Membangun Budaya Hidup Sesuai Kehendak “Sang Pakar” Khotbah Minggu 26 November 2023

13 November 2023

Minggu Kristus Raja | Penutupan Bulan Budaya
Stola Putih

Bacaan 1: Yehezkiel 34 : 11 – 16, 20 – 24
Bacaan 2: Efesus 1 : 15 – 23
Bacaan 3: Matius 25 : 31 – 46

Tema Liturgi: Budaya sebagai Jalan Pewartaan Kerajaan Allah secara Kontekstual
Tema Khotbah: Membangun Budaya Hidup Sesuai Kehendak “Sang Pakar”

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yehezkiel 34 : 11 – 16, 20 – 24
Yehezkiel 34:11-16 tidak bisa dilepaskan dari konteks teks sebelumnya (Yeh. 34:1-4). Yehezkiel menentang para pemimpin Israel, yaitu para raja, imam, dan nabi. Karena keserakahan, korupsi, dan mementingkan diri sendiri, mereka telah lalai menuntun umat Allah sebagaimana dikehendaki oleh-Nya. Mereka memeras umat itu (Ay. 3), menggunakan mereka untuk kepentingan pribadi, dan tidak menolong mereka secara rohani (Ay. 4). Itulah sebabnya menurut Yehezkiel mereka bertanggung jawab atas penawanan Yehuda, karena Allah menghukum mereka. Apa yang dilakukan Raja, Imam, dan Nabi dengan para gembala yang tidak setia, Yehezkiel menubuatkan tentang Gembala yang suatu saat dikirim oleh Allah. Seorang Gembala inilah yang nantinya berkenan bagi-Nya, yaitu Sang Mesias, yang akan sungguh-sungguh memelihara umat-Nya. Mereka tidak akan diperas, tetapi akan dibawa kepada rumput yang hijau.

Singkatnya, karena kegagalan para pemimpin Israel, Tuhan sendiri akan turun tangan mengatur umat-Nya (Ay. 11) (sistem Teokrasi). Dia akan memelihara domba-domba-Nya (Ay. 11-16), menghakimi antara domba, domba yang gemuk dan yang kurus (Ay. 17-24). Allah juga akan mengangkat satu orang gembala untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Efesus 1 : 15 – 23
Surat Efesus ditulis sekitar 62 M dan merupakan salah satu puncak dalam penyataan alkitabiah dan menduduki tempat yang unik di antara surat-surat Paulus. Surat ini tidak ditulis sebagai jawaban terhadap suatu kontroversi doktrinal atau persoalan pastoral seperti banyak surat lain, sebaliknya Efesus memberikan kesan akan luapan penyataan yang melimpah sebagai hasil dari kehidupan doa pribadi Paulus. Paulus menulis surat ini ketika ia dipenjara karena Kristus (Ef. 3:1; Ef. 4:1; Ef. 6:20), kemungkinan besar di Roma. Tujuan Paulus dalam menulis surat ini tersirat dalam Efesus 1:15-17. Dengan tekun ia berdoa sambil merindukan agar para pembacanya bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, dan penyataan Bapa. Paulus berusaha untuk menguatkan iman dan dasar rohani mereka dengan menyatakan kepenuhan maksud kekal Allah dari penebusan “dalam Kristus”(Ef. 1:3-14; Ef. 3:10-12) untuk gereja (Ef. 1:22-23; Ef. 2:11-22; Ef. 3:21; Ef. 4:11-16; Ef. 5:25-27) dan untuk setiap orang (Ef. 1:15-21; Ef. 2:1-10; Ef. 3:16-20; Ef. 4:1-3,17-32; Ef. 5:1–6:20). Pada Efesus 1:15-23 adalah doa pertama Paulus. Perhatikan bahwa berbeda dengan sebagian besar doa kita, doa syafaat Paulus terutama untuk kesejahteraan rohani orang-orang yang didoakannya.

Matius 25 : 31 – 46
Matius 25:31-46 adalah jalannya penghakiman terakhir. Di sini diceritakan tentang berlangsungnya penghakiman terakhir pada hari yang mulia itu. Ada beberapa bagian di dalamnya yang diungkapkan dalam bentuk perumpamaan, seperti pemisahan antara domba dan kambing, serta percakapan antara hakim dan orang-orang yang diadili, tetapi perikop ini secara keseluruhan tidak bisa disebut sebagai sebuah perumpamaan, karena tidak ada kemiripan yang diperbandingkan di sini. Oleh karena itu, perikop ini lebih tepat disebut sebagai suatu penggambaran mengenai penghakiman terakhir daripada sebagai suatu perumpamaan. Dengan perkataan lain, perikop ini adalah penjelasan dari perumpamaan-perumpamaan sebelumnya.

Pada ayat 31 dibahas tentang penempatan Sang Hakim di atas kursi pengadilan apabila Anak Manusia datang akan ada penghakiman di kemudian hari. Penghakiman ini akan memutuskan nasib setiap orang untuk dibawa pada kebahagiaan atau kesengsaraan kekal, dan mereka juga akan menerima balasan setimpal, dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan sekarang yang penuh pencobaan dan ujian. Semua anak manusia datang di hadapan-Nya (Ay. 32), semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Perhatikanlah, penghakiman pada hari yang mulia itu merupakan pengadilan umum. Semua orang harus dikumpulkan di hadapan pengadilan Kristus.

Yesus Kristus adalah Sang Gembala Agung. Ia akan memisahkan orang-orang sebagaimana domba dan kambing. Orang-orang saleh itu sama seperti domba: tidak berdosa, lemah lembut, sabar, dan berguna. Orang-orang jahat sama seperti kambing, identik dengan binatang yang lebih rendah, buruk, dan susah diatur. Di dunia ini, domba dan kambing makan rumput bersama-sama sepanjang hari di padang rumput yang sama, tetapi pada malam hari dikandangkan di celah gunung yang berbeda. Setelah dipisahkan, Sang Gembala akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya (Ay. 33).

Pada ayat 35-36, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan”. Jelaslah bahwa Yesus Kristus akan menghakimi dunia ini dengan peraturan yang sama yang digunakan-Nya ketika mengajar hidup di dunia. Yang mau disampaikan sini hanyalah suatu contoh ketaatan pada perintah Yesus. Intinya Yesus mengajarkan kita bahwa iman yang didasarkan pada kasih itulah yang diutamakan dalam iman Kristen. Tunjukkanlah imanmu itu dari perbuatan-perbuatan nyata yang kamu lakukan.

Pada ayat 40, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku, untuk yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ini berarti setiap perbuatan-perbuatan pengikut Kristus diingat seluruhnya oleh Yesus Kristus ketika penghakiman kelak.

Inilah keadaan penghakiman bagi orang-orang jahat yang berada di sebelah kiri-Nya (Ay. 41). Ditempatkan di sebelah kiri sudah merupakan hal yang memalukan bagi mereka, tetapi itu belumlah yang terburuk. Selanjutnya Ia berkata juga kepada mereka, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk. Enyah dari hadapan Kristus berarti neraka dan atau mereka tidak akan masuk kerajaan Sorga.

Pada ayat  44, “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus atau telanjang?” Cara mereka mengajukan pertanyaan menunjukkan sikap mereka yang membela diri. Tetapi Yesus menegaskan sekali lagi (Ay. 45), sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Perhatikanlah, perbuatan yang dilakukan terhadap para murid dan pengikut Kristus yang setia, bahkan terhadap salah seorang yang paling hina saja, akan diperhitungkan Tuhan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Yesus mengetahui bagaimana kehidupan itu nantinya akan berakhir. Karena kasih Allah akan umat-Nya, maka Allah menghendaki manusia menerima keselamatan dengan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Apa yang menjadi kehendak Allah? Yesuslah anak Allah yang diberi kuasa untuk menyatakan kehendak Allah pada penghakiman terakhir nanti. Yesus Sang Mesias dan Gembala sejati yang akan mengumpulkan dan memisahkan domba dan kambing. Bagi manusia yang beriman kepada Yesus Anak Allah, Sang Mesias serta melakukan tindakan nyata atas iman itu, merekalah domba yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sungguh berbahagia dan bersukacita, jika pengikut Kristus mampu melaksanakan kehidupan imannya secara nyata. Itulah yang menjadi sumber ucapan syukur sebagai sesama pengikut Kristus.

 

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Seorang pengusaha memiliki perusahaan yang sangat besar. Suatu ketika, secara misterius mesin bagian produksi mengalami kerusakan. Hal ini membuatnya mengalami kerugian ratusan juta setiap harinya. Para karyawan perusahaanpun khawatir perusahaannya bangkrut dan tutup. Khawatir akan merugi terus. Pengusaha tersebut kemudian mencari seorang ahli mesin. Ahli mesinpun datang ke pabrik. Selanjutnya ia mengeluarkan sebuah obeng, lalu memutar satu sekrup dengan obeng tersebut. Kemudian mesin produksi dapat berjalan normal seperti semula. Ahli mesin itu lalu memberikan tagihan servis sebesar Rp. 200.000.000 pada perusahaan. Pengusaha itu merasa terlalu mahal, karena tagihan yang diberikan ahli mesin itu sungguh tidak masuk akal. Pengusaha meminta kepada ahli mesin untuk memberikan perincian biaya servis. Ahli mesin menjelaskan dalam rinciannya, untuk memutar sekrup itu biayanya sebesar Rp. 10.000 saja, untuk mengetahui mana masalah mesin dan sekrup mana yang harus diputar, biayanya adalah Rp 199.990.000.

Dari kisah ini kita bisa mengtahui bahwa ilmu pengetahuan itu adalah harta yang sangat bernilai. Ilmu pengetahuan bisa sangat bermanfaat, membawa kebahagiaan dan menyelamatkan nasib banyak orang. Pribadi dan karakter yang memiliki ilmu pengetahuan tersebut juga memiliki peran yang penting dan sangat menentukan atas tindakannya yang menyelamatkan banyak orang.

Isi
Pada bacaan kita pada saat ini, Matius 25:31-46, Yesus menghendaki supaya manusia bisa mendapatkan kehidupan kekal. Itulah yang melatarbelakangi sehingga Yesus berbicara tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Yesus memberikan petunjuk bagaimana kehidupan pada akhir zaman nanti. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus ini adalah bagian dari wujud pengajaran Yesus kepada para pengikut-Nya supaya mereka masuk Kerajaan Sorga.  Pengajaran Yesus ini disampaikan terakhir kali sebelum penderitaan-Nya yang akan segera tiba. Hal yang bisa kita teladani dari ketiga bacaan tersebut adalah:

Pertama, Yesus Sang Pakar ‘Jalan menuju Sorga’
Injil Matius 25:31-46 menunjukkan bahwa Yesus seperti seorang pakar/ahli atau Guide yang mengetahui secara persis bagaimana kehidupan ke depan terjadi. Yesus memberitahukan bagaimana orang-orang akan dipisahkan untuk dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Yesus membuka rahasia tentang akhir kehidupan manusia serta penghakimannya. Tidak hanya itu, Yesus memberikan petunjuk bagaimanakah manusia yang hidup di dunia ini, sebetulnya bisa lepas dari hukuman pada penghakiman terakhir itu, dengan mengikuti apa yang menjadi perintah-Nya. Seperti pada ayat 32, Yesus memberikan pilihan yang jelas bagaimana nantinya orang yang hidup di dunia itu harus memilih: ia memilih sebagai kambing atau domba. Yang memilih sebagai domba adalah orang-orang yang melakukan kehendak Yesus dengan peduli kepada orang-orang yang terpinggirkan. Mereka itu memiliki kepedulian dan melakukan aksi nyata dengan memberi minum dan makan kepada orang yang haus dan lapar, menjenguk orang yang sakit dan terpenjara, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, memberi tumpangan kepada orang asing, dst. Ketika mereka melakukan itu semua, maka sebenarnya yang mereka lakukan adalah untuk Yesus.

Sedangkan yang memilih menjadi kambing, merekalah golongan terkutuk, karena mereka menutup mata dan tidak peduli. Mereka menutup mata dan membiarkan ketika melihat yang lapar, yang haus, yang terasing, dlsb (Mat. 25:41-43). Yang dikehendaki oleh Yesus adalah mereka melakukan kehendak-Nya dengan melakukan kebenaran supaya mereka mendapatkan kehidupan yang kekal di Sorga (Ay. 46). Inilah yang seharusnya dilakukan orang Kristen pengikut Yesus dan Gereja.

Kedua, Senantiasa Mengucap Syukur karena sudah Mengenal Yesus Kristus
Pada Efesus 1:15, Paulus menyampaikan sungguh merupakan sebuah kebahagiaan baginya ketika menemukan Jemaat di Efesus tetap setia kepada Kristus. Hal itu berarti, Jemaat Efesus sudah mengenal Dia dengan benar. Pengenalan akan kebenaran dalam Kristus itulah yang menjadikan kehidupan seseorang menjadi terang mata hatinya (Ay. 18) dan orang semakin menyadari bahwa betapa hebat kuasa Allah melampaui segala kuasa yang ada di bumi (Ay. 19). Oleh karena itulah, Paulus menekankan Jemaat Efesus harus mengucap syukur, karena pengenalan akan Kristus dan juga atas kesetiaan iman mereka.

Apa yang disampaikan oleh Paulus yang mengucap syukur karena mendapati Jemaat Efesus tetap setia kepada Kristus, menjadikan ia bangga sebagai pengikut Yesus Kristus. Sebenarnya, tidak hanya Paulus, sebagai orang Kristen kita pun juga berbahagia dan mengucap syukur apabila mendapati orang Kristen yang hidupnya tetap setia di dalam iman kepada Kristus, baik dalam suka maupun duka.  Itu berarti, sebagai orang Kristen ia telah melakukan hal yang benar di dalam hidupnya. Lebih daripada itu, sebagai persekutuan orang percaya dalam Kristus, kesetiaan iman jemaat semakin mengokohkan gereja. Gereja semakin kuat dan terbangun solid, karena kesetiaan jemaat kepada Kristus.

Ketiga, Allah Sendiri akan Bertindak ‘Mengumpulkan Domba-dombaNya’
Ini berarti, karena kasih Allah atas kehidupan manusia, maka sebenarnya Allah tidak akan membiarkan umatnya hidup menjauh dari-Nya. Yehezkiel 34:11-14 menyebutkan bahwa Allah akan bertindak seperti seorang gembala yang mencari kawanan domba-Nya untuk dikumpulkan dan digembalakan di padang rumput yang hijau. Ini mengandung maksud bahwa, Allah tidak bisa meninggalkan hakikat-Nya yang adalah kasih. Dia adalah Allah yang peduli dan akan bertindak secara aktif manakala kehidupan umat-Nya tidak seturut dengan kehendak-Nya.

Jika demikian maka kita bisa menyimpulkan bahwa Allah merupakan pribadi yang tahu persis kehidupan umat-Nya dan Allah sangat memperhatikan umat-Nya. Hal ini seharusnya bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki kepedulian dan memiliki karakter welas asih kepada orang-orang yang dalam kehidupannya masih belum seturut dengan kehendak Allah. Orang Kristen tidak bisa bersikap acuh tak acuh dan menutup mata ketika menjumpai situasi yang tidak membawa damai sejahtera. Demikian pula juga ketika menjumpai orang yang dalam kehidupannya menjauh dari Allah, ia harus dituntun kembali kepada Allah. Orang Kristen harus meneladani apa yang dilakukan oleh Allah. Hal ini berlaku untuk diterapkan mulai dari lingkup keluarga, di masyarakat, dan di manapun orang Kristen berada.

Penutup
Menutup bulan budaya ini, marilah kita meneladani cara hidup yang sesuai diajarkan oleh Yesus Kristus. Marilah cara hidup yang diajarkan Yesus ini kita jadikan lifestyle atau gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari. Mengasihi yang tertindas, memberi tumpangan kepada tamu asing, memberi pakaian kepada yang orang-orang yang telanjang, memberi makan kepada orang yang lapar, dst. Marilah kita lakukan kepada orang-orang yang kita jumpai dimanapun, kapanpun, dan siapapun. Marilah cara hidup Kristus ini kita jadikan budaya untuk mengubah ‘dunia kecil’ di sekitar kehidupan kita dan marilah kita mulai dari diri sendiri. Niscaya, jikalau kita setia melakukannya, kita sudah melakukan kehendak Yesus Kristus dan sikap ‘welas asih’ yang kita lakukan, akan mengubah situasi di sekitar kita menjadi lebih baik dan menyukacitakan. Suasana yang ada adalah suasana penuh kasih, damai sejahtera, dan inilah suasana sorgawi yang kita usahakan untuk hadir di bumi. Tentu nantinya, ini juga akan membawa kita kepada keselamatan kekal di Sorga. Kiranya Roh Kudus menolong setiap kita. Amin. [BK].

 

Pujian : KJ. 407 : 1 – 3   Tuhan, Kau Gembala Kami

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten pengusaha ingkang nggadhahi perusahaan ingkang ageng sanget. Ewasemanten, sacara misterius, mesin bagian produksi wonten ingkang ngalami karisakan. Prekawis punika ndadosaken pengusaha kalawau rugi atusan yuta saben dintenipun. Para karyawan perusahaan ugi kuwatir, perusahaan anggenipun nyambut damel punika sangsaya dangu bangkrut lan tutup. Kuwatir ruginipun langkung kathah, pengusaha kalawau lajeng pados tukang/ahli mesin ingkang saged ndandosi mesin punika. Ahli mesin salajengipun dugi dhateng pabrik lajeng ngedalaken obeng lan muter setunggal sekrup ndamel obengipun. Lajeng mesin produksi punika saged gesang lan normal malih kados dene sakdèrèngipun. Ahli mesin punika lajeng maringi tagihan servis cacahipun Rp. 200.000.000 dhateng perusahaan. Pengusaha ngrumaosi bilih biaya servis mesin punika awis sanget lan boten masuk akal. Lajeng pengusaha kalawau nyuwun dhateng ahli mesin supados maringi rincian beaya servis mesin. Ahli mesin lajeng paring pangertosan bilih beaya muter sekrup punika namung Rp.10.000 mawon, nanging kangge mangertosi punapa masalahipun mesin, lan sekrup pundi ingkang kedah dipun puter kaliyan obeng punika beayanipun Rp. 199.990.000.

Saking prekawis punika kita saged mangertosi bilih ilmu pengetahuan punika bondo ingkang ageng sanget nilainipun. Ilmu pengetahuan saged migunani sanget lan mbekta karahayon lan paring kawilujengan dhateng pigesanganipun tiyang kathah. Pribadi ingkang dipun paringi ilmu pengetahuan punika ugi nggadhahi peran ingkang ageng sanget awit saged paring  kawilujenganipun dateng perusahan lan tiyang kathah ingkang nyambut damel.

Isi
Waosan kita sapunika Injil Mateus 25:31-46, Gusti Yesus ngersakaken supados manungsa saged gesang langgeng. Prekawis punika ingkang ndhasari Gusti Yesus ngendika bab ingkang badhe kalampahan ing pungkasan jaman. Gusti Yesus paring pitedah dhateng para pandherekipun, kados pundi pungkasan pigesanganipun manungsa mangke badhe kalampahan. Sejatosipun, punapa ingkang dipun ngendikakaken Gusti Yesus punika perangan saking panggulawentahipun Gusti Yesus dhateng para pandherekipun, supados saged mlebet Kratoning Swarga. Panggulawenthahipun Gusti Yesus punika dipun sampekaken kaping pungkasan, saderengipun Gusti Yesus nandang sangsara. Bab ingkang saged kita tuladhani saking waosan kita, inggih punika:

Sepisan, Gusti Yesus Punika Pakar/Ahli’nipun “Margi dhateng Swarga”
Injil Matius 25:31-46 nedahaken bilih Gusti Yesus kadosdene pakar/ahli ingkang saestu pirsa punapa ingkang badhe kalampahan mangke. Gusti Yesus paring pitedah bilih para tiyang mangke badhe dipun pisahaken amargi wajib ngadhepi pangadilanipun piyambak-piyambak miturut tumindakipun. Gusti Yesus mbikak rahasia bab pungkasan gesangipun manungsa lan kados pundi lumampahing pangadilan punika mangke. Boten namung punika kemawon, Gusti Yesus ugi paring pitedhah kados pundi manungsa ingkang gesang ing jagad punika sejatosipun saged uwal saking paukuman ing pangadilan mangke, awit nindakaken punapa ingkang dados karsanipun Gusti Yesus. Kadosdéné wonten ayat 32, Gusti Yesus paring pilihan ingkang jelas kados pundi tiyang gesang ing jagad punika mangke kedah ngadhepi kalih pilihan: milih dados Wedhus Gembel punapa Wedhus Jawa. Ingkang milih dados Wedhus Gembel inggih punika: para tiyang ingkang nindakaken karsanipun Gusti lan peduli dhateng para tiyang ingkang marginal utawi “terpinggirkan”. Para tiyang kala wau nggadhahi kepedulian lajeng nindakaken aksi nyata ingkang awujud pareng omben lan tetedhan dhateng tiyang ingkang ngelak lan keluwen. Tetuwi dhateng tiyang ingkang sakit, paring ageman dhateng tiyang ingkang mudha, paring panginepan dhateng tiyang asing, lsp. Tiyang ingkang nindakaken sadaya punika wau, sejatosipun sampun nindakaken kagem Gusti Yesus Kristus.

Salajengipun, ingkang milih dados Wedhus Jawa inggih punika para tiyang utawi golongan ingkang ‘terkutuk’ amargi para tiyang kalawau nutup pandelengipun lan boten peduli nalika manggihi tiyang ingkang luwe, tiyang ingkang ngelak, tiyang asing ingkang mbetahaken panginepan, lsp. Ingkang dipun karsakaken Gusti Yesus, para tiyang kalawau saged nindakaken karsanipun Gusti kanthi tumindak ingkang leres, matemah para tiyang kalawau pikantuk gesang langgeng ing swarga (Ay. 46). Punika ingkang kedahipun dipun lampahi tiyang Kristen lan greja.

Kaping Kalih, Tansah Saos Sokur awit Sampun Ndherek Gusti Yesus Kristus
Kitab Efesus 1:15,  Rasul Paulus saestu saos sokur lan bingah sanget awit manggihi pasamuwan Efesus ingkang tansah setya dhateng Yesus Kristus. Punika tegesipun pasamuwan Efesus sampun leres anggenipun ndherek Gusti Yesus. Mangertosi Gusti Yesus Kristus kanthi saestu punika ingkang dadosaken pigesangan tiyang Kristen dados pepadhang (Ay. 18) lan umat kagunganipun tansah sadhar bilih kuwasanipun Gusti Allah punika saestu dasyat nglangkungi sadaya kuwasa lan kakiyatan ing bumi (Ay. 19). Pramila, Paulus lajeng paring pitutur, pasamuwan Efesus kedah saged saos sokur, awit pasamuan Efesus saged tansah setya tuhu ing iman kapitadosanipun. Rasul Paulus  saestu remen lan ‘bangga’ dhateng pasamuwan Efesus ingkang mekaten punika.

Sejatosipun, boten namung Paulus, sadaya tiyang Kristen ugi tansah ngraosaken bingah lan saos sokur menawi manggihi sadhèrèkipun Kristen gesangipun tansah setya, wonten iman kapitadosan dhateng Gusti Yesus Kristus, wonten pigesangan susah lan bingah. Tegesipun, tiyang Kristen punika sampun nindakaken bab ingkang leres wonten gesangipun. Malahan, gesang kapitadosan punika saged nuwuhaken pasamuwan langkung kokoh lan kiyat. Iman kapitadosan warga pasamuwan ingkang kiyat punika, ingkang ndadosaken Greja saya kiyat lan langkung solid utawi utuh.

Kaping Tiga, Gusti Allah Piyambak ingkang Ngempalaken Para Wedhus Gembel Kagungan-Ipun
Punika nggadhahi teges, bilih karana katresnanipun Gusti Allah dhateng manungsa, pramila sejatosipun Gusti Allah boten badhe negak’aken umat kagunganipun punika tebih saking Panjenenganipun. Yehezkiel 34:11-14 nedahaken bilih Gusti Allah badhe tumindak kadosdene juru pangon ingkang ngempalaken para Wedhus Gembel-Ipun, lajeng dipun tuntun lan dipun ngen ing padhang sesuketan ingkang ijo lan subur. Punika nggadhahi maksud, bilih Gusti Allah boten saged nilar ‘hakekat’ipun piyambak inggih punika katresnan. Gusti Allah maha tresna lan tansah peduli. Piyambakipun badhe tumindak sacara aktif nalika pigesangan umatipun boten cundhuk kaliyan karsan-Ipun. Pramila kita saged paring kesimpulan bilih Gusti Allah punika tansah pirsa lan perhatian kaliyan punapa ingkang dipun lampahi ing pigesanganipun umat kagunganipun.

Bab punika sejatosipun saged kita tuladhani ing pigesangan kita sadinten-dinten. Minangka tiyang pitados, kita kedah nggadhahi kepedulian, nggadhahi karakter welas asih dhateng tiyang-tiyang ingkang gesangipun taksih dèrèng miturut karsanipun Allah. Tiyang Kristen boten saged nggadhahi sikep acuh tak acuh lan nutup pandelengipun nalika manggihi situasi ingkang tebih saking tentrem-rahayu. Makaten ugi nalika manggihi tiyang ingkang gesangipun nebih saking Gusti Allah, tiyang Kristen kedah nenuntun wangsul dhumateng Gusti Yesus. Tiyang Kristen kedah nuladhani punapa ingkang dipun tindakaken Gusti Allah lan ngetrapaken wonten ing gesang bebrayatan, gesang ing masyarakat, lan wonten pundi kemawon tiyang Kristen punika gesang.

Panutup
Wonten pungkasaning wulan budaya punika, sumangga kita nuladhani cara gesang ingkang cunduk kaliyan panggulawenthahipun Gusti Yesus Kristus. Sumangga cara gesang ingkang dipun tindakaken lan dipun gulawenthah kaliyan Gusti Yesus punika kita dadosaken life style utawi gaya hidup/budaya ing gesang sadinten-dinten. Nresnani ingkang kathindes, paring  penginepan dhateng tamu asing, paring klambi/ageman/rasukan dhateng tiyang-tiyang ingkang mudha, paring tetedhan dhateng tiyang ingkang kaluwen, lsp. Kita  tindakaken dhateng para tiyang ingkang mbetahaken, sintena kemawon ingkang kita panggihi, wonten pundi kemawon, lan kapan kemawon. Sumangga punika kita dadosaken budaya kagem ngubah ‘jagad cilik’ ing pigesangan kita. Mangga kita lampahi milai saking dhiri kita piyambak. Kita pitados menawi kita tansah setya nindakaken punika, kita sampun nindakaken karsanipun Gusti Yesus Kristus. Sikap welas asih ingkang kita tindakaken, saged ngrubah situasi ing pigesangan kita sangsaya sae. Swasana ingkang kebak katresnan, tentrem rahayu punika swasana swarga ingkang kedah kita budidaya saged kalampahan ing Bumi. Estu, prekawis punika ugi saged mbekta gesang kita dhateng kawilujengan langgeng ing Swarga. Mugi Sang Roh Suci tansah paring pitulungan dhateng kita. Amin. [BK].

 

Pamuji: KPJ. 320 : 1, 2  Swawi Sami Muji Allah

Renungan Harian

Renungan Harian Anak