Minggu Biasa – Bulan Ekumene
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 53 : 4 – 12
Bacaan 2: Ibrani 5 : 1 – 10
Bacaan 3: Markus 10 : 35 – 45
Tema Liturgis: Hidup Bersama dalam Kepedulian
Tema Khotbah: Bersedia Melayani itu Menguatkan Persekutuan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 53 : 4 – 12
Allah menyatakan nubuat-nubuat ini pada Yesaya supaya memberikan pengharapan dan penghiburan kepada umat-Nya selama mereka tertawan di Babel 150 tahun sesudah zaman Yesaya (lihat. Yesaya 39:5-8). Yesaya bernubuat bahwa melalui penderitaan-Nya banyak orang akan diampuni, dibenarkan, ditebus, dan disembuhkan. Penderitaan-Nya membawa pemuliaan-Nya. Dengan sabar si Hamba itu menanggung banyak penganiayaan dan penderitaan (Yesaya 53:7). Namun penderitaan itu berperan sebagai perantaraan dan penghapusan dosa serta demi keselamatan orang banyak (Yesaya 53:4,6,8,10-12). Keselamatan datang dari Allah melalui pelayanan dan kesetiaan si Hamba TUHAN yang rela dihina dan ditolak manusia bahkan mengalami penderitaan. Ada keselamatan, pembebasan dari hukuman dosa dan kehidupan baru yang penuh perlindungan, sukacita, dan damai sejahtera untuk seluruh dunia melalui Hamba yang menderita. Itulah yang kemudian digenapi dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
Ibrani 5 : 1 – 10
Ada dua syarat utama yang harus dipenuhi untuk disebut imam besar. Pertama, sebagai Imam Besar Agung bukan atas pemuliaan oleh diri sendiri (ayat 5); namun atas perkenanan secara Ilahi. “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”; “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek” (ayat 6). Kedua, sebagai manusia yang sempurna yang taat, Tuhan Yesus sekalipun Dia adalah Anak Allah, Ia telah belajar menjadi taat dalam memenuhi tugas-Nya, meskipun harus menderita (ayat 8). Tuhan Yesus adalah Imam yang berempati pada manusia. Dia mengerti, menyelami, dan mengalami sendiri pergumulan umat-Nya. Yang membuat-Nya berbeda adalah Tuhan Yesus tidak jatuh ke dalam dosa. Salib di Golgota adalah puncak pergumulan sekaligus ketaatan-Nya. Dia adalah teladan yang sempurna bagi ketaatan. Sebagai Imam Besar nan Agung, Tuhan Yesus jauh melebihi para imam besar yang dihormati di Ibrani. Dialah Imam yang sempurna melampaui Harun dan yang lainnya. Dialah Imam yang menjadi kurban keselamatan itu sendiri melalui penderitaan dan kematian-Nya. Karena itulah Tuhan Yesus memenuhi syarat dalam segala hal untuk menjadi pokok keselamatan kekal bagi manusia yang taat kepada-Nya.
Markus 10 : 35 – 45
Apa yang diungkapkan Tuhan Yesus tentang kematian-Nya saat perjalanan ke Yerusalem dan bangkit-Nya pada hari ketiga dipahami sebagai kemenangan Tuhan secara politik atas penjajah Romawi saat itu membawa semacam pencobaan para murid untuk mengutamakan diri mereka. Tak heran jika semua murid ternyata sama-sama menginginkan untuk menjadi mulia bersama Tuhan Yesus. Namun Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kebesaran sejati Mesias bukan pada kekuasaan-Nya, namun pada kesediaan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi penebusan manusia yang adalah budak dosa. Perintahnya jelas: “Siapa yang ingin menjadi lebih besar hendaklah ia menjadi pelayan bagi yang lainnya”. Itulah harga menjadi pengikut Tuhan Yesus.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Yesus Kristus adalah teladan bagi umat percaya. Kesediaan-Nya untuk menjadi pelayan yang berani berkorban bahkan mengorbankan diri-Nya untuk kebaikan dan peduli atas keselamatan orang banyak adalah bukti bahwa Dia adalah Allah. Untuk itu hidup umat beriman itu seperti halnya imam, yaitu melayani bukan untuk dilayani, bersedia berkorban serta peduli untuk kebaikan sesama.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Hal yang menarik di Indonesia sejak zaman reformasi adalah pemilihan kepala daerah secara langsung. Bahkan presiden dan wakil presiden telah dipilih langsung sejak zaman pak SBY bersama pak JK. Mereka terpilih oleh rakyat secara langsung dua dekade lalu. Meskipun sebenarnya, di desa pemilihan kepala desa sudah berlangsung jauh lebih lama sebelum pilihan langsung presiden oleh rakyat. Pemilihan langsung model ini tentulah memerlukan biaya yang sangat besar dan sumber daya luar biasa. Herannya selalu ada saja orang yang menginginkan menjadi pemimpin mulai dari daerah sampai dilingkup atasnya. Kekuasaan dan jabatan itulah yang menjadi daya tariknya. Sepanjang zaman selalu kedua hal tersebut menjadi incaran banyak orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, lebih mulia, dan lebih sejahtera. Itu sebabnya kekuasaan menjadi komoditi yang laris manis di mana-mana dan kapan pun waktunya selalu relevan bagi manusia dengan kepentingan pribadinya.
Isi
Para murid Tuhan Yesus tak luput dari kepentingan diri akan kekuasaan atau dalam bahasa Alkitab disebutkan sebagai kemuliaan. Dalam perikop kita ditunjukkan bagaimana Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus (Markus 10:35) meminta Tuhan Yesus mengabulkan permintaan mereka. Bahkan disebutkan secara terang-terangan di ayat 37 mereka ingin duduk dalam kemuliaan Tuhan kelak. Artinya berkuasa bersama Tuhan Yesus. Bahkan disebutkan di dalam Injil yang lain yakni Injil Matius 20:20 mereka menggunakan ibu mereka untuk menguatkan permintaan itu (Mat. 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud dihadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.).
Ambisi itu sebenarnya netral, namun bisa menjadi positif atau negatif. Ambisi yang terjadi di sini justru menjadi negatif karena Yohanes dan Yakobus mendahului para murid yang lain untuk kepentingan mereka sendiri yakni menjadi yang terbesar atau termulia bersama Tuhan Yesus. Tak heran kalau sepuluh murid yang lain menjadi marah, karena merasa didahului dan kalah cepat dengan Yohanes dan Yakobus ini. (lihat Markus 10:41 : Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes).
Apa yang dilakukan oleh Yohanes dan Yakobus ini telah mengganggu persekutuan dan pelayanan mereka yang sudah dijalani bersama. Menarik bahwa dalam peristiwa sebelumnya mereka telah bertengkar mengenai siapa yang terbesar dalam kerajaan surga (Markus 9:34). Kini mereka bertengkar lagi gara-gara ambisi kekuasaan Yakobus dan Yohanes ini. Menjadi jelas bahwa ambisi kekuasaan yang berujung pada kepentingan diri sendiri membawa perpecahan dan mengganggu solidnya kesatuan hati dalam melayani sesama murid Tuhan Yesus. Itu sebabnya Tuhan Yesus menegur kesepuluh murid yang lain itu (Markus 10:42-45) dengan peringatan bahwa siapa yang ingin menjadi besar hendaklah menjadi pelayan, dan bahkan siap menjadi hamba untuk semuanya. Ambisi negatif yang mengarah pada kemuliaan diri merusak persekutuan dan kebersamaan siapapun mereka, bahkan diawali oleh murid-murid Tuhan Yesus sendiri.
Calvin, bapa Gereja kita, menafsirkan kisah ini adalah cermin yang terang dari kesia-siaan manusia. Semangat yang benar dan kudus sering disertai oleh sifat jahat yang lain dari daging, sehingga mereka yang mengikuti Kristus mempunyai tujuan yang lain dari yang seharusnya. Kita sebagai bagian dari persekutuan besar milik Tuhan Yesus memiliki resiko yang sama dengan apa yang terjadi pada Yohanes dan Yakobus. Respon dan pengajaran Tuhan Yesus jelas di Markus 10:38 : Kamu tidak tahu apa yang kau minta… dst. Bahwa kedua orang ini menjawab di ayat 39: Kami dapat … langsung direspon dengan perintah Tuhan Yesus: kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang sama dengan Tuhan sendiri. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa jalan menuju kemuliaan itu melalui penderitaan. Siapkah para murid untuk menderita dan menjadi hamba sebagaimana Mesias yang menderita, dianiaya, ditindas bahkan mati meskipun tidak ada tipu daya bahkan kekerasan yang dilakukannya. Kami dapat? Ucapan itu suatu keyakinan yang berlebihan dari para murid dan akhirnya mereka justru lari ketika Tuhan Yesus ditangkap pasukan Romawi, semua lari. (Lihat Matius 26:56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.” Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.) Bandingkanlah dengan kisah Petrus yang dengan penuh keyakinan diri, dia akan tetap setia pada Tuhan Yesus tetapi justru menyangkal Tuhan Yesus sampai 3 kali. (Markus 14:31 dan 14 :71-72)
Mari di bulan ekumene ini, kita menahan diri dari ambisi negatif egois kita. Memanfaatkan orang lain demi meraih kepentingan dan memuaskan hasrat diri, bahkan mengorbankan orang lain untuk kemuliaan diri seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan nyata ini. Kebesaran yang sejati bukanlah soal meraih kekuasaan, atau prestasi yang tinggi (Markus 10:42), melainkan sikap hati yang sungguh ingin hidup dan melayani bagi Tuhan serta berguna bagi sesama ciptaan juga persekutuan orang percaya. Sebagai Imam besar sejati Tuhan Yesus bukan hanya memberikan korban untuk penebusan dosa, namun Dialah korban bagi penebusan manusia seluruhnya melalui penderitaan dan kehinaan serta kematian yang dialami-Nya. Justru di dalam persekutuan bersama ini, kita membaktikan diri bahwa kesediaan melayani itulah yang membuat persekutuan menjadi indah dan bermakna dan kerajaan Allah benar dirasakan oleh siapapun yang bersama kita.
Penutup
Kesederhanaan hati, mengalahkan egoisme diri, dan hanya demi kemuliaan Tuhan adalah motivasi terkuat yang memelihara kehidupan persekutuan orang percaya menjadi seperti Kristus. Itu berarti melayani dengan kesungguhan, tanpa motivasi ingin menjadi besar dan mulia untuk diri sendiri serta bersedia menderita karena pilihan mengikuti Tuhan Yesus menjadi jawaban kita atas panggilan Tuhan : “Siapkah engkau mengikuti jalan salib itu, peduli, siap berkorban dan memberi, dan mencari keuntungan diri dalam persekutuan milik Tuhan Yesus ini?”. Amin. (LUV)
Pujian: KJ. 85 : 5 Kusongsong Bagaimana
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Pilihan pangarsaning praja utawi kepala daerah sacara langsung sampun kita alami wiwit zaman reformasi 20 taun kapengker. Senaosa wonten ing dusun-dusun sampun dangu wonten pilihan kepala desa, nanging ing pemerintahan negari inggih nembe zamanipun pak SBY lan pak JK ingkang kapilih rakyat sacara langsung mboten srana perwakilan kados zaman sakderengipun. Pesta demokrasi punika merlokaken biaya ingkang ageng lan ugi pirantos ingkang ugi kathah. Ananging tetep wonten kemawon paraga ingkang kepingin dados pemimpin wiwit saking daerah lan ugi wonten ing pusat. Panguwaos lan jabatan punika pancen ingkang dados daya tarik, lan punika tetep wonten ing sedaya zaman. Krana pancen kalih prekawis punika ingkang dados inceran tiyang ingkang kasdu kepengin gesang mukti wibawa, lan pinanggih tentrem lair lan batos. Mila punika panguwaos punika dados komoditi utawi barang ingkang aji lan laris wonten ing pundi pundi panggenan lan zaman, krana cocok klayan manungsa kanthi sedaya kepentingan dhirinipun.
Isi
Para sekabatipun Gusti Yesus ugi mboten uwal saking kepentingan dhiri punika, ingkang wonten kitab suci kaserat minangka kamulyan sesarengan Gusti. Yakobus lan Yokanan putranipun Zebedeus tetela nyuwun Gusti Yesus minangkani panyuwun sacara gamblang lan wijang (Markus 10:35, 37) bilih kekalihipun dados panguwaos ingkang sesarengan Gusti wonten ing kamulyan ing tembe mangke. Malah ugi kaserat ing Injil Matius 20:20, Ibunipun Yakobus lan Yokanan kasuwun mbiyantu nyuwun bab punika dhateng Gusti Yesus.
Estunipun ambisi punika netral, nanging saged dados positif utawi negatif. Ing waosan kita punika dados negatif krana Yokanan lan Yakobus ngrumiyini para sekabat sanesipun lan malah ngginakaken Ibu nipun supados Gusti Yesus minangkani punapa ingkang dados gegayuhan, dados panguwaos ingkang mulya sesarengan klayan Gusti. Punika ingkang njalari sedasa sekabatipun Gusti Yesus inggih muntab nepsunipun, krana kedhisikan, senaosa sejatosipun ugi kepengin panguwaos kados ingkang kasuwun dening Yokanan lan Yakobus (Markus 10:41). Punapa ingkang dipuntindakaken Yokanan lan Yakobus punika sampun ngganggu pasedherekan lan patunggilanipun para murid ingkang sampun kalampahan sae sakderengipun. Lan punika ugi sampun kaganggu dening lelampahan sakderengipun (Markus 9:34), nalika para sekabat sami rebutan sinten ingkang paling mulya wonten ing kraton swarga. Sakmangke tambah congkrah malih gara-gara ambisi panguwaos Yakobus lan Yokanan punika. Cetha bilih ambisi ingkang namung kangge diri pribadi punika damel cecongkrahan lan pasulayan wonten ing patunggilanipun para sekabatipun Gusti Yesus. Krana punika Gusti Yesus paring dhawuh dhateng sedaya sakabat ing Markus 10:42-45. Bilih sing sapa kang kepengin dados pengarep kudu dadi batur lan siyaga leladi kangge sedaya. Ambisi negatif ingkang ngarah dhateng kamulyaning diri punika ngrisak patunggilan ing pundi kemawon lan punika malah dipun wiwiti dening para sakabatipun Gusti Yesus.
Bapa Gereja Calvin nelakaken bilih carios punika minangka kaca brenggala ingkang cetha wela-wela saking muspraning manungsa. Semangat ingkang leres lan suci asring kinanthenan sifat jahat saking kadagingan, temahan pandherekipun Gusti Yesus nggadhahi tujuan ingkang slenca klayan ingkang sakleresipun. Kita sedaya minangka kagunganipun, inggih patunggilanipun Gusti Yesus nggadhahi resiko sami klayan punapa ingkang kalampahan ing Yokanan lan Yakobus. Pituturipun Gusti Yesus cetha wonten ing Markus 10:38 : Kowe ora mangerti apa kang kok suwun… lsp. Dene tiyang kekalih Yokanan lan Yakobus paring wangsulan ing ayat 39: Inggih sagah … dipun tegesi Gusti kanthi pangandika: “Pancèn, kowé bakal padha ngombé saka ing tuwung kasangsaran sing bakal Dakombé, lan kowé bakal ngalami kasangsaran sing bakal Dakalami, …”
Gusti Yesus nelakaken bilih margining kamulyan punika lumantar kasangsaran, punapa pancen para murid kalebet kita ugi sampun siyaga lan cumadhang ndherek Gusti lan ngadhepi kasangsaran, dados batur kadosdene sang Mesias ingkang dipunaniaya lan seda senaosa mboten damel pakaryan awon? Wangsulan: inggih kula sagah punika keyakinan para sekabat ingkang kumawantun lan jumawa. Ing nalika Gusti Yesus dipun tangkep para pasukan Romawi, sedaya mlajeng (Matius 26:56). Malah ugi saged kabandhingaken klayan Petrus ingkang yakin tetep setya dhateng Gusti Yesus nanging malah nyelaki Gusti. (Markus 14:31 lan Markus 14:71-72)
Wonten ing sasi ekumene punika, mangga kita nahan diri saking ambisi negatif egois kita. Kados dene migunakaken tiyang sanes kangge kepentingan kita, langkung-langkung ngurbanaken tiyang sanes namung kangge kauntungan sarta kamulyan kita pribadi, lan punika asring lumampah ing gesang nyata. Kamulyan sejati sanes soal panguwaos kadonyan utawi prestasi inggil (Matius 10:42), nanging niating manah kangge gesang lan lelados kagem Gusti sarta asung piguna dhateng sesami kagunganipun Gusti ing jagad lah ugi patunggilaning para pitados. Minangka Imam agung sejati Gusti Yesus sanes namung ngaturaken kurban panebusing dosa, nanging Panjenenganipun piyambak punika kurban panebusan tumrap sedaya manungsa lantaran margining kasangsaran lan kanisthan sarta seda ingkang dipunalami dening Gusti Yesus. Mila timbalanipun kangge kita sedaya inggih wonten ing patunggilan sesarengan punika kita lelados lan sumadya ing ayahan ingkang njalari patunggilan dados endah lan karaosaken bilih kratoning swarga punika dumados ing gesang dening sok sintena kemawon ingkang sesarengan klayan kita.
Panutup
Gesang prasaja, ngawonaken egoisme dhiri, lan gesang namung kagem kamulyanipun Gusti minangka kekiyatan kita nggulawenthah gesanging patunggilan para pitados kados dene tuladhanipun Gusti Yesus. Inggih punika leladi kanthi tumemen tanpa niatan gesang luhur kangge pribadi, lan sumadya ndherek ing kasangsaran lumampah ing margining salib: asung kawigatosan mring sesami, siyaga dhemen weweh, lan mboten ngupados kauntungan pribadhi ing patunggilan kagunganipun Gusti Yesus punika. Amin. (LUV).
Pamuji: KPJ. 352 : 1, 2 Santosaning Tetunggilan