Eling lan Waspada sebagai Panggilan Iman yang Mewujud dalam Sikap Hidup Sehari-hari Khotbah Minggu 19 November 2023

6 November 2023

Minggu Biasa | Bulan Budaya
Stola Hijau

Bacaan 1: Zefanya 1 : 7, 12 – 18
Bacaan 2: 1 Tesalonika 5 : 1 – 11
Bacaan 3: Matius 25 : 14 – 30 

Tema Liturgis: Budaya sebagai Jalan Pewartaan Kerajaan Allah secara Kontekstual
Tema Khotbah: Eling lan Waspada sebagai Panggilan Iman yang Mewujud dalam Sikap Hidup Sehari-hari

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) 

Zefanya 1 : 7, 12 – 18
Nubuat ini pertama-tama diterapkan pada pembinasaan Yehuda oleh pasukan Babel pada tahun 605 SM  dan kedua pada hukuman Allah atas seluruh dunia dan semua bangsa pada akhir zaman. Nubuat ini ditujukan kepada beberapa orang Yehuda yang memiliki pandangan deistik (pandangan bahwa Allah tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan sehari-hari manusia) dan dengan demikian mereka percaya bahwa Allah tidak akan menghukum dosa umat-Nya. Kelompok yang lain mempunyai pemahaman bahwa pada hari penghakiman, Allah sungguh minta pertanggungjawaban atas dosa-dosa yang mereka tidak mau tinggalkan.

Dalam bagian perikop ini Zefanya menggambarkan bagaimana hari penghakiman itu tiba. Hari itu digambarkan sebagai hari kegemasan, kesusahan, kesulitan, kemusnahan, kegelapan, kesuraman bagi orang yang hidupnya penuh dengan dosa. Hari dimana segala harta duniawi yang dimiliki tidak akan menolong dan menyelamatkan orang tersebut. Pembinasaan Yehuda oleh pasukan Babel menjadi peringatan bagi umat bahwa penghakiman Tuhan di masa kedatangan-Nya juga pasti terjadi, jikalau umat tidak berhenti untuk berbuat jahat. Perikop ini menjadi peringatan supaya umat berjaga-jaga.

1 Tesalonika 5 : 1 – 11
Setelah membicarakan kedatangan Kristus untuk mengangkat para pengikut-Nya, Paulus kini membahas penghakiman terakhir oleh Allah atas semua orang yang menolak keselamatan Kristus pada hari-hari terakhir, yaitu saat mengerikan yang disebut “hari Tuhan”. Istilah “hari Tuhan” pada umumnya menunjuk bukan kepada suatu masa selama 24 jam, tetapi suatu jangka waktu yang lama ketika musuh-musuh Allah dikalahkan, diikuti oleh pemerintahan Kristus di bumi ini (Zef 3:14-17; Wahyu 20:4-7). Kehadirannya digambarkan seperti pencuri di waktu malam. Metafora ini berarti bahwa waktu hari Tuhan akan mulai tidak pasti dan tidak disangka-sangka. “Hari” ini dimulai pada saat hukuman ilahi jatuh atas dunia mendekati akhir zaman ini (Ay. 3).

“Hari” itu tidak akan menimpa orang percaya yang setia, karena mereka sudah ditetapkan untuk menerima keselamatan dan bukan murka. Mereka berjaga-jaga dan mengendalikan diri, hidup dalam iman, kasih, dan kebenaran. Harapan akan kedatangan Kristus merupakan penghiburan besar bagi orang percaya bahwa Dia akan menyelamatkan kita dari murka Allah yang dahsyat, yaitu hukuman-hukuman pada hari Tuhan. Orang percaya akan selamat dari “murka yang akan datang” oleh Tuhan Yesus Kristus (Ay. 9), ketika Dia datang untuk mengangkat jemaat-Nya ke sorga (bd. 1 Tes 4:17). Orang percaya tidak hidup di dalam dosa dan pemberontakan. Mereka adalah anak-anak siang yang mendahului malam dan tidak akan mengalami malam murka Allah yang telah ditetapkan.

Sedangkan  bagi  orang tidak percaya, mereka akan berkata, “Damai dan aman.”  Hari Tuhan dan masa kesesakan seluruh dunia akan menimpa mereka dengan mendadak, membinasakan semua harapan untuk perdamaian dan keamanan.  Dan untuk itu, Paulus mengajak orang percaya untuk berjaga-jaga (Yun.: gregoreo) berarti “tetap sadar dan waspada”.  Terus tinggal  bangun dan sadar secara rohani dan terus hidup dalam iman, kasih, dan harapan keselamatan.  Kiasan  tersebut mengandung arti “kesiagaan”, “penguasaan diri”, yaitu sadar secara rohani dan menguasai diri seperti halnya seseorang yang tidak minum anggur yang mengandung alkohol. Paulus menyamakan harapan akan keselamatan dan pembebasan dari hari murka Allah dengan kematian Kristus sebagai korban dan kedatangan-Nya untuk mengambil kita untuk hidup bersama-sama dengan Dia.

Matius 25 : 14 – 30
Nubuat Yesus ini merupakan jawaban atas pertanyaan para murid-Nya, “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Yesus memberikan kepada mereka: tanda-tanda umum yang akan terjadi selama zaman ini sampai pada akhir zaman, tanda-tanda khusus yang menunjukkan bahwa akhir zaman telah tiba, yaitu  masa kesengsaraan besar, tanda-tanda yang menakjubkan, yang terjadi pada saat Ia datang dengan kemuliaan dan kuasa, peringatan kepada orang kudus.

Sampai saat ini belum ada seorang pun yang mengartikan semua nubuat mengenai akhir zaman dengan kepastian penuh. Dalam masa kesengsaraan besar, Paulus meminta supaya setiap  orang  berjaga-jaga terhadap tanda-tanda kedatangan Kristus yang dinanti-nantikan segera setelah masa kesengsaraan besar berakhir. Peringatan kepada orang percaya yang hidup sebelum masa kesengsaraan untuk siap sedia secara rohani karena kedatangan Kristus untuk jemaat-Nya akan terjadi pada saat yang tak diduga-duga, suatu gambaran mengenai penghakiman bangsa-bangsa setelah Ia datang kembali ke bumi.

Perumpamaan tentang talenta mengingatkan kita bahwa tempat dan pelayanan kita di sorga akan ditentukan oleh kesetiaan dalam kehidupan dan pelayanan kita di bumi. Talenta melambangkan semua kemampuan, waktu, sumber daya dan kesempatan untuk melayani Allah ketika di bumi. Hal-hal ini dianggap oleh Allah sebagai sesuatu yang dipercayakan kepada kita dan kita bertanggung jawab untuk mengelolanya dengan sebijaksana mungkin.  

Benang Merah Tiga Bacaan:
Hari Tuhan menjadi tema tiga bacaan. Hari Tuhan sebagai hari yang tidak bisa ditentukan waktu dan bagaimana datangnya, membuat pesan dalam tiga bacaan menjadi jelas. Berjaga-jaga dan waspada menjadi pilihan terbaik supaya ketika Tuhan datang kedua kalinya, setiap umat dapat memper-tanggungjawabkan perbuatannya. Bentuk berjaga-jaga adalah dengan melakukan setiap panggilan dengan kesetiaan dan kesungguhan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada sebuah cerita tentang tiga jenis angin yang berlomba ingin menjatuhkan seekor monyet. Angin Topan mendapatkan giliran pertama  yang bertiup sekencang-kencangnya, berusaha menjatuhkan si monyet dari atas pohon. Tapi monyet bertahan dengan berpegangan pada batang pohon, hingga akhirnya angin Topan menyerah. Pada giliran kedua, angin Tornado melancarkan aksinya dengan bertiup kencang. Monyet lebih bersiaga dan berpegangan makin erat. Angin Tornado pun menyerah. Giliran ketiga adalah angin sepoi-sepoi yang mulai bertiup lembut di bawah sinar matahari yang terik. Sang monyet mulai mengantuk sampai nyaris terlelap. Saat itulah angin sepoi-sepoi berhasil membuat monyet terjatuh dari atas pohon. Ketika angin sepoi-sepoi membuatnya merasa aman dan lengah.

Orang Jawa memiliki tiga prinsip/falsafah yang cukup dikenal: aja dumeh, sing eling, lan waspada. Aja dumeh artinya jangan sombong. Mentang- mentang kaya, mentang-mentang pinter, mentang-mentang jaya menganggap yang lain lebih rendah. Mengapa perasaan dumeh, jumawa atau sombong menjadi sesuatu yang diwaspadai? Orang Jawa memahami diri dan dunia di sekitarnya dalam prinsip cakra manggilingan. Manusia berada di situasi yang  tidak selalu baik, karena pengalaman hidup terjadi secara berganti. Terkadang di atas, saat tertentu berada di bawah, bahkan samping. Hidup terkadang sangat memuaskan, terasa biasa saja atau bahkan menyedihkan. Tidak menentu dan tidak ada yang tahu. Perubahan itu terjadi dengan sendirinya. Terjadi begitu saja. Aja dumeh berarti suatu sikap kerendahan hati menyadari setiap kerentanan dan keterbatasan. Maka, dalam pengertian  itu, penting untuk eling dan waspada. Sabegja-begjane wong lali, luwih begja wong sing kang eling lan waspada. Menyiapkan diri dengan ragam situasi yang kapanpun bisa  terjadi.

Eling “sadar” dan ingat bahwa Tuhan hadir mengamati dan mengawasi. Sikap ini mengajak kita untuk mengingat Tuhan dari mana kita berasal (sangkan)  dan kemana perjalanan kita selanjutnya,  dan arah perjalanan pulang (paran). Maka, kehidupan ini sejatinya adalah sebuah perjalanan bersama  sesama menuju Tuhan, Sang Empunya kehidupan. Dalam perjalanan sekali, dalam hidup ini diperlukan  kewaspadaan.

Waspada menjadi kesadaran horizontal/sosial. Kewaspadaan yang mengingatkan manusia bahwa semesta (alam dan sesama) tidak selalu mendukung kita, tetapi juga mengancam kita. Hari ini mungkin aman, besok tidak. Oleh karena itu, bagi orang Jawa, sikap eling dan waspada menyiapkan kita dengan ragam kemungkinan bahkan di tengah situasi tidak mudah. Semakin siap menghadapi situasi yang tidak terduga, maka kerentanan dapat diminimalisir.

Waspada/berjaga-jaga bukan berarti kita mengharapkan atau mengundang peristiwa buruk terjadi, misalnya: jikalau kita menyimpan kursi roda bekas punya saudara di rumah, berarti kita sedang mengharapkan kecelakaan terjadi. Tetapi kewaspadaan lebih bermakna bentuk kerendahan hati orang Jawa yang menyadari keterbatasan dan kerentanannya, dalam waktu yang sama siap untuk mengelola risiko dengan kapasitas dan kemampuan yang ada. Dengan harapan segala sesuatu tidak berdampak semakin buruk. Dengan cara itulah kemudian relasi antar manusia dengan  sesamanya (alam dan manusia) dibangun dengan harmoni dan seimbang. Sikap ini memang bukan hanya sikap yang diturunkan nenek moyang, tetapi juga menjadi panggilan semua orang beriman dalam tiga bacaan kita. 

Isi
Bacaan Injil mengisahkan tentang nubuat Yesus yang berupaya menjawab pertanyaan para murid-Nya, “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Para murid memang sudah mendengar tentang nubuatan kedatangan Tuhan kedua yang diartikan sebagai tanda kesudahan dunia. Hanya saja kapan dan bagaimana tanda kedatangan itu, masih menjadi pertanyaan. Dalam percakapan itulah Yesus berupaya menjawabnya, bahwa tanda-tanda umum akan terjadi mulai zaman ini sampai akhir zaman, sedangkan tanda-tanda khusus, terjadi di masa kesengsaraan.

Hanya saja, selanjutnya bagi Yesus, ini bukanlah persoalan tanda-tanda  saja, tetapi bagaimana kita berjaga-jaga sampai hari itu tiba. Sebab tidak ada yang mengetahui pasti kapan hari itu tiba, sehingga bersiap diri adalah pilihan yang terbaik dan bijak. Cara bersiap diri digambarkan melalui  perumpamaan 3 hamba yang mendapatkan talenta, ketika sang Tuan akan bepergian ke luar negeri. Dalam perumpaan itu, digambarkan hamba yang pertama mendapatkan 5 talenta, yang kedua mendapatkan 2 talenta, dan hamba yang terakhir mendapatkan 1 talenta. Hamba yang pertama dan kedua mengembangkan talenta dan mendapatkan hasil 2 kali lipat, sedangkan hamba yang terakhir menguburnya di dalam tanah. Hamba yang menerima 5 dan 2 talenta mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan dan tuannya menyambut dengan sukacita. Mereka dipuji atas perbuatan mereka dan disebut sebagai hamba yang baik dan setia. Sedangkan hamba yang mendapat 1 talenta dan menguburnya, dikatakan sebagai hamba yang malas dan jahat. Kedatangan hari Tuhan digambarkan seperti halnya kedatangan Sang Tuhan yang tidak terjadwal. Maka, mengerjakan bagian kita dengan setia dan sungguh-sungguh menjadi lebih penting dan utama.  Paulus mengajak orang-orang yang seringkali  acuh dan merasa  situasi baik-baik, damai dan aman  untuk berjaga-jaga (Yun. gregoreo), “tetap sadar dan waspada”. Terus bangun dan sadar secara rohani melalui hidup dalam iman, kasih, dan harapan keselamatan. Zefanya menyampaikan bahwa kesuraman dan  kegelapan  hanya akan menjadi milik orang-orang yang tidak menjalani pertobatan sebagai tanda berjaga-jaga ketika hari penghakiman tiba.

Dalam kehidupan iman, tiga hamba menggambarkan ragam pilihan  berhadapan dengan masa depan yang tidak pasti. Ada yang memilih tidak berbuat apapun diumpamakan hamba ketiga, ada yang mengerjakan panggilannya dengan setia dan sungguh-sungguh seperti hamba pertama dan kedua. Maka, aja dumeh, eling, lan waspada sejatinya menjadi laku iman penuh pertobatan di tengah godaan dan situasi ketidakpastian yang sedang kita hadapi. Kehidupan iman yang menandakan kerendahan hati menyadari tentang siapa diri kita, sambil mengerjakan panggilan dengan taat sampai sang Tuan datang.

Penutup
Kesiapsiagaan bukanlah perkara kurang atau ketidakpercayaan pada  penyertaan Tuhan. Tetapi sebaliknya hal itu adalah tanda bahwa iman selalu mewujud dalam perilaku dan sikap sehari-hari, sehingga pada hari-Nya/H, setiap kita telah siap menyambut kedatangan-Nya.

Dalam diri setiap orang Kristen Jawa sikap aja dumeh, eling, dan waspada ditumbuhkan, diperkenalkan di tengah konteks bencana dengan harapan mengurangi dampak buruk yang terjadi. Tinggal di lokasi bencana, menjadikan setiap orang harus berjaga-jaga dan waspada dengan mengembangkan talenta/kapasitasnya. Talenta yang melambangkan semua kemampuan, waktu, sumber daya, jejaring untuk meningkatkan kapasitas menghadapi kejadian luar biasa di waktu yang tidak terduga.

Penghayatan ini bagi Masyarakat Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, bukan hanya penghayatan semata, tetapi  mewujud dalam perilaku hidup sehari hari. Salah satunya melalui tradisi Cok Bakal sebagai tradisi ungkapan syukur, sebagai wujud eling kepada Tuhan sekaligus doa supaya dijauhkan dari bencana. Dalam ritual ini para sesepuh  memberi pesan agar tidak menebang pohon sembarangan dan mematuhi larangan menanam vegetasi sayur dan buah tertentu di daerah tersebut sebagai wujud kewaspadaan  mencegah tanah longsor. Selain itu,  dalam ritual tersebut warga selalu diingatkan untuk menjalin hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan agar masyarakat aman dari bencana. Tradisi ini kemudian dilanjutkan dengan giat bersih desa dan slametan.

Di tengah penghayatan bulan budaya, kita dipanggil  melatih hidup iman dan sehari hari dengan eling dan waspada. Sikap eling dan waspada bukanlah sikap penuh kecemasan dan kekhawatiran tentang masa depan, tetapi menjadi bentuk kerendahan hati sambil belajar dari masa lalu untuk menyongsong masa depan yang tidak pasti (aja dumeh). Belajar dari monyet, aja dumeh mrantasi angin Topan dan Tornado, berhadapan dengan angin sepoi-sepoi malah terjatuh. Eling lan waspada. Amin. [NW].

 

Pujian: KJ. 277 : 1, 2  Tuhanku Seg’ra Kembali

 

Rancangan Khotbah : Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, seged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten setunggaling cariyos bab tiga macem angin ingkang budidaya  kados pundi caranipun supados Kethek ing wit saged dawah. Angin Topan sumilir kanthi kenceng, nanging Kethek punika cepengan wit kanthi kiyat, ngantos pungkasanipun angin Topan nyerah. Wekdal kaping kalih, angin Tornado sumilir kanthi  kenceng. Kethek punika langkung raket lan kukuh cepengan wit. Angin Tornado nyerah. Wekdal kaping tiga, angin sepoi-sepoi sumilir alus ingkang dadosaken Kethek punika ngantuk ngantos keturon. Pungkasanipun angin sepoi-sepoi punika memang awit Kethek punika dhawah saking wit. Punika karana Kethek punika rumaos aman lan boten waspada nalika angin sepoi-sepoi, Kethek punika boten raket lan kukuh cepengan wit malih kados dene kalih angin saderengipun.

Tiyang Jawi punika kagungan tiga sesanti ingkang misuwur: aja dumeh, sing eling, lan waspada. Aja dumeh artosipun sampun ngantos kita punika gumunggung: Mentang-mentang sugih, mentang-mentang pinter, mentang-mentang jaya, lajeng kita nganggep remeh kanca sanesipun. Kenging punapa  pangraos  dumeh lan gumunggung kedah kita waspada? Tiyang Jawi mangertosi bilih piyambakipun lan donya saisinipun punika kalebet ing prinsip cakra manggilingan. Kawontenen gesangipun manungsa punika boten tansah sae kemawon, ananging gilir-gumantos. Kadang wonten inggil, kadang wonten andhap. Gesang punika kadang mbingahaken, kraos limrah, utawi malah kadang sisah lan semplah. Boten tamtu lan boten wonten ingkang mangertos. Kawontenen ingkang mekaten punika  kedadosan  tanpa semaya. Karana punika aja dumeh ugi nggadhahi artos sikap asoring manah, kita rumaos bilih kita punika ringkih lan winates. Pramila, kita dipun tinimbali supados tansah eling lan waspada. “Sabegja-begjane wong lali, luwih begja wong sing eling lan waspada.” Kita kedah nyawisaken dhiri kita kangge ngadepi mawarni-warni kawontenan ingkang kalampahan.

Kita kedah eling, sadar, lan enget menawi Gusti Allah punika mirsani kawontenan kita manungsa. Srana sikep punika, kita dipun timbali supados condhong kaliyan Gusti. Kita sami sadar saking pundi asal kita (sangkan) lan enget dhateng pundi arah lampah kita wangsul (paran) mangke. Mila, gesang punika sejatosipun inggih setunggaling lelampahan sesarengan sesami tumuju dhumateng Gusti, ingkang kagungan gesang. Awit gesang punika namung sepisan, lampahipun mbetahaken kawaspadan.

Kawaspadan punika minangka kasadaran horizontal/sosial ingkang ngemutaken kita bilih kawontenaning alam punika boten tansah ing kawontenan sae kamawon, nanging ugi saged bebayani kangge kita. Dinten punika aman, benjing dereng tamtu. Kanggenipun tiyang Jawi, sikep eling lan waspada punika ateges kita sami nyawisaken gesang kita nalika ngadepi  kawontenan ingkang boten gampil, kawontenan ingkang boten kanyana nyana. Lumantar sikep waspada lan jumaga boten ateges kita ngajeng-ajeng badhe ngalami kedadosan ingkang awon, umpaminipun: menawi kula nyimpen kursi roda bekas ing griya, boten ateges kula ngajeng-ajeng kacilakan badhe kelampahan, nanging punika wujuding sikep waspada, salah satunggaling asoring manah. ngrumaosi karingkihan, lan nyawisaken dhiri ngadepi kedadosan ingkang boten pinesthi. Sikep waspada punika ugi  ngraketaken hubungan antawisipun manungsa kaliyan sesaminipun ingkang dipun bangun kanthi harmonis lan seimbang.

Isi
Tiga waosan kita ing minggu punika nyerat bilih sikep waspada punika estunipun sanes namung sikep ingkang dipun warisaken kaliyan para leluhur, nanging ugi dados uleman kangge sadaya tiyang pitados. Isi waosan Injil nyariyosaken bab dhawuhipun Gusti Yesus wekdal mangsuli pitakenanipun para sakabat, “Punapa tandha rawuhipun Paduka lan tandha pungkasaning donya?” Para sakabat sampun mireng pameca rawuhipun Gusti ingkang kaping kalih, ingkang kawartosaken dados pratandha dintenipun Gusti. Nanging punapa ingkang dados dinten rawuhipun Gusti punika taksih dados pitakenan. Wonten ing gegulitan punika, Gusti Yesus paring wangsulan bilih wonten pratandha umum ingkang kedadosan wiwit jaman punika dumugi pungkasan jaman. Dene tandha-tandha ingkang maligi badhe kedadosan wonten ing mangsa kasangsaraan. Miturut Gusti Yesus punika boten namung prekawis pratandha kemawon, nanging ingkang langkung penting kados pundi anggenipun kita cumawis menawi dinten punika kelampahan. Amargi boten wonten ingkang sumerep dinten punika, mila kita kedah nyawisaken dhiri.

Cara kangge nyawisaken dhiri punika dipun gambaraken sarana  pasemon: Tiga abdi ingkang nampi talenta. Nalika Sang tuan badhe tindhak dhateng luar negeri. Sang Tuan punika maringi talenta dhateng para abdinipun. Abdi sepisan nampi 5 talenta, abdi kaping kalih nampi  2 talenta lan abdi  ingkang pungkasan nampi 1 talenta. Abdi sepisan lan kaping kalih ngembangaken talentanipun punika lan ngasilaken tikel 2 lipat. Nanging Abdi  ingkang pungkasan (1 talenta) ngubur talentanipun ing salebeting lemah. Abdi ingkang nampi 5 lan 2 talenta matur dhateng Tuanipun punapa ingkang sampun dipun tindakaken, Tuanipun nyambut kekalihipun kanthi manah ingkang bingah. Para abdi  punika dipun alem lan dipun sebat dados abdi  ingkang sae lan setia. Dene abdi ingkang nampi lan ngubur 1 talentanipun dipun sebut abdi ingkang kesed lan jahat. Mekaten rawuhing dintenipun Gusti dipun gambaraken kados dene rawuhipun Gusti ingkang boten kanyana-nyana. Mila, kita dipun timbali kangge nindakaken ayahan kita kanthi setya lan teman, punika prekawis ingkang wigatos lan utami.

Paulus nimbali para tiyang ingkang asring boten peduli lan rumaos kawontenanipun sae, ayem, lan aman, supados jumaga (yun. gregoreo), “tetap sadar lan waspada”. Melek lan sadar kaliyan karohanenipun kalebet iman, katresnan, lan pangajeng-ajeng bab kawilujengan. Mekaten ugi nabi Zefanya ngendikan menawi pepeteng namung dados gadhahipun tiyang-tiyang ingkang boten nglampahi pitobat.

Wonten ing tata  iman, tiga abdi nggambaraken mawarni-warni pilihan dipun abenajengaken kaliyan kahanan ingkang boten pasti. Wonten ingkang boten nindakaken punapa-punapa, kados abdi katiga, wonten ingkang nindakaken timbalanipun kanthi setya lan teman, kados abdi sepisan lan kalih. Mila, aja dumeh, eling, lan waspada sejatosipun dados lampah iman kebak pitobat wonten ing satengahing goda lan kawontenan ingkang boten pasti. Gesang iman ingkang ngetingalaken asoring manah, ngrumaosi bab sinten dhiri kita, sinambi nindakaken timbalan kanthi setya ngantos dumugi sang tuan rawuh.

Panutup
Waspada punika boten ateges kita boten pitados kaliyan panganthinipun Gusti, nanging punika pratanda menawi iman kita tansah mawujud  wonten ing lebetipun lampah lan tumindak gesang sadinten-dinten. Mila wonten ing dintenipun Gusti, saben kita kedhah cumawis mapag rawuhipun. Sadaya tiyang Kristen Jawi dipun timbali kangge mbangun sikep aja dumeh, eling, lan waspada ingkang dipun rimat wonten ing satengahing konteks bencana, kanthi pangajeng-ajeng ngirangi dampak awon ingkang kelampahan. Wonten ing konteks padintenan (kebencanaan), kita dipun abenajengaken  kawontenan ingkang kirang langkung sami. Gesang wonten ing satengahing bencana, ndadosaken saben tiyang kedah waspada kanthi ngembangaken talenta/kapasitasipun. Talenta ingkang nglambangaken sadaya kesagedan, wekdal, sumber daya, jejaring kangge ningkataken kapasitas ngadepi kahanan ingkang boten kanyana-nyana.

Ing satengahing reraosan wulan budaya, kita dipun timbali gladhi  gesang iman lan gesang ing padintenan kanthi  eling lan waspada. Sikep eling lan waspada,  sanes sikep ajrih lan kwatos bab mangsa ngajeng, nanging dados sarana asoring manah  sinambi nyinau mapag mangsa ngajeng ingkang boten mesthi (aja dumeh). Nyinau  saking Kethek, aja dumeh mrantasi angin Topan lan Tornado, ngadhepi angin sepoi-sepoi malah dawah. Mugi kita tansah elinga lan waspada. Amin. [NW].

 

Pamuji: KPJ. 409  Maranatha

Renungan Harian

Renungan Harian Anak