Dana Pensiun Bagian Utuh GKJW Khotbah Minggu 23 Agustus 2026

10 August 2026

Minggu Biasa | Doa Syukur Dana Pensiun
Stola Hijau

Bacaan 1: Yesaya 51 : 1 – 6
Mazmur: Mazmur 138
Bacaan 2: Roma 12 : 1 – 8
Bacaan 3: Matius 16 : 13 – 20

Tema Liturgis: Membangun Iman dan Pengharapan di Tengah Krisis
Tema Khotbah: Dana Pensiun Bagian Utuh GKJW

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 51 : 1 – 6
Bacaan yang pertama di kitab Yesaya 51:1-6, masuk dalam bagian yang disebut dengan Deutero-Yesaya, yang ditujukan kepada umat Israel yang ada pada masa pembuangan di Babel (sekitar abad ke-6 SM). Secara khusus berbicara tentang penggambaran kehidupan di Babilonia, bagaimana bangsa Israel kehilangan arah, kehilangan identitas, dan kehilangan harapan. Secara historis bagian ini hendak menunjukkan masa menjelang kejatuhan Babel oleh Koresh Agung (Cyrus the Great) dari Persia sekitar 539 SM, yang kemudian memperkenankan orang-orang Yahudi untuk kembali ke tanah kelahirannya, Yerusalem.

Yesaya berbicara kepada bangsa Israel yang sedang mengalami pembuangan dan penderitaan. Mereka berada dalam krisis nasional dan spiritual. Pada saat itu bangsa Israel sangat membutuhkan penghiburan, pengharapan, dan keyakinan bahwa Allah senantiasa menyertai mereka, Allah tidak akan pernah meninggalkan mereka. Ayat 3 menjelaskan pengungkapan janji Allah bahwa Allah berjanji untuk menghibur mereka, seperti mengubah padang gurun menjadi taman eden. Allah akan memulihkan mereka tidak hanya hal-hal yang bersifat fisik namun pemulihan yang dilakukan Allah juga bersifat ‘rohani’, dengan skala secara ‘sosial’ dan ‘nasional’ (seluruh bangsa akan mengalami pemulihan). Ayat 4-6 menjelaskan: Allah melanjutkan karya pemulihan-Nya agar seluruh semesta mengalami pemulihan. Allah melakukan karya pemulihan berskala universal. Allah yang digambarkan bersifat kekal dan tidak pernah lenyap walaupun langit dan bumi berlalu, berkenan memperluas visi pemulihan-Nya, mengungkapkan pemberlakuan hukum dan manifestasi kehadiran-Nya melalui terang itu. Keberadaan Allah bukanlah bersifat partikularistik (hanya Israel saja yang menerima), namun bersifat universal, bagi bangsa-bangsa lain yang percaya pada Allah. Begitupun juga pemberlakuan keselamatan Allah menggapai bangsa-bangsa. Artinya bangsa-bangsa (selain Israel) juga turut merasakan karya keselamatan Allah tersebut.

Secara teologis bagian ini juga mengungkapkan 3 (tiga) hal terkait rangkaian nubuatan, yaitu:

  • Nubuatan tentang (ebed YHWH) hamba Tuhan;
  • Nubuatan tentang pembebasan Allah: di tengah situasi kondisi yang dialami umat Israel ada ‘penghiburan’ bagi umat, karya ‘pembebasan Allah’, yaitu membebaskan umat Israel dari ‘belenggu‘ penindasan, penderitaan, dan masa pembuangan di Babel;
  • Nubuatan karya keselamatan Allah: pemberlakuan rencana ‘karya keselamatan Allah secara universal’, seluruh bangsa akan merasakan karya keselamatan dari Allah ini.

Roma 12 : 1 – 8
Bacaan yang kedua di bagian surat Roma 12:1-8, surat ini ditulis oleh Paulus sekitar tahun 57 M, kemungkinan dari Korintus, kepada jemaat di Roma. Memang sebenarnya Paulus belum pernah berkunjung ke Jemaat Roma (ketika) paling tidak saat menulis surat ini, karena rasa empati, Paulus memerhatikan perkembangan jemaat di Roma ini. Mengapa Paulus menyampaikan hal tersebut? Sebab Paulus mengetahui situasi dan kondisi yang terjadi di Roma. Jemaat Roma yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan non Yahudi, yang sebelumnya dilatar belakangi perlakuan Kaisar Claudius yang mengusir orang Yahudi dari Roma (sekitar 49 M). Setelah mereka kembali, muncul ketegangan dalam gereja. Sehinga gereja pada saat itu mengalami pergumulan, antara lain: adanya “rebutan” pengaruh – Siapa yang lebih utama? Ajaran yang menitikberatkan pada pemberlakuan Hukum Taurat dan anugerah Allah. Bagaimana hubungan hukum Taurat dan kasih karunia?

Konteks sosial-kemasyarakatan, yaitu bagaimana membangun hidup bersama dalam perbedaan latar belakang? Jika ditakar dalam ‘konteks kebutuhan’ Jemaat Roma kala itu ialah penekanan hal kerendahan hati. Artinya masing-masing diharuskan sedemikian rupa untuk menahan diri, menahan hati, tidak mengumbar keangkuhan, dan tidak menyombongkan diri antara satu dengan lainnya. Kemudian, diikuti ajakan jemaat untuk mewujudkan ‘hati yang tergerak’ dalam menjaga kesatuan dan bersama-sama membangun kehidupan yang mencerminkan Injil Kristus.

Paulus menyebutkan bahwa persembahan yang benar adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan kudus dan berkenan kepada Allah, itu merupakan ibadah yang sejati. Menurut James F. White, ibadah merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dan dilakukan oleh manusia sebagai ciptaan Tuhan. Jadi “…persembahkanlah tubuhmu…” itu mengandung maksud pemberlakuan hidup sehari-hari merupakan pembuktian (persembahan) ketaatan kepada Allah sebagai ibadah. Mempersembahkan diri sebagai kurban hidup berarti tubuh, pikiran, dan tindakan kita harus selaras dengan tujuan Allah. Ini membutuhkan penyerahan diri, keinginan, rencana, dan bahkan ketakutan kita kepada-Nya. Kita harus hidup dengan cara yang berbeda dari cara hidup dunia, menjadi cara hidup yang menyenangkan Allah, yang diubahkan dan dibentuk oleh karakter-Nya.

Nasihat Paulus supaya kamu mempersembahkan tubuhmu. Perkataan Yunani paristēmi berkaitan dengan suasana lingkungan istana: menyediakan, mengabdikan kepada raja. Di ayat ini paristēmi merupakan istilah peribadatan dari lingkungan Bait Allah: mempersembahkan (kurban). Artinya itu ditegaskan oleh pemakaian ‘persembahan’ (kurban). Yang harus dipersembahkan kepada Allah itu ialah ‘tubuhmu’. Yang dimaksud tentu bukan orang percaya harus menyerahkan tubuhnya untuk dibunuh, sebagaimana kadang-kadang terjadi dalam lingkungan agama lain. Yang hendak Paulus di sini: Seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan, seluruh kemampuan dan kegiatan kita harus dipersembahkan kepada Tuhan.

Kemudian tentang “…pembaruan budi…” (renewing of the mind; Yun: Noos) = merupakan perubahan pola pikir, tidak mengikuti nilai dunia Romawi (kuasa, status, hierarki). Merupakan bagian dari anjuran Paulus yang berbunyi: ‘berubahlah oleh pembaharuan budimu’. Atau, menurut terjemahan yang mungkin lebih tepat, ‘biarlah rupamu diubah terus’. ‘Rupa’ itu bukan hanya segi manusia yang lahiriah. Sebagaimana tampak dalam Filipi 3:21, baik ‘pola’ maupun ‘rupa’ bagi Paulus mengandung pengertian: wujud yang menunjukkan hakikat. Maka perubahan yang diharapkan dari orang percaya bukan hanya perkara lahiriah saja, yang diharapkan ialah perubahan hati yang terwujud dalam seluruh kehidupan.

Tujuannya ialah kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah. Kata kerja Yunani dokimazein berarti: memeriksa, menguji. Ternyata kehendak Allah tidak dengan sendirinya jelas, karena 2 (dua) alasan:

  • Karena dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai seorang Kristen sering diperhadapkan dengan dilematika hidup, sehingga sulit untuk menentukan sikap. Apalagi pada masa kini, dengan perkembangan teknologi yang cepat di berbagai bidang. Dalam semua hal itu diperlukan pertimbangan yang matang sebelum kita dapat menentukan manakah kehendak Allah.
  • Kita diajak mengusahakan ‘budi’ kita dalam mencari kehendak Allah. Sebab Injil tidak merupakan hukum yang harus, tetapi justru memberi kita kebebasan anak-anak Allah (Roma 8:15, 21). Dan setiap orang percaya dipanggil dan diperkenankan mempertimbangkan sendiri kehendak Allah.

Matius 16 : 13 – 20
Bacaan ketiga Matius 16:13-20, perikop ini adalah bagian penting dalam Injil Matius tentang pengakuan iman Petrus dan respons Yesus terhadapnya. Peristiwa ini terjadi pada momen yang krusial. Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem di propinsi Yudea (bdk. 19:1), sebuah wilayah di Utara Galilea yang dikenal sebagai pusat penyembahan berhala (termasuk dewa Pan dalam budaya Yunani-Romawi). Tempat ini secara simbolis kontras dengan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias untuk menggenapi rencana keselamatan. Ia sebentar lagi akan menghadapi penolakan dan penyaliban dari pihak orang-orang Yahudi (13:21). Di tengah situasi ini Ia ingin memastikan bahwa murid-murid-Nya benar-benar mengetahui siapa Dia (16:13-20) dan sejauh mana mereka berkomitmen (16:21-28).

Berawal dari pertanyaan Yesus, “Menurut orang, siapakah Anak Manusia itu?” Ada yang menjawab Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, dan salah satu nabi. Lalu pertanyaan dilanjutkan, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Ini adalah pengakuan iman yang sangat penting, yang menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias yang dijanjikan) dan Anak Allah. Yesus merespons jawaban Petrus dan berkata bahwa pengakuan itu berasal dari wahyu Bapa di surga. Lalu Ia berkata, “Engkau adalah Petrus (Petros), dan di atas batu karang (petra) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Kata “jemaat” di sini berasal dari kata Yunani ekklesia, yang berarti persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar.

Yesus juga berbicara tentang: a) “Kunci Kerajaan Surga”; b) Kuasa mengikat dan melepaskan. Secara teologis bagian ini hendak menyampaikan:

  • Identitas Tuhan Yesus sebagai Mesias.
  • Dasar diskusi tentang “batu karang” (apakah Petrus, pengakuannya, atau Kristus sendiri).
  • Penyebutan untuk pertama kalinya kata “jemaat” dalam Injil Matius.
  • Memberikan gambaran otoritas rohani dalam Kerajaan Allah.

Setelah pengakuan ini, Yesus mulai menjelaskan bahwa Mesias harus menderita dan mati – sesuatu yang belum dipahami sepenuhnya oleh para murid.

Benang Merah Tiga Bacaan
Apapun dan bagaimanapun situasi dan kondisi yang dialami umat Tuhan dan pergumulan Dana Pensiun GKJW di masa kini, tidaklah serta merta membuat eksistensi dirinya, komunitasnya terus terpuruk dan tanpa pengharapan dalam kehidupannya. Dengan iman, umat Tuhan dan gereja-Nya diajak untuk menumbuhkan harapan dengan melihat ke belakang, mengingat masa lalu tentang apa yang diperbuat Tuhan, bagaimana kesetiaan Tuhan yang senantiasa memelihara umat-Nya di tengah kesulitan seberat apapun. Kasih dan kebaikan Tuhan yang sedemikian besar ini, membutuhkan respons iman umat untuk mewujudkan hidup dan kehidupan yang melayani, ‘mempersembahkan tubuh’ sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan. Sekaligus menetapkan dan meletakkan fondasi iman yang kuat dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias yang membangun gereja-Nya, Greja Kristen Jawi Wetan dan Dana Pensiun yang ada di dalamnya, kini dan sepanjang masa.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Dalam prespektif iman, Tuhan akan senantiasa memelihara, tetap akan memiliki rencana yang indah bahkan ketika kita lanjut usia. Berbicara masalah kategorial usia, maka usia lansia atau adi yuswa selalu menjadi pembahasan yang menarik. Sebab di era milenial ini ternyata, umumnya lansia berharap bisa:

  • Tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain.
  • Tetap mampu mengurus diri sendiri.
  • Terhindar dari penyakit berat.

Menurut laporan World Health Organization (WHO) tentang healthy ageing, faktor yang paling memengaruhi kualitas hidup lansia adalah kemampuan fungsional (functional ability) — bukan sekadar usia atau ada tidaknya penyakit. Data global menunjukkan:

  • Sekitar 1 dari 6 orang di dunia akan berusia 60+ tahun pada 2030.
  • Sebagian besar lansia lebih takut kehilangan kemandirian dibanding kematian itu sendiri (berdasarkan berbagai survei penuaan aktif).

Artinya: harapan orang di masa tuanya yang utama bukan hanya panjang umur, tetapi umur panjang yang sehat dan bermartabat. Demikian dengan keberadaan Dana Pensiun GKJW di tengah pelayanannya selama ini, berupaya sebaik mungkin untuk menjamin kesinambungan penghasilan purna tugas, sehingga mendukung para pesertanya untuk tetap bermartabat (tetap bermakna, mandiri, dan tidak menjadi beban), walaupun ini bukankah sesuatu yang mudah diwujudkan. Lalu bagaimana menghayati bahwa Dana Pensiun GKJW sebagai bagian utuh GKJW?

Isi
Ketika kita merasa kecil, lemah, dan tidak memiliki pengharapan, maka Tuhan bersabda, “Pandanglah kepada Abraham, bapamu, dan kepada Sara yang melahirkan kamu.” (Pesan dari Yesaya). Tuhan mengajak mereka “melihat kepada Abraham dan Sara” (Ay. 2). Artinya: ingat bagaimana Tuhan pernah menolong dan memberkati dari keadaan kecil. Tuhan menegaskan bahwa keselamatan-Nya kekal, walaupun dunia bisa berubah. Saat krisis, iman dibangun dengan mengingat karya Tuhan di masa lalu. Pengharapan muncul karena janji Tuhan tidak berubah. Senantiasa mengingat karya Tuhan yang menyejarah, bahwa Tuhan di masa lalu membangkitkan pengharapan untuk masa depan. Oleh karena itu, di tengah krisis, iman tidak hanya percaya secara batin, tetapi terwujud dengan tetap hidup benar, melayani sesuai karunia, dan saling menopang dalam komunitas.

Yang menjadi dasar iman orang percaya adalah umat diajak untuk mengenal siapa Tuhan Yesus sebenarnya (memiliki relasi yang lebih dekat), kemudian itu yang menjadikan umat percaya bahwa Dia adalah Mesias dan penyelamat. Selanjutnya meyakini bahwa perkembangan dan pertumbuhan gereja tetap berdiri karena Tuhan sendiri yang membangunnya. Inilah yang meneguhkan eksistensi umat dan gereja-Nya, dan memberi pengharapan yang tidak tergoncang, apapun dan bagaimanapun situasi dan kondisi yang dialami.

Penutup
Menghayati hari Doa Syukur Dana Pensiun GKJW, kita bersama keluarga besar GKJW diajak untuk kembali mengingat maksud dan tujuan Dana Pensiun GKJW ini diadakan, yaitu menjadi sarana menghimpun, mengelola, dan mengembangkan dana guna meningkatkan kesejahteraan peserta, menjamin dan memelihara kesinambungan penghasilan bagi para peserta beserta keluarga, serta meningkatkan motivasi dan ketenangan kerja, guna meningkatan produktivitas. Sehingga para peserta (terkhusus para pensiunan) tetap dapat menjalani hidupnya, merasakan kesehatan yang ‘holistik’ (Sehat pikiran, hati, dan fisik) dan tetap bermartabat (memiliki nilai dalam kehidupannya). Maka dari itu melalui perenungan teks saat ini, seperti Tuhan yang memanggil Abraham, yang mengubah hidup orang percaya, dan yang menyatakan Diri dalam Tuhan Yesus Kristus, Dialah Tuhan yang sama, yang menyertai kita hari ini dan seterusnya. Karena itu, mari kita percaya dan meyakini bahwa entitas Dana Pensiun GKJW adalah miliki Tuhan. Sebagai umat Tuhan, janganlah kita kehilangan iman dan pengharapan, sebab Tuhan senantiasa memegang kehidupan gereja-Nya, Dana Pensiun GKJW, dan kehidupan kita. Amin. [SEH].

 

Pujian: KJ. 379  Yang Mau Dibimbing oleh Tuhan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing cara pandeng iman Kristen, kita pitados bilih Gusti Allah tansah ngrimati umat-Ipun lan kagungan rancangan ingkang endah dhateng umat-Ipun ngantos yuswa lanjut. Ngrembag bab yuswa, yuswa lanjut utawi adi yuswa punika dados pokok bahasan ingkang menarik. Ing jaman sapunika, umumipun para adi yuswa nggadhah pangajeng-ajeng:

  • Gesangipun mboten gumantung dhateng tiyang sanes.
  • Saged ngrimati dhirinipun piyambak.
  • Tebih saking sakit penyakit ingkang awrat.

Miturut laporan saking World Health Organization (WHO) bab healthy ageing, faktor ingkang wonten pengaruhipun kaliyan kualitas gesang para adi yuswa inggih punika kasagedan fungsional (Functional ability)- sanes namung prekawis yuswa utawi wonten kaliyan mbotenipun penyakit. Data global nedahaken:

  • 1 saking 6 tiyang ing donya punika badhe mancik yuswa 60+ taun ing 2030.
  • Katahipun para adi yuswa langkung ajrih kecalan kamandirian tinimbang pati punika.

Tegesipun pengajeng-ajeng tiyang ing mangsa sepuhipun ingkang utami sanes panjang yuswa nanging panjang yuswa ingkang sehat lan kajen. Mekaten ugi kaliyan kawontenanipun Dana Pensiun GKJW ing satengahing peladosan ngantos sapunika. Dana Pensiun tansah ngupaya jamin kelajengan penghasilanipun para purna tugas, saengga saged ndukung para peserta punika tetep gesang kanthi kajen (tetep nggadhah makna, mandiri, lan mboten dados momotan). Tamtu punika sanes prekawis ingkang gampang dipun wujudaken. Lajeng kados pundi kita ngestokaken bilih Dana Pensiun GKJW punika minangka bagean ingkang utuh saking GKJW?

Isi
Nalika kita rumaos alit, ringkih, lan mboten nggadhah pangajeng-ajeng, Gusti Allah ngandika, ”Pandengen Abraham, ramamu, lan Sara ingkang nglairake kowe.” (Pesen saking Yesaya). Gusti Allah ngajak para umat sami mandheng dhateng Abraham lan Sara (Ay. 2). Tegesipun kita kedah enget kados pundi anggenipun Gusti Allah nulungi lan mberkahi umat-Ipun ing kahanan ingkang ringkih. Gusti Allah negesaken bilih kawilujengan-Ipun punika langgeng, sanadyan donya punika saged owah. Nalika kita ngadepi krisis, iman dipun bangun srana ngenget pakaryanipun Gusti Allah ing mangsa kepengker. Pangajeng-ajeng punika tuwuh karana prajanjin-Ipun Gusti mboten owah. Kita tansah ngenget pakaryanipun Gusti ing salebeting sejarah bilih Gusti Allah karsa nuwuhaken pangajeng-ajeng kangge mangsa ngajeng. Awit saking punika, ing satengah-tengahing krisis, iman punika mboten namung bab pracaya sacara batin kemawon, nanging ugi kawujud ing laku gesang ingkang bener, purun ngladosi miturut talentanipun, lan tansah ngiyataken ing salebeting komunitas.

Ingkang dados landesan iman tiyang pitados inggih punika kita tepang sinten Gusti Yesus punika sayektosipun. Kita nggadhah hubungan ingkang raket kaliyan Gusti, lajeng ndadosaken kita pitados bilih Gusti Yesus punika Sang Masih lan Juru Wilujeng kita. Selajengipun kita yakin bilih tuwuh lan ngrembakaning Greja punika awit Gusti Allah piyambak ingkang mbangun. Punika ingkang neguhaken kawontenan kita minangka umat lan gereja. Gusti ugi maringi kita pangajeng-ajeng ingkang mboten gampang goyang, sanadyan kita ngalami kahanan kados pundi kemawon.

Panutup
Mengeti dinten Doa Syukur Dana Pensiun GKJW, kita minangka brayat ageng GKJW dipun ajak ngenget-enget malih maksud lan tujuan Dana Pensiun GKJW punika dipun wontenaken. Dana Pensiun dipun wontenaken minangka sarana ngempalaken, nglola, dan ngembangaken dana, kangge ningkataken kasantosaning para peserta, jamin lan ngrimati kelajenganipun penghasilan kangge para peserta lan brayatipun. Ugi kangge ningkataken motivasi lan katenangan kerja supados ningkataken produktivitas kerja. Kanthi mekaten para peserta (mliginipun para pensiunan) tetap saged nglampahi gesang srana ngraosaken kesehatan ingkang utuh (sehat pikiran, manah lan fisikipun) lan tetep kajen (nggadhahi nilai ing salebeting gesangipun). Awit saking punika, lumantar teks waosan dinten punika, kita dipun engetaken: Kados Gusti Allah ingkang nimbali Abraham, Gusti ingkang ngowahi gesangipun para pitados, lan Gusti ingkang nyatakaken Sariranipun ing Gusti Yesus, Panjenenganipun punika Gusti Allah ingkang sami, Gusti ingkang nganthi gesang kita dinten punika lan salajengipun. Karana punika, kita minangka umat pitados, mangga kita yakini bilih Dana Pensiun GKJW punika kagunganipun Gusti. Minangka umatipun Gusti sampun ngantos kita kecalan iman lan pangajeng-ajeng awit Gusti Allah tansah nunggil gesang kita, grejan-Ipun, lan Dana Pensiun GKJW. Amin. [Terj. AR].

 

Pamuji: KPJ.  191  Gusti Yesus Pangen Setya

Renungan Harian

Renungan Harian Anak