Minggu Biasa – Pekan Anak
Stola Hijau
Bacaan 1: Yehezkiel 2 : 1 – 5
Bacaan 2: 2 Korintus 12 : 2 – 10
Bacaan 3: Markus 6 : 1 – 13
Tema Liturgis : Yesus Kristus Sang Pemimpin Keluarga yang Selalu Menyertai dan Memberkati
Tema Pekan Anak: Karena Kristus, yang Lemah menjadi Kuat
Tema Khotbah: Keluarga Kuat Menghadapi Penolakan
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yehezkiel 2 : 1 – 5
Nabi Yehezkiel tinggal dalam pembuangan di Babel baik sebelum maupun sesudah jatuhnya Yerusalem sekitar 586 SM. Dia dipanggil sebagai nabi yang menyampaikan pesan dan harapan bagi orang-orang Israel di pembuangan. Sekalipun nenek moyang mereka telah menolak untuk setia kepada Allah, namun Dia tetap berada di antara umat-Nya. Allah tidak membalas dengan menolak umat, namun tetap mengasihi yang ditunjukkan dengan Dia mengutus nabi Yehezkiel mewartakan kasih setia Allah dan memanggil umat untuk juga setia dan memberlakukan kasih dalam kehidupan. Bahkan, sekalipun berita yang disampaikan Yehezkiel ditolak, karya Allah tidak berhenti. Sebaliknya, umat senantiasa diajak untuk melihat karya Allah melalui nabi-Nya.
2 Korintus 12 : 2 – 10
Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus ini ditulis pada masa sulit dalam hubungannya dengan jemaat itu. Ada serangan, celaan keras, tuduhan dari anggota jemaat Korintus terhadap Paulus bahwa ia adalah rasul palsu. Terhadap itu, Paulus menunjukkan bahwa dirinya tetap ingin berbuat baik. Pada pasal-pasal terakhir surat kepada jemaat Korintus ini, Paulus melakukan pembelaan diri mengenai kedudukannya sebagai rasul Kristus.
Sikap Paulus di atas menunjukkan bahwa merespon persoalan yang sulit, Rasul Paulus tidak langsung reaktif, namun reflektif. Rasul Paulus tidak menghadapi dengan emosi tinggi dan membara. Jika mereka yang melawannya menunjukkan keunggulan diri pribadi, Rasul Paulus justru menunjukkan bagaimana keunggulan dan kebesaran karya Allah yang terjadi dalam kelemahannya. Dengan hati yang dingin dan tenang, Paulus tidak hanya berujar, namun dia bertindak dengan baik dan sabar sebagaimana yang seharusnya diperbuat sebagai utusan Allah. Sekalipun dia menerima penglihatan dan penyataan, ini bukanlah hal yang membuatnya sombong.
Penolakan itu membuat Paulus berefleksi, melihat dirinya dan menerima semua keberadaan diri termasuk kemalangan dan kelemahannya, karena dia percaya bahwa dalam situasi itu, kuasa Sang Kristus tetap merengkuhnya (Ay. 9-10). Sebagai Rasul, penolakan atas dirinya dihadapi dengan tenang dan ikhlas karena ia yakin bahwa Allah tidak pernah menolaknya namun justru melimpahkan rahmat dan kuasa-Nya di tengah panggilannya sebagai rasul Tuhan.
Markus 6 : 1 – 13
Salah satu situasi sulit yang dihadapi Tuhan Yesus dalam pelayanan adalah penolakan. Bacaan kita menjelaskan bahwa penolakan itu malah terjadi di kota asalnya sendiri, dari lingkungan terdekatnya, yaitu mereka yang Dia kenal dan mengenalnya. Alasan penolakan itu karena ketidakpercayaan mereka (Ay. 6) yang seolah menumbuhkan gejolak keirihatian di antara orang-orang Nazaret yang merasa mengenal Yesus. Mereka ini adalah orang-orang yang syok dan berpikir bahwa bukankah ini seorang yang dulunya keluar kampung untuk urusan pribadi, lha kok sekarang datang beramai-ramai membawa suatu amanat dari sorga. Kalau dilihat dari kebijaksanaan pengajaran dan kuasa yang dipunyai memang tidak bisa dipungkiri. Tapi mereka mempersoalkan: Darimana datangnya semua itu? Jadi segala sesuatu yang bukan dari sorga dan Allah, pasti dari iblis! Lalu mereka sampai pada keputusan: Tolak!
Merespon penolakan itu Tuhan Yesus mengedepankan kebesaran hati. Penolakan tidak membuat-Nya marah dan terbakar emosinya sehingga mengutuk kota Nazaret, misalnya. Yesus juga tidak nglokro dengan berhenti berkarya baik. Dia melanjutkan karya-Nya dari desa ke desa dan mengutus para murid-Nya dan tidak memaksa orang harus menerima diri-Nya dan tindakan kasih-Nya. Tuhan Yesus bersabar dan memiliki kebesaran hati menerimanya, bahkan seperti mengatur strategi dalam karya-Nya. Hal itu terlihat ketika berada Nazaret, Yesus tidak bisa melakukan mujizat kecuali menyembuhkan orang sakit. Namun di tempat lain, 12 murid bisa mengusir setan dan banyak orang disembuhkan. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa mujizat itu erat kaitannya dengan kondisi iman dan batin/ moral seseorang yang menerimanya. Mujizat tidak terjadi pada orang Nazaret yang menolak Yesus. Sebaliknya, dalam karya kasih, mereka yang memiliki hati untuk menerima, dapat menjadi jalan mujizat.
Benang Merah Tiga Bacaan
Pemeliharaan Allah tidak pernah berhenti dalam situasi apapun, bahkan di tengah penolakan umat yang dikasihi-Nya sekalipun. Menyatakan karya Allah dalam setiap keadaan adalah panggilan hidup beriman kita. Meskipun dalam kesulitan, pergumulan, dan kerapuhan, orang percaya akan meyakini bahwa kasih Allah merengkuhnya. Dalam keyakinan inilah, orang akan mampu berbesar hati, menep, dan tidak nglokro dalam menjalani hidup. Yesus Kristus telah meneladankan sikap yang demikian, karenanya setiap keluarga dipanggil terus melekat pada Kristus agar kuat menjalani pergumulan hidup.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Siapa yang pernah ditolak? Ditolak jadi teman, pacar, menantu, pekerjaan atau pejabat? Ditolak ketika berbuat baik dan berbuat kasih? Ketika menghadapi penolakan, apa yang kita rasakan? Bagaimana reaksi kita? (1) Sedih: “Dhuh… kok aku ditolak… Iya lah, aku memang orang jelek, tidak menyenangkan, tidak bisa apa-apa. Huuuu…” (2) Marah, jengkel: “Lho… kok bisa aku ditolak. Berani-beraninya nolak aku... Awas ya...” orang kemudian mencari kambing hitam. “Ini pasti ada provokatornya. Pasti si A, B, C, dan D yang membuatku ditolak. Tidak bisa dibiarkan.” Bisa juga, kalau tidak ketemu siapa orangnya, Tuhanlah yang disalahkan. “Tuhan ini tidak sayang padaku, sungguh tega dan tidak adil. Padahal persembahanku paling banyak, paling rajin ke gereja, berdoa paling lama.” Atau ketika menghadapi penolakan, kita kemudian (3) Berefleksi: menahan diri untuk banyak bereaksi. Pertanyaan reflektifnya: “Apa ya yang membuat saya ditolak? Saya bisa belajar apa dari penolakan ini? Hal apa yang bisa saya ubah dan perbaiki dari diri pribadi supaya penolakan ini tidak sampai membuat saya nglokro, sedih berkepanjangan, marah yang tidak bisa dikontrol, apalagi sampai menuduh Tuhan?” Perasaan mana yang lebih dekat dengan kita? (1) sedih, (2) marah atau (3) refleksi?
Isi
Penolakan di tengah kehidupan manusia itu sesuatu yang lumrah. Biasa! Semua orang ngalami. Diterima dan ditolak! Jangankan kita, Tuhan Yesuspun pernah mengalami. Dia ditolak di tempat asalnya sendiri, oleh lingkungan terdekat-Nya, oleh orang-orang yang Dia kenal dan mengenal-Nya. Rasul Paulus juga pernah ditolak oleh mereka yang sok kenal dengannya, yaitu para musuhnya yang merasa lebih unggul karena merasa menerima wahyu dari Tuhan. Mereka itu kemudian menyombongkan diri dan mengajak jemaat supaya menolak rasul Paulus. Bagaimana Tuhan Yesus dan Rasul Paulus menghadapi keadaan itu? Respon yang terlihat adalah: Nglenggana. Berbesar hati.
Berbesar hati (Nglenggana, menep, ora umup) itu berarti tidak terbakar emosinya karena ditolak. Tuhan Yesus tidak marah, lalu mengutuk kota Nazaret. Dia juga tidak nglokro, selesai sudah karya ini. Tidak! Tuhan Yesus tetap melanjutkan karya-Nya dari desa ke desa dan mengutus para murid-Nya. Dia tidak memaksa orang harus menerima diri-Nya dan tindakan kasih-Nya. Tuhan Yesus bersabar dan memiliki kebesaran hati menerimanya, bahkan seperti mengatur strategi dalam karya-Nya. Terlihat, ketika berada di Nazaret, Tuhan Yesus tidak bisa melakukan mujizat kecuali menyembuhkan orang sakit, namun di tempat lain, 12 orang murid-Nya bisa mengusir setan dan banyak orang disembuhkan. Hal ini menjadi pelajaran, bahwa ketika kita menerima tindakan kasih dengan tulus bisa menjadi jalan mujizat. Sebaliknya, mujizat sulit terjadi bagi mereka yang terlebih dulu menolak kehadiran Yesus.
Begitu juga dengan Paulus yang tidak reaktif, namun reflektif. Rasul Paulus tidak menanggapi penolakan dirinya dengan emosi membara. Jika musuhnya menonjolkan diri pribadi, Rasul Paulus malah menunjukkan kebesaran karya Allah dalam kelemahan dan kerapuhannya. Penolakan itu membuat Paulus berefleksi, melihat dan menerima semua keberadaan dirinya, termasuk kelemahan dan kerapuhannya. Dengan hati dingin, Paulus tidak hanya berkata, namun bertindak dengan sabar sebagaimana yang seharusnya dilakukan sebagai utusan Allah. Ia memperlihatkan jati diri kehidupan rasul Yesus. Sekalipun Paulus menerima penglihatan, hal itu bukanlah hal yang membuatnya menjadi sombong. Hal ini karena Paulus percaya bahwa dalam keseluruhan hidupnya, kuasa Sang Kristus memeliharanya (Ay. 9-10). Sebagai Rasul, penolakan itu dihadapinya dengan kebesaran hati karena percaya bahwa Allah tidak pernah menolak dirinya. Dia selalu melimpahkan anugerah-Nya di tengah panggilan sebagai utusan Kristus.
Pengakuan itu senada dengan bacaan pertama. Menghadapi penolakan bangsa Israel yang menolak kasih Allah dengan perbuatan yang tidak berkenan, Tuhan Allah tetap melimpahkan kasih-Nya dengan tidak membalas menolak juga. Hal ini nampak ketika Allah mengutus nabi Yehezkiel mewartakan kasih setia-Nya dan menjalani hidup dalam kasih-Nya. Sekalipun berita yang dibawa Yehezkiel ditolak, namun umat diajak untuk melihat karya Allah yang tidak pernah berhenti melalui nabi-Nya.
Penutup
Saudara yang terkasih, berapapun usia kita, perjumpaan kita dengan sesama terkadang menempatkan kita dalam penolakan. Respon yang tepat menghadapi penolakan itu harus dibangun dalam hidup keluarga. Setiap keluarga perlu bertumbuh dalam sikap saling menerima diri, didasarkan pada keyakinan bahwa Tuhan menerima kita dan tak pernah berhenti berkarya melimpahkan anugerah-Nya. Firman Tuhan hari ini mengajak setiap keluarga untuk lebih tenang, menep lan ora umup, lebih reflektif daripada reaktif. Setiap keluarga senantiasa hendaknya melekat pada Kristus dan tidak menolak kehadiran-Nya. Berjalan bersama Kristus, akan menjadikan keluarga kuat menghadapi hidup, termasuk segala jenis penolakan. Bersama dengan anggota keluarga kita bertumbuh dalam penerimaan diri: “Jika orang bilang aku jelek, tidak mengapa, memang aku jelek. Namun, sekalipun aku jelek, aku dicintai Tuhan. Jika orang menolak karena aku tidak pantas, itupun tidak mengapa. Itu berarti kesempatan bagiku untuk memperbaiki kekurangan dan menjadi lebih baik. Atau kalau toh aku ditolak karena aku terlalu baik, itupun tak membuatku marah, karena apa yang ada padaku ini karena Tuhan.”
Sikap yang menep, reflektif dan berbesar hati seperti itu sekarang langka. Ketika orang ditolak, biasanya emosi segera membara, membuat berita hoax. Orang langsung reaktif, tanpa sempat berpikir benar atau salah, setiap berita yang cocok dengan kemauannya segera di “share” tanpa “disaring”. Dalam keluargalah, setiap orang berlatih untuk saling mengingatkan dan menjaga, sehingga ketika menghadapi penolakan, tetap memiliki kebesaran hati menghadapinya karena percaya Tuhan selalu berkarya. Amin. (KRW).
PUJIAN: KJ. 370 : 1, 2 Ku Mau Berjalan dengan Juru S’lamatku.
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Sinten ingkang nate nampeni panampik? Ditampik dados pacar, mantu, pedamelan, pejabat? Ditampik nalika tumindak sae, nandukaken katresnan? Nalika ngadhepi sawernining panampik, punapa ingkang kita raosaken? Mbok menawi (1) Sedih: “Dhuh... aku ditolak... iya lah, pancen aku wong sing elek, ora nyenengake, ora bisa apa-apa…” (2) Anyel, nesu: “Lho… kok isa se aku ditolak. Kok wani-wanine nolak… titenana yo...” tiyang lajeng pados kambing hitam. “Iki mesti ana provokatore. Jalaran si A, B, C, lan D aku ditolak iki.” Saged ugi, menawi boten kepanggih ingkang saged dipun lepataken lajeng Gusti Allah dados sumbering kelepatan. “Gusti iki wis ora tresna karo aku... iki Gusti sing tega lan ora adil marang aku, kamangka aku iki wus pisungsung paling akeh, paling sregep neng greja, ndonga paling suwe dhewe” utawi nalika ngadhepi panampik, kita lajeng (3) Refleksi. Pitakenan reflektifipun: “Punapa ingkang sampun ndadosaken kula katampik? Kula saged sinau punapa saking panampik punika? Bab punapa ingkang saged kula owahi/ ndandani saking diri pribadi” supados panampik sampun ngantos ndadosaken kula nglokro, sedih, anyel, nesu ingkang boten saged dipun kendaleni, punapa malih ngantos nuduh Gusti Allah. Pangraos pundi ingkang langkung celak kaliyan kita? (1) sedhih, (2) nesu utawi (3) refleksi?
Isi
Panampik/ penolakan ing satengahing gesangipun manungsa ing ndonya punika, bab ingkang lumrah. Biasa! Sedaya tiyang mbokmenawi nate ngalami punika. Katampi lan katampik! Aja maneh kok awake dhewe… Gusti Yesus mawon lho nate. Gusti Yesus nate ngalami panampik, malah saking tlatah asalipun, tiyang-tiyang ingkang tepang kaliyan Panjenenganipun. Rasul Paulus inggih nate ngadhepi panampik saking tiyang-tiyang ingkang sok kenal kaliyan Paulus, inggih para satrunipun. Ingkang rumaos bilih piyambakipun punika langkung pinunjul saking Rasul Paulus, karana rumaos nampi paningal (wahyu) saking Gusti. Lajeng sami gumunggung, ngunggulaken diri lan ngatag pasamuwan Korinta supados nampik Rasul Paulus. Kadospundi pangraosipun Gusti Yesus lan Rasul Paulus ngadhepi kahanan punika? Respon ingkang katingal inggih punika: Nglenggana.
Nglenggana, menep, ora umup karana panampik. Gusti Yesus boten duka, utawi ngutuk kitha Nazaret, boten. Gusti Yesus ugi boten nglokro: “maren wis... madheg wae makarya lan nyebar kabar adya! Boten! Gusti Yesus nglajengaken tumindakipun ing kitha sanes, lan ngutus para sekabatipun. Gusti Yesus boten meksa tiyang kedah nampi Panjenenganipun. Gusti Yesus sabar lan nglenggana, kepara kados nata strategi anggenipun makarya. Ketitik wonten ing Nazaret, Gusti Yesus boten saged nindakaken mujizat kejawi nyarasaken tiyang sakit. Nanging ing kitha sanes, para sakabat rolas saged nundhung demit lan kathah tiyang kasarasaken. Punika bab sae kangge kita sinau, nalika manah kita nampi tumindak katresnan kanthi tulus saged dados margining mujizat. Mekaten ugi tumraping Rasul Paulus. Piyambakipun boten reaktif, nanging reflektif. Rasul Paulus boten ngadhepi kanthi umup, kanthi emosi ingkang langkung inggil utawi sami. Menawi mengsahipun ngetingalaken agenging diri pribadi, Rasul Paulus malah nedahaken kados pundi agenge pakaryanipun Gusti Allah, lumantar karingkihanipun. Kanthi manah ingkang adhem, Paulus boten namung ngendikan, nanging tumindak kanthi sabar, sae, lan sakmesthinipun minangka utusanipun Gusti Allah, ngetingalaken jatining gesangipun Rasulipun Gusti. Senaosa panjenenganipun ugi nampeni paningal, punika sanes bab ingkang ndadosaken manahipun gumunggung.
Panampik punika dadosaken Paulus berefleksi, ningali kawontenanipun piyambak, nampeni sedaya kawontenanipun diri, nampeni kaapesan lan karingkihanipun, awit Paulus pitados lan yakin bilih ing ngriku Panguwaosing Sang Kristus njangkung piyambakipun (Ay. 9-10). Minangka Rasul, panjenengane mbokmenawi ngadhepi panampik, nanging Rasul Paulus tansah nglenggana anggenipun ngadhepi karana pitados bilih Gusti Allah boten nate nampik piyambakipun. Gusti Allah tansah ngluberaken sih rahmatipun ing salebeting jejibahan minangka utusanipun.
Pemanggih punika cundhuk kaliyan waosan ingkang sepisan. Ngadhepi panampikipun bangsa Israel tumrap sih katresnanipun Gusti kanthi tumindak ala, Gusti Allah tansah ngluberaken sih susetyanipun. Boten males kanthi nampik manungsa ugi. Punika katingal nalika Gusti Allah ngutus nabi Yehezkiel martosaken sih katresnanipun lan ugi nindakaken katresnan punika ing pigesangan. Senaosa pawartosipun Yehezkiel katampik, pakaryanipun Gusti boten kendel. Umat kaatag ningali pakaryanipun Gusti Allah lumantar pakaryan nabinipun.
Penutup
Para sedherek, pepanggihan kita kaliyan sesami asring mapanaken aben ajeng kaliyan panampik. Respon ingkang sae ngadhepi sedaya kalawau tuwuh ing salebeting brayat. Saben brayat kedah ngupadi sikap nampi sedaya kawontenan diri adhedasar pengaken bilih Gusti sampun langkung rumiyin nampeni kita. Panjenenganipun boten nate kendel anggenipun makarya ngluberaken berkah. Saking pangandikanipun Gusti dinten punika kita saged sinau langkung adhem, menep, boten umup, lan langkung reflektif tinimbang reaktif. Saben brayat tansaha rumaket dhumateng Sang Kristus. Lumampah sinarengan Gusti, punika badhe ndadosaken brayat saged kiat ngadhepi gesang, kalebet panampik. Sinarengan brayat, kita saged nampi diri kita pribadi: “Yen aku ditampik amerga aku elek, yo wis ben… pancen aku elek, senadyan elek, aku ditresnani Gusti. Yen katampik amarga durung pantes, yo wis ben… iku ateges aku isih duwe wektu kanggo mranata diri luwih apik lan ndandani apa kang dadi kurangku. Yen katampik amarga kebagusen, yo wis ben… aku ora nesu, amarga bagusku iku peparinge Gusti.”
Sikap ingkang menep, reflektif, lan nglenggana punika samangke awis. Nalika tiyang katampik, kathah ingkang umup, ndamel pawartos hoax. Tiyang enggal reaktif, boten purun galih punika leres punapa lepat. Saben pawartos ingkang cocok kaliyan pikajengipun enggal dipun ”share” tanpa “disaring”. Wonten ing brayat, sedaya tiyang latihan tansah eling ingelingake supados nalika ngadhepi panampik tansah nggadhahi sikap nglenggana karana pitados Gusti Allah tansah makarya. Amin. (KRW).
Pamuji: KPJ. 124 Kula Sestu Ndherek Gusti