Khotbah Minggu 28 Agustus 2016

MINGGU BIASA 22
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1                     : Amsal 25: 6-7
Bacaan 2                     : Ibrani 13: 1-8, 15-16
Bacaan 3                     : Lukas 14: 1, 7-14

Tema Bulanan  : Membangun Persekutuan dengan Hikmat Allah
Topik Khotbah  : Rendah hati

Keterangan Bacaan (sumber: http://alkitab.sabda.org/commentary)

Amsal 25: 6-7

Di sini kita melihat:

Sama sekali tidaklah benar bahwa agama itu menghancurkan perilaku yang baik. Sebaliknya, agama justru mengajar kita untuk bersikap rendah hati dan hormat terhadap atasan-atasan kita, untuk menjaga jarak, dan memberikan tempat bagi orang-orang yang berhak mendudukinya. “Jangan bersikap kasar dan gegabah di hadapan raja atau di hadapan para pembesar. Jangan membanding-bandingkan dirimu dengan mereka” (begitu sebagian orang memahaminya). “Jangan bersaing dengan mereka dalam hal pakaian, perabotan rumah tangga, kebun ladang, perawatan rumah, atau pelayan-pelayan, sebab itu merupakan suatu penghinaan bagi mereka, dan akan merendahkan kedudukanmu sendiri.”

Bahwa agama mengajar kita kerendahan hati dan penyangkalan diri, yang merupakan pelajaran yang lebih baik daripada pelajaran tentang sopan santun: “Sangkallah dirimu dari tempat yang berhak engkau duduki. Jangan ingin pamer, atau berusaha naik jabatan, atau menempatkan dirimu di antara kumpulan orang yang ada di atasmu. Puaslah dengan kedudukan yang rendah jika memang itu yang sudah ditetapkan Allah bagimu.” Alasan yang diberikannya adalah karena inilah sesungguhnya jalan untuk maju, seperti yang ditunjukkan oleh Juruselamat kita dalam sebuah perumpamaan yang tampak meminjam dari sini (Luk. 14:9). Bukan berarti bahwa oleh karena itu kita harus berpura-pura bersikap sederhana dan rendah hati, dan menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehormatan, tetapi oleh karena itu kita harus benar-benar bersikap sederhana dan rendah hati, sebab Allah akan memberikan kehormatan kepada orang-orang seperti itu, dan demikian pula yang akan dilakukan manusia. Lebih baik, demi kepuasan dan nama baik kita, kita ditinggikan melebihi apa yang dikatakan dan diharapkan, daripada dilemparkan lebih rendah daripada itu, di hadapan raja. Karena, merupakan kehormatan besar jika kita diakui di hadapan dia, dan merupakan kelancangan besar jika kita sampai meninggikan diri tanpa izin.

 

Ibrani 13: 1-8, 15-16

Situasi yang normal dibahas dahulu. Seperti pada surat I Yohanes, kasih persaudaraan harus dipelihara. Salah satu bukti tetap dari kehidupan Kristen ialah cara orang Kristen berhubungan dengan sesamanya. Karena tidak ada tempat peristirahatan umum, keramahan juga dikemukakan, khususnya dalam hal orang (asing) yang mengenal Kristus. Matius 25:35-40 mengemukakan hal yang paling mirip dengan menjamu malaikat-malaikat (elathon, “tidak sadar”).

Tugas-tugas sosial atau hubungan antara manusia ini kemudian diperluas hingga mencakup juga orang-orang di penjara orang-orang hukuman. Ungkapan kamu sendiri juga mengandung arti simpati dan persamaan. Orang-orang percaya diperintahkan untuk berbagi dengan orang-orang hukuman seakan-akan mereka sendiri adalah orang hukuman. Istilah “ikut merasakan” mencakup hal yang dimaksud. Selama orang-orang percaya masih di dalam tubuh jasmaniah ini, setiap orang mungkin saja menderita karena permusuhan atau dipenjarakan. Oleh karena itu mereka disuruh berbagi rasa.

Kemudian, tentu saja, hubungan kemanusiaan yang paling dekat, yakni pernikahan, harus menunjukkan semua keindahan dari kehidupan Kristen. Jika orang-orang Ibrani ini tinggal di Roma atau di kota-kota yang sudah rusak moralnya di bagian Timur Laut Tengah, maka mereka berada di tengah-tengah masyarakat di mana kesucian dan kesetiaan terhadap hubungan pernikahan kurang diperhatikan. Di sisi yang lain juga terdapat berbagai kelompok keagamaan yang menekankan petarakan dan askese. Petarakan bukan sebuah cara mengamankan diri dari kedursilaan; pernikahan yang terhormat merupakan hidup yang paling sempurna. Kesucian di dalam ikatan pernikahan merupakan suatu kesaksian kristiani yang kuat. Orang yang jengak dan liar suatu saat harus mempertanggungjawabkan dosa dan perilaku mereka kepada Allah.

Mengenai keuangan, penulis mengingatkan, janganlah kamu menjadi hamba uang. Aphilargyros artinya “tidak mencintai uang,” dan bukan serakah. Gaya hidup atau sikap yang harus dikembangkan ialah kepuasan dengan hal-hal yang tersedia, atau apa yang ada padamu. Jika gelombang penyalahgunaan dilemparkan pada orang-orang Kristen Yahudi ini oleh kalangan lain yang lebih makmur karena mereka kurang makmur. maka inilah nasihat yang sangat praktis dan serius dari Perjanjian Baru. Bukannya menikmati harta milik, orang Kristen hendaknya menikmati kehadiran dan pemeliharaan Allah, sebab Dia tidak akan pernah meninggalkan atau melupakan mereka. Jadi dengan yakin kita dapat berkata … Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Anak kalimat terakhir merupakan pertanyaan yang tepat sekali. Yosua 23:14 dan Mazmur 118:6 memberikan kesaksian tentang kesetiaan Allah.

 

Lukas 14: 1, 7-14

Biasanya orang sangat senang menerima penghargaan, karena itu menunjukkan kemampuan dan kelebihannya. Namun bisa saja penghargaan membuat seseorang menjadi tinggi hati. Dalam perumpamaan pertama, Yesus memperingatkan bahwa penghargaan bukan merupakan sesuatu yang seharusnya menjadi ambisi, tetapi merupakan anugerah. Karena itu jangan pernah merasa layak untuk mendapatkan tempat kehormatan, atau memburu penghargaan demi gengsi, harga diri atau untuk menaikkan status sosial (8). Bisa saja itu jadi berbalik mempermalukan diri kita sendiri, terlebih bila kita berhadapan dengan orang yang memang benar-benar pantas mendapatkannya (9). Kalau memang layak untuk memperoleh penghargaan, kita pasti akan mendapatkannya (10). Maka dalam hal ini, perlu ada sikap rendah hati. Rendah hati bukan karena kurang penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi justru karena tahu bagaimana harus menempatkan diri.

Kemudian, dari lakon sebagai tamu, Yesus mengembangkan gambaran kerendahhatian, saat kita sendiri yang menjadi tuan rumah dalam suatu perjamuan. Menurut Yesus bahwa yang perlu kita undang bukanlah orang kaya dan terkenal atau kerabat kita sendiri (12). Mengundang mereka memang menyenangkan dan menguntungkan.Tetapi undanglah orang-orang yang tidak bisa membalas pemberian kita, mereka yang layak menerima belas kasih kita (13-14). Hendaknya kita menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan kelas atau status. Untuk kerendahhatian dan keramahtamahan semacam itu, Tuhan menjanjikan berkat (14). Jadi daripada berambisi meraih prestise karena ingin dihormati banyak orang, lebih baik kita memikirkan siapakah yang seharusnya kita layani. Karena dalam Kerajaan Allah, melayani orang lain lebih dihargai daripada kepemilikan status atau prestise.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

 

  1. Sebuah jemaat sedang sedikit mengalami keresahan. Masalahnya dipicu oleh keputusan PHMJ yang memutuskan Pak Wibowo (bukan nama sebenarnya) menjadi penatua. Pak Wibowo sendiri orang baik, ia sedang menjabat sebagai kepala sebuah instansi di pemerintahan. Hanya saja, beliau baru beberapa bulan menjadi warga jemaat, karena pindahan dari jemaat di kota lain. Sementara warga jemaat sudah cukup paham dengan aturan yang berlaku di GKJW bahwa seseorang baru bisa dipilih menjadi penatua/ diaken jika setidaknya sudah setahun menjadi warga jemaat. Sebagian warga jemaat menduga bahwa proses pemilihan itu tidak lagi murni, tetapi dipengaruhi oleh godaan duniawi. Sosok yang secara sosial dan ekonomi menonjol telah memikat panitia pemilihan, tanpa memperdulikan aturan yang berlaku. Disangkanya bahwa dengan terpilihnya sosok yang memiliki sebuah jabatan penting akan menjadikan pelayanan semakin baik dan lancar.
  1. Persoalan kedagingan telah menjadi satu problem tersendiri bagi gereja-gereja saat ini. Perpecahan gereja di Indonesia menjadi-jadi, padahal semangat ekumenis sudah digemakan sejak puluhan tahun yang lalu. Adanya perpecahan itu bukan disebabkan oleh perbedaan doktrin/ dogma, tetapi lebih karena materi/ uang. Mengapa bisa begitu? Salah satunya barangkali disebabkan oleh perilaku tokoh sentralnya yang menggeser fokus pelayanan: dari memuliakan Tuhan menjadi menyenangkan diri sendiri. Motivasi yang melatarbelakangi pelayanan adalah kalkulasi untung-rugi, bukan sebuah pelayanan yang digerakkan oleh hati yang utuh ingin melayani Tuhan. Bahkan konon di gereja tertentu sudah mulai bermunculan pendeta-pendeta yang memberi syarat kalau akan dipindah ke jemaat lain. Misalnya, “Silahkan pindah saya, asal sekolah anak-anak saya diuruskan; urus juga kepindahan pekerjaan suami/istri saya. Artinya: a). “Silahkan pindah saya, tetapi jangan merugikan saya” (roh kedagingan melampaui roh kesetiaan dan ketaatan)!; b). tidak lagi memiliki keyakinan bahwa “Dia yang memanggil, Dia pula yang akan memelihara.”! c). tidak memiliki kepekaan dan tenggang rasa (selama ini sudah diberi berkat dobel (suami istri berpenghasilan), tetapi masih meminta mendapat perlakukan istimewa! Semoga di GKJW tidak ada mentalitas seperti itu!!! Selain itu ada unsur ketidakpercayaan sepertinya pimpinan gerejanya tidak berupaya memikirkan kebaikan untuk semuanya. Spiritualitas seperti itu sedikit banyak akan meminggirkan pelayanan yang tanpa pamrih, akibatnya yang dipandang adalah kedagingan. Jika yang dijadikan sandaran adalah kedagingan, maka akan semakin jauh kesediaan orang untuk menjalani tata hidup yang rendah hati. Semoga di GKJW tidak ada mentalitas rendah seperti itu, melainkan, “Mangga, kula manut. Lha wong Gusti ingkang nimbali, kula boten wantun neka-neka!
  1. Sementara itu kita mendapatkan pesan dari Surat Ibrani, “Janganlah menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman, ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ayat ini mengingatkan kita kembali bahwa pijakan bagi kehidupan persekutuan orang percaya/ gereja itu bukan uang, tetapi iman. Fokus bergereja adalah pada pemeliharaan dan pertumbuhan iman. Semua kegiatan yang dilakukan oleh gereja tidak dapat dipisahkan dari iman. Termasuk ketika di gereja tiba-tiba ada warga jemaat baru yang kaya raya; maka gereja harus menyikapi dengan iman. Tidak kemudian karena ada orang yang kaya maka dijadikan kesempatan oleh gereja untuk mengistimewakan orang itu dengan harapan kegiatan-kegiatan gereja yang memerlukan dana banyak dapat dibantu oleh orang kaya itu. Gereja dengan semua dinamikanya adalah ‘hamba Tuhan’, bukan ‘hamba uang!’.
  1. Pada bagian lain Tuhan Yesus sendiri mengajarkan, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta…jangan duduk di tempat kehormatan…, tetapi pergilah duduk di tempat yang paling rendah.” Bagi mereka yang menghayati dengan baik kehidupannya sebagai milik Tuhan dan dipersembahkan kepada Tuhan, maka tidak terlalu sulit untuk menjadi “nobody” (seorang yang tidak berarti). Ia siap memberikan ruang lebih luas untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri. Orientasi hidup dan pelayanannya tertuju pada kemuliaan Tuhan, bukan pada kenyamanannya sendiri.
  1. Alangkah baik dan indahnya kalau kehidupan persekutuan kita senantiasa diterangi kerendahan hati setiap orang, diawali oleh para pemuka jemaat. Istilah “rendah hati” di sini bukan dalam arti perasaan lebih rendah daripada orang lain, tetapi sebuah sikap: siap dimarjinalkan asalkan dari tindakan itu kemudian memberi kesempatan yang lebih luas untuk pemberlakuan kebenaran dan kehendak Tuhan. Harapannya, gereja terhindar dari perilaku lebih menghargai atribut kedagingan daripada kebenaran dan kehendak Tuhan. – (smdyn)

 

Nyanyian: KJ 246: 1, 2.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

  1. Salah setunggaling pasamuwan saweg radi kisruh. Masalahipun amargi PHMJ sampun netepaken Pak Wibowo (asma samaran) kapilih dados pinisepuh. Sajatosipun Pak Wibowo piyambak piyantun ingkang sae. Piyambakipun nembe sawetawis wulan lenggah minangka pimpinan instansi pemerintah. Mekaten ugi nembe sawetawis wulan piyambakipun dados warga pasamuwan, atestasi saking pasamuwan ing kitha sanes. Warga pasamuwan sampun kathah ingkang mangertos bab persyaratan dados pinisepuh utawi diaken, inggih unika paling sekedhik sampun setunggal taun dados warga pasamuwan. Mila nalika Pak Wibowo ingkang nembe sawetawis wulan kepilih dados pinsepuh nuwuhaken pitakenan. Sawetawis warga pasamuwan nginten bilih kapilihipun Pak Wibowo dados pinisepuh inggih amargi pangkat lan drajatipun, kejawi punika PHMJ kapiji sampun kapincut dening kedagingan. Mbokbilih wonten pangangen-angen bilih salah setunggaling pinisepuh tiyang ingkang inggil drajatipun, kegiatan pasamuwan saged langkung lancar.
  1. Bab kadagingan ketingalipun sampun dados persoalan limrah ing gesangipun greja-greja ing Indonesia. Perpecahan gereja ing Indonesia klebet istimewa, kamangka semangat ekumenis (nyatunggil) sampun kawiwitan puluhan taun kepengker. Lan, limrahipun pasulayan greja sanes amargi beda dogma/ piwucal nanging amargi arta, dhuwit. Kenging punapa saged kados mekaten? Salah setunggal jalaranipun mbokbilih amargi tokoh-tokohipun sampun boten fokus ing peladosan ingkang ngluhuraken asmanipun Gusti, nanging ngremenaken badanipun piyambak. Motivasi ingkang mbereg paladosan inggih punika etang-etangan bab bathi-rugi, sanes peladosan ingkang kalambaran manah ingkang tulus- utuh ngladosi Gusti. Malah wonten cariyos ing greja tartamtu sampun wiwit kathah pendhita ingkang maringi syarat nalika badhe dipun pindah dhateng pasamuwan sanes. Upaminipun: “Aku pindahen, nanging urusen uga sekolahe anak-anakku; uga pindahe nyambut gawene bojoku!” Artosipun: a). “Pindahen, nanging aja ngrugekake aku” (roh kedagingan ngungkuli sikap manut tatananipun Gusti); b). Piyandel, “Gusti kang nimbali, lan Gusti kang ngreksa” sampun ical!; c). Boten gadhah raos belarasa bilih salami menika sampun kaberkahan berkat tikel (tiyang jaler-estri pikantuk  gaji), nanging taksih meksa nyuwun katata secara mirunggan. Sikap mekaten kalawau nedahaken raos boten pitados dhateng pimpinan greja; kados pimpinan greja mindah angger mindah, rak mesthi dipun galih saking maneka sisi. Spiritualitas ingkang kados mekaten sekedhik punapa kathah badhe nyingkiraken semangat peladosan ingkang tanpa pamrih, awit kadagingan ingkang dipun gayuh! Kita ndedonga mugi-mugi ing GKJW boten wonten ingkang gadhah semangat mekaten, nanging, “Mangga, kula manut. Lha wong Gusti ingkang nimbali, kula boten wantun neka-neka!”
  1. Samangke kita gatosaken pangandikanipun Gusti ing Serat Ibrani, “Kowe aja padha karem bandha sarta padha marema ing saanane. Awit Gusti Allah wus ngandika: ‘Ingsung ora bakal negakake sira lan sira ora pisan-pisan bakal Suntilar.” Ayat punika ngengetaken kita bilih lambaraning gesang patunggilan/ greja punika sanes arta, nanging iman. Fokus greja punika pangrimating gesang iman. Mila sedaya kegiatan ingkang wonten ing greja kedah kalambaran iman. Kalebet nalika ujug-ujug wonten warga enggal ingkang inggil drajatipun, greja kedah ngadhepi kanthi iman, boten malah lajeng dipun dadosaken dhadhakan (kesempatan) ‘mengistimewakan’ piyantun punika kanthi pangajeng-ajeng sedaya kegiatan greja saged langkung lancar amargi wonten donatur Greja klayan pasang surutipun kedah tetep kalambaran piyandel minangka ‘abdnipun Gusti’ sanes “abdinipun arta!’
  1. Kejawi serat Ibrani ugi wigatos ingkang dipun ngendikakaken dening Gusti Yesus, “Manawa kowe diulemi wong jagong manten, kowe aja linggih ing ngarep dhewe… linggiha ing buri dhewe…” Kangge soksintena ingkang temen ngugemi bilih gesangipun punika kagunganipun Gusti lan kapisungsungaken kagem Gusti, kados boten angel nglampahi gesang kanthi andhap asor. Gesang ingkang katujokaken kagem kaluhuranipun Gusti, sanes kangge karemanipun piyambak.
  1. Pramila iba endahipun menawi gesang patunggilan kita tansah kalambaran sikap andhap asor, kawiwitan dening pinisepuhing pasamuwan. Tembung ‘andhap asor’ ing ngriki sanes bab raosing manah, nanging minangka sikap: cumadhang boten dipun anggep dening sesami, angger sikap punika nuwuhaken karsanipun Gusti sangsaya sumrambah ing gesanging patunggilan. Pangajeng-ajengipun: greja/ pasamuwan katebihna saking motivasi kadagingan ing salebeting paladosan. – (smdyn)

Nyanyian: KPK 132: 2, 4.

 

Bagikan Entri Ini: