Merawat Kebersamaan dan Saling Peduli Khotbah Minggu 24 Oktober 2021

Minggu Biasa – Penutupan Bulan Ekumene
Stola Hijau

Bacaan 1: Yeremia 31 : 7 – 9
Bacaan 2:
Ibrani 7 : 23 – 28
Bacaan 3:
Markus 10 : 46 – 52

Tema Liturgis: Hidup Bersama dalam Kepedulian
Tema Khotbah:
Merawat Kebersamaan dan Saling Peduli

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 31 : 7 – 9
Yeremia 31:7 mengingatkan kembali sosok Nabi Yeremia yang hidup antara akhir abad ke 7 sampai abad ke 6 SM yang mengingatkan kepada bangsa Israel akan janji Allah memulihkan bangsa Israel. Janji Allah itu menjadi pengharapan dan terus diimani oleh bangsa Israel. Dan mereka menyambutnya dengan bersorak sorai dan bersukacita. Janji Allah ini menekankan bahwa Allah Israel akan menyelamatkan bangsa Israel dan tidak akan pernah membiarkan peradaban mereka punah. Sebaliknya sebagai nabi, Yeremia selalu memperingatkan bangsa Israel tentang bencana yang akan menimpa mereka karena mereka melanggar ketetapan Allah dan menyembah berhala.

Sedangkan pada Yeremia 31:8-9, Membawa mereka dari tanah utara... Pada tahun 539 SM raja Koresh dari Persia mengalahkan Babel. Setelah itu, Koresh mengijinkan orang-orang Israel kembali ke kampung halamannya (Yes. 45:1-4). Yeremia menggambarkan “Exodus/keluaran baru” dimana Allah menuntun umat-Nya Israel pulang kembali kembali ke tanah air mereka (Kanaan) tidak hanya dari Babel akan tetapi juga dari seluruh penjuru bumi. (Bnd pasal-pasal terakhir dari Yesaya juga memberitakan hal menggembirakan ini; Yes. 35:5-10; 40:3-5; 42:16; 43:1-7; 48:20-22; 49:8-12). Berita sukacita yang disampaikan Yeremia ini menjadi tanda akan kepedulian Allah kepada umat-Nya, Israel.

Ibrani 7 : 23 – 28
Allah telah menyatakan Yesus sebagai Imam Besar yang lebih sempurna daripada imam-imam besar sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Dengan perantaraan Yesus, orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari dosa dan dari ketakutan kematian. Dengan gelar Imam Besar yang ditujukan pada pribadi Yesus, Yesus memberikan kepada manusia keselamatan sejati yang tidak dapat diberikan oleh upacara-upacara persembahan kurban dan upacara-upacara lainnya di dalam agama Yahudi. Posisi Yesus sebagai ‘Imam Besar’ inilah yang kemudian dijelaskan dalam Ibrani khususnya pasal 7.

Untuk memahami Ibr. 7:23 maka harus melihat ayat sebelumnya. Pada Ibr. 7:22 Yesus adalah jaminan yang paling kuat dari perjanjian Allah dengan manusia. Maksudnya, bahwa Perjanjian Baru didasarkan pada Yesus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk pengampunan dosa manusia. Namun ini tidak berarti Perjanjian Lama yang didasarkan pada hukum Taurat itu tidak bernilai lagi (Mat. 5:17; Rom. 3:31). Yang hendak ditegaskan ialah beriman kepada Yesus, sang Imam Besar yang Agung adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan manusia.

Sedangkan pada Ibr. 7:26 mengenai peran ‘Imam besar’. Pada hari raya pendamaian, Imam besar akan memasuki ruang Maha Kudus di dalam Bait Allah untuk mempersembahkan kurban, agar Allah menghapus dosa-dosa umat Israel (Im. 16:1-34). Sebagaimana seorang Imam besar, Yesuspun mempersembahkan kurban untuk mengampuni dosa semua manusia. Dan kurban yang dipersembahkan adalah diri-Nya sendiri (lih. Rom. 3:25-26). Inilah yang membedakan Yesus dengan Imam Besar. Penegasan akan janji Allah untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa telah digenapi melalui anak-Nya, Yesus Kristus. (Ibr. 7:28).

Markus 10 : 46 – 52
Markus 10 ada dalam konteks perjalanan Yesus dari Galilea menuju ke Yerusalem. Pada ayat 46-52 sampailah Yesus di kota Yerikho (Jika dilihat di peta Yerikho terletak ± 50 Km sebelah timur Yerusalem, ± 10 Km di sebelah utara Laut Mati). Ketika Yesus hendak melanjutkan perjalanan bersama dengan para murid-Nya dan pengikut-Nya, ada seorang buta bernama Bartimeus yang mendengar Yesus sedang lewat, kemudian berteriak memanggil nama Yesus. kemudian, Bartimeus memanggil nama Yesus dengan mengaitkannya dengan silsilah atau garis keturunan-Nya, bahwa Yesus adalah anak Daud (Ay. 47). Istilah “Anak Daud” (Mrk. 10:51) dalam keyakinan umum komunitas Yahudi pada saat itu erat kaitannya dengan pengharapan akan kedatangan Mesias. Mesias yang datang hanya berasal dari silsilah keluarga Daud. Inilah yang kemudian membuat sebutan Mesias adalah “Anak Daud”. Sehingga, jelas dalam pengharapan Bartimeus yang buta, Yesus yang sedang lewat di hadapannya adalah Mesias yang bisa mengubah kondisinya saat itu.

Sedangkan kata kedua yang diucapkan oleh Bartimeus adalah “Rabuni” (ay. 51). Dalam Rabuni adalah bahasa Aram yang bermakna ‘guru’. Ini mengandung arti bahwa Bartimeus menganggap Yesus sebagai Guru: sosok yang diteladani, panutan untuk diikuti, dan senantiasa diperhatikan kata-katanya. Dengan mengatakan ‘Rabuni’, Bartimeus (serta para pengikut Yesus) memiliki komitmen yang kuat untuk mengikuti Yesus, terlebih ketika ia bisa melihat nantinya. Yesus ternyata mengetahui usaha keras dan Iman Bartimeus. Ia mencelikkan mata Bartimeus sehingga kemudian ia bisa melihat.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Setiap peristiwa dalam hidup manusia adalah ujian kesetiaan iman. Namun demikian Allah tetap peduli ketika manusia terpuruk dan memiliki rancangan keselamatan untuk manusia. Dalam kitab Yeremia 31:7-9 berita sukacita tentang pemulihan menjadi simbol akan kepedulian Allah atas bangsa Israel. Sedangkan dalam Ibrani 7:23-28 pengurbanan Yesus Kristus sampai mati untuk keselamatan manusia menunjukkan bahwa Allah, melalui perantara Yesus Kristus berkehendak untuk menyelamatkan manusia. Jika dibandingkan dengan imam Yahudi, Yesus adalah Imam Besar yang sangat agung dan sempurna karena mengurbankan diri-Nya untuk keselamatan manusia. Selanjutnya dalam Markus 10:46-52, kisah penyembuhan Bartimeus yang buta oleh Yesus, juga menunjukkan kepedulian Allah atas setiap kondisi kehidupan manusia. Kepedulian Allah tersebut sebenarnya gratis dan tidak bersyarat, akan tetapi hanya setiap orang yang beriman kepada-Nya saja yang mampu melihat serta merasakan kebaikan dan kepedulian Allah dalam hidupnya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Covid-19 yang mulai di Wuhan, China sejak Desember 2019 lalu telah memaksa dunia memasuki “retreat panjang”. Dari dunia yang super sibuk dan penuh hiruk pikuk, menjadi dunia yang diam dan senyap. Yang paling menarik dan menjadi isu utama adalah bagaimana kita supaya bisa survive?. Covid-19 telah memporakporandakan semua sektor kehidupan dan membuat kita kembali kepada hal yang mendasar, yaitu Bertahan Hidup!

Pada saat itu kita mengetahui, transportasi yang semula begitu booming, seperti penerbangan murah, Ojol untuk orang suka cepat, kuliner praktis-murah, adventure, atau karena perjalanan dinas, bisnis, seminar dan berbagai hal, tiba-tiba berhenti. Banyak para karyawan perusahaan transportasi penerbangan, seperti pilot, awak kabin, teknisi, dan pekerja lainnya terpaksa di PHK secara halus (dirumahkan). Pelayanan keuangan (kredit, perdagangan saham, investasi) yang sebelumnya lancar mendadak seret. Uang tidak berputar lagi karena hanya produksi alat pengaman diri dan produksi untuk bahan makanan saja yang berjalan. Semua tunduk di bawah ancaman Covid-19 yang sangat mematikan. Pasti kita tahu dan mengalami dampak pandemi Covid-19 yang begitu dahsyat tersebut. Intinya kita semua merasakan ketakutan, kekuatiran, dan sangat menderita akibat pandemi Covid-19 itu. Terlepas dari berbagai teori yang berkembang: perang biologi, perang dagang, penjualan anti virus, dan alat kesehatan, ternyata TUHAN peduli dan menyertai kita sampai dengan saat ini.

Isi
Pada ketiga bacaan kita, ketika umat Allah melanggar ketetapan Allah, sebagai akibatnya kehidupan mereka terpuruk dalam dosa. Allah tetap menunjukkan kasih dan kepedulian-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya. Kasih dan kepedulian Allah kepada umat-Nya dilakukan-Nya secara nyata sejak zaman Abraham, Musa, melalui para Nabi utusan-Nya, sampai pada masa Yesus Kristus yang mengurbankan diri-Nya demi menyelamatkan manusia yang berdosa.

Yeremia menyampaikan kepada bangsa Israel bagaimana Allah akan membawa mereka pulang kembali ke Yehuda dari tanah Babel. Bahkan Allah akan mengumpulkan sisa-sisa Israel dari seluruh penjuru bumi. Tidak ada pengecualian dan pemilahan dalam pengumpulan bangsa Israel itu, bahkan yang buta dan lumpuh pun akan turut serta (Yer. 31:8). Tentu, berita kepulangan bangsa Israel ini hendaknya disambut dengan sukacita dan sorak-sorai oleh segenap umat Israel. Yeremia menyampaikan janji Allah itu, yang kemudian hari tergenapi dengan kepulangan bangsa Israel ke Yehuda tanpa melalui peperangan atau pertumpahan darah. Bangsa Israel diselamatkan Allah dari perbudakan di Babel.

Paulus juga menunjukkan bagaimana Allah menyelamatkan semua orang melalui Yesus Kristus (Ibr. 7:25). Yesus adalah gambaran kasih Allah yang sempurna kepada manusia. Yesus sebagai manusia adalah perwujudan kasih Allah yang sempurna karena Yesus tidak memiliki salah dan dosa sedikitpun. Jikalau dibandingkan dengan gambaran Imam Besar Yahudi, tentu Yesus adalah seorang Imam yang tiada bandingannya. Yesus rela mengurbankan dirinya sendiri untuk menebus dosa dan menyelamatan manusia (Ibr. 7:26-28). Demikian pula ketika Yesus dihadapkan pada pilihan untuk memberi kesembuhan atau melakukan mujizat ketika bertemu dengan Bartimeus yang buta, Yesus memberikan kesembuhan dengan mencelikkan matanya (Mrk. 10:52). Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya menggambarkan ‘Imago Dei’ atau manusia gambar Allah yang sejati. Akan tetapi, mempertegas bahwa Yesus adalah perantara manusia kepada keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah. Allah yang penuh kasih dan peduli atas situasi dan kondisi kehidupan yang dialami manusia yang lemah dan berdosa. Manusia yang beriman dan taat kepada-Nya akan merasakan secara nyata kasih Allah itu.

Kasih Allah tersebut ternyata tidak berhenti pada masa lalu saja. Sebagai gereja dan pengikut Yesus Kristus, setiap orang percaya diajak untuk melanjutkan karya Allah pada konteks kehidupan saat ini dan ke depan. Beberapa hal penting yang sekiranya bisa dilakukan Gereja, yakni:

Pertama, gereja harus peduli dan berusaha untuk memberi respon, menghadirkan kasih Allah dalam setiap peristiwa kehidupan umat manusia di dunia. Ini berarti, gereja tidak tinggal diam saja akan tetapi gereja harus aktif. Gereja tidak ekslusif untuk komunitasnya sendiri, akan tetapi dalam pelayanan kasih, gereja harus terbuka terhadap kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk melakukan seperti ini, memang tidaklah mudah bagi gereja. Adanya prasangka-prasangka, stereotype ‘kristenisasi’ yang dialamatkan pada gereja terkadang membuat gereja menjadi ragu, enggan, takut, dan gereja kemudian berubah menjadi diam dan membeku. Gereja tidak mengklarifikasi prasangka dan stereotype negatif. Gereja akhirnya hanya sibuk di pelayanan internal saja.

Pada saat-saat seperti inilah gereja perlu belajar seperti yang dilakukan oleh Yeremia yang membawa pengharapan kepada bangsa Israel dengan menyatakan janji Allah. Sehingga, Gereja proaktif atas tantangan dinamika zaman dan Gereja semakin berani memperjuangkan keadilan, menyatakan kebenaran, memberi penghiburan, dan pengharapan bagi masyarakat yang tertindas, dan yang putus asa. Gereja membawa perdamaian sekaligus mengecam ideologi kekerasan. Gereja menjadi terbuka untuk membangun jejaring kerja bersama lintas iman, lintas budaya, lintas identitas. Demikian juga gereja harus berani mengecam gerakan intoleran yang tidak bisa menerima perbedaan yang bisa merusak kehidupan berbangsa. Apakah gereja dimana kita bersekutu sudah melakukannya? Jangan melihat yang jauh, mulailah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat sekitar kita.

Kedua, untuk bertumbuh dan mentransformasi kehidupan berdasarkan kasih, gereja harus terus mengakar kuat kepada Yesus Kristus Sang Kepala Gereja. Hal ini sangat penting karena pada masa kini gereja banyak melenceng dari tugas dan panggilannya di dunia. Kehadiran gereja seringkali bukannya menjadi pembawa berkat dan pewartaan kasih, akan tetapi sebaliknya: kehadiran Gereja tidak bisa dirasakan membawa damai sejahtera dan berkat, karena terlalu sibuk dengan hal-hal rutinitas, birokrasi yang sebenarnya merupakan prosedur biasa dilakukan gereja. Gereja mengabaikan yang lemah dan tidak memiliki kepedulian kepada isu-isu yang membuat masyarakat tertindas dan terpinggirkan. Gereja memilih zona nyaman dan bahkan enggan untuk berkorban padahal itu adalah resiko jelas menerapkan kasih Kristus. Gereja terseret arus dunia dengan menumpuk uang/ materi, karena berpandangan tanpa uang kegiatan pelayanan di gereja pasti tidak bisa berjalan.

Penulis Ibrani mengingatkan bagaimana Yesus diimani sebagai Imam Besar yang sempurna. Dia jauh berbeda dibandingkan dengan imam-imam Yahudi pada masa lalu. Yang membedakan adalah karena Yesus mengasihi, menerobos resiko, dan melawan zona nyaman untuk mengasihi. Yesus menunjukkan kasih yang radikal! Nyata dengan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai kurban tebusan demi keselamatan manusia (Ibr. 7:27). Pengorbanan seperti inilah yang seharusnya dilakukan gereja, menjadi basis pelayanan gereja manakala menjumpai situasi dimana ia harus berkorban bahkan menderita ketika mengasihi.

Hal lain yang diikuti gereja dari Yesus adalah ketika Yesus sedang berjalan di Yerikho, ada Bartimeus si buta berteriak memanggil Yesus ‘Mesias’, Yesus tidak ragu untuk menyatakan belas kasihan dan kepedulian-Nya ‘pada saat itu juga’ dengan mencelikkan mata orang buta tersebut (Mrk. 10:52). Gereja kadang kehilangan momentum dalam bertindak menyatakan kasih karena terjerat pada pemahaman yang berpatokan ‘tidak ada dasar di PKT’. Mindset atau pola pikir demikianlah yang menyebabkan orang tidak mendapatkan kasih Kristus di Gereja. Gereja tidak mampu menjaga harga diri Kristus dan harga dirinya ketika dihadapkan pada situasi krusial. Gereja memilih pasif atau mundur dan hanya bermain pada zona aman saja padahal pada saat itu momen yang tepat untuk nama YESUS dipermuliakan melalui gereja.

Ketiga, Gereja perlu berintrospeksi dari tindakan dan perilaku orang banyak dan para murid Yesus terhadap Bartimeus yang menyuruhnya untuk diam ketika berteriak memanggil Yesus (Mrk. 10:48). Artinya, Gereja jangan menjadi penghalang dan batu sandungan bagi orang yang rindu mendekat kepada Yesus. Gereja jangan menjadi penghambat Yesus Kristus berkehendak menyatakan berkat-Nya kepada umat-Nya. Tentu kita tahu dan sangat jelas akan hal ini. Untuk itulah gereja sebegai tubuh Kristus perlu terus introspeksi diri dan mengevaluasi pelayanannya. Gereja jangan menutup diri jikalau kemudian ada perbaikan diri ataupun untuk mengembangkan diri harus bekerjasama dengan berbagai unsur, lintas iman, dan lintas identitas. Hal ini perlu dilakukan agar kepedulian dan kasih yang dilakukan gereja sinergis dengan kasih dan kehendak Kristus, sehingga nama Tuhan yang dipermuliakan.

Penutup
Marilah sebagai gereja kita belajar selalu setia akan tugas panggilan kita untuk mewartakan kasih, mengabarkan sukacita, dan damai sejahtera yang dibawa Yesus Kristus. Ketika kita berusaha, mengimani akan ada campur tangan Allah, niscaya kita akan diberikan kekuatan dan kemampuan. Amin. (BK)

 

Pujian:

  • KJ. 249 : 1, 2, 3 Serikat Persaudaraan
  • PKJ. 242 : 1, 2 Seindah Siang Disinari Terang


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Pandemi Covid-19 saking Wuhan, China wiwit Desember 2019 kepengker, dadosaken tiyang gesang ing ndonya punika mlebet wonten swasana “retreat ingkang dangu sanget”. Saking ndonya ingkang repot lan kebak karuwetan dados donya ingkang sepi. Ingkang dados kawigatosan lan “isu utama” namung kadospundi supados manungsa punika amrih taksih saged gesang. Covid-19 punika ngrusak sedaya pigesangan kita lan ndadosaken kita sedaya wangsul malih dhateng bab ingkang dasar: “Saged Gesang”.

Nalika semanten kita mangertos sarana transportasi ingkang sakderengenipun booming sanget, kadosdene tiket pesawat ingkang mirah, Ojol kangge tiyang ingkang remen lelungan kanthi cepat, kuliner ingkang praktis-mirah, tiyang ingkang remen lelungan amargi kaperluan dines, bisnis, seminar lsp, sapunika mandheg jegrek. Kathah para karyawan perusahaan transportasi penerbangan kadosdene pilot, awak kabin, teknisi, lan pegawai sanesipun ingkang dipun PHK sacara alus (disuwun wonten griya). Sedaya peladosan keuangan (kredit, sadeyan saham, lan investasi) ingkang sakderengipun lancar sapunika seret. Kahananipun karana yatra ingkang mboten saged muter malih kanthi lancer. Ingkang langkung penting wekdal punika produksi sarana pengamanan diri (APD) lan produksi bahan pangan mawon ingkang utami. Sedaya mandheg amargi ancaman Covid-19 ingkang saged mejahi tiyang gesang.

Tamtunipun kita sedaya mangertos lan ngalami kahanan ing pandemi Covid-19 ingkang dampakipun ageng sanget punika. Kahanan ingkang mekaten punika dadosaken kita rumaos ajrih, kuwatos lan nandhang sangsara. Sanajan kathah teori kados: perang biologis, perang dagang, sadeyan anti virus lan alat kesehatan, kita pitados bilih Gusti Allah tansah peduli lan nganthi kita. Buktinipun ngantos wekdal punika, kita taksih dipun paringi gesang.

Isi
Saking katiga waosan kita punika, kita sami mangertos nalika umat nerak angger-anggeripun Gusti Allah, gesangipun umat dados risak lan kebak ing dosa. Sanajan mekaten Gusti Allah tetep tresna lan peduli dhateng umatipun. Gusti Allah kersa paring kawilujengan dhateng umatipun. Bab punika katingal kanthi nyata wiwit zamanipun Rama Abraham, Musa, para Nabi ngantos zamanipun Gusti Yesus Kristus ingkang ngurbanaken Sariranipun kangge manungsa ingkang kebak dosa.

Nabi Yeremia paring dhawuh dhateng bangsa Israel bilih Gusti Allah badhe mbekta bangsa Israel wangsul malih dhateng tanah Yehuda saking tanah Babel. Gusti Allah badhe ngempalaken sisa-sisanipun bangsa Israel saking salumahing Bumi. Mboten wonten ingkang badhe ketriwal, sae punika tiyang wuta utawi lumpuh, sedaya umat saged ndherek (Yer. 31:8). Saestu, kabar wangsulipun bangsa Israel punika kedah dipun sambut kanthi sorak-sorak kebak kebingahan kaliyan bangsa Israel. Nabi Yeremia sejatosipun namung mbabaraken prajanjinipun Gusti Allah, ingkang tembe dinten prajanji punika saged kalampahan, bangsa Israel saged wangsul malih dhateng Yehuda tanpa perang utawi mboten wonten ‘pertumpahan darah’. Bangsa Israel dipun paringi kawilujengan saking perbudakan wonten Babel.

Juruserat Ibrani ugi dhawuh bilih Gusti Allah badhe paring kawilujengan dhateng sedaya tiyang pitados lumantar Gusti Yesus (Ibr. 7:25). Gusti Yesus punika gambaran katresnanipun Allah ingkang sampurna dhateng manungsa, amargi Gusti Yesus mboten nggadahi kalepatan lan dosa. Menawi dipun bandingaken kaliyan imam agung Yahudi, jelas Gusti Yesus punika imam agung ingkang mboten wonten tandingipun. Gusti Yesus ngurbanaken Sariranipun piyambak supados manungsa punika pikantuk kawilujengan (Ibr. 7:26-28). Mekaten ugi nalika Gusti Yesus pepanggihan kaliyan Bartimeus ingkang wuta, Gusti Yesus kersa nyarasan Bartimeus saengga saged ningali malih (Mrk. 10:52). Prekawis punika nedahaken bilih Gusti Yesus punika mboten namung dados gambaran ‘Imago Dei” (manungsa gegambaripun Allah ingkang sejati), ananging negesaken bilih Gusti Yesus punika perantara utami kawilujenganipun manungsa. Gusti Allah peduli kaliyan situasi lan kondisi gesangipun manungsa ingkang ringkih lan kebak ing dosa. Ananging namung manungsa ingkang pitados lan ngabekti dhumateng Gusti Allah kemawon ingkang saged ngraosaken sacara nyata katresnanipun Gusti Allah punika.

Sih Katresnanipun Gusti Allah mboten mandheg rikala semanten kemawon. Kita minangka greja lan pandherekipun Gusti Yesus dipun ajak nglajengaken pakaryanipun Gusti Allah wonten ing situasi pigesangan ing wekdal sakmangke lan saklajengipun. Ingkang saged kita lampahi minangka greja inggih punika:

Sepisan, greja kedah peduli lan ngupaya atur wangsulan, nuwuhaken katresnanipun Allah ing sedaya prekawis gesang manungsa ing ndonya. Tegesipun, greja mboten pasif ananging aktif. Peladosanipun greja mboten eksklusif kangge dhirinipun piyambak, ananging ing peladosan ugi tinarbuka dhateng gesangipun komunitas ing masyarakat, bangsa, lan nagari. Jelas kagem nglampahi bab punika mboten gampil. Tamtu wonten prasangka-prasangka, stereotype “kristenisasi” ingkang dipun tujuaken dhateng greja, ingkang ndadosaken greja mangu-mangu, kuwatos, lan ajrih, pungkasanipun greja dados patunggilan ingkang kaku lan beku. Greja mboten wantun atur pangertosan tumrap sedaya prasangka lan stereotype negatif. Greja namung sibuk peladosan internal kemawon. Saking prekawis punika greja saged sinau kados ingkang dipun lampahi nabi Yeremia ingkang mbekta pangajeng-ajeng dhateng bangsa Israel. Greja kedah proaktif salebeting tantangan lan dinamikanipun zaman. Greja kedah ngupayaaken keadilan, kaleresan, paring panglipur, lan pangajeng-ajeng dhateng masyarakat ingkang katindes lan putus asa gesangipun. Greja kedah mbekta katentreman lan wantun ngecam ideologi kekerasan. Greja ugi puruna makarya sesarengan kaliyan sedherek lintas iman, lintas budaya, lintas identitas. Greja ugi kedah wantun ngecam tumindak intoleran ingkang mboten saged nampi perbedaan ingkang saged ngrusak bangsa lan nagari. Pitakenanipun…, punapa greja kita sampun nindakaken bab punika? Sampun ngantos kita ningali ingkang tebih, mangga kita wiwiti saking dhiri kita piyambak lan saking lingkungan kita.

Kaping kalih, supados saged tuwuh lan men-transformasi gesang ingkang dhasaripun katresnan, greja kedah ngoyot ingkang kiyat dhumateng Gusti Yesus Sesirahing Greja. Bab punika penting sanget amargi ing wanci sakmangke greja kathah ingkang menggok saking tugas lan timbalanipun ing ndonya. Kawontenanipun greja asring mboten mbekta berkah lan pawartos katresnipun Gusti. Kosokwangsulipun: kawontenanipun greja mboten saged dipun raosaken mbekta tentrem rahayu amargi greja sibuk kaliyan prekawis birokrasi rutin ingkang sejatosipun prosedur biasa ingkang dilampahi greja. Greja mboten migatosaken ingkang lemah lan kirang peduli kaliyan isu-isu ingkang ndadosaken masyarakat katindes. Greja langkung milih zona aman, malahan mboten purun korban padahal punika resiko ingkang jelas anggenipun nindakaken katresnanipun Sang Kristus. Greja keseret arus ndonya amargi numpuk yatra/ materi, pemanggihipun tanpa yatra sedaya kegiatan peladosan punika mboten saged mlampah.

Juruserat Ibrani paring pepenget wonten kitab Ibrani bilih Gusti Yesus ingkang dipun pitados dados imam agung ingkang sampurna, jelas tebih menawi dipun bandingaken kaliyan imam-imam Yahudi ing zamanipun. Ingkang benten inggih punika Gusti Yesus wantun nanggel resiko lan nglawan raos nyaman nalika nindakaken katresnan. Yesus nedhahaken katresnan ingkang radikal! Nyata nalika ndadosaken Sariranipun piyambak dados korban tebusan kagem kawilujenganipun manungsa (Ibr. 7:27). Pangurbanan ingkang mekaten punika ingkang kedahipun dipun tuladhani kaliyan greja, dados dhasar peladosan ing greja, nalika manggihi situasi kedah wantun kurban malah-malah nandhang sangsara amargi pirsa resikonipun nindakaken katresnan.

Bab ingkang dipun tindakaken Greja nalika nuladhani Gusti Yesus inggih punika nalika Gusti Yesus mlampah wonten Yerikho, wonten Bartimeus ingkang wuta lajeng nimbali asmanipun Gusti Yesus ‘Mesias’. Gusti Yesus mboten mangu-mangu nedahaken sih piwelas lan pedulinipun ‘saknalika’ kaliyan nyarasaken mripatipun (Mrk. 10:52). Greja kadang kecalan momen nalika nindakaken katresnan amargi kesrimpet pamanggih “mboten wonten dasar PKT-nipun”. Mindset utawi pamanggih kados punika ingkang dadosaken tiyang mboten saged nampeni katresnanipun Sang Kristus ing greja. Greja mboten saged njagi ‘harga dhirinipun’ Kristus lan ‘harga dhirinipun’ piyambak nalika ngadhepi situasi krusial. Greja milih pasif utawi mundur lan mendhet zona aman padahal momen punika cocok lan pas sanget menawi kagem ngluhuraken asmanipun Gusti ing greja.

Kaping tiga, Greja perlu introspeksi saking prekawis lan tumindakipun tiyang kathah lan para muridipun Yesus dhateng Bartimeus, ingkang nyuwun supados mendel nalika mbengok nimbali asmanipun Yesus (Mrk. 10:48). Tegesipun, Greja sampun ngantos dados alangan utawi ‘batu sandungan’ kangge tiyang ingkang kangen sumendhe dhumateng Gusti Yesus. Greja sampun ngantos ngalang-ngalangi Gusti Yesus ingkang mberkahi umat kagunganipun. Mesthi panjenengan lan kula mangertos bab punika. Pramila greja perlu terus introspeksi lan ngevaluasi peladosanipun. Sampun ngantos nutup dhiri. Salajengipun perlu mbenahi dhiri utawi perlu ngembangaken peladosan, perlu makarya kaliyan sedaya unsur, punapa punika lintas iman, lan lintas identitas. Supados kepedulian kaliyan katresnan ingkang dipun tindakaken greja saged sinergi kaliyan katresnan lan karsanipun Sang Kristus lan asmanipun Gusti Allah tansah kaluhuraken.

Panutup
Sumangga kita saged dados greja ingkang tetep setya mbabar katresnan, sukarena, lan tentrem rahayu kadosdene ingkang dipun asta kaliyan Gusti Yesus Kristus. Nalika kita ngupaya lan mbudidaya, nggadahi kapitadosan, tamtu Gusti Allah tansah campur asta lan paring kekiyatan dhateng kita. Amin. (BK).

 

Pamuji: KPJ. 357 : 1, 2 Endahing Saduluran

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •