Khotbah Minggu 26 Juni 2016

MINGGU BIASA
(Bulan Keluarga – Pekan Anak)
Stola Putih

 

Bacaan 1         : I Raja-raja 19 : 15 – 16, 19 – 21
Bacaan 2         : Galatia 5 : 1, 13 – 25
Bacaan 3         : Lukas 9 : 51 – 62

Tema   liturgis  : Menjadi Anak Tuhan yang setia
Judul    kotbah : Membangun keluarga yang bahagia dan setia

 

Keterangan Bacaan

I Raja-raja 19 : 15 – 16, 19 – 21

Kesetiaan Elia kepada Tuhan sebagai seorang nabi dan pelayan sungguh nyata. Bacaan kita hari ini merupakan bagian dari pergumulan batin seorang Nabi Tuhan yang berusaha setia melakukan kebenaran Tuhan, namun di sisi lain berhadapan dengan kekuatan jahat yang menentang Tuhan dan bayang-bayang kematian yang diwakili oleh Ahab dan Izebel. Dalam pelariannya, Elia tetap menyadari akan kesetiaan Tuhan. Ia tidak saja hadir dalam perbuatan yang kuat dan perkasa seperti angin besar, gempa bumi dan api, namun Allah justru hadir dalam angin yang sepoi. Peristiwa ini menjadikan Elia menyadari bahwa Tuhan terus berkarya, bergerak dan maju senantiasa dengan setia.

Dalam kesetiaan Allah itu Elia sadar bahwa panggilan Allah atas dirinya juga harus dilakukan dengan setia. Karya Allah melalui dirinya tidak boleh berhenti sekalipun usianya akan berhenti. Oleh karena itu, Elia bangkit untuk meneruskan karya Allah melalui dirinya yang harus kembali ke Damsyik, jalan yang pernah dilaluinya dengan melakukan tiga hal:

  1. Mengurapi Hazael menjadi Raja Aram
  2. Mengurapi Yehu sebagai Raja Israel
  3. Mengurapi Elisa, sebagai nabi pengganti dirinya.

Elia meletakkan jubahnya kepada Elisa sebagai simbol pemberian wewenang kepada Elisa. Tindakan itu disambut dengan kesediaan Elisa untuk mengikuti Elia sebagai pelayanNya. Elisa telah menyelesaikan segala tugasnya terlebih dahulu.

Galatia 5 : 1, 13 – 25

Paulus mengingatkan jemaat di Galatia supaya setia hidup bersama dengan Allah. Roh Allah akan menuntun mereka memasuki tahap baru kehidupan, yaitu hidup di bawah pimpinan Roh-Nya dan kemudian menghasilkan buah-buah roh.

Di hadapan mereka sebagai anak Allah, terpapar godaan hidup yang nyata dan dekat dengan mereka. Bahkan justru semua itu adalah perbuatan yang tidak asing lagi atau akrab dengan mereka di waktu lalu. Namun sekarang, kondisinya berbeda. Posisi hidup mereka tidak sama. Sekarang mereka adalah orang yang sudah dimerdekakan oleh Tuhan. Dengan posisi yang baru ini tidak seharusnya mereka kembali pada posisi lama mereka.

Mereka dipanggil untuk menunjukkan diri sebagai orang merdeka dengan jalan melayani oleh kasih. Inilah hukum baru yang menunjukkan bahwa mereka berbeda. Bukan lagi hidup dalam belenggu dosa yang hidup hanya untuk keselamatannya. Sekarang mereka sudah dimerdekakan oleh Kristus. Gunakan kemerdekaan itu dalam jalan kasih seperti yang diungkapkan pada ayat 22-23a.

Keinginan daging yang ada pada manusia adalah kelemahan manusiawi jika tidak dikendalikan oleh Roh Kudus, itu akan muncul menjadi perbuatan daging seperti yang Paulus daftarkan dalam Gal 5:19-21. Dan itu semua gambaran hidup yang tidak mau menerima kemerdekaan Kristus.

Lukas 9 : 51 – 62

Perjalanan Yesus melewati kampung orang Samaria bertemu dengan orang-orang yang seolah menampilkan dirinya sebagai seorang yang setia. Awalnya, niatnya begitu besar untuk mengikuti Yesus. Namun ketika Yesus menjelaskan bahwa mengikut Dia tidak selalu menyenangkan, karena mungkin serigala dan burung jauh lebih baik dan beruntung daripada diri-Nya, maka kemudian, kesetiaan mereka itu mulai berguguran. Mereka memakai alasan yang tidak mungkin ditolak, dan lazim dilakukan oleh banyak orang. Mengantarkan orang tua ke pemakaman adalah persoalan penting yang tidak mungkin ditolak. Namun, justru perbuatan ini seringkali menjadi alasan banyak orang yang ingin menghindari sebuah perbuatan lain. “Biarkanlah aku menguburkan ayahku dahulu..” merupakan alasan umum yang biasa dipakai orang untuk menghindar.

Karena Yesus tahu bahwa itu hanyalah alasan mereka saja, maka jabawannya bukan mengijinkan namun justru mengatakan bahwa perkara kerajaan Sorga jauh lebih penting di atas segalanya. Tuhan Yesus hendak mengingatkan bahwa selagi ada kesempatan seharusnya dipakai untuk melakukan tugas pelayanan dengan setia.

Benang Merah 3 Bacaan 

Keluarga Kristen adalah pelayan Allah yang telah dimerdekakan oleh Kristus dan dipimpin oleh Roh-Nya untuk melakukan segala hal yang baik. Kesadaran ini akan membangun kesetiaan hidup dan iman yang sungguh dan murni dalam menjalankan perannya. Karena hidup itu sendiri terbatas, maka keluarga Kristen dipanggil untuk mewariskan semangat kesetiaan seorang pelayan sebagai nilai hidup yang tinggi kepada gerenasi berikutnya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Biasanya masing-masing keluarga itu memiliki tempat favorit. Tempat yang menjadi kesukaan bagi keluarga itu untuk bersama, bercerita, berbagi, atau sekedar bercanda. Bagi keluarga saudara, di manakah tempat favorit itu?

Ada yang tempat favoritnya di sebuah restoran mahal dan enak. Ada yang di sebuah villa indah dan asri. Sebagian mungkin di warung lesehan kaki lima, di kampung halaman, atau bahkan tidak sedikit orang yang menemukan tempat favorit itu justru di sudut rumahnya. Mungkin di teras rumah, di ruang tengah atau di taman. Yang pasti bahwa di tempat-tempat itu mereka merasa ada kebutuhan diri mereka yang terpenuhi. Ya, kebutuhan sebagai bagian dari hidup berkeluarga. Di tempat itu mereka mendapatkan rasa nyaman, aman, dan penerimaan yang membahagiakan. Di tempat itu mereka bisa merasakan kehangatan yang menguatkan. Dan jika suasana itu sudah didapatkan, maka semua pesan akan tersampaikan dalam damai, bukan menggurui.

Karena itu, tempat favorit sebenarnya bukan soal harga, bukan soal jarak, bukan soal ukuran dan juga bukan soal bentuk. Tempat favorit keluarga adalah soal di mana hati dan jiwa mendapatkan kehangatan dan penerimaan. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, di manapun tempatnya akan tetap membahagiakan. Orang yang bahagia adalah orang yang akan mampu menjadi pribadi yang setia. Tidak ada syarat apapun yang mendorongnya untuk setia selain karena menjadi setia itu membahagiakan.

Isi

Mengapa sekarang ini banyak orang sulit setia? Mengapa suami atau istri sulit untuk setia dengan janjinya? Jangan-jangan itu karena mereka lupa betapa bahagianya mereka menjadi penerima berkat Tuhan dalam perkawinan. Mengapa anak-anak sulit untuk setia kepada orang tua dan keluarganya? Jangan-jangan mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan di rumahnya. Kebahagiaan yang dirasakan akan mendorong orang untuk setia. Kebahagiaan itu yang dirasakan oleh nabi Elia sebagai utusan Allah. Kesulitan dan tantangan dalam pelayanan mungkin mendatangkan penderitaan bagi Elia, seperti ketika ia dikejar-kejar oleh Izebel dan Ahab. Pergumulan hidup Elia mungkin begitu menyesakkan. Namun, Elia menyaksikan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti berkarya dengan caraNya yang ajaib, seperti yang nampak dalam angin sepoi-sepoi basa. Dan hal apakah yang akan lebih membahagiakan lagi selain merasa bahwa hidupnya didampingi dan diberkati oleh Allah yang terus berkarya? Karena itu, ketika usianya sudah semakin tua dan hidupnya hampir berakhir, Elia tetap setia melakukan perintah Allah, yaitu mengurapi Hazael menjadi Raja Aram, Yehu sebagai Raja Israel dan Elisa sebagai nabi pengganti dirinya. Elia bahagia atas segala capaian hidup yang diterimanya, dan ia setia menjalankan tugas perutusannya sampai akhir. Kebahagiaan itu yang kemudian akan diwarisi oleh Elisa sebagai pengganti Elia kelak.

Kebahagiaan seperti ini yang diharapkan oleh Paulus dirasakan dan diakui oleh jemaat Kristen di Galatia. Ia mengajak, mari berbahagia. Karena kasih Yesus Kristuslah kita, yang dulu hidup dalam belenggu dosa, sekarang menjadi orang merdeka. Jika kebahagiaan itu sudah tumbuh, maka semua yang dipikir, dirasa dan dilakukan adalah hidup bersama sumber bahagia itu. Laku hidup yang demikian ini menurut Paulus adalah dengan jalan melayani oleh karena kasih.  Bukankah hal ini yang sudah dilakukan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus bagi kita? Kebahagiaan-Nya adalah ketika melayani, seperti yang berulang kali Yesus katakan dalam beberapa kesempatan. “Anak manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani” (Matius 20:28).

Kebahagiaan orang percaya adalah ketika setia hidup di dalam Roh Allah. Kesetiaannya hidup di jalan kemerdekaan itu akan menghasilkan buah-buah yang menularkan dan meneruskan kebahagiaan itu. Seperti yang terungkap dalam Galatia 5: 22-23a, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri adalah kebahagiaan yang akan menciptakan lingkaran kebahagiaan baru. Karena dengan perbuatan itu kerajaan Allah dirasakan. Kerajaan Allah itu kebahagiaan. Sebaliknya, Paulus mengingatkan supaya orang percaya di Galatia menjauhi segala perbuatan seperti: “…percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.”( ayat 19-21a). Karena semua itu penghancur kebahagiaan. Demikian juga keluarga yang hidup dalam Kristus dan dipimpin oleh Roh-Nya akan mengupayakan buah-buah Roh itu dengan setia.

Kebahagiaan ini telah menjadi pilihan dan jalan hidup Sang Kristus, sehingga Ia setia sampai akhir. Dan tidak banyak orang yang memilih mengikutiNya dengan setia di jalan itu. Banyak orang masih menganggap bahwa BAHAGIA itu hanya sebatas pada perkara MENERIMA. Jika saya menerima banyak, enak dan indah, maka saya bahagia. Oleh karena itu dalam perjalanan dari kampung Samaria, beberapa orang berkeinginan “saya akan pergi mengikuti Engkau”. Namun, ketika Yesus mengatakan sisi yang berbeda, bahwa kebahagiaan hidupnya terletak juga pada kesediaan dan kesetiaan untuk memberi, karena tidak selalu ada tempat bagiNya, mereka mulai beralasan dan mundur. Mereka tidak layak bagi kerajaan Allah. Karena kebahagiaan kerajaan Allah pada perkara memberi dengan setia.

Penutup

Bagaimana dengan keluarga kita? Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk:

  1. Menyadari satu hal: keluarga kita dibentuk oleh Allah untuk BAHAGIA. Jika Tuhan memberkati keluarga dengan materi yang cukup atau bahkan berlebih, dengan anak dan cucu, dan hal lain yang menambah kebahagiaan, itu adalah bonus yang ditambahkan. Bagaimana jika semua itu tidak ditambahkan? Kebahagiaan keluarga tidak boleh hancur. Karena kebahagiaan penghuni kerajaan Allah bukan saat mendapatkan, melainkan ketika setia memberi.
  2. Menjadi keluarga yang setia. Menjadi suami yang setia, isteri yang setia, orang tua yang setia, anak-anak dan saudara yang setia. Kesetiaan yang tidak tergantung pada suasana dan situasi. Namun, setialah dengan panggilan sebagai orang yang bahagia. Setialah di mana pun berada. Setialah saat bersama maupun sendiri, saat dilihat orang lain maupun tanpa dilihat orang lain. Tuhan Yesus telah terlebih dahulu setia pada panggilan-Nya. Kesulitan hidup dalam pelayanan tidak membuat-Nya menyerah. Setialah dalam menjalani hidup yang sudah dimerdekakan. Paulus mengajak jemaat di Galatia setia dalam segala perbuatan baik, karena itulah identitas hidup yang dikuasai oleh Roh Allah.

Seminggu berlalu kita diajak menghayati Pekan Anak di GKJW. Mari menjadikan moment ini penyemangat kita untuk bertumbuh bersama dengan anak-anak dalam kesetiaan. Sebagaimana Elia menyiapkan Elisa, mari menyiapkan anak-anak menjadi pewarna kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan dan kesetiaan. Anak-anak membutuhkan suasana keluarga yang bahagia untuk bertumbuh menjadi pribadi yang setia. Sekali lagi, mari menghayati bulan keluarga ini dengan satu pengakuan “Tuhan telah memberkati keluarga kita dengan kebahagiaan. Maka marilah SETIA berjalan di jalan bahagia itu, dengan cara bersedia dipimpin oleh Roh-Nya.” Amin. [KR]

Nyanyian: KJ 446: 1,3.

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka

Limrahipun saben brayat nggadhahi panggenan klangenan, utawi favorit. Panggenan menika dados karemenanipun brayat, karana ing ngrika saged andum cariyos, andum berkah utawi namung gegojegan. Kangge brayat panjenengan, wonten pundi panggenan favorit menika?

Wonten saperangan brayat ingkang mastani bilih panggenan favoritipun menika restoran awis lan eca. Utawi wonten ing villa endah lan asri. Saperangan malih wonten ing warung lesehan pinggir margi. Utawi wonten ing ndesa asalipun. Nanging boten sekedhik tiyang ingkang mastani bilih panggenan favoritipun inggih wonten ing griyanipun piyambak. Wonten ing teras, ruang tengah utawi ing taman. Ingkang baken, wonten ing panggenan-panggenan kalawau menapa ingkang dados kabetahanipun saged kacekapan. Inggih menika kabetahan tumrap raos nyaman, aman, lan saged katampi kanthi bingah. Wonten ing panggenan menika, sedaya tiyang saged ngraosaken “kehangatan” ingkang ngiyataken. Lan nalika swasana ingkang kados mekaten sampun kagayuh, pramila bab menapa kemawon badhe saged karembag kanthi tentrem.

Karana mekaten, panggenan favorit menika boten gumantung ing bab rega, sanes ing bab jarak, sanes ugi bab ukuran menapa dene wujudipun. Panggenan favorit brayat gumantung ing manah ingkang ngraoskaen “kehangatan” lan katampi. Nalika kabetahan menika kasembadan, ing pundi kemawon panggenanipun, tansah mbingahaken. Tiyang menawi sampun kebak bingah menika, inggih tiyang ingkang saged dados pribadi ingkang setya tuhu. Boten wonten satunggaling sarat ingkang nyurung piyambakipun tumindak setya, kajawi pangrasa bilih dados tiyang ingkang setya menika saestu mbingahaken.

 

Isi

Kenging menapa jaman samangke kathah tiyang boten saged tumindak setya? Kenging menapa kathah semah boten saged setya tumrap janjinipun? Mbokbilih, pancen kathah tiyang sampun kesupen kados pundi bingahipun dados tiyang ingkang nampeni berkahipun Gusti. Kenging menapa para putra inggih rekaos tumindak setya dhumateng tiyang sepuh lan brayatipun? Mbokbilih para putra boten nate ngraosaken kabingahan wonten ing griyanipun. Kabingahan ingkang dipun raosaken menika saged murugaken tiyang tumindak setya.

Kabingahan menika ingkang karaosaken dening Nabi Elia minangka utusanipun Gusti Allah. Kangelan lan reribet ing satengahing peladosan mbokmenawi murugaken panandhang tumraping Elia, kados nalika dipun oyak-oyak dening Izebel lan Ahab. Lelampahaning gesangipun Elia saestu awrat. Nanging, Nabi Elia nekseni bilih Gusti boten kendel anggenipun makarya mawi cara ingkang ngedab-edabi, kados ingkang katingal ing satengahing angin semilir. Lan, sejatosipun, bab menapa ta ingkang langkung mbingahaken kejawi rumaos yen gesang menika binerkahan lan kinanthi dening Gusti ingkang boten kendel anggenipun makarya? Pramila, nalika rumaos bilih yuswanipun sampun sepuh, Elia tansah setya nindakaken dhawuhipun Gusti, kados ing waosan kita dinten menika, njebati Hazael dados raja Aram, Yehu minangka Raja Israel lan Elisa dados nabi ingkang nggantos panjenenganipun. Elia ngraosaken kabingahan karana sedaya ingkang sampun katampi, lan ugi saestu setya anggenipun nindakaken timbalanipun ngantos purna. Kabingahan menika ingkang lajeng dipun warisi dening Elisa ingkang badhe nggantos panjenenganipun.

Kabingahan menika ugi kaajeng-ajeng dening Rasul Paulus lan dipun raosaken dening pasamuwan Kristen ing Galati. Paulus ngatag: Sumangga abebungah karana katresnanipun Yesus Kristus. Kita ingkang rumiyin gesang ing bebenduning dosa, samangke dados tiyang mardika. Menawi kabingahan sampun tuwuh ngrembaka, mila sedaya ingkang dipun pikir, dipun raosaken lan dipun lampahi namung kabingahan karana gesang sinarengan kaliyan sumbering bingah kalawau. Lelampahaning gesang ingkang kados mekaten punika miturut Paulus karengkuh mawi leladi karana katresnan. Rak nggih tumindak menika ta ingkang sampun katuladhakaken dening Gusti Yesus kangge kita? Kabingahanipun Sang Kristus inggih nalika leladi, kados ingkang wongsal-wangsul dipun dhawuhaken. “Anggenipun Sang Kristus rawuh menika boten supados dipun ladosi nanging malah ngladosi” (Mat 20:28).

Kabingahanipun tiyang pitados ing Gusti Allah inggih nalika gesang setya ing panguwasanipun Rohipun Gusti Allah. Kasetyan menika badhe ngedalaken woh-wohan ingkang sae, ingkang nular lan sumrambah mujudaken kabingahan. Kados dene ingkang kaserat wonten ing Galatia 5: 22-23a, “Katresnan, kabungahan, katentreman, sabar, sarèh, sumlondhoh, kabecikan, setya, andhap-asor lan ngwasani awaké dhéwé.” Menika wujuding kabingahan ingkang badhe nglairaken kabingahan enggal.

Nalika bab menika kalampahan, badhe wujudaken kabingahan-kabingahan enggal ingkang ndadosaken kratoning Allah karaosaken. Kratoning Allah menika kabingahan. Swalikipun, Rasul Paulus ngengetaken supados tiyang pitados ing Galatia nebihi sedaya tumindak awon: “laku jina, kotor, murang-tata, nyembah brahala, ilmu sihir, memungsuhan, seneng padu, mèri, brangasan, gumunggung, seneng gawé crah, lan tukar padu, padha sengit-sinengitan, endem-endeman, jibar-jibur, lan sapanunggalané (ayat 19-21a). Menika sedaya ngrisak kabingahan.

Kabingahan menika sampun dados pilihan lan margining gesangipun Sang Kristus, satemah Panjenenganipun setya dumugi pungkasan. Boten kathah tiyang ingkang ngetut wingking Panjenenganipun kanthi setya ing margi menika. Kathah tiyang sami mastani bilih KABINGAHAN menika namung winates ing perkawis ANAMPI. “Yen aku nampa akeh, apik lan kepenak, mula aku kaaran bungah.” Pramila, nalika ing kekesahan saking kampung Samaria, sawatawis tiyang nggadhahi pepenginan “kula kepengin ndherek Paduka”. Nanging, nalika Gusti Yesus dhawuh kaanan ingkang benten, bilih kabingahan ugi linambaran manah ingkang purun lan setya ANDUM kanthi LILA, karana boten tamtu wonten panggenan kagem Panjenenganipun, wusananipun lajeng sami mundur kanthi maneka warni alesan. Tiyang ingkang kados mekaten menika, boten pantes kagem kratoning Allah. Karana kabingahan ing Kratoning Allah kajurung ing perkawis andum kanthi setya.

Panutup

Kadospundi brayat kita? Lumantar pangandika menika kita kaatag sinau bab:

  1. Ngugemi bilih: brayat kita menika kayasa dening Gusti Allah murih abebungah. Menawi Gusti mberkahi brayat kanthi kacekapan bandha malah kepara linuwih, lumantar putra lan wayah, lan maneka warni bab, sedaya menika IMBUH. Kadospundi yen nyatanipun Gusti mboten ngimbuhi? KABINGAHANing brayat boten pareng ajur. Karana kabingahanipun putaning Allah boten gumantung nalika anampi, nanging nalika purun andum lan weweh.
  2. Dados brayat ingkang setya tuhu. Sumangga dados semah ingkang setya tuhu, sae nalika sesarengan menapa dene nalika piyambakan. Sumangga dados tiyang sepuh, putra lan brayat ingkang setya. Kasetyan menika boten gumantung dhateng kaanan, nanging dhateng timbalan dados tiyang ingkang nampeni kabingahan. Gusti Yesus sampun langkung rumiyin setya tuhu kaliyan timbalanipun. Reribeding gesang ing peladosanipun boten ndadosaken semplah. Pramila sumangga setya nindakaken gesang ingkang sampun kaparingan kamardikan. Rasul Paulus ngatag pasamuwan ing Galati setya ing sadhengah panggawe becik, karana menika wujuding tetengering gesang ingkang dipun kuwaosi dening Rohipun Gusti Yesus.

Seminggu kepengker menika kita nglampahi Pekan Anak ing GKJW. Sumangga ndadosaken kegiatan menika dados pangatag kita nggulawenthah anak-anak (wayah) kanthi kasetyan. Kadosdene Elia nyawisaken Elisa, sumangga kita ugi nyawisaken anak-anak (wayah) dados pribadi ingkang kebak kabingahan lan kasetyan. Anak-anak betah swasana brayat ingkang kebak bungah kangge nuwuhaken raos setya. Sepisan malih, sumangga kita ngugemi wulan keluarga menika kanthi pangaken “Gusti Allah sampun paring berkah ing brayat kita kanthi kabingahan. Sumangga tansah SETYA lumampah ing margi kabingahan menika kanthi tansah sumadya kapimpin dening Roh-ipun. Amin. [KR]

Pamuji: KPK 31: 3/ 78: 1, 2.

 

Bagikan Entri Ini: