Khotbah Minggu 31 Juli 2016

MINGGU BIASA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Pengkhotbah 1 : 2, 12-14 ; 2 : 18-23.
Bacaan 2         : Kolose 3 : 1 – 11.
Bacaan 3         : Lukas 12 : 13 – 21.

Tema Liturgis  : Membangun Persekutuan Dengan Hikmat Allah.
Tema Khotbah: Belajar Menjadi Orang Yang Berhikmat.

 

Keterangan Bacaan.

Pengkhotbah 1 : 2, 12 – 14 ; 2 : 18 – 23.

Penulis kitab Pengkhotbah yang di Pengkh. 1 : 12 menyatakan sebagai raja Israel atas Yerusalem, berpikir bahwa di dunia ini ada banyak hal yang sia-sia. Dengan hikmat yang dimiliki, sang Pengkhotbah mengamati pekerjaan yang dilakukan manusia, dan ternyata itu  sia-sia. Jika seseorang telah meninggal dunia, maka apa yang dia pernah lakukan akan dinikmati oleh generasi sesudahnya.Kalau orang melakukan apapun hanya untuk dirinya sendiri, maka pada akhirnya dia akan merasa sia-sia.  Kalau begitu, untuk apa dia berlelah-lelah melakukan banyak hal jika akhirnya akan merasa sia-sia ?

Di ayat 22, 23 juga dijelaskan bahwa meskipun manusia memiliki berbagai keinginan, atau merasakan kesedihan yang luar biasa, itu akhirnya juga akan sia-sia. Demikian juga di saat orang merasa tidak tenteram, itupun sia-sia karena jika semuanya berakhir, maka rasa tidak tenteram itupun akan menjadi sia-sia.

 

Kolose 3 : 1 – 11.

Di Pasal 3 Rasul Paulus menekankan bahwa jemaat di Kolose sudah menjadi ciptaan baru didalam Tuhan Yesus (ayat 3). Sebagai ciptaan baru, sudah semestinya jika mereka juga memberlakukan cara hidup baru sebagaimana sudah diteladankan oleh Kristus. Dengan demikian orang tidak lagi hanya memikirkan hal-hal duniawi saja (apa yang dia inginkan), tetapi justru melakukan apa yang Kristus kehendaki (disebut dengan memikirkan hal-hal yang di atas).

Di ayat 5 – 7 Paulus menyebutkan berbagai perbuatan yang cenderung menuruti keinginan manusiawi atau disebut sebagai perbuatan manusia lama (sebelum mengenal Kristus). Dan Paulus mengatakan bahwa seharusnya semua perbuatan itu sudah berlalu. Dengan penebusan Kristus, maka manusia dimampukan untuk mengubah perilakunya sebagai manusia baru yang meneladani Kristus. Di ayat 8 – 10 Paulus juga menyebutkan berbagai perbuatan manusia baru. Untuk memberlakukan semua perbuatan manusia baru itu memang tidak ada perbedaan berdasarkan ras, suku bangsa, agama, status sosial, dll. Semua orang berhak diselamatkan oleh Kristus. Dan kepada mereka yang telah diselamatkan itu memang harus mengubah perilaku hidupnya dengan memberlakukan pola hidup manusia baru. Untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus, yaitu menjadi manusia baru, hal itu membutuhkan proses sepanjang hidup seseorang.

 

Lukas 12 : 13 – 21.

Ayat 13, 14 : menujukkan adanya orang yang bisa menjadi tidak rukun dengan saudaranya karena masalah harta, warisan. Seseorang menuntut pembagian warisan, sementara saudaranya tidak mau berbagi. Masing-masing orang menganggap bahwa harta warisan itu sedemikian pentingnya dalam hidupnya. Orang bisa menjadi tamak dan cenderung ingin menguasai seluruh hartanya. Itulah sebabnya lalu tidak mau berbagi.

Ayat 15 : Tuhan Yesus mengingatkan bahayanya ketamakan. Orang yang tamak akan menganggap bahwa harta adalah segalanya. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hidup jauh lebih berarti dari pada segala harta. Manusia tidak bisa menggantungkan hidupnya pada harta, tetapi hanya kepada Allah dan hidup pemberianNya. Orang yang menggantungkan hidupnya pada harta adalah orang bodoh.

Tuhan Yesus lalu menjelaskan pernyataannya itu dengan memberikan sebuah perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh di ayat 16 – 21.  Bagi orang kaya ini, harta hanya untuk memenuhi dan memuaskan dirinya sendiri baik di masa kini maupun masa yang akan datang. Dia beranggapan bahwa dengan hartanya dia akan bisa melakukan apapun. Dia lupa bahwa hidupnya jauh lebih penting dari segalanya. Sebanyak apapun hartanya, sebanyak apapun rencana untuk hari depannya, tetapi jika nyawanya diambil, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Segala harta dan rencananya menjadi sia-sia. Hal ini dikarenakan semasa hidupnya dia hanya berpikir bahwa semua hartanya adalah untuk dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak berpikir untuk berbagi atau untuk pekerjaan Tuhan.

Orang kaya di dunia saja belumlah cukup. Dia juga harus kaya di hadapan Allah. Caranya adalah dengan tidak menganggap bahwa harta adalah segalanya, melainkan Allah adalah segalanya. Hidup jauh lebih berarti dari segala harta. Dan hidup itu hanya pemberian Allah. Oleh karena itu, jika orang masih  dikaruniai hidup, dia harus bersyukur kepada Allah. Bukan harta yang mengatur hidup manusia, tetapi Allah yang mengaturnya. Karenanya, orang yang tamak adalah orang yang bodoh.

 

Benang merah 3 bacaan.

Orang yang berhikmat bukanlah orang yang kaya, tetapi orang yang menggantungkan hidupnya kepada Allah. Bergantung kepada Allah berarti tidak hidup untuk pemuasan diri sendiri, melainkan rela untuk hidup baru sesuai teladan Kristus.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia.

BAHAYA KETAMAKAN
(Nats : Luk. 12 : 15)

Pendahuluan.

Di dunia ini ada “penyakit” yang bisa menyerang siapa saja dan tidak mudah disembuhkan karena tidak ada obat atau dokternya. Penyakit apakah itu? Ketamakan! Di jaman sekarang jenis “penyakit” ini semakin tidak terasa merasuki kehidupan manusia. Orang yang tamak tidak pernah puas dengan kekayaan yang sudah dimilikinya. Dia ingin terus dan terus menambah kekayaannya. Semua harta itu hanya untuk pemenuhan keinginannya sendiri. Harta adalah segalanya. Dia beranggapan bahwa harta itulah yang menjamin kebahagiaan hidupnya. Dengan hartanya, dia beranggapan bisa meraih apapun yang diinginkan. Dan orang yang seperti ini tidaklah heran jika sulit untuk berbagi dengan sesama, termasuk berbagi warisan dengan saudaranya (seperti dalam perikop).

 

Isi.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh untuk menjelaskan bahaya ketamakan dalam hidup manusia. Ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan hal tersebut, yaitu :

  1. Setiap orang harus waspada terhadap bahaya ketamakan (ayat 15).
    Tuhan Yesus menggunakan kata-kata : “berjaga-jagalah dan waspadalah”. Artinya, ketamakan dalam hidup manusia tidak bisa dianggap remeh. Ini hal serius dan memerlukan perhatian khusus. Baik orang kaya maupun orang miskin, keduanya bisa terjangkit ketamakan. Ini harus selalu disadari. Ketika orang mulai berfikir bahwa segala yang dimiliki itu hanya untuk pemenuhan keinginanan pribadinya, maka dia sudah mulai terjangkit ketamakan. Demikian juga ketika orang ingin terus menambah kekayaannya tanpa pernah bersyukur, maka dia juga telah terjangkiti ketamakan.
  2. Hidup manusia tidak bergantung pada harta yang dimilikinya (ayat 15).
    Manusia boleh saja memiliki harta sebanyak apapun, tetapi harus tetap disadari bahwa kehidupannya itu tidak bergantung pada harta yang dimiliki. Hidup manusia itu milik Allah. Karenanya, manusia hanya bergantung pada Allah. Sebanyak apapun harta yang dimiliki, tetapi tidak akan bisa menambah usia seseorang barang sedetikpun. Adalah tidak bijak (atau dikatakan bodoh) jika orang mengandalkan kekayaannya.
  3. Manusia hanya bisa membuat rencana-rencana dalam hidupnya (ayat 18).
    Rencana-rencana untuk hari depan memang harus dibuat. Tetapi setiap orang juga haruslah menyerahkan segala rencana yang telah disusun kepada Tuhan agar boleh terlaksana sesuai rencanaNya. Dengan begitu orang akan tetap mengakui kemaha-kuasaan Tuhan dalam mengatur kehidupan kita. Manusia berencana, tetapi Tuhan yang menentukan sesuai kehendakNya.
  4. Tuhan adalah penentu kehidupan (ayat 20).
    Panjang – pendek usia seseorang bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimilikinya. Usia manusia ada di tangan Tuhan. Tuhanlah sang penentu kehidupan manusia. Jadi, jangan ada manusia yang menyombongkan diri.
  5. Harta bukan untuk dinikmati sendiri (ayat 21).
    Yang sering menjadi persoalan bagi orang yang berharta banyak adalah ketika dia tidak mau berbagi. Seperti perumpamaan orang kaya yang bodoh, dikisahkan oleh Tuhan Yesus betapa orang kaya ini bangga pada hartanya. Ayat 19 menjelaskan betapa orang kaya ini ingin memanjakan raganya dan juga jiwanya dengan kekayaan yang dimilikinya. Tak sedikitpun tebersit dalam pikirannya bahwa dia juga bisa berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Terlebih lagi, berbagi warisan dengan saudara kandungpun tentunya dia tidak akan mau. Pokoknya, semua kekayaan adalah untuk memanjakan dirinya dan segala keinginannya. Dia merasa layak menikmatinya dan sama sekali tidak berpikir kalau ada orang lain di sekitarnya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Dia berpikir bahwa banyaknya harta akan memberikan kebahagiaan baginya.
  6. Kaya di hadapan Allah itu lebih berarti dari pada kaya di dunia saja (ayat 21).
    Bagaimanakah kaya di hadapan Allah itu? Menurut Tuhan Yesus dalam perumpamaan itu, orang kaya yang bodoh itu memang kaya di dunia, tetapi miskin di hadapan Allah. Orang yang kaya di hadapan Allah adalah orang yang mau berbagi dengan sesamanya (meskipun dia tidak kaya), peduli dengan kesengsaraan sesamanya, dan jika punya banyak harta, maka itu tidak untuk dinikmati sendiri. Orang yang kaya di hadapan Allah mengakui bahwa kekayaan yang dimiliki itu berasal dari Tuhan, maka diapun siap menggunakannya seperti yang Tuhan kehendaki. Kekayaannya juga untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai wujud ucapan syukurnya atas berkat kekayaan yang diterimanya. Dengan demikian orang kaya yang seperti itu akan tetap rendah hati, jauh dari kesombongan dan ketamakan.

Ketamakan memang membahayakan. Orang yang tamak memang bukan orang berhikmat. Jika terjadi seperti perumpamaan orang kaya yang bodoh itu, bukankah akhirnya orang tersebut akan berpendapat bahwa hidupnya menjadi sia-sia. Untuk siapakah kekayaan yang sudah ditimbunnya? (lih.bacaan 1). Menurut Sang Pengkhotbah, orang seperti inilah yang disebut hidupnya sia-sia, karena meskipun dia kaya, tetapi kekayaannya hanya untuk dirinya sendiri. Dan ketika dia mati, maka dia tidak bisa menikmatinya lagi.

Menurut Rasul Paulus (bacaan 2), ketamakan termasuk dalam kehidupan lama. Orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus tentunya telah hidup baru, yang berarti tidak tamak, melainkan rela berbagi dengan sesama. Orang yang telah hidup baru di dalam Kristus tentunya mampu melihat harta yang dimiliki itu sebagai berkat Tuhan, oleh karenanya dia juga akan rela berbagi sebagai wujud rasa syukurnya kepada Tuhan. Dengan demikian maka kekayaan yang dimiliki tidak untuk dinikmati sendiri. Ini tidak akan sia-sia, karena ada pihak lain yang juga merasakan manfaat dari kekayaan yang dimilikinya. Inilah yang disebut sebagai orang yang kaya di hadapan Allah. Rela berbagi dengan sesama, karena merasa Allah telah terlebih dahulu berbagi dengan dirinya.

Penutup.

Bagaimana caranya supaya kita terhindar dari ketamakan? Dengan rela berbagi dengan sesama, dan tetap mengandalkan Tuhan dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, dan bukan mengandalkan hartanya. Artinya, tetap berkeyakinan bahwa Tuhanlah yang mengatur hidupnya, dan berusaha agar harta yang dimiliki juga bermanfaat untuk orang lain dan untuk kemuliaan nama Tuhan. Kekayaan seharusnya tidak untuk dinikmati sendiri.  Amin. (YM)

Nyanyian : KJ. 365b : 4, 5, 6.

RANCANGAN KHOTBAH :  Basa Jawi.

BAB BUDI KETHAHA (KETAMAKAN)
(Jejer : Luk. 12 : 15)

Bebuka.

Ing alam donya punika wonten satunggaling “penyakit” ingkang saged dipun alami sinten kemawon lan boten gampil kasarasaken awit boten wonten obat lan dokteripun. Penyakit punapa punika? Budi kethaha (ketamakan)! Ing jaman samangke wernining “penyakit” punika langkung kathah lan boten kraos lumebet ing pigesanganipun manungsa. Tiyang ingkang tamak boten nate puas ing bab kasugihannipun. Piyambakipun kepingin terus saged nambahi kasugihanipun. Sedaya kasugihan punika namung kangge nyekapi kabetahanipun piyambak.   Piyambakipun gadhah pamanggih bilih kasugihan punika ingkang saged paring karahayon wonten ing gesangipun. Kanthi kasugihanipun, piyambakipun gadhah pamanggih badhe saged nggayuh punapa kemawon ingkang dados pepinginanipun. Dene manungsa ingkang kados mekaten adatipun lajeng owel lan ewet kangge weweh dhateng sesami, kalebet andum warisan kaliyan sedherekipun (kados ingkang kaserat ing perikop).

 

Isi.

Gusti Yesus  paring pasemon ing bab wong sugih kang bodho kangge paring  pangertosan bilih ketamakan punika mbebayani ing gesangipun manungsa. Wonten sawetawis bab ingkang kedah kita gatosaken sesambetan kaliyan prekawis kalawau, ing antawisipun :

  1. Saben tiyang kedah ngatos-atos, sampun ngantos dhawah ing bab ketamakan (ayat 15).
    Gusti Yesus ngagem ukara : “sing padha awas”. Tegesipun, bab ketamakan ing gesanging manungsa boten saged karemehaken / dipun anggep sepele. Punika prekawis ingkang wigati lan mbetahaken kawigatosan ingkang mirunggan. Sae tumrap tiyang sugih, mekaten ugi tumrap tiyang sekeng, kekalihipun saged ngalami ketamakan. Punika kedah tansah dipun sadhari. Nalika manungsa wiwit mikir bilih sedaya gadhahanipun punika namung kangge nyekapi pepinginanipun pyambak, lah estunipun tiyang kalawau sampun kataman ketamakan. Mekaten ugi menawi wonten tiyang ingkang kepingin tansah nambahi kasugihanipun lan boten nate saos sokur, tiyang kalawau ugi sampun kataman ing ketamakan.
  2. Gesanging manungsa boten gumantung ing kasugihanipun (ayat 15).
    Manungsa saged kemawon gadhah kasugihan ingkang kathah sanget, nanging kedah tansah enget bilih gesangipun boten gumantung ing kasugihanipun. Gesangipun manungsa punika kagunganipun Gusti. Pramila, manungsa namung gumantung dhateng Allah. Senadyan gadhah kasugihan ingkang kathah, nanging boten badhe saged nambah umuripun senadyan namung sadhetik. Estunipun sanes tiyang ingkang wicaksana (utawi kasebut tiyang bodho) menawi tiyang kalawau ngandelaken kasugihanipun.
  3. Manungsa namung saged damel rancangan-rancangan wonten ing gesangipun (ayat 18).
    Rancangan-rancangan kangge dinten ngajeng pancen kedah kacawisaken dening saben tiyang. Ananging, saben tiyang ugi kedah masrahaken rancanganipun ing ngarsanipun Gusti supados saged kaleksanan miturut ing pangrehipun Gusti. Kanthi mekaten tiyang kalawau badhe tansah ngakeni panguwaosipun Gusti ingkang nata gesang kita. Manungsa damel rancangan, nanging Gusti ingkang nemtokaken miturut ing karsanipun.
  4. Gusti Allah punika ingkang nemtokaken gesang (ayat 20).
    Panjang – cekak yuswanipun manungsa boten katemtokaken ing sepinten kasugihanipun. Yuswanipun  manungsa wonten ing astanipun Gusti. Inggih namung Gusti piyambak ingkang nemtokaken gesanging manungsa. Pramila, sampun ngantos wonten manungsa ingkang gumunggung.
  5. Kasugihan boten namung kangge nyekapi kabetahan pribadi (ayat 21).
    Ingkang asring dados sandhungan tumrap tiyang sugih inggih punika menawi tiyang kalawau boten purun weweh. Kados dene pasemon bab wong sugih kang bodho, kacariyosaken dening Gusti Yesus bilih tiyang sugih kalawau saestu mongkog ing bab kasugihanipun. Ayat 19 mratelakaken bilih tiyang sugih kalawau nguja hawa raga lan kasukmanipun ing bab kasugihan ingkang dipun gadhahi. Piyambakipun boten menggalih babar pindhah menawi saged weweh dhateng sesaminipun ingkang mbetahaken. Langkung-langkung kangge andum warisan kaliyan sedherekipun tamtu ugi boten badhe purun. Ingkang cetha, sedaya kasugihanipun namung kangge nguja badanipun lan pepinginanipun. Piyambakipun rumaos sampun pantes kangge ngraosaken kabingahan, lan boten menggalih bilih ing sakiwa-tengenipun wonten tiyang sanes ingkang kacingkrangan lan mbetahaken pitulungan. Piyambakipun namung mikir bilih kathahipun kasugihan punika ingkang badhe paring karahayon ing gesangipun.
  6. Sugih ing ngarsanipun Gusti punika langkung utami tinimbang namung sugih ing alam donya kemawon (ayat 21).
    Kados pundi ingkang dipun wastani sugih ing ngarsaning Allah? Miturut Gusti Yesus ing pasemon punika, tiyang sugih ingkang bodho kalawau pancen sugih ing ndonya nanging kacingkrangan ing ngarsanipun Allah. Tiyang ingkang sugih ing ngarsanipun Allah inggih punika tiyang ingkang purun weweh dhateng sesami (senadyan piyambakipun boten sugih), gadhah kepedhulian dhateng sesami ingkang kacingkrangan, lan menawi gadhah kasugihan inggih boten kangge dhirinipun piyambak. Tiyang sugih ing ngarsanipun Allah punika ngakeni bilih kasugihan punika asalipun inggih saking Allah, punika peparing, pramila ugi kaginakaken miturut ing pangrehipun Gusti. kasugihanipun ugi kangge ngabdi ing Gusti minangka wujud raos sokur awit saking berkah kasugihan ingkang sampun katampi. Kanthi mekaten, tiyang sugih punika badhe tansah andhap asor, tebih saking raos gumunggung lan ketamakan.

Ketamakan saestu mbebayani. Manungsa ingkang tamak pancen sanes manungsa ingkang wicaksana. Menawi kedadosan kados dene wong sugih kang bodho, punapa wusananipun boten badhe ngucap bilih gesangipun punika nglaha. Lajeng, kangge sinten kasugihan ingkang sampun kakempalaken? (waosan 1). Miturut Sang Kohelet, manungsa ingkang kados mekaten kalawau dipun wastani gesang ingkang nglaha, senadyan sugih, nanging kasugihanipun namung kangge dhiri pribadinipun. Nalika piyambakipun pejah, boten saged ngraosaken kasugihanipun malih.

Miturut Rasul Paulus (waosan 2), ketamakan punika kalebet ing pigesangan ingkang lami. Manungsa ingkang sampun kawilujengaken dening Gusti Yesus tamtunipun sampun gesang enggal, ingkang ateges boten tamak, ananging purun weweh dhateng sesaminipun. Manungsa ingkang sampun gesang enggal ing Sang Kristus tamtu ugi saged mangertosi bilih kasugihanipun punika minangka berkahipun Gusti, pramila piyambakipun ugi purun weweh dhateng sesami minangka saos sokuripun dhumateng Gusti. Kanthi mekaten, kasugihanipun boten namung kangge dhiri pribadinipun. Kawontenan punika boten badhe nglaha, awit wonten pihak sanes ingkang ugi ngraosaken bilih  kasugihanipun punika migunani ing gesangipun. Inggih punika ingkang dipun wastani wong sugih ing ngarsanipun Gusti. Purun weweh dhateng sesami, awit ngrumaosi bilih Allah sampun langkung rumiyin peparing dhateng piyambakipun.

Panutup .

Kados  pundi supados kita sami uwal saking ketamakan? Kanthi purun weweh dhateng sesami, lan tansah ngandelaken Gusti sarta tansah gumantung ing Panjenenganipun, lan boten ngandelaken kasugihan. Wosipun, tansah gadhah kapitadosan bilih namung Gusti piyambak ingkang mranata gesangipun, lan tansah mbudidaya supados kasugihan kita ugi saged migunani tumrap tiyang sanes lan kagem kaluhuran Asnamipun Gusti. Kasugihan kedahipun boten namung kangge dhirinipun pribadi. Amin.  (YM)

Pamuji : KPK 62 : 1, 3, 4.

 

Bagikan Entri Ini: