Minggu Biasa 2 | Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 9 : 1 – 4
Mazmur: Mazmur 27 : 1, 4 – 9
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 10 – 18
Bacaan 3: Matius 4 : 12 – 23
Tema Liturgis: Dipanggil untuk Merawat Keutuhan Ciptaan
Tema Khotbah: Pro Eksistensi
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 9 : 1 – 4
Pada tahun 745 SM, bangsa-bangsa di daerah Palestina mendapatkan ancaman dari raja Asyur yang bernama Tiglat-Pileser. Tiglat-Pileser melakukan perluasan wilayah (ekspansi) untuk memperkuat Kerajaan Asyur. Atas ancaman itu, Rezin, Raja Aram dan Pekah, Raja Israel Utara bersekutu untuk menghadang ancaman Tiglat-Pileser. Rezin dan Pekah mengajak juga Ahas, Raja Israel Selatan (Yehuda), namun Ahas menolaknya. Atas penolakan Ahas, Rezin dan Pekah kemudian menyerang Kerajaan Israel Selatan. Atas serangan itu, banyak kota di Israel Selatan yang hancur dan ratusan ribu orang tewas, namun kota Yerusalem menjadi satu-satunya kota yang belum dikuasai. Serangan itu membuat Raja Ahas dan penduduk Yerusalem takut. Ketakutan itu membuat Ahas lupa kepada Tuhan. Ahas tidak meminta pertolongan kepada Tuhan, namun meminta pertolongan kepada Tiglat-Pileser dan memberikan upeti kepadanya. Sikap Ahas menjadi bumerang baginya. Bukan pertolongan yang datang namun kesesakan.
Dalam kesesakan itu, nabi Yesaya tampil untuk mengajak Raja Ahas dan segenap rakyatnya merendahkan diri di hadapan Tuhan. Yesaya juga menyerukan berita pengharapan keselamatan. Ahas tidak percaya kepada nabi Yesaya, sehingga di pasal 7, Tuhan melalui Yesaya memberikan sebuah tanda (Yes. 7:14-17).
Tanda tersebut digenapi dengan munculnya Raja Hizkia, anak Raja Ahas. Pada zaman Hizkia, kehidupan menjadi lebih baik, karena Hizkia melakukan pembaruan dan memilih untuk lebih takut akan Tuhan (baca. 2 Tawarikh 29 dst). Masa pemerintahan Hizkia adalah kondisi yang dinyatakan oleh nabi Yesaya dalam ayat 1-4, “bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; orang bersorak-sorak; kuk, gandar dan tongkat dipatahkan; sepatu tentara yang berderap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.” Kerajaan Asyur yang pada zaman Hizkia berada di bawah kekuasaan Raja Sanherib masih mengancam Yerusalem, dijatuhkan oleh kekuasaan Tuhan, malah-malah Raja Sanherib tewas dibunuh oleh anaknya sendiri. Oleh karena itu, dari kondisi ini, gelar-gelar yang dinyatakan oleh Yesaya dalam ayat 5-6, seperti Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai, yang sebenarnya menunjukkan penguatan, penghiburan, dan pengharapan yang baru bagi Yerusalem.
1 Korintus 1 : 10 – 18
Surat 1 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 54-56 M. Surat ini ditujukan bagi Jemaat Korintus yang tengah menghidupi jati dirinya sebagai pengikut Kristus dan menghadapi masalah persekutuan-iman. Jemaat Korintus adalah jemaat yang besar dan kuat. Sebagian besar anggotanya adalah orang-orang non Yahudi yang sangat heterogen dan umumnya berasal dari kalangan yang sederhana, namun ada juga yang berasal dari kalangan berada. Dalam konteks kota Korintus, Jemaat Korintus harus berhadapan dengan kebobrokan sosial kota Korintus. Kota Korintus adalah kota yang penuh dengan penindasan karena kesenjangan ekonomi, maraknya kejahatan, dan rendahnya kesusilaan karena percabulan. Atas kondisi tersebut, melalui surat ini, Rasul Paulus menyampaikan kepada Jemaat Korintus bahwa sebagai jemaat yang tengah bertumbuh, Kristus adalah pusat yang membentuk kehidupan jemaat. Jemaat Korintus tidak dibentuk oleh kebobrokan Kota Korintus, namun Jemaat Korintus dipanggil untuk menghadapi kebobrokan Kota Korintus.
Syarat dalam menghadapi kebobrokan Kota Korintus adalah bersatu dan sehati sepikir sebagai jemaat. Dalam fenomena perselisihan yang tampak dan diberi perhatian oleh Rasul Paulus dalam perikop ini, Rasul Paulus mengingatkan agar jemaat Korintus bersatu dan sehati sepikir. Apa yang dimaksud dengan bersatu dan sehati sepikir? Bersatu (Yunani: katertismenoi) menunjuk pada upaya persatuan yang harus dikerjakan terus menerus dan diusahakan bersama. Sedangkan sehati (Yunani: noi) dan sepikir (Yunani: gnome) menunjuk pada satu pengetahuan, kecerdasan, satu pikiran maupun perasaan, satu pengertian, satu pengakuan, satu pendapat, satu tujuan, bahkan satu kehendak yang menunjukkan persatuan yang utuh dalam Kristus. Pesan ini kuat disuarakan oleh Rasul Paulus di tengah pertumbuhan Jemaat Korintus, dimana anggota-anggotanya sekalipun sudah mengikut Yesus Kristus, namun pengaruh agama misteri yang dianut sebelumnya masih membekas kuat dalam kehidupan anggota Jemaat Korintus. Pengaruh agama misteri itu adalah eksklusifitas kelompok. Eksklusifitas itu muncul salah satunya dari pemahaman baptisan agama misteri yang masih melekat di benak anggota Jemaat Korintus. Menurut pemahaman agama misteri, baptisan adalah inisiasi untuk orang-orang tertentu dan eksklusif, sehingga tidak ada kesejajaran status. Sementara baptisan Yesus Kristus memanggil semua orang yang dibaptis dalam nama-Nya untuk masuk dalam kesejajaran sebagai anggota tubuh Kristus, sekalipun orang tersebut tidak layak.
Oleh karena itu, melalui pemahaman baptisan itu, Rasul Paulus mengingatkan Jemaat Korintus yang terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu golongan Apolos dan golongan Kefas. Bahkan ada pula kelompok yang mengidolakan Paulus, sehingga ada golongan Paulus. Jemaat Korintus dibangun atas dasar satu baptisan Yesus Kristus, sehingga semua golongan yang ada meleburkan diri dalam Sang Kristus, bukan membangun sekat dan meleburkan diri kepada masing-masing pemimpin golongannya, seperti Apolos, Kefas, maupun Paulus.
Matius 4 : 12 – 23
Injil Matius menunjukkan bahwa misi Tuhan Yesus diawali dari pinggir(an) – mission from the margin! Ayat 12 menunjukkan hal tersebut, dimana Tuhan Yesus menyingkir ke Galilea. Dalam konteks geografis, Galilea menyimbolkan daerah pinggiran, namun secara konteks sosial politik dan ekonomi, Galilea sebenarnya penuh dengan intrik sosial politik dan ekonomi. Beberapa penafsir Injil Matius berpendapat bahwa menyingkirnya Tuhan Yesus ke Galilea adalah tindakan melanjutkan misi Yohanes Pembaptis dalam menyerukan pertobatan dan Kerajaan Sorga yang berangkat dari tempat yang penuh dengan intrik sosial politik dan ekonomi (Mat. 4:17). Galiliea adalah wilayah pinggiran yang hampir tak tersentuh, padahal Galilea memiliki keruwetan.
Dalam menjalankan misi-Nya, Tuhan Yesus tidak melakukannya sendirian. Warren Carter, seorang pakar hermeneutika yang mendalami perspektif hermeneutika sosio-politikal dan keagamaan mengatakan bahwa Tuhan Yesus melibatkan orang-orang pinggir(an), yaitu melalui pemanggilan para murid-Nya. Siapa saja orang-orang itu? Dalam ayat 18-20, disebutkan beberapa nama, yaitu Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Siapakah mereka? Mereka adalah penjala ikan. Menurut Dennis C. Dullling, seorang pakar hermeneutika yang mendalami perspektif hermeneutika sosio-politikal, dalam konteks Imperium Romawi, penjala ikan masuk dalam strata ketujuh. Strata ketujuh adalah strata atau kalangan orang berpendidikan rendah namun diperhitungkan oleh penguasa Romawi sebagai salah satu profesi yang memberikan pendapatan tinggi kepada penguasa. Penjala ikan sangat menguntungkan bagi penguasa karena ikan adalah komoditi yang bernilai tinggi. Ironisnya, kehidupan perekonomian para penjala ikan tidak sejahtera. Pendapatan yang mereka peroleh tidak sebanding dengan kontribusi mereka yang dihitung dalam pendapatan negara. Penjala ikan tetap harus membayar pajak dari tangkapan dan kapal mereka. Dalam kondisi tersebut, penjala ikan tetap bekerja dan terus bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik.
Memang tidak diceritakan secara pasti mengapa keempat orang tersebut mau mengikut Yesus, namun menarik untuk melihat makna di balik kata ikutlah Aku (Yun: akoluotheo). Kata akoluotheo berdimensi panggilan yang dilakukan oleh seseorang yang mempunyai otoritas, di tengah kehidupan sesehari yang sedang tidak baik-baik saja untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Dari kata ini, bisa dipahami bahwa keempat orang yang dipanggil oleh Tuhan Yesus merasakan otoritas (Ilahi) yang menyentuh batin mereka dan mereka bersedia mengikut Tuhan Yesus untuk menghadirkan Kerajaan Sorga di tengah kehidupan yang tidak baik-baik saja. Apa yang dimaksud dengan Kerajaan Sorga? Para ahli Perjanjian Baru menjelaskan bahwa Kerajaan Sorga adalah situasi yang penuh dengan kedamaian dan kesejahteraan, tak ada penderitaan. Secara konkret, situasi tersebut diceritakan oleh penulis Injil Matius dalam ayat 23-25 dimana Tuhan Yesus berkeliling di seluruh Galilea untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat; memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Gereja sebagai persekutuan dan komunitas pengikut Yesus Kristus dipanggil untuk merawat keutuhan ciptaan (pro eksistensi) melalui tindakan menyuarakan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik dengan peka melihat tanda dari Tuhan, bersatu, dan aktif terlibat dalam misi Yesus Kristus.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Nidji, dalam syair lagu Laskar Pelangi, mengatakan: “walau dunia tak seindah surga, bersyukurlah pada Yang Kuasa.” Menjalani dunia yang tak seindah surga, ternyata menurut Nidji, di bagian lain dalam lagu yang sama, membutuhkan mimpi, karena mimpi adalah kunci, kunci untuk menaklukan dunia dan kunci untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik adalah nafas Injil sekaligus misi Tuhan.
Isi
Dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, Tuhan Yesus tidak melakukannya sendirian. Ia mengajak orang-orang yang mengalami penderitaan dan masih mempunyai mimpi untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Dalam bacaan Injil, siapakah yang diajak oleh Tuhan Yesus? Mereka adalah Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes yang sehari-hari hidup sebagai penjala ikan. Dalam konteks Romawi, penjala ikan sangat menguntungkan bagi penguasa atau pemerintah karena ikan adalah komoditi yang bernilai tinggi. Ironisnya, kehidupan perekonomian para penjala ikan tidak sejahtera. Pendapatan yang mereka peroleh tidak sebanding dengan kontribusi mereka yang dihitung dalam pendapatan negara. Penjala ikan tetap harus membayar pajak dari tangkapan dan kapal mereka. Dalam kondisi tersebut, penjala ikan tetap bekerja dan terus bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Orang-orang macam inilah yang dipanggil oleh Tuhan Yesus sebagai bagian dari murid-murid-Nya. Tuhan Yesus menyatukan mereka dan mengajak mereka untuk bergerak bersama. Dalam rangka memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, Tuhan Yesus tengah melakukan pemberdayaan dengan melibatkan wong cilik/rakyat (pemanggilan para murid); mengedukasi/mendidik (mengajar dan memberitakan Injil); dan melakukan gerakan transformasi/perubahan (melenyapkan segala penyakit dan kelemahan). Tuhan Yesus memimpin mereka dan membentuk mereka agar bersatu dan sehati sepikir dalam misi Tuhan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Senada dengan Tuhan Yesus, Rasul Paulus juga mengingatkan Jemaat Korintus untuk sehati sepikir dan menghilangkan sekat-sekat persekutuan dalam rangka menghadapi situasi Kota Korintus yang bobrok. Semua mengarahkan pikirannya dan menundukkan diri dalam kehendak Yesus Kristus yang sudah disalibkan demi kehidupan yang lebih baik. Dalam rangka mewujudkan kehidupan yang lebih baik, aksi yang dilakukan bukan didasari oleh misi pribadi, namun misi Tuhan. Oleh karena itu, penting untuk melihat tanda dari Tuhan yang menyertai aksi perubahan.
Penutup
Dalam konteks tradisi liturgi hari ini, yaitu Minggu Epifania, Gereja dipanggil untuk tampak dan turut serta dalam misi Tuhan untuk merawat keutuhan ciptaan (pro eksistensi), melalui tindakan menyuarakan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Pro eksistensi adalah prinsip yang dicetuskan oleh salah satu pendeta GKJW, yaitu alm. Pdt. Sri Wismoady Wahono untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik, yang awalnya berbicara membangun harmoni dalam konteks lintas iman. Bagaimana cara gereja untuk terus ber-pro eksistensi? Caranya adalah dengan melibatkan “Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes” masa kini yang merasakan penderitaan dan bermimpi untuk kehidupan yang lebih baik. Gereja dipanggil untuk melakukan pemberdayaan kepada warga jemaat; membinanya secara terus menerus; dan melakukan gerakan bersama. Di gereja kita, “Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes” masa kini ada di dalam banyak wajah, seperti UMKM-UMKM yang tengah bertahan di tengah kondisi yang sering kali memojokkan mereka untuk gulung tikar; warga jemaat yang kehilangan pekerjaannya; para korban dan penyintas kekerasan seksual; para korban bencana alam; para korban tambang illegal, bahkan juga alam yang semakin rusak. Mari kita terus ber-pro eksistensi, mewujudkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Amin. [DAT].
Pujian: KJ. 260 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wonten perangan lagu Laskar Pelangi ingkang ungelipun mekaten: “Walau dunia tak seindah surga, bersyukurlah pada Yang Kuasa.” Tamtunipun ewet, saos sokur ing satengahing kahanan ingkang mekaten. Ananging, ing candhakipun lagu Laskar Pelangi, wonten syair ingkang ungelipun mekaten: “Mimpi adalah kunci, kunci untuk menaklukkan dunia.” Kadosipun ing satengahing kahanan ingkang mboten ideal, yang tidak seindah surga, kita sadaya kedhah njagi semangat lan mimpi kangge mujudaken gesang ingkang langkung sae.
Isi
Anggenipun mujudaken gesang ingkang langkung sae, wonten ing waosan Injil, Gusti Yesus mboten piyambakan. Gusti Yesus nimbali Petrus, Andreas, Yakobus, lan Yohanes minangka para sakabat. Wonten ing gesang padintenan, tiyang sekawan kalawau nyambut damel minangka juru amek-ulam / penjala ikan. Wonten ing salebetipun konteks Romawi, juru amek-iwak punika salah satunggaling padamelan ingkang nguntungaken pamrintah negari Romawi, awit ulam punika salah satunggaling komoditi ingkang nggadahi regi ingkang nguntungaken. Ananging, senadyan nguntungaken, gesangipun para juru amek-ulam punika mboten makmur, awit piyambakipun taksih kedhah bayar pajak ingkang awis. Pramila, para juru amek-ulam punika giat sanget anggenipun nyambut damel supados saged nggayuh gesang ingkang makmur. Gusti Yesus ngajak lan nunggilaken tiyang-tiyang kalawau kangge mujudaken gesang ingkang langkung sae. Kita saged ningali saking perspektif sanes, bilih Gusti Yesus saweg nindakaken pemberdayaan masyarakat lumantar anggenipun ngajak tiyang alit/rakyat jelata (nimbali para sakabat); ndidik (martosaken Injil); lan nindakaken ewah-ewahan saking gesang ingkang sangsara-kinunjara dados gesang ingkang langkung sae (nyarasaken tiyang sakit). Gusti Yesus ngatag para sakabat supados raket-rukun, tunggal budi, lan tunggal pangrasa kados ingkang dipun atag ugi dening Rasul Paulus tumrap pasamuwan ing Korintus ingkang saweg aben-ajeng kaliyan kahanan kitha Korintus ingkang amoral. Sadaya dipun timbali supados nulad ing Sang Kristus kangge mujudaken gesang ingkang langkung sae.
Panutup
Wekdal punika, sacara liturgis, greja wonten ing salebeting penghayatan Minggu Epifani. Pramila, greja dipun timbali supados ngetingal lan ndherek wonten ing Sang Kristus ingkang tansah mujudaken gesang ingkang langkung sae. Pro Eksistensi, salah satunggaling prinsip ingkang dipun cetusaken dening salah satunggaling pendita GKJW, alm. Pdt. Sri Wismoady Wahono, ing pundi prinsip punika nedahaken bab mujudaken gesang ingkang langkung sae, ingkang sacara khusus dipun wiwiti saking mujudaken raket-rukun ing satengahing sesambetan kaliyan agama sanes. Kados pundi caranipun, greja nindakaken pro eksistensi? Caranipun, ngajak lan ngatag warga pasamuwan; mucal-ndidik; lan ngajak warga pasamuwan mlampah sesarengan mujudaken gesang ingkang langkung sae. Ing satengahing pasamuwan, tamtunipun kita prihatos menawi wonten sawatawis warganing pasamuwan ingkang usahanipun (UMKM) mandheg. Ugi sawatawis warganing pasamuwan ingkang saweg kecalan padamelan. Sawatawis tiyang ingkang dados korban kekerasan lan pelecehan seksual, korban tambang lan sanes-sanesipun. Pramila, sumangga kita nindakaken pro eksistensi, mujudaken Kratoning Allah ing satengahing alam donya punika. Amin. [DAT].
Pamuji: KPJ. 21 Para Titah Sadaya Samya Ngrepekna