Minggu Biasa 1 | Pembukaan Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 49 : 1 – 7
Mazmur: Mazmur 40 : 1 – 11
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 1 – 9
Bacaan 3: Yohanes 1 : 29 – 42
Tema Liturgis: Dipanggil untuk Merawat Keutuhan Ciptaan
Tema Khotbah: Fokus Peduli kepada Alam Semesta
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 49 : 1 – 7 Melihat Sejenak ke Masa Dulu
Beberapa kata menunjuk kepada situasi masa dulu yang pernah dialami oleh sosok yang disebut Hamba Tuhan. Suasana di dalam kandungan dan rahim ibuku (Ay. 1), juga kalimat “membentuk aku sejak dari kandungan” (Ay. 5) merujuk kepada keadaan masa lampau yang hendaknya direnungkan oleh seseorang yang dipanggil Allah sejak kecil (dalam kandungan). Teks ini tidak mencantumkan tentang masa kapan dan usia saat Hamba Tuhan diingatkan kembali tentang keadaan diri sejak awal lahir. Namun ini tetap ada gunanya, yaitu mengenang dan melihat kembali sejenak ke masa dulu. Sebagai bagian dalam ajakan mengingat lagi untuk apa seseorang ada dan lahir di dalam dunia. Bahwa sejak kecil, seseorang itu telah diberikan harapan dan tanggung jawab mengenai hal-hal yang perlu dilakukan dalam hidup. Sejak permulaan, Hamba Tuhan telah menjadi tumpuan harapan dan berkaitan dengan rencana Allah bagi kepentingan umat manusia. Paling tidak hal ini bertumpu pada makna “untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya.” Dengan demikian ada semacam “plot” di hidup manusia dalam perannya untuk berkarya dan berbuat. Bukan sekadar penikmat namun menjadi pelaku aktif dalam rangkaian visi dan karya Allah.
Hamba Tuhan itu ditugaskan untuk membuat pembaruan Israel dan bertugas menyampaikan ajakan penyelamatan sampai ujung bumi (Ay. 6). Sehingga semestinya terus menerus sadar dan tidak mudah melupakan apalagi melepaskan tanggung jawab yang telah dicanangkan baginya sejak masa dulu ketika telah beranjak dewasa. Ajakan kepada Hamba Tuhan ini menjadi penanda tentang Allah yang telah merancang banyak hal, yang tentunya dengan kasih-Nya juga ingin mengikutsertakan manusia dalam karya-Nya.
Pada gilirannya makna yang perlu dicermati adalah realitas pelaksanaan dari tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan sejak lahir itu. Jika telah sesuai, tentu menggembirakan. Sebaliknya jika belum terlaksana, tidaklah lantas berada terus menerus dalam perasaan gagal namun penting untuk memacu diri agar sesuai dengan jalan dan harapan yang diemban. Salah satu penyemangatnya hati Hamba Tuhan harus bangga jika diberikan tanggung jawab oleh Allah dan hatinya perlu merasa telah dipermuliakan oleh Allah (Ay. 5).
1 Korintus 1 : 1 – 9 Persekutuan Bisa Pernah Tidak Baik-baik Saja
Pada bagian awal, Paulus mengetengahkan hal baik tentang Korintus. Namun, Paulus secara jelas tetap tidak menghilangkan kondisi riil jemaat (Ay.10). Ada persoalan perpecahan yang mesti diakui ada dan perlu segera diatasi. Bagaimanapun suasana kota Korintus yang majemuk tentunya berkaitan dengan pandangan tentang standar moralitas dan bagaimana cara umat menjaga dan membangun integritas mereka atas iman mereka di tengah ragam ancaman penggolongan umat. Kesadaran sebagai persekutuan yang telah diselamatkan, sebagai umat yang diberkati dan dikuduskan menjadi dasar dalam menentukan identitas diri dan langkah hidup yang akan dilakukan (Ay. 4-5) sehingga tidak mudah terpecah.
Di sisi yang lain, tulisan Paulus juga didasari pada teladan sosok Paulus yang sadar posisinya sebagai rasul yang mesti menjadi teladan (Ay. 1). Termasuk mendoakan jemaat agar bertahan. Sekaligus juga turut bersyukur jika ada sesamanya yang hidupnya menjadi lebih diberkati dan lebih mampu ataupun menjadi lebih baik daripada masa sebelumnya. Pada intinya, umat diajak untuk berfokus kepada panggilan Kristus dan tegas menyatakan tidak boleh terus menerus terbelenggu dengan persoalan yang ada. Masih ada hal baik yang bisa dipertahankan, diperjuangkan, dan ini telah diakui oleh Paulus. Khususnya sebagai persekutuan yang kaya dalam perkataan, pengetahuan, karunia, persekutuan yang teguh bahkan hingga menyambut Hari Tuhan.
Secara umum yang menjadi kunci adalah komunikasi, kesepahaman, dan saling mengingatkan. Paulus dengan kesadaran sebagai rasul merawat umat dengan berkirim surat berisi pujian dan semangat. Sambil terus mengingatkan mereka tentang pentingnya tujuan awal dari adanya jemaat, yaitu persekutuan dengan Yesus Kristus, bukan berfokus kepada kepentingan ataupun kemuliaan diri sendiri.
Yohanes 1 : 29 – 42 Bercerita tentang Gelar Yesus
Yohanes, dalam posisi yang sudah memiliki pengikut dan dijumpai secara langsung oleh pemuka agama Yahudi dari Yerusalem, justru berani menceritakan sosok Yesus yang notabene bisa menjadi “saingan” nya. Dan ini telah dimulai ketika Yohanes sudah menyatakan bahwa dirinya bukan Mesias (Ay. 20). Dengan kesadaran tentang keberadaan diri hanya sebagai sosok bentara, tentunya mengutamakan bercerita tentang Yesus. Sebab Yohanes tahu tentang apa yang akan dikerjakan oleh Yesus dalam rangkaian kehadiran-Nya di dunia.
Dalam setiap penceritaan yang disampaikannya selalu ada penjelasan tentang identitas sekaligus keyakinan, pengakuan, dan harapan yang disematkan pada diri Yesus. Hal ini dapat dimaknai sebagai penjelasan kepada para murid Yohanes sendiri tentang hal apa yang akan dilakukan oleh Yesus dengan gelar-gelar Yesus. Antara lain, ayat 29-34 menyebutkan Yesus adalah Anak Domba Allah yang memikul dosa-dosa dunia, lebih tinggi dari Yohanes, yang dipilih Allah. Pada ayat 36, Anak Domba Allah, merujuk kepada domba Paskah atau Hamba yang Menderita. Dan tidak ketinggalan murid Yohanes bernama Andreas juga mengungkapkan kepada Simon bahwa Yesus adalah Mesias (Ay. 41). Pada pokok ini, berkaitan dengan jati diri, panggilan, serta tugas berkonsekuensi harus sesuai dengan identitas yang dimiliki.
Ungkapan Yohanes yang telah bertemu secara langsung dan kemudian bercerita tentang Yesus (Ay. 29), tentunya bisa mempengaruhi sudut pandang, tindakan, dan pendapat di antara para muridnya. Dan kesadaran diri sebagai dan menjadi siapa yang dilakukan oleh Yohanes berdampak kepada sebuah keputusan serta sikap yang akan diambil oleh orang lain. Adanya pengakuan mengenai kuasa dan hal-hal sorgawi yang dapat dilakukan oleh Yesus membawa perspektif dan pengambilan keputusan mandiri untuk memilih menjadi murid Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kita perlu berpijak kepada jati diri hidup manusia yang paling asali, untuk apa ada, panggilan keikutsertaan dan menyesuaikan dengan rancangan Allah sebagai manusia kudus. Prosesnya bisa tidak mudah dan ada tantangan. Namun dengan kesadaran tentang peran diri dan berlaku sesuai hal-hal yang disematkan kepada diri kita akan membuat semua berjalan dengan baik.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).
Pendahuluan
Perjalanan kisah hidup kita baru beberapa hari di tahun yang baru. Semoga selalu penuh dengan semangat. Namun jika kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, bagaimanakah sikap kita? Apakah kita masih terngiang dengan derap dan gegap gembira hidup di tahun kemarin? Apapun situasinya, waktu sekarang adalah sebuah realita yang perlu dikelola secara tepat agar tidak menjadi waktu yang disia-siakan.
Isi
Memang kita bisa kembali dalam ingatan seperti masa dulu, namun dengan tujuan mendapatkan pijakan tentang diri dan hidup yang mesti dilanjutkan. Jika dalam perjalanan hidup kita ada ketidaksesuaian dan hal yang tidak baik, maka kita dapat melihat dalam pengakuan Yesaya akan kesadaran keadaan seorang Hamba Tuhan (Bacaan 1). Beberapa kata menunjuk kepada situasi yang pernah dialami oleh Hamba Tuhan. Suasana di dalam kandungan dan rahim ibuku (Ay. 1), juga kalimat “membentuk aku sejak dari kandungan” (Ay. 5) merujuk kepada keadaan masa lampau yang hendaknya direnungkan oleh seseorang yang dipanggil Allah sejak kecil (dalam kandungan). Teks ini mengenang dan melihat kembali sejenak ke masa dulu. Bahwa sejak kecil, seseorang itu telah diberikan harapan dan tanggung jawab mengenai hal-hal yang perlu dilakukan dalam hidup. Sejak permulaan, Hamba Tuhan telah menjadi tumpuan harapan berkaitan dengan rencana Allah bagi umat manusia. Paling tidak hal ini bertumpu pada makna “untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya.” Dengan demikian ada semacam “plot” di hidup manusia dalam perannya untuk berkarya dan berbuat. Hamba Tuhan itu ditugaskan untuk membuat pembaruan Israel dan menyampaikan ajakan penyelamatan sampai ujung bumi (Ay. 6). Sehingga semestinya kita sadar dan tidak melupakan apalagi melepaskan tanggung jawab masa dulu ketika kita beranjak dewasa. Atau dengan kata lain dengan pergantian waktu tidak menjadikan kita lupa tentang hakikat hidup kita.
Konsep melanjutkan hidup agar selalu berkesesuaian pada gambaran awal yang berasal dari Allah juga dipahami dalam kisah persekutuan di Korintus. Paulus mengajarkan tentang pentingnya fokus kepada tujuan awal dan hakikat mengikut Yesus. Pada bagian awal, Paulus mengetengahkan hal baik sekaligus turut bersyukur tentang Korintus. Namun, ia secara jelas tetap tidak menghilangkan kondisi riil jemaat (Ay. 10). Ada persoalan perpecahan yang mesti diakui ada dan perlu diatasi. Suasana kota Korintus yang majemuk tentu berkaitan dengan pandangan tentang standar moralitas, dan itu berpengaruh terhadap cara pandang umat menjaga dan membangun integritas atas iman mereka di tengah ragam ancaman penggolongan kelas masyarakat. Kesadaran sebagai persekutuan yang telah diselamatkan, sebagai umat yang diberkati dan dikuduskan menjadi dasar dalam menentukan identitas diri dan langkah hidup yang akan dilakukan (Ay. 4-5) sehingga tidak mudah terpecah. Pada intinya, umat diajak untuk berfokus pada panggilan Kristus dan tegas menyatakan tidak terbelenggu dengan persoalan pemisahan yang ada. Masih ada hal baik yang bisa dipertahankan, diperjuangkan, dan ini diakui oleh Paulus.
Adapun perjuangan itu harus merujuk pada sikap Yesus. Merunut kepada spirit dari kapasitas dan tugas yang dilakukan Yesus. Yohanes menceritakan sosok Yesus dengan menyatakan bahwa ia sendiri bukanlah Mesias (Ay. 20). Dalam setiap penceritaan yang disampaikannya selalu ada penjelasan tentang identitas, keyakinan, pengakuan, dan harapan yang disematkan pada Yesus. Antara lain: Ayat 29-34 menyebutkan Yesus adalah Anak Domba Allah yang memikul dosa-dosa dunia, yang dipilih Allah, dan lebih tinggi dari dirinya. Pada ayat 36, Anak Domba Allah, merujuk kepada Domba Paskah atau Hamba Yang Menderita dalam makna perjuangan meskipun menderita. Tidak ketinggalan murid Yohanes yang bernama Andreas juga mengungkapkan kepada Simon bahwa Yesus adalah Mesias (Ay. 41). Identitas tersebut identik dengan hal yang dilakukan oleh Yesus, yaitu pengurbanan untuk kehidupan manusia. Ungkapan Yohanes tentang Yesus, tentunya bisa mempengaruhi sudut pandang, tindakan, dan pendapat di antara para muridnya. Adanya pengakuan mengenai kuasa dan hal-hal sorgawi yang dilakukan oleh Yesus membawa perspektif dan pengambilan keputusan mereka untuk memilih menjadi murid Yesus. Kesadaran diri sebagai dan menjadi siapa yang dilakukan oleh Yohanes berdampak kepada sebuah keputusan serta sikap yang akan diambil oleh orang lain berkaitan dengan mengikut Yesus.
Bulan Penciptaan
Masa lalu dengan bumi yang hijau dan realitas masa kini yang banyak berbeda tentunya menyadarkan kita. Seakan kita senang diajak untuk kembali dan nostalgia karena keadaan di masa dulu sepertinya indah dan baik. Sekarang bukan waktunya untuk duduk namun justru bangkit ke semangat awal sebagaimana Hamba Tuhan yang menyelamatkan hingga ujung dunia. Bukan terpola dan terpojok dengan masalah alam dan lingkungan namun melangkah bergerak. Mengakui kenyataan kerusakan lingkungan sebagai keadaan yang salah, kemudian fokus mewujudkan persekutuan bersama semua ciptaan untuk memperbaiki hal tersebut. Bagaimanapun, identitas kita adalah makhluk ciptaan yang bernama manusia dan memiliki akal budi untuk merawat alam semesta sebagaimana Taman Eden di awal masa penciptaan dunia. Sebab dengan mengakui sebagai pengikut Yesus maka fungsi mesianik yang menyelamatkan dunia, bahkan dengan pengorbanan diri akan menjadi panggilan hidup yang melekat pada kita sepanjang hayat.
Manusia sebagai makhluk yang diberi akal budi tentu mengusahakan banyak hal baik dalam dirinya. Misalnya melalui tahapan perkembangan Revolusi Industri 1.0 hingga masa kini pada titik 4.0. Kapasitas manusia terus berkembang dan ternyata juga ada dampak kepada lingkungan. Jadi, sebagai manusia masa kini, apakah juga sepadan dengan gelar dan jabatannya sebagai Gambar Allah yang berdampak pada kesejahteraan dan damai di bumi. Jika rencana awal tugas manusia kepada alam telah dilaksanakan, tentu menggembirakan. Sebaliknya jika belum terlaksana, kita tidaklah terus menerus berada dalam perasaan gagal namun penting bagi kita untuk memacu diri agar sesuai dengan harapan. Secara umum, yang menjadi kunci adalah komunikasi dan kesepahaman serta saling mengingatkan dalam merawat kehidupan.
Laudato Si, sebuah pemaknaan baru bagi gereja kita
Laudato Si’ adalah sebuah ensiklik gereja Roma Katolik (surat edaran atau pesan tertulis dari Paus kepada semua uskup yang sifatnya umum, berisi masalah penting dalam bidang keagamaan atau bidang sosial) yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada Mei 2015. Ensiklik ini membahas isu-isu lingkungan serta hubungan antara Tuhan, manusia, dan bumi. Dengan sub judul “Perawatan atas Rumah Kita Bersama”, dokumen ini menegaskan pentingnya menjaga lingkungan dan kesejahteraan semua makhluk hidup. Ensiklik ini mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari penghormatan kepada Tuhan. Dalam bab terakhirnya, Laudato Si’ mengajak setiap individu untuk melakukan perubahan dalam kehidupan sehari-hari guna mendukung upaya perlindungan lingkungan. Beberapa langkah konkret yang disarankan antara lain:
- Mengembangkan kebiasaan berdoa dan merenungkan keindahan alam.
- Mengurangi konsumsi berlebihan dan mengurangi limbah.
- Menggunakan energi secara bijaksana.
- Terlibat dalam gerakan lingkungan dan politik untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.
Mari mengembangkan rasa dikasihi oleh Allah dengan bertindak nyata kepada pihak yang terdampak kerusakan alam dan menjawab tanggung jawab ini dengan setia. Dimulai dari diri kita sendiri dan konsisten melakukannya.
Penutup
Sejenak kita kembali pada ingatan tentang minggu lalu mengenai Minggu Baptisan Yesus, dimana terdapat unsur air, sesuatu yang sulit lepas dari aktivitas riil kita sehari-hari. Air mengingatkan tentang keberadaan alam yang sangat bermakna dalam hidup manusia. Kisah Yesus dan alam semesta ini berlanjut dengan wujud Bulan Penciptaan yang dilaksanakan tanggal 15 Januari – 11 Februari 2026 dengan tema “Dipanggil untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”. Setiap umat Tuhan dipanggil untuk menyatakan karya kasih Allah kepada dunia. Merawat keutuhan ciptaan adalah salah satu cara kita menyatakan karya kasih Allah. Inilah tekad kita bersama, mendukung terwujudnya Tema Pelayanan GKJW Tahun 2026, yaitu Ekologi dan Kependudukan. Kiranya kita semakin sadar bahwa memang akan semakin banyak manusia yang hidup di dunia, dan semoga jumlah itu sebanding dengan jumlah manusia yang peduli dengan situasi ekologi di muka bumi ini. Tentunya bisa mencakup lintas agama, lintas manusia, dan lintas generasi. Sebab yang dilakukan dalam perawatan semesta memang untuk generasi penerus. Amin. [WdK].
Pujian: KJ. 289 Tuhan Pencipta Semesta
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Punapa panjenengan tansah bingah ing warsa enggal punika? Utawi malah sampun rumaos awrat? Punapa punika amargi taksih enget prekawis sae ing warsa ingkang kapengker. Saenipun kita sampun lumebet ing warsa enggal lan kanthi setya tuhu, mangga kita sami ngupadi karsanipun Gusti Allah.
Isi
Kita angsal ngenget-enget samubarang ingkang sampun kalampahan. Nanging watak ingkang kedah dipun tuwuhaken inggih punika, minangka kaca benggala sinau saking wekdal ingkang sampun kalampahan lan lajeng enget bab wiwitan punapa ingkang dados tanggel jawab kita ing lampahing pigesangan. Saking paraga “Abdining Yehuwah” ingkang kaserat dening nabi Yesaya, kita pepanggihan kaliyan pangertosan bab gesang ingkang sampun kalampahan, inggih punika wiwit ing guwa garba (Ay. 1) lan bobotan (Ay. 5) ingkang sejatosipun sampun wonten rancangan pakaryan saking Gusti Allah. Rancangan punika magepokan kaliyan pangajeng-ajeng supados Abdining Yehuwah punika sageda “mbalekake Yakub” lan “nglumpukake Israel”. Kadosipun wiwit jaman mula, sadaya sampun kagaris supados tansah turut ing lampah saking Gusti Allah. Lan pakaryan punika kedahipun saged dumugi pungkasaning bumi (Ay. 6). Amargi makaten, sanadyan sampun yuswa kathah, sampun dangu anggenipun miyos, mboten angsal kesupen lan lirwa bab punapa gesang lan punapa ingkang kedah dipun lampahi.
Nglampahi gesang kanthi ngugemi punapa ingkang sampun ginaris dening Gusti Allah punika saged linambaran ing gesang kanthi tuladha saking pasamuwan ing Korinta. Rasul Paulus paring piwucal, bilih kathah prekawis sae saking pasamuwan punika. Nanging ugi dipun engetaken supados tansah emut bilih kenging punapa pasamuwan punika saged madeg, inggih punika kawiwitan saking raos pitados dhumateng Gusti Yesus. Punika kawedharaken amargi Rasul Paulus pirsa bilih pasamuwan Korintus ugi ngalami pasulayan (Ay. 10) lan punika kedah enggal dipun prantasi. Bok manawi punika amargi kakupeng dening kahanan kitha Korintus ingkang sarwa maneka warni. Pasamuwan sageda mboten katut ing kahanan punika lan ndadosaken crah. Raos manah ingkang sampun katunggilaken ing rahipun Gusti Yesus lan dados patunggilan suci minangka lelandhesanipun pasamuwan. Punika dados ingkang wiwitan lan utami. Lan punika kedah dipun raosaken kanthi sanget.
Supados sadaya timbalan ing inggil punika saged kawujud, tamtu kedah tut wingking watak lan manah saking Gusti Yesus. Yokanan sampun nyariosaken bilih Gusti Yesus punika Sang Masih, sanes piyambakipun (Ay. 20). Ing piwucal saking Yokanan, kaserat bilih Gusti Yesus punika “Cempening Allah kang ngilangi dosaning jagad” (Ay. 29). Minangka “Cempening Allah” (Ay. 36) ingkang ngemu suraos bab pangurbanan kangge ngudi kahanan donya ingkang sae. Makaten, pandherekipun Yokanan asma Andreas ugi matur bilih Gusti Yesus punika Sang Masih (Ay. 41). Sesebatan ingkang kaunjukaken dhumateng Gusti Yesus punika gadhah pangertosan bilih wonten tanggel jawab, pakaryan ingkang kedah dipun lampahi lan pangurbanan kangge nuwuhaken kasaenan donya. Yokanan kanthi gamblang dhawuh bilih sadaya ingkang kaserat minangka perangan saking Gusti Yesus punika dados timbalanipun para pandherek manawi sampun sumadya ndherek Gusti Yesus kedah tumandhang kados dene ingkang dipun lampahi dening Gusti Yesus.
Pepenget “Sasi Tumitahing Jagad”
Gesang ing jaman sapunika tamtu kita nate enget babagan alam donya ingkang taksih katinggal ngresepaken, endah, lan adi. Ijo royo-royo. Dene kahanan sapunika kadosipun sampun benten. Kawontenan punika mboten lajeng kita namung mendel lan nggresah. Kedahipun kita jumangkah. Amargi minangka titah, ing wiwitan kita kedah makarya nuwuhaken karahayoning gesang kados dene timbalan ingkang dipun tampi dening Abdining Yehuwah. Kanthi purun ngakeni bilih wonten prekawis ingkang mboten sae ing alam donya, kita dipun engetaken kados pasamuwan ing Korintus, sageda ngripta donya ingkang sae, suci kanthi lelandhesan gesang ingkang sami nunggil lumantar katresnanipun Gusti Yesus. Kita mboten namung mligi migatosaken karisakan nanging jumangkah. Amargi, mboten saged dipun selaki, bilih sinten ingkang sampun prajanji setya ndherek Gusti Yesus tamtu timbalan mesianis kedah dados timbalan salami gesang. Nresnani alam donya saged dados salah satunggaling wujudipun.
Gesangipun manungsa tamtu tansah ngudi prekawis ingkang sae. Lumantar kawontenan “Revolusi Industri” gesangipun manungsa sarwa ngalami kamajengan. Nanging ugi wonten ingkang dhawah bab karisakan alam donya. Awit punika, kita minangka manungsa tansaha enget bilih gesang punika dados paraga saking Gusti Allah ingkang nuwuhaken rahayu kangge alam donya. Manawi dereng mawujud kanthi sakestu, kita mboten lajeng nglokro nanging mangga tansah makarya. Pirembagan ing antawisipun para manungsa kangge kasaenanipun donya kedah kalampahan, lilandhesan murih saening donya.
Laudato Si, minangka piwucal enggal ing pasamuwan.
Laudato Si’ punika piwucal ing Gereja Roma Katolik ingkang dipun ripta dening Paus Fransiskus kala Mei 2015. Seratan punika ngrembag bab alam donya, lingkungan, lan sesambetanipun antawisipun Gusti Allah, manungsa, lan donya. Wonten ing perangan “Perawatan atas Rumah Kita Bersama”, ngemutaken supados kita ngrimati lingkungan kanthi lelandhesan punika wujud raos urmat kita dhumateng Gusti Allah.
Wonten perangan pungkasan buku punika, ugi dipun serat prekawis punapa ingkang saged dipun lampahi ing gesang padintenan. Umpaminipun:
- Tansah dedonga lan syukur amargi alam donya ingkang endah.
- Rumaos cekap ing babagan tetedhan lan ngirangi limbah.
- Migunakaken energi kanthi wicaksana.
- Ndherek wonten ing pakempalan-pakempalan ingkang ngeneraken dhateng tuwuhing paugeran ingkang ngrimati alam donya ingkang langgeng.
Mangga ing wekdal punika, kita ngrumaosi raos dipun tresnani Gusti Allah lumantar alam donya punika. Kita sami budidaya supados jagad raya ingkang kathah risakipun punika enggal sae malih kados ing wiwitan. Kawiwitan saking gesang kita piyambak.
Panutup
Ing wekdal punika mangga kita sami enget pangabekti minggu kapengker, inggih punika Minggu Baptisan Gusti Yesus kanthi pralambang toya. Toya mboten saged uwal saking kabetahan gesang saben dinten. Toya ngemutaken kita bilih alam donya sanget migunani ing gesang kita. Pepenget bab Toya Baptisan punika mangga bekta dhateng pengetan sasi tumitahing jagad wiwit tanggal 15 Januari – 11 Pebruari 2026 kanthi tema “Dipanggil untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”. Kanthi tekad ngrimati sadaya titah kita saged nyengkuyung paladosan ingkang dipun lampahi GKJW ing tahun 2026 kanthi tema Ekologi lan Kependudukan. Mugi kanthi kawontenan bilih manungsa ing donya sansaya kathah, sageda ing ngriku ugi sangsaya katah tiyang ingkang sami purun migatosaken kaendahanipun alam donya. Lan sageda dipun lampahi dening sadaya agama, sadaya manungsa, lan sadaya anak turun kita. Amin. [WdK].
Pamuji: KPJ. 16 Langit Tansah Nyariosaken