:6-13).

Lukas 21: 5 – 19
Injil Lukas ditulis pada tahun 60 – 63 M. Ia mengadakan penelitian di Palestina, sementara Paulus di Penjara Kaisaria (Kis. 21:17; 23:23 – 26:32) dan menyelesaikan Injilnya menjelang akhir masa itu atau segera setelah ia tiba di Roma bersama dengan Paulus (Kis. 28:16). Lukas menulis Injilnya ditujukan kepada Teofilus, orang bukan Yahudi.

Bagian dari Lukas 21:5-38 (termasuk di dalamnya bacaan kita hari ini), Yesus bernubuat tentang kebinasaan Bait Allah dan kedatangan-Nya kembali, ada yang menyebut perusakan Bait Suci dan zaman akhir. Bagian ini disebut apocalypsis, bisa diartikan wahyu atau penyataan atau penyingkapan. Yang mau menyingkapkan masa depan yang masih tersembunyi, yakni mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan realisasi rencana Allah berkenaan dengan dunia ini dan kemanusiaan.

Bagian ini merupakan suatu kumpulan perkataan yang semuanya berhubungan dengan masa depan atau dengan “akhir zaman” atau “hal-hal yang terakhir” (Yunani: eskhaton, jamak : eskhata). Sifat bagian ini, isinya bukan ramalan mengenai masa depan, melainkan adalah seperti pelayanan rohani yang dimaksudkan untuk menasehati, menghiburkan, dan menguatkan hati pengikut-pengikut Yesus, supaya mereka jangan bingung atau putus asa, apa pun yang akan terjadi di masa depan, baik dengan segera, baik barangkali di waktu-waktu yang jauh.

Dalam bagian ini Lukas mengajak untuk bersikap hati-hati terhadap kesalah-pahaman yang banyak terdapat di Jemaat Kristen yang masih muda, yakni seakan-akan “hal-hal yang terakhir itu” sudah ada di ambang pintu dan sudah “dekat” saatnya. Lukas menegaskan saat akan dinyatakannya Kerajaan Allah itu barangkali masih jauh benar. Yang penting bukan pertanyaan mengenai “dekatnya” atau “jauhnya”, melainkan kepastian bahwa Allah sungguh-sungguh akan melaksanakan rencana-Nya. Sebab itu pengikut Yesus dinasehati untuk bertekun dalam iman, untuk menjadi setia sebagai saksi-saksi Tuhan, untuk hidup dalam ketaatan kepada kehendak-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Hari Tuhan, hari kedatangan Kristus kedua kali, hari penghakiman terakhir pasti terjadi, walaupun kita tidak tahu kapan terjadinya. Kita tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk mengunakan metode “othak-athik mathuk”, menghitung-hitung secara matematis kedatangan Kristus kedua kali, sebab Alkitab tidak dan bukan berisi ramalan.

Menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi kejahatan di bidang budaya dan agama, kejahatan di bidang sosial kemanusiaan, kejahatan di bidang politik, kerusakan alam, kerusakan moral, rusaknya hubungan antar saudara, dlsb, sehingga menyebabkan umat Tuhan menjadi bingung, putus asa, bahkan mulai meninggalkan imannya, terjadi kemurtadan.

Pengikut Yesus/ kita semua dipanggil untuk bertekun dalam iman, untuk menjadi setia sebagai saksi-saksi Tuhan, untuk hidup dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan, dan kehendak-Nya. Sebab siapa yang bertahan sampai kesudahan akan memperoleh hidup dan akan diselamatkan (Ay. 19).

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Bagi kita Greja Kristen Jawi Wetan tanggal 3 – 23 Nopember 2022, merupakan bulan budaya, dengan tema: “Budayakan Hidup Benar dan Baik di tengah Kejahatan.” Sedangkan tema khotbah kita kali ini: “Membudayakan Hidup Setia dan Taat dalam Dunia Penuh Kerusuhan.”

KJ. 260 : 1 – 3 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan (dapat dinyanyikan), syairnya berbunyi :

Dalam dunia penuh kerusuhan,
di tengah kemelut permusuhan, datanglah kerajaan-Mu
Di Gereja yang harus bersatu, agar nyata manusia baru,
datanglah kerajaan-Mu.
Datanglah, datanglah, datanglah kerajaan-Mu.

Memerangi gelap kemiskinan, menyinarkan terang keadilan,
datanglah kerajaan-Mu;
Di lautan, di gunung, di ladang dan di Bandar,
di pasar, di jalan, datanglah kerajaan-Mu
Datanglah, datanglah, datanglah kerajaanMu

Dalam hati dan mulut dan tangan, dengan kasih,
dengan kebenaran datanglah kerajaan-Mu
Karna Engkaulah yang empunya semua,
demi Kristus umatMu berdoa: datanglah kerajaan-Mu
Datanglah, datanglah, datanglah kerajaan-Mu

Pujian ini memberikan gambaran kepada kita hal-hal yang telah, sedang, dan akan terjadi yang diistilahkan dengan “kerusuhan” dan apa yang harus kita lakukan sebagai umat yang percaya kepada Kristus. Berdasarkan bacaan kita kali ini, hal yang telah, sedang, dan akan terjadi, antara lain:

  1. Keruntuhan Yerusalem dan kehancuran Bait Allah. Nubuat ini digenapi tahun 70 M, ketika Jenderal Titus dari Roma dan tentaranya menghancurkan Yerusalem dan membakar Bait Allah setelah mengepungnya selama 134 hari. Bait Allah dihancurkan sebagai suatu hukuman bagi Israel karena mereka menolak Anak Allah dan penebusan-Nya. Yesus menghubungkan keruntuhan Yerusalem begitu erat dengan kedatangan-Nya kembali ke bumi setelah masa kesengsaraan. Keruntuhan Yerusalem menjadi suatu lambang dari kedatangan-Nya untuk menghakimi dunia.
    Banyak Nabi Palsu akan muncul (Mat. 24:11, 24).
  2. Menjelang kesudahan akhir zaman, penipuan di bidang keagamaan akan merajalela di muka bumi. Para nabi dan pengkhotbah palsu akan terdapat di mana-mana, yang menyesatkan banyak orang. Sebagian besar umat dan negara-negara Kristen akan murtad. Mereka yang sungguh-sungguh setia kepada kebenaran Firman Allah dan kebenaran Alkitabiah merupakan minoritas. Mereka yang mengakui dirinya orang beriman akan menerima “wahyu yang baru” sekalipun itu bertentangan dengan penyataan Firman Allah. Hal ini akan menimbulkan perlawanan terhadap kebenaran Alkitab di kalangan gereja-gereja. Mereka yang memberitakan Injil yang sesat mungkin sekali memperoleh kedudukan kepemimpinan strategis dalam organisasi gereja dan sekolah teologi, sehingga mereka berpeluang untuk menipu dan menyesatkan banyak orang di dalam gereja.
  3. Di seluruh dunia berjuta-juta orang akan terlibat dalam ilmu gaib, ilmu nujum, sihir, spritisme, dan pemujaan Iblis. Pengaruh setan dan roh-roh jahat akan semakin meningkat.
  4. Makin meningkatnya peperangan dan pemberontakan (dunia berada dalam kemelut permusuhan), akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, di berbagai tempat akan ada penyakit sampar (penyakit yang menular/ Covid-19), kelaparan, dan akan terjadi hal-hal yang mengejutkan disertai tanda-tanda dahsyat dari langit.
  5. Penangkapan dan penganiayaan terhadap orang beriman, diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa. Ini justru menjadi kesempatan untuk bersaksi, dan Tuhan yang akan memberikan kata-kata hikmat sehingga kita tidak terbantahkan.
  6. Orang beriman diserahkan juga oleh orang tuanya, saudara-saudaranya, sahabat-sahabatnya, dan beberapa akan dibunuh (keluarga dalam kemelut permusuhan). Para penulis kuno menyatakan semua rasul (kecuali Yohanes) mati syahid oleh para penganiaya. Banyak orang percaya yang disiksa dan dibunuh pada masa awal kekristenan, dibenci semua orang. Memang menderita bagi Kristus karena ketaatan kita kepada-Nya dan sabda-Nya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari iman Kristen (Yoh. 15:20; 16:33; Kis. 14:22; Rum. 5:3).

Apa yang harus kita lakukan sebagi umat yang percaya kepada-Nya? Pertama-tama perlu kami tegaskan kembali bahwa hari Tuhan, hari kedatangan Kristus yang kedua kali, merupakan hari penghukuman Tuhan bagi yang tidak percaya akan kebenaran dan suka kejahatan, namun juga berarti keselamatan dan pembebasan untuk semua yang mengasihi dan hidup bagi Dia, bagi semua yang setia dan taat kepada-Nya.

Dalam ziarah kita di dunia ini, kita harus selalu mengingat dan menghayati kasih Allah di dalam Kristus, yang taat dan setia sampai mati di kayu salib bagi kita (Fil. 2:8), dan mengamalkannya dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan, dalam wujud perilaku dan sikap hidup membudayakan. Artinya menjadikan kebudayaan, menjadikan kebiasaan yang wajar, mendarah dagingkan, hidup setia, tetap dan teguh hati. Berpegang teguh dan taat artinya senantiasa menurut, tidak berlaku curang. Yang kita jabarkan dalam tindakan:

  1. Memerangi gelap kemiskinan dalam segala bentuknya, tidak hanya miskin secara ekonomi tetapi juga secara politik, sosial, budaya, agama, spititual, moral-etika, kasih persaudaraan. Dengan tetap setia dan bertahan dalam Tuhan, menjauhi orang yang tidak mau patuh dan tidak mau hidup disiplin.
  2. Menyinarkan terang keadilan dan kebenaran dengan segenap hati, ucapan dan karya kita yang penuh kasih di segala tempat, kesempatan dan waktu, situasi dan kondisi apapun, baik atau tidak baik waktunya.
  3. Tidak meramalkan kapan hari kedatangan Tuhan, yang dalam bagian bacaan kita ini disebut apocalypsis, yang mau menyingkapkan masa depan yang masih tersembunyi mengenai kejadian-kejadian yang berhubungan dengan realisasi rencana Allah berkenaan dengan dunia ini dan kemanusiaan. Yang penting bukanlah pertanyaan mengenai kapan datangnya, mengenai “dekatnya” atau “jauhnya” melainkan kepastian bahwa Allah sungguh-sungguh akan melaksanakan rencana-Nya.
  4. Tidak menyalahgunakan dan tidak membuat kesalahpahaman, tidak menakut-nakuti, tidak mempergunakan kesempatan dalam kesempitan tetapi selalu waspada, berjaga-jaga, dan hidup saling menasehati, menghibur dan menguatkan supaya kita tidak bingung dan putus asa apa pun yang akan terjadi di masa depan.
  5. Tidak mempergunakan penantian akan kedatangan Kristus sebagai alasan untuk tidak bekerja dan tidak berdisiplin, tetapi tetap bekerja keras, melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri dengan tidak membebani orang lain.
  6. Gereja harus bersatu supaya nyata manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekekudusan yang sesungguhnya. Dengan membuang dusta dan selalu berkata benar, membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah, serta segala bentuk kejahatan, tidak pendendam, tidak mendukakan Roh Kudus, tidak mengucapkan perkataan yang kotor, tetapi perkataan yang baik yang berguna untuk membangun, supaya yang mendengar beroleh kasih karunia. Ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni.
  7. Hidup dalam keyakinan bahwa Kristus yang empunya semuanya (Mat. 28:18) dan kita selalu hidup dalam doa: Datanglah Kerajaan-Mu (Mat. 6:10a), artinya kita memohon terwujudnya pemerintahan Allah di dunia ini, dimana kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, dan keutuhan ciptaan diberlakukan di dalam masyarakat, bangsa dan negara. Di dalam kerajaan-Nya, kemuliaan dan kebenaran Allah akan bersinar bagaikan matahari, serta membawa kepada umat-Nya yang setia dan taat, kebaikan, berkat dan keselamatan.

Penutup
Kita harus mengamalkan kesetiaan dan ketaatan yang sungguh-sungguh kepada Kristus melalui sarana kasih karunia, yaitu berdoa, bersaksi, mendalami Firman Allah, beribadah, bersekutu dengan saudara Kristen dan menolak dosa setiap hari (Yoh. 15:6). Dengan cara bertekun dalam iman yang benar, orang percaya beroleh hidup yang kekal dan menang di dalam segala keaadaan. Sekali lagi jikalau kita tinggal setia dan taat, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Rum. 8:28). Tiada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (Rum. 8:35-39). Setialah! Amin. [SS].

 

Pujian: KJ. 446 : 1 – 4 Setialah

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Tumrap kita Greja Kristen Jawi Wetan tanggal 3 – 23 Nopember 2022, mujudaken wulan budaya, kanthi sesirah: “Budayakan Hidup Benar dan Baik di tengah Kejahatan.” Dene khotbah dinten punika kanthi sesirah: “Membudayakan Hidup Setia dan Taat Dalam Dunia Penuh Kerusuhan.

KJ. 260 : 1 – 3 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan (saged kalagokaken), ukaranipun:

Dalam dunia penuh kerusuhan,
di tengah kemelut permusuhan, datanglah kerajaan-Mu
Di Gereja yang harus bersatu, agar nyata manusia baru,
datanglah kerajaan-Mu.
Datanglah, datanglah, datanglah kerajaan-Mu.

Memerangi gelap kemiskinan,
menyinarkan terang keadilan, datanglah kerajaan-Mu;
Di lautan, di gunung, di ladang dan di Bandar,
di pasar, di jalan, datanglah kerajaan-Mu
Datanglah, datanglah, datanglah kerajaanMu

Dalam hati dan mulut dan tangan, dengan kasih,
dengan kebenaran datanglah kerajaan-Mu
Karna Engkaulah yang empunya semua,
demi Kristus umatMu berdoa: datanglah kerajaan-Mu
Datanglah, datanglah, datanglah kerajaan-Mu

Pepujian punika paring gambaran dhateng kita bab-bab ingkang sampun kelampahan, saweg, lan badhe kelampahan, ingkang kasebat mawi tembung “kerusuhan” lan punapa ingkang kedah kita tindakaken minangka umat ingkang pitados dhateng Gusti Yesus.

Isi
Bab-bab ingkang sampun kelampahan, sawek, lan badhe kelampahan, ing antawisipun :

  1. Kitha Yerusalem lan Padaleman Suci badhe kagempur, pameca punika kelampahan tahun 70 M, nalika Jenderal Titus saking Rum dalasan bala tentaranipun gempur Yerusalem lan ngebong Padaleman Suci, sesampunipun dipun kepung watawis 134 dinten. Padaleman Suci kagempur dados ukuman tumraping Bangsa Israel karena nolak Putranipun Allah lan pakaryanipun nebus manungsa. Menggahing Gusti Yesus gempuripun Yerusalem nggadahi sesambetan ingkang raket sanget kaliyan rawuhipun ingkang kaping kalih sesampunipun zaman kasangsaran kelampahan. Gempuring Yerusalem dados pralambang rawuhipun ngadili jagad.
  2. Kathah kristus-kristus lan nabi-nabi palsu ingkang muncul (kacundhukna Mat. 24:11, 24). Ngadepaken pungkasing zaman “penipuan” ing babagan agami sangsaya kathah. Ing pundi-pundi papan wonten para nabi lan pengkhotbah palsu, ingkang nyasaraken tiyang kathah. Saperangan ageng umat Kristen lan negari-negari Kristen badhe murtad. Tiyang ingkang estu-estu setya dhateng pangandikanipun Gusti lan kitab suci dados “minoritas”. Tiyang-tiyang ingkang ngakeni dados tiyang pitados badhe nampi “wahyu ingkang enggal” sanadyan punika cengkah kaliyan dawuhipun Gusti. Bab punika badhe nuwuhaken memengsahan kaliyan kaleresan sejatos ingkang kawartosaken Kitab Suci wonten ing greja-greja. Para tetiyang ingkang martosaken Injil ingkang palsu/ nyasar, malah angsal kalengahan “kepemimpinan strategis” ing organisasi gereja lan sekolah-sekolah teologi, matemah para tetiyang punika nggadahi wewengan ingkang ageng nipu lan nyasaraken tiyang kathah ing greja.
  3. Ing saindenging bawana mayuta-yuta tiyang ingkang kapilut kaliyan ilmu gaib, ilmu nujum, sihir, klenik lan nyembah Iblis. Pangwasanipun setan lan roh-roh awon/ reget badhe sangsaya sengkut anggenipun milut lan ngwasani manungsa.
  4. Sangsaya kathah paprangan lan kraman, bangsa nglawan sami bangsa, krajan nglawan sami krajan (jagad/ donya wonten ing salebeting kawontenan memengsahan), badhe wonten lindhu ingkang gegirisi, ing pundi-pundi panggenan badhe wonten pageblug pes (penyakit menular samangke bokmenawi kados Covid-19) lan pailan; badhe kelampahan ugi bab-bab ingkang ngagetaken lan tuwin ilapat-ilapat ingkang gegirisi saking langit.
  5. Para tiyang pitados badhe dipun cepeng lan dipun aniaya, kapasrahaken dhateng papan-papan pangibadah lan pakunjaran-pakunjaran, sarta badhe kairid dhateng ngarsanipun para ratu lan para pangwasa amargi saking Asmanipun Gusti Yesus. Lelampahan punika malah dados dhadhakan para tiyang pitados nglahirken paseksi bab Gusti Yesus. Kita boten perlu ajrih lan kuwatos amargi Gusti piyambak ingkang badhe maringi tembung-tembung lan kawicaksanan, matemah boten wonten ingkang saged nglawan utawi bantah.
  6. Para tiyang pitados badhe kaulungaken dening tiyang sepuhipun, sederek-sederekipun, kadang-kadeyanipun lan pawong mitranipun, lan wonten sawetawis ingkang dipun pejahi (keluarga wonten ing salebeting kawontenan memengsahan). Dipun sengiti dening sedaya tiyang amargi Asmanipun Gusti Yesus. Nalika zamanipun kekristenan wiwitan, katah tiyang pitados ingkang dipun siksa lan dipun pejahi, malah wonten pemanggih bilih sedaya rasulipun Gusti Yesus (anjawi Yokanan) seda syahid dening para tiyang ingkang nganiaya. Pancen kasinggihan nandhang sangsara kagem Gusti Yesus karana kasetyan kita dhateng Panjenenganipun lan netepi dawuhipun mujudaken perangan ingkang boten saged pinisah saking iman Kristen (Jok. 15:20; 16:33; Kis. 14:22; Rum. 5:3).

Punapa ingkang kedah kita tindakaken minangka umat ingkang pitados dhateng Gusti Yesus? Saderengipun punika perlu kita antepaken malih bilih dintenipun Gusti, dinten rawuhipun Gusti ingkang kaping kalih, anjawi mujudaken dinten paukumanipun Gusti tumraping tiyang ingkang boten pitados dhateng kaleresan lan remen dhateng tumindak awon/ jahat, ugi ateges kawilujengan lan pangluwaran kangge sedaya tiyang ingkang nresnani lan gesang kagem Panjenenganipun, kangge sedaya tiyang ingkang setya tuhu lan sumuyud dhateng Panjenenganipun.

Ing salebeting kita lumampah lan gesang ing jagad punika kita kedah tansah ngengeti lan ngrasuk katresnanipun Gusti, ingkang sampun setya lan sumuyud dumugi seda ing kajeng salib kangge kita (Fil. 2:8) lan babaraken ing gesang kita padintenan srana tansah saos sukur dhumateng Gusti, kanthi “membudayakan” gesang setya tuhu lan sumuyud. Ingkang kita wujudaken ing tumindak:

  1. Merangi kemlaratan kanthi sedaya wujudipun, boten namung mlarat tata ekonomi, ananging ugi sacara politik, sosial, budaya lan agami, sacara rohani, moral etika, mlarat ing katresnan pasederekan; kanthi tetap manthep, setya lan sumuyud dhateng Gusti, sarta nebihi tetiyang ingkang boten purun sumuyud lan boten purun gesang disiplin.
  2. Tansah nyunaraken padhanging keadilan lan keleresan kanthi tulusing manah, pocapan lan pakaryan kita ingkang kebak kateresnan ing sedaya papan, wewengan lan wekdal, ing kawontenan dikadospundi kemawon, sae utawi boten wekdalipun.
  3. Boten pisan-pisan damel ramalan bab dinten rawuhipun Gusti, ing pundi ing peranganing waosan kita punika kasebat “apocalypsis”, ingkang beberaken wekdal ingkang badhe kelampahan ingkang taksih winados gegayutan kaliyan kedadosan-kedadosan ingkang wonten sesambetanipun kaliyan rancanganipuin Gusti Allah bab donya lan bab-bab ingkang wonten nggandeng cenengipun kaliyan manungsa. Ingkang penting sanes pitakenan, bab “celak” utawi “tebihipun”, ananging katamtuan bilih Gusti Allah estu-estu badhe nindakaken rancanganipun.
  4. Boten “menyalahgunakan” lan damel “kesalahpahaman”, boten ngajrih-ajrihi, boten ngginakaken “kesempatan dalam kesempitan”, ananging tansah jumaga lan waspada sarta gesang kanthi tansah enget-ingetaken, tansah lipur-linipur, kiyat-kiniyataken, supados kita boten bingung lan semplah ing manah gegayutan kaliyan kedadosan punapa kemawon ingkang badhe kelampahan.
  5. Boten ngginakaken wekdal rumantos dhateng rawuhipun Sang Kristus kangge pawadan boten nyambut damel lan boten gesang disiplin, ananging tetap nyambut damel kanthi sengkut, nindakaken pandamelan ingkang sae kanthi tanganipun piyambak lan boten dados momotan utawi momoti tiyang sanes.
  6. Greja kedah rukun lan nyatunggil supados cetha bilih kita punika titah enggal ingkang sampun katitahaken miturut kersanipun Gusti Allah ing kaleresan lan kasucen ingkang nyata. Kanthi bucal watek goroh lan tansah ngucapaken bab-bab ingkang nyata, bucal sadhengahipun raos serik, brangasan, gampil nepsu, tukar-paben, panyatur ala lan sadengah piala, boten netepaken alanipun tiyang sanes, boten damel sekeling Sang Rohipun Allah ingkang Suci, boten ngedalaken tembung ingkang reget ananging ingkang sae ingkang wonten guna paedahipun kangge bangun, supados ingkang mirengaken pikantuk sih rahmat. Sumanak setunggal lan satunggalipun, kebak sih katresnan, lan apunten- ingapunten.
  7. Gesang ing salebeting kapitadosan bilih sedayanipun kagunganipun Sang Kristus (Mat. 28:18) lan kita tansah gesang ing salebeting pandonga: “Kraton Paduka mugi rawuha!” (Mat. 6:10a). Artosipun kita nyuwun peprentahanipun Gusti Allah kebabara ing donya punika, ing pundi katresnan, kaadilan, kaleresan, tentrem rahayu lan “keutuhan ciptaan” katindakaken ing satengahing masyarakat, bangsa lan negara. Ing salebeting Kratonipun Allah, kamulyan, lan kaleresanipun badhe sumunar kados dene srengenge, sarta bekta kasaenan, berkah lan kawilujengan kangge umatipun ingkang setya tuhu lan sumuyud dhateng Penjenenganipun.

Panutup
Kita kedah babaraken kasetyan lan sumuyud kita ingkang estu-estu dhateng Gusti Allah, lumantar sarana sih rahmat, inggih punika dedonga, atur paseksi, nyinau pangandikanipun Allah, ngibadah, tetunggilan kaliyan sederek Kristen sanesipun lan saben dinten tansah nampik dosa (Yok. 15:6). Kanthi gesang ing salebeting iman kapitadosan ingkang leres, tiyang pitados/ kita kaparingan lan angsal gesang ingkang langgeng lan mimpang ing sedaya kawontenan.
Perlu kaantepaken malih menawi kita setya tuhu lan sumuyud, Gusti Allah makarya wonten ing sadengah prekawis kangge dhatengaken kasaenan tumrap kita (Rum. 8:28), boten wonten ingkang saged pegataken kita saking sihipun Allah (Rum. 8:35-39). Ditansah setya tuhu. Amin. [SS].

 

Pamuji: KPJ. 142 : 1, 2 Tyang Duraka Samya Nyatroni Kawula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak