Tenanglah, Aku Ini, Jangan Takut! Khotbah Minggu 25 Juli 2021

12 July 2021

Minggu Biasa – Penutupan Bulan Keluarga
Stola Hijau

Bacaan 1: 2 Raja – raja 4 : 42 – 44
Bacaan 2: Efesus 3 : 14 – 21
Bacaan 3: Yohanes 6 : 1 – 21

Tema Liturgis: Yesus Kristus Sang Pemimpin Keluarga yang Selalu Menyertai dan Memberkati
Tema Khotbah: “Tenanglah, Aku ini, Jangan Takut!”

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

2 Raja – Raja 4 : 42 – 44
Elisa adalah seorang nabi, murid Nabi Elia yang mewarisi 2 roh Elia, yaitu ketaatan dan keberanian. Ia meneruskan pelayanan Nabi Elia pada zaman Raja Ahab (874-853 SM) dari Israel Utara dan Yehuda (841-814 SM) yang memusnahkan keluarga Ahab dan nabi-nabi Baal. Karena penyembahan Ahab kepada Baal dan menyeret Israel kepada Baal, Tuhan Allah mendatangkan kekeringan atas Israel beberapa tahun lamanya, yang mengakibatkan krisis pangan, kelaparan, dan kemiskinan.

Dalam bacaan ini dikisahkan ada seorang dari Baal-Salisa yang mendatangi Nabi Elisa untuk menyerahkan “roti hulu hasil” sebanyak 20 jelai dan gandum baru dalam sebuah kantong. Pada waktu itu ada lebih dari 100 orang di situ. Nabi Elisa lalu meminta pelayannya untuk memberikan makan kepada mereka. “Bagaimana mungkin roti 20 jelai bisa mencukupi untuk makan lebih dari 100 orang?” tanya si pelayan. Tetapi Nabi Elisa menjawab bahwa Firman Tuhan mengatakannya, bahkan akan ada sisanya. Benarlah, Firman itu terjadi, semua orang makan dengan kenyang dan ternyata masih ada sisanya.

Efesus 3 : 14 – 21
Perikop ini merupakan doa Rasul Paulus untuk orang-orang Kristen di Efesus:

  1. Supaya Tuhan dengan segala kekayaan kemuliaanNya menguatkan mereka oleh RohNya yang berada dalam batin mereka.
  2. Supaya mereka memahami betapa lebar, panjang dan tingginya kasih Kristus dan mengenal kasih itu, sekalipun melampaui segala pengetahuan. Mengenal berarti oleh iman hidup berakar dan berdasar kasihNya itu.
  3. Supaya mereka dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah yang kuasanya telah bekerja di dalam diri kita dan melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan.

Yohanes 6 : 1 – 21
Dalam bacaan ini ada dua kisah yang diceritakan yang sama-sama mengisahkan situasi krisis. Pertama tentang kebutuhan mendesak akan pangan dan yang kedua kebutuhan mendesak akan keselamatan hidup. Pada waktu itu menjelang Paskah, seperti biasanya orang-orang Yahudi dari berbagai pelosok dunia termasuk dari Palestina berduyun-duyun datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Oleh karena itu tidak heran jikalau saat itu berkumpul begitu banyak orang mengikuti dan mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Laki-lakinya saja, tidak termasuk perempuan dan anak-anak ada lebih dari 5000 orang. Mereka lelah, lapar, dan jauh dari kampung. Tuhan Yesus mencobai Filipus, “Dimanakah kita dapat membeli roti supaya mereka ini dapat makan?”. Filipus menjawab, Roti seharga 200 dinar (kira-kira 200xRp100 000,- upah seorang bekerja sehari = Rp 20.000.000) tidak cukup, itupun setiap orang cuma mendapatkan sepotong kecil!” Siapa punya uang sebanyak itu? Tetapi Andreas menyatakan bahwa ada seorang anak yang mempunyai 5 ketul roti jelai dan 2 ikan, walaupun ia juga ragu, seperti katanya, “tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”. Tuhan Yesus lalu menyuruh orang-orang itu duduk dengan tertib. Ia mengambil roti itu dan mengucap syukur, kemudian membagi-bagikannya, hingga semuanya kenyang. Demikian juga yang diperbuatnya dengan ikan itu. Akhirnya masih tersisa 12 bakul penuh.

Yang kedua, pada malam hari, ketika para murid sedang berlayar menyeberang danau menuju Kapernaum, tiba-tiba dari depan angin kencang dan laut bergelora menerjang perahu mereka, sehingga perahu terombang-ambing dan para murid panik serta ketakutan. Bahkan ketika Tuhan Yesus berjalan di atas air mendekati, mereka mengira itu hantu (Matius 14:26). Sabda Tuhan Yesus, Tenanglah, Aku ini, janganlah takut! (Matius 14:27). Aku ini atau inilah Aku dari kata Yunani ego eimi. Kata ini digunakan dalam ketiga Injil (Matius 14:27; Markus 6:50; Yohanes 6:20). Kata Yunani ego eimi digunakan dalam Septuaginta (Perjanjian Lama bahasa Yunani) untuk menerjemahkan kata ehyeh asyer ehyeh atau YHWH (Keluaran 3:14), artinya Aku adalah Aku, Aku Ada yang Aku Ada, Aku Hidup yang Aku Hidup, Aku Ada yang Aku Berkarya. Tuhan adalah Allah yang Maha Hidup, Maha Ada dan Maha Berkarya. Seketika itu, laut menjadi tenang, dan para murid segera sampai tujuan.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Tuhan Yesus, Yang Maha Ada, Maha Hidup dan Berkarya hadir di tengah krisis (bahkan krisis yang paling parah sekalipun) murid-muridNya untuk meneguhkan dan menyelamatkan mereka, hingga sampai tujuan.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan. Kata krisis artinya situasi yang genting, gawat, berbahaya yang sewaktu-waktu bisa putus, pecah, dan hancur lebur. Dalam krisis ada kebutuhan yang sangat mendesak, yang jika tidak dipenuhi bisa berakibat fatal. Ada bermacam-macam krisis: krisis pangan (ketika pangan langka, kelaparan, kemiskinan), krisis sosial (ketika masyarakat terpecah belah, saling menyingkirkan), krisis ekonomi (ketika ekonomi merosot, pabrik bangkrut, pekerjaan langka, penghasilan hilang), krisis politik (ketika terjadi perebutan kekuasaan, hingga mengadu domba rakyat sampai berdarah-darah), krisis kepercayaan, krisis jati diri (ketika orang sudah tidak tahu lagi siapakah dirinya dan harus hidup bagaimana). Akibatnya di tengah berbagai krisis ini banyak orang ketakutan, panik, putus asa, kehilangan semangat hidup, bahkan kehilangan keyakinannya kepada Tuhan. Namun, juga tidak jarang krisis dapat menjadikan orang semakin tangguh, kreatif, dewasa, dan tumbuh.

Isi

  1. Krisis juga Melanda Umat Tuhan
    Berkali-kali sebenarnya krisis melanda umat Tuhan. Karena krisis pangan, Abraham, Yakub dengan anak-anaknya mengungsi ke Mesir. Demikian juga pada zaman Nabi Elia, karena Raja Ahab yang membawa rakyatnya memuja Baal, Tuhan tidak menjatuhkan embun dan hujan selama beberapa tahun (1 Raja-raja 17:1), sehingga mengakibatkan krisis pangan, kelaparan, bahkan kemiskinan parah di Israel. Maka Nabi Elisa (murid dan penerus pelayanan Elia) menghadapi orang-orang miskin ini, seperti salah seorang janda nabi yang kedua orang anaknya akan dijadikan budak oleh si penagih hutang (2 Raja-raja 4:1,2). Dalam bacaan kita, Nabi Elisa menerima 20 roti jelai dan gandum hulu hasil dari seseorang dari Baal-Salisa. Kemudian Elisa minta pelayannya supaya membagikannya kepada lebih dari seratusan orang yang ada di situ.

    Pengalaman serupa juga dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus dan lebih dari 5000 orang yang berduyun-duyun mengikut Tuhan Yesus. Mereka lelah, lapar, dan jauh dari kampung, sehingga tidak dapat membeli roti. Begitulah krisis dapat datang kepada siapa saja, orang kaya, miskin, berpendidikan tinggi, rendah, bahkan bisa menghempas keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan dunia. Bukankah Covid19 ini telah menjadikan dunia mengalami krisis, bahkan krisis multi dimensi, karena yang semula krisis kesehatan ini kemudian berkembang menjadi krisis sosial, ekonomi, politik, di mana-mana?

  2. Respon Para Murid
    Ketika Nabi Elisa meminta pelayannya untuk membagi roti yang ada itu kepada orang-orang tersebut, respon pelayannya langsung: “Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan 100an orang?” Demikian juga ketika Tuhan Yesus meminta para murid untuk memberi makan orang banyak itu, Filipus menjawab: “Roti seharga 200 dinar (kurang lebih Rp. 20.000.000,-) tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.”. Bahkan yang lebih parah di dalam Injil Matius (Matius 14:15) dan Injil Markus (Markus 6:35,36) para murid menyarankan supaya Tuhan Yesus menyuruh orang-orang itu pergi untuk membeli makanan mereka sendiri-sendiri.

    Nabi Elisa menyatakan: “Firman Tuhan mengatakannya, supaya mereka makan!”. Demikian juga Tuhan Yesus memerintahkan orang-orang itu duduk dengan tertib, Ia mengambil roti, lalu bersyukur, kemudian membagi bagikannya kepada orang-orang itu. Demikian juga yang dilakukanNya dengan ikan. Semua makan kenyang, bahkan tesisa 12 bakul. Betapa indahnya, hidup dari apa yang ada, bersyukur, mengatur, dan berbagi, dan semuanya kenyang.

    Tuhan Yesus menghendaki para muridNya tidak begitu saja gampang “cuci tangan” dan masa bodoh. Dengan apa yang ada pada mereka, mereka dikehendaki untuk memperhatikan sekitarnya, berbagi dengan yang membutuhkan. Sikap “cuci tangan”, tidak mau tahu dengan urusan orang lain, bukankah sikap semacam itu sering juga menjadi sikap kita di tengah kesulitan?. Bukankah sikap masa bodoh ini sering juga menjadi sikap masyarakat kita dalam krisis pandemi ini? Hanya selalu memakai masker, mencuci tangan dan mengambil jarak demi keselamatan bersama saja tidak mau. Bahkan ada tetangga, RT/ RW, kelurahan yang mengusir warganya yang terpapar Covid19 dari desanya dan melarang warganya yang mati karena Corona itu dimakamkan di kampungnya. Lebih parah lagi ada yang mengusir paramedis yang bekerja siang malam untuk melawan Corona. Orang-orang yang lapar, miskin, lelah rohani-jasmani, dan panik, betapa mudahnya marah, frustrasi, dan diprovokasi sehingga melakukan tindakan anarkhis. Dalam situasi seperti itu berapa banyaknya pemimpin, politikus, provokator yang demi agenda dan tujuan politis tertentu menggerakkan massa bukan untuk membangun, melainkan merusak, memecah belah, dan menghancurkan. Padahal sekarang sudah diperingatkan, bahwa jikalau tidak hati-hati krisis pandemi Covid19 ini bisa berkepanjangan, bahkan bisa menjadi krisis pangan, krisis sosial, politik, dan ekonomi. Dalam krisis pandemi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam wawancaranya menyatakan bahwa saya sudah berkali-kali menghadapi krisis dan bisa teratasi, tetapi krisis kali ini sungguh-sungguh luar biasa!

    Bahkan, setelah itu, para murid masih mengalami krisis yang lebih berat lagi, krisis hidup atau mati yang sangat mendesak untuk diatasi. Yaitu ketika malamnya mereka menyeberang danau menuju Kapernaum, tiba-tiba dari depan bertiup angin kencang, bergulung-gulung ombak menerjang, menjadikan perahu terombang-ambing, timbul-tenggelam tidak karuan. Bayangkan mereka adalah nelayan-nelayan yang sangat berpengalaman, tetapi karena hebatnya badai, mereka takut, bahkan panik. Dalam kepanikan mereka tidak mengenal lagi Tuhannya, bahkan mengira itu hantu! Semua serba menakutkan, serba mengancam!

  3. Tuhan Yesus Menyelamatkan Murid-muridNya yang Menghadapi Krisis
    Di tengah badai itu Tuhan Yesus bersabda: “Tenanglah! Jangan panik!” Dengan tenang maka engkau dapat berpikir jernih, menimbang-nimbang mana yang salah dan mana yang benar, mendapatkan hikmat Tuhan dan menerima realita serta berpikir positif tentang realita tersebut. Dari sana, engkau dapat mencari solusi bagaimana mengatasinya demi hidup selanjutnya.

    Kita bisa tenang jikalau mempunyai dasar yang kokoh untuk bersikap tenang. Dan Tuhan Yesus memberikan dasar tersebut dengan sabdaNya: “inilah Aku!” yang ditulis dalam ketiga Injil dengan kata Yunani ego eimi”. Kata Yunani ini digunakan dalam Kitab Septuaginta (Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) untuk menerjemahkan kata Ibrani ehyeh asyer ehyeh” atau YHWH (Keluaran 3:14), yaitu Nama Tuhan untuk diperkenalkan kepada orang Israel jikalau mereka bertanya siapakah yang mengutus Musa. Artinya: “Aku adalah Aku”, “Aku ada yang Aku Ada”, “Aku Hidup yang Aku Hidup”, “Aku Ada yang Aku Berkarya”. Tuhan adalah Tuhan yang Maha Ada di tengah berbagai ancaman penyirnaan, Tuhan yang Maha Hidup di tengah berbagai ancaman maut dan Tuhan yang Maha Berkarya di tengah tanpa daya, yang Maha Bebas, yang tidak dapat dibatasi oleh siapapun dan apapun. Tuhan yang seperti itulah yang bersabda juga kepada kita sekarang ini. “Inilah Aku, yang selalu memperhatikanmu dan tidak pernah meninggalkan engkau!”

    Karena itu engkau yang telah menyerahkan diri dan manunggal dengan yang Maha Ada itu sendiri, Janganlah takut!”. Itulah dasar untuk melanjutkan langkah dan pelayaran perahu kehidupanmu, perahu keluargamu, perahu jemaatmu, perahu Gerejamu di tengah krisis dengan segala ketidakpastiannya ini.

  4. Doa Paulus
    Saudaraku yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan, Rasul Paulus yakin, bahwa di tengah kesulitan, bahkan di tengah krisis hidup yang paling dahsyat sekalipun, orang-orang Kristen di Efesus itu sebenarnya mempunyai kekuatan yang melebihi semuanya itu, yaitu Yang Maha Ada itu sendiri, yang kasihNya lebih dalam dari lautan, lebih tinggi dari angkasa dan lebih luas dari semesta.

    Oleh karena itu ia berdoa supaya orang-orang percaya itu memahami-Nya, mengenalNya, dan hidup berakar. Artinya menyerap unsur-unsur kehidupan daripadaNya, serta berdasarkan hikmatNya saja. Sehingga mereka dapat mengalami kekuatan hidup daripadaNya dan mencapai tujuan hidupnya.

    Memang vaksin Covid19 telah ditemukan dan telah mulai disuntikkan, tetapi kita belum tahu dengan pasti sampai kapan krisis karena Covid19 ini berakhir, lebih-lebih berkepanjangan dengan segala dampaknya dalam krisis sosial, ekonomi, politik, pangan dan kemiskinan? Namun melalui iman, Kristus dengan segala kekayaan kasih-Nya telah diam di dalam batin dan mengaliri hidup kita. Doa Paulus itu juga menjadi doa dan penyerahan kita, supaya kita hidup berakar dan berdasarkan Dia saja sehingga kita mengalami kehadiranNya secara nyata. Berbahagialah yang memberi tempat Tuhan Yesus tinggal di dalam biduk keluarganya serta hidup hanya berakar dan berdasar Dia saja.

Penutup
Ada kesaksian seorang pendeta emiritus GKJW, “Saya ingat, ketika baru ditahbiskan menjadi pendeta dan ditempatkan di suatu tempat pelayanan, punikah, tiba-tiba saja diikuti oleh adik-adik yang kuliah, keponakan-keponakan yang kuliah dan 3 anak saya sendiri yang sekolah dan menyusul kuliah. Setiap habis menerima Japen (jaminan pendeta) ditambah gaji capeg (calon pegawai) isteri, uang itu kami syukuri dan doakan, kemudian dibagi ke dalam amplop-amplop oleh isteri sesuai dengan kebutuhan. Kehidupan pun berjalan, krisis demi krisis kami lalui. Kini adik-adik telah bekerja, berkeluarga, bahkan beranak cucu, keponakan-keponakan telah bekerja dan berkeluarga. Bahkan ketiga anak kamipun telah bekerja dan berkeluarga dengan anak-anak mereka di berbagai kota yang jauh, kembali kami hidup berdua, makin renta. Seperti sebelumnya, kami tidak pernah kelaparan, tidak pernah kekurangan, berkatNya terus mengalir tidak pernah berhenti. Karena Yang Maha Ada, kasihNya lebih dalam dari lautan, lebih tinggi dari angkasa dan lebih luas dari semesta.” Amin. (BRU).

 

PUJIAN: KJ. 30a : 1, 4; KJ. 439 : 1, 4; KJ. 410 : 1, 2


RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Pambuka
Para sadherek ingkang kinasih ndalem asmanipun Gusti Yesus Kristus, tembung krisis artosipun kawontenan ingkang gawat, ingkang sakwanci-wanci saged pedhot, pecah miwah ambyar. Ing saklebeting krisis wonten kabetahan ingkang ndhesek sanget ingkang kedah kaatasi. Wonten mawarni-warni krisis, kadosta krisis pangan (pailan, kesrakatan), krisis sosial (bebrayan kapecah-belah, kebak pager singgetan antawising satunggal lan satunggalipun), krisis ekonomi (pabrik-pabrik bangkrut, perusahaan kukut, pangupajiwa langka), krisis politik (rebutan panguwasa, rakyat kaedu), krisis kapitadosan, krisis jati diri (tiyang sampun mboten mangertos malih sangkan paraning dumadi). Karana krisis punika kathah tiyang ingkang ajrih, panik, kecalan semangat, pangajeng-ajeng, malahan kapitadosanipun dhumateng Gusti. Nanging ugi mboten awis krisis punika ndadosaken saperangan tiyang sangsaya tangguh, tanggon, kebak daya cipta, lan ngrembaka.

Isi

  1. Krisis ugi kaalami dening tiyang pitados
    Saestunipun kacariyosaken ing Kitab Suci bilih makaping-kaping krisis ugi tumama dhumateng para kagunganipun Gusti. Karana pailan (krisis pangan), Rama Abraham saha Rama Yakub saanakipun ngungsi dhateng Mesir. Mekaten ugi kala zamanipun Nabi Elia, karana tumindakipun Sang Prabu Akab ingkang nyeret rakyatipun Israel nyembah Baal, Yehuwah Allah mboten netesaken ebun miwah jawah sawetawis taun laminipun. Matemah Israel ngalami ketiga ngerak, saking mboten wonten toya, mboten wonten tetuwuhan ngantos pailan lan kesrakatan (1 Para Raja 17:1). Mila Nabi Elisa, murid saha panerusipun Nabi Elia asring mrangguli tiyang-tiyang kesrakat, kadosdene salah satunggaling randhanipun nabi ingkang anakipun kekalih badhe kadadosaken batur tukon karana mboten saged nyaur utangipun (2 Para Raja 4:1,2). Ing waosan kita punika nyariosaken nabi Elisa nampi roti wiwitaning panenan 20 lan gandum sakanthong saking satunggaling tiyang saking Baal-Salisa. Penjenenganipun lajeng ngutus abdinipun supados ngladosaken roti punika dhumateng watawis 100an tiyang ingkang nglempak ing ngriku supados nedha.

    Mekaten ugi ingkang dipun alami dening dening para murid lan langkung saking 5000 tiyang ingkang ndherek lan mirengaken piwucalipun Gusti Yesus. Tiyang-tiyang punika sami sayah, lungkrah, luwe, saha tebih saking dhusun kangge tumbas roti. Kados mekaten para sadherek, krisis saged tumama dhumateng sinten kemawon. Tiyang sugih, mlarat kesrakat, nggadhahi pendidikan inggil, andhap, malahan saged nempah brayat, masyarakat, bangsa, malahan bangsa-bangsa sajagad kadosdene krisis karana Covid19 ing wekdal punika ingkang mekar, mambrak dados krisis kesehatan, sosial, ekonomi, pangan lan politik.

  2. Responipun Para Murid
    Nalika Nabi Elisa ngutus abdinipun ngladosaken roti pisungsungipun tiyang Baal-Salisa kalawau dhateng tiyang-tiyang ingkang nglempak punika, abdinipun njawab: “Kados pundi kula saged ngladosaken roti punika dhateng tiyang 100?” Ananging pangandikanipun Nabi Elisa: “Wis ta ladekna, sabab mengkono pangandikane Yehuwah. Lan estu, sadaya tiyang saged nedha kanthi wareg lan taksih sisa.

    Mekaten ugi nalika Gusti Yesus ngutus para murid ngaturi nedha tiyang kathah punika, Filipus njawab: “Roti regi 200 dinar (sakpunika kinten-kinten regi Rp. 20.000.000) mboten badhe cekap. Punika kemawon saben tiyang namung angsal sacuwil alit. Malahan ingkang langkung nyedhihaken ing Injil Matius 14:15 saha Injil Markus 6:35,36, para murid punika ngusulaken supados tiyang-tiyang punika kautus kesah tumbas tedhan piyambak-piyambak kemawon. Nanging Gusti Yesus ngutus tiyang-tiyang punika sami lenggah, katata kanthi tertib. Panjenenganipun lajeng mundhut roti sair 5 ingkang kaaturaken lare alit kalawau, ngaturaken pandonga syukur, lajeng kacuwil-cuwil kabagi-bagi ngantos cekap. Mekaten ugi ingkang katindakaken tumraping ulam loh kalih punika. Sadaya sami nedha kanthi wareg, malahan taksih sisa 12 wakul. Iba endahipun gesang adhedhasar punapa ingkang wonten, dipun syukuri, dipun atur, lajeng kabagi-bagi kanthi cekap. Inggih gesang ingkang kados mekaten punika ingkang kakersakaken Gusti, kita tuladhani miwah kita alami. Gusti Yesus ngersakaken para muridipun mboten gampil “wijik asta” (cuci tangan), mboten maelu kiwa tengenipun miwah tinggal glanggang colong playu. Kanthi ingkang dipun gadhahi, Gusti ngersakaken para kagunganipun migatosaken tanggi tepalih, kiwa tengenipun, malah mbagi gesangipun kaliyan tiyang ingkang mbetahaken.

    Ananging kanyatanipun, sikap “wijik asta” utawi mboten maelu (masa bodoh) punika rak ugi asring kita tindakaken ing saktengahing karupekan? Malahan ugi asring dados sikaping masyarakat ing saktengahing pagebluk Covid19 punika. Namung kapurih tansah ngangge masker, wijik asta lan njagi jarak demi kawilujenganing sadaya kemawon mboten purun. Malahan wonten tanggi, RT/ RW ingkang nundhung warganipun ingkang nandhang penyakit Covid19 saking kampungipun, wonten ingkang nolak mayiting korban Covid kinubur ing pakuburan kampungipun. Ingkang langkung nyedhihaken malih, wonten ingkang nolak tenaga paramedis ingkang berjuang ngatasi wabah punika mondhok ing kampungipun. Iba gampilipun tiyang ingkang ajrih, panik, keluwen, frustrasi dipun provokasi kangge nindakaken tumindak anarkhis. Ing kawontenan ingkang kados mekaten punika pinten kathahipun pemimpin, politikus, provokator demi tujuan politis lajeng nyebar hoax, ngojok-ojoki massa kangge ngrisak, mecah-belah lan ngancuraken. Matemah krisis lajeng mekar, mambrak dados krisis sosial, politik, pangan, lan ekonomi. Ngantos Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani nyatakaken ing wawancara: Saya sudah berkali-kali menghadapi krisis dan bisa teratasi, tetapi krisis kali ini sungguh-sungguh luar biasa!”

    Malahan, para murid ngalami krisis ingkang langkung nggegirisi malih, krisis gesang utawi pejah ingkang kedah enggal dipun atasi. Inggih punika rikala dalunipun kanthi baita para murid nyabrang seganten Galilea tumuju Kitha Kapernaum. Dumadakan katempah angin prahara miwah ombak gumulung nggegirisi nerjang baitanipun. Baitanipun kaombang-ambingaken, kontal-kombul mboten kanten-kantenan, ndadosaken para murid sami ajrih, panik. Kados pundi para murid ingkang suwaunipun minangka nelayan ingkang sampun wareg pengalamaning gesang ing seganten punika saged panik? Tamtu prahara miwah alun gumulung ingkang ngombang-ambingaken baita punika ngedab-edabi sanget. Ing salebeting panik punika para murid mboten saged malih nyumerepi Gustinipun, malah rikala Gusti Yesus napak ing sak nginggiling seganten nyelaki para murid, para murid punika sami nginten memedi. Ing kepanikan sadaya ketingal sarwa nggegirisi lan ngancam gesang!

  3. Gusti Yesus milujengaken para muridipun ing saklebeting krisis
    Wonten ing saktengahing prahara punika Gusti Yesus ngendika: “Dienak atimu!” (Matius 14:27; Markus 6:50) artosipun dilerem atimu! Kanthi lerem, tenang sira bisa ndeleng lan mikir kanthi wening, nimbang-nimbang kanthi premana ngendi kang salah lan ngendi kang bener lan mangerti kersane Gusti. Matemah bisa mikir kanthi positif, nampa kanyatan kanthi legawa sarta namtokake tumindak sakteruse.

    Manah kita saged tenang, sekeca, lan lerem ing sak tengahing karubedan tamtu menawi kita nggadhahi dhasar ingkang kukuh. Lan estunipun Gusti Yesus maringi dhasar ingkang kukuh santosa punika kanthi pangandikanipun: “Iki Aku!”, ingkang kaserat ing Injil (Matius 14:27; Markus 6:50; Yohanes 6:20), kanthi tembung Yunani ego eimi”. Tembung Yunani ego eimi punika kaginakaken ing Kitab Septuaginta (Kitab Suci Prajanjian Lami basa Yunani) kangge nerjemahaken tembung Ibrani ehyeh asyer ehyeh” utawi “YHWH, artosipun, “Ingsun Ana kang Ana” (Pangentasan 3:14). Inggih punika asmanipun Gusti ingkang ngutus Musa, kangge njawab menawi tiyang-tiyang Israel pitaken sinten ingkang ngutus piyambakipun. Tembung punika ugi saged katerjemahaken ”Ingsun Ana kang Ingsun Ana”, “Ingsun Gesang kang Ingsun Gesang”, “Ingsun Ana kang Makarya”. Dados Gusti Allah, inggih Gusti Yesus punika inggih Gusti ingkang Maha Wonten, Maha Gesang, Maha Makarya, Maha Bebas ingkang mboten saged kawatesi dening punapa kemawon lan sinten kemawon. Panjenenganipun inggih Gusti ingkang Maha Wonten ing sak tengahing mawarni-warnining ancaman penyirnaan, Gusti ingkang Maha Gesang ing sak tengahing mawarni-warnining ancamaning pejah saha Gusti ingkang Maha Makarya ing saktengah-tengahing tanpa daya miwah ancamaning karisakan. Inggih Gusti Allah ingkang kados mekaten punika ingkang ngendika dhumateng para murid ing saklebeting krisis, kalebet kita ing jaman samangke. “Iki Aku, kang tansah migatekake lan ora nate ninggalake kowe!”

    Mila sok sintena kemawon ingkang sampun masrahaken gesangipun miwah manunggal kaliyan ingkang Maha Wonten saha Maha Gesang, “Aja padha wedi!” Inggih punika dhasar kangge nglajengaken baitaning gesang kanthi tatag, teteg, tangguh, lan tanggon. Inggih baitaning gesang brayat, baitaning gesang pasamuan, baitaning gesang Greja, malahan baitaning gesang bebrayan miwah bangsa ing saktengahing krisis ingkang sadaya sarwa mboten pasthi punika.

  4. Pandonganipun Rasul Paul
    Para sadherek ingkang kinasih ndalem asmanipun Gusti Yesus Kristus, Rasul Paul pitados lan mangertos bilih tumrap para kagunganipun Gusti ingkang kadunungan Rohipun Gusti ing manahipun, saestunipun nggadhahi dhasar lan sumbering gesang ingkang langkung ngedab-edabi katimbang kekiyatan punapa kemawon, kalebet sawarnining kekiyatan pemusnah lan pepejah. Inggih punika Gusti Yesus Sang Maha Wonten, Sang Maha Gesang piyambak, ingkang kawilujenganipun ngileni gesanging para pitados. Sih katresnanipun langkung lebet katimbang samodra, langkung inggil katimbang akasa miwah langkung wiyar katimbang gumelaring jagad raya.

    Mila Rasul Paul ndedonga supados tiyang-tiyang pitados ing Efesus, ugi kita sadaya mangertosi sadaya punika. Malah sangsaya wanuh miwah gesang adhedhasar panguwasanipun, ngoyot lan necep sadaya unsuring gesang, sih katresnan miwah kawicaksanan saking Panjenenganipun kemawon. Matemah para tiyang pitados punika ugi ngalami kekiyataning gesang saking Panjenenganipun ngantos anjog ing tujuaning gesangipun.

    Pancen, Vaksin Covid19 sampun kapanggihaken, malah sampun wiwit kasuntikaken, ananging krisis kesehatan punika sampun kadhung mambrak kanthi sadaya akibatipun dumugi krisis sosial, ekonomi, politik, pangan, ingkang ndadosaken bebrayan ngalami kesrakatan. Kita mboten mangertos kanthi pasthi, ngantos mbenjing punapa sadaya punika badhe wangsul malih tentrem raharja? Nanging, lumantar pitados, Sang Kristus kinanthenan sih katresnanipun ingkang tanpa wates badhe makuwon ing manah miwah tan wonten pedhotipun ngileni gesang kita. Mila pandonganipun Rasul Paulus punika ugi dados pandonga miwah pasrahing gesang kita kangge gesang tansah ngoyot dhumateng Panjenenganipun, matemah kita ugi tansah ngalami rawuhipun sacara nyata ing gesang saben ndinten.

Panutup
Wonten paseksinipun salah satunggaling pendhita emiritus GKJW mekaten: “Kula taksih kengetan rikala saweg kemawon katahbisaken minangka pendhita lan kapapanaken ing saktunggaling papan peladosan: Kula lajeng nikah, lajeng dipun dhereki adhik-adhik ingkang kuliah, keponakan-keponakan ingkang kuliah, anak kula piyambak 3 sami sekolah lan ugi nyusul kuliah. Saben sasampunipun nampi Japen (Jaminan Pendhita) katambahan honoripun semah, lajeng kula syukuri, kaunjukaken wonten ngarsanipun Gusti, saklajengipun dening semah kula kabagi-bagi ing amplop-amplop miturut kabetahan. Pigesangan terus lumampah, krisis mbaka krisis kula langkungi. Sakpunika adik-adik sampun sami makarya, bebrayatan, malah kanthi putra wayah, keponakan-keponakan sampun sami makarya, bebrayatan kanthi anak-anakipun. Mekaten ugi anak kula tetiga ugi sampun sami nyambut damel, bebrayatan kanthi anak-anakipun ing kitha-kitha ingkang tebih. Kula wangsul malih gesang sesarengan semah, sangsaya sepuh lan samun. Kadosdene sakderengipun kula mboten nate keluwen, mboten nate kekirangan, berkahipun Gusti mili terus tanpa pedhot. Malah roti ingkang sampun wongsal-wangsul kabagi lan sumrambah ndadosaken kacekapaning sadaya punika taksih sisa. Karana Ingkang Maha Wonten, sih katresnanipun langkung lebet katimbang seganten, langkung inggil katimbang akasa miwah langkung wiyar katimbang gumelaring jagad raya.” Amin. (BRU).

Pamuji: KPJ. 341 : 1, 2 Kadya Baita Lelayaran

Renungan Harian

Renungan Harian Anak