Khotbah Minggu 24 Juli 2016

PENUTUPAN BULAN KELUARGA
STOLA PUTIH

 

Bacaan  1        :  Kejadian 18: 20-32
Bacaan  2        :  Kolose 2: 6-15
Bacaan  3        :  Lukas 11: 1-13

Mazmur          :  Mazmur 138: 1-8

Tema Liturgis  : Keluarga Kristen yang Melayani.
Tema Minggu : Doa sebagai pelayanan.

Keterangan Bacaan

Kejadian 18: 20-32
Dalam bagian ini kita menemukan suatu teologi yang cukup berkembang yang ditampilkan melalui percakapan singkat antara Tuhan dan Abraham. Pada percakapan pertama (ay. 17-18) Tuhan memberitahu Abraham perihal pengadilan atas Sodom. Maksud dan tindakan Allah, yang sebelumnya tersembunyi, kini diberitahukan kepada Abraham, orang yang dipilih, agar ia dapat mengajar keturunannya tentang keadilan Allah. Jadi, penghancuran Sodom mempunyai makna peringatan istimewa bagi generasi mendatang.

Percakapan kedua ditandai tawar-menawar orang Timur yang cukup menarik. Walau kelihatannya seperti main-main, tetapi yang mau disampaikan sangatlah serius. Masalahnya menyangkut keadilan. Apakah adil memusnahkan orang yang tak bersalah, walau hanya sedikit, bersama-sama dengan banyak orang yang bersalah? Apakah orang-orang yang tak bersalah cukup berarti untuk mencegah penghancuran orang-orang jahat? Ketegangan dalam pembicaraan itu tercipta karena Abraham, yang menaruh hormat kepada Tuhan, berani berdebat dan mendesak Tuhan. ia dengan terang-terangan mencoba untuk memperkecil jumlah orang benar yang diperlukan untuk menyelamatkan kota itu. Di situ yang terungkap bukan hanya kesabaran Allah untuk berdialog, tetapi juga hasratNya yang besar untuk membatalkan hukuman demi orang benar yang hanya sedikit.

 

Kolose 2: 6-15
Jemaat Kolose dinasehati oleh penulis surat ini untuk berakar di dalam Kristus, membangun diri dan tumbuh kuat dalam iman dan berlimpah dengan syukur. Mereka dinasehati supaya waspada terhadap siapapun yang berusaha menawan mereka dengan hikmat palsu dan tipuan kosong yang muncul dari tradisi manusia, hikmat yang berdasar pada unsur-unsur kosmis dan bukan berdasar pada diri Kristus.

Nasehat-nasehat ini diberikan mengingat bahwa Allah “telah membangkitkan Dia dari orang mati” (ayat 12). Dengan kematian dan kebangkitanNya, mereka telah disunat dengan sunat Kristus melalui baptisan. Dengan baptisan itu, Allah telah memakukan pelanggaran mereka pada kayu salib Kristus. Dengan demikian, hutang rohani karena pelanggaran dosa mereka telah dihapuskan.

 

Lukas 11: 1-13
Menjawab pertanyaan para murid, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Di sini latar belakangnya adalah kesempatan doa. Struktur dan isi doa yang lebih singkat dibandingkan dengan tulisan Matius ini, mencerminkan ajaran asli dari Yesus. Sedangkan teks Matius merupakan penyesuaian untuk penggunaan liturgi. Doa ajaranNya mulai dengan penyebutan khas Yesus kepada Allah sebagai Bapa, dan terlebih dulu bagi pemuliaan nama Allah dan pemberlakuan KerajaanNya. Setelah itu, beralih pada permohonan kebutuhan para murid: perlindungan dan berkat terus-menerus dari Bapa dan pengampunan Tuhan bagi kita seperti pengampunan kita terhadap orang lain.

Cerita mengenai kunjungan di waktu malam dan ucapan-ucapan yang mengikutinya merupakan anjuran tegas untuk bertahan dalam doa. Allah selalu menjawab doa kita dengan jalan yang terbaik bagi kita, meskipun mungkin tidak dengan jalan yang kita harapkan atau kita sukai. Contoh yang menarik dari sahabat yang tidur serta ayah yang tidak akan memberikan ular atau kalajengking kepada anaknya, menghilangkan bayangan salah mengenai Bapa di sorga yang keras dan kejam. “Mintalah…, carilah…., ketuklah…” adalah tiga ungkapan yang berbeda dari gambaran doa permohonan. Tetapi “mencari” melingkupi juga mencari kerajaan Allah dan persatuan dengan Bapa.

Benang Merah 3 Bacaan
Bacaan 1 dan 3 menggambarkan doa yang serius, walaupun simpel. Doa merupakan komunikasi yang intens dengan Tuhan yang mesti terjadi dalam hidup yang berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia yang disebut dalam bacaan 2.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan
Doa dianalogikan sebagai nasfas hidup orang beriman. Maksudnya bahwa doa itu harus dilakukan terus-menerus sebagai tanda bukti hidupnya iman seseorang. Kita semua tentu melakukan seperti itu, terus-menerus atau rajin melakukan doa sebagai nafas iman kita. Tetapi sekarang mari kita perhatikan dengan seksama bagaimana bernafas yang normal itu. Silahkan memperhatikan nafas sendiri-sendiri, bukan nafasnya orang lain! (Diam sejenak untuk memberi kesempatan umat memperhatikan nafasnya sendiri-sendiri!)

Bagaimana bernafas yang normal itu? Silahkan jika ada yang mau menjawab! (Biarkan dan hargai jawaban umat!) Ternyata bernafas itu sangat simpel, sederhana, yaitu tinggal menghirup sedikit dan menghembuskan sedikit, tidak menghirup banyak lalu menghembuskan banyak. Bernafas itu tanpa mencari-cari, tanpa tenaga, tanpa mengolahnya, tanpa alat selain hidung. Bernafas itu sangat berbeda dengan makan. Makan membutuhkan tenaga untuk mencari, menyiapkan, mengambil dengan alat (sendok atau tangan), mengunyahnya, menelan. Bernafas itu sangat simpel. Berdoa itu berarti juga sangat simpel.

Memang kadang-kadang bernafas itu terengah-engah karena sedang menggapai sesuatu yang berat. Atau kadang bernafas itu begitu berat, sesak, karena sedang sakit. Jadi kalau ada orang yang doanya tidak simpel, sampai teriak-teriak, kira-kira orang itu sangat ambisius mendapatkan sesuatu yang besar dan banyak. Tapi kalau ada orang yang doanya terputus-putus sambil nangis, itu kira-kira sedang ada pergumulan yang berat (sakit rohani atau hatinya). Harusnya doa itu, sebagaimana bernafas, simpel saja.

 

Isi
Dalam Injil Lukas 11 diajarkan doa yang sangat simpel (sederhana), Doa Bapa Kami, terutama jika dibandingkan dengan yang terdapat dalam Injil Matius. Di sini hanya disebutkan 3 permohonan singkat untuk diri sendiri: “Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya”, “ampunilah kami akan dosa kami” dan “janganlah membawa ke dalam pencobaan”. Sangat simpel. Itu menunjukkan bahwa permohonan yang kita sampaikan untuk diri sendiri, cukup simpel saja, tidak usah njlimet seolah-olah mengatur Tuhan.

Mengapa cukup simpel saja? Sebab yang terpenting di dalam doa adalah keyakinan akan besarnya kasih sayang Bapa kepada kita, bukan detail atau panjangnya atau mantapnya kata-kata doa. Doa tanpa keyakinan yang teguh terhadap besarnya kasih sayang Bapa adalah sia-sia. Allah Bapa kita itu sangat mengasihi dan menyayangi kita. Karena kasih sayangNya itu Dia pasti memberikan apa yang menjadi kebutuhan kita, anak-anakNya. Kalau kita saja tahu memberikan yang baik kepada anak-anak kita, apalagi Dia yang adalah Allah yang sempurna. Dia pasti memberikan yang terbaik.

Dengan gambaran tentang sahabat yang bertamu di malam hari itu, kita diajari untuk tidak pernah bosan berdoa, untuk terus berkomunikasi dengan Allah Bapa kita. Itulah yang diajarkan oleh penulis surat Kolose dengan istilah “hidup tetap di dalam Dia.” (Kol. 2: 6) Dengan dan dalam komunikasi dengan Dia, kita berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Berakar di dalam Dia berarti mencari makan dari kasih sayangNya dan berpegang teguh pada iman kepadaNya. Dengan dan di dalam doa kita menikmati rengkuhan kasih sayangNya.

Karena menikmati kasih sayangNya, hati kita mestinya melimpah dengan syukur di dalam doa dan dalam sepenuh kehidupan. Bersyukur adalah sikap yang sangat penting di dalam doa. Bersyukur atas orangtua, atas suami, isteri, anak, sahabat, atas para petani, nelayan, peternak, atas para pedagang, pengusaha, dll. Orang yang paling banyak bersyukurlah yang paling diberi berkat oleh Tuhan, bukan orang yang paling banyak meminta.

Bacaan 1 hari ini menunjukkan suatu komunikasi atau percakapan yang sangat menarik antara Tuhan dengan Abraham. Terjadi tawar-menawar antara Tuhan dan Abraham. Abraham memohon dengan sangat, mendesak Tuhan supaya tidak membinasakan Sodom dan Gomora. Itu menunjukkan doa Abraham yang sangat peduli terhadap keselamatan orang-orang lain. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri, bukan “yang penting dirinya aman dan selamat.” Dia berdoa dan meminta dengan sangat untuk keselamatan orang lain.

 

Penutup
Doa adalah salah satu pelayanan yang dapat dilakukan oleh keluarga. Doa –pribadi atau dalam keluarga- adalah pelayanan yang dapat dilakukan secara terus-menerus, tidak perlu menunggu program atau apalagi anggaran. Doa itu simpel dan sangat mudah dilakukan. Doa itu sangat penting dan bahkan fital untuk dilakukan, juga untuk pelayanan. Tetapi apakah doa kita benar-benar sudah menjadi pelayanan pribadi atau keluarga kita untuk orang lain, untuk gereja, untuk bangsa kita?

Kalau doa kita itu benar-benar untuk pelayanan, maka isi doa itu tidak hanya untuk keperluan pribadi atau keluarga kita. Harusnya secara rutin atau periodik ada doa untuk sahabat, tetangga, rekan kerja, gereja beserta program dan pengurusnya, untuk pemerintah dan rakyat. Akan sangat baik jika pokok-pokok doa harian itu terjadwal dalam seminggu. Misalnya: Senin berdoa untuk pekerjaan/ study dan rekan kerja, Selasa untuk sahabat/ tetangga, Rabu untuk Gereja, Kamis untuk pemerintah dan bangsa, Jumat untuk orang-orang sakit dan berduka, Sabtu untuk para pelayan ibadah Minggu, dan Minggu untuk keluarga/ sanak famili. Doakanlah mereka semua secara rutin! Jangan hanya protes atau mengeluh atas mereka! (Akan sangat baik jika setiap keluarga dalam ibadah ini diberi fotokopian jadwal/ pokok-pokok doa harian, seperti terlampir di bawah Rancangan Khotbah ini, untuk ditempel di dekat tempat doa harian pribadi/ keluarga) Kegiatan Bulan Keluarga GKJW 2016 sudah usai, bubar. Tetapi jangan pernah ada keluarga yang bubar. Mari kita teruskan pelayanan melalui doa keluarga. Amin. [st]

 

Nyanyian: KJ 452: 1, 2 / 453, Kid. Kontekstual 143.

 

JADWAL POKOK-POKOK DOA HARIAN

MINGGU SENIN SELASA RABU
– Keluarga

– Sanak saudara

– Darurat

–  Pekerjaan/ study

–  Rekan kerja

–  Darurat

–  Sahabat

–  Tetangga

–  Darurat

–  Program Greja

–  Pengurus Greja

–  Darurat

KAMIS JUMAT SABTU
– Pemerintah

– Rakyat menderita

– Darurat

–  Orang sakit

–  Orang berduka

–  Darurat

–  Para pelayan Ibadah Minggu

–  Darurat

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka
Pandonga kaibarataken kados ambeganing tiyang pitados. Tegesipun, pandonga menika katindakaken tanpa kendhat minangka tandha yekti gesanging kapitadosan. Kita sedaya tamtu sampun kulina ndedonga, malah kedahipun tanpa kendhat utawi sregep minangka ambeganing iman kita. Nanging samangke mangga kita gatosaken kanthi permana kados pundi ambegan ingkang limrah menika! Mangga dipun gatosaken ambeganipun piyambak-piyambak, sanes ambeganipun tiyang sanes! (Kendel sawatawis ngaturi wekdal dhateng umat kangge nggatosaken ambeganipun piyambak-piyambak)

Kados pundi ambegan ingkang limrah, ingkang normal? Mangga yen wonten ingkang paring wangsulan! (Katampia lan ajenana wangsulanipun umat!) Jebul ambegan menika prasaja sanget, nggih, namung kantun nyedhot lan ngedalaken hawa sekedhik, boten perlu nyedhot ingkang kathah. Ambegan katindakaken tanpa pados-pados, tanpa tenaga, boten prelu kaolah, boten perlu sarana/ alat kejawi namung irung. Ambegan menika benten sanget kaliyan nedha. Nedha menika mbetahaken tenaga kangge ngupadi, nyawisaken, mendhet mawi alat (sendhok utawi asta), mamah lan ngulu. Ambegan menika simpel, prasaja sanget. Menika ateges ndedonga ugi prekawis ingkang simpel.

Pancen ambegan menika kadhang kala ngantos ngos-ngosan karana kepengin sanget nggayuh satunggaling perkawis ingkang ageng sanget. Kadhang ambegan menika ugi awrat sanget, seseg, karana saweg nandhang sakit. Dados, yen wonten tiyang ingkang donganipun boten prasaja, malah ngantos bengok-bengok, kinten-kinten tiyang menika ambisius (kepengin sanget) pikantuk perkawis ingkang ageng lan kathah sanget. Ning yen wonten tiyang ingkang donganipun pedhot-pedhot kaliyan muwun, kinten-kinten tiyang menika saweg nyanggi momotaning gesang ingkang awrat sanget (sakit karohanen utawi manahipun). Pandonga menika kedahipun prasaja kemawon, kados dene ambegan limrah.

Isi
Ing Injil Lukas 11 kawulangaken donga ingkang prasaja sanget, Donga Rama Kawula, langkung-langkung menawi kabandhingaken kaliyan ingkang kaserat ing Injil Mateus. Ing ngriki kasebataken tigang panyuwun cekak kangge kabetahaning dhiri pribadi: “Kaparingana kawula saben dinten rejeki sacekapipun”, “mugi ngapunten dosa kawula”, lan “mugi sampun nandukaken kawula dhateng panggodha”. Saestu prasaja sanget. Menika nedahaken bilih panyuwun ingkang kita aturaken kangge dhiri kita piyambak menika sekap prasaja kemawon, boten prelu njlimet, kados ndhikte Gusti Allah.

Kenging menapa kok cekap prasaja kemawon? Awit ingkang langkung wigatos ing salebeting pendonga nggih menika kayakinan tumrap agunging sih katresnanipun Allah Rama dhateng kita, sanes ndakik-ndkik lan panjanging tetembungan utawi antebing swanten donga. Pandonga tanpa kayakinan ingkang teguh tumrap sih katresnanipun Rama menika muspra, tanpa gina. Gusti Alla Rama menika sanget nresnani kita selaku para putranipun. Awit saking sih katresnanipun menika Panjenganipun mesthi maringi menapa ingkang dados kabetahan kita. Yen kita manungsa dosa kemawon purun maringaken ingkang sae dhateng anak-anak kita, menapa malih Panjenenganipun, Gusti Allah Rama ingkang sampurna. Panjenenganipun mesthi maringi ingkang sae sanget.

Kanthi gegambaran bab mitra (rencang) ingkang mertamu ing wanci dalu, kita dipun wulang supados boten bosen, aras-arasen, utawi kendel ndedonga, supados kita tansah sesambetan kaliyan Gusti Allah Rama kita. Ugi menika ingkang dipun wulangaken ing serat Kolose kanthi tembung “nunggal karo Panjenengane”. (Kol. 2: 6) Kanthi lan ing salebeting sesambetan raket (ing pandonga) kaliyan Gusti kita ngoyod ing Sang Kristus lan kawangun dhedhasar Panjenenganipun. Ngoyod ing Sang Kristus tegesipun ngupadi tedhan saking sih katresnanipun lan ngugemi iman kapitadosan dhumateng Sang Kristus. Kanthi lan ing salebeting pandonga kita saged ngraosaken pangrengkuhipun Gusti ingkang kebak sih katresnan.

Karana nampeni lan ngraosaken ecaning sih katresnanipun Gusti, manah kita kita mesthinipun luber ing panuwun sukur ing salebeting pandonga lan ing sawetahing pigesangan. Saos sukur menika wigatos sanget ing salebeting pandonga. Saos sukur atas tiyang sepuh, atas semah, anak, mitra/ rencang, atas para petani, nelayan, peternak, atas para dagang, pengusaha, lsp. Tiyang ingkang langkung kathah panuwun sukuripun ingkang paling kathah binerkahan dening Gusti, sanes tiyang ingkang kathah panyuwunipun.

Waosan kita saking Purwaning Dumadi 18 nedahaken satunggaling wawan pangandika ingkang ngeramaken antawisipun Gusti Allah kaliyan bapa Abraham. Wonten nyang-nyangan antawisipun Gusti Allah lan bapa Abraham. Bapa Abraham nyuwun kanthi adreng supados Gusti Allah murungaken paukumanipun dhateng Sodom. Menika nedahaken pandonganipun bapa Abraham ingkang nggatosaken lan nyuwunaken kawilujengan kangge tiyang sanes. Bapa Abraham boten mikiraken dhiri pribadinipun, sanes “sing penting aku slamet”. Bapa Abraham ndedonga lan nyuwun kanthi sanget kagem karaharjaning tiyang sanes.

Panutup
Pandonga menika salah satunggaling peladosan ingkang saged dipun tindakaken dening kulawarga. Pandonga –pribadi utawi sesarengan lan brayat- menika peladosan ingkang saged katindakaken tanpa kendhat, boten prelu nengga program utawi rancangan, menapa malih anggaran bea. Pandonga menika prasaja lan gampil sanget katindakaken. Pandonga menika penting sanget lan malah fital katindakaken, ugi kagem peladosan. Nanging menapa pandonga kita estu-estu sampun dados peladosan pribadi utawi kulawarga kita kagem tiyang sanes, kagem greja, nusa lan bangsa?

Menawi pandonga kita estu-estu kagem peladosan, mesthi isining pandonga menika boten namung kagem kaperluan pribadi utawi kulawarga kita piyambak. Kedahipun sacara ajeg saben seminggu sepisan wonten pandonga kagem rencang, tanggi tepalih, rencang damel, kagem greja kaliyan rancangan lan pengurusipun, kagem pamarentah lan rakyat. Badhe saestu prayogi menawi ricikaning pandonga padintenan menika kaserat dados jadwal ing salebeting seminggu. Upaminipun: Senin kagem padamelan/ pasinaon lan rencang damel, Selasa kagem mitra lan tetanggi, Rebo kagem greja, Kemis kagem pamarentah lan bangsa, Jumat kagem tiyang-tiyang sakit lan kasisahan, Sabtu kagem para pelados pangibadah Minggu, lan Minggu kagem kulawarga lan sanak kadang. Prayogi kita dongakaken sedayanipun kanthi ajeg! Sampun pijer nutuh (protes) utawi ngrasani kemawon. (Badhe prayogi sanget menawi saben kulawarga ing pangibadah menika dipun aturi potokopian Jadwal Doa Harian supados dipun templekaken ing celaking papan pandonga pribadi/ kulawarga) Kegiatan Bulan Keluarga GKJW 2016 sampun rampung, bubar. Nanging sampun ngantos kulawarga ingkang bubar! Mangga kita lajengaken peladosan kita lumantar pandonga kulawarga. Amin. [st]

Pamuji: KPK 25: 1, 3 / 166: 1-3 / 168: 1, 2, Kid. Kontekstual 143.

 

Bagikan Entri Ini: