Niteni! Khotbah Minggu 3 Desember 2023

20 November 2023

Minggu Adven 1 | Perjamuan Kudus Masa Natal
Stola Putih

Bacaan 1: Yesaya 64 : 1 – 9
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 4 – 9
Bacaan 3: Markus 13 : 24 – 37

Tema Liturgis: GKJW Bersiap Menyambut Kedatangan Kristus
Tema Khotbah: Niteni!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 64 : 1 – 9
Yesaya 64 ditulis ketika di tahun 538, Raja Koresy mengizinkan orang-orang Yahudi untuk pulang ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Suci. Raja Koresy juga mengembalikan alat-alat kebaktian yang dirampas oleh raja Babel pada tahun 587 (baca Ezra 6:3-5). Mulai tahun berikutnya, orang-orang mulai pulang sekelompok demi sekelompok. Mereka bersatu kembali dan segera membangun kembali Bait Suci. Dalam kenyataannya, pembangunan Bait Suci tidak segera terwujud karena reruntuhan kota sangatlah besar. Sedangkan kondisi ekonomi dan politik pasca Koresy meninggal, sama sekali tidak mendukung proses pembangunan tersebut. Kondisi tersebut membuat orang-orang Yahudi yang sudah pulang menjadi putus asa. Mereka menanti “zaman baru”, -Bait Suci yang kembali dibangun- dalam kepenatan. Singkatnya, harapan bahwa kepulangan ke Yerusalem akan diliputi oleh damai sejahtera Allah tidak terwujud karena berbagai kekurangan dan ketegangan yang terjadi di tengah-tengah mereka.

Oleh karena itu, dalam struktur kitab Yesaya, Marie Claire Barth-Frommel menyebut Yesaya 64 sebagai bagian dari Mazmur Israel (Frommel 2015, 75). Dalam kitab Yesaya, Mazmur Israel dimulai dari Yesaya 63: 7-19 – 64: 1-12. Secara garis besar, Mazmur Israel berisi tentang permohonan dari orang-orang Yahudi di negeri yang sudah hancur ketika mereka pulang. Namun, orang-orang Yahudi ini sadar bahwa di tengah kehancuran masih ada harapan. Harapan itu didasarkan pada pemahaman mereka bahwa TUHAN tetap mencintai dan menyelamatkan mereka. Pemahaman tersebut tampak pada ayat 1-3, dimana mereka berharap agar TUHAN datang kembali untuk menunjukkan keperkasaan dan kekuatan-Nya kepada para lawan-Nya. Mereka mengakui bahwa hanya TUHAN saja yang dapat mengatasi lawan-lawan-Nya. Namun, yang menarik, pengakuan tersebut diperluas dengan sikap berani untuk mengakui semua kesalahan dan pemberontakan yang sudah mereka lakukan (Ay. 4-7) seraya mengakui bahwa hidup mereka seperti tanah liat yang dibentuk oleh TUHAN, Bapa mereka (Ay. 8). Sebutan Bapa di ayat 8 berimplikasi pada suatu sikap membujuk di ayat 9, “Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa seterusnya!”. Di balik bujukan tersebut terdapat sebuah harapan agar penderitaan dan keputusasaan yang mereka alami segera berlalu. Pengakuan orang-orang Yahudi terhadap keperkasaan TUHAN sekaligus pengakuan akan kesalahan mereka adalah kunci agar TUHAN berkenan membebaskan mereka dari penderitaan.

1 Korintus 1 : 4 – 9
Menurut V.C Pfitzner, sebelum Paulus tiba di Korintus, orang-orang Yahudi telah lama menetap di Korintus dalam jumlah yang besar. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya batu pertama sinagoge yang bertuliskan: “Sinagoge orang-orang Ibrani” (Pfitzner 2015, 2). Paulus memberitakan Injil pertama-tama di Sinagoge. Selama pemberitaan Injil dan pengasuhan yang dilakukan oleh Paulus sampai dengan lahirnya jemaat Korintus, Paulus tahu bahwa orang-orang di jemaat Korintus adalah orang-orang yang penuh semangat, bangga karena memiliki karunia Roh, merasa bijaksana dan mempunyai pengetahuan khusus (1:20-29; 8:1-2). Oleh karena itu, Paulus mensyukuri komunitas tersebut.

Melalui status kerasulannya (Ay. 1), Paulus menegaskan Korintus sebagai jemaat Allah di Korintus (Ay. 2). Sebutan jemaat Allah di Korintus menegaskan bahwa komunitas tersebut ada karena kehendak Allah, sehingga semua orang di dalamnya adalah milik Allah. Selanjutnya, Paulus juga mengatakan bahwa komunitas tersebut dipanggil menjadi orang-orang kudus (Ay. 2). Paulus menyebut mereka kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan (logos) dan segala macam pengetahuan (gnosis) (Ay. 5). Menurut Gordon D. Fee, beberapa ahli berpendapat bahwa logos menunjuk pada perkataan-perkataan bertuah, seperti bahasa roh, nubuatan, kata-kata bijak. Sedangkan gnosis menunjuk pada kemampuan untuk melihat masa depan (Fee 1987, 39). Paulus juga menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak kekurangan dalam suatu karunia dalam penantian mereka terhadap penyataan Tuhan Yesus Kristus (Ay. 7).

Menurut Fee, Paulus memberikan penekanan pada dimensi eskatologis agar orang-orang Korintus tidak melihat bahwa “kekayaan” mereka, baik perkataan maupun pengetahuan adalah titik akhir. Menurut beberapa ahli, pendapat Paulus tersebut dilihat sebagai respon atas kesombongan orang-orang di Korintus. Bagi Paulus, “kekayaan” mereka adalah bekal perjalanan hidup yang harus dipakai secara baik untuk melihat perubahan kehidupan selama masa penantian terhadap penyataan Tuhan Yesus (Fee 1987, 36).

Markus 13 : 24 – 37
Menurut Stefan Leks, Markus 13:24-37 adalah pusat wejangan eskatologis Tuhan Yesus (Leks 2003, 412). Dalam menggambarkan suasana eskatologis tersebut, di bagian-bagian awal, penulis Injil Markus menggunakan istilah “ἀργὴ ὠδίνφν” yang juga dapat diartikan dengan istilah ‘birth pang’, yaitu ‘rasa sakit’ (penderitaan seorang ibu ) pada waktu melahirkan. Istilah tersebut adalah ciri khas dari literatur apokaliptik yang menggambarkan tentang kesakitan yang dialami karena penganiayaan (Sarumaha 2017, 112). Bagaimanapun juga wejangan eskatologis ini tidak lepas dari isi buku-buku apokaliptik Yahudi yang menceritakan tentang keguncangan alam ketika akhir zaman. Sesuai dengan ciri khas sastra apokaliptik, tema keguncangan alam ini erat kaitannya dengan perspektif hukuman yang dahsyat. Namun, dalam teks Markus ini sama sekali tidak disebutkan penghakiman, hukuman, dan sebagainya. Tuhan Yesus justru menghibur dan menguatkan. Semua cobaan memang harus dialami oleh orang beriman, namun semuanya itu mengantarkan mereka pada kedatangan Anak Manusia yang akan membawa keselamatan.

Situasi keguncangan alam tersebut mendahului kedatangan Anak Manusia. Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengajak untuk melihat tanda. Tuhan Yesus mengajak belajar melihat tanda dari pohon ara. Berbeda dengan banyak pohon yang tumbuh di Palestina, pohon ara kehilangan daun-daunnya pada musim dingin, sehingga daun-daun hijau muncul baru pada menjelang musim panas, bukan di musim semi. Semua penduduk wilayah sekitar Laut Tengah tahu akan hal ini. Di satu sisi, ranting pohon ara mulai melembut dan mengeluarkan tunas, namun di sisi lain itu tanda bahwa musim panas sudah dekat. Yang satu kelihatan mata, dapat dialami. Yang lain belum kelihatan dan belum dapat dialami langsung, tetapi merupakan tanda yang pasti (Leks 2003, 415-6).

Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberikan nasihat untuk berjaga-jaga. Menurut Sarumaha, dilihat dari segi gramatikal, kata “berjaga-jagalah” ini termasuk dalam bentuk kata kerja kini aktif imperatif. Tuhan Yesus menekankan suatu keharusan bagi para murid untuk tetap waspada dan berjaga-jaga. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa kata “waspada” ataupun berjaga-jaga ini dapat berarti melihat sambil memberikan perhatian, mengindahkan dan menarik pelajaran dari situasi yang akan dihadapi. Perkataan Yesus sepanjang Markus 13 menekankan sebuah peringatan untuk berhati-hati terhadap berbagai ajaran yang akan bermunculan, jangan sampai para murid disesatkan dan kehilangan fokus (Sarumaha 2017, 116).

Benang Merah Tiga Bacaan:
Dari ketiga bacaan tersebut, kedatangan dan penyataan Tuhan Yesus yang kedua kalinya adalah sebuah masa penantian yang harus disikapi dengan pengakuan tentang kelemahan dan keterbatasan manusia sekaligus menggunakan karunia yang telah diberikan Tuhan untuk berjaga-jaga dengan niteni perubahan yang terjadi dalam kehidupan.

 

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kita semua pernah mendengar kata dalam bahasa Jawa, yaitu niteni. Menurut kamus bahasa Jawa, niteni berarti memperhatikan situasi sekitar dengan teliti. Secara lebih dalam, niteni adalah sebuah perilaku yang menyelaraskan antara logika dan perasaan. Jika hujan akan turun, maka ada beberapa tanda yang menyertai, misalnya: mendung gelap dan aroma air hujan yang menyeruak. Jika seseorang sakit, maka ada beberapa gejala yang mengawali, misalnya: pusing dan bersin. Artinya, setiap perubahan hidup manusia selalu bisa ditengarai atau dititeni melalui tanda-tanda yang terjadi sebelumnya.

Isi
Dalam Injil Markus, kedatangan Anak Manusia didahului dengan penganiayaan dan penderitaan. Penganiayaan dan penderitaan tersebut bisa ditengarai tanda-tandanya dan haruslah disikapi dengan berjaga-jaga. Dalam teks Injil Markus yang menjadi bacaan hari ini, berjaga-jaga artinya melihat sambil memberikan perhatian, mengindahkan dan menarik pelajaran dari situasi yang akan dihadapi. Oleh karena itu, Tuhan Yesus mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari orang Yahudi untuk niteni perubahan yang terjadi pada pohon ara. Pohon ara kehilangan daun-daunnya pada musim dingin, sehingga daun-daun hijau akan muncul menjelang musim panas, bukan di musim semi. Di satu sisi, ranting pohon ara mulai melembut dan mengeluarkan tunas, di sisi lain itu menjadi petanda bahwa musim panas sudah dekat. Yang satu kelihatan mata, dapat dialami. Yang lain belum kelihatan dan belum dapat dialami langsung, tetapi merupakan tanda yang pasti. Dari situ, Tuhan Yesus ingin mengajak setiap orang untuk mulai belajar niteni terhadap dinamika kehidupan, khususnya dalam masa penantian kedatangan Anak Manusia. Senada dengan hal tersebut, Rasul Paulus mempertajam dalam nasihatnya kepada jemaat di Korintus bahwa proses niteni itu harus dilakukan dengan melibatkan karunia yang sudah diberikan Tuhan kepada masing-masing orang, sehingga proses niteni kedatangan Tuhan yang kedua tidak hanya sekadar didasarkan pada hal-hal yang tidak ada. Harus ada olah rasa dan olah nalar, dalam menyongsong kedatangan Anak Manusia, kita bisa belajar dari orang-orang Yahudi yang pulang ke Yerusalem, yaitu dengan niteni kehidupan personal; introspeksi diri, diiringi sebuah pengakuan bahwa hidup manusia seperti tanah liat yang ada di tangan TUHAN.

Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini adalah Adven pertama. Masa Adven sesungguhnya berbicara tentang dua hal, yaitu menantikan kedatangan Tuhan untuk yang kedua kali dan mempersiapkan Natal (kisah kelahiran Yesus) atau Epifania (kisah awal pelayanan Yesus). Keduanya tersebut mengandung arti eskatologis. Dalam masa penantian itu dibutuhkan suatu sikap introspeksi diri; niteni dalam menyongsong parousia (kedatangan-Nya kembali). Dalam tradisi liturgi gereja, sesungguhnya empat minggu Adven adalah masa niteni bagi kita, baik niteni dalam kehidupan personal maupun komunal. Hidup kita mungkin seperti orang-orang Yahudi yang pulang ke Yerusalem dengan harapan membangun kembali Bait Suci. Sekalipun dalam kenyataannya butuh proses yang panjang dan menantang karena banyaknya tantangan. Ada banyak harapan yang mungkin ingin kita wujudkan, namun terkendala dengan banyaknya tantangan dalam hidup kita. Mari niteni itu semua. Kiranya kalimat akhir dalam rumusan Perjamuan Kudus yang bernuansa eskatologis, “dan untuk memperingati kedatangan-Ku yang kedua’, semakin meneguhkan langkah kita untuk niteni kehidupan kita agar kita siap menyambut kedatangan-Nya. Seperti apa yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal dalam Amsal 23: 18, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Amin. [dix3].

 

Pujian: KJ. 277 : 1 – 4    Tuhanku Seg’ra Kan Kembali

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Para sadherek kinasih, mbok bilih kita asring mireng tembung niteni. Miturut kamus basa Jawi, niteni punika salah satunggaling proses nggraita kahanan ing sakupeng kita miturut nalar lan rasa. Kita sampun asring niteni kahanan. Contonipun, menawi badhe jawah, tamtunipun pratanda ingkang limrah kedadosan inggih punika mendung lan ambet toya jawah ingkang kados celak sanget kaliyan kita. Menawi kita badhe sakit, kita ngalami pratanda kados greges. Saking conto punika, saged kawastanan bilih gesangipun manungsa saged dipun titeni miturut pratanda-pratanda ingkang kedadosan.

Isi
Wonten ing Injil Markus, rawuhipun Putraning Manungsa katitik saking wontenipun panganiaya lan kasangsaran ingkang saged dipun titeni pratandanipun. Pramila Gusti Yesus paring dhawuh supados jumaga. Tembung jumaga punika ngemu suraos supados manungsa niteni ewah-ewahan lan pratanda ingkang kedadosan. Gusti Yesus paring tuladha lan ngajak sinau niteni lumantar ewah-ewahan ingkang kedadosan ing wit anjir. Godhongipun wit anjir punika sami gogrog nalika ngancik mangsa asrep lan semi malih nalika badhe ngancik mangsa panas. Ugi ing sauruting pangipun wit anjir sami tuwuh tunas ingkang dados titikan bilih badhe lumebet ing mangsa panas. Saking prastawa punika, Gusti Yesus ngajak dhumateng sadaya tiyang supados niteni ewah-ewahanipun gesang, mliginipun kangge mapag rawuhipun Putraning Manungsa.

Rasul Paulus ugi paring dhawuh anggenipun niteni pratanda lan ewah-ewahaning gesang, prayogi ngginakaken peparing (karunia) saking Gusti. Dados niteni punika saestu jangkep; olah raos; olah nalar. Niteni boten namung adhedasar bab-bab ingkang boten cetha. Bangsa Yahudi ingkang wangsul saking Babel sampun paring tuladha anggenipun niteni, inggih punika niteni gesang pribadi; niti priksa kawontenan gesang kita ing ngarsanipun Sang Yehuwah lan ngakeni bilih gesang kita kados lempung ing astanipun Sang Yehuwah.

Panutup
Para sadherek kinasih, wekdal punika kita sampun lumebet ing mangsa Adven lan minggu Adven ingkang kapisan. Adven ngemu kalih prekawis inggih punika mapag rawuhipun Gusti ingkang kaping kalih lan mapag wiyosipun Gusti. Kekalihipun gegayutan kaliyan bab eskatologis utawi zaman pungkasan. Ing salebetipun mangsa Adven, kita dipun timbali niteni lan niti priksa gesang kita selami sekawan minggu. Mbok bilih gesang kita kados gesangipun bangsa Yahudi ingkang nembe wangsul saking Babel. Kepengin mbangun malih Padaleman Suci. Kasunyatanipun, proses mbangun malih Padaleman Suci punika mbetahaken wekdal ingkang lami awit wonten tantangan ing salabetipun proses punika. Gesang kita mbok bilih anggadahi pangajeng-ajeng ingkang kepingin kita wujudaken, ananging ing kasunyatanipun pangajeng-ajeng punika dereng tumus awit wonten tantangan. Pramila kita dipun timbali niteni gesang kita.

Bujana Suci ingkang badhe kita tampeni, wonten ing rumusanipun ugi ngemu nuansa eskatologis lumantar ukara: lan mengeti rawuhingSun ingkang kaping kalih. Mugi Bujana Suci ingkang kita tampeni ing wekdal punika ngiyataken kita mujudaken gesang lan pangajeng-ajeng kita wonten ing satengahing mangsa mapag rawuhipun Gusti ingkang kaping kalih. Kados ingkang dipun dhawuhaken dening penulis kitab Wulang Bebasan ing Wulang Bebasan 23:18, “Satemene panganti-anti iku pancen ana, lan pangarep-arepmu ora bakal ilang.” Amin. [dix3].

 

Pamuji: KPJ. 105 : 1 – 3  Amarema

Renungan Harian

Renungan Harian Anak