Minggu Biasa 3 | Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Mikha 6 : 1 – 8
Mazmur: Mazmur 15
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 18 – 31
Bacaan 3: Matius 5 : 1 – 12
Tema Liturgis: Dipanggil untuk Merawat Keutuhan Ciptaan
Tema Khotbah: Berbahagialah Orang yang Mau Merawat Bumi
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Mikha 6 : 1 – 8
Mikha hidup sezaman dengan nabi Yesaya. Kitab Mikha ditulis pada saat Hizkia menjadi raja Yehuda. Jika Yesaya adalah kelompok terpejalar dan memiliki pandangan politik yang luas, sedangkan Mikha adalah orang desa yang hidup menderita bersama dengan orang-orang miskin lainnya. Mikha menyaksikan penderitaan berat dan kejam yang terjadi pada orang miskin. Tanah mereka dirampas oleh penguasa di Yerusalem untuk mendirikan tempat penjagaan. Oleh karena itu, Mikha berbicara keras melawan ketidakadilan sosial dan religius yang dihadapi oleh orang miskin.
Mikha mengingatkan bahwa Tuhan marah terhadap ketidakadilan yang dialami oleh umat-Nya. Bahkan pada ayat 1-2 dituliskan bahwa segala hal kosmis yang ada di alam semesta, seperti gunung, bukit, dan dasar bumi mendengar teriakan dari umat Tuhan yang mengalami ketidakadilan. Oleh karena itu, di dalam ayat 3-5 Tuhan berjanji akan menjadi penyelamat dan pembebas bagi umat-Nya, seperti yang dilakukan-Nya bagi bangsa Israel pada zaman Musa. Pada ayat 6-8, Mikha mengkritisi para penguasa yang melakukan ritualisme agama (ritual agama yang semu). Mereka melakukan ibadah dan persembahan kurban kepada Tuhan, tetapi ritual agama itu tidak mengubah kehidupan mereka serta sikap mereka kepada sesama. Mereka tetap saja bertindak jahat terhadap sesama mereka yang lemah. Dengan demikian mereka terjatuh dalam ritualisme agama. Mereka telah melalaikan keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati dalam relasi mereka dengan sesama, walaupun mereka rajin beribadah. Secara sarkastis, Tuhan bahkan menunjukkan ketika harus memilih ritual bagi-Nya atau keadilan pada umat-Nya, Tuhan lebih menyukai keadilan bagi umat-Nya daripada kurban bakaran bagi diri-Nya. Ritual yang dipersembahkan kepada Tuhan, tidak boleh menjadi ritualisme keagamaan yang kehilangan daya ubah agar umat menjadi lebih baik di hadapan Tuhan dan sesama. Ritualisme agama berbeda dengan ritual agama. Ritual agama penting, karena mampu mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyadarkan umat akan tanggung jawab moral pada sesamanya. Namun ketika sudah menjadi ritualisme, betapapun dilakukan berulang kali, tidak lagi mempunyai daya ubah bagi umat untuk hidup sesuai dengan kebenaran Tuhan.
1 Korintus 1 : 18 – 31
Perikop ini dimulai dengan referensi pada “pemberitaan tentang salib”. Dalam bahasa Yunani, kalimatnya adalah ho logos ho tou staurou. Bagi orang Yahudi maupun Yunani ungkapan tersebut aneh. Bagi orang Yahudi, logos adalah hukum dan kebijaksanaan. Bagi orang Yunani, logos menandakan alasan di balik tatanan kosmik dan kemajuan filsafat dalam memahami tatanan itu. Ungkapan tentang ‘logos salib’ ini merupakan kontradiksi, baik terhadap akal maupun pikiran religius. Kontradiksi ini sesuai dengan maksud Paulus. Pesan tentang salib membingungkan pikiran manusia yang paling bijaksana. Namun apa yang tampak sebagai batu sandungan dan kebodohan (Ay. 23) sebenarnya adalah “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (Ay. 24).
Salib membagi manusia dalam dua bagian, yaitu mereka yang tidak mau menerimanya dan berjalan dalam kebinasaan, serta mereka yang menerima pesannya dan mengalami kuasa Allah. Karena tidak mudah dipahami oleh pemikiran manusia, maka salib adalah suatu halangan dan batu sandungan, baik bagi orang Yahudi yang mengharapkan tanda maupun bagi orang Yunani yang mencari hikmat (Ay. 22-23). Akan tetapi kebodohan tentang pemberitaan salib yang mengacaukan atau membingungkan orang bijak, memampukan orang bodoh itu menerima keselamatan. Dalam hal ini Paulus menggambarkan dirinya dan orang-orang percaya dalam Kristus sebagai orang bodoh dan lemah karena Kristus (Ay. 25).
Paulus menyiratkan bahwa dirinya dan Jemaat Korintus yang menerima pemberitaan tentang salib itu, sebenarnya tidaklah terlalu bijaksana dan kuat menurut ukuran dunia. Tuhan memilih cara yang Ia pilih bukan hanya untuk menunjukkan kapasitas mengubah status quo, seolah-olah Tuhan sedang menunjukkan bahwa Ia lebih kuat dan besar. Tuhan memilih yang bodoh dan lemah untuk mengubah status quo dan untuk menciptakan kehidupan. Tuhan adalah sumber hidup kita di dalam Kristus Yesus (Ay. 30). Kemudian Paulus menggambarkan kehidupan umat yang diharapkan ada dalam kebenaran, pengudusan, dan penebusan Kristus. Kebenaran, pengudusan, dan penebusan adalah jendela hikmat Tuhan yang dianggap terbalik dan bodoh oleh dunia tetapi berhikmat oleh Tuhan.
Matius 5 : 1 – 12
Khotbah di bukit adalah tindakan publik pertama yang dilakukan oleh Yesus menurut Injil Matius. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam khotbah di bukit mengajarkan tentang etika Kristen, nasihat kesempurnaan dan sebagainya, yang kesemuanya berisikan nasihat praktis mengenai bagaimana mengikuti Yesus dan ajaran-Nya. Bukit tentu menjadi tempat yang istimewa, karena dalam Perjanjian Lama, gunung sering kali menjadi tempat istimewa datangnya pewahyuan dari Allah. Sehingga bukit menjadi tempat yang istimewa, bukan hanya untuk mendengar pengajaran Yesus tetapi bagaimana Yesus mengenalkan identitas-Nya sebagai Allah yang hidup.
Khotbah Yesus bukan hanya tulisan semata tetapi ditujukan untuk menciptakan pengalaman dan memahami pengajaran-Nya dengan baik. Sabda Bahagia tidak hanya mengingatkan para murid bahwa mereka diberkati atau berbahagia. Sabda Bahagia adalah pengidentifikasi pemuridan, ciri-ciri orang beriman, sifat-sifat orang beriman. Sabda Bahagia menyebutkan berkat-berkat yang diterima oleh orang percaya, sekaligus apa yang dipertaruhkan dalam berkat-berkat ini. Kata berbahagialah! dalam bahasa Yunani Makarios, mempunyai arti: diberkati, baik, selamat, beruntung, istimewa. “Berbahagialah orang yang ….” selalu disampaikan di awal kalimat. Hal ini menyiratkan bahwa berbahagia, diberkati bukan hanya demi kesenangan, tetapi demi berhasil melewati keadaan yang sulit (Ay. 3-10, miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar, murah hati, suci hati, membawa damai, dan dianiaya). Delapan Sabda Bahagia sebagai keseluruhan memberi gambar kesempurnaan murid Yesus.
Sabda Bahagia ini dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, di ayat 3-6 mewartakan kebahagiaan bagi orang yang miskin di dalam roh dan kondisinya menuntut kepercayaan total kepada Allah. Dengan menghayati nilai-nilai Kerajaan Allah di sini dan sekarang, mereka akan dapat mengambil bagian dalam kebahagiaan dalam bentuk kehidupan yang penuh bersama Allah. Kedua, di ayat 7-10 kebahagiaan bagi orang yang hidup dalam kebenaran, berbelas kasih, jujur, dan pembawa damai karena mereka akan mendapatkan kebahagiaan di masa mendatang. Ketiga, di ayat 11-12 kebahagiaan akan melingkupi orang yang dianiaya dan menderita karena kebenaran, seperti halnya yang dialami oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan menggarisbawahi tentang bagaimana orang percaya menjaga hidup dalam kebenaran di tengah ketidakadilan, penderitaan atau penganiayaan yang harus dihadapi. Ketidakadilan kepada seluruh ciptaan baik itu manusia, hewan, tumbuhan, dan alam semesta masih banyak ditemui di sekitar kita. Oleh karena itu, orang percaya akan berbahagia jika mereka hidup dalam kebenaran dan mengusahakan keadilan dengan merawat seluruh ciptaan Allah. Walau hal itu bukanlah pilihan yang populer, tetapi orang percaya dipanggil untuk mewartakan kebahagiaan bagi semua ciptaan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Desa Selopuro, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri adalah daerah yang gersang, struktur tanahnya terdiri dari batu-batu kapur, sulit air sehingga tidak dapat digunakan untuk menanam tanaman-tanaman produktif. Pada tahun 1975, Siman, salah seorang warga Desa Selopura merasa prihatin dengan kondisi desanya tersebut. Berbekal dengan kecintaannya menanam pohon Jati dan Mahoni di sekitar rumahnya yang telah dilakukan sejak tahun 1962, saat dia berusia 14 tahun, maka kemudian dia mengajak seluruh warga di desa yang berjumlah sekitar 500-an KK untuk menanam bibit pohon apa saja di bukit dan pegunungan batu kapur. “Waktu itu, saya hanya berpikir bagaimana caranya menyelamatkan lahan kritis di desa karena hanya ada bukit batu. Malah tidak ada tanahnya sehingga air juga sulit”, itu yang disampaikan oleh Siman. Cara menanam membutuhkan usaha yang sulit karena mencari celah bebatuan dan melebarkannya dengan linggis, setelah itu baru bibit pohon dan tanah dimasukkan di antara celah batu. Tahun itu juga perbukitan dan gunung batu seluas 263 hektar telah ditanami berbagai pepohonan antara lain: Sengon, Mahoni, Akasia, Jati, dan pohon lainnya.
Sejak kecil Siman merasakan kesulitan air, dia harus berjalan sejauh 2,5 km untuk mencari air pada curug-curug pinggir gunung yang menampung hujan. Tetapi pada awal tahun 2000 sumber air mulai banyak di Desa Selopuro karena pohon-pohon yang ditanam mengikat air dan menyimpan cadangan air sehingga air melimpah walaupun musim kemarau. Akhirnya, air itu disalurkan ke rumah-rumah warga melalui pipa dan warga Desa Selopuro tidak lagi merasakan kesulitan air bersih. Desa Selopuro pun menjadi desa yang subur dan bisa ditanami berbagai macam tanaman dan sayur mayur. Pada tahun 2004, hutan yang dirintis Siman dan warga Selopuro diresmikan sebagai Hutan Lestari pertama di Indonesia. Siman pun bersikukuh tidak akan menebang dan menjualnya meski banyak tawaran dengan harga tinggi untuk Pohon Jati yang telah berusia puluhan tahun. Dia tidak tergiur dengan uang yang banyak karena baginya yang penting adalah Desa Selopuro lestari serta tidak menjadi tempat gersang, kering, dan sulit air.
Isi
Ketekunan Siman dan warga Desa Selopuro membuahkan hasil yang manis. Mereka berjuang untuk desanya, tidak tergiur dengan tawaran uang yang banyak dengan cara menjual pohon-pohon yang mereka tanam. Walau mungkin banyak yang tidak peduli, tetapi mereka tetap berjuang untuk kelestarian desanya. Nabi Mikha juga memperjuangkan keadilan bagi orang-orang miskin di Kerajaan Yehuda. Mikha menyaksikan penderitaan berat dan kejam yang terjadi pada orang miskin. Tanah mereka dirampas oleh penguasa di Yerusalem untuk mendirikan tempat penjagaan. Mikha mengingatkan bahwa Tuhan marah terhadap ketidakadilan yang dialami oleh umat-Nya. Bahkan pada ayat 1-2 dituliskan bahwa segala hal kosmis yang ada di alam semesta, seperti gunung, bukit, dan dasar bumi mendengar teriakan dari umat Tuhan yang mengalami ketidakadilan. Jika hal-hal kosmis itu telah murka, maka itu menjadi salah satu cara Allah menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya dari penguasa lalim. Penguasa yang kelihatan saleh secara spiritual di permukaan, tetapi nyatanya telah melalaikan keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati dalam relasi mereka dengan sesama.
Yesus mengingatkan bahwa orang yang berbahagia adalah mereka yang hidup dalam kebenaran dan melakukan pengajaran-Nya. Termasuk di dalamnya mengusahakan keadilan bagi sesama dan alam semesta. Khotbah (pengajaran) Yesus ini istimewa, diberitakan di bukit. Bukit menjadi tempat yang istimewa, karena dalam Perjanjian Lama, gunung sering kali menjadi tempat istimewa datangnya pewahyuan dari Allah. Sehingga secara implisit, Yesus ingin menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Allah yang memiliki pewahyuan itu dan pengajaran-Nya didengarkan dengan seksama oleh orang-orang di sekitarnya. Sabda Bahagia menyebutkan berkat-berkat yang diterima oleh orang percaya, tetapi sekaligus juga apa yang dipertaruhkan dalam berkat-berkat ini. Kata “berbahagialah” dalam bahasa Yunani Makarios, mempunyai arti: diberkati, baik, selamat, beruntung, istimewa. “Berbahagialah orang yang ….” selalu disampaikan di awal kalimat. Hal ini menyiratkan bahwa berbahagia, diberkati bukan hanya demi kesenangan, tetapi demi berhasil melewati keadaan sulit. Bahkan jika harus memilih pilihan yang tidak popular sekalipun, tetaplah hidup dalam kebenaran. Mengusahakan keadilan bagi semua ciptaan. Paulus mengingatkan sekalipun orang percaya kepada pemberitaan salib Kristus dianggap bodoh bagi dunia, tetapi mereka adalah orang-orang yang diselamatkan dan berbahagia dalam Kerajaan Allah.
Penutup
Hidup dalam kebenaran dan mengusahakan keadilan bagi semua ciptaan bisa jadi bukanlah pilihan populer bagi banyak orang. Bahkan Siman dan warga Desa Selopuro yang sudah berjuang untuk desanya tidak lolos nominasi penghargaan Kalpataru pada tahun 1999 dan terus mendapat tekanan dari pemilik modal untuk bisa membeli kayu Jati yang mereka tanam. Walau bukan pilihan populer dan tidak menguntungkan secara finansial, tetapi Siman tetap memperjuangkan apa yang telah dimulainya bersama dengan warga Desa Selopuro demi kelestarian desanya. Lalu bagaimanakah dengan kita? Apakah kita berani untuk menyuarakan ketidakadilan yang diterima oleh alam kita, yang bisa berdampak bencana alam bagi banyak orang. Ataukah kita memilih untuk diam, tidak melakukan apa-apa, asalkan hidup kita selamat dan baik-baik saja, walau ada banyak saudara kita yang menderita karena krisis lingkungan yang terjadi?
Di saat kita menyanyikan lagu KJ. 337 “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, apakah kita bisa menyanyikannya dengan benar-benar bersyukur saat kita melihat dan mendengar ketidakadilan yang dialami oleh alam yang ada di tengah-tengah bangsa kita. Kekayaan alam yang dikeruk oleh segelintir orang, hutan yang ditebang demi ambisi tertentu, dll. Apakah kita mau hidup dalam ritualisme seperti zaman nabi Mikha? Saat melihat bahwa apa yang kita nyanyikan di KJ. 337 tidak sesuai kenyataan, lalu kita diam saja tanpa berbuat apa-apa, yang penting diajak bernyanyi ya bernyanyi saja. Ataukah kita mau hidup berbahagia seperti sabda Yesus, karena kita mau hidup dalam kebenaran dan mengusahakan keadilan? Mari dengan segenap hati kita berjuang untuk mewujudkan alam semesta ini seperti yang kita nyanyikan di KJ. 337, sehingga semua ciptaan Allah, seluruh alam semesta akan berbahagia. Bahkan anak cucu kita nantinya pun akan berbahagia. Karena seperti yang dilakukan oleh Siman dkk-nya, kitapun mau mewariskan mata air bagi mereka, bukan air mata. Berbahagialah orang yang mau merawat bumi. Amin. [cha].
Pujian: KJ. 337 Betapa Kita Tidak Bersyukur
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Desa Selopuro, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri punika salah satunggaling panggenan ingkang gersang, sitinipun saking sela-sela kapur, toyanipun ewed sanget, matemah mboten saged dipun tanemi taneman produktif. Ing taun 1975, Siman, salah satunggaling warga desa ngraosaken prihatos awit kahanan desanipun punika. Nalika alit, wiwit yuswa 14 taun, Siman remen sanget nanem wit Jati lan Mahoni wonten ing sakiwa tengen griyanipun. Piyambakipun lajeng ngajak warga desa antawis 500-an KK kangge nanemi gunung kapur mawi bibit taneman punapa kemawon. “Ing wekdal punika, kula namung kepikiran kados pundi caranipun nylametaken lahan kritis wonten ing desa punika. Karana namung wonten bukit kapur, toya ugi ewed sanget” punika ingkang dipun aturaken Siman. Nanem wonten ing bukit kapur mbetahaken usaha ingkang mboten gampil karana kedah madosi celah-celahipun sela sarta nduduk ngangge linggis, lajeng nembe saged nanem bibit kayu lan nglebetaken siti ingkang subur wonten ing antawisipun celah punika.
Ing tahun ingkang sami kaliyan miwiti, gunung kapur 263 hektar sampun dipun tanemi wit-witan antawisipun Sengon, Mahoni, Akasia, Jati lan wit sanesipun. Wiwit alit Siman ngraosaken ewed pados toya resik. Piyambakipun kedah mlampah antawis 2,5 km kangge madosi curug-curug pinggir redi ingkang saged nampung jawah. Ananging ing taun 2000, milai kathah sumber toya ing Desa Selopuro karana wit-witan kalawau ngiket toya sarta nyimpan cadangan toya. Sanadyan ing mangsa ketigo, toya ing Desa Selopuro mboten nate asat. Toya punika dipun saluraken dhateng griya-griyanipun warga kaliyan pipa lan warga desa mboten ewed malih pados toya resik. Desa Selopuro dados desa ingkang subur lan saged dipun tanemi maneka warni taneman sarta sayuran. Ing taun 2004, punapa ingkang dipun wiwiti Siman lan warga desa ndadosaken Desa Selopura dados “Wana Lestari” kaping sepindah wonten ing Indonesia. Siman mboten purun nebang sarta nyade wit-witan ing desanipun, sanadyan kathah ingkang nawa kanthi regi ingkang inggil. Piyambakipun mboten kagodha dening artha ingkang kathah nalika dipun tawari nyade wit Jati ingkang sampun yuswa puluhan taun. Piyambakipun tansah kukuh ndadosaken Desa Selopuro lestari.
Isi
Katekunanipun Siman sarta warga Desa Selopuro nuwuhaken asil ingkang ngremenaken. Piyambakipun sampun merjuang kangge desanipun, mboten kagodha kaliyan artha supados nyade wit-witan kalawau. Sanadyan mboten kathah ingkang peduli, ananging piyambakipun tetep merjuang kangge lestarining desanipun. Nabi Mikha ugi merjuangaken kaadilan kangge tiyang-tiyang mlarat ing satengah-tengahipun Kraton Yehuda. Mikha mirsani piyambak kasangsaran sarta aniaya ingkang dipun raosaken dening tiyang mlarat. Tanahipun dipun rampas dening pangwasa Yerusalem kangge ngedekaken panggenan jaga. Mikha ngengetaken para Panguwasa Yerusalem punika bilih Gusti duka karana sikep mboten adil ingkang dipun tindakaken dhateng umat-Ipun. Wonten ing ayat 1-2 dipun serat bilih sadaya prekawis kosmis wonten ing alam punika kados redi, bukit, lan dasaring bumi mirengaken kasangsaranipun umat ingkang mboten nampi kaadilan. Menawi prekawis kosmis sampun ngamuk, punika dados salah satunggaling cara Gusti Allah nylametaken sarta mbebasaken umat-Ipun saking pangwasa ingkang lalim. Pangwasa ingkang ketingal saleh sacara spiritual ananging kasunyatanipun kesupen kangge nindakaken kaadilan, kasetyan, sarta andhap asor wonten relasi kaliyan sapepadhanipun.
Gusti Yesus ngemutaken bilih tiyang-tiyang ngraosaken bingah karana gesang wonten ing kasaenan sarta nglampahi punapa ingkang dados dhawuh pangandikanipun Gusti. Punika kalebet ngusahaken kaadilan kangge sapepadha sarta alam semesta punika. Khotbah (piwilangipun) Gusti punika wigatos, dipun wartosaken wonten ing redi. Redi tamtu dados panggenan ingkang wigatos, karana wonten ing Prajanjian Lami, redi asring dados panggenan dhawuhipun Gusti Allah dipun aturaken. Matemah sacara implisit, Gusti Yesus ngaturi bilih Panjenenganipun punika Putraning Allah ingkang dhawuh sarta pangandikan-Ipun kedah dipun pirengaken kanthi tumemen. Pawartos Rahayu punika ngaturi berkah ingkang dipun tampi dening tiyang pitados, ananging ugi punapa ingkang kedah dipun lampahi tiyang pitados supados angsal berkah punika. Tembung “rahayu”, wonten ing basa Yunani Makarios nggadahi teges: dipun berkati, sae, slamet, begja, wigati. “Rahayu wong kang …..” dipun serat wonten wiwitaning ukara. Punika nggambaraken bilih raos rahayu, dipun berkahi punika mboten namung kangge kasenengan nanging ugi karana saged nempuh kahanan ingkang awrat. Menawi kedah milih pilihan ingkang mboten populer, tiyang pitados kedah tetep gesang wonten ing kasaenan, kaleresan. Ngusahakaken kaadilan kangge sadaya titah. Paulus ngengetaken sanadyan tiyang pitados dipun anggep bodo kaliyan donya bab pawarta Salib, ananging tiyang-tiyang punika dados tiyang ingkang dipun slametaken sarta rahayu wonten ing Kratoning Allah.
Penutup
Gesang wonten ing kasaenan sarta ngusahaken kaadilan kangge sadaya titah, saged ugi sanes pilihan ingkang populer kangge tiyang kathah. Siman lan warga Desa Selopuro ingkang tansah merjuang kangge desanipun mboten saged lolos nominasi Kalpataru ing taun 1999, sarta ngalami tekanan saking tiyang ingkang kagungan modal supados nyade kayu Jati ingkang dipun tanem. Sanadyan sanes pilihan populer sarta mboten nguntungaken sacara finansial, ananging Siman tetep setya merjuang kangge lestarining desanipun. Lajeng kados pundi kaliyan kita sadaya? Punapa kita wantun memperjuangaken kaadilan kangge alam punika supados mboten wonten bencana dhateng tiyang kathah? Utawi punapa kita langkung milih mendel kemawon, mboten nglampahi punapa-punapa, pokok slamet sanadyan kathah sedherek kita ingkang kasisahan karana krisis lingkungan.
Nalika kita ngidungaken KJ. 337 “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, punapa kita saged ngidung kanthi tumemen saos sokur nalika mirsani sarta mireng bilih alam titahipun Gusti punika mboten ngraosaken kaadilan? Kekayaan alam ingkang dipun keruk dening sagelintir tiyang, wana dipun tebang kangge nggayuh ambisi, lsp. Punapa kita gesang namung sacara ritualisme kados zaman nabi Mikha? Karana mirsani punapa ingkang kita kidungaken ing KJ. 337 mboten kados kasunyatan, lajeng kita mendel kemawon mboten nglampahi punapa-punapa, ingkang wigati kita dipun ajak nyanyi nggih nyanyi kemawon. Utawi kita purun gesang rahayu kados sabdanipun Gusti Yesus, karana kita purun gesang wonten ing kasaenan sarta tansah ngupayakaken kaadilan kangge sadaya titah kados ingkang kagambaraken wonten ing KJ. 337. Matemah sadaya titah ngraosaken kabingahan sarta berkahipun Allah. Malahan anak putu kita mangke-nipun ugi ngraosaken bingah. Karana kados ingkang dipun lampahi Siman dkk, kita purun paring warisan mata air sanes air mata kangge anak putu kita. Ingkang rahayu nggih punika tiyang ingkang purun ngrimati bumi kanthi tulus lan setya tuhu. Amin. [cha].
Pamuji: KPJ. 364 Kaya Manuk Agirang