Khotbah Minggu 29 Januari 2017

BULAN PENCIPTAAN
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Yesaya 11 : 1 – 8.
Bacaan 2         : Kolose 1 : 19 – 23.
Bacaan 3         : Matius 5 : 1 – 12

Tema Liturgis : Keselamatan Untuk Seluruh Ciptaan.
Tema Khotbah : Menjadi Pembawa Damai

 

Keterangan Bacaan

Yesaya 11 : 1 – 8.

Nubuat akan hadirnya Raja Damai yang akan datang, oleh nabi Yesaya digambarkan merupakan figur yang jelas berbeda dengan penguasa/ raja-raja di dunia pada umumnya. Raja Damai ini penuh dengan Roh Tuhan dan akan menghakimi dengan kebenaran. Dialah satu-satunya hakim yang adil. Selain itu, jelas digambarkan oleh nabi Yesaya bahwa Raja Damai yang akan datang itu dalam menghakimi berpihak pada orang lemah dan tertindas. Tidak seperti hakim pada umumnya saat itu yang banyak berpihak pada penguasa dan orang yang bisa membayar mereka. Sehingga keadilan bisa “dibeli”. Saat itu memang Yehuda sudah dikenal sebagai negeri yang korup. Pada umumnya, masyarakatnya sangat merindukan kedamaian, keadilan dan keterbukaan, termasuk dalam bidang hukum.

Apa yang diberitakan oleh nabi Yesaya itu tampaknya mustahil. Tetapi Yesaya memberitakan juga bahwa apa yang mustahil bagi manusia itu bisa terjadi atas perkenan Tuhan. Sehingga pernyataannya di ayat 6, 7 itu sesungguhnya merupakan keadaan yang mustahil terjadi. Bagaimana mungkin binatang buas akan tinggal bersama binatang lemah yang biasa menjadi makanannya? Atau anak kecil yang bermain akur dengan binatang buas? Itu semua penggambaran tentang Raja Damai yang akan datang juga memperdamaikan bukan hanya antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga manusia dengan sesama dan ciptaan lainnya. Semua itu bisa terjadi jika Tuhan menghendakinya.

 

Kolose 1 : 19 – 23.

Yesus Kristus, Sang Raja Damai, bukan hanya memperdamaikan manusia dengan diriNya, tetapi juga memperdamaikan manusia dengan sesama dan ciptaan lainnya. Pendamaian ini Ia lakukan melalui curahan darahNya di kayu salib. Itulah korban pendamaian yang sempurna. Mereka yang mengimani hal inilah yang akan diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah. Inipun sepenuhnya karya Allah dan bukan upaya manusia.

Paulus menyadarkan jemaat di Kolose bahwa mereka dulunya juga memusuhi Allah dan hidup jauh dari Allah, dan tampak dari pola hidup yang jahat, maka dengan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat artinya telah mendapat pengampunan dan sekarang hidup berdamai dengan Allah. Sebagai tindak lanjut dari orang yang telah mendapat pengampunan dan hidupnya diperdamaikan dengan Allah, maka mereka harus bertekun dalam iman, tidak goyah dalam berkeyakinan, tetap berpengharapan di dalam Tuhan meskipun menghadapi berbagai persoalan. Paulus sendiri telah menyatakan dirinya sebagai saksi, sebagai orang yang telah mengalami dan merasakan sukacita hidup yang telah diperdamaikan dengan Allah. Allah yang menjadikannya mengalami hidup dalam pembaharuan. Artinya, meninggalkan hidup yang “bermusuhan” dengan Allah dan berubah menjadi pelayan Allah yang menaati kehendakNya.

 

Matius 5 : 1 – 12.

Ucapan bahagia ini merupakan rangkaian khotbah di bukit di Kapernaum. Banyak isinya yang memang tidak sesuai dengan pemahaman orang pada umumnya di jaman itu. Ketika orang ingin meraih kebahagiaan, sering kali yang dipakai sebagai ukuran adalah berbagai kepemilikan duniawi/ jasmani. Tetapi Tuhan Yesus memberikan pemahaman yang baru bagi orang yang memang ingin mengalami kebahagiaan dalam hidupnya, yaitu dengan menaati perintah Tuhan, meskipun itu dirasa tidak lazim. Apa yang diajarkan Tuhan Yesus ini bukan saja tidak lazim, tetapi juga seolah bertentangan dengan kenyataan. Inilah sudut pandang kerajaan Allah yang memang berbeda dengan sudut pandang manusia pada umumnya.

 

BENANG MERAH KETIGA BACAAN

            Damai dibutuhkan semua ciptaan Allah baik dalam hubungan dengan Allah maupun satu sama lain. Damai itulah yang mendatangkan bahagia.

 

 

RANCANGAN KHOTBAH : Bahasa Indonesia.

DAMAI ITU INDAH
(Nats : Matius 5 : 9)

 

Pendahuluan

Keadaan yang damai pasti dirindukan oleh semua orang. Di manapun mereka tinggal, pasti berharap ada kedamaian. Tanpa permusuhan, tanpa perang, tanpa kekhawatiran, itulah sebagian dari keadaan damai. Semua orang suka kedamaian, tetapi tidak semua orang mau mengupayakan keadaan yang damai. Semua orang ingin damai, tetapi tidak semua orang mau menjadi pendamai (juru damai). Memang sangat memungkinkan bagi seseorang untuk mengembangkan diri, untuk beraktifitas dan berkreasi jika berada dalam suasana damai. Tetapi sayangnya tidak semua tempat berada dalam keadaan damai. Tidak semua orang menikmati kedamaian dalam hidupnya.

 

Isi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, damai artinya tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman; tenteram; tenang;  keadaan tidak bermusuhan; rukun. Dari pengertian tersebut, wajarlah jika semua orang menginginkan kedamaian.

Dalam khotbahnya di bukit, Tuhan Yesus menyerukan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang membawa damai. Artinya, di manapun kehadiran orang tersebut membawa suasana damai, rukun, tenang, dsb. Oleh karena itu amatlah berbahagia jika manusia bisa membawa damai bagi sesamanya. Artinya, orang tersebut juga bisa membahagiakan sesamanya. Pada umumnya banyak orang mengupayakan pendamaian, tetapi ternyata tidak banyak orang yang mau bertindak sebagai sang pendamai/ juru damai. Mereka yang kehadirannya membawa damai, oleh Tuhan Yesus disebut sebagai anak-anak Allah. Mengapa? Karena sejak semula, sejak awal penciptaan, Allah mengupayakan pendamaian bagi manusia. Allah mengupayakan supaya manusia bisa berdamai dengan Allah.

Melalui nubuat nabi Yesaya, Allah telah memberitahukan bahwa akan datang sebagai Sang Raja Damai (lih.bacaan 1). Raja Damai ini akan membuat berbagai mujizat di muka bumi. Berbagai hal yang mustahil terjadi, ternyata bisa terjadi karena kuasaNya. Sesama ciptaan tidak ada lagi permusuhan, termasuk antara binatang buas dengan binatang yang biasa menjadi makanannya. Demikian juga permusuhan “abadi” antara keturunan manusia dan keturunan ular juga akan hidup bersama dengan rukun. Dalam situasi yang damai ternyata dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, tetapi juga oleh ciptaan lainnya.

Ternyata manusia tidak hanya butuh berdamai dengan sesamanya saja, tetapi juga butuh berdamai dengan ciptaan lainnya dan juga dengan Tuhan. Itulah suasana damai dalam arti yang sesungguhnya. Sebenarnya manusia telah mampu berdamai dengan sesamanya karena terlebih dahulu telah diperdamaikan dengan Allah (lih.bacaan 2). Manusia diperdamaikan dengan Allah melalui pengorbanan darah Kristus di kayu salib. Sehingga, manusia yang dulunya memusuhi Allah, memberontak kepada Allah, dijadikan mampu untuk melakukan kehendak Allah. Itulah bentuk perdamaian manusia dengan Allah. Dari musuh menjadi sekutu (lih.bacaan 2).

Manusia yang membawa damai disebut sebagai orang yang berbahagia dan menjadi anak-anak Allah. Membawa damai artinya bukan menjadi sumber pertengkaran dan perpecahan, kehadirannya selalu dinantikan oleh semua orang, mampu membuat suasana jadi tentram, lega, tidak khawatir. Itulah keberadaan orang yang membawa damai. Mereka disebut sebagai anak-anak Allah karena spirit untuk membawa damai itu tentunya berasal dari Allah, yang adalah sumber damai.

Tantangan bagi orang yang membawa damai adalah: repot, dianggap sok ngurusi orang lain, sok suci, sok rohani, atau bahkan bisa menjadi korban kemarahan orang lain. Apapun tantangannya, tetapi itulah yang harus dilakukan jika ingin disebut sebagai anak-anak Allah. Predikat sebagai anak-anak Allah ternyata bukan sebuah “label” secara turun-temurun (seperti pemahaman orang Yahudi pada jaman itu), tetapi justru dilihat dari upaya dan perilaku yang membawa damai.

Seseorang bisa menjadi pembawa damai di lingkungan keluarganya, di tempat kerjanya, di lingkungan dia berjemaat, di tempat tinggalnya, atau di manapun dia berada. Berita yang dibawa, apa yang dipercakapkan, perbuatan yang dilakukan, semuanya menentramkan dan menjadikan hati sesamanya merasa damai dan bahagia. Tidak menebar permusuhan ataupun menjadikan orang merasa tidak senang. Orang yang membawa damai juga mampu menjadi penengah dan pendamai bagi mereka yang berselisih/ bertengkar. Sesamanya yang tidak akur/ rukun, dijadikannya rukun. Jika ada yang merasa dalam kekhawatiran, dijadikannya tentram. Sesama yang merasa terancam, dijadikannya merasa aman, dsb. Itulah jiwa pembawa damai. Siapapun yang melakukan hal itu, oleh Tuhan Yesus disebut sebagai orang yang berbahagia, karena pasti mereka mendapatkan limpahan kasih sayang dari sesamanya, dan juga dari Tuhan.

 

Penutup

Jika damai itu indah, dan juga diharapkan oleh semua orang, maka marilah kita mengupayakan keadaan damai di manapun kita berada. Marilah kita juga berusaha untuk menjadi pembawa damai, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus bagi kita. Membawa damai itu membahagiakan. Jika kita ingin bahagia, janganlah mengikuti ukuran bahagia yang dianut oleh dunia ini, tetapi mengikuti tata kerajaan Allah tentang siapa yang  berbahagia. Demikian juga janganlah kita puas hanya dengan menikmati suasana damai, tetapi marilah kita menjadikan diri kita sebagai pembawa damai. Dengan menjadi pembawa damai artinya kita juga memperkenalkan Allah sebagai Sang Raja Damai dan bahwa Allah mencintai kedamaian. Kita pasti bahagia karena bisa membahagiakan orang lain yang menikmati keadaan damai. Oleh karena itu, jadilah pembawa damai!  Amin. (YM)

 

Nyanyian  : Kidung Jemaat 424 : 2, 3.

 

 —

 

RANCANGAN KHOTBAH : Basa Jawi.

RUKUN KUWI ENDAH
(Jejer  : Mateus 4 : 9)

 

Pambuka

Kawontenan ingkang rukun tamtu dipun ajeng-ajeng dening sedaya manungsa. Ing pundi kemawon papan panggenanipun tamtu ngajeng-ajeng kawontenan ingkang rukun, damai. Tanpa memengsahan, tanpa perang, tanpa raos was sumelang, punika sawetawis kawontenan ingkang rukun, damai. Sedaya tiyang remen ing kawontenan ingkang rukun, ananging boten sedaya tiyang purun ngupadi gesang ingkang rukun, damai. Sedaya tiyang kepengin rukun, nanging boten sedaya tiyang purun ngrukunaken utawi dados “juru damai”. Ing kawontenan ingkang rukun, damai, sinten kemawon saged nyambut damel, mengembangkan diri lan berkreasi kanthi ayem. Emanipun, boten ing saben panggenan wonten karukunan. Boten sedaya tiyang saged ngraosaken kawontenan ingkang rukun, damai ing gesangipun.

 

Isi

Miturut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat,  damai punika tegesipun boten wonten perang; boten wonten kerusuhan; aman; tentrem, tenang; kawontenan ingkang boten memengsahan; rukun. Saking pangertosan kalawau sampun samesthenipun menawi saben tiyang ngajeng-ajeng gesang ingkang rukun, damai.

Salebeting piwucalipun Gusti Yesus ing redi, Gusti Yesus ngandika bilih tiyang ingkang rahayu punika tiyang ingkang remen ngrukunaken sesaminipun. Tegesipun, ing pundi kemawon dunungipun tiyang kalawau, saged ngrukunaken, kawontenan dados damai, rukun, tenang, lsp. Pramila saestu rahayu menawi manungsa saged ngrukunaken sesaminipun. Tegesipun tiyang kalawau ugi murugaken sesaminipun dados manungsa ingkang rahayu. Kathah tiyang ingkang ngupadi karukunan, nanging nyatanipun boten saged ngrukunaken. Sinten kemawon ingkang saged dados “juru damai”, dening Gusti Yesus sinebut dados para putraning Allah. Kenging punapa mekaten? Awit, wiwit wiwitan, nalika Gusti nitahaken jagad, Gusti Allah tansah ngupadi karukunan, damai,  ing antawisipun manungsa kaliyan Gusti Allah.

Lumantar pamecanipun nabi Yesaya, Allah sampun paring dhawuh bilih badhe rawuh Ratuning Katentreman (mugi sami mirsani waosan 1). Ratuning Katentreman punika badhe ngawontenaken warni-warni mukjijat ing bumi. Kathah prekawis ingkang ketingal mokal, nanging saged kalampahan awit saking panguwaosipun. Ing antawisipun sesami titah boten wonten memengsahan, kalebet kewan galak lan kewan ingkang adatipun dados mangsanipun. Mekaten ugi memengsahan “langgeng” ing antawisipun turunanipun manungsa lan turunanipun sawer ugi saged gesang rukun. Ing kawontenan ingkang rukun nyatanipun boten namung karaosaken dening manungsa kemawon, nanging ugi dening titah sanesipun. Nyatanipun manungsa boten namung mbetahaken rukun kaliyan sesaminipun kemawon, nanging ugi rukun kaliyan titah sanesipun lan ugi kaliyan Gustinipun. Inggih mekaten kawontenan ingkang rukun, tentrem, damai, ing pangertosan ingkang samesthenipun. Estunipun manungsa sampun saged rukun kaliyan sesaminipun awit sampun karukunaken dening Gusti Allah (mugi mirsani waosan 2). Manungsa karukunaken kaliyan Gusti Allah lumantar pengorbanan rahipun Gusti Yesus Kristus ing kajeng salib. Kanthi mekaten, manungsa ingkang suwaunipun memengsahan kaliyan Gusti Allah, mbalela dhumateng Gusti Allah, kasagedaken nindakaken karsanipun Gusti Allah. Inggih punika wujuding karukunanipun manungsa kaliyan Gusti Allah. Saking gesang memengsahan lajeng dados gesang ingkang rukun (waosan 2).

Manungsa ingkang saged ngrukunaken sesaminipun sinebut dados tiyang ingkang rahayu lan dados para putraning Allah. Ngrukunaken tegesipun boten dados punjering memengsahan lan crah, mesthi dipun rantos dening tiyang kathah, saged mujudaken kawontenan ingkang ayem, tentrem, lega, boten was sumelang. Inggih mekaten kawontenanipun tiyang ingkang dipun wastani ngrukunaken sesaminipun (“juru damai”). Tiyang-tiyang punika sinebut para putraning Allah, awit pangatag-atag kangge dados tiyang ingkang ngrukunaken sesami punika tamtu pinangkanipun saking Gusti Allah, awit estunipun inggih namung Allah piyambak ingkang dados etuking karukunan, katentreman, damai.

Tantangan tumrap manungsa ingkang mbekta pirukun: repot, dipun wastani sok ngurusi tiyang sanes, sok suci, sok rohani, utawi saged ugi dados korbanipun tiyang ingkang nesu. Punapa kemawon ingkang dados tantangan, nanging inggih punika ingkang kedah katindakaken menawi kita kepengin sinebut para putraning Allah. Sebutan dados para putraning Allah punika nyatanipun sanes namung sebutan ingkang turun-tumurun (kados dene pangertosanipun para tiyang Yahudi ing jaman semanten), nanging dipuntingali saking anggenipun ngupadi gesang ingkang dhemen ngrukunaken sesami.

Sinten kemawon  saged dados tiyang ingkang dhemen ngrukunaken, “juru damai” ing brayatipun, ing papan padamelan, ing pasamuwan, ing papan panggenanipun, utawi ing pundia kemawon. Pawartos ingkang kaucapaken,  anggenipun cecaturan, tumindakipun, sedayanipun saged ndadosaken raos ayem, tentrem, lan ndadosaken tiyang sanes ngraosaken kabegjan lan katentreman. Mboten nyebar memengsahan utawi murugaken tiyang sanes gadhah raos boten remen. Tiyang ingkang mbekta karukunan ugi saged dados “penengah” lan juru damai tumrap sinten kemawon ingkang saweg memengsahan. Sesaminipun ingkang boten rukun kadadosaken rukun. Menawi wonten sesaminipun ingkang rumaos was sumelang, kadadosaken tentrem. Sinten kemawon ingkang rumaos boten aman, kadadosaken aman, lsp. Inggih punika kawontenanipun tiyang ingkang dhemen ngrukunaken. Sinten kemawon ingkang nindakaken prekawis punika, dening Gusti Yesus  kasebut dados tiyang ingkang rahayu, awit tamtu badhe nampeni lubering sih katresnan saking sesaminipun, lan mekaten ugi saking Gusti.

 

Panutup

Menawi rukun, damai, punika endah lan dados pangajeng-ajeng tumrap sedaya manungsa, sumangga kita tansah ngupadi kawontenan ingkang rukun, damai, ing pundia kemawon dunung kita. Mekaten ugi sumangga kita ngupadi supados dados tiyang ingkang remen ngrukunaken sesami, awit inggih punika ingkang kakersakaken dening Gusti supados kita tindakaken. Ngrukunaken sesami punika ngremenaken. Menawi kita kepengin dados manungsa ingkang rahayu, sampun ngantos kita tumut ing pangertosan rahayu miturut ukuranipun tiyang ndonya, nanging ndherek ukuranipun Gusti Allah ing bab tiyang rahayu. Mekaten ugi sampun ngantos kita rumaos bingah menawi sampun saged gesang rukun, damai kemawon, nanging sumangga kita ugi dados tiyang ingkang remen ngrukunaken sesami. Kanthi mekaten tegesipun kita sampun nepangaken Gusti Allah ingkang dados Ratuning Katentreman lan bilih Allah punika karenan ing pirukun. Kita tamtu badhe bingah awit saged ndadosaken sesami kita ngraosaken kabingahan ing salebeting gesang rukun, damai. Pramila, sumangga kita dados tiyang ingkang remen ngrukunaken sesami!  Amin. (YM).

 

Pamuji: Kidung Pasamuwan Kristen 319 : 2, 3.

 

Bagikan Entri Ini: