Khotbah Minggu 17 Juli 2016

PEKAN WANITA GKJW
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1         : Kejadian 18: 1-15.
Bacaan 2         : Kolose 1 : 15-29.
Bacaan 3         : Lukas 10 : 38-42.

Tema Liturgis  : Memiliki Hati Yang Melayani.
Tema Khotbah: Melayani Dengan Hati Legawa.

 

Keterangan Bacaan.

Kejadian 18: 1-15

Pohon terbatin (“pohon benar”) merupakan pohon keramat dari tempat suci Kanaan di Hebron. Sepanjang beberapa abad pohon tarbantin telah diidentifikasi sebagai sudah ada sejak zaman leluhur. Tuhan menampakkan diri. Sekalipun Abraham tidak langsung mengenali sang pengunjung surgawi itu sebagai Tuhan, segera jelas baginya bahwa pengunjung utama dari tiga utusan itu adalah Yehovah sendiri. Dia adalah “malaikat Tuhan” yang telah berkali-kali menampakkan diri di dalam Kitab Kejadian.

Abraham ternyata sangat ramah. Dia melakukan segala sesuatu yang dituntut oleh adat Timur untuk para tamunya. Perilakunya memenuhi semua ketentuan. Dia mempersiapkan sebuah sambutan megah bagi para pengunjung surgawi tersebut. Dia mengundang mereka untuk duduk dan beristirahat sementara hidangan dipersiapkan. Baik duduk maupun makanan yang disediakan akan memberikan “istirahat.”

Abraham, Sara dan seorang bujangnya, dengan cepat bekerja untuk memberi makan tamu-tamu mereka. Anak lembu jarang sekali dihidangkan sehingga merupakan makanan mewah tambahan yang disajikan kepada tamu yang terhormat ini.

Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki ketika masanya tiba lagi (pada waktu yang telah ditetapkan). Peristiwa yang membahagiakan itu hanya tinggal setahun saja. Allah tidak melupakan janji-Nya tetapi tetap bekerja untuk menggenapinya.  Sara tertawa mengingat ketidakmungkinan dirinya mengandung lagi. Dia menggambarkan dirinya sebagai, “sudah kadaluwarsa,” “usang,” “siap untuk terkoyak seperti gaun tua.” Dia ingat bahwa Abraham juga sudah lanjut usia dan melampaui usia untuk menjadi ayah. Sabda ilahi meyakinkan Sara dan Abraham bahwa tidak ada yang mustahil (harfiah, ajaib) untuk Tuhan.

 

Kolose 1: 15-29

Dalam pokok diskusi mengenai peranan Kristus dalam rencana keselamatan Allah, penulis surat Kolose manambahkan suatu kelompok bahan pujian mengenai Kristus. Kristus dipuji sebagai citra atau gambaran Allah yang kelihatan. Ia memanifestasikan kehadiran Allah dalam diriNya. Ia disebut sebagai yang sulung, karena Ia ada sebelum segala ciptaan dan paling unggul dari segala makhluk.

Pandangan bahwa Kristus adalah kepala dari tubuh, yaitu jemaat, merupakan pengembangan konsep tubuh Kristus. Kepala menunjuk peranan Kristus sebagai pemimpin jemaat, bahkan alam semesta.

Kristus adalah titik tolak penebusan. Dialah yang pertama mengalami kebangkitan hidup. Karenanya, Dialah yang sulung dari antara orang mati. Dialah yang terunggul dari segala sesuatu bahkan dalam seluruh kepenuhan kehadiran Allah yang berkenan tinggal di dalam diriNya untuk memulihkan segala sesuatu melalui Dia dan bagi Dia.

 

Lukas 10: 38-42

Dilihat dari cerita orang Samaria, Marta tentunya akan dipuji karena pelayannya yang praktis kepada Yesus. Nyatanya, tindakannya tidaklah dipuji maupun diremehkan, tetapi dia ditantang untuk meninjau prioritasnya. Seluruh Injil tidak hanya berisi mengenai pelayanan kasih terhadap orang lain, tidak peduli bagaimanapun pentingnya. Pemuridan Kristen pertama-tama dan terutama adalah keterikatan pribadi dengan Yesus. Harus ada waktu untuk mendengarkan sabdaNya. Bakti kepada Yesus dituntut. Hubungan ini memperlihatkan diri dalam pelayanan kasih, tetapi tanpa doa, perhatian kebutuhan orang lain dapat bukan kasih.

Perumpamaan orang Samaria yang baik hati dan cerita mengenai Marta dan Maria diamksudkan untuk memberi ilustrasi perintah ganda dalam urutan yang terbalik: tindakan orang Samaria menekankan kasih kepada sesama, tindakan Maria menekankan kasih kepada Tuhan.

 

Benang Merah Tiga Bacaan

Pelayanan kepada Tuhan sebagai yang terutama harus dilakukan dengan sepenuh hati, tanpa kekuatiran, dengan memperhatikan sabdaNya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Setiap orang yang sedang berkunjung ke suatu rumah tangga pasti suka jika diberi suguhan (minuman atau makanan). Sekalipun senang jika disuguhi, tetapi -bagi sebagian orang- jika tidak disuguhi sebenarnya juga tidak apa-apa. Tentu tidaklah menyenangkan jika kita sedang mengunjungi keluarga tertentu dan ingin berbincang-bincang dengan keluarga itu, tetapi salah satu anggota keluarga itu (suami atau istri) sibuk saja menyiapkan bermacam-macam suguhan untuk kita, walaupun dengan maksud untuk menyenangkan kita. Lebih tidak menyenangkan lagi jika dia yang sibuk menyiapkan suguhan itu melakukan pelayanan dengan keluhan. Rasanya lebih baik jika kita tidak usah disuguhi, cukup disediai air minum dan mungkin sedikit jajanan… Lebih baik jika dia berbincang-bincang saja dengan kita.

 

Isi

Begitulah kira-kira gambaran apa yang sedang terjadi dalam perkunjungan Tuhan Yesus bersama para muridNya di keluarga Marta. Tuhan Yesus tentu ingin berbicara dengan seluruh anggota keluarga itu, yakni baik Maria maupun Marta. Tetapi Marta sibuk menyiapkan suguhan bagi Tuhan Yesus dan murid-muridNya. Hanya Maria yang duduk mendengarkan Tuhan Yesus berbicara.

Begitu pula dengan yang dialami oleh Abraham. TUHAN melalui 3 malaekatNya mengunjungi Abraham. Atas permintaan Abraham, Sara sibuk menyiapkan suguhan bagi para tamu itu.

Tuhan Yesus sebenarnya tidak mempermasalahkan Marta yang sibuk menyiapkan suguhan itu. Tuhan Yesus tidak menyuruh Marta berhenti menyibukkan diri dengan kegiatannya itu supaya dia duduk mendengarkan Dia saja. Jadi, Tuhan Yesus sebenarnya tidak keberatan atas apa yang dilakukan Marta, yaitu menyiapkan suguhan bagiNya dan para murid. Minuman dan makanan yang sedang disiapkan oleh Marta untuk disuguhkan bagiNya itu memang juga menjadi kebutuhan Tuhan Yesus dan para murid. Pelayanan itu memang juga dibutuhkan. Tetapi Tuhan Yesus datang ke rumah Marta bukan untuk mendapatkan pelayanan jasmani itu. Dia ingin berbicara dengan Marta dan Maria. Dia justru ingin melayani mereka, karena kemanapun Dia pergi dan di manapun Dia berada adalah untuk melakukan pelayanan.

Kemudian Tuhan Yesus menegor Marta dengan kesibukan pelayanannya itu, ketika Marta menyalahkan Maria yang duduk di dekat kaki Tuhan Yesus dan hanya diam mendengarkan Dia berbicara, tanpa peduli dengan kesibukan Marta. Tuhan Yesus menegor Marta karena dia melakukan pelayanan itu tidak dengan hati yang legawa (tenang, bahagia, tulus, gembira). Marta melakukan pelayanan itu dengan  kekuatiran dan keluhan. Mungkin dia kuatir kalau suguhannya itu terlambat karena tidak dibantu oleh Maria. Mungkin dia kuatir kalau suguhannya itu tidak menyenangkan dan tidak memuaskan Tuhan Yesus dan para muridNya. Padahal, Tuhan Yesus tidak pernah mencari kepuasan atau kesenangan, dan mengajarkan itu kepada para muridNya.

Karena kekuatirannya itu, Marta mengeluhkan sikap Maria. Bahkan keluhannya itu bukan hanya ditujukan pada sikap Maria, tetapi juga kepada Tuhan Yesus. Sebab, Tuhan Yesus membiarkan Marta melakukan pelayanan itu sendirian, sementara Maria hanya duduk diam di dekat kaki Tuhan. Marta mengeluhkan Tuhan Yesus yang dianggap tidak peduli kepadanya, tidak peduli bahwa Marta sibuk sendirian, tidak peduli bahwa Maria diam tidak membantu pelayanannya. Marta melakukan pelayanan yang baik, tetapi hatinya gelisah, susah dan tidak bahagia. Karena itu, kegiatan pelayanannya yang bagus itu menjadi tidak berharga, tidak menyenangkan yang dilayani, tidak menyenangkan Marta sendiri yang melakukannya.

Sebaliknya Maria. Dia nampak damai tentram mendengarkan Tuhan Yesus berbicara. Bagi Maria, setiap kata  yang diucapkan Tuhan Yesus itu sangat berharga dan penting untuk didengarkan dengan seksama, sayang untuk dilewatkan dan tidak patut untuk diremehkan. Karena itu, dia duduk bersimpuh di dekat kaki Tuhan Yesus. Kata-kata Tuhan Yesus itu harusnya menjadi dasar segala kegiatan pelayanan kepada siapapun. Dengan dasar kata-kata Tuhan Yesus, pelayanan dapat dilakukan dengan hati yang legawa. Agaknya Marta meremehkan kata-kata Tuhan Yesus.

Begitu juga Sara, isteri Abraham, yang mendengarkan pembicaraan para malaekat dengan Abraham. Para malaekat itu menyampaikan kabar gembira yang sulit diterima oleh Abraham dan Sara, yaitu bahwa setahun lagi Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham. Sara menertawakan kabar baik itu, sebab dia sudah menopause. Dia meremehkan firman Tuhan yang disampaikan oleh para malaekat itu.

Sering terjadi dalam pelayanan ibadah di rumah-rumah atau juga di gereja, orang sangat sibuk dan berlelah-lelah menyiapkan suguhan dan perlengkapan. Tetapi ketika ibadah itu dilayankan, warga yang sibuk melakukan persiapan itu kemudian malah tidak memperhatikan pelayanan ibadahnya, tidak mendengarkan firman Tuhan dengan seksama, hati dan pikirannya berada pada apa yang telah/ sedang disiapkan. Tuhan yang berada dalam ibadah itu menginginkan semuanya, lebih-lebih tuan rumah, memperhatikan pelayanan ibadah itu sepenuhnya.

 

Penutup

Banyak orang yang aktif dan sibuk melakukan pelayanan di gereja, apalagi kaum wanita. Perempuan adalah kategori yang paling aktif dan melakukan banyak kegiatan pelayanan gerejawi. Tetapi apakah kegiatan-kegiatan pelayanan itu selalu dilakukan dengan hati yang legawa? Apakah semua yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan pelayanan itu melakukannya dengan hati yang legawa? Harusnya kita semua melakukan segala kegiatan pelayanan tidak dengan sikap seperti yang dimiliki oleh Marta. Mari kita lakukan semua kegiatan pelayanan dengan hati yang legawa, tanpa kekuatiran dan keluhan. Jangan mengeluhkan mereka yang tidak aktif, yang tidak membantu kita! Jangan biarkan diri kita bersikap yang menyebabkan orang lain melakukan pelayanan dengan keluhan! Kita semua, pria dan wanita harus saling membantu dalam segala pelayanan karya Tuhan.

Kita lakukan semuanya dengan dasar firman Tuhan dan hubungan yang erat dengan Tuhan. Karena itu, jangan hanya sibuk melakukan kegiatan pelayanan dan melupakan renungan firman Tuhan dan doa kepadaNya. Jangan sampai perenungan kita akan firman Tuhan dan doa kita dikalahkan oleh kesibukan kita, bahkan sekalipun kesibukan dalam kegiatan pelayanan pekerjaan Tuhan. Perenungan akan firman Tuhan dan doa itulah yang bisa membuat kita melakukan pelayanan dengan sepenuh hati dan menyenangkan semua orang, termasuk diri kita sendiri. [st]

 

Nyanyian: KJ 320: 2 (2x).

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Bebuka

Saben tiyang ingkang saweg mertamu dhateng kulawarga mesthi remen menawi dipun aturi segahan unjukan utawi jajanan. Nadyan remen dipun segahi, nanging –tumrap sawatawis tiyang- menawi boten dipun segahi menapa-menapa nggih boten dados menapa. Tamtu boten ngremenaken menawi saweg mertamu utawi nyambangi kulawarga lan kepengin wawan pangandika, nanging salah satunggal peranganing brayat menika (semahipun) namung repot (sibuk) kemawon nyawisaken warni-warni segahan kangge kita, nadyan klayan sedya mbingahaken kita. Langkung ngremenaken malih menawi piyambakipun repot nyawisaken segahan menika kanthi ngedumel sesambat. Raosipun langkung sae menawi kita boten sisah dipun segahi menapa-menapa, cekap dipun segahi toya lan…jajan sekedhik… Langkung sae menawi piyambakipun rembagan sesarengan kemawon.

 

Isi

Mekaten kinten-kinten gegambaran bab menapa ingkang saweg kelampahan nalika Gusti Yesus lan para sekabat mertamu tetuwi dhateng brayatipun Marta. Gusti Yesus tamtu ngersakaken wawan pangandika lan rerembagan kaliyan brayat menika sakukuban, nggih menika dadosa Maryam lan Marta. Nanging marta repot nyawisaken segahan kagem Gusti Yesus lan para sekabata. Namung Maryam ingkang lenggah mirengaken Gusti Yesus ngandika.

Mekaten ugi ingkang dipun alami dening Bapa Abraham. Yehuwah lumantar malaekatipun tiga nuweni brayatipun Bapa Abraham. Atas panyuwunipun Abraham, Sara dados repot nyawisaken segahan kagem para tamu menika.

Sejatosipun Gusti Yesus boten mempermasalahkan Marta menika repot nyawisaken segahan. Gusti Yesus boten mrentahaken Marta supados kendel saking anggenipun repot-repot. Gusti Yesus boten mrentahaken supados Marta nilaraken karepotanipun menika lan lenggah kemawon rerembagan kaliyan Panjenenganipun. Dados Gusti Yesus boten kawratan atas menapa ingkang katindakaken dening Marta, nggih menika nyawisaken segahan kagem Gusti Yesus lan para sekabata. Unjukan lan tetedhan ingkang kacawisaken dening Marta menika pancen ugi dados kabetahanipun Gusti Yesus lan para sekabat. Paladosan menika pancen dipun betahaken. Nanging Gusti Yesus rawuh tetuwi dhateng dalemipun Marta sanes supados pikantuk paladosan jasmani menika. Panjenenganipun ngersakaken wawan pangandika kaliyan Marta lan Maryam. Panjenenganipun malah arsa ngladosi wanita kekalih menika, awit pancen tetela bilih dhateng pundia purugipun lan ing pundia Gusti Yesus mapan, Panjenenganipun nindakaken paladosan.

Tumunten Gusti Yesus melehaken Marta saking karepotan paladosanipun, nalika piyambakipun nutuh utawi nglepataken Maryam ingkang namung lenggah cecaketan ampeyanipun Gusti Yesus lan namung mendel mirengaken Gusti Yesus ngandika, tanpa perduli dhateng karepotanipun Marta. Gusti Yesus melehaken Marta karana piyambakipun nindakaken paladosan menika boten kanthi legawaning manah, boten kanthi ayem, tulus lan bingahing manah. Piyambakipun nindakaken paladosan menika kanthi raos kuwatos lan panggrundel. Mbokbilih piyambakipun kuwatos menawi segahanipun kagem Gusti Yesus lan para sekabat menika telat amargi boten dipun biyantu dening Maryam. Mbokbilih piyambakipun kuwatos menawi segahanipun menika boten ngremenaken lan boten maremaken Gusti Yesus lan para sekabat. Kamangka, Gusti Yesus boten nate pados karemenan utawi pemarem (kanikmatan), lan menika dipun wulangaken dhateng para muridnipun.

Karana raos kuwatosipun menika, lajeng Marta nggrundel nuntuh dhateng tumindakipun Maryam. Malah piyambakipun boten namung nutuh Maryam, nanging ugi dhumateng Gusti Yesus. Amargi Gusti Yesus ngendelaken Marta nindakaken repoting paladosan menika piyambakan, dene Maryam namung kendel lenggahan celak ampeyanipun Gusti Yesus. Marta nutuh Gusti Yesus karana kaanggep Panjenenganipun boten perduli dhateng piyambakipun, boten perduli dhateng Marta ingkang repot piyambakan, boten perduli bilih Maryam kendel boten mbiyantu karepotanipun Marta. Sejatosipun Marta nindakaken paladosan ingkang sae, nanging manahipun gregeten, sisah lan boten bingah. Pramila, kegiatan paladosan ingkang sae menika dados boten aji, boten ngremenaken ingkang dipun ladosi, ugi boten ngremenaken manahipun Marta piyambak.

Kosokwangsulipun Maryam. Piyambakipun katingal ayem tentrem mirengaken sabdanipun Gusti Yesus. Ketingalipun miturut Maryam, saben tembung ingkang kaucapaken dening Gusti Yesus menika aji lan wigatos sanget. Pramila kedah kapirengaken kanthi tumemen. Eman sanget menawi boten dipun pirengaken, sarta boten patut dipun remehaken. Pramila saking menika, Maryam lenggah nglempoh celak ampeyanipun Gusti Yesus. Dhawuh-dhawuhipun Gusti Yesus menika kedahipun dados tetales tumrap sedaya kegiatan paladosan dhateng sintena kemawon. Kanthi dhasar dhawuhipun Gusti Yesus sedaya paladosan saged kelampahan kanthi legawaning manah. Semunipun Marta ngremehaken dhawuh pangandikanipun Gusti Yesus.

Mekaten ugi Sara, garwanipun Rama Abraham, ingkang mirengaken pirembaganipun para malaekat kaliyan Abraham. Para malaekat menika ngabaraken pawartos kabingahan ingkang ewet dipun mangertosi dening Abraham lan Sara, nggih menika bilih setaun malih Sara badhe mbabaraken putra kakung kagem Abraham. Sara nggegujeng pawartos menika, awit piyambakipun sampun menopause. Piyambakipun ngremehaken dhawuhipun Yehuwah ingkang kaucapaken dening malaekat menika.

Asring kelampahan ing paladosan pangibadah ing griya-griya utawi ugi ing greja, tiyang repot sanget nyawisaken segahan lan sedaya ube rampe. Nanging sareng pangibadah menika katindakaken, warga ingkang repot cecawis menika malah boten nggatosaken paladosan pangibadahipun, boten mirengaken sabdanipun Gusti kanthi tumemen, manah lan pikiranipun tumuju dhateng menapa ingkang sampun/ saweg kacawisaken. Gusti ingkang dedalem wonten ing salebeting pangibadah menika ngersakaken sedayanipun, langkung-langkung ingkang kagungan dalem, nggatosaken paladosan pangibadah menika sawetahipun.

 

Penutup

Kathah tiyang ingkang sregep sanget lan sibuk nindakaken paladosan ing greja, langkung-langkung para wanita. Para wanita menika golongan ingkang paling sregep lan nindakaken kathah kegiatan paladosan greja. Nanging menapa kegiatan-kegiatan paladosan greja menika tansah katindakaken kanthi legawaning manah? Menapa sedaya ingkang nindakaken paladosan menika nindakaken paladosan menika kanthi legawaning manah?

Kedahipun kita sedaya nindakaken sedaya kegiatan paladosan boten kanthi sikap lan patrap kados Marta ing inggil. Sumangga sedayanipun kita tindakaken kanthi legawaning manah, tanpa raos sumelang lan panggrundel! Sampun nutuh (mengeluhkan) tiyang sanes ingkang boten sregep, ingkang sabiyantu dhateng kita. Sampun ngantos ugi patrap kita njalari tiyang sanes nindakaken paladosan kanthi panggrundel. Kita sedaya, pria lan wanita, kedah sangkul-sinangkul ing bot repot nindakaken sedaya paladosan pakaryanipun Gusti.

Kita tindakaken sedaya kanthi dhasar sabdanipun Gusti lan sesambetan raket kaliyan Gusti. Ingkang menika, sampun namung sibuk kemawon nindakaken paladosan lan nglirwakaken perenungan sabdanipun Gusti lan ndedonga. Sampun ngantos perenungan kita tumrap sabdanipun Gusti lan pandonga kita kawon kaliyan karepotan kita, nadyan karepotan kita saweg nindakaken paladosan pakaryanipun Gusti! Perenungan kita ing sabdanipun Gusti lan pandonga menika ingkang ndamel kita saged nindakaken paladosan kanthi legawaning manah lan ngremenakan sedaya tiyang, lan ngeremenaken manah kita piyambak. [st]

 

Nyanyian: KPK 23: 1 (2x).

 

Bagikan Entri Ini: