Pelayananku Tanda Kasihku Kepada Allah Khotbah Minggu 29 Oktober2023

16 October 2023

Minggu Biasa | Pekan Pemuda
Stola Hijau

Bacaan 1: Imamat 19 : 1 – 2, 15 – 18
Bacaan 2: 1 Tesalonika 2 : 1 – 18
Bacaan 3: Matius 22 : 34 – 46

Tema Liturgi: Pemuda GKJW Melu Tandang Gawe
Tema Khotbah: Pelayananku Tanda Kasihku Kepada Allah

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Imamat 19 : 1 – 2, 15 – 18
Perikop ini merupakan bagian dari “Hukum Kesucian”.  Hukum kesucian berisi perintah-perintah Tuhan kepada umat Israel  untuk menjaga kesucian dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehidupan keluarga, beribadah kepada Tuhan, pekerjaan, dan juga bagaimana memperlakukan sesama seperti yang ada pada bacaan kita saat ini. Menjaga kekudusan itu dilakukan dengan cara: harus berlaku adil dalam peradilan (Ay. 15), tidak menyebarkan fitnah yang bisa menghancurkan nama baik saudara sebangsa, apalagi mengancam kehidupan sesamanya (Ay. 16). Lebih baik menegor saudara yang salah dari pada membenci dan menyimpan dendam kepadanya yang bisa mendatangkan dosa buat kita (Ay. 17). Kasih terhadap sesama ini dilakukan dengan motivasi  jika kita bisa mengasihi diri sendiri, memikirkan semua hal yang baik untuk diri kita sendiri, bisa memaafkan diri kita, maka harusnya kita juga bisa dan mau untuk memikirkan yang baik dan memaafkan orang lain. ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri …

Hukum Kesucian ini harus dengan disiplin dilakukan karena pada ayat 2 “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan,  Allahmu, kudus.” Proses menjadi kudus ini bukanlah usaha manusia sendiri, melainkan anugerah Allah. Allah sendiri yang akan menyertai umat-Nya untuk berproses di sepanjang kehidupan untuk  menjadi pribadi yang berkenan di hadapan-Nya dan melakukan kebaikan terhadap sesama.

1 Tesalonika 2 : 1 – 18
Paulus sedang menasihati jemaat Tesalonika dengan motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, karena dia menasihati tidak lahir dari kesesatan, tidak dari maksud yang tidak murni dan tidak disertai dengan tipu muslihat (Ay. 3). Sebab setiap orang harus memiliki tujuan yang benar dalam melayani Tuhan. Paulus menyampaikan bahwa pelayanan yang dilakukan itu untuk menyenangkan Allah yang menguji hati manusia bukan menyenangkan manusia (Ay. 4). Juga dalam melayani jangan bermulut manis atau merayu,  juga jangan mempunyai maksud loba yang tersembunyi atau jangan bertujuan mencari keuntungan atau keserakahan (Ay. 5). Pada ayat 6 Paulus berkata: “juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia.” Hal-hal inilah yang menjadi tujuan dalam pelayanan, sehingga akibat pelayanan menjadi berkat.

Dalam ayat 7-8, Paulus menjelaskan mengenai cara yang benar dalam melayani jemaat yang dipercayakan Tuhan, yaitu: Dengan ramah seperti seorang ibu yang sedang mengasuh dan merawat anaknya. Serta juga dengan penuh kasih melayani jemaat. Paulus melayani jemaat juga dengan kehidupan yang benar, yaitu dengan saleh, adil, dan tidak bercacat (Ay. 10). Hal ini semua disampaikan Paulus supaya jemaat Tesalonika bisa hidup sesuai dengan apa yang Allah kehendaki (Ay. 12). Meskipun Paulus menasihati jemaat Tesalonika, akan  tetapi Paulus juga tidak lupa untuk mengapresiasi keberhasilan pelayanan orang-orang di Tesalonika. Itu sebabnya Paulus memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah, karena Firman Allah bekerja dengan baik di dalam diri jemaat meski jemaat Tesalonika juga mengalami penderitaan (Ay. 13-14). Hal inilah yang semakin menumbuhkan kecintaan dan kerinduan Paulus kepada jemaat Tesalonika yang jauh di mata tapi dekat di hati (Ay. 17).

Matius 22 : 34 – 46
Ini adalah percakapan Tuhan Yesus dengan orang Farisi yang ahli Hukum Taurat. Setelah mereka tahu bahwa Tuhan Yesus bisa membuat orang-orang Saduki yang bertanya tentang “kebangkitan” menjadi bungkam (Ay. 34). Maka orang Farisi berusaha menyerang dan menjatuhkan Tuhan Yesus dengan memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sulit untuk menjawab hukum mana yang terutama dalam hukum Taurat (Ay. 36), karena menurut tradisi Yahudi, kesepuluh hukum Taurat itu dijabarkan dalam 613 perintah yang terdiri dari 248 perintah positif (untuk dilakukan) dan 365 perintah negatif (untuk dihindari). Angka 248 diperoleh dari jumlah anggota tubuh manusia, sedangkan 365 dari jumlah hari dalam setahun. Walaupun tradisi ini mengandung beberapa aspek yang masih kabur (tahun pemunculan, inisiator, alasan di balik angka, dsb), tetapi sudah cukup untuk memberikan gambaran betapa rumitnya pertanyaan yang digunakan untuk mencobai Yesus. Selain sulit, pertanyaan tersebut juga dilematis. Orang-orang Yahudi sudah sering memperdebatkan hal ini. Sebagian memahami bahwa semua perintah adalah sama kedudukannya. Tidak ada yang lebih besar atau kecil. Sebagian yang lain mencoba mengelompokkan semua perintah dalam kategori besar dan kecil. Jadi apapun jawaban Tuhan Yesus pasti akan didebat oleh sebagian kelompok.

Namun Tuhan Yesus selalu memiliki jawaban yang tak terduga. Dia tidak mau masuk ke dalam jebakan orang Farisi. Semua orang Yahudi pasti sudah mengetahui dua perintah yang dikutip oleh Tuhan Yesus dalam jawaban-Nya. Mereka bahkan setiap hari mengucapkan perintah untuk mengasihi TUHAN dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (bdk. Ul. 6:4-5). Perintah untuk mengasihi sesama manusia juga tidak asing sama sekali di telinga mereka (Im. 19:18). Semua hukum digenapi dalam satu kata, yaitu “Kasih”, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Kedua perintah ini tidak bisa saling dipisahkan karena mengasihi Allah juga harus ditunjukkan dengan mengasihi sesama. Kasih kepada sesama yang bisa kita lihat merupakan bukti dari kasih kita kepada Allah yang tidak bisa kita lihat.

Setelah menjawab pertanyaan orang Farisi, lalu Tuhan Yesus balik bertanya, “Mengapa Daud menyebut Mesias sebagai “tuan” (Ay. 43), jika Mesias adalah anak keturunan Daud (Mzm. 110:1)? Pertanyaan Tuhan Yesus membuat orang Farisi yang berupaya mencobai dan menjebak-Nya menjadi bungkam seperti orang Saduki. Keengganan mereka tidak menjawab pertanyaan Tuhan Yesus karena motif terselubung mereka bukan dilandaskan pada kasih, melainkan pada kejahatan. Selain itu, kebungkaman mereka bukan tanda kerendahan hati, melainkan ekspresi kekerasan dan kedegilan hati mereka untuk menyangkal kebenaran Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kasih kepada Allah harus ditunjukkan dengan kasih kepada sesama. Mengasihi sesama dimulai dari pengalaman bersama Tuhan. Tuhan yang sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Kasih Tuhan inilah yang merupakan alasan untuk mengasihi sesama. Mengasihi sesama ini ditunjukkan dengan pelayanan dengan hati yang tulus, tidak untuk mencari keuntungan dan pujian dari manusia. Gereja sebagai agen kasih juga harus membuka seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin menunjukkan kasihnya dengan berpelayanan, khususnya para kaum muda.

 

Rancangan Khotbah : Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada kalimat yang bunyinya, “Lakukan apa yang anda cintai dan cintai apa yang anda lakukan.” Kalimat ini ingin mengajak kepada banyak orang supaya melakukan apa saja yang dia cintai sehingga bisa melakukannya dengan senang hati dan tanpa paksaan. Misal saja saat seseorang melakukan hobi kesenangannya, orang yang senang memancing akan tetap bisa merasa nyaman duduk berjam-jam di pinggir sungai meski hujan panas dan banyak nyamuk. Tapi akan sangat tidak baik hasilnya jika seseorang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. Misal saja banyak anak muda yang tidak bisa menyelesaikan dengan baik perkuliahannya atau pekerjaannya disebabkan karena jurusan perkuliahan atau pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang dia sukai hanya karena menuruti keinginan orang tuanya, sehingga dia melakukannya dengan penuh keterpaksaan. Jika kalimat ini kita gunakan dalam kehidupan bergereja, mungkin bisa muncul banyak pertanyaan: Apakah kita melakukan pelayanan dengan senang hati dan tanpa paksaan? Apakah selama ini kita menyukai berkegiatan pelayanan di gereja? Atau kita bisa memberikan pertanyaan “Kenapa kita harus menyukai pelayanan di gereja?

Isi
Jawaban dari pertanyaan di atas bisa kita renungkan pada apa yang Tuhan Yesus ajarkan dalam bacaan Injil saat ini. Diceritakan orang Farisi sedang berusaha menyerang dan menjatuhkan Tuhan Yesus dengan memberikan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sulit untuk menjawab hukum mana yang terutama dalam Hukum Taurat. Karena menurut tradisi Yahudi, kesepuluh hukum Taurat itu dijabarkan dalam 613 perintah terdiri dari 248 perintah positif (untuk dilakukan) dan 365 perintah negatif (untuk dihindari). Dari sekian banyak perintah itu Tuhan Yesus diminta untuk menjawab mana yang paling utama, tentu sulit menjawabnya. Selain sulit, pertanyaan tersebut juga dilematis. Orang-orang Yahudi sudah sering memperdebatkan hal ini. Sebagian memahami bahwa semua perintah adalah sama kedudukannya. Tidak ada yang lebih besar atau kecil. Sebagian yang lain mencoba mengelompokkan semua perintah dalam kategori besar dan kecil. Beberapa orang menganggap hukum penyunatan yang utama, yang lain mengutamakan hukum korban, ada juga yang mengutamakan hukum hari sabat. Jadi jawaban apapun yang Tuhan Yesus berikan pasti akan mendapat sanggahan dari salah satu kelompok.

Namun dengan hikmat-Nya, Tuhan Yesus memberi jawaban dengan begitu bijaksana. Semua orang Yahudi pasti sudah mengetahui dua perintah yang dikutip oleh Tuhan Yesus dalam jawaban-Nya. Mereka bahkan setiap hari mengucapkan perintah untuk mengasihi TUHAN dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (bdk. Ul. 6:4-5). Perintah untuk mengasihi sesama manusia juga tidak asing sama sekali di telinga mereka (Im. 19:18). Semua hukum digenapi dalam satu kata yaitu “Kasih”, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Kedua perintah ini tidak bisa saling dipisahkan karena mengasihi Allah juga harus ditunjukkan dengan mengasihi sesama. Kasih kepada sesama yang bisa kita lihat merupakan bukti dari kasih kita kepada Allah yang tidak bisa kita lihat.

Namun nampaknya mengasihi Allah yang tidak terlihat jauh lebih mudah dari pada mengasihi sesama yan terlihat. Bagaimana kita dapat mengasihi sesama? Jawabannya terletak pada kalimat “Akulah TUHAN” pada bacaan pertama (Im. 19:2). Alasan di balik kasih kepada sesama terletak pada diri TUHAN. Siapa TUHAN di hadapan kita lebih menentukan daripada siapa orang lain di depan kita. Jika kita selalu memandang orang lain, kita jarang menemukan alasan untuk mengasihinya karena mungkin mereka sering menyakiti hati kita. Bagaimana mungkin mengasihi orang yang sering berbuat kesalahan kepada kita, bahkan yang melakukan kejahatan yang sedemikian kejam kepada kita? Hanya ketika kita menunjukkan mata kita kepada TUHAN sebagai Allah yang penuh kasih, kita menemukan semua alasan untuk mengasihi orang lain. Selain itu kasih terhadap sesama ini dilakukan dengan motivasi  jika kita bisa mengasihi diri sendiri, memikirkan semua hal yang baik untuk diri kita sendiri, bisa memaafkan diri kita, maka harusnya kita juga bisa dan mau untuk memikirkan yang baik dan memaafkan orang lain. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Pemahaman inilah yang juga menguatkan Rasul Paulus dalam melakukan misi pelayanannya. Meskipun harus mengadapi banyak penderitaan dan tantangan tetapi ia tetap setia melayani Tuhan karena Rasul Paulus mengatakan bahwa motivasi pelayanannya adalah untuk menyukakan hati Allah, bukan untuk menyukakan manusia (1 Tes. 2:4). Apa saja yang dilakukan oleh Rasul Paulus untuk menyukakan hati Allah. Rasul Paulus melayani dengan hati yang tulus. Ia tidak memiliki maksud tersembunyi atau mencari keuntungan bagi diri sendiri dan ia tidak mencari pujian (1 Tes. 2:5-6). Hal inilah yang membuat pelayanan Rasul Paulus bisa menjadi berkat bagi jemaat.

Allah sudah sedemikian baik kepada kita. Bahkan di tengah kegagalan dan ketidaksetiaan kita, Dia tetap setia dan mengasihi kita? Jika Allah sudah sedemikian rupa mengasihi kita, bukankah kita seharusnya juga belajar untuk mengasihi sesama.

Jadi pertanyaan, “Kenapa kita harus menyukai pelayanan di gereja?” Jawabannya karena itu bentuk kasih kita kepada Allah dan sesama, karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita. Panggilan untuk menunjukkan kasih ini ditujukan kepada semua warga jemaat, tidak hanya yang tua saja, tetapi juga yang muda. Meski sering dikatakan bahwa pemuda adalah generasi penerus gereja akan tetapi keterlibatannya dalam pelayanan bergereja harus ditunjukkan mulai dari sekarang. Keterlibatan kaum muda bisa mendorong gerak pelayanan gereja semakin maju dan mengikuti perkembangan zaman. Sedangkan generasi tua bisa dengan penuh kesabaran dan mendampingi para muda dengan memberikan wadah yang seluas-luasnya untuk mereka bisa ambil bagian dalam pelayanan. Seperti Paulus mendampingi jemaat Tesalonika dengan ramah seperti seorang ibu yang sedang mengasuh dan merawat anaknya. Hal penting lainnya yang harus ada dalam kehidupan bergereja adalah apresiasi dan penghargaan. Sama seperti Paulus yang mengapresiasi keberhasilan pelayanan jemaat Tesalonika, jika ada pemuda atau siapa saja yang mulai belajar melayani mari kita dukung, kita semangati, jangan sampai malah diolok dan dihina. Jika ada hal yang masih belum benar, ya mari diberitahu dengan baik dan yang membangun. Dengan demikian maka gereja akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi para pemuda dan siapa saja untuk bisa mengembangkan dirinya lewat pelayanan yang ditunjukkan.

Penutup
Mari para pemuda dan siapa saja, kita menunjukkan kasih kita kepada Allah dengan ikut ambil bagian dalam pelayanan bergereja. Mari cintai gereja kita, cintai orang-orang yang ada di dalamnya, cintai setiap pelayanan yang kita lakukan. Bukan hanya menunggu kesempatan yang baik baru mau melayani, melainkan mari memakai setiap kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, jangan melayani hanya saat kita memiliki waktu luang, melainkan luangkanlah waktu untuk melayani. Mari pemuda dan semuanya manfaatkanlah setiap kesempatan yang ada untuk melayani Tuhan. “Pemuda GKJW ayo melu tandang gawe!”. Tuhan memberkati. Amin. [M@’ul].

 

Pujian: Kid. Kontekstual 93 Hai Pemuda Gkjw

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung Rancangan Khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten tembung ingkang mekaten, “Lakonana apa sing mbok tresnani lan tresnanana apa sing mbok lakoni.” Tembung punika sejatosipun badhe ngajak sadaya tiyang kangge nindhakaken punapa kemawon ingkang dipun remeni supados saged nindakaken kanthi sukarena lan boten kapeksa. Kados ta nalika tiyang nindhakaken hobinipun. Tiyang ingkang remen mancing badhe tetep saged raos ayem lenggah jam-jaman wonten ing pinggir lepen sinaosa jawah utawi benter lan kathah nyamuk. Nanging badhe boten sae asilipun menawi tiyang kapeksa nindhakaken punapa ingkang boten dipun remeni. Kados ta kathah lare nem boten saged ngrampungaken kanthi sae kuliahipun utawi pandamelanipun awit jurusan kuliah utawi pandamelanipun sanes ingkang dipun remeni awit namung nuruti pikajengipun tiyang sepuh, mila anggenipun nglampahi kanthi kapeksa. Menawi tembung ing inggil punika kita agem kangge gesang paladosan wonten ing greja, mbok menawi saged tuwuh pitaken: “Punapa kita sampun nindhakaken paladosan kanthi sukabingahing manah lan boten kapeksa? Punapa kita remen utawi tresna ndherek paladosan wonten ing  greja? Utawi kita saged paring pitaken: “Kenging punapa kita kedah remen nindhakaken paladosan wonten ing greja?” .

Isi
Wangsulan saking pitakenan ing inggil punika saged kita raosaken wonten ing piwulangipun Gusti Yesus ing waosan Injil dinten punika. Kacariosaken tiyang Farisi kepingin nyerang lan ngasoraken Gusti Yesus kanthi paring pitakenan ingkang ewet dipun wangsuli. Ewet badhe mangsuli angger-angger pundi ingkang paling ageng utawi paling utami wonten ing angger-angger Toret. Awit miturut tradisi Yahudi, sadasa angger-angger Toret punika dipun jlentrehaken wonten ing 613 prentah. Wonten 248 prentah positif ingkang kedah dipun lampahi lan 365 prentah negatif ingkang kedah dipun singkur. Saking angger-angger ingkang kathah punika kalawau pundi ingkang paling ageng utawi utami? Tamtu ewet sanget badhe mangsuli.  Boten namung ewet, pitaken punika ugi dilematis. Tiyang Yahudi sampun asring debat bab punika. Sawetawis golongan kagungan pamanggih bilih sadaya angger-angger punika sami, boten wonten ingkang paling ageng lan boten wonten ingkang paling alit. Nanging sawetawis golongan sanesipun kagungan pamanggih bilih angger-angger tetak punika ingkang paling utami, wonten ugi angger-angger korban punika ingkang paling ageng, sanenipun kagungan pamanggih bilih angger-angger dinten sabat punika ingkang paling ageng. Dados menawi Gusti Yesus badhe paring wangsulan punapa kemawon, Panjenenganipun badhe dipun bantah kaliyan salah satunggiling golongan.

Nanging kanthi wicaksana Gusti Yesus saged paring wangsulan. Sadaya tiyang Yahudi sampun sumerap kalih angger-angger ingkang dipun ngendikakaken Gusti Yesus. Tiyang Yahudi saben dinten sampun mungel prentah kangge nresnani Gusti kanthi gumolonging ati, nyawa, lan budi (Pangandharing Toret 6:4-5). Prentah kangge nresnani sesami ugi boten asing dipun pirengaken (Kaimaman 19:18). Sadaya angger-angger saged dipun ketingalaken wonten ing tembung “tresna”. Tresna dhateng Gusti lan tresna dhateng sesami. Kalih angger-angger punika boten saged dipun pisah, awit nresnani Gusti kedah kawujud kanthi nresnani sesami. Katresnan dhateng sesami ingkang katon punika minangka bukti saking katresnan kita dhateng Gusti ingkang boten katon.

Kadosipun nresnani Gusti ingkang boten katon punika langkung gampang dipun lampahi tinimbang nresnani sesami ingkang katon. Lajeng kados pundi kita saged nresnani sesami? Wangsulan punika wonten ing tembung “Ingsung Yehuwah Allahira” ing waosan sepisan (Kaimaman 19 : 2). Ingkang dados jalaran nresnani sesami punika wonten ing pribadi Gusti Allah. Sinten ta Gusti Allah wonten ing gesang kita punika langkung penting tinimbang sinten tiyang sanes ing ngajeng kita. Menawi kita namung ningali tiyang sanes, kita  kewetan pados alesan kangge nresnani piyambakipun, awit mbok menawi sampun asring piyambakipun nglarani manah kita, nyalah dhateng kita, lan tumindhak awon dhateng kita. Inggih namung nalika kita mandheng Gusti Allah ingkang kebak katresnan, kita saged manggihaken alesan kangge nresnani sesami. Nresnani sesami ugi saged kita tindhakaken kados kita nresnani dhiri kita piyambak. Menawi kita saged nresnani dhiri kita kanthi mikiraken prekawis-prekawis ingkang sae kangge dhiri kita, saged paring pangapura dhateng dhiri kita piyambak, kedahipun kita ugi saged lan purun mikiraken prekawin-prekawis ingkang sae kangge tiyang sanes. “Sira tresnaa ing sapepadhanira dikaya marang awakira dhewe.

Kagungan pamanggi kados mekaten, ugi ingkang ngiyataken Rasul Paulus anggenipun nindhakaken paladosan. Sinaosa kedah ngadepi kathah karibedan nanging piyambakipun tetep setya tuhu ing paladosan, awit Rasul Paulus ngendikan bilih paladosanipun punika namung kangge ngremenaken penggalihipun Gusti Allah, sanes kangge ngeremenaken manungsa (1 Tes. 2:4). Rasul Paulus paring paladosan kanthi manah ingkang tulus, boten pados untungipun piyambak lan panggalembana saking manungsa (1 Tes. 2:5-6). Prekawis punika ingkang dadosaken paladosanipun Rasul Paulus saged dados berkat kangge pasamuwan. Gusti Allah sampun saestu sae dhateng kita, sinaosa kita asring gagal dados pandherekipun Gusti ingkang setya tuhu. Nanging Gusti tetep setya lan nresnani kita. Gusti Allah sampun ngetingalaken katresnan dhateng kita, kedahipun kita ugi sinau kangge nresnani sesami.

Dados pitaken, “Kenging punapa kita kedah remen nindhakaken paladosan ing greja?” Wangsulanipun awit punika wujud katrenan kita dhumateng Gusti lan sesami. Awit Gusti Allah sampun langkung rumiyin nresnani kita. Timbalan paladosan punika kangge sadaya warganing pasamuwan, boten namung kangge golongan sepuh kemawon, nanging ugi kangge para nem-neman. Sinaosa asring dipun ngendikakaken bilih pemuda punika generasi penerus gereja, nanging wujud paladosan para pemuda kedah dipun ketingalaken wiwit sak mangke. Menawi pemuda purun ndherek paladosan ing greja, punika saged mbekta kemajenganipun pasamuwan kangge ngadepi owah-owahanipun jaman. Lajeng para sepuh saged kanthi sabar anggenipun ndampingi para pemuda kanthi paring wadah ingkang kathah kangge para pemuda saged nderek paladosan wonten ing greja. Sami kados Paulus ndampingi pasamuwan Tesalonika kanthi sabar kados biyung ingkang ngrimat yoganipun. Prekawis sanesipun ingkang wigati sanget kedah wonten ing pasamuwan inggih punika apresiasi lan ngajeni. Kados Paulus ingkang ngajeni paladosan ingkang sampun dipun ketingalaken dening Pasamuwan Tesalonika. Mekaten ugi menawi wonten pemuda utawi sinten kemawon wonten ing gesang pasamuwan purun sinau kangge paladosan, nggih sumangga kita dukung, kita paring semangat. Sampun ngantos dipun cacat punapa malih dipun paido. Menawi wonten ingkang boten leres inggih mangga dipun dhawuhi kanthi sae lan mbangun. Kanthi mekaten greja kita saged dados papan ingkang ngremenaken kangge para nem-neman lan sinten kemawon ingkang badhe ndherek paladosan.

Panutup
Sumangga para nem-neman lan sinten kemawon, kita ngetingalaken katresnan kita dhateng Gusti Allah lumantar tumut cawe-cawe paladosan wonten ing greja. Mangga kita tresnani greja kita punika, kita tresnani sadaya warganing pasamuwan, kita tresnani paladosan ingkang kita lampahi. Boten namung ngrantos wekdal ingkang sae lajeng purun ndherek paladosan, nanging mangga kita saged ngagem wekdal ingkang sampun kaparingaken Gusti kangge paring paladosan dhateng sesami. Boten namung purun ndherek paladosan menawi kagungan wekdal ingkang lodhang, nanging sumangga kita miji wekdal kangge ndherek paladosan. “Pemuda GKJW ayo melu tandang gawe!”. Gusti berkahi. Amin. [M@ul].

 

Pamuji: KPJ. 448: 1, 2 Pra Prajurite Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak