Khotbah Minggu 23 Oktober 2016

PEKAN PEMUDA
STOLA PUTIH

 

Bacaan 1  : Yeremia 14:7-10, 19-22
Bacaan 2  : 2 Timotius 4:6-8, 16-18
Bacaan 3  : Lukas 18:9-14

Tema Liturgis              : Pemuda Yang Bersukacita Menjadi Pilar Iman
Tema Khotbah             : Menjadi Pemuda yang Berarti Juga Rendah Hati.

 

Keterangan Bacaan

Yeremia 14:7-10, 19-22
Perikop ini berisi doa syafaat Yeremia mewakili umat Yehuda dan jawab Allah terhadap doa tersebut. Bencana kekeringan yang luar biasa terjadi sekitar tahun 587 sM. Kota, tanah pertanian, pegunungan, manusia, hewan, orang besar, rakyat jelata, semua menanggung akibat parah kekeringan tersebut. Meski setelah mendengar ancaman kekeringan berat inipun, Yehuda tetap saja mengeraskan hati. Andaikan Yehuda mengakui dosa-dosa mereka dan memohon ampunan tentu mereka akan beroleh belas kasihan Allah. Oleh karena mereka tidak melakukan itu, Yeremia bertindak mewakili bangsanya mengakui dosa, memohon ampun, bersyafaat ( ayat 7-9). Namun pertobatan harus datang dari keinsyafan orang yang bersangkutan. Tidak dapat diwakilkan. Karena itu Allah melarang Yeremia mendoakan bangsanya (ayat 11-12).

2 Timotius 4:6-8, 16-18
Kesaksian yang penuh perasaan dan keyakinan ini membahas sekilas pokok-pokok utama yang ingin dikemukakan Paulus kepada Timotius: keyakinan akan kasih karunia Kristus; kesetiaan di dalam menyebarkan iman kepada orang lain, dan pengandalan yang kokoh akan pengharapan yang tersedia.  Ayat 6 “Darahku sudah mulai dicurahkan, kematianku sudah dekat.” Paulus sendang berpikir mengenai kematiannya yang sudah dekat sebagai sebuah kurban persembahan. Seluruh hidup Paulus diyakininya sebagai bentuk kurban yang dipersembahkan. Kini, kematiannya akan meyempurnakan kurban yang dipersembahkan tersebut. Ayat 7 “pertandingan” juga diterjemahkan sebagai ‘pergumulan’, ‘perlombaan’. Kata ‘pertandingan’ bisa berarti sebuah putaran dalam sebuah pertandingan. ‘memelihara’ yang dimaksudkan bukan hanya melindungi, tetapi juga mempelajari dan melakukannya. Bagi seorang percaya bertahan dan setia dalam iman sampai mati merupakan suatu kemenangan kasih karunia. Berhadapan dengan kematian tidak membuat Paulus menjadi susah hatinya, justru menjadi makin kokoh keyakinannya. Makin besar pencobaan yang dialami, makin cemerlang pula janji kemenangan itu bersinar.

Lukas 18:9-14
Orang Farisi menganggap dirinya benar. Orang seperti itu memikirkan bahwa mereka itu benar karena usaha mereka sendiri. Mereka tidak sadar akan perangainya yang berdosa, ketidaklayakan diri mereka dan bahwa mereka terus menerus membutuhkan pertolongan, rahmat, dan kasih karunia Allah. Karena tindakan-tindakan kealiman dan kebaikan lahiriah yang luar biasa, mereka menyangka bahwa mereka tidak memerlukan kasih karunia Allah.

Sebaliknya, pemungut cukai itu betul-betul menyadari dosa dan kesalahannya, dan dengan sikap pertobatan yang sejati, ia berpaling dari dosa kepada Allah untuk memperoleh pengampunan dan rahmat. Ia melambangkan anak Tuhan yang sejati.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kesadaran bahwa manusia itu lemah, pada akhirnya menjadikan manusia bergantung pada Tuhan. Semakin manusia menyadari keterbatasannya, semakin terbuka hatinya untuk merespons rahmat Ilahi, yang menjadikannya kuat. Mengeraskan hati sama halnya menutupi adanya pertolongan. Karenanya dibutuhkan semangat mengakui kekurangan kita di hadapan Allah. Orang yang mengakui keterbatasannya, sejatinya tidak pernah takut dalam situasi apapun. Tetapi orang yang mengeraskan hati tidak akan pernah melihat bahwa ada celah kekurangan dalam dirinya.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Di GKJW, sudah menjadi hal yang lumrah dalam menetapkan utusan-utusan jemaat kepada suatu pertemuan, atau penugasan tertentu dari gereja, biasanya mempertimbangkan unsur pemuda dan juga perempuan. Salah satu pertimbangan itu juga tercantum dalam buku Tata dan Pranata GKJW, misalnya: dalam Pranata tentang majelis-majelis Bab III, Pasal 8, ayat 1, dalam hal menentukan utusan jemaat menjadi anggota Majelis Daerah di bagian memori penjelasan menyebutkan: “perlu diperhatikan unsur wanita, pemuda”. Itu artinya, bahwa keberadaan pemuda dan wanita saat pengambilan keputusan dalam hidup bergereja adalah hal yang penting. Mengapa? (beri kesempatan warga jemaat untuk menjawab).

Jemaat yang dikasihi Tuhan, Sebuah keputusan organisasi akan menjadi keputusan yang berkualitas, diterima oleh banyak pihak, jika keputusan itu tidak didominasi oleh pemikiran dan keputusan seseorang atau sekelompok orang, atau sekelompok generasi tertentu lalu ‘dipaksakan’, tetapi merupakan keputusan bersama yang lahir dari buah pikiran matang dari berbagai stakeholder (pemegang tongkat) organisasi itu sendiri. Demikian pula hidup bergereja, keputusan yang ada dalam hidup bergereja, meskipun ide dasarnya dari seseorang, namun jika disepakati oleh banyak pihak, diyakini keputusan itu adalah keputusan yang berkwalitas.

Demikian gereja (GKJW), dalam Pranatanya menyebutkan bahwa keberadaan pemuda dan wanita perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan, sebab pemuda dan wanita juga adalah bagian integral (kesatuan) dari tubuh Kristus yang bernama gereja. Misalnya saja, kebutuhan, keinginan dan kreatifitas pemuda tidak dapat ‘hanya’ diwakilkan atau diwakili satu kelompok generasi, sebab pada saatnya mereka juga akan melanjutkan estafet pelayanan itu sendiri. Maka dari itu, di samping gereja ‘memberi tempat’, pemuda juga perlu ‘mengambil tempat’. Tentu peranan ‘mengambil tempat’ ini bukan didasari ambisi dan kesombongan, tetapi dengan semangat kesadaran dan penuh sukacita di dalam pelayanan.

 

Isi

  1. Tuhan tidak menghendaki, bahwa segala sesuatu dapat diwakilkan. Dalam bacaan pertama, Tuhan juga tidak menghendaki Yeremia mewakili mendoakan bangsanya, memohon pengampunan Allah, sementara Yehuda tetap mengeraskan hatinya, melakukan dosa, dan tidak mau berbalik kepada Allah (Yer 14:11-12). Nasib pemuda juga tidak dapat diwakilkan atau diwakili begitu saja. Nasib pemuda harus diraih, diperjuangkan, dan dihidupi. Sementara meraih dan memperjuangkan, pemuda juga pantang ‘mutung’, mengeraskan hati, menghindar, menjauh, dan lalu menghilang. Apa gunanya? Apakah masalah selesai? Tentu tidak, yang ada justru malah kekecewaan dan luka batin, sakit hati permanen! Buat apa, tidak ada untungnya. Justru kita mendekat kepada Tuhan, dalam doa, harapan dan perjuangan kita. “Omah gentheng saponana, abot entheng lakonana.”
  1. Injil Lukas (bacaan ketiga) menegaskan, ada dua elemen dasar yang sebaiknya ada dalam doa-doa kita. Pertama, adalah kegigihan (Lukas 18:1-8) tentang kisah seorang janda yang meminta pembelaan atas haknya kepada hakim yang tidak mengenal Allah. Yang kedua adalah rasa penyesalan, yang didasarkan pada sikap kerendahan hati dan pertobatan (Lukas 18:9-14).
  1. Kedua hal itu perlu ada dalam doa-doa kita karena demikianlah seharusnya cara kita mendekat kepada Allah. Di satu sisi kita berdoa dengan gigih dan tidak jemu-jemu agar kuasa Allah dan keadilanNya dinyatakan. Di sisi lain, kita datang dengan kesadaran akan siapa diri kita di hadapan Allah. Dalam hal ini Yesus menyoroti sikap orang Farisi yang begitu yakin akan kebenaran dirinya dan memandang rendah orang lain. Apa yang salah dengan sikap semacam ini? Orang semacam ini rupanya lebih percaya pada kemampuannya sendiri daripada percaya kepada Allah.
  1. Lihat saja, bagaimana ia melaporkan kepada Allah mengenai semua kewajiban agama yang telah dia laksanakan dengan begitu baiknya (ayat 11-12). Seolah-olah keberadaanya menjadi berkat bagi Allah, bukan sebaliknya bahwa keberadaan Allah yang semestinya menjadi berkat bagi manusia. Sehingga Nampak di sini tidak tersirat sedikit pun kebutuhannya akan Allah. Tampaknya ia merasa sebagai orang yang layak untuk berdiri di hadapan Allah karena semua kebaikan yang telah dibuatnya.
  1. Berbeda dengan pemungut cukai. Ia menyadari keberadaan dirinya sebagai orang berdosa, yang sesungguhnya tak layak menghadap Allah (ayat 13). Namun demikian, orang semacam ini, yang dianggap tak layak oleh orang-orang di sekitarnya, disambut di dalam Kerajaan Allah (ayat 14).

Penutup

Mari menghadapi hidup seperti Paulus dalam suratnya kepada Timotius (bacaan ke dua). Hidup ini sebuah pertandingan. Kalah menang itu biasa, gagal berhasil itu juga biasa. Tetapi sebuah pertandingan, mengisyaratkan kesetiaan. Kesetiaan hingga garis finish, jika perlombaan itu sebuah putaran. Kesetiaan hingga waktunya habis, jika perlombaan itu dibatasi waktu. Tidak pernah menyerah sebelum saatnya selesai. Kehidupan iman juga tidak bisa ‘nanggung’. Butuh perjuangan, tidak gampang ‘mutung’. Sampai tamat, selesai cerita hidup, kita dipanggilnya. Orang yang tidak nanggung, akan menghadapi kematiannya dengan sukacita, perjuangan dan kesetiannya terbayar. Banyak hal baik dilakukannya, kesetiaannya teruji. Ibarat pohon, makin tinggi anginnya makin kencang. Tetapi semakin tinggi pohon, daunnya rindang, memberi kesejukkan, kehidupannya berarti. Semakin berarti, semakin pula rendah hati. (pong)

Nyanyian: KJ. 246 / KK (Kid. Kontekstual) 27

RANCANGAN KHOTBAH: Basa Jawi

Bebuka

Ing GKJW, sampun dados prekawis limrah menawi netepaken dutanipun pasamuwan ing satunggiling parepatan, padatanipun nimbang-nimbang bab duta saking kadang anem lan wanita. Salah satunggaling panimbang punika ugi kaserat ing buku Tata lan Pranata GKJW, contonipun: ing salebeting pranata babagan Majelis-majelis Bab III, Pasal 8, ayat, ing salebeting nemtokaken dutaning pasamuwan dados anggota Majelis Daerah, ing perangan memori penjelasan kasebat: “perlu diperhatikan unsur wanita, pemuda”. Punika ateges bilih kawontenaning para taruna lan wanita nalika mundhut putusan ing salebeting gesang masamuwan minangka bab ingkang wigati. Kenging punapa? (katur dhateng warga mangsuli pitakenan punika)

Pasamuwan ingkang kinasih, Satunggiling putusaning patunggilan kasebat dados putusan ingkang prayogi, katampi dening kathah pihak, menawi putusan punika boten dipun ‘kuwaosi’ dening pamikir lan putusan satunggiling utawi saperanganing tiyang, lajeng karudhapaksa, nanging minangka putusaning sesarengan ingkang tuwuh saking pamanggih ingkang mateng saking para anggotaning patunggilan. Mekaten ugi gesanging pasamuwan, putusan ingkang wonten ing salebeting greja, nadyan mijiling pamanggih punika saking satunggaling tiyang, nanging menawi dipun sarujuki dening kathah tiyang, kita pitados punika dados putusan ingkang berkwalitas.

Ing Pranata GKJW nelakaken bilih kawontenaning para taruna utawi nem-neman ugi wanita prelu dipun dherekaken ing salebeting pamundhutan putusan, awit nem-neman lan wanita inggih perangan ingkang nyatunggil saking sariranipun Sang Kristus ingkang sinebut gereja. Contonipun, kabetahan, pepenginan lan kreatifitas nem-neman boten saged namung kawakilaken utawi dipun wakili dening satunggiling kelompok generasi, awit ing titi wancinipun para nem-neman punika ugi ingkang badhe nglajengaken estafet peladosan ing pasamuwan. Pramila, ing salebeting peladosan, greja ‘maringi papan’ lan ugi para mudha ‘mundhut papan’. Tamtu anggenipun ‘mundhut’ papan kangge peladosan punika boten kadhasaran raos gumunggung, ananging karana sedya tulus ing salebeting paladosan.

 

Isi

  1. Gusti boten ngersakaken bilih sedaya prekawis saged kawakilaken. Ing waosan sepisan, Gusti ugi boten ngersakaken Yeremia makili ndedonga kangge Yahuda, nyuwun pangapuntenipun Gusti, kamangka Yahuda tetep kemawon wangkot manahipun, lan boten purun sowan dhateng Gusti Allah (Yer.14:11-12). Nasib para mudha ugi boten kenging dipun wakilaken. Nasib para mudha kedah kaupadi, kabudidaya, lan “diurip-uripi”. Sawetawis ngupadi lan mbudidaya, para mudha ugi pantang mutung, wangkot, endha, nebih lajeng ngilang. Punapa pigunanipun? Punapa malah badhe rampung? Mesthinipun boten! Ingkang wonten malah kuciwa, “lara ati”, kangge punapa, tartamtu boten piguna. Kosokwangsulipun kita nyelak dhateng Gusti, ing pandonga, pangajeng-ajeng, lan pambudidayaning gesang kita. “Omah gentheng saponana, abot entheng lakonana.”
  1. Injil Lukas (waosan kaping tiga) negesaken, wonten kalih prekawis ingkang prayogi wonten ing salebeting pandonga kita. Sepisan, wekel ing pandonga (Lukas 18:1-8) bab cariyos randha ingkang nyuwun pambela tumrap hak-ipun dhateng juru pengadilan ingkang boten tepang kaliyan Gusti Allah. Kaping kalih, inggih punika raos panalangsa, ingkang kadhasaran sikep andhap asoring manah lan pamratobat (Lukas 18:9-14).
  1. Kalih prekawis punika kedah wonten ing salebeting pandonga kita karana inggih mekaten kedahipun cara kita celak kaliyan Gusti Allah. Kita ndendonga klayan wekel, supados kaadilan lan panguwaosipun kawujudaken. Ing sisih sanes, kita sowan dhateng Gusti Allah kanthi ngrumangsani kawontenan kita ing ngarsanipun Allah. Ing bab punika, Gusti Yesus nedahaken sikepipun tiyang Farisi ingkang sanget yakin bab kayekten ing gesangipun lan ngasoraken liyan. Punapa ingkang lepat saking sikep punika? Tiyang kados mekaten punika rupinipun langkung pitados dhateng kasagedanipun piyambak, katimbang pitados dhateng Allah.
  1. Mugi kapirsanan, kados pundi tiyang punika lapuran dhateng Gusti Allah bab kuwajibaning agami ingkang sampun kaleksanan kanthi sae miturut pamanggihipun (ayat 11-12). Kados-kados kawontenanipun punika dados berkah kagem Allah, sanes kok kosokwangsulipun bilih kawontenanipun Gusti Allah ingkang kedahipun dados berkah kangge manungsa. Dados, tetela bilih boten ketawis babar pisan bab kabetahanipun manungsa dhateng Allah. Kados-kados piyambakipun kraos minangka tiyang ingkang pantes jumeneng ing ngarsanipun Allah karana kasaenan ingkang dipun tindakaken.
  1. Benten kaliyan juru mupu beya. Piyambakipun ngrumaosi minangka tiyang dosa, ingkang yektosipun boten pantes sowan ing ngarsanipun Allah (ayat 13). Ewa semanten, ingkang katampik dening liyan, katampi dening kraton Allah (ayat 14).

Panutup

Sumangga kita nglampahi gesang kados dene Paulus ing seratipun dhateng Timotius (waosan kalih). Gesang punika minangka tetandhingan. Kawon-unggul punika limrah. Dhawah-kasil punika ugi limrah. Ananging, wujuding tetandhingan punika syaratipun setya. Setya ngantos garis pungkasan. Ngantos wekdal ingkang pungkasan. Boten menyerah saderengipun rampung. Gesanging iman tiyang pitados ugi boten kenging nanggung. Betah pangupadi, pambudidaya, boten gampil semplah. Ngantos rampung, tamat. Tiyang ingkang boten nanggung, kasetyanipun manggihaken ganjaran. Kathah pandamel sae katindakaken, kasetyanipun kauji. Pindha sangsaya inggil wit, sangsaya santer anginipun. Nanging sangsaya inggil wit, ronipun sangsaya iyup, maringi katentreman, gesangipun piguna. Sangsaya piguna, sangsaya prasaja. (pong)

Nyanyian: KPK. 176 / KK (Kid. Kontekstual) 27.

 

Bagikan Entri Ini: