Saling Mengingatkan dalam Keluarga Khotbah Minggu 11 Juli 2021

28 June 2021

Minggu Biasa – Bulan Keluarga
Stola Hijau

Bacaan 1: Amos 7 : 7 – 15
Bacaan 2: Efesus 1 : 3 – 14
Bacaan 3: Markus 6 : 14 – 29

Tema Liturgis: Yesus Kristus Sang Pemimpin Keluarga yang Selalu Menyertai dan Memberkati
Tema Khotbah: Saling Mengingatkan dalam Keluarga

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amos 7 : 7 – 15
Tuhan Allah berkenan memilih dan menetapkan siapa saja untuk melakukan kehendakNya. Kehendak Tuhan yang demikian ini terkadang tidak pernah terpikirkan oleh seseorang, namun pada saatnya seiring dengan perjalanan waktu seseorang akan memahami, bahwa dirinya dipilih dan ditetapkan Tuhan untuk melakukan suatu tugas pelayanan. Inilah yang dialami oleh Amos. Disebutkan, bahwa Amos hanyalah seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Namun, ia dipiih dan diutus oleh Tuhan agar mengingatkan Yerobeam, raja Israel pada saat itu bahwa Tuhan akan menghancurkan Israel, keluarga Yerobeam akan dimusnahkan karena kejahatan yang dilakukan bangsa Israel (Amos 7:9). Sayangnya, peringatan Amos ini tidak disukai oleh Amazia, Imam di Betel. Akhirnya Amos diusir agar keluar dari Israel dan bernubuat saja di Yehuda (Amos 7:12). Terhadap kenyataan ini Amos tidak sakit hati. Amos tidak marah dan kecewa mendapat perlakuan yang menyakitkan ini, sebab dirinya hanya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Ia tetap rendah hati dan menganggap dirinya bukan sebagai seorang nabi. Oleh karena itu ia menyatakan: “… Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.” (Amos 7:14,15).

Efesus 1 : 3 – 14
Mendapatkan cinta kasih Allah itu adalah suatu anugerah yang tidak bisa ditentukan oleh manusia. Jika manusia mendapatkan anugerah Allah itu terjadi karena cinta kasih Allah kepada manusia. Manusia juga tidak bisa mengerti mengapa Allah menyatakan cinta kasihNya kepada manusia, sehingga Ia berkenan menyatakan Diri-Nya di dalam Yesus Kristus yang mengorbankan diri dengan menderita dan mati di kayu salib. Cinta kasih Allah ini sudah direncanakan jauh sebelumnya oleh Allah. Ia sendiri yang merencanakan dan memilih seseorang untuk mendapatkan cinta kasih Allah – “Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat dihadapan-Nya” (Efesus 1:4). – Pemilihan tersebut dilakukan untuk kepentingan Allah sendiri, artinya seseorang yang direncanakan dan dipilih sendiri oleh Allah adalah berkaitan dengan rencana dan kehendak Allah untuk kemuliaan Allah. Oleh karena itu, setiap orang yang terpilih untuk menerima cinta kasihNya, juga harus selalu berusaha melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah.

 Markus 6 : 14 – 29
Saat mendengar tentang pelayanan yang dilakukan Tuhan Yesus dan respon banyak orang terhadap pelayanan Tuhan Yesus. Herodes teringat pada apa yang dilakukannya terhadap Yohanes Pembaptis. Herodes senang mendengarkan apa yang diajarkan oleh Yohanes. Bahkan ia merasa segan terhadap Yohanes yang dianggap sebagai orang benar dan suci (Markus 6:20). Sekalipun demikian Herodes telah memenjarakan, membelenggu dan memenggal kepala Yohanes karena ia merasa sakit hati terhadap Yohanes yang berani menegurnya. Yohanes berani menegur Herodes yang memiliki kedudukan dan kuasa sebagai raja karena telah merebut Herodias, isteri dari Filipus saudaranya untuk menjadi isterinya. Dengan keras Yohanes menegur Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” (Markus 6:18). Herodias juga sakit hati mendengar perkataan Yohanes. Ia bahkan menaruh dendam terhadap Yohanes, sehingga ia mencari cara agar Yohanes bisa dibunuh. Keinginan Herodias ini akhirnya terwujud melalui anaknya yang mendapatkan janji dari Herodes untuk meminta apa saja yang diinginkannya. Pada akhirnya Herodes memenuhi janjinya untuk memenggal kepala Yohanes. Apa yang dilakukan Herodes ini ingin menunjukkan ketegasannya sebagai orang tua dalam memenuhi janji terhadap anaknya. Namun, ia tidak memikirkan, bahwa seharusnya permintaan anaknya itu sangat keji dan seharusnya tidak terjadi. Selain itu, bisa juga Herodes dan Herodias sebelumnya telah bersepakat untuk membunuh Yohanes melalui permintaan anaknya. Mengajarkan kepada anak hal yang demikian keji ini tentu tidak seharusnya terjadi. Ini berarti dalam keluarga Herodes tidak ada kemauan untuk saling mengingatkan, bahkan cenderung kompak untuk melakukan kejahatan. Jika Herodes mengingat kembali tentang apa yang dilakukannya terhadap Yohanes di saat ia mendengar tentang apa yang dilakukan Yesus, sebenarnya ia menyadari kesalahan yang dilakukannya. Rasa bersalah itulah yang kemudian menghantuinya karena telah membunuh Yohanes. Rasa bersalah ini akan bisa diselesaikan jika Herodes mau mengakui kesalahan yang dilakukannya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Setiap orang bisa saja dipakai oleh Tuhan untuk menegur atau mengingatkan orang lain karena kesalahan yang dilakukannya. Namun, tidak semua orang yang telah melakukan kesalahan bersedia ditegur atau diingatkan. Memang teguran itu bisa menyakitkan, namun teguran itu bisa menyadarkan seseorang tentang kesalahan yang dilakukannya. Selain itu juga bisa menjadikan seseorang tidak semakin nekat melakukan kesalahan. Tuhan bisa memakai siapa saja untuk mengingatkan setiap orang yang melakukan kesalahan. Ia menghendaki agar setiap orang bisa mengerti dan memilih perbuatan yang baik sesuai dengan ajaran dan perintah Tuhan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan saling mengingatkan satu sama lain.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Mendapatkan teguran karena melakukan suatu kesalahan itu memang bisa menjadikan setiap orang merasa dipermalukan dan menyakitkan. Sekalipun demikian teguran diperlukan agar setiap orang mengerti dan menyadari tentang kesalahan yang dilakukannya. Kemudian berani mengaku salah dan berusaha agar tidak mengulanginya. Dengan menerima teguran setiap orang sebenarnya mendapat pertolongan orang lain agar dapat melakukan apa yang baik dalam hidupnya. Namun, dalam kenyataannya tidak banyak orang yang mau ditegur. Bahkan, merasa sakit hati, marah dan menaruh dendam terhadap orang yang menegurnya. Inilah yang terjadi pada diri Herodes dan Herodias, isterinya.

Isi
Ketika Herodes mendengarkan percakapan dari orang-orang yang ada di sekitarnya tentang apa yang diajarkan Yesus, Herodes teringat pada Yohanes Pembabtis. Herodes senang mendengarkan apa yang diajarkan oleh Yohanes. Bahkan ia merasa segan terhadap Yohanes yang dianggap sebagai orang benar dan suci. Namun, Herodes juga merasa sakit hati terhadap Yohanes yang berani menegurnya. Hal ini terjadi karena Herodes telah melakukan suatu kesalahan. Herodes telah merebut Herodias, isteri dari Filipus saudaranya untuk menjadi isterinya. Dengan keras Yohanes menegur Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” (Markus 6:18). Hal yang sama juga dilakukan oleh Amos yang mengingatkan Yerobeam, raja Israel pada saat itu bahwa Tuhan akan menghancurkan Israel, keluarga Yerobeam akan dimusnahkan karena kejahatan yang dilakukan bangsa Israel (Amos 7:9). Teguran tersebut tentu saja sangat menyakitkan. Namun, teguran tersebut harus disampaikan kepada orang yang telah melakukan kesalahan. Oleh karena itu Tuhan berkenan memakai siapa saja untuk memberikan teguran bagi setiap orang yang telah melakukan kesalahan. Hal tersebut dilakukan agar orang yang ditegur mengetahui, bahwa dirinya telah melakukan kesalahan dan tidak terus melakukan kesalahan yang diperbuatnya. Ini berarti orang harus mau meninggalkan kesalahan yang telah dilakukannya. Sayangnya, tidak semua orang mau ditegur, meskipun jelas-jelas orang tersebut telah melakukan kesalahan. Sebaliknya, orang yang menegur tersebut justru mendapatkan perlawanan.

 Amos mendapatkan perlawanan dari Amazia, sehingga ia diusir dari Israel (Amos 7:12). Demikian juga dengan Yohanes Pembaptis. Yohanes dipenjarakan oleh Herodes dan dibelenggu, bahkan kemudian dibunuh dengan cara keji. Kepalanya dipenggal atas permintaan isteri Herodes, yakni Herodias melalui anaknya. Herodias melakukan hal ini karena ia tidak suka mendapat teguran dari Yohanes, bahkan memiliki rasa dendam terhadap Yohanes. Dari sini kita bisa menilai tentang keberadaan keluarga Herodes. Herodes dan Herodias adalah suami isteri yang sama-sama tidak suka menerima teguran, meskipun sudah sepantasnya mereka mendapatkan teguran karena kesalahan yang mereka lakukan. Suami-isteri ini tidak mau menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat, bahkan diam-diam mereka sepakat untuk membunuh Yohanes. Lebih parah lagi upaya mereka yang jahat ini dilakukan dengan melibatkan anaknya. Bayangkan, si anak diajarkan oleh ibunya agar meminta imbalan dari ayahnya, setelah menari di pesta ulang tahun Herodes. Imbalan itu adalah meminta kepala Yohanes Pembaptis (Markus 6:25). Lalu, Herodes, ayahnya, memenuhi permintaan si anak dengan alasan telah berjanji memberikan apa saja yang diminta anaknya. Bukankah ini berarti orang tua telah mengajarkan kepada anak untuk tega melakukan suatu kekejian?

Sikap dan perbuatan yang tidak mau memperhatikan teguran, lalu merasa sakit hati, bahkan memiliki rasa dendam terhadap orang yang memberikan teguran bukanlah sikap dan perbuatan yang mencerminkan kehendak Tuhan Allah. Tuhan Allah selalu menegur umatNya agar tidak melakukan kesalahan. Jika sudah melakukan kesalahan harus bersedia mengakui kesalahannya. Teguran Tuhan Allah bisa saja terjadi melalui apa yang kita dengar, seperti yang dialami oleh Herodes ketika mendengar kesaksian orang lain tentang Yesus. Selain itu juga bisa disampaikan melalui orang-orang yang dikehendakiNya. Hal tersebut dilakukan karena kasihNya kepada manusia. Tuhan Allah berkenan melakukan hal yang demikian agar umatNya hidup kudus: “… supaya kita kudus dan tak bercacat dihadapan-Nya.” (Efesus 1:4).

Penutup
Hidup Kudus yang dikehendaki Tuhan Allah bisa diajarkan dalam keluarga. Setiap anggota keluarga mudah sekali melakukan suatu kesalahan. Namun, jika ada yang melakukan kesalahan di antara anggota keluarga seharusnya ada yang menegur atau mengingatkan seperti Amos dan Yohanes Pembaptis. Tuhan Allah berkenan memakai siapa saja untuk memberikan teguran kepada orang-orang yang dikasihiNya. Ia bisa memakai kita untuk menegur orang lain, sebaliknya Ia juga berkenan memakai orang lain untuk menegur kita. Sekalipun demikian teguran harus dilakukan berdasarkan kasih, bukan berdasarkan kebencian. Dengan saling menegur atau mengingatkan, setiap anggota keluarga bisa mengetahui dan menyadari kesalahan yang dilakukannya. Selanjutnya, bersama-sama mengupayakan untuk memperbaiki diri dengan saling membimbing dan menguatkan. Sehingga hidup kita semakin hari semakin berkenan kepadaNya. Oleh karena itu bersyukurlah jika ada orang yang menegur atau mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan. Amin. (hsw).

Pujian: KJ. 448 : 1 – 3 Alangkah Indahnya.

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Dipun engetaken karana nindakaken kalepatan punika pancen saged andadosaken saben tiyang rumaos lingsem lan sakit manahipun. Nadyan mekaten paweleh (teguran) dipun betahaken supados saben tiyang mangertos lan ngrumaosi kalepatan ingkang katindakaken. Ing saklejengipun wantun ngakeni kalepatanipun lan ngupadi boten mangsuli malih tumindakipun. Kanthi nampi paweleh saben tiyang sejatosipun nampi pitulungan tiyang sanes supados saged tumindak becik ing gesangipun. Nanging, ing kasunyatanipun boten kathah tiyang ingkang purun nampi paweleh punika. Malah, rumaos sakit manahipun, nepsu lan sengit tumrap tiyang ingkang paring paweleh. Inggih mekaten ingkang katindakaken dening Herodhes lan Herodhias, semahipun.

Isi
Nalika Herodhes mirengaken wicanten saking tiyang-tiyang ing sakiwa tengenipun bab punapa ingkang kawucalaken dening Gusti Yesus, Herodes kengetan dhumateng Yokanan Pambaptis. Herodhes remen mirengaken piwucalipun Yokanan. Malah inggih rumaos ering tumrap Yokanan ingkang kaanggep minangka tiyang ingkang mursid lan suci. Nanging, Herodhes ugi rumaos sakit manahipun tumrap Yokanan ingkang wantun melehaken Herodhes. Yokanan wantun tumindak mekaten karana Herodhes sampun nindakaken kalepatan. Herodhes ngrebat Herodhias, semahipun Filipus supados dados semahipun. Kamangka Filipus punika inggih saderekipun piyambak. Pawelehipun Yokanan saestu madhes sanget: “Boten kenging paduka mundhut garwa garwanipun sadherek paduka!” (Markus 6:18). Prekawis ingkang sami ugi katindakaken dening Amos ingkang melehaken Yerobeam, ingkang jumeneng Ratu ing Israel, bilih Gusti Allah badhe ngremuk bangsa Israel, brayatipun Yerobeam ugi kasirnakaken karana tumindakipun bangsa Israel ingkang ala (Amos 7:9). Paweleh punika pancen saged nyakitaken manah, nanging paweleh punika kedah dipun paringaken dhumateng tiyang ingkang nindakaken kalepatan. Pramila, Gusti Allah karenan ngagem sinten kemawon ingkang dipun kersakaken supados melehaken tiyang ingkang nindakaken kalepatan. Prekawis punika katindakaken supados tiyang ingkang dipun welehaken mangertos, bilih piyambakipun sampun nindakaken kalepatan lan kalepatan punika kedah dipun pungkasi. Emanipun, boten saben tiyang purun nilar tumindakipun ingkang lepat, nadyan cetha sanget sampun nindakaken kalepatan. Malah kosokwangsulipun tiyang ingkang paring paweleh dipun sengiti.

 Amos dipun sengiti dening Amazia, Imam ing Israel lan dipun tundhung saking Israel (Amos 7:12). Mekaten ugi Yokanan Pambaptis. Yokanan dipun kunjara lan dipun banda, lajeng dipun sedani kanthi cara ingkang nggegirisi. Mustakanipun dipun dekek cundhuk kaliyan panyuwunipun Herodhias, semahipun Herodhes lumantar anakipun. Herodhias nekat nyuwun ingkang mekaten punika karana rumaos gething sanget dhumateng Yokanan lajeng ngincim-incim tumrap Yokanan. Ing ngriki kita saged mangertosi kados pundi kawontenan brayatipun Herodhes. Herodhes lan Herodhias punika (pasangan suami-isteri) sami-sami boten remen nampi paweleh, nadyan sejatosipun sampun sakmesthinipun nampi paweleh karena tumindakipun. Herodhes lan Herodhias punika sami-sami boten purun ngrumaosi tumindakipun ingkang lepat, malah sarujuk nyedani Yokanan. Prekawis punika malah ngajak (melibatkan) anakipun. Ing ngriki anak punika dipun wucal lan dipun prentah dening ibunipun supados nyuwun pituwas saking ramanipun, saksampunipun nari ing pengetan ambal warsanipun Herodhes. Pituwas punika boten baen-baen, inggih punika nyuwun mustakanipun Yokanan Pambaptis (Markus 6:25). Lajeng Herodhes inggih namung nuruti kemawon panyuwunipun si anak karana sampun aprajanji dhumateng anak badhe maringaken punapa kemawon ingkang kasuwun dening anak. Punapa punika boten ateges tiyang sepuh sampun mucalaken tumrap anak supados tega tumindak ala?

Sikap lan tumindak ingkang boten migatosaken paweleh, lajeng rumaos sakit manahipun, malah nggadahi raos ngincim-incim tumrap tiyang ingkang paring paweleh sanes sikap lan tumindak ingkang nyondhongi kaliyan karsanipun Gusti Allah. Gusti Allah tansah ngengetaken umat kagunganipun supados boten nindakaken kalepatan. Lah menawi sampun nindakaken kalepatan ugi wantun ngakeni kalepatanipun. Pawelehipun Gusti Allah punika saged kemawon lumantar punapa ingkang sampun kita pirengaken, kados ingkang dipun alami dening Herodhes nalika mirengaken kesaksian tiyang sanes bab Gusti Yesus. Kejawi punika ugi saged kaparingaken lumantar saben tiyang ingkang dipun kersakaken. Prekawis punika katindakaken karana tresnanipun dhumateng manungsa. Gusti Allah karenan nindakaken kados mekaten supados umat kagunganipun gesang suci tanpa cacad wonten ing ngarsanipun Allah (Efesus 1:4).

Panutup
Gesang suci ingkang dipun kersakaken dening Gusti Allah saged kawucalaken ing satengahing brayat. Saben warganing brayat gampil kemawon nindakaken kalepatan. Nanging, menawi wonten ingkang nindakaken kalepatan ing antawising warganing brayat, kedahipun wonten ingkang melehaken utawi ngengetaken kados dene Amos lan Yokanan Pambaptis. Gusti Allah karenan ngagem sinten kemawon ingkang dipun kersakaken paring paweleh tumrap saben tiyang ingkang dipun tresnani. Panjenenganipun saged ngagem kita supados melehaken tiyang sanes, kosokwangsulipun Panjenenganipun ugi karenan ngagem tiyang sanes melehaken kita. Nadyan mekaten paweleh punika kedah katindakaken alandhesan katresnan, sanes adhedasar sengit. Kanthi sami melehaken saben warganing brayat saged mangertos lan ngrumaosi kalepatan ingkang katindakaken. Ing saklajengipun sesarengan ngupadi tumindak sae, tuntun-tinuntun lan kiyat-kiniyataken. Satemah gesang kita sansaya karenan ing ngarsanipun Gusti Allah. Pramila, kita perlu atur panuwun lan saos sokur menawi wonten sadherek ingkang melehaken nalika kita nindakaken kalepatan. Amin. (hsw).

Pamuji: KPJ. 320 : 1, 2 Kang Nuntun Laku Utama

Renungan Harian

Renungan Harian Anak