Membangun Iman melalui Penderitaan dan Kepasrahan Khotbah Minggu 30 Agustus 2026

17 August 2026

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Pembangunan
Stola Hijau

Bacaan 1: Yeremia 15 : 15 – 21
Mazmur: Mazmur 26 : 1 – 8
Bacaan 2: Roma 12 : 9 – 21
Bacaan 3: Matius 16 : 21 – 28

Tema Liturgis: Membangun Iman dan Pengharapan di Tengah Krisis
Tema Khotbah: Membangun Iman melalui Penderitaan dan Kepasrahan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 15 : 15 – 21
Latar belakang kitab Yeremia didasarkan pada sejarah krisis besar bangsa Yehuda menjelang dan selama pembuangan ke Babel, ketika ketidaksetiaan umat kepada perjanjian dengan Allah mencapai puncaknya melalui penyembahan berhala, ketidakadilan sosial, dan kemunafikan religius. Teks ini dikaitkan dengan nabi Yeremia, seorang imam dari Anatot, yang dipanggil Allah sejak muda untuk menyampaikan firman yang keras namun penuh kasih, dengan pelayanan yang berlangsung sekitar akhir abad ke-7 hingga awal abad ke-6 SM, terutama pada masa pemerintahan raja Yosia sampai runtuhnya Yerusalem pada tahun 586 SM.

Pesan umum kitab Yeremia menegaskan keadilan dan kekudusan Allah yang menghukum dosa, tetapi sekaligus menyatakan belas kasih dan pengharapan akan pemulihan melalui pertobatan dan perjanjian yang baru. Secara khusus, Yeremia 15:15–21 menampilkan pergumulan batin sang nabi yang jujur dan personal, ketika ia mengadu kepada Allah tentang penderitaan, penolakan, dan kesendirian yang ia alami karena ketaatannya pada panggilan kenabian. Dalam doa ratapan ini, Yeremia memohon pembelaan dan penguatan, sementara Allah meneguhkan kembali panggilannya, menuntut kesetiaan tanpa kompromi, serta menjanjikan penyertaan dan perlindungan ilahi, sehingga bagian ini menegaskan bahwa kesetiaan pada firman Allah sering membawa penderitaan, namun tetap disertai janji pemulihan dan kekuatan dari Tuhan. Secara khusus perikop ini memperlihatkan dialog batin antara penderitaan manusia dan panggilan ilahi. Yeremia merasa terluka, terasing, dan dianiaya karena kesetiaannya menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang keras kepala. Namun di balik ratapan itu, teks Yeremia 15:15–21 menegaskan makna mendalam tentang relasi nabi dengan Allah: penderitaan bukan tanda penolakan Allah, melainkan konsekuensi dari ketaatan. Pesan utamanya: Allah tidak menolak kejujuran ratapan hamba-Nya, tetapi sekaligus menuntut kesetiaan yang murni dan keteguhan hati.

Yeremia 15:15 berisi doa permohonan Yeremia agar Allah mengingat dan membelanya dari para penganiaya, serta menegaskan ketergantungan total Yeremia pada keadilan Tuhan. Ayat 16 menggambarkan sukacita rohani Yeremia saat menerima firman Tuhan, yang menjadi sumber kekuatan dan identitas hidupnya. Ayat 17 menyingkapkan kesendirian sosial nabi, karena ketaatannya, memisahkan dia dari kegembiraan umum bangsa yang hidup dalam dosa. Ayat 18 merupakan puncak keluhannya, ketika Yeremia mempertanyakan mengapa penderitaannya terasa berkepanjangan dan seolah-olah Allah diam. Di ayat 19, Allah menegur sekaligus memulihkan Yeremia, menuntut pertobatan batin dan kesetiaannya tanpa kompromi, serta menegaskan kembali otoritas kenabiannya. Ayat 20–21 berisi janji perlindungan ilahi: Yeremia akan menjadi “tembok tembaga” yang kuat, dan Allah sendiri akan menyelamatkan serta melepaskannya dari tangan orang fasik. Dengan demikian, perikop ini menegaskan bahwa Allah setia menopang hamba-Nya yang setia, sekalipun harus berjalan melalui penderitaan dan penolakan. Allah mengundang Yeremia untuk kembali berdiri teguh dalam panggilannya dan menjanjikan perlindungan serta pemulihan. Dari perikop Yeremia 15:15-21, kita belajar bahwa pelayanan yang sejati sering kali mahal harganya, namun selalu berada dalam lingkup penyertaan dan kuasa Allah.

Roma 12 : 9 – 21
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57 M di Korintus, pada akhir perjalanan misinya yang ketiga, kepada Jemaat Kristen di Roma yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Latar belakang surat ini adalah kerinduan Paulus untuk menegaskan dasar iman Kristen yang benar di tengah jemaat yang beragam latar belakang budaya dan teologis, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi komunitas Kristen yang dewasa dan bersatu. Secara umum, pesan Surat Roma menekankan kebenaran tentang keselamatan oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus Kristus, yang membawa pembenaran, pembaruan hidup, dan panggilan etis bagi orang percaya. Roma 12 menandai peralihan penting dari ajaran doktrinal (Roma 1–11) menuju nasihat praktis, yakni bagaimana iman yang benar harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam relasi dengan sesama dan sikap menghadapi kejahatan.

Roma 12:9–21 secara khusus berisi ajaran etika Kristen yang sangat konkret dan radikal, berfokus pada kasih yang sejati, tanpa kepura-puraan. Isi bagian ini menegaskan bahwa kasih Kristen bukan sekadar perasaan, melainkan sikap hidup yang aktif, penuh pengorbanan, dan berakar pada teladan Kristus. Maknanya, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kasih yang tulus, rendah hati, dan penuh damai, bahkan di tengah konflik dan penindasan. Pesan utama yang disampaikan Paulus adalah hidup orang Kristen harus menjadi kesaksian nyata tentang kasih Allah, terutama melalui respons terhadap kejahatan yang tidak dibalas dengan kebencian, melainkan dengan kebaikan. Dengan demikian, bagian ini mengajak jemaat untuk menampilkan iman yang transformatif, yang mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sosial.

Roma 12:9 menekankan kasih yang tulus dan sikap membenci kejahatan serta berpegang pada kebaikan. Ayat 10–11 mengajarkan kasih persaudaraan, saling menghormati, dan kesungguhan dalam melayani Tuhan. Ayat 12 mendorong jemaat untuk tetap bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam penderitaan, dan setia dalam doa. Ayat 13–15 menekankan solidaritas, keramahtamahan, empati, serta kemampuan bersukacita dan menangis bersama sesama. Ayat 16 mengajak hidup dalam kerendahan hati dan keselarasan. Ayat 17–18 melarang pembalasan dan menegaskan panggilan untuk hidup damai dengan semua orang. Ayat 19–21 menegaskan bahwa pembalasan adalah hak Allah, sementara orang percaya dipanggil untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, sebagai wujud nyata kasih Kristus kepada dunia.

Matius 16 : 21 – 28
Matius 16:21–28 dikaitkan dengan Rasul Matius, ditulis bagi komunitas Kristen berlatar belakang Yahudi pada paruh akhir abad pertama. Latar belakang teks ini adalah “titik balik penting” dalam pelayanan Yesus, setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias (Mat. 16:16). Mulai bagian ini, Yesus secara terbuka menyatakan jalan penderitaan yang harus Ia tempuh: penolakan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Pesan umum Matius 16:21-28 ini menegaskan bahwa Mesias yang sejati bukanlah pembebas politis yang penuh kuasa duniawi, melainkan “Hamba yang taat” yang menggenapi kehendak Allah melalui salib. Dengan demikian, teks ini mengoreksi pemahaman murid-murid tentang Mesias dan sekaligus memperkenalkan hakikat pemuridan yang berpusat pada pengorbanan dan ketaatan.

Matius 16:21–28 memperlihatkan kontras tajam antara rencana Allah dan harapan manusia. Ketika Yesus memberitakan penderitaan dan kematian-Nya, Petrus menegur-Nya, mencerminkan penolakan manusia terhadap jalan salib. Namun Yesus dengan tegas menolak cara berpikir tersebut dan menegaskan bahwa mengikut-Nya berarti menyangkal diri dan memikul salib. Jelas, Matius 16:21-28 menegaskan panggilan radikal bagi setiap pengikut Kristus. Keselamatan dan kehidupan sejati tidak ditemukan dalam mempertahankan kenyamanan diri, melainkan dalam kesediaan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada kehendak Allah. Pesan utamanya adalah kemuliaan sejati datang melalui penderitaan yang taat, dan kehidupan yang diselamatkan adalah kehidupan yang rela taat demi Kristus.

Matius 16:21 menjelaskan awal pengajaran Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya sebagai bagian dari rencana ilahi. Ayat 22–23 menunjukkan respons Petrus yang menolak jalan salib, sehingga Yesus menegurnya sebagai penghalang kehendak Allah karena berpikir secara manusiawi. Ayat 24 menegaskan syarat pemuridan, yakni menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus. Ayat 25 menyatakan paradoks Injil bahwa siapa yang mempertahankan hidupnya akan kehilangan hidup yang sejati, sedangkan yang menyerahkan hidupnya demi Kristus akan menemukannya. Ayat 26 menegaskan ketidakberhargaan keuntungan duniawi tanpa keselamatan jiwa. Ayat 27–28 menutup perikop dengan janji kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan dan penegasan bahwa keputusan mengikuti Kristus memiliki konsekuensi kekal.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Benang merah Matius 16:21–28, Roma 12:9–21, dan Yeremia 15:15–21 terletak pada panggilan untuk setia kepada kehendak Allah di tengah penderitaan sebagai jalan pertumbuhan iman dan pembebasan sejati. Yeremia menampilkan penderitaan nabi yang lahir dari ketaatan pada firman. Matius menegaskan bahwa mengikuti Kristus berarti memikul salib dan menyangkal diri. Sedangkan Roma menunjukkan bagaimana penderitaan itu dihidupi secara konkret melalui kasih, kerendahan hati, dan kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Ketiga bacaan menegaskan bahwa iman dibangun bukan dengan menghindari penderitaan, melainkan dengan menghayatinya bersama Allah, sehingga belenggu penderitaan diubah menjadi sarana pemulihan, pengharapan, dan kebebasan batin.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar anggapan bahwa iman yang kuat akan membawa hidup yang nyaman dan bebas masalah. Banyak orang berharap ketika mereka berdoa dengan sungguh, melayani dengan setia, dan hidup benar, maka penderitaan akan menjauh. Namun realitas hidup berkata sebaliknya. Seorang petani tetap bisa gagal panen meskipun ia rajin beribadah, seorang pelayan gereja bisa mengalami konflik meskipun ia melayani dengan tulus, dan sebuah keluarga Kristen bisa tetap menghadapi sakit, kehilangan, atau pergumulan ekonomi. Ilustrasi ini mengingatkan kita bahwa penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk kehidupan orang beriman. Pertanyaannya bukan apakah kita akan menderita, melainkan bagaimana kita memaknai dan menjalani penderitaan itu di hadapan Allah? Tiga bacaan firman Tuhan hari ini menolong kita memahami bahwa iman justru bertumbuh ketika kita tidak menghindari penderitaan, melainkan menghadapinya dengan bersandar penuh kepada Allah.

Isi
Matius 16:21–28 menjadi pusat perenungan kita. Setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus mulai menjelaskan secara terbuka bahwa jalan yang harus Ia tempuh bukanlah jalan kejayaan duniawi, melainkan jalan penderitaan, penolakan, salib, dan kematian, sebelum kebangkitan dan kemuliaan. Pernyataan ini mengguncang harapan para murid. Petrus bahkan menegur Yesus, karena baginya penderitaan tidak sejalan dengan gambaran Mesias yang penuh kuasa. Namun Yesus dengan tegas menolak cara berpikir Petrus tersebut dan berkata, “Enyahlah Iblis!” Teguran ini menunjukkan bahwa keinginan untuk menghindari penderitaan dapat menjadi penghalang bagi kehendak Allah. Yesus kemudian menegaskan prinsip pemuridan: setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Iman Kristen bukan jalan mencari kenyamanan, melainkan jalan penyerahan diri total kepada Allah. Paradoks Injil ditegaskan: siapa yang mempertahankan hidupnya akan kehilangan hidup yang sejati, tetapi siapa yang kehilangan hidupnya demi Kristus akan memperolehnya. Di sini, penderitaan bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari ketaatan dan kesetiaan kepada Allah.

Pergumulan ini juga tampak jelas dalam Yeremia 15:15–21. Nabi Yeremia adalah contoh nyata seorang hamba Tuhan yang menderita bukan karena kesalahan pribadi, melainkan karena ketaatannya pada firman Tuhan. Ia ditolak, diejek, dan hidup dalam kesepian. Dalam kejujurannya, Yeremia mengadukan rasa sakit dan kelelahan batinnya kepada Allah, bahkan mempertanyakan mengapa penderitaannya terasa tidak berkesudahan. Allah tidak menolak ratapan Yeremia. Sebaliknya, Allah meneguhkan kembali panggilannya, menuntut kesetiaannya tanpa kompromi, dan menjanjikan penyertaan serta perlindungan. Yeremia diajak untuk kembali berdiri teguh, menjadi “tembok tembaga” yang kuat. Dari sini kita belajar bahwa bergantung kepada Allah tidak berarti menutup mata terhadap penderitaan, tetapi berani membawa seluruh luka dan pergumulan kita kepada-Nya, sambil tetap setia pada panggilan yang telah dipercayakan.

Roma 12:9–21 menunjukkan bagaimana iman yang bertumbuh melalui penderitaan itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Paulus menasihati jemaat Roma untuk menghidupi kasih yang tulus, sabar dalam penderitaan, tekun dalam doa, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Orang percaya dipanggil untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Pesan ini sangat radikal, karena respons alami manusia terhadap penderitaan adalah kemarahan, dendam, atau keputusasaan. Namun Paulus menegaskan bahwa iman yang dewasa justru tampak dalam sikap kasih, kerendahan hati, dan kesediaan hidup damai dengan semua orang. Dengan demikian, penderitaan tidak dibiarkan merusak iman, tetapi diolah menjadi kesaksian tentang kasih dan kuasa Allah yang bekerja dalam diri orang percaya.

Ketiga bacaan ini saling menguatkan: Matius menegaskan dasar teologis pemuridan melalui salib, Yeremia menampilkan pengalaman personal penderitaan seorang hamba Tuhan, dan Roma menunjukkan wujud praktis iman yang bertumbuh di tengah penderitaan. Semuanya mengarah pada satu kebenaran: pertumbuhan iman tidak terjadi dengan menghindari penderitaan, melainkan dengan menjalaninya dalam ketergantungan penuh kepada Allah.

Penutup
Bagi umat GKJW masa kini, tentu ketiga bacaan kita saat ini sangatlah relevan. Di tengah tantangan kehidupan modern—tekanan ekonomi, konflik sosial, perbedaan pandangan, kelelahan dalam pelayanan, dan pergumulan keluarga—kita sering tergoda untuk mencari jalan pintas, menghindari salib, atau menarik diri dari tanggung jawab iman. Renungan hari ini mengajak kita berani setia, meskipun harus memikul salib. Aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah tetap melayani dengan kasih meskipun tidak dihargai, tetap jujur meskipun merugikan diri sendiri, tetap mengampuni meskipun disakiti, dan tetap berharap meskipun keadaan belum berubah. Dengan bersandar kepada Allah dalam doa, firman, dan persekutuan, penderitaan tidak lagi menjadi belenggu yang melemahkan iman, melainkan sarana pembentukan yang memerdekakan. Di situlah iman umat GKJW bertumbuh menjadi iman yang dewasa, tangguh, dan menjadi berkat bagi dirinya sendiri yang menguatkan gereja dan berdampak di masyarakat. Amin. [bk].

 

Pujian: KJ. 364  Berserah kepada Yesus

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing gesang padintenan, kita asring mireng pamanggih bilih iman ingkang kiyat badhe mbekta gesang kita ingkang tentrem, sekeca, lan tebih saking maneka prekawis gesang. Kathah tiyang ngajeng-ajeng menawi ndedonga kanthi saestu, ngladosi kanthi setya, saha gesang kanthi leres, sangsara badhe tebih. Nanging ing kasunyatan gesang malah kosokwangsulipun. Tiyang tani taksih saged ngalami gagal panan sanadyan setya ngabekti, pelados pasamuwan saged ngalami konflik sanadyan ngladosi kanthi tulus, saha brayat Kristen ugi saged ngadhepi sakit, kapitunan, utawi pergumulan ekonomi. Punika ngengetaken kita bilih sangsara punika dados perangan ingkang mboten saged kapisah saking gesangipun manungsa, kalebet gesangipun tiyang pitados. Pitakenanipun mboten punapa kita badhe sangsara, nanging kados pundi kita mangertosi lan nglampahi kasangsaran punika wonten ngarsanipun Gusti Allah? Tigang waosan kita, nuntun kita mangertosi bilih iman punika tuwuh nalika kita mboten ngindhari sangsara, nanging purun ngadhepi, nglampahi kanthi pasrah sumarah dhumateng Gusti Allah.

Isi
Mateus 16:21–28 dados pusat anggen kita ngraosaken pangandikanipun Gusti. Sasampunipun pangakenipun Petrus bilih Gusti Yesus punika Sang Masih, Gusti Yesus nerangaken kanthi cetha bilih margi ingkang kedah dipun lampahi sanes margi kamulyan wonten ing donya, nanging margi kasangsaran, dipun tolak, dipun salib, lan pejah ing pungkasanipun, saderengipun wungu lan nampeni kamulyan. Pawartos punika ngguncang pangajeng-ajengipun para sakabat. Petrus lajeng nyela Gusti Yesus, amargi miturut pamanggihipun, sangsara punika mboten cocok kaliyan gambaran Sang Masih ingkang kebak panguwaos. Ananging Gusti Yesus kanthi teges nolak panggihipun Petrus punika lajeng ngendika, “Minggata sira, Iblis!” Dawuhipun Gusti Yesus punika nggadhahi teges bilih kepinginan ngindhari sangsara punika saged dados alangan tumrap karsanipun Gusti Allah kalampahan. Saklajengipun Gusti Yesus negesaken prinsip pemuridan: bilih saben tiyang ingkang ndherek Panjenenganipun kedah nyingkur dhirinipun, mikul salib, lan ndherek Panjenenganipun. Saking prekawis punika jelas bilih Iman Kristen sanes madosi margi ingkang gampil lan kepenak, ananging margi ingkang masrahaken sadaya gesang dhumateng Gusti Allah. Paradoks Injil punika dipun tegesaken malih, bilih sinten ingkang ngreksa gesangipun badhe kecalan gesang sejati, nanging sinten ingkang kecalan gesangipun demi Kristus badhe pikantuk gesang langgeng. Ing ngriki, jelas sangsara mboten dados tujuan, nanging minangka asilipun kataatan saha kasetyan dhumateng Gusti Allah.

Momotan gesang punika ugi katingal kanthi cetha wonten ing Yeremia 15:15–21. Nabi Yeremia punika tuladha ingkang nyata satunggaling abdinipun Gusti ingkang nandhang sangsara, mboten amargi kalepatan pribadi, nanging amargi kasetyanipun dhumateng dhawuhipun Gusti. Piyambakipun katampik, dipun sepelekaken, saha nglampahi gesang sepi. Ing kajujuraning manahipun, Yeremia ngaturaken pasambat, batinipun ingkang sampun sayah dhumateng Gusti Allah, malah-malah nate nggadhahi pitakenan, “kenging punapa sangsaranipun katingal mboten wonten pungkasanipun?” Nanging Gusti Allah mboten nampik pasambatipun Yeremia punika. Kosokwangsulipun, Gusti Allah mantepaken malih timbalanipun Yeremia, nuntut kasetyanipun tanpa kompromi, saha maringi janji panganthi lan pangayoman. Yeremia dipun undang supados ngadeg jejeg, dados “tembok tembaga” ingkang kiyat. Saking ngriki kita sinau bilih gumantung dhumateng Gusti Allah mboten ateges nutup mripat saking sangsara, nanging wantun mbekta sadaya tatu lan momotan gesang kita dhumateng Panjenenganipun, kanthi tetep setya dhumateng timbalan ingkang sampun dipun pasrahaken.

Serat Rum 12:9–21 salajengipun nedahaken dhateng kita kados pundi kapitadosan ingkang tuwuh lumantar sangsara punika dipun wujudaken umatipun Gusti ing gesang padintenan. Rasul Paulus paring pitutur dhateng pasamuwan Rum supados nglampahi katresnan ingkang tulus, sabar ing salebeting sangsara, sregep ing pandonga, saha mboten mbales piala kaliyan piala. Para tiyang pitados dipun timbali supados ngalahaken piala kanthi kabecikan. Pesen punika saestu radikal, amargi tanggapan limrahipun manungsa nalika nandhang sangsara asring wujud nesu, dendam, utawi pedhot pangajeng-ajeng. Nanging Paulus negesaken bilih iman ingkang dewasa punika malah katingal wonten ing sikep katresnan, andhap asor, saha gesang tentrem kaliyan sadaya tiyang. Kanthi mekaten, sangsara mboten dipun parengaken ngrusak iman nanging malah dipun olah dados paseksen bab katresnan saha panguwaosipun Gusti Allah ingkang makarya wonten ing gesangipun tiyang pitados.

Tigang waosan punika sami-sami ngiyataken kita: Mateus negesaken dhasar teologis pemuridan lumantar margi salib. Yeremia nampilaken pengalaman pribadhi sangsara satunggaling abdinipun Gusti. Lan Roma nedahaken wujud praktis iman ingkang tuwuh wonten tengahing sangsara. Sadaya punika tumuju dhateng satunggal bebener: tuwuhipun iman mboten kalampahan kanthi ngindhari sangsara, nanging kanthi nglampahi sangsara ing sajroning nyumendekaken gesang dhumateng Gusti Allah.

Panutup
Kagem sadaya warga pasamuwan GKJW sapunika, tigang waosan punika trep sanget. Wonten ing satengahing tantangan gesang modern—tekanan ekonomi, konflik sosial, benten pamanggih, crah ing peladosan, saha momotan brayat—kita asring nggadepi pilihan supados milih margi cekak utawi gampil, ngindhari salib, utawi mundur saking tanggel jawab iman. Dhawuhipun Gusti punika nimbali kita supados tetap setya, senadyan kedah manggul salib. Wujud nyatanipun wonten ing gesang padintenan antawisipun: kita tetep purun ngladosi kanthi katresnan senadyan mboten dipun ajeni, tetep jujur senadyan kados-kados ngrugekaken dhiri, tetep ngapura sesami senadyan dipun larani, sarta tetep ngugemi pangajeng-ajeng senadyan kahanan dereng owah. Kanthi nyumendhekaken gesang kita dhumateng Gusti Allah lumantar pandonga, nggegilut Sabda, saha pasrawungan, sangsara mboten malih dados belenggu ingkang nglemahaken iman, nanging dados sarana pambentukan iman ingkang maringi kamardikan gesang. Ing ngriki umat GKJW tuwuh imanipun, dados iman ingkang langkung dewasa, kiyat, saha dados berkah tumrap dhirinipun piyambak, ngiyataken pasamuwan, lan paring pengaruh ingkang sae ing satengahing masyarakat. Amin. [bk].

 

Pamuji: KPJ. 178A  Pasrah Sumarah Mring Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak