Mempergunakan Mamon dengan Benar Khotbah Minggu 22 September 2019

Bacaan 1         :  Amos 8 : 4 – 7
Bacaan 2
        :  1 Timotius 2 : 1 – 7
Bacaan 3
        :  Lukas 16 : 1 – 13

Tema Liturgis   : Firman Allah Menerangi dan Menuntun Umat kepada Kebenaran.
Tema Khotbah
: Mempergunakan Mamon dengan Benar

 

KETERANGAN BACAAN :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Amos 8 : 4 – 7

Menurut catatan Carrol Stuhlmuller, CP: Nabi Amos hidup dan berkarya kisaran tahun 760 SM, dua tahun sebelum gempa bumi, di saat pemerintahan Raja Yerobeam II (786 – 746 SM) yang tergolong dalam kondisi makmur. Di tengah “kemakmuran” yang dicapai oleh bangsanya, Nabi Amos mendapati ketidakadilan di tengah masyarakat. Kemakmuran itu hanya dinikmati oleh segelintir orang, khususnya kaum bermodal besar (kaya) dan elit/bangsawan. Bisnis/perdagangan internasional yang luas untuk keuntungan orang kaya; praktik bisnis dijalankan dengan penuh tipuan bagi orang miskin yang tak berdaya dan merampas tanah mereka; bahkan menguras sumber-sumber alam untuk pemenuhan nafsu semata. Khususnya kaum elit/bangsawan hidup dalam kemewahan dan dalam pemenuhannya mengimpor minyak dan anggur. Pembiayaannya dilakukan dengan penarikan pajak yang dikumpulkan dari orang miskin.

Dalam bacaan ini seruan kenabian Amos jelas, disampaikan di tengah “kemakmuran” semu, kemakmuran yang hanya dinikmati oleh segelintir orang dan menghisap “darah” orang-orang miskin. Nabi Amos memperingatkan dengan tegas bahwasanya setiap orang yang menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang yang sengsara (ayat 4), yang di dalamnya dipenuhi pikiran kecurangan demi mendapatkan untung (profit), perbuatan curang dan sok kuasa mereka tidak akan dilupakan oleh TUHAN (ayat 7).

1 Timotius 2:1-7

Jemaat mula-mula yang telah tumbuh, menghidupi dinamika yang berubah. Tema-tema dalam pengajaran gereja pun kemudian berkembang dan memuat berbagai macam hal di dalam penataan gereja. Misalnya terkait dengan soal kepemimpinan gereja dan bagaimana kriteria pemilihannya (bdk. 1 Tim. 3:1-7). Begitu pula gereja kemudian perlu mendefinisikan hubungannya dengan masyarakat/pemerintahan. Atau dengan kata lain, bagaimana gereja/jemaat menjadi bagian integral di tengah masyarakat.

Pada ayat 1, gereja dinasihati untuk menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang. Dan dilanjutkan ayat 2 dirincikan pada raja-raja dan semua pembesar. Dengan harapan agar ketenangan dan ketentraman seturut dengan kesalehan dan kehormatan dapat dirasakan oleh semua. Dengan demikian gereja/jemaat dinasihati untuk sungguh-sungguh menjadi bagian integral dari masyarakat. Seruan untuk berdoa bagi semua orang, raja dan pembesar kita maknai sebagai nasihat untuk turut serta aktif bagi hadirnya rasa “tenang” dan tentram bagi rakyat. Ketenangan dan ketenteraman untuk hidup mewujudkan kesalehan dan kehormatan sebagai umat Kristus/gereja.

Lukas 16 : 1 – 13

Bagian ini diawali dan diakhiri dengan perumpamaan. Dituturkan seorang bendahara yang akan mengalami pemecatan dari tuannya. Sedikit membingungkan pada ayat 8, dimana Tuhan Yesus “memuji” ketidakjujuran bendahara tersebut. Apakah Yesus mendorong untuk tidak jujur? Jerome Kodell mengajukan satu penafsiran: bahwasanya si bendahara bukan tidak jujur, melainkan salah mengelola keuangan majikannya. Kecerdikan si bendahara diutarakan dengan melakukan pengurangan jumlah hutang dari nasabah tuannya. Dengan harapan bahwa mereka (para nasabah) akan mengingatnya dan menerimanya. Si bendahara menyadari bahwa pasca pemecatannya, ia akan kesulitan untuk bekerja. Ia tidak dapat mencangkul dan ia tidak mungkin mengemis.

Kodell juga menafsirkan bahwa si bendahara tersebut kemungkinan memberikan potongan hutang kepada nasabah majikannya dengan uang miliknya sendiri. Dari sini menjadi lebih jelas, bahwasanya perumpamaan tersebut hendak menyampaikan tentang seseorang yang membarui hidup dan melakukan tindakan keadilan di dalam menggunakan kewenangan dan harta miliknya. Demikian cerdik si bendahara dalam mempersiapkan tempat duniawinya kelak (saat pemecatan dan masa suram), demikianlah hendaknya “anak-anak terang” mempersiapkan tempat di Kerajaan Allah. Harta dan kekuasaan/kewenangan di dunia ini hendaklah dipahami sebagai sarana untuk mempersiapkan Kerajaan Allah (dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini). Bukan menjadikan Mamon sebagai Tuhan.

Benang Merah Tiga Bacaan:

Demi kekuasaan dan uang manusia bisa menyengsarakan dan menindas sesamanya. Bahkan kecurangan yang luar biasa liciknya bisa dilakukan (bacaan 1). Namun, kekuasaan (dan uang) dapat menjadi sarana bagi hadirnya ketenangan dan ketentraman bagi manusia (bacaan 2). Tinggal dimana kita meletakkan pengabdian dan kesetiaan kita. Kita hidup bagi Mamon / uang / kekuasaan, ataukah kita bersama dengan Mamon / uang / kekuasaan mengabdikannya demi Kerajaan Allah.

 

RANCANGAN KOTBAH  : Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan,

“Manusia bisa menjadi mahkluk yang tidak peduli terhadap sesamanya”, begitu yang dituturkan Nabi Amos (bacaan 1). Di saat sudah “kenyang” dengan kemewahan, masih saja curang. Tidak berbagi rejeki kepada sesama, sebaliknya berlaku curang guna meraup sebesar mungkin keuntungan. Tidak peduli jika kecurangan itu semakin menyengsarakan orang lain (miskin). Kewenangan dan kekuatan ekonomi yang dimiliki hanya untuk memuaskan ketamakan diri.

Senada dengan Nabi Amos, 1 Timotius 2:1-7 (bacaan 2). Timotius dinasehati untuk mendoakan raja-raja dan pembesar-pembesar. Supaya menghadirkan “ketenangan” dan ketenteraman di tengah masyarakat. Mengayomi rakyat, menciptakan ketenangan dan ketentraman; Sehingga warga mampu mewujudkan kesalehan dan kehormatan hidup sesuai agamanya. Tidaklah berlebihan jika dibalik doa itu dikandung pemahaman: kewenangan, kekuatan ekonomi juga, yang sejatinya sarana untuk menghadirkan kesejahteraan.

Isi

Saudara-saudara yang terkasih,

Injil Lukas (bacaan 3) menuturkan hal yang senada dengan dua bacaan di atas. Menempatkan Mamon (kewenangan, kekuatan ekonomi) sebagai cara membangun Kerajaan Allah. Dituturkan dalam perumpamaan: seorang bendahara yang akan mengalami pemecatan. Ia dinilai tidak mampu mengelola kekayaan majikannya. Di tanah Palestina (era itu), seorang bendahara dipercaya secara penuh untuk mengelola kekayaan majikannya (bahkan membuat kebijakan)-sekelas manager.

Dampak pemecatan itu akan menghilangkan penghidupannya. Ia tidak bisa kembali bekerja sebagai bendahara, karena reputasi pemecatan. Masa depan yang suram dialaminya. Lebih suram lagi, tidak bisa bercocok tanam/mencangkul dan tidak mungkin mengemis.

Lalu ia menyusun strategi untuk “menyelamatkan” masa depannya. Ia membutuhkan orang lain! Melaluinya ia tahu bahwa hidup bukan hanya soal mengumpulkan Mamon, tetapi juga persahabatan/relasi. Perubahan makna hidup, makna Mamon/kewenangan/harta milik bagi si bendahara. Mamon tak mampu menjadi sandaran abadi di sepanjang hidup. Langkah taktis diwujudkan, bertemu dengan nasabah dan mengurangkan jumlah hutang nasabah. Ia mempergunakan sisa kewenangan dan harta miliknya untuk menjalin persahabatan.

Jika demi keselamatan di dunia begitu cerdik si bendahara itu, hendaknya “anak-anak” terang pun cerdik seperti itu. (Cerdik) Mempersiapkan diri sebaik mungkin demi datangnya Kerajaan Allah. Dalam kaitannya dengan Mamon, maka Mamon dapat menjadi sarana menghadirkan tanda kerajaan Allah. Mamon/kekuasaan/uang/harta milik demi Kerajaan Allah dan membangun kesejahteraan (membangun persahabatan).

Penutup

Saudara-saudara yang terkasih,

Kewenangan, uang, harta milik harusnya semakin memampukan kita untuk menjadi berkat bagi sesama dan hidup seturut dengan kebenaran Firman Allah. Sebagai usul konkrit, mengutip tulisan Pdt. Gerrit Singgih, “Langkah sederhana dapat dilakukan dengan memberi upah/gaji yang baik (layak) bagi pekerja kita (termasuk tenaga gereja, pembantu rumah tangga, buruh tani, dll), bukan karena kedermawanan majikan”. Kiranya kita senantiasa dimampukan Allah mengabdikan Mamon seturut kebenaran Firman Allah. Amin. (PHS)

 

Pujian : KJ.  433 : 1 – 3  / 365b : 2, 4


RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi

Pambuka

Para sadherek kinasih,

“Manungsa saged dados mahkluk/titahipun Allah ingkang mboten gadhahi raos preduli tumrap tiyang sanes”, satunggiling poin ing Kitab Amos (waosan 1). Ing kahanan ingkang sampun ngraosaken kacekapan saha kemewahan, taksih mujudaken tumindak curang. Mboten preduli bilih tumindakipun punika nindes saha dadosaken kasangsaraning tiyang miskin. Sedaya kewenangan lan kasugihanipun punika mboten dados sarana mangun kawilujenganing gesang tiyang kathah.

Seratipun Rasul Paulus inggih senada kaliyan punapa ingkang dipun serat Nabi Amos (waosan 2). Ing 1 Timotius 2:1-7 Timotius kedhahipun asung pandonga tumrap para raja, matemah anggen pasamuwan punika gesang ing satengahing masyarakat saged ngraosaken ayem lan tentrem. Kanthi makaten warganing pasamuwan kasagedaken mujudaken kesalehan lan kehormatan minangka umat Kristen.  Pramila pandonga punika ngemu pemahaman bilih: kuasa, kasugihan, punika sarana mangun gesang kebak ing katentreman.

 

Isi

Para sadherek kinasih,

Injil Lukas – waosan kita –  samangke (bacaan 3) nyariosaken bab ingkang senada kaliyan waosan 1 lan 2. Inggih punika “mapanaken Mamon (kuasa, kasugihan/kekuatan ekonomi) ngabdi marang Gusti Allah. Kacariyosaken ing salebeting perumpamaan: wonten bendahara ingkang badhe ngalami pemecatan . Piyambakipun dipun dangu kaliyan bendaraipun: boten saged nglampahi tanggeljawab. Ing masyarakat Palestina, (jaman PB) bendahara dipun pasrahi tanggeljawab mranata “tanah” kagugangipun si bendara (kados manajer).

Piyambakipun ngrumaosi bakal kecalan sumber penghidupan. Mboten saged jumeneng bendahara malih, awit reputasi ingkang risak. Masa depan ingkang awrat bakal kelampahan. Mboten gadhahi kasagedan ing bab pertanian (mencangkul) lan isin badhe ngemis. Kahanan kados makaten nuwuhaken pamikir: kedhah nyawisaken panggenan nalika ngalami wekdal pasca pemecatan. Inggih punika mbetahaken tiyang sanes. Ngrumaosi bilih gesang punika mboten namung bab ngempalaken Mamon, ananging bab pasedherekan kaliyan tiyang sanes. Piyambakipun ngrumaosi bilih Mamon mboten saged dados jaminan gesangipun. Pramila si bendahara kala wau mangun prajanjian enggal kaliyan nasabah. Utang para nasabah bendaraipun dipun kirangi. Si bendahara ginakaken sisa kuasa lan kasugihanipun kagem mangun pasedherekan. Kanthi pangajeng-ajeng, ing wekdal ingkang badhe kelampahan saged maringi pambiyantu.

Simpulan : Manungsa, anggenipun nyawisaken panggenan ing alam donya punika cerdik sanget, makaten ugi kedhahipun para umat nyawisaken panggenan ing Kratoning Allah. Mranata Mamon punika dados sarana mangun pasedherekan (katentreman) saha nyawisaken panggenan ing Kratoning Allah.

 

Panutup

Para sadherek kinasih,

Kuasa, arta, kasugihan (Mamon) kedhahipun dadosaken kita punika minangka saluran berkah tumrap tiyang kathah. Kanthi makaten, gesang kita namung ngabdi dumateng Gusti Allah. Satunggiling conto ingkang saged kita lampahi, methik seratanipun Pdt. Gerrit Singgih: “Memberi Upah/gaji yang layak/baik bagi orang-orang yang bekerja untuk kita (termasuk Pegawai Gereja)”.Gusti mberkahi. Amin.  (PHS).

 

Pamuji : KPJ. 178a : 1, 2  Pasrah Sumarah Mring Gusti

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •